Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

FILSAFAT DAN PEMIKIRANNYA (Deferensiasi Pemikiran antara Filosof Islam dengan Filosof Barat)

A.    PendahuluanKata philosophy berasal dari dua bahasa Yunani: Philosophia, yang terdiri atas dua kata: philein / philos (cinta) atau philia (tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). 
Dari satu segi pandangan, filosofi adalah suatu analisa kritis, yang memantulkan cahaya dari apa yang kita pikirkan maka kita dapat memahami tentang diri kita atau alam semesta. Filsafat didasarkan pada usaha untuk memahami kenyataan secara rasional, sedangkan ilmu agama didasarkan pada suatu pendekatan wahyu. Pada Abad pertengahan di dunia Barat filosofi dipertimbangkan pada ilmu agama dan prinsip filosofis digunakan untuk membenarkan keyakinan beragama.

Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti semesta dalam hal makna (hakikat) dan nilai-nilainya (esensi) yang tidak cukup dijangkau hanya dengan panca indera manusia sekalipun. Bidang filsafat sangatlah luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya. Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Obyek materinya adalah semua yang ada.

Garis keturunan dan interkoneksi di dalam pengembangan filsafat bangsa Roma dan Yunani dapat dengan jelas dilihat, yaitu umumnya disepakati bahwa orang Yunani yang pertama Ahli filsafat adalah Thales Miletus, yang tinggal/hidup di abad yang keenam. Sesudah itu, Socrates, yang mengajarkan filsafat mempertahankan suatu analisa, ahli filsafat lain diilhami seperti Plato, yang terbaik dikenal untuk filosofi gagasannya dan siapa yang menemukan suatu akademi untuk mendidik ahli filsafat. Murid Plato adalah Aristoteles yang menganut aliran empirisme.
Pemikiran filsafat masuk ke dunia Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai kaum muslimin pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hijriah di Suriah, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke berbagai daerah tersebut melalui ekspansi Alexander Agung, Raja Macedonia (336-323 SM) Setelah mengalahkan Darius ada abad ke-4 SM di Arbela (sebelah Timur Tigris).

Pengaruh filsafat Yunani ke dunia Islam pada masa dinasti Umayyah belum kuat, karena punguasa lebih cenderung kepada kebudayaan Arab, terutama pada sastra Arab sebelum Islam. Barulah pada masa dinasti Abbasiyah pengaruh kebudayaan dan filsafat tampak di dunia Islam karena tidak seperti Umayyah, yang berpengaruh di pusat pemerintahan adalah orang-orang Persia, seperti keluarga Baramikah yang telah lama berkecimpung di dalam kebudayaan Yunani.
Mulanya ilmu kedokteran dan metode pengobatan Yunani menarik perhatian petinggi Abbasiyah. Kemudian menyusul bidang-bidang ilmu lainnya termasuk di dalamnya filsafat. Perhatian yang lebih serius terhadap filsafat teijadi pada kekhalifahan al-Ma’mun (813-833), anak khalifah Harun al-Rasyid. Dalam pada itu, pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid buku buku ilmu pengetahuan berbahasa Yunani mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Utusanpun dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk mencari manuskrip yang selanjutnya dibawa ke Bagdad untuk di teijemahkan kedai am bahasa Arab.
Dalam kegiatan peneijemahan itu sebagian besar karya-karya Aristoteles, Plato, karangan mengenai neo-Platonismo, karangan Galen, buku-buku ilmu kedokteran dan filsafat berhasil di teijemahkan sehingga menjadi bahan bacaan para ulama dan kaum muslimin umumnya. Kelompok yang banyak tertarik kepada filsafat Yunani adalah kaum Mu’tazilah. Abu Huzail al-Allaf, Ibrahim al- Nazzam, Bisyr al-Mu’tamir dan al-Jubba*i adalah di antara ulama mutakkalimin yang banyak membaca buku-buku filsafat sehingga berpengaruh terhadap pemikiran teologi mereka.

B.    Tokoh-Tokoh Filsafat Islam
1.    Al-Kindi

Hidup pada tahun 796-873 M pada masa khalifah al-Makmun dan al- Mu’tashim. Al-Kindi menganut aliran Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Menurut Al-Kindi filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Kata Al-Kindi : Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah filsafat utama, yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab dari segala yang benar. Masih menurut Al-Kindi kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada dalam akal dan yang .ada diluar akal. Di dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indra. Benda-beanda ini merupakan juz’iyat. Yang terpenting bagi filsafat bukan juz’iyat yang tak terhingga banyaknya, tetapi yang terpenting adalah hakekat yang terdapat dalam juz’iyat, yaitu kauliyat. Kemudian filsafatnya yang lain yaitu tentang jiwa dan roh.
2.    Al-Farabi
Al-Farabi hidup tahun 870-950 M yang disebut sebagai guru kedua. Dia meninggal dalam usia 80 tahun. Filsafatnya yang terkenal adalah teori emanasi (pancaran). Filsafatnya mengatakan bahwa yang banyak ini timbul dari Yang Satu. Tuhan bersifat Maha Satu tidak berubah, jauh dari materi , jauh dari arti banyak, Maha sempurna dan tidak berhajat apapun. Kalau demikian hakekat sifat Tuhan, bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha satu ? Menurut Al-Farabi alam terjadi dengan cara emanasi atau pancaran dari Tuhan yang berubah menjadi suatu maujud. Perubahan itu mulai dari akal pertama sampai akal kesepuluh. Kemudian dari akal kesepuluh muncullah berupa bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari empat unsur: api, udara, air dan tanah. Pada falsafat kenabian dia mengatakan bahwa Nabi dan rasul adalah pilihan, dan komunikasi dengan akal kesepuluh teijadi bukan atas usaha sendiri tetapi atas pemberian Tuhan
3.    Ibnu Sina
Ibnu Sina lahir di Asyfana 980 M dan wafat di Isfahana tahun 1037 M. Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu Sina adalah tentang jiwa. Ibnu Sina juga menganut paham pancaran, jiwa manusia memancar dari akal kesepuluh. Dia membagi jiwa dalam tiga bagian, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan (nafsu nabatiyah), jiwa binatang ( nafsu hayanawiyah). dan jiwa manusia (nafsu natiqah).
Filsafat tentang wahyu dan nabi ia berpendapat, bahwa Tuhan menganugerahkan akal materiil yang besar lagi kuat yang disebut al-hads (intuisi). Tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci (quwwatul qudsiyah). Ini bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi-nabi.
Dari beberapa kajian di atas, filosof muslim dalam pemikirannya selalu bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio digunakan secara bebas dan radikal, namun masih terkendali oleh wahyu yang merupakan pangkal dari agama Islam.
4.    Ibn TufayI
Ibn TufayI adalah suatu figur Orang Islam yang terkemuka di Spanyol. Ia tidaklah hanya suatu dokter tetapi juga seorang ahli filsafat, ahli matematik dan penyair. Filsafatnya bekerja menyangkut yang hidup mempunyai suatu efek dalam kehidupan. Ibn TufayI hidup dan bekerja sebagai seorang sekretaris kepada gubernur Granada, Spanyol, di bawah Almohads. Ia menjadi guru Ibn Rushd, dan orang yang memperkenalkan dia kepada Almohad.
5.    Al-Ghazali
Nama asli Imam al-Ghazali ialah Muhammad bin Ahmad, Al-Imamul Jalil, Abu Hamid Ath Thusi Ai-Ghazali. Lahir di Thusi daerah Khurasan wilayah Persia tahun 450 H (1058 M). Lahir dari keluarga ahli tasawuf dan menjadi profesor termuda di Perguruan Tinggi Nizamiyah yang belajar degan Imam al- Haramayn al-Juwaini. Al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang pemikirannya sangat berpengaruh terhadap Islam dan filsafat Dunia Timur. Beliau adalah seorarig suli sekaligus seorang teolog yang mendapat julukan Hujjah al- Islam. Pemikiran Al-Ghazali begitu beragam dan banyak, mulai dari pikiran beliau dalam bidang teologi (kalam), tasawuf, dan filsafat.
Dalam bukunya The Incoherence of the philosophers, Al-Ghazali membidik metafisika yang mewakili Al-Farabi dan Ibnu Sina. Beliau menemukan 20 ajaran filsuf yang dianggap cacat dan bertentangan dengan islam. Beliau sangat prihatin dengan ide tentang penciptaan, kehendak Allah serta tentang kebangkitan. Menurut pendapat Al-Ghazali, filsafat dalam memahami kehendak Allah seperti halnya kehendak manusia adalah sebuah kesalahan. Iradat tuhan adalah mutlak, bebas dari ikatan waktu dan ruang, tetapi dunia yang diciptakan itu seperti yang dapat ditangkap dan dikesankan pada akal (intelek) manusia, terbatas dalam pengertian ruang dan waktu. Al-Ghazali menganggap bahwa tuhan adalah transenden, tetapi kemauan iradatnya imanen di atas dunia ini, dan merupakan sebab hakiki dari segala kejadian.

Al-Ghazali juga berpendapat bahwa suatu peristiwa itu adalah iradat Tuhan, dan Tuhan tetap bekuasa mutlak untuk menyimpangkan dari kebiasaan-kebiasaan sebab dan akibat tersebut. Sebagai contoh, kertas tidak mesti terbakar oleh api, air tidak mesti membasahi kain. Semua ini hanya merupakan adat (kebiasaan) alam, bukan suatu kemestian. Teijadinya segala sesuatu di dunia ini karena kekuasaan dan kehendak Allah semata.
6.    Ibn Rusyd
Nama asli dari Ibnu Rusyd adalah Abu Al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd, beliau dilahirkan di Cordova. Di dunia barat dia lebih terkenal dengan sebutan Averros. Ibmi Rusyd adalah keturunan keluarga terhormat yang terkenal sebagai tokoh keilmuwan, sedang ayah dan kakeknya adalah mantan hakim di Andalus. Beliau pernah menjadi seorang hakim di Seville dan Cordova serta menjadi ketua mahkamah agung, Qadhi al-Oudhat di Cordova. Seperti para filosofi sebelumnya, Ibn Rusyd juga mempertahankan filosofinya. Menurut beliau Al-Qur’an turun untuk dipahami dan dipelajari tentang ilmu pengetahuannya. Beliau juga tidak setuju dengan pemahaman filosofi Aristoteles tetang penciptaan, dimensi waktu, kausalitas, kehendak Allah serta yang lainnya.
7.    Mulia Sadra
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, sering dipanggil dengan julukan Shadruddin Asy-Syirazi atau Mulia Shadra atau Shadra. Beliau kurang dikenal diluar Iran. Pemikiran beliau dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles, doktrin Neoplatonisme, filsafat Ibnu Sina, karya-karya Ibn Arabi dan teks agama Islam, terutama yang berbau Syi’ah

C.    Pemikiran Filosofis Modern
 Filsuf terbaru secara keseluruhan adalah ide-ide ’intelektual’ yang mempengaruhi akademi lebih dari massa, meskipun ada kemungkinan untuk mendeteksi beruntun aktivis dalam beberapa dari mereka. Kebanyakan filsuf Muslim baru-baru ini telah mengikuti pelatihan formal dalam bidang filsafat dan memperoleh gelar doktor dari universitas-universitas Barat terkenal. Untuk berbagai tingkat, filsuf Muslim kontemporer sangat penting dari awal tren reformis atau revivalis karena mereka menemukan ide-ide secara sistematis dan filosofis cacat. Masalah bagi banyak filsuf muslim modem telah menjadi tantangan modernitas, dan pertanyaan-pertanyaan ini menimbulkan. Pada bagian berikutnya kita akan melihat tiga filsuf Muslim modem.

1.    Mohammed Abed al-Jabiri
 Mohammed Abed al-Jabiri lahir pada tahun 1936 di tenggara Maroko. Pendidikan awalnya di sekolah agama dan sekolah swasta nasionalis. Pada tahun 1958, ia mulai belajar filsafat. Pada tahun 1963, ia dipenjara karena hasutan. Setelah dibebaskan dari penjara ia menyelesaikan gelar doktor. Al-Jabiri tidak puas dengan perkembangan masyarakat islam terutama di negara asalnya. Setelah menyelesaikan doktor, beliau sempat mengajar dan dari sinilah beliau mulai menciptakan karya-karyanya.
Menurut al-Jabiri, cendekiawan Muslim tidak harus membuat kesalahan dengan pemahaman modernitas hanya dengan mirroring intelektual Eropa, yang datang dari konteks sejarah yang berbeda. Itu pandangan modernitas mengikuti Eropa Pencerahan, yang dengan sendirinya mengikuti Renaissance.

Al-Jabiri menyatakan bahwa Ibnu Sina merupakan tidak filsafat Yunani maupun rasionalisme Islam. Dia melihat filosofi Ibnu Sina (dari timur Muslim) sebagai 'irrationalism’, dan menyesalkan bahwa al-Ghazali meminjam irrationalism sama dari Ibnu Sina, hanya untuk mempromosikan pada akhirnya sebuah tasawuf yang benar-benar asing bagi semangat Islam. Baik Ibn Sina dan al-Ghazali menggunakan logika Aristotelian (demonstrasi berdasarkan bukti inferensial) hanya untuk memajukan visi mereka (ishraq)

2.    Syed Muhammad Naquib al-Attas
Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir pada tahun 1931 di Bogor, Jawa. Pendidikannya sangat bervariasi. Setelah mengambil doctor di Universitas London beliau menjadi dosen di Universitas Malaya, yang kemudian diangkat menjadi Dekan Fakultas Seni di Universitas tersebut. Tahun 1987, Pendidikannya tidak berhenti di University of Malaya. Pada tahun 1987, al-Attas mendirikan Institut Internasional Pemikiran Islam dan Peradaban (ISTAC) di Kuala Lumpur dan bertindak sebagai direktur sampai 2000.

Lembaga ini bekeija untuk menciptakan prinsip-prinsip dan metodologi islamiyah. Al-Attas percaya bahwa tugas dari intelektual Muslim adalah untuk mengambil sikap terhadap klaim palsu dari modernitas Eropa. Ada tidak ada negosiasi dengan semangat ilmiah modem Barat atau reinterpretasi Islam dalam terang semangat itu.
Untuk al-Attas, tasawuf harus memainkan peran sentral dalam islamisasi, karena dalam warisan Sufi bahwa kita paling mungkin untuk menemukan kontribusi yang paling penting pada realitas. Metafisika Islam, terutama dari perspektif tasawuf filosofis. Hal ini menunjukkan bahwa ada tingkat lain keberadaan samping horisontal, dimensi duniawi, dan tasawuf mengungkapkan level yang lebih tinggi.

Al-Attas menyatakan bahwa agama adalah selaras dengan ilmu pengetahuan. Tapi ini tidak berarti bahwa agama adalah selaras dengan metodologi ilmiah modem dan filsafat ilmu. Karena tidak ada ilmu yang bebas nilai, kita harus cerdas menyelidiki dan mempelajari nilai-nilai dan penilaian yang melekat dalam, atau sejalan dengan, anggapan-anggapan dan penafsiran
Dalam menerima atau mempelajari ilmu pengetahuan yang bersifat modernitas, kita harus memahami tujuan dan kesesuaian ilmu tersebut dengan teori yang ada. Dalam penguasaan ilmu pengetahuan serta bagaimana sikap kita terhadap ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, sehingga kita tidak asal dalam menerima suatu informasi.

3.    Seyyed Hossein Nasr
Seyyed Hossein Nasr lahir pada tahun 1931 di Teheran. Dia mulai belajar di Iran kemudian melanjutkan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) serta mengambil doktor di Harvard University. Setelah selesai belajar beliau menjadi guru besar sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat di Universitas Teheran. Pada tahun 1979, Nasr bermigrasi ke Amerika Serikat dan mengajar di beberapa universitas di Amerika, sebelum akhirnya bergabung dengan George Washington University, Washington DC, di mana ia menjadi Profesor Studi Islam. Karya monumentalnya yaitu Knowledge and the Sacred. Nasr merupakan salah satu pemikir Muslim kontemporer paling produktif. Hisinterests yang beragam, namun perhatian utamanya adalah hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan 

Nasr mengatakan bahwa masyarakat muslim beranggapan bahwa alam bersifat metafisik serta menjadi mesin oonom. Ini bertentangan dengan perspektif islam bahwa alam diibaratkan menjadi sebuah buku yang kita bias memperoleh ilmu pengetahuan di dalamnya serta dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Beliau juga menyesalkan modernism yang menggambarkan bahwa manusia hanya mementingkan dirinya sendiri dan menjadi terasing dengan alam sekitar. Kerusakan lingkungan menurut beliau itu disebabkan adanya ego manusia serta akibat dari pendekatan pikiran ilmiah modem.

D.    KESIMPULAN

Berikut persamaan dan perbedaan antara filsafat barat dengan filsafat islam:
1.     Persamaannya, sama-sama berpikir radikal, bebas. Kedua-duanya menggunakan logika, akal, dialektika. Kedua-duanya berpikir tentang realitas alam, kosmologi.
2.     Perbedaannya: Filsafat Baratz Menggunakan rasio, berpijak pada hal-hal yang konkrit, Hanya berfilsafat. Filsafat Islamz Berfilsafat menggunakan akal dan bersandar pada wahyu, ruang lingkup pembahasannya yang abstrak maupun konkrit, fisik maupun metafisik, berfilsafat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami realitas alam, Berfilsafat dimulai dengan keimanan kepada Allah.
Berikut persamaan dan perbedaan antara filsafat barat dengan filsafat islam:
Filsafat Islam berlandaskan Qur’an, H adits dan keimanan, sementara Filsafat Yunani mengandalkan rasio semata. Filosof Muslim menolak pemikiran filsafat Yunani, kecuali tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam. Filosof mengembangkan pemikiran filsafat Yunani sedemikian rupa sehingga tersedia ruang bagi tampilnya kebenaran asasi dalam Islam.
Contoh:
•    Filsafat Yunani: Tuhan adalah penggerak pertama bagi alam atau penggerak yang tidak bergerak, filsafat Islam: Tuhan adalah pencipta alam semesta.
•    Filsafat Yunani: Tuhan adalah wujud yang hanya mengetahui diri-Nya, filsafat Islam: Tuhan mengetahui diri-Nya dan seluruh ciptaan-Nya.








FILSAFAT DAN PEMIKIRANNYA (Deferensiasi Pemikiran antara Filosof Islam dengan Filosof Barat) Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.