Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF KH ABDURRAHMAN WAHID

 KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF KH ABDURRAHMAN WAHID (GUSDUR)

A.    PROFIL KH ABDURRAHMAN WAHID
Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat pada umumnya bahwa KH. Abdurrahman Wahid atau yang akarab dipanggil Gus Dur adalah orang yang penuh dengan controversial, mulai dari pola pikirnya sampai kemudian tindakan-tindakan atau keputusan yang diambilnya. Gus Dur lahir lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur di rumah pesantren milik kakek dari pihak ibunya yaitu Kiai Bisri Syansuri.

 Mengenai tanggal kelahiran Gus Dur ini juga menuai kontroversi. Pada dasarnya Gus Dur lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 dalam kalender islam tahun 1359 Hijriah. Terdapat kepercayaan bahwa Gus Dur lahir pada tanggal 4 Agustus 1940, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender islam yang berarti lahir pada 4 Sya’ban 1359 Hijriah atau sama dengan 7 September 1940.
Sebagai insan yang haus akan ilmu pendidikan dan sangat gemar membaca buku, sosok Abdurrahman Wahid patut diteladani sebagai seorang intelektual Islam yang sangat brilian dan banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan keilmuan di tanah air Indonesia. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pertama kali belajar pada kakeknya yaitu K.H. Hasyim Asy’ari seorang Kiai besar dikalangan umat Nahdlatul ‘Ulama. Saat itu pada usia lima tahun ia sudah belajar membaca AI-Quran bahkan sudah lancar. Ia belajar di rumah kakeknya.
Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation. Diatas merupakan Sedikit profil gusdur yang dapat saya sampaikan disini kita akan membahas karya karya beliau yang sudah terpapar jelas.

B.    KARYA KARYA ABDURRAHMAN WAHID
Dari studi bibliografis ternyata ditemukan ada 493 buah tulisan Gus Dur sejak awal 1970-an hingga awal 2000. Hingga akhir hayatnya (2009), bisa jadi telah lebih dari 600 buah tulisan Gus Dur. Karya intelektual yang ditulis selama lebih dari dua dasawarsa itu diklasifikasikan ke dalam bentuk tulisan, yakni tulisan dalam bentuk buku, terjemahan, antologi buku, artikel, kolom dan makalah.

C.    PEMIKIRAN ABDURRAHMAN WAHID TENTANG PENDIDIKAN ISLAM
Konsep Pendidikan  Islam Menurut Abdurrahman Wahid- Salah satu gagasan yang dituangkan oleh Gus Dur dalam upayanya mengembangkan pendidikan islam yang membebaskan ialah dimulai dari konsep pendidikan islam. Menurut Gus Dur, pendidikan Islam haruslah beragam, hal ini merupakan salah satu dari percikan pemikiran yang pernah sampaikan  oleh gusdur. Pemikiran ini dilandasi kondisi sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Pemikiran Gus Dur mengenai pendidikan islam yang harus beragam atau multikultur merupakan salah satu terobosan baru untuk mengembangkan dan menyelaraskan pendidikan islam dalam bingkai perbedaan suku, ras dan keyakinan yang cukup beragam. Diakui atau tidak, nilai-nilai dari gagasna Gus Dur ini banyak diikuti oleh generasi berikutnya dan hal itu termanifestasi dalam organisasi sosial keagamaan seperti dalam organisasi Nahdlatul 'Ulama (NU).

Kondisi sosial masyarakat yang begitu beragam ini membutuhkan system dan metode pendidikan yang mapan dan berbeda pada setiap daerah, hal ini dimaksudkan agar pendidikan mampu menyelaraskan dengan kebutuhan di setiap daerah dan mampu menjawab problematikan sosial yang ada dilingkungan sekitarnya. Dengan demikian, dalam upaya mengembangkan pendidikan islam akan membutuhkan kerja ekstra, agar pendidikan islam mampu selaras dan berkembang disetiap daerah yang notabennya memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Pendidikan islam haruslah beragam mengingat kondisi sosial masyarakat antara satu daerah dengan daerah yang lain mempunyai perbedaan yang tajam. Perbedaan masyarakat di Indonesia ini tidak hanya pada aspek geografis saja, melainkan juga perbedaan disegala aspek, baik itu keyakinan, ekonomi, sosial budaya, maupun perbedaan pandangan terhadap sesuatu.

Pada hakikatya, inti dari pemikiran Gus Dur mengenai pendidikan islam adalah upaya membangun system pendidikan islam yang selaras dengan setiap daerah dimanapun. Kekuatan pemikiran dan pandangan Gus Dur adalah terletak pada kemampuannya dalam menerjemahkan nilai-nilai yang melekat pada akar budaya yang berbeda-beda. Gus Dur mampu memberikan suntikan perubahan yang luar biasa dalam tubuh pendidikan islam melalui pendekatan budaya yang berusaha terus-menerus membuat perbedaan menjadi sebuah kekuatan yang berarti. Akan tetapi dalam perjalanannya, gagasan-gagasan yang dituangkan oleh Gus Dur ini kerap kali menuai kontroversi dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan ulama, politik dan juga masyarakat awam. Sudah menjadi hal yang wajar ketika gagasan Gus Dur ini kerap kali menuai kontroversi, hal ini dikarenakan ketidak mampuan orang lain membaca atau menerjemahkan gagasan-gagasan yang dituangkan oleh Gus Dur.

 Dalam pendidikan yang bermacam macam corak, baik pada aspek pemikiran, sosial budaya, dan letak geografis yang ikut mempengaruhi terhadap proses perkembangan pendidikan, memiliki daya yang kuat dalam membangun dan membentuk pendidikan islam di tengah arus modernisasi. Perkembangan selanjutnya yaitu perlu adanya pendidikan islam yang bercorak pluralitas dengan tetap mengacu pada nilai-nilai yang tetap bersandar pada aI-Qur’an dan Hadits.

Dalam bal ini, Abdurrahman Wahid mempunyai pandan m mengenai k m pendidikan islam yang mampu menjawab segala tantangan dan kebutuhan masyarakat di era modem seperti saat ini yaitu:

Pendidikan Islam Berbasis Neomodernisme- Dilihat dari skala waktu, pendidikan islam terdiri dari beberapa kualifikasi yaitu pertama pendidikan islam pada masa klasik. Pendidikan islam pada masa klasik dimulai sgak zaman Nabi Muhammad SAW, dengan system pembelajaran yang langsung diajarkan oleh Nabi baik secara individu maupun secara berkelompok. Kedua, masa pertengahan.Pendidikan pada masa pertengahan ini sudah mulai berkembang. Pendidikan di masa ini dikembangkan oleh para tabi’it-tabi’in, dan yang menjadi took pemrakarsa pendidikan Islam pada waktu itu adalah Ibnu Maskawih. Ketika, pendidikan Islam masa modem. Pada masa modem ini pendidikan islam sudah mulai berkembang pesat, hal ini tidak lepas dari derasnya perkembangan kultur yang ada.

Menurut Abdurrahman Wahid, Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan islam yang memiliki peran besar dalam pengenbangan pendidikan Islam yaitu menjadi wahana resistensi moral dan budaya atau pewaris tradisi intelektual Islam tradisional. Dalam peijalanan historisnya, pesantren muncul sejak awal abad Hijriah, hingga masa-masa akhir dari imperium Usmaniyah di Turki pada awal abad ke 2O.Sampai kini keberadaan pesantren masih sedemikian penting dalam pemberdayaan masyarakat.

Menurut Gus Dur, pendidikan Islam haruslah memadukan sesuatu yang tradisional dengan sesuatu yang modem. Pemikiran tersebut tidak lepas dari perkembangan intelektuai Gus Dur yang dibentuk oleh pendidikan Islam klasik dan pendidikan barat modem.Gus Dur berusaha mensintesiskan kedua pendidikan ini, yaitu pendidikan Islam klasik dengan pendidikan barat modem dengan tidak melupakan esensi ajaran Islam. Gus Dur berusaha konsisten mempertahankakn nilai-nilai lama yang baik, namun tetap melihat ke depan dan mengadopsi pemikiran barm iffidern pang sangat relevan dengan islam sehingga dari sintesis tersebut inenghasilkafeneomodemisme untuk melihat pesan utuh Al-Qur’an.

Pendidikan Islam Berbasis Pembebasan- Pada hakekatnya manusia terlahir di bumi sudah dibekali fitrah atau potensi yang diberikan oleh Tuhan agar manusia mampu menjalankan amanah yang diberikan oleh Allah keada manusia.Manusia terlahir dengan kemerdekaan dan tidak mau ditindas, karena penindasan merupakan perilaku yang tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan.Pendidikan Islam yang bersandarkan pada Al-Qur’an dan Al-Haidst kaendaknya mengisyaratkan secara tersirat tentang kemerdekaan manusia dalam menjalani kehidupan. Pendidikan Islam haruslah multidimensi dalam artian pendidikan Islam haruslah menjadi suatu wadah yang bergerak vertical dan memberi kebebasan bagi peserta didik untuk menggali kreativitas dan kemampuannya-Peserta didik bukan hanya menjadi objek, melainkan juga berperan sebagai subjek.Pendidikan Islam harus mampu memayungi rasa toleransi dari perbedaan budaya, etnis, ras dan agama sebagai roda sosial yang pada sisi lain bersifat horizontal.System pendidikan secara umum haruslah menjadi penyadar dan pembebas umat manusia, begitu pula dengan pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan peserta didik ke kehidupan yang merdeka, baik merdeka dalam berfikir maupun bertindak.
Pendidikan islam Berbasis Multikulturalisme- Adanya keberagaman budaya,etnik, gender, bahasa, ataupun agama merupakan suatu harapan akan perdamaian dalam hidup berdampingan dalam bingkai perbedaan. Hai tersebut terjadi dan tumbuh subur di negeri Indonesia, suatu negeri yang dihuni terkotak- kotak, mulai dan agama, tradisi, suku dan bahasa yang digunakan dalam sehari hari.

Pendekatan yang digunakan Gus Dur dalam usaha menampilkan citra Islam ke dalam kehidupan kemasyarakatan adalah pendekatan sosio-kultural. Belajar dari pengalaman hidup Gus Dur, pendidikan agama dan pendidikan multikulturalisme bisa berjalan seimbang dan tidak perlu dipertentangkan satu sama lainnya. Gus Dur yang lahir dari pendidikan agama yang kental baik sejak belajar di Jawa maupun pengalaman belajarnya di Mesir, Irak, Baghdad, dan Eropa yang telah membuahkan pandangan multikulturalisme yang kuat. Pandangan gusdur terhadap pendidikan islam tidak lepas dari faktor sosio kultural yang berkembang pada masyarakat indonesia. Maka relitas tersebut menjadi acuan untuk mengembangkan multikulturalisme tiap tiap institusi pendidikan islam.

Kesimpulan
 Dilihat dari corak gagasan dan pemikirannya, tampak bahwa Gus Dur dapat dikalegorikan sebagai pemikir multi warna. Karena dalam pemikirannya terdapat gagasan- gagasan yang unik yang dibangun atas dasar pandangan keagamaan, kemodernan dan kerasionalannya yang membawanya menjadi orang yang mempunyai pemikir ultradisional, rasional, liberal dan sekaligus kultural dan aktual.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan secara signifikan berkisar pada modernisasi pesantren. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam harus menghasilkan manusia yang berimaji, berpengetahuan dan berketerampilan dengan senantiasa memodifikasi diri agar sesuai dan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya pendidikan yang megemban tugas ganda secara proporsional yang mampu mewujudkan kejayaan peradaban secara hakiki. Keimanan menjadi kendali bagi moral seseorang dalam aktivitas pemanfaatan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga dapat meredam keinginan-keinginan jahat, sebaliknya ia selalu mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan atau perbuatan- perbuatan bermanfaat.    *
Menurut pandangan Gus Dur, sistem pendidikan nasional harus diubah dengan pendidikan berbasis masyarakat. Sebab sistem pendidikan kita sekarang hanya formal. Orang tidak punya ijazah tidak dipakai, padahal banyak warga masyarakat yang tidak berijazah tapi memiliki kemampuan, termasuk pendidikan pesantren yang sudah sekian tahun mengaji tapi tidak pernah dihargai.
Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur, yaitu pembelajaran yang membebaskan pemikiran manusia dari belenggu- belenggu tradisionalis yang kemudian ingin didaur ulang dengan melihat pemikiran kritis yang terlahir oleh Barat modem. Dengan demikian, akan memunculkan ten n pembebasan dalam pendidikan Islam dalam koridor ajaran Islam yang harus dipahami secara komprehensif, bukan dengan pemahaman yang parsial.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat dan Dakwah, Yogyakarta: Qirtas, 1993.
Abdurrahman Wahid, Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Ed.M. Saleh Isre. Yogyakarta:LkiS, 1998.
Agus Iswanto, Dkk, Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Multikulturalisme, Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, 2009.
Faisol, Gus Dur & Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2011.
Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta: LKis,2011.
John L, Esposito-John O, Voli, Tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer, Jakarta: Raja Grafmdo Persada, 2002.
K.H. Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Jakarta: The Wahid Isntitute, 2006.
Khamami Zada dan A. Fawaid Ajadzali.AfaMa/n/ Ulama (Dinamika Ideologi dan Politik Kenegaraan), Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, 2010.
M. Hamid, Jejak Sang Guru Bangsa, Yogyakarta: Galang Pustaka. 2014.
Martin Van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi kuasa, pencarian wacana baru, Yogyakarta: Lkis, 1994.
Mustafa Bisri, Beyond The Simbol, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000. cet.l
Nurcholish Madjid, Masyarakat ReligiusMembumikan Nilai-nilai Islam Dalam Kehidupan Masyarakat, jakarta:Paramadina,2000.









KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF KH ABDURRAHMAN WAHID Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.