Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

Kajian Ontologis Epistimologis dan Axiologis dalam Filsafat Pendidikan Islam



Pendahuluan
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berlandaskan atas dasar-dasar ajaran Islam, yakni Al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat Islam. Melalui pendidikan inilah, kita dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-sunnah. Sehubungan dengan hal tersebut, tingkat pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita terhadap ajaran Islam sangat tergantung pada tingkat kualitas pendidikan Islam yang kita terima. Pendidikan Islam di Indonesia seringkah berhadapan dengan berbagai problematika. Sebagai sebuah sistem pendidikan Islam mengandung berbagai komponen antara satu dengan yang lain saling berkaitan. Akan tetapi, seringkali dilakukan apa adanya, tanpa perencanaan dan konsep yang matang. Sehingga mutu pendidikan Islam kurang beijalan sesuai yang diharapkan.

Menyikapi hal tersebut; Filsafat pendidikan Islam, berupaya mencari kebenaran sedalam-dalamnya, berfikir holistik, radikal dalam pemecahan problem filosofis pendidikan Islam, pembentukan teori-teori baru ataupun pembaharuan dalam pelaksanaan pendidikan Islam yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Berdasarkan sumber-sumber yang shohih yaitu Al-Qur’an dan ha.dist. Kajian Filsafat pendidikan Islam dari segi ontologi, epistemologi, dan aksiologi memberikan manfaat besar bagi kita sebagai calon pendidik. Ontologi membahas tentang hakekat pendidikan Islam, Epistemologi membahas sumber-sumber pendidikan Islam, serta aksiologi mengupas nilai-nilai pendidikan Islam

A.    Ontologi
Menurut bahasa, ontologi ialah berasal dari bahasa yunani yaitu, Ontos : ada, dan Logos : Ilmu, jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality, baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat
Ontologi mengkaji apa hakikat ilmu atau pegetahuan ilmiah yag seringkali secara populer banyak orang menyebutnya dengan ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi ilmu tetang apa dan bagaimana yang ada itu. Ontologi membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat difikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui pancaindra manusia.

Sedangkan ontologi pendidikan Islam membahas hakikat substansi dan pola organisasi pendidikan Islam. Secara ontologis, Pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk berakal dan berfikir. Jika manusia bukan makluk berfikir, tidak ada pendidikan. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan diri manusia, dijadikan alat untuk mendidik.
Hakekat Filsafat Islam ialah dan al-Quran. Filsafat Islam tidak mungkin tanpa aqal dan al-Quran. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. Tidak dapat ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual, sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja, aqal tetap bekerja dengan otonomi penuh?
Kajian ontologi ini tidak dapat dipisahkan dengan Sang Pencipta. Allah telah membekalkan beberapa potensi kepada kita untuk berfikir. Pertanyaan selanjutnya apakah sebenarnya hakekat pendidikan Islam itu? 3 Kata kunci tentang pendidikan Islam yaitu :

A.   Ta 'lim, kata ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam
Mer.gacu pada pengetahuan, berupa pengenalan dan pemahaman terhadap segenap nama-nama atau benda ciptaan Allah. Rasyid Ridha, mengartikan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
b.    Tarbiyah, kata ini berasal dari kata Rabb, mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik yang kedalamannya sudah termasuk makna mengajar.
c.    Ta'dib, Syed Munammad Naquib al-Attas mengungkapkan istilah yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib, kata ini berarti pengenalalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan.

B.    Epistemologi
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Dengan demikian epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenaki pengetahuan. Epistimologi dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of knowledges). Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Epistimologi: Cara mendapatkan atau hakikat pengetahuan, penyelidikan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Sejauh ini dunia pendidikan dianggap sebagai proses penyerahan kebudayaan umumnya, khususnya ilmu pengetahuan. Apakah sesungguhnya ilmu itu, dari mana sumbernya, bagai mana proses teijadinya dan sebagainya merupakan bidang garapan epistemologi. Jadi epistemologi suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas, validitas dan hakikat pengetahuan. Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan kepada pendidik bahwa ia memberikan kebenaran kepada peserta didik.

 Sedangkan Epistemologi Pendidikan Islam yaitu metode-metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang pendidikan islam. Epistemologi pendidikan islam diupayakan sedapat mungkin memiliki sandaran teologis, inspirasi pesan-pesan islam atau pengalaman para ilmuwan muslim. Dari perenungan-perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur*an, hadits Nabi dan penalaran sendiri, untuk sementara didapatkan lima macam metode yang secara efektif untuk membangun pengetahuan tentang pendidikan islam, yaitu : Metode Rasional (Manhaj ’Aqli), metode intuitif, metode dialogis, metode komparatif dan metode nalar

Epistemologi pendidikan islam pembahasannya meliputi : pembahasan yang berkaitan dengan seluk beluk pengetahuan pendidikan Islam mulai dari hakekat pendidikan Islam, asal-usul pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam, metode membangun pendidikan Islam, unsur pendidikan Islam, sasaran pendidikan Islam, macam-macam pendidikan Islam dan sebagainya. Secara garis besar, dalam epistemologi cara mendapatkan pengetahuan ada dua yaitu secara ilmiah dan secara tidak ilmiah. Pengetahuan secara ilmiah bukan berarti lebih benar dari pengetahuan secara tidak ilmiah. Pembagian ini hanya didasarkan pada dapat atau tidaknya semua orang memperoleh pengetahuan tersebut. Pengetahuan secara ilrniah didapat melalui dua hal yaitu secara rasional dan secara empiris. Pengetahuan secara rasional berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan berdasarkan kaidah-kaidah berpikir. Adapun pengetahuan secara empiris berkaitan dengan apakah suatu pengetahuan sesuai dengan kenyataan empirik. Semua manusia dapat melakukan kedua hal tersebut karena semua manusia memiliki potensi akal sekaligus potensi inderawi.

 Pengetahuan yang didapatkan secara tidak ilmiah bisa terjadi dengan berbagai cara seperti melalui wahyu, intuisi, perasaan dan informasi dari orang yang dipercaya. Pengetahuan yang didapatkan dengan cara ini tidak dapat dipelajari oleh semua orang. Ia membutuhkan kebenaran ilmiah untuk meyakinkan orang-orang yang tidak mengalami hal yang sama dengan orang yang mempercayainya.
Tahap-tahap perkembangan pengetahuan dalam satu nafas tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, di interpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan.

Telaahan kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkahlangkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya.

Telaahan ketiga ialah dari segi aksiologi, yang sebagaimana telah disinggung di atas terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan :

1.    Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman

2.    Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.

3.    Fenomenalisme
Fenomenalisme berpendirian bahwa kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).

4.    Intuisi
Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.

C.    Axiologi
Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Dengan demikian, makna aksiologi adalah teori tentang nilai. Makna aksiologi ilmu bisa diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Seperti diketahui setiap pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, mempunyai tiga dasar, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aksiologi ilmu ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.

Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia atau masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk atau salah.
Pada dasarnya nilai dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu:

a.    Nilai Religi
Nilai religi, mempunyai dua segi, yaitu segi normatif dan segi operatif. Segi normatif menitikberatkan pada pertimbangan baik-buruk, benar-salah, hak-bathil. Sedangkan segi operatif, mengandung lima kategori yang menjadi prinsip standarisasi prilaku manusia, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Karena nilai bersifat ideal dan tersembunyi dalam setiap kalbu insan, pelaksanaan nilai tersebut harus disertai dengan niat. Niat merupakan i'tikad seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran

b.    Nilai Etika
 Nilai etika mempunyai dua mantra, yang baik-buruk. Pandangan baik-buruk dalam etika sangat oeragam, karena sudut tinjauannya berbeda-beda, seperti:
  • Aliran empirisme, baik-buruk sesuatu didasarkan atas pengalaman manusia.
  • Aliran intuitionisme, baik-buruk sesuatu ditentukan oleh intuisi seseorang (berupa ilham, bisikan kalbu, naluri, insting).
  •  Aliran rasionalisme, baik-buruk sesuatu ditentukan atas rasio.
  • Aliran hedinisme, baik-buruk sesuatu ditentukan apakah perbuatan itu menghasilkan kebahagiaan.
  • Aliran egoistie. baik-buruk ditentukan oleh kebahagiaan individ
  • Aliran universalistic hedinisme. baik-buruk sesuatu ditentukan oleh kebahagiaan bersama.
  •  Aliran evolusionisme. baik-buruk sesuatu ditentukan atas dekat jauhnya terhadap yang menjadi tujuan hidup, proses tersebut berlaku secara terus menerus, dan berangsur-angsur.
  • Aliran ahli sunnah. baik-buruk atas agama, karena akal tidak mungkin mengetahui - baik-buruk.
  •  Aliran muktazilah. baik-buruk didasarkan atas kesesuaian akal, karena akal merupakan wahyu Tuhan.
  • Aliran al-Ghazati. baik-buruk ditentukan akal yang didasari oleh jiwa al-Qur’an dan as-Sunnah.
  • Aliran Abu al-Maududi, baik-buruk ditentukan oleh pengalaman, rasio dan intuisi manusia yang dibimbing Tuhan berupa aI-Qur’an dan as-Sunnah.
c.    Nilai Estetika
Nilai estetika mutlak dibutuhkan manusia, karena merupakan bagian hidup manusia yang tak terpisahkan, yang dapat membangkitkan semangat baru, gairah beijuang. Nilai estetika berlaku di mana saja, pada agama, pendidikan, politik, hukum, ekonomi dan sebagainya. Estetika lahir dari rangsangan cipta dalam rohani seseorang. Rangsangan tersebut untuk memberikan ekspresi dalam bentuk cipta dan suatu emosi yang dalam atau pikiran yang agung, karya estetika akan melahirkan rasa yang disebut dengan indah.

d.    Nilai Logika
Logika bermuara pada pencarian kebenaran. Kebenaran dalam nilai logika terletak pada empat hal yang kesemuanya menimbulkan adanya persamaan dan perbedaan. Keempat hal tersebut: subyek pengamat, pemahamannya tentang sesuatu dan stfiiasi pada saat psikisnya pada saat mengenal obyek. Obyek yang diamati, kenyataan adanya barang atau benda yang diamati, Tempat berpijak, sudut pandang dan pangkal tolaknya, keadaan perantara, sifat penghubung antara subyek dan obyek, misalnya masalah cahaya.
Pendidikan (siam bertujuan untuk menginformasikan, menstranformasikan serta menginternalisasikan nilai-nilai Islam, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran dan mengemoangkan segi-segi kehidupan spiritual yang baik dan benar dalam rangka mewujudkan pribadi muslim seutuhnya, dengan ciri-ciri beriman, taqwa, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil dan bertanggungjawab. Agar tujuan tersebut dapat dicapai perlu disusun suatu rencana yang sistematis dengan menggunakan metode dan teknik tertentu.

jenis pendekatan dalam Pendidikan Islam yang dapat dilakukan meliputi:

1.     Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam
Pendekatan ini menekankan pada keyakinan, bahwa Islam adalah wahyu Allah yang maha kuasa, sehingga kita tidak perlu meragukan dan yakin bahwa segala isi wahyu tersebut mengandung kebenaran yang mutlak, nilai-nilai yang baik dan benar dalam membimbing manusia di dunia dan akhirat. Jenis pendekatan ini mengandung pengertian bahwa kita tidak hanya tunduk kepada perintah-Nya Sebaliknya kita harus dapat menggunakan firman-firman tersebut sebagai penerang yang mampu memberikan petunjuk bagi pemecahan masalah hidup yang kita hadapi. Pendekatan filsafat Islam berarti pembenaran iman yang ditandai dengan akal budi, karena akal budi adalah pangkal dari iman.

2.    Pendebatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis yaitu suatu cara pandang yang menekankan pada serangkaian norma-norma hidup sehan-hari dalam masyarakat yang diyakini sebagai sesuatu yang norma-norma itu dijadikan pedoman pembinaan prilaku hidup sehari-hari dalam masyarakat dan dapat membedakan secara tegas mana yang harus disingkirkan untuk menciptakan kehidupan bersama. Sebagai wahyu Islam memberikan tuntunan serta ukuran baik dan buruk untuk digunakan sebagai landasan prilaku hidup manusia dengan semua aspek sepanjang masa. Hal ini berarti bahwa Islam mendorong berakhlak mulia yang diwujudkan dalam prilaku hidup sehari-hari mencakup keikhlasan, kejujuran, kerendahan hati, keadilan, kesabaran, kesederhanaan, kelembutan, menepati janji, pemaaf, keteguhan hati, ketelitian, kebenaran, dan peraturan bertingkah laku lainnya yang dianjurkan dan dipuji. Pendidikan Islam berperan sebagai jenis pendidikan yang dilaksanakan dalam lembaga tertentu yaitu, keluarga, sekolah, pondok pesantren, masjid, madrasah, dan lembaga serta organisasi lainnya. Setiap lembaga tersebut mempunyai fungsi dan metode yang berbeda dalam menanamkan nilai-nilai Islami tetap mempunyai kesamaan tujuan, yaitu pembentukan pribadi muslim seutuhnya

3.    Pendekatan Pedagogis
Pendidikan Islam sebagai kegiatan yang merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka usaha pembentukan manusia yang berakhlakul karimah. Oleh karena itu harus menggunakan tingkah laku, yaitu cara pandang peristiwa pendidikan Islam yang menekankan pembahasan sebagai hasil interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Proses pendidikan Islam berfungsi untuk membimbing, menuntun, melayani, mengeluarkan potensi laten, agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan tugas-tugas anggota masyarakat dan mahkluk ciptaan Tuhan.

4.    Pendekatan Sistem
Cara pandang pendidikan Islam berdasarkan sistem dapat digambarkan sebagai proses bclajar-mengajar yang dipengaruhi masyarakat Islam untuk menghasilkan lulusan yang mampu berperan dalam hidupnya untuk mempengaruhi dalam lingkup kehidupan bangsa Indonesia Sebagai sub sistem pendidikan maka pendidikan Islam juga dipengaruhi oleh sistem lingkungannya, antara lain keadaan sosial ekonomi, suasana politik, kebijakan pemerintah, kemampuan dan dorongan orang tua, pengaruh teman sejawat dan kelompok belajar. Namun yang lebih penting adalah pengaruh utama yang berasal dari instrumental input atau masukan instrumental yang tidak lain adalah lembaga pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan ini memiliki pendidik, kurikulum, alat pelajaran atau media, ruang kelas, perlengkapan atau fasilitas yang menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar.


Kesimpulan
1.    Ontologis Filsafat pendidikan islam adalah ilmu yang membahas tentang hakikat ilmu dan obyek ilmu. Hakikat filsafat islam berupa akal dan wahyu, sedangkan obyek formalnya adalah hakekat seluruh realitas.

2.    Epistemologi membahas tentang bagaimana seorang manusia mendapatkan pengetahuan. Pentingnya pembahasan ini berkaitan dengan apakah suatu ilmu apakah ia diperoleh dengan cara yang bisa didapatkan orang lain atau tidak. Jika tidak dapat diketahui orang lain maka pengetahuannya tidak dapat dipelajari oleh orang lain. Secara garis besar, dalam epistemologi cara mendapatkan pengetahuan ada dua yaitu secara ilmiah dan secara tidak ilmiah. Pengetahuan secara ilmiah bukan berarti lebih benar dari pengetahuan secara tidak ilmiah. Pembagian ini hanya didasarkan pada dapat atau tidaknya semua orang Pengetahuan secara ilmiah didapat melalui dua hal yaitu secara rasional dan secara empiris.

3.     Aksiologi ilmu ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya.

Daftar pustaka
Tafsir Ahmad, 2003, Filsafat Umum, Bandung : Rosdakarya

Aceng Setiawan, Cony Semiawan,dkk,2011, Filsafat Ilmu Lanjutan, Jakarta: Kencana
Suprihatiningrum jamil, dkk,2008, ontologi,Epistimologi, Axiologi Ilmu, Yogyakarta: UNY
Kajian Ontologis Epistimologis dan Axiologis dalam Filsafat Pendidikan Islam Reviewed by Kharis Almumtaz on May 10, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.