Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL- GHOZALI

Latar Belakang
Perputaran dunia menyebabkan munculnya modernisasi dan ilmu pengetahuan dari hari ke hari semakin berkembang. Banyak generasi kita yang setiap hari dihadapkan pada konsep-konsep kapitalis dan pragmatis yang dihembuskan oleh Barat dalam segala hal. Keadaan yang demikian menjadikan mereka hampir-hampir tidak mengenal para tokoh islam, dan lebih ironis lagi mereka tidak mengenal pemikiran dan karya-karyanya. Berbagai tokoh yang hebat dengan akhlaqul karimahnya dan buah karya serta pemikirannya telah banyak muncul pada dekade pertengahan sampai saat ini memberikan sumbangsih luarbiasa untuk umat islam, khususnya bangsa dan negara kita.
Dengan berpandangan pada beberapa hal tersebut, mengenal para tokoh pendidikan Islam merupakan salah satu langkah yang seharusnya dilakukan, dimiliki, dihayati dan harus menjadi kebanggaan untuk selalu mengangkat harkat dan martabatnya serta mensosialisasikan dikalangan umum. Harapan yang muncul adalah generasi penerus Islam bisa berbangga hati bahwa mereka mempuyai tokoh yang pantas untuk dijunjung tinggi sebagai pelita penerang yang melahirkan konsep, teori, dan fatwa yang dijadikan referensi generasi berikutnya dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Muslim yang pemikirannya sangat universal dan mendalam dalam berbagai hal, diantaranya dalam masalah pendidikan. Pada hakikatnya usaha pendidikan menurut Al-Ghazali adalah dengan mengutamakan pendidikan Aqidah dan akhlak. Beberapa hal terkait yang diwujudkan secara utuh dan terpadu karena konsep pendidikan yang dikembangkannya berawal dari kandungan al Qur’an, al Hadits dan tradisi Islam yang menjunjung tinggi prinsip pendidikan manusia seutuhnya. Di zaman yang modem ini sangat relevan untuk mengetahui konsep pendidikan dari tokoh Muslim terkemuka ini, pembahasan makalah ini di dalamnya akan membahas siapa sesungguhnya Al-Ghazali dan bagaimana konsep pendidikan menurutnya.

PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini disampaikan tentang beberapa poin penting tentang WYvwat kehidupan tokoh pemikir yang dijuluki hujjatul islam ini, pemikiran dan pandangannya tentang pendidikan, metode pendidikan dan lingkungan pendidikan.
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL- GHOZALI

A. Kehidupan Al Ghazali

Al Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058 M di desa Thus, wilayah Khurasan, Iran. Ia adalah pemikir ulung islam yang menyandang gelar pembela islam{hujjatul islam), hiasan agama(zainuddin) samudra yang menghanyutkanmughricj) dan lain lain. Dia berasal dari keluarga miskin yang ditinggal ayahnya. Semenjak masih kecil bergurukepada beberapa ulama terkenal termasuk pada Imam al Haromain al Juwaini, karena kecerdasan dan kepintarannya al Juwaini menjadikannya sebagai asisten.
Dalam kesempatan ini Al Ghazali menulis buku dan menyodorkannya kepada al Juwaini. Al Juwaini kemudian berkomentar: "engkau telah menguburku sedangkan aku masih hidup mengapa engkau tidak sabar menunggu aku matf\ Dia bermaksud dengan ucapannya itu bahwasanya Al Ghazali telah mengungguli kitabnya

Al Ghazali menjadi terkenal hingga didekati oleh universitas Nizam Al Mulk dan memintanya untuk menjadi guru/dosen di dunia Baghdad pada tahun 484 H. Untuk menambah wawasannya Al Ghazali menemui berbagai ulama besar dari berbagai macam agama dan berbagai macam kelompok. Semua merasa kagum terhadap ucapan Al Ghazali dan mereka banyak mengutipnya dengan berbagai kalangan mereka

Al Ghazali menjadi rektor di universitas Nizamiah selama 4 tahun, kemudian dia mengalami krisis rohani, keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma'rifat. Secara diam-diam Al Ghazali meninggalkan Baghdad menuju Syam agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya, baik dari pengaasalkhalifah maupun sahabat di universitasnya. Al Ghazali berdalih akan pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.4 Al Ghazali berhalwat di masjid Al Umuwy dan gurun pasir berbatu di Baitul Maqdis. Ia melakukan hal ini selama 10 tahun, hingga ia mendapatkan keterbukaan, menyaksikan kebenaran dan terbuka jalan kesuksesan. Setelah itu ia kembali ke Baghdad dan menetapkan majelis filsafatnya. Al Ghazali menceritakan hal Ini dalam kitab Ihya ulumudin yang, ditulis dalam perjalanannya di negeri Syam. Terakhir ia meninggalkan Baghdad menuju tempat kelahirannya, Thus kemudian mendirikan sekolah di samping rumahnya untuk mengkaji kesufian. Al Ghazali membagi waktunya untuk mengajar, menyusun buku dan ibadah sampai beliau wafat, pada hari senin 14 jumadil akhir 505H. 

Karya karya Al Ghazali- Al-Ghazali banyak menulis buku dalam berbagai disiplin ilmu. Karangan- karangannya meliputi Fikih, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, Teologi Kaum Salaf, bantahan terhadap kaum Batiniah, Ilmu Debat, Filsafat dan khususnya yang menjelaskan tentang maksud filsafat serta bantahan terhadap kaum filosof, logika, tasawuf, akhlak dan psikologi.
Kitab terbesar karya Al-Ghazali yaitu Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), karangannya ini beberapa tahun dipelajari secara seksama di antara Syam, Yerussalem, Hejaz, dan Thus. Karyanya berisi paduan yang indah antara fikih, tasawuf dan filsafat; bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin tetapi juga di kalangan dunia Barat.
Al Ghazali telah meninggalkan tulisannya berupa buku dan karya ilmiah sebanyak 228 kitab yang terdiri atas berbagai ilmu pengetahuan yang terkenal pada masanya.  Kebanyakan kitab yang ditulisnya adalah mengenai kesufian dan fikih.

Konsep Pendidikan Islam Menurut Al Ghazali
 Materi kurikulum pendidikan- Materi kurikulum pendidikan (Al Ghazali lebih menekankan pada pendidikan akhlakul karimah, menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhiak yang baik). Kurikulum pendidikan yang disusun Al Ghazali sesuai dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Al Ghazali mendekatkan diri kepada Allah merupakan tolok ukur kesempurnaan manusia, dan untuk ke sana, ada jembatan yang disebut ilmu pengetahuan. Jika ilmunya banyak dan sempurna, ia akan semakin dekat kepada Allah dan semakin menyerupai malaikat( fatihatul ulum ).

Al Ghazali juga mengurai tentang bagaimana pentahapan kurikulum sesuai deu^an proses pendidikan anak. Menurut Abidin, ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penentuan kurikulum yaitu pertama pengklasifikasian ilmu pengetahuan dengan sangat ter kerinci dan segala aspek yang berkaitan dengannya. Kedua tentang potensi manusia yang dibawanya sejak lahir.
Beberapa hal utama yang harus menjadi perhatian ialah bahwa sifat pembawaan dari anak-anak itu ialah dapat menerima yang baik dan dapat pula menerima yang buruk sekaligus. Ibu-bapaknyalah yang memilihkan salah satu dari dua hal ini. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “semua anak anak dilahirkan suci tetapi ibu bapaknya lah yang menjadikan kannya yahudi, nasrani atau majusi ”

Pentahapan kurikulum yang dirumuskan Al Ghazali nggak nya disesuaikan dengan kemampuan perkembangan dan pertumbuhan anak sebagaimana disampaikan oleh rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dalam menyusun kurikulum pelajaran Al Ghazali memberikan perhatian khusus pada ilmu ilmu agama dan etika sebagaimana dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain yang mementingkan sisi-sisi yang faktual, dalam kehidupan, yaitu sisi-sisi yang tak dapat tidak harus ada.
Al Ghazali juga menekankan sisi-sisi budaya, ia jelaskan kenikmatan ilmu dan kelezatannya. Ia tekankan bahwa ilmu itu wajib dituntut bukan karena keuntungan diluar hakikatnya, tetapi karena hakekatnya sendiri. Sebaliknya Al Ghazali tidak mementingkan ilmu-ilmu yang berbau seni atau keindahan, sesuai dengan sifat pribadinya yang dikuasai tasawuf dan zuhud.

Abbudin Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam dan Fathiyah Hasan dalam Aliran- Aliran Dalam Pendidikan menyatakan hal yang sama mengenai kurikulum pelajaran. Al Ghazali telah menyusun kurikulum yang diatur berdasarkan arti penting yang dimiliki oleh masing-masing ilmu seperti berikut ini:
a.    Ilmu Al Quran al karim, ilmu-ilmu agama seperti fiqih, sunnah dan tafsir.
b.    Ilmu-ilmu bahasa (bahasa Arab) ilmu nahwu serta artikulasi huruf dan lafaz.Ilmu ilmu ini melayani ilmu-ilmu agama.
c. Ilmu-flmu yang termasuk kategori wajib kifayah, yaitu: ilmu kedokteran, ilmu matematika, ilmu teknologi yang beraneka macam dan berbagai keahlian termasuk ilmu politik.
d. Ilmu-ilmu budaya, seperti: syair, sastra, sejarah serta sebagian cabang filsafat, seperti matematika, logika, sebagai ilmu kedokteran yang tidak membicarakan persoalan metafisika ilmu politik dan etika.
Kriteria pendidik- Kualifikasi kepribadian guru dipandang sangat penting oleh sebab tugas guru atau pendidikan dalam melaksanakan pendidikan juga dituntut dapat memperbaiki pendidikan yang telah terlanjur salah diterima anak sekaligus mengadakan pendidikan ulang. Dengan kata lain guru harus mengadakan education and reconstruction of personality

Kemudian Al Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut:
  1. Sabar menerima masalah masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik
  2. Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih
  3. Jika duduk harus sopan dan tunduk tidak riyaVpamer
  4. Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang dhalim dengan maksud mencegah dari tindakannya
  5. Bersikap tawadhu dalam pertemuan-pertemuan
  6. Sikap dan pembicaraannya tidak main-main
  7. Menanam sifat sahabat di dalam hatinya terhadap semua murid muridnya
  8. Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang orang bodoh
  9. Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik baiknya
  10. Berani berkata: saya tidak tahu terhadap masalah yang tidak dimengerti
  11. Menampilkan wajah yang benar
  12. Apabila ia berada dalam hal yang salah bersedia bekerja kepada kebenaran. 

Sedangkan tugas dan kewajiban pendidik menurut Al Ghazali:
  1. Mengikuti jejak rasulullah dalam tugas dan kewajibannya
  2. Memberi kasih sayang terhadap anak didik
  3. Menjadi teladan bagi anak didik
  4. Menghormati kode etik guru

Kriteria peserta didik-  Dalam pandangan Al Ghazali peserta didik sebagai penuntut ilmu memiliki berbagai kelebihan dibanding pencari harta. Penuntut ilmu dengan ilmu yang dimilikinya dapat membimbing orang lain menuju cahaya ilahi. Tuntunan yang diberikan Al Ghazali kepada peserta didik adalah sebaiknya peserta didik memiliki 10 sifat agar ilmu yang dituntut bermanfaat dan cita-citanya tercapai. Kesepuluh sifat tersebut adalah:
  1. Belajar indahnya diniati dengan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Selama belajar berusaha menjauhkan diri dari urusan keduniaan dan berusaha mengurangi'ketergantungan dirinya pada dunia.
  3. Seorang peserta didik hendaknya bersifat rendah diri sehingga tidak merasa lebih besar dan lebih pandai dari pada gurunya.
  4. Bagi peserta didik baru hendaknya jangan mempelajari aliran-aliran yang berbeda untuk melibatkan diri dalam perdebatan dan diskusi dengan ulama mengingat masa pendidikannya masih relatif singkat.
  5. Peserta harus bersemangat mempelajari semua ilmu.
  6. Peserta didik harus membuat seleksi dan gradasi materi sehingga tidak mempelajarinya sekaligus.
  7. Setelah seleksi dan gradasi pada poin sebelumnya kemudian Al Ghazali menyarankan agar tidak berpindah sebelum menguasai disiplin ilmu yang tidak kuningnya
  8. Sebelum mempelajari suatu disiplin ilmu peserta di trs mengenal nilai masing masing disiplin ilmu yang akan dipelajari nya
  9. Seorang peserta didik harus memiliki dua tujuan yang jelas yaitu tujuan yang dekat memperindah serta membina mental dan tujuan yang jauh yaitu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu ta'ala
  10. Seorang peserta didiknya mengetahui tujuan dari pengetahuan yang sedang dipelajari dan hubungannya dengan tujuan akhir dari belajar.
Metode pendidikan - Pandangan Al Ghazali secara spesifik berbicara tentang metode barangkali tidak ditemukan. Namun secara umum pemikiran keadaan itu tampak jelas ditemukan dalam karya-karyanya. Metode pendidikan agama menurut Imam Ghazali pada prinsipnya dimulai dengan hapalan dan pemahaman kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan aqidah. Hal ini merupakan pantulan dan sikap hidup yang sufi dan tekun beribadah. 

Dalam mengajarkan agama kepadanya guru harus memulai pertama kali dengan memintanya menghafal kaidah-kaidah dan dasar-dasar agama, setelah itu baru guru menjelaskan pengertiannya agar dapat dipahami, diyakini dan dibenarkannya. Semuanya disajikan tanpa memberikan dalil atau bukti karena ia tidak memerlukannya.  Kemudian mengokohkan dengan argumentasi yang didasarkan atas pengkajian dan penafsiran Al Qur’an dan Al Hadist secara mendalam disertai dengan tekun beribadah, bukan melalui ilmu kalam atau lainnya yang bersumber pada akal.
Al Ghazali menjelaskan secara rinci jenis-jenis sifat buruk yang mungkin merusak budi pekerti anak. Disamping itu ia jelaskan pula metode yang mengobatinya. Sebagai contoh dia katakan: ’’Apabila seorang pendidik melihat bahwa kejahatan anak disebabkan karena ia banyak makan, makan guru boleh memaksanya berpuasa atau mengurangi makan. Kemudian guru membebani anak agar menyiapkan makanan yang lezat dan menyuguhkannya kepada orang lain, sedangkan ia sendiri tidak ikut makan bersamanya dengan harapan agar jiwanya menjadi kuat dan berlatih bersabar dan hilang kerakusannya. 

Guru sebaiknya tidak hanya menggunakan satu metode saja akan tetapi seorang guru seharusnya menguasai materi, menguasai cara-cara/metode penyampaian yang sesuai dengan tahap perkembangan jiwa anak,

Asas-asas metode belajar- Dalam pembahasan asas-asas metode belajar ini dapat disampaikan setidaknya 5 hal yang menjadi asas dalam metode belajar:
Pertama memusatkan perhatian sepenuhnya. Pemusatan perhatian ini secara psikologis melatih anak untuk berkonsentrasi atau memusatkan perhatiannya pada pelajaran, senggang perhatian dan pengamatan menjadi sangat teliti dan berjalan dengan baik. Cara pedagogis anak didik perlu
dibiasakan untuk berkonsentrasi di dalam kelas sehingga pelaksanaan
pembelajaran dapat berjalan tenang dan dinamis.
 
Kedua mengetahui tujuan pendidikan yang akan dipelajari. Dengan mengetahui bahwa tujuan pendidikan yang akan dipelajari di harapkan pendidikan akan membawa pengaruh kepada jiwa mereka.
Ketiga cara mempelajari suatu iJmu pengetahuan dari sederhana hingga yang komplek. Hal ini menunjukkan harus adanya penahapan dalam mempelajari ilmu pengetahuan yaitu mulai dengan mempelajari ilmu pengetahuan yang sederhana dan mudah terlebih dahulu mengetahui dasar- dasarnya sehingga ia menguasai pengetahuan tersebut kemudian yang mempelajari perbedaan perbedaan pendapat diantara para ulama atau ilmuwan.
Keempat mempelajari ilmu pengetahuan dengan memperhatikan sistematika pembahasan. Mempelajari ilmu pengetahuan hendaknya secara berurutan. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu berurutan secara jelas sebagian menjadi jalan menuju bagian yang lain, dan orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang mampu menjaga sistematika dan dengan cara yang berangsur angsur.
Kelima memperhatikan tingkat daya pikir anak. Al Ghazali menyarankan kepada guru dan berkata:" hendaknya seorang guru dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya dan jangan diberikan pelajaran yang belum sampai akal pikirannya, sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya". 

Asas-asas metode mengajar- Dalam pembahasan asas-asas metode mengajar ini setidaknya terdapat tiga asas metode mengajar yaitu:
1)    Pertama menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya
2)    Kedua mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit kepada yang abstrak
3)    Ketiga mengajarkan ilmu pengetahuan dengan cara yang berangsur angsur

Asas-asas metode mendidik - terutama memberikan latihan-latihan. Metode penelitian atau contoh ini harus di berikan kepada anak sedini mungkin karena hal itu akan memiliki pengaruh yang sangat positif dalam perkembangan anak selanjutnya. Kedua memberikan pengertian dan nasihat nasihat, Ketiga memberikan perlindungan kepada anak anak dari pergaulan yang buruk.

Lingkungan pendidikan- Lingkungan pendidikan di sini diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di luar individu yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan pendidikannya. Lingkungan ini dibagi menjadi dua yaitu lingkungan manusia dan lingkungan kesusasteraan. lingkungan manusia dibagi menjadi lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sedangkan lingkungan yang berupa kesusastraan terdiri dari buku buku bacaan kisah  hidup orang shalih

KESIMPULAN
 
 Kehidupan Al Ghazali yang berasal dari keluarga miskin , tetapi orangtuanya yang memiliki motivasi besar untuk mendidik anak-anaknya menjadi inspirasi bagi orang tua sekarang. Peijalan karir yang gemilang akan tetapi tetap menjadikan sifat dan sikap pribadinya yang santun pantas menjadi tauladan para ilmuwan.
2.    Al Ghazali adalah salah satu tokoh pemikir islam yang luar biasa. Keahliannya yang multi talenta menjadi referensi oleh banyak ulama dari berbagai tempat dan lintas zaman. Buah penanya yang beijumlah ratusan membuktikan kualitas ketinggian
ilmunya dalam berbagai cabang ilmu, terlebih karya monumentalnya yaitu Ihya Ulumuddin.
3.    Konsep pendidikan Islam menurut Al Ghazali adalah bahwa pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan akhlah dan budi pekerti, aqidah dan tauhid. Dalam pelaksanaan Proses pembelajaran interaksi antara pendidik dan peserta didik harus didasari atas sikap sopan santun, kasih sayang dan saling menghormati. Tujuan pendidikan Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu dan amal. Model pembelajaran yang ditawarkan adalah dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang nyata ke abstrak, dan dimulai dari dan dengan akhlak yang baik. Ddalam hal lingkungan belajar hendaknya orang tua dan pendidik mampu menciptakan lingkungan yang mendukung terjadinya perilaku terpuji, dimulai dari keluarga kemudian lingkungan yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA
Al Quran dan terjemahnya, Departemen Agama RI,Jakarta,2011
Syaefudin, Percikan Pemikiran Imam Al Ghazali Dalam Pengembangan Pendidikan Islam Berdasarkan Prinsip Al Qur'an Dan As Srnnah, Pustaka Setia,Bandung, 2005,
Fathiyah Hasan SulaiamaR^iliran-Aliran Dalam Pendidikan,Dina Utama, Semarang, 1993
Abidin Ibnu RusnJ’emikiran Al Ghazali tentang pendidikan,Pustaka. Pelajar, Yogyakarta,
1998.
Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis Dan Pemikiran Tokoh, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014
Muhammad Athiyah al Abrasyi, Prinsip prinsip dasar pendidikan islam, Pustaka Setia 3andung, 2003,
Zainuddin, dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al Ghazali,Bumi Aksara,Jakarta, 1991.
Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam,CV. Pustaka Setia, Bandung, 2013.
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997









 
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL- GHOZALI Reviewed by Kharis Almumtaz on February 15, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.