Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH TSANAWIYAH


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH TSANAWIYAH

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian kebutuhan dari setiap manusia, kemudian manusia hidup berkumpul menjadi sebuah masyarakat. Oleh sebab itu kehidupan yang terdiri dari banyak orang serta bermacam-macam corak tersebut tidak lain adalah hasil dari pendidikan selama masa perjalanan hidupnya.

Demi terciptanya kehidupan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional, maka perlu adanya sebuah wadah yang bisa mendidik, membimbing, memberikan,menampung serta sikap menerima atas perbedaan tanpa adanya konflik dan kesenjangan sosial. Sejarah Indonesia telah mencatat berbagai persoalan hidup dari tingkat bawah sampai atas, telah banyak memperlihatkan rendahnya moral bangsa. Kekerasan terhadap anak, pelecehan seksual, serta masalah-masalah sosial lainnya. Hal ini tidak bisa lepas dari proses pembelajaran yang dilaksanakan pada masyarakat Indonesia yang cenderung kurang menekankan pentingnya menghargai perbedaan. Sejak dahulu pendidikan kita mengajarkan akan pentingnya perdamaian, kerukunan diatas perbedaan.

Berangkat dari kemajemukan bangsa Indonesia itulah pendidikan yang dahulunya lebih ditekankan wajib belajar sembilan tahun, namun dalam perkembangan zamannya pendidikan bagi setiap warga saat ini dituntut setinggi-tingginya. Salah satu pendidikan lanjut di Indonesia adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau yang setara yaitu Madrasrah Tsanawiyah. Madrasah Tsanawiyah mempunyai nilai lebih dengan'adanya mata pelajaran agama yang teiperinci seperti fiqih-ibadah, aqidah'-akhlak, bahasa arab, sejarah kebudayaan Islam, al-quran hadis.  Peserta didik yang umumnya berumur remaja sangatlah rentan akan perselisihan antara satu dengan yang lainnya. Peserta didik masa remaja inilah yang kemudian para pendidik dituntut untuk memberikan pendidikan yang sesuai serta dapat berpengaruh besar terhadap dirinya. Proses pendidikan ke arah yang lebih baik dapat ditempuh dengan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural diharapkan adanya kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial.

Sekolah memegang peranan penting dalam menanamkan nilai pendidikan multikultural peserta didik sejak dini. Bila sejak awal mereka telah memiliki nilai-nilai kebersamaan, toleran, cinta damai, dan menghargai perbedaan, maka nilai-nilai tersebut akan tercermin pada tingkah-laku mereka sehari- hari karena terbentuk pada kepribadiannya. Bila hal tersebut berhasil dimiliki para generasi muda, maka kehidupan mendatang dapat diprediksi akan relatif damai dan penuh penghargaan antara sesama dapat terwujud.

PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Multikultural
Secara etimologis, multikultural berasal dari kata multi yang berarti banyak dan cultur yang berarti budaya. Jadi multikultural berarti bermacam- macam budaya. Definisi lain menurut James A. Banks, sebagaimana telah dijelaskan oleh H.A.R Tilaar, pendidikan multikultural adalah konsep, ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set o f belief) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok atau negara.
Selanjutnya Ainul Yakin mengatakan bahwa pengertian pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah.    Pengertian lain mengatakan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu cara untuk mengajarkan keragaman (teaching diversity) yang menghendaki rasionalisasi etis, intelektual, sosial dan pragmatif secara inter¬relatif: yaitu mengajarkan ideal-ideal inklusivisme, pluralisme, dan saling menghargai semua orang, dan kebudayaan merupakan imperaktif humanistik yang menjadi prasyarat bagi kehidupan etis dan partisipasi sipil secara penuh dalam demokrasi multikultural dan dunia manusia yang bbragam, mengintegrasikan studi tentang fakta-fakta, sejarah, kebudayaan, nilai-nilai, struktur, perspektif dan kontribusi semua kelompok ke dalam kurikulum sehingga dapat membangun pengetahuan yang lebih kaya, komplek, dan akurat tentang kondisi kemanusiaan di dalam dan melintasi konteks waktu, ruang dan kebudayaan tertentu.   

Terdapat empat hal yang menjadi nilai-nilai inti (core values) di dalam pendidikan multikultur yaitu: pertama, apresiasi terhadap adanya kenyataan pluralitas budaya dalam masyarakat. Kedua, pengakuan terhadap harkat manusia dan hak asasi manusia. Ketiga, pengembangan tanggungjawab masyarakat dunia. Keempat, pengembangan tanggungjawab manusia terhadap planet bumi.
Dari beberapa definisi diatas bisa kami tarik kesimpulan bahwa pendidikan multikultur adalah pendidikan yang mengajarkan sikap saling menerima perbedaan dengan cara yang arif, menjadikan perbedaan sebagai suatu nilai yang harus mendapatkan perhatian setiap orang. Sebuah pendidikan yang mencoba menggunakan pendekatan-pendekatan yang rasional dengan tujuan mengubah perbedaan menjadi keharmonisan sosial ditengah-tengah masyarakat.

B. Implementasi Pendidikan Multikultural Di Madrasah Tsanawiyah
Pendidikan multikultural di tingkat Madrasah hams mencoba dengan terobosan-terobosan baru serta menggunakan metode yang tepat agar mendapatkan hasil yang diinginkan, mengingat dalam pendidikan faktor yang terpenting keberhasilannya adalah pembelajaran.
Penanaman pendidikan multikultural merupakan usaha di setiap lembaga pendidikan, menurut para pakar pendidikan multikultural bisa menjawab pendidikan di Indonesia. Peserta didik tingkat tsanawiyah dalam proses pembelajaran sudah mampu menerima pendidikan yang sifatnya abstrak, dan mampu bcrfikir kritis dalam menerima perbedaan. Paling tidak ada tiga hai
periling dalam pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:
pertama, pendidikan multukultural berfungsi sebagai sarana alternatif pemecahan konflik; kedua, dengan pendidikan multikultural, siswa tidak akan tercerabut dari akar budayanya; ketiga, pendidikan multikultural relevan di alam demokrasi saat ini.

 Pendidikan Multikultural di madrasah tsanawiyah tidak bisa kita pisahkan dengan pendidikan nasional saat ini, hal ini justru menjadi ciri khas dari sebuah madrasah bahwa nilai tambah terdapat pada mata pelajaran agama seperti Aqidah, Akhlak, Ibadah, Sejarah Kebudayaan Islam dan bahasa Arab, adapun materi-materi di dalamnya bisa memberikan pencerahan kepada peserta didik.
Zakiyudin berpendapat bahwa kharakteristik- kharakteristik aalah sebagai berikut: belajar hidup dalam perbedaan, membangun saling percaya (mutual trust), memelihara saling pengertian(mutual understanding) menjunjung tinggi sikap saling menghargai (mutual respect), terbuka dalam berfikir dan interdepensi, resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Sebagaimana yang dipaparkan Azyumardi Azra,  bahwa pengimplementasian pendidikai multkultural dapat diterapkan oleh sekolah dan masyarakat secan keseluruhan dengan memasukkan materi yang memiliki nilai multikultural.

Keberhasilan penerapan pendidikan multikultur sangat ditentukan seorang guru, standar kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang guru seperti kompetensi pedagogig, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Serta didukunang para guru yang paham terhadap nilai-nilai inti dalam pendidikan multikultural, diantaranya: pertama. apresiasi terhadap kenyataan pluralitas budaya dalam masyarakat; kedua. Pengakuan terhadap harkat dan martabat manusia dan hak asasi manusia, ketiga. Pengembangan tanggungjawab masyarakat dunia, keempat. Pengembangan tanggung jawab manusia terhadap planet bumi.  Jika para guru mempunyai kwalitas kompetensi tersebut serta didukung para guru yang paham pendidikan multikultural dan penerapannya. Guru juga dituntut memahami dari aspek-aspek.

Beberapa aspek lain yang harus mendapat perhatian yakni metode dan pendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa metode dan pendekatan- pendekatan yang mungkin bisa dilalaikan di dalam pendidikan multikultural adalah sebagai berikut:
1.    Metode Kontribusi
Dalani penerapan metode ini pembelajar diajak berpartisipasi dalam memahami dan mengapresiasi kultur lain. Metode ini antara lain dengan menyertakan pembelajar memilih buku bacaan bersama, melakukan aktivitas bersama. Mengapresiasikan everi-even bidang keagamaan maupun kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Pembelajar bisa melibatkan pembelajar di dalam pelajaran atau pengalaman yang berkaitan dengan peristiwa ini. Namun perhatian yang sedikit juga diberikan kepada kelompok-kelompok etnik baik sebelum dan sesudah event atau signifikan budaya dan sejarah peristiwa bisa dieksplorasi secara mendalam.
2.    Metode Pengayaan
Materi pendidikan, konsep, tema dan perspektif bisa ditambahkan dalani  kurikulum tanpa harus mengubah struktur aslinya. Metode ini memperkaya kurikulum dengan literatur dari atau tentang masyarakat yang berbed'a kultur atau agamanya.
3.    Metode Transformatif
Metode ini secara fundamental berbeda dengan dua metode sebelumnya. Metode ini memungkinkan pembelajar melihat konsep-konsep dari sejumlah perspektif budaya, etnik dan agama secara kritis. Metode ini memerlukan pemasukan perspektif-perspektif, kerangka-kerangka referensi dan gagasan- gagasan yang akan memperluas pemahaman pembelajar tentang sebuah ide.
4.    Metode Pembuatan Keputusan dan Aksi Sosial
Metode ini mengintegrasikan metode transformasi dengan aktivitas nyata dimasyarakat, yang pada gilirannya bisa merangsang terjadinya pembahan sosial. Pembelajar tidak hanya dituntut untuk memaha'mi dan membahas isu- isu sosial, tapi juga melakukan sesuatu yang penting berkaitan dengan hal itu.

Adapun pendekatan yang secara umum digunakan dalam menerapkan pendidikan multikultural diantarannya;
a)    Pendekatan Historis

Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada pembelajar dengan menengok kembali ke belakang. Maksudnya agar pebelajar dan pembelajar mempunyai kerangka berpikir yang komplit sampai ke belakang untuk kemudian merefleksikan untuk masa sekarang atau mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan dinamis.
Pendekatan ini mengandaikan teijadinya proses kontekstualisasi atas apa, yang pernah teijadi di masa sebelumnya atau datangnya di masa lampau. Dengan pendekatan ini materi yang diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir kekinian.
b)    Pendekatan Kultural
Pendekatan ini menitikberatkan kepada otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini pembelajar bisa melihat mana tradisi yang otentik dan mana yang tidak. Secara totolatis pebelajar juga bisa mengetahui mana tradisi arab dan mana tradisi yang datang dari Islam.
c)    Pendekatan Psikologis
Pendekatan ini berusaha memperhatikan situasi psikologis perseorangan secara tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing pembelajar harus dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang pebelajar harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan pembelajar sehingga ia bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.
d)    Pendekatan Estetik
Pendekatan estetik pada dasarnya mengajarkan pembelajar untuk berlaku sopan dan santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Sebab segala materi kalau hanya didekati secara doktrinal dan menekan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka pembelajar akan cenderung bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan ini untuk mengapresiasikan segala gejala yang teijadi di masyarakat dengan melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis.
e)    Pendekatan Berprespektif Gender   
Pendekatan ini mecoba memberikan penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan jenis kelamin karena sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan pendekatan ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di sekolah yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa dihilangkan.
Dengan adanya metode dan pendekatan dalam pembelajaran, kemudian didukung materi keagamaan yang menjadi ciri khas di madrasah tsanawiyah dan didukung kondisi lingkungan. Guru juga memahami akan keberagaman peserta didik, maka diharapkan pendidikan multikultural dapat beijalan dengan baik.

KESIMPULAN

1.    Pendidikan multikultural atau bisa disebut dengan multi-budaya adalah pendidikan yang mengajarkan keragaman yang menghendaki rasionalisasi etis, intelektual, sosial dan pragmatif secara inter-relatif dan diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah dipahami.
2.    Implementasi pendidikan multikultural di madrasah tsanawiyali sangat diperlukan, karena pendidikan multikultural dapat menyelesaikan berbagai persoalan atau konflik. Pendidikan multikultural menitik- beratkan penanaman belajar hidup dalam perbedaan, membangun saling percaya (mutual trust), memelihara saling pengertian (mutual understanding), menjunjung tinggi sikap saling menghargai (mutual respect), terbuka dalam berfikir dan interdepensi, resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Dengan adanya dukungan dari guru dan kepala sekolah, serta stakeholder, lingkungan yang kondusif serta metode dan pendekatan- pendekatan, disiplin yang tinggi dan memahami karakter-karakter peserta didik yang beragam, maka implementasi pendidikan multikultural diharapkan berjalan dengan baik.


Daftar Pustaka
Azyuinardi Azra, pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru. Jakarta: Penerbit Kalimah, 2001. Dalam kutipan jurnal LENTERA 78 PENDIDIKAN, VOL 13 NO. JUNI 2010:78-79, oleh Siti Mania, Implemenasi Multikultural dalam Pendidikan.
Baidhawy, Zakiyuddin, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta: Erlangga, 2005)
H.A.R Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional (Magelang: Indonesia Tera. 2003)
H.A.R Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan, Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural (Magelang: Indonesia T era, 2003 )
M. Ainul Yakin, Pendidikan Multikultural, Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan (Yogyakarta: Pilar Media. 2005)
Mahfud, Choirul, Pendidikan Multikultural, (Yogayakarta: Pustaka Pelajar, 2008)
Naim, Ngainun & Achmad Sauqi, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi ( Yogyakarta: Ar-Ruzz. 2008)
https://andiplampang.wordpress.com/2010/12/09/metode-dan-pendekatan-pendidikan-multikultural/
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH TSANAWIYAH Reviewed by Kharis Almumtaz on February 22, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.