Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU TAIMIYAH

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU TAIMIYAH
Oleh : KHARIS MUJAHADA
Mata kutiah : Filsafat Pendidikan Islam
Disusun oleh : Kharis Mujahada NIM: 1420421007
Pascasarjana/PGM I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan proses dari upaya manusia untuk mengembangkan segenap potensinya agar menjadi pribadi yang seimbang antara jasmani dan rohani. Dengan pendidikan, diharapkan manusia mempunyai kualitas, baik kualitas kehidupan maupun capaian dari proses-proses perancangan masa depannya. Maju mundurnya sebuah peradaban bangsa akan ditentukan bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakatnya.

Pembaharuan pendidikan khususnya pada pendidikan Islam sangat diperlukan. Karena pembaharuan selalu akan menuju kepada arah perbaikan. Dalam upayanya pembaharuan akan berpengaruh pada ilmu pengetahuan dan tehnologi dan dilakukan secara dinamis, inovativ sejalan dengan perubahan cara berpikir seseorang.

Pembaharuan pendidikan Islam juga memuat para pemikiran pendidikan Islam terkemuka, seperti Al-Ghazali . Ibn Khaldun. Ibnu Taimiyah dan tokoh- tokoh lainnya mempunyai Andil sangat besar pada dunia pendidikan Islam yang dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia- manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa, dan beriman kepada Allah.

Penelusuran pemikiran tokoh-tokoh pendidikan Islam tersebut bukan merupakan perayaan atas kejayaan intelektual umat Islam di masa lalu, melainkan untuk memelihara kesinambungan keilmuan sekaligus menelisik lebih jauh pemikiran-pemikiran kependidikan. Mereka untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam rangka membenahi sistem pendidikan Islam.

PEMBAHASAN
Biografi IbnuTaimiyyah- Nama lengkapnya IbnuTaimiyyah adalah Ahmad ibn Abd al-halim ibn Abd. A- Salam Ibn Taimiyyah. ia lahir di Harran, Siria pada hari Senin tanggal 10 Rabi'al-awal 661 H/ 1263 M. Ibnu Taimiyah sebenarnya merupakan nama keluarga, yang mungkin sekali diambil dari etnis Kurdi yang terkenal karena kegagahberanian, kekerasan, integritas moral yang tinggi, dan kecerdasannya.
Ayahnya bernama Syihb Ad- din Abd al - Halim Ibn as- Salam adalah seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tinggi di Masjid Agung Damaskus. Yaitu sebagai khatib, imam besar, guru dalam bidang tafsir dan hadits. Kakek IbnuTaimiyyah bernama Syaik Majd ad- Din al Barakat 'Abd Allah seorang mujtahid mutlak, ahli tafsir, ahli hadits, ahli ushul fiqih, ahli fiqih, ahli nahwu dan pengarang.
Ibnu Taimiyah sejak kecil mempunyai kecerdasan otak luar biasa, tinggi kemauan dan mempunyai kemampuan dalam studi, tekun, cermat dalam memecahkan masalah, tegas dan teguh dalam menyatakan dan mempertahankan pendapat, ikhlas dan rajin dalam beramal shaleh, rela berkorban dan siap berjuang untuk jalan kebenaran. 

Ketika berumur 7 tahun, beliau pindah bersama orang tuanya dan keluarganya ke kota Damaskus , demi menghindari serbuan tentara Tartar kala itu.mereka berjalan malam hari, dengan membawa kitab- kitab yang mereka angkut dengan gerobak yang ditarik sapi ternak karena tak ada hewan tunggangan dan tiba di kota Damaskus pada pertengahan tahun 57 H. 
Beliau tumbuh di rumah yang penuh bertabur ilmu. fikih dan agama. Bapak kakek, saudara- saudara dan banyak paman- pamannya adalah ulama- ulama yang termasyhur. Di antaranya adalah kakeknya yang keempat yaitu Muhammad bin al Khadhr, Abdi Hal i m bin Muhammad ibn Taimiyah, Abdul Ghani bin Muhammad bin Taimiyah, Majduddin, Abui Barakat, seorang ulama yang memiliki banyak karya tulis. Juga bapaknya Abd al — Halim Ibn as- Salam Abd al - Halim Ibn as- Salam dan saudaranya, Abdurahman , dan lainnya.
Pendidikannya didapatkan dari ayah dan pamannya dan juga dari ulama- ulama terkenal yang berada di kota Damaskus dan sekitarnya yang pada waktu itu merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar dari berbagai mazhab atau aliran Islam yang ada. Di antara guru beliau adalah Syam ad Din Abd Rahman Ibn Muhamad Ibn Muhammad Al- Maqdisi, seorang ternama dan hakim agung utama dari mazhab Hambali di Siria, setelah Sultan Baybars ( 1260- 1277 M) melakukan pembaharuan di bidang peradilan.

Muhammad ibn Abd Al Qawi ibn Badran al- Maqdisi al- Mardawi ( 603- 699 H), seorang muhaddis, faqih, nahwiyy, dan mufti serta pengarang terpandang pada masanya. Dan masih banyak guru lagi guru yang lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 

Ilmu yang pertama dipelajarinya adalah Al Quran dan Hadits, Bahasa Arab, ilmu Al Quran, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, sejarah, kalam, mantik, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Dan mengantarkannya menjadi orang yang memiliki keahlian dalam seluruh cabang ilmu tersebut.

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai orang yang mudah menghafal dan sukar lupa, sehingga dalam usia muda sudah hafal Al Quran, pada usia 17 kepekaannya terhadap ilmu sudah kentara.  Terbukti beliau di usia tersebut dapat menyelesaikan studi keagamaannya secara formal. Dan dalam usia tersebut ia mulai mengarang kitab.

Pada usia 20 tahun, ia menjadi mufti. Kemudian, sewaktu ayahnya wafat pada 682 H./ 1284 M, Ibnu Taimiyah yang ketika itu berusia 21 tahun menggantikan jabatan ayahnya sebagai direktur Madrasah Dar Al- Hadits As- Sukarriyah ( lembaga pendidikan islam bermazhab Hambali yang sangat maju dan bermutu di Damaskus ketika itu). Ia mulai mengajar fiqih di lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

Setahun kemudian ia mulai memberi kuliah umum Tafsir Al Quran di Masjid Raya Damaskus sekaligus menjadi khatibnya. Dalam tahun tahun yang sama ia menggantikan ayahnya selaku guru besar Hadis dan fiqih Hambali di beberapa madrasah terkenal yang ada di Damaskus. Dalam waktu yang singkat, namanya menjadi termasyhur melebihi ahli- ahli hadis lain yang terkemuka saat itu., seperti Ibn Daqiq Ad - Din, Kamal Ad- Din Az- Zimlikani, dan Syam Ad- Din Azh- Zhahabi sehingga ia muncul sebagai tokoh dan pemimpin utama mazhab Hambali.

Selain aktif di bidang ilmu pengetahuan, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai seorang yang banyak terlibat dalam politik sehingga ia harus keluar masuk penjara, namun ia tetap mengajar dan menulis.sampai ia meninggal dunia di penjara pada hari Senin, 20 Zulkaidah 728 H dan konon kabarnya salah satu sebab meninggalnya di penjara karena diboikotnya kertas masuk penjara, sehingga ia tidak bisa lagi menulis. 

Karya- karya IbnuTaimiyyah- Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama, pemikir, dan praktisi yang menaruh perhatian besar terhadap masalah- masalah yang muncul di masyarakat. Paham keagamaannya bercorak salaf yakni mengikuti petunjuk Al Quran dan Hadis sebagai yang dipahami para sahabat, dan tabiin, yang saat itu pemikiran islam belum terpengaruh oleh pemikiran filsafat atau berbagai paham lainnya yang dibuat- buat oleh manusia.
Pemikiran dan pandangan keagamaan Ibnu Taimiyah dapat kita jumpai dalam karya- karyanya yang menurut pemikiran sebagian para peneliti terdapat sekitar 300- 500 buah. Meskipun tidak semua dapat terselamatkan. Dan sebagian karya Ibnu Taimiyah terhimpundalam majma' Fatawa Ibnu Taimiyah yang berjumlah 37 jilid ( belum termasuk karangan- karangan yang tergolong besar, seperti Manhaj As- Sunah, dll

 Adapun karya-karya tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
 1.     Bidang Tasawuf
  •  Al Fatawa fi 'Ilmi As- Suluk
  • Iqidha Ash- Shirat Al Mustaqim
  •  Qaidah Fi Ash- Shabri
  • Ash- Shufiyah wa Al- Fuqara*
  • Qaidah Fi Ar- Raddi 'Ala Al- Ghazali fi Mas'alati At Tawakkul
2.    Bidang logika:
  •  Al Fatawa fi Kitab Al- Mantiq
  • Dar At- Tarud Al ' Aql wa An- Naql
3.    Bidang Al Quran :
  • Ar-Risalah Al 'UbudiyahI Ila Tafsir Qawlihi Ta'ala Ayuhannas U'budu Rabbaka Ilkh
  • Al Fatawa Al Hamawiyah
  • Al Kalam 'Ala Qawlihi Ta'ala
4.    Bidang hadis:
  • Arba'un Haditsah Riwayat Al Islam Ibn Taimiyah 'an Arba'in min Kibar masya Ikhi
  • Riwayat fi Syarh Hadits An Nuzul
5.    Bidang Dogma 
  • Al Furqan Bayan Al Haqq wa Bathil
  • Ath Thufah Al Iraqiyah fi A'mal Al Qalbiyah
  • Al Kalam'ala Fitrah.
Pemikiran Ibnu Taimiyyah tentang pendidikan Islam-  Pemikiran Ibnu Taimiyyah tentang pendidikan dibagi dalam falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum, hubungan pendidikan dengan kebudayaan. Seluruh pemikirannya dalam bidang pendidikan ia bangun berdasarkan keterangan yang jelas sebagaimana terdapat dalam Al Quran dan As-Sunah melalui pemahaman yang mendalam. Pemikirannya dalam bidang pendidikan itu merupakan respon terhadap masalah yang dihadapi masyarakat Islam pada saat itu yang menuntut pemecahan melalui jalur pendidikan.

  1. Falsafah pendidikan
 Dasar atau asas yang digunakan sebagai acuan Falsafah pendidikan oleh Ibnu Taimiyyah adalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas kehidupan yang cerdas dan unggul. Sementara mempergunakan ilmu itu akan dapat menjamin kelangsungan dan kelestarian masyarakat. Tanpa ilmu masyarakat akan terjerumus ke dalam kehidupan yang sesat. Bertolak dari pandangan tersebut, menurut Ibnu Taimiyah bahwa menuntut ilmu itu merupakan ibadah dan memahaminya secara mendalam merupakan sikap ketaqwaan kepada Allah dan mengkajinya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang lain yang belum tahu adalah shadaqah dan mendiskusikannya merupakan tasbih.

Ilmu yang bermanfaat menurut Ibnu Taimiyah adalah ilmu yang mengajak kepada kehidupan yang baik yang diarahkan untuk berhubungan dengan Al Haqq ( Tuhan) serta dihubungkan dengan kenyataan — kenyataan makhluk serta memperteguh rasa kemanusiaan

Hal tersebut dapat dibangun atas 2 hal :

At Tauhid ( mengesakan Allah)- Menurut Ibnu Taimiyah hal terpenting yang harus mendasarkan falsafah pendidikan adalah At Tauhid, yaitu menyatakan 2 kalimah syahadat sebagai pangkal utama ajaran Islam, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW. sebagai utusan- Nya. Pernyataan bersaksi tiada Tuhan selain Allah mengandung unsur keikhlasan semata- mata mengakui Allah sebagai Tuhan. Pernyataan bersaksi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan- Nya mengandung makna bahwa ia hanya membenarkan terhadap apa yang dibawa Rasul- Nya.
Berdasarkan tauhid tersebut Ibnu Taimiyah memberikan gambaran konsep orang yang berilmu ( alim) adalah orang yang menyatakan bersaksi atas ketuhanan lalu mengesakannya sesuai firman Allah dalam QS. Ali Imran: 19 "Allah menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia (Allah). Para malaikat dan orang- orang yang berilmu berpegang teguh kepada- Nya."

Tabiat insaniyah ( kemanusiaan)- Menurut Ibnu Taimiyah manusia dikarunia tabiat atau kecenderungan mengesakan Tuhan ( Tauhid) sebagaimana yang terkandung dalam falsafah pendidikan. Seseorang tidak akan dapat mencapai pengembangan tauhidnya dengan sempurna kecuali dengan pendidikan dan pengajaran. 

      2.   Tujuan pendidikan
Tujuan individual- Tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang yang mampu berpikir, merasa, dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan Al Quran dan As- Sunnah.
Tujuan sosial- Tujuan pendidikan diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al Quran dan As- Sunnah.
Tujuan dakwah Islamiyah-Tujuan pendidikan yang harus dicapai adalah mengarahkan ummat agar siap dan mampu memikul tugas dakwah islamiyah ke seuruh dunia. Beliau berpendapat bahwa Allah SWT mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan sehingga seluruh manusia hanya mengikuti Allah dan Rasul- Nya. Adapun manusia memikul beban mengajak manusia lainnya kepada jalan yang baik dan mencegah berbuat buruk.
Firman Allah SWT :
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah".( QS. A i Imran : 110) 

Untuk mencapai tujuan dakwah Islamiyah dilakukan dengan 2 cara:
  • Menyebarluaskan ilmu dan ma'rifat yang didatangkan Al Quran
  • Berjihad dengan sungguh- sungguh sehingga kalimat Allah dapat berdiri tegak.
Kurikulum- Kurikulum atau materi pelajaran utama yang diberikan kepada anak didik adalah mengajarkan anak didik adalah mengajarkan putera- puteri kaum muslimin sesuai yang diajarkan Allah kepadanya, dan mendidiknya agar selalu patuh dan tunduk kepada Allah dan rasulnya.
Menurut Ibnu Taimiyah menjelaskan kurikulum dalam arti materi pelajaran dalam hubungannya dengan tujuan yang ungin dicapai melalui 4 tahap :
1)    Kurikulum yang berhubungan dengan mengesakan Tauhid ( at- tauhid) yaitu mata pelajaran yang berkaitan dengan ayat- ayat Allah yang ada dalam Al Quran dan ayat- ayatnya yang ada di jagat raya dan diri manusia.
2)    Kurikulum yang berhubungan dengan mengetahui secara mendalam
( ma'rifat) terhadap ilmu- ilmu Allah , yaitu pelajaran yang berhubungan dengan upaya melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap semua makhluk Allah.
3)    Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong manusia mengetahui secara mendalam ( ma'rifat) terhadap kekuasaan ( qudrat) Allah, yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan mengetahui pembagian makhluk Allah yang meliputi berbagai aspek,
4) Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong manusia mengetahui perbuatan - perbuatan Allah, yaitu dengan melakukuan penelitian secara cermat terhadap berbagai ragam kejadian dan peristiwa yang tampak dalam wujud yang beraneka ragam.

Berdasarkan tujuan kurikulum di atas Ibnu Taimiyah membedakan ilmu dari kekhususannya sebagai berikut :
a) Ilmu- ilmu yang dapat menyempurnakan agama dan akal Menurut Ibnu Taimiyah seluruh ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah suatu upaya untuk mewujudkan kalimat Allah sebagaimana diisyaratkan dalam Al Quran dan As- Sunah dalam berbagai bentuk. 
Kalimat atau ajaran yang ada di Al Quran dibagi 2 bagian:
Ajaran ( kalimat) yang berkaitan dengan masalah agama- Ajaran ( kalimat) yang berkaitan dengan masalah agama. sebagaimana termaktub dalam alquran:
" Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan berbagai kalimat ( perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya," (QS. Al Baqarah : 124
Ajaran ( kalimat) yang berkaitan dengan masalah alam semesta ( kauniyat), sebagaimana diungkapkan dalam Al Quran : " Dan telah sempurnakan perkataan Tuhanmu yang baik ( sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka" ( QS. Al A'raf: 137)

Kalimat yang dimaksud dalam ayat Al A'raf tersebut menurut Ibnu Taimiyah adalah kalimat sebagaimana terdapat dalam doa rasul uli ah SAW :
 " aku berlindung diri kepada kalimat- kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada yang dapat melampauinya yang baik atau yang buruk.

Berkenaan dengan ilmu yang dapat menyempurnakan agama dan akal Ibn Taimiyah membagi ilmu menjadi 2 bagian
1. Ilmu samiyat: ilmu yang berkaitan dengan mendidik, mengajar dan membimbing manusia tentang aqidah, kecakapan individual dan kemasyarakatan
2. Ilmu aqliyah (intelektualitas): ilmu ilmu yang berkenaan dengan pembinaan fisik dan akal, seperti ilmu kedokteran, matematika, fisika, dan astronomi.
Kedua macam ilmu ini berbeda dari segi jenisnya, namuntujuannya satu yaitu menyingkap tabir ayat- ayat Allah dan ciptaan- Nya di jagat raya ini.

Ruang lingkup kurikulum - Ruang lingkup kurikulum dibagi menjadi 3 bagian :
 Ilmu agama, Ibnu taimiyah membagi ilmu agama menjadi 2 bagian yaitu:
1) Ilmu jabariyah ( ilmu yang dipaksakan) : ilmu yang berkenaan dengan akidah islamiyah yang di dalamnya termasuk rukun islam, ilmu yang berkenaan dengan mengetahui yang haq dan yang bathil, petunjuk dan larangan, yang ada dalam Al Quran. Ilmu tersebut harus dipelajarisecara seksama dan tidak boleh bertaklid.
2)  Ilmu ikhtiyariyah ( ilmu yang diusahakan)
Ilmu aqliyah atau ilmu syari'iyah aqliyah karena agama menilai cukup dengan dalil, kemudian menyerahkannya kepada akal dan panca indera untuk membahasnya. Ilmu itu mencakup matematika, ilmu kedokteran, biologi, fisika, ilmu sosial, dsb.
Ilmu askariyah : ilmu yang digunakan dalam rangka menjawab kebutuhan zaman dan memenuhi para peneliti yang menghendaki agar pendidikan tetap sejalan dengan perkembangan masyarakat yang berpegang pada kaidah tentang pentingnya berjuang untuk membawa umat agar keluar dari kemelut.

Bahasa pengantar dalam pengajaran- Ibnu taimiyah menganjurkan agar mewajibkan penggunaan bahasa Arab dalam pengajaran dan percakapan.hal ini didasarkan pada pandangan bahwa penguasaan secara mendalam dan teliti terhadap bahasa Arab merupakan tuntutan Islam dan sesuatu yang fardlu 'ain hukumnya di kalangan ulama salaf.
Dengan menguasai dan berbicara menggunakan bahasa Arab, seseorang akan memahami agama dengan mudah, dan juga memudahkan orang- orang mukmin pada setiap generasi dalam menguasai syariat islam.

Ibnu taimiyah melarang keras terhadap penggunaan nama dan istilah asing selain bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, karena 3 sebab :
1.    Seorang muslim tidak akan sanggup memperkokoh nama- nama dan istilah tersebut tanpa menjauhi sesuatu sebagaimana terjadi di jaman jahiliyah, tanpa menyebut Allah
2.    Ketika seseorang tidak mengetahui arti dari suatu nama,maka pada saat yang demikian ia dalam keadaan menunjukkan pertentangan dengan syara', sedangkan seorang muslim dilarang mengucapkan suatu kata- kata yang ia sendiri tidak mengetahui artinya. Atas dasar ini maka banyak di antara kaum muslimin yang mencela menerjemahkan lafadz al jalalah ( lafadz Allah) kepada selain bahasa Arab dalam mengerjakan shalat dan dzikir.
3.    Seorang muslim dianggap kurang baik membiasakan berbicara selain menggunakan bahasa Arab. karena bahasa Arab merupakan salah satu syiar islam dan kaum muslimin.

Metode pengajaran- Menurut Ibnu Taimiyah garis besar metode pengajaran dibagi menjadi 2 :
a.     At thariqah al - Ilmiyah (Metode ilmiyah)
Dinamai metode ilmiyah karena dengan metode ini akan dijumpai pemikiran yang lurus dalam memahami dalil, argumen dan sebab- sebab yang menyampaikan pada ilmu, dan orang yang menyampaikan cara tersebut dinamakan at- thalib( penuntut ilmu). Sementara an- nadzar ( perenungan ) di bawahnya terdapat unsur yang haq dan yang bathil. terpuji dan tercela.
Metode ilmiyah ini dasarnya :
1)    Benarnya alat untuk mencapai ilmu.
2)    Penguasaan secara menyeluruh terhadap seluruh proses belajar
3)    Mensejajarkan antara amal dan pengetahuan
b.    At thariqah al iradah (metode al iradah)
Dinamai metode al iradah karena metode ini merupakan metode yang mengantarkan seseorang pada pengamalan ilmu yang diajarkannya.   
Seorang pelajar yang menempuh metode ini disebut murid.tujuan utama metode ini adalah mendidik kemauan seorang pelajar sehingga ia tergerak hatinya untuk melakukan suatu perbuatan kecuali diperintahkan oleh Allah SWT.

Syarat terlaksananya metode al iradah ada tiga yaitu :
1.    Dengan mengetahui maksud dari iradah Yaitu dengan mengetahui daya kecintaan dan berusaha memilih sesuatu yang menggerakkan manusia dan mengarahkannya kepada tujuan tertentu, yaitu kemampuan untuk mempertimbangkan secara seimbang antara tiga daya yaitu daya akliyah, daya al ghadab ( amarah), daya syahwat ( kecenderungan pada nafsu biologis)
2.    Dengan mengetahui tujuan yang dikehendaki oleh iradah Tujuan yang dikehendaki iradah adalah tujuan yang mulia yang sesuai dengan kedudukan manusia, sebagaimana makhluk yang paling mulia. Menurut Ibnu Taimiyah tujuan penciptaan manusia adalah untuk mencapai tujuan hidup yaitu bekerja dan berjuang serta memperdalam segala sesuatu yang dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai keridlaan Allah. Sedangkan alat untuk sampai pada tujuan tersebut adalah
3.    Mengetahui tindakan yang sesuai untuk mendidik iradah tersebut. Menurut Ibnu Taimiyah tindakan yang sesuai untuk mendidik iradah adalah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh rasul, yakni yang disyarialkan Allah dan lingkungan yang mulia yaitu lingkungan yang mendorong terjadinya kerja sama bantu membantu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh rasul, yakni yang disyariatkan Allah dan lingkungan yang mulia yaitu lingkungan yang mendorongantara seluruh kekuatan yang efektif dalam pendidikan.maka harus ada upaya untuk menumbuhkan kehidupan sosial kemasyarakatan yang baik dan menjauhi perbuatan maksiat serta tercela karena jiwa manusia apabila telah dipengaruhi akhlak yang buruk akan sulit untuk diperbaiki.

Etika guru dan murid-
Ibnu Taimiyah membagi etika guru dan murid menjadi dua bagian yaitu:
a.    Etika guru terhadap murid
Seorang alim hendaknya memiliki ciri- ciri sebagai berikut:
1)    Khulafa yaitu orang yang menggantikan misi perjuangan para nabi dalam bidang pengajaran. Kedudukan ini hanya dapat dilakukan oleh orang alim yang mengikuti rasul dalam hal perjalanan hidup dan akhlaknya.
2) Seorang alim hendaknya dapat menjadi panutan bagi murid- muridnya dalam hal kejujuran, berpegang teguh pada akhlak yang mulia dan menegakkan syariat islam. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa berdusta kepada murid tentang ilmu yang diajarkan adalah kezaliman yang besar.
3)  Seorang alim hendaknya menyebarkan ilmunya tanpa sembrono.karena lalai dalam menyebarkan ilmu dianggap lalai dalam berjihad. Allah akan menghukum orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuannya, atau menyepelekannya. Para guru yang saleh adalah mereka yang mengetahui kemampuan yang dimilikinya serta kewajiban yang ada pada dirinya. Sementara orang yang mengetahui bahwa ia memiliki pengetahuan tapi tidak mengamalkannya dianggap sebagai ahli bid'ah.
4) Seorang alim hendaknya membiasakan menghafal dan menambah ilmunya serta tidak melupakannya juga orang yang mengajarkan ummat agar dapat menghafal Al Quran dan As- Sunah, baik segi lafadz maupun maknanya.

Etika murid terhadap guru-
1)    Seorang murid hendaknya memiliki niat yang baik dalam menuntut ilmu, yaitu mengharapkan keridlaan Allah,
2)    Seorang murid hendaknya mengetahui tentang cara- cara memuliakan gurunya serta berterima kasih kepadanya , karena orang yang tidak bersyukur kepada manusia, dianggap tidak bersyukur kepada Allah.
3)    Seorang pelajar hendaknya mau menerima setiap ilmu sepanjang dia mengetahui sumbernya.
4)    Seorang murid hendaknya tidak menoiak atau menyalahkan madzab yang lain atau memandang madzab orang lain sebagai madzab orang-orang yang bodoh dan sesat.

Daftar Pustaka
Ramayulis, 2011, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia
Abudin Nata, 2003, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Amir Al- Jazzar dan AnwarAI Baz, 2008, Fatwa- Fatwa Ibnu Taimiyah, Jakarta: Pustaka Sahifa


KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU TAIMIYAH Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.