Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

HAKEKAT DAN OBJEK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

HAKEKAT DAN OBJEK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A.    Pendahuluan 
Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam mengembangkan potensi manusia yang beriman, hal itu sesuai dengan UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 yang mengatakan bahwa “pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab, didalam undang-undang diatas terdapat objek pendidikan.

Berbicara masalah objek pendidikan maka manusia (peserta didik) adalah objek atau bahan mentah dalam proses transformasi pendidikan yang mempunyai potensi yang bervariasi yang dalam keadadaan sementara tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis yang sangat membutuhkan pendidikan (bimbingan) dan pengajaran setiap saat agar tumbuh sikap kedewasaan dalam dirinya. Peserta didik tidak hanya dalam pendidikan formal seperti sekolah madrasah dan sebaginya tatapi peserta didik dapat mencakup pendidikan non-formal seperti pendidikan dimasyarakat, majlis taklim atau . lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Dengan demikian sasaran dan format pendidikan yang diberikan kepada mereka haruslah yang menyangkut seluruh aspek kehidupannya.

B.    Pembahasan
Pengertian Pendidikan Islam- Istilah “pendidikan” yang diletakkan pada kata “Islam”, telah didefenisikan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan. Namun pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam (semacam) kesimpulan awal. Pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda menjalankan kehidupan dan memnuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efesien.

Menurut Syed Muhammad al-Nuquib al-Attas memberikan konsep yaitu: “Pendidikan adalah suatu proses penenaman suatu proses didalam diri manusia. Ada tiga hal unsur pokok pembentukkan pendidikan yang dapat diambil dalam dari pernyataan tersebut, yaitu proses, kandungan, dan penerimaan. Maknanya adalah: “Proses” adalah penanaman sebuah pendidikan yang mengandung sebuah metode dan adanya sistem yang konperhensif dengan cara yang bertahap dan berkelanjutan. Dan “sesuatu” disni dimaksudkan pada kandungan, nilai yang ditanamkan yaitu berupa ilmu yang haqiqi dan diyakini kebenarannya yang sesuai dengan konsep yang ada dalam agama islam yang tercermin dalam Al-Quran. Hal ini didasarkan dari asumsi bahwa semua ilmu bersumber dan datang dari Allah SWT. Sedangkan diri manusia adalah penerima proses dan kandungan tersebut yang tak lain adalah peserta didik.

Objek Pendidikan Islam- Berdasarkan definisi pendidikan islam diatas, dapat dikatakan bahwa objek pendidikan Islam itu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua. Pertama, objek material (umum) yaitu manusia. Kedua objek Formal yaitu tingkah laku yang merupakan bagian dari manusia itu sendiri Ahmad tafsir menjelaskan lebih rinci tentang objek pendidikan islam yaitu: Pendidikan terhadap jasmani, Pendidikan terhadap Rohani dan Pendidikan terhadap akal. Ketiga aspek tersebut, merupakan satu kesatuan yang terdapat dalam diri manusia, yang senantiasa diberikan nilai-nilai pendidikan secara sadar. Sehingga nantinya dapat menjadi, manusia yang memiliki ketaqwaan kepada Allah Swt, dalam bentuk melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar manusia dalam kehidupannya didunia ini tidak menyimpang dari tujuan yang diperintahkan Allah yang menciptakannya. 

Berikut adalah  penjelasan tentang ketiga aspek yang disebutkan diatas:
1.    Pendidikan Terhadap jasmani
Mendidik jasmani dalam islam mempunyai dua tujuan sekaligus, yaitu (a) membina tubuh sehinnga mencapai pertumbuhan secara sempurna; (b) mengembangkan energi potensial yang dimiliki manusia, yaitu fisik sesuai dengan perkembangan fisik manusia. Dalam Al-Quran dan hadis ditemukan prinsip pendidikan jasmani, diantaranya dalam Al-Quran surah Ai-A’raf ayat 31 yang artinya . makan dan minumlah, dan jangan lah berlebih-lebihan sesungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Hadist Rasulullah Saw. "Ajarkanlah kepada anak-anak kalian renang melempar lembing (tombak) dan menunggang kuda."

2.    Pendidikan Terhadap Rohani
Kejiwaan atau Rohani merupakan suatu yang sangat penting dan memiliki pengaruh dalam mengendalikan keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram, dan bahagia. Penciptaan manusia mengalami kesempurnaan setelah Allah meniupkan ruh-Nya atas ciptaan-Nya.
Menurut Al-Ghazali ruh ialah apa yang diketahui sebagai jiwa atau an-nasf. Dalam konteks ini al-Ghazali membagi ruh kedalam dua bentuk sebagai berikut:
a.    Al-ruh, yaitu daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal tuhannya dan mencapai ilmu pengetahuan sehingga dapat menentukan kepribadian manusia sekaligus menjadi motivator bagi manusia dalam melaksanakan perintah Allah.
b.    Al-nafs (jiwa), yang berarti panas alami yang mengalir pada pembuluh- pembuluh nadi, otot-otot,dan saraf manusia. Al-nafs dalam konteks ini disebut nyawa (al-hayat) yang membedakan manusia dengan benda mati, tetapi tidak membedakannya dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan karena sama-sama memiliki al-nafs. Akan tetapi, pada tingkatan yang esensisal eksistensi al-nafs berbeda antara manusia sebagai makhluk mulia (takwa) dengan makhluk hina (sesat) meskipun sama-sama memiliki al-nafs.

Dalam Al-Quran disebutkan pendidikan kejiwaan pada surah Al-syams ayat 7-10 yang artinya: Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaanya Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilahorang yang mengotorinya.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat dilihat bahwa ruh manusia bisa berkembang ketaraf yang lebih tinggi apabila manusia berusaha ke arah itu. Menurut Al-Ghazali jalan ke arah itu tersebut adalah dengan peningkatan iman dan mempererat, hubungan yang terus-menerus dengan Allah, upaya ini dilakukan melalui ibadah secara terus menerus, Dzikir, tilawah Al-Quran, dan doa, dengan kata lain melalui upaya peningkatan aktivitas keagamaan
3.    Pendidikan Terhadap Akal
Dalam dunia pendidikan, fungsi intelektual atau kemampuan akal peserta didik dikenal dengan istilah kognitif. Istilah kognitif berasal dari cognition yang padananya knowing, yang berarti mengetahui. Dalam pengertian yang luas, kognisi adalah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan. Kognitif yang beipusat diotak meliputi setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan dan keyakinan. Maka mendidik akal tidak lain adalah mengaktualkan potensi dasarnya. Potensi tersebut sudah ada sejak manusia lahir. Akan tetapi, masih berada dalam pilihan: berkembang menjadi akal yang baik atau sebaliknya tidak berkembang sebagai mana mestinya. Dengan pendidikan yang baik, akal yang masih berupa potensi akhirnya menjadi akal yang siap dipergunakan. Sebaliknya membiarkan potensi akal tanpa pengarahan yang positif, akibatnya bisa fatal. Karenanya, pendidikan akal mempunyai kedudukan yang penting. Setelah mengalami pendidikan yang dimaksud, akal seseorang diharapkan mencapai tingkat perkembangan yang optimal, seliingga mampu berperan sebagaimana yang diharapkan yaitu untuk berfikir dan berdzikir. Dalam Al-Quran, tidak kurang 300 kali Allah memperingatkan manusia untuk menggunakan akalnya, terutama dalam memperhatikan alam semesta. Diantaranya dalam finnan Allah pada surah An-nahl : 12 yang artinya sebagai berikut: Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang- bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), (An-nahl: 12)
Melalui pernyataan diata bahwa Allah mengajak manusia untuk mengembangakan akalnya semaksimal mungkin untuk mengenal-Nya dan memanfaatkan alam semesta untuk kepentingan hidupnya. Dengan dasar ini, jelas bahwa materi dalam pendidikan akal adalah seluruh alam dptaan Allah. Dengan demikian manusia sebagai objek pendidikan islam, dalam tujuannya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, hendaklah dalam segala aktifitasnya sesuai dengan norma-norma ajaran islam yang bersumberkan Al-Quran dan Hadist.

C.    Penutup
Kesimpulan- Pendidikan islam adalah proses penyaluran pengetahuan dan nilai islam kepada peserta didik untuk memembentuk pribadi manusia muslim seutuhnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup didunia dan akhirat. Objek pendidikan islam itu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua. Pertama, objek material (umum) yaitu manusia. Kedua objek Formal yaitu tingkah laku yang merupakan bagian dari manusia itu sendiri.
Menurut Ahmad tafsir objek pendidikan islam yaitu: Pendidikan terhadap jasmani, Pendidikan terhadap Rohani dan Pendidikan terhadap akal
D.    Daftar Pustaka
 Jahja Abdjait Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2013). Langgulung Hasan, Beberapa Pemikiran Tentang pendidikan Islam, (Bandung:Al- Ma’arif, 1980)
Munardji, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta.Bina Ilmu, 2004).
Nafis Muntahibun Muhammad, Ilmu Pendidikan Islam, ( Yogyakarta: Penerbit Teras, 2011).
Salim Haitami & Kumiawan Syamsul, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012).
Tafsir Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994)
Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Diknas, 2003).
Wijayani Ardy Novan & Bamawi, Ilmu Pendidikan Islam (Rancang Bangun Konsep Penddikan Monokotomik-Kolistik), (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media. 2012).
Yusuf Al-Qardawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Al-Banna, Terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1980)








HAKEKAT DAN OBJEK DALAM PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.