Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PEMIKIRAN HASAN AL- BANNA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : KHARIS MUJAHADA
Mata kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Disusun oleh : Kharis Mujahada NIM: 1420421007
Pascasarjana/PGM I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

BABI PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang MasalahSemenjak kehadirannya Islam selalu menorehkan sejarah dan peradaban di dunia. Mulai dari zaman permulaannya yaitu zaman Nabi Muhammad, kemudian pada zaman sepeninggal beliau yaitu masa kehalifahan di mana Islam mulai berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Hingga pada masa kemundurannya, lalu kembali merangkak bangkit hingga hari ini. Semua itu tidak lepas dari peran para pemuda dan mujahid-mujahid Islam yang gigih beijuang tanpa kenal lelah. 
Dalam dunia Islam, dari masa ke masa dalam setiap kurun yang dilalui umat ini, selalu terdapat di dalamnya krisis dalam aspek-aspek tertentu. Godaan, cobaan, rintangan dan tantangan selalu menerpa setiap gerak maju umat Islam. Seiring dengan itu pula selalu bennunculan tokoh-tokoh yang pembaharu. Tidak terkecuali pada masa gejolak Mesir, muncullah seorang tokoh yang mempunyai perhatian terhadap kondisi umat yang kian terpuruk ini, yaitu Hasan Al Banna. Seorang anak muda yang lahir di sebuah kota kecil di sudut kota Iskandariah, Mesir. Beliau sangat khawatir dengan kondisi umat Islam kala itu, ditambah lagi dengan penindasan Inggris selaku kaum penjajah, konflik internal di berbagai lini kehidupan yang menerpa negeri tersebut, membuat hati beliau terenyuh dan bercita-cita untuk bangkit dari semua kendala ini.

Kebanyakan bangsa Mesir telah meninggalkan kulturnya dan bergaya hidup Barat, suka mengunjungi tempat hiburan malam, perjudian, dan bioskop. Akibatnya terjadi dekadensi moral dan kehancuran tatanan sosial. Para penjajah melakukan kerusakan yang bersifat ilmiah, ekonomi, kesehatan, moral, dan lain sebagainya. Umat pada waktu itu tidak mempunyai logika lain dalam memimpin dunia selain logika kemaslahatan materi, kekuasaan, dan penguasaan bahan-bahan mentah. Akibat sikap yang demikian, sebagian besar kaum muslimin seakan tercerabut dari akar budayanya, terutama kelas menengah dan kalangan elit politik. Islam pada saat itu tidak dipandang sebagai way of life, tetapi dipandang sebatas ajaran ritual formal belaka.

Melalui latar belakang di ataslah, maka penulis mencoba untuk mengupas perjalanan hidup Hasan Al Banna, pergerakan beliau, kontribusi dan sumbangsih pemikiran beliau dalam peradaban Islam dengan memfokuskan pada aspek pendidikan hingga nama beliau tercatat dalam ulasan sejarah sampai saat ini. dalam hal ini kita akan membahas tentang profil hasan albanna  serta kharakteristik pemikirannya dalam pendidikan islam.

BAB II PEMBAHASAN

Riwayat Hidup Hasan al-Banna- Hasan al-Banna al-Imam al-Syahid Hasan bin Ahmad Abd. AI-Rahim Hasan al-Banna (yang dikenal Hasan al Banna) dilahirkan pada tahun 1906 M di kota Mahmudiyah dekat kota Iskandariah dan wafat dalam peristiwa berdarah sebagai syuhada pada tahun 1949 M. Beliau dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, berpendidikan, kaya dan terhormat. Ayahnya Syekh Ahmad Abdul Rahman pernah belajar di Universitas al-Azhar pada zaman Syekh Muhammad Abduh. Beliau adalah seorang muslim yang taat, mempunyai akhlak yang luhur, pemurah dan rendah hati, pekeijaannya sehari-hari adalah sebagai tukang jam.

Hasan al-Banna pada masa kecilnya mendapatkan pengajaran langsung dari orang tuanya, yang mengajarkan Alquran, hadis, fiqh, bahasa dan tasawuf. Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah agama Madrasah Ar-rasyid Ad- Dinniyat, tahun 1923 M ia pindah ke Kairo dan belajar di Dar al-Ulum sampai selesai pada tahun 1927 M. Di sini ia mempelajari ilmu-ilmu pendidikan, filsafat, psikologi dan logika, serta ia juga tertarik pada masalah-masalah politik, industri, dan olahraga.

Setelah lulus dari Dar al-Ulum dengan predikat cumlaude, lalu ia diangkat menjadi guru di salah satu sekolah menengah di kota Ismailiyat (daerah terusan Suez) dan dekat lokasi markas besar Suez Canal Company. Di sinilah ia melihat dengan jelas dominasi asing terhadap pribumi. Di samping sebagai guru di pagi hari ia juga berdakwah di sore hari dan begitu juga di waktu-waktu libur.
Hasan al-Banna merupakan sosok pribadi muslim yang sangat sederhana, zuhud, taat dan mempunyai pendirian. Menjadi guru adalah cita-cita Hasan al Banna sejak kecil, karena garu menurut Hasan al-Banna merupakan sumber cahaya terang benderang yang dapat menerangi masyarakat. 

Untuk mengantisipasi keadaan masyarakat di atas, ia mendirikan organisasi Ikhwan ai-Muslimin yang bergerak di bidang dakwah, tarbiyah, sosial dan jihad. Organisasi yang berdiri di atas dasar fikrah (pemikiran), maknawiyah (moralitas), dan amaliyah (gerakan). Jemaah Ikhwan al-Muslimin yang didirikan Hasan al- Banna merupakan suatu wadah untuk menampung dan menyalurkan ide-ide pembaharuan guna mengembalikan umat islam kepada ajaran Alquran dan sunah.  Karya Hasan al-Banna yang terbesar adalah mendirikan organisasi Ikhwan al-Muslimin. Setelah ia berada di Mesir, ia melihat dan merasakan sendiri bagaimana pengaruh dari sekularisme yang melanda bangsa Mesir. Umat islam pada waktu itu tidak lagi berkiblat ke islam. Hakikat Ikhwan al-Muslimin bagi al- Banna adalah dakwah Alquran yang menyeluruh, universal untuk memperbaiki jiwa, mensucikan rohani, mempersatukan hati kepada Allah, perkumpulan amal kebaikan yang bermanfaat, dan yayasan sosial yang mandiri. 

Selain Ikhwan al-Muslimin, karya Hasan al-Banna banyak dituangkan dalam bentuk risalah. Risalah-risalah tersebut akhirnya dikumpulkan dan dijilid menjadi satu buku dengan judul majmu 'at Rasa 'il Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al- Banna. Selain buku utama yang berisi kumpulan risalah, juga ada buku lain yang berjudul Mudzakkirat Ad-Da 'wa Ad-Da 'iyat. Buku ini berisi tentang perjalanan hidup Hasan al-Banna dan perjalanan dakwahnya. Buku ini membahas tentang perjalanan intelektual, rohani, dan jasmani dalam berdakwah. Buku ini menggambarkan secara lengkap tentang kepribadian, intelektual, dan gerak langkah dakwah Hasan Al-Banna

Pemikiran Hasan al-Banna Tentang Pendidikan- Konsep Pendidikan Hasan al-Banna- Hasan al-Banna adalah seorang arsitek sebuah perubahan. Bahkan, seolah- olah ia dilahirkan untuk membangun kembali harga diri umat yang sedang runtuh dan hanyut. Pembangunan kembali itu diawali dengan mendirikan madrasah terbesar dalam sejarah gerakan dakwah, yakni Madrasah Hasan Al-Banna. Penyebutan Madrasah Hasan al-Banna ini disematkan oleh salah satu kader terbaik Ikhwanul Muslimin yakni Yusuf Qardhawi, sebuah madrasah yang memiliki dua tujuan besar dalam pembangunan umat Islam. Dua tujuan itu ialah ilmiyah dan amaliyah, berilmu dan beramal.

Konsep pendidikan Hasan al-Banna meliputi dua sisi, yaitu pengembangan potensi jasmani dan rohani yang terdiri dari akal dan kalbu yang dimiliki manusia. Pendidikan dipandang sebagai proses aktualisasi potensi-potensi yang dimiliki anak didik dengan jalan mewariskan nilai-nilai ajaran islam. Aktualisasi potensi- potensi yang dikehendaki oleh Hasan al-Banna adalah dapat melahirkan sosok individu yang memiliki kekuatan jasmani, akal, dan kalbu guna mengabdi kepada Allah SWT serta mampu menciptakan lingkungan hidup yang damai dan tenteram. Oleh karena itu, pendidikan menurut Hasan al-Banna harus berorientasi . pada ketuhanan, bercorak universal dan terpadu, bersifat positif konstruktif, serta membentuk persaudaraan dan keseimbangan dalam hidup dan kehidupan umat manusia.

Tujuan Pendidikan- Menurut Hasan al-Banna tujuan pendidikan yang paling pokok adalah mengantarkan anak didik agar mampu memimpin dunia dan membimbing manusia lainnya kepada ajaran islam yang lurus atau komprehensif serta memperoleh kebahagiaan di atas jalan islam. Secara terperinci Hasan al-Banna menjelaskan tujuan pendidikan ini ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, organisasi, politik, negara, sampai tingkat dunia. Hal tersebut diuraikan secara panjang lebar dalam kitabnya Risalat At- Ta'lim, dalam Majmu Rasa 'i! Al-imam Asy-Syahid Hasan al-Banna.

Materi Pendidikan- Hasan al-Banna menjelaskan mengenai materi pendidikan ini meliputi materi pendidikan akal, jasmani dan hati (kalbu). Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan secara rincinya tentang materi-materi pendidikan tersebut sebagai berikut: Pertama, materi pendidikan akal. Potensi akal merupakan potensi yang cukup urgen pada diri seseorang karena ia sebagai dasar pemberian beban hukum, dan sebagai tolok ukur penentuan balasan baik dan buruk bagi perbuatannya. Oleh karena itu, akal manusia membutuhkan beberapa materi ilmu pengetahuan agar mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun materi pendidikan akal terdiri atas ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan agama sebagai dasar pertama bagi anak didik sebelum ia mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Namun, ketiga materi tersebut hendaknya dipelajari oleh anak didik untuk mencapai makrifatullah.

Kedua, pendidikan jasmani. Potensi jasmani dengan berbagai anggotanya pada diri seseorang sangat membutuhkan pemeliharaan dan penambahan kualitas perkembangannya. Pemeliharaan kebersihan dan kesehatan terhadap semua anggota jasmani merupakan wujud nyata dari pendidikan jasmani. Oleh karena itu, anak didik harus memiliki ilmu pengetahuan yang dapat mengantarkannya pada kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan.

Ketiga, materi pendidikan hati (kalbu). Potensi kalbu atau hati pada anak didik menjadi perhatian penting dalam pendidikan Hasan al-Banna, karena salah satu tujuan dari pendidikan adalah untuk menghidupkan hati, membangun dan menyuburkannya. Kekerasan dan kebekuan hati merupakan penghambat dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yang tujuannya tiada lain adalah untuk mencapai makrifatullah. 

Metode Pendidikan- Metode pendidikan yang ditawarkan oleh Hasan al-Banna meliputi enam metode yaitu sebagai berikut:
  1. Metode diakronis, yaitu suatu metode pengajaran yang menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan ilmu pengetahuan sehingga anak didik memiliki pengetahuan yang relevan, memiliki hubungan sebab akibat atau kesatuan integral. Oleh karena itu, metode ini disebut juga dengan metode sosio historis.
  2.  Metode sinkronik-analitik, yaitu metode pendidikan yang memberi kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelektual. Metode ini banyak menggunakan teknik pengajaran seperti diskusi, lokakarya, seminar, resensi buku, dan lain-lain.
  3.  Metode hallul Musykilat (problem solving) yaitu metode yang digunakan untuk melatih anak didik berhadapan dengan berbagai masalah dari berbagai cabang ilmu pengetahuan sehingga metode ini sesuai untuk mengembangkan potensi akal, jasmani dan kalbu.
  4.  Metode tajribiyyat (empiris), yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh kemampuan anak didik dalam mempelajari ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum melalui realisasi, aktualisasi, serta internalisasi sehingga menimbulkan interaksi sosial. Metode ini juga sangat cocok untuk pengembangan potensi akal, hati, dan jasmani.
  5.  Metode al-istiqraiyyat (induktif), yaitu metode yang digunakan agar anak didik memiliki kemampuan riset terhadap ilmu pengetahuan agama dan umum dengan cara berpikir dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang umum, sehingga metode ini sesuai untuk mengembangkan potensi akal.
  6.  Metode al-istinbathiyyat (deduktif), yaitu metode yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang umum kepada hal-hal yang khusus 
Dari keenam metode tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa metode pembelajaran yang ditawarkan oleh Hasan al-Banna pada masanya sama dengan metode-metode pembelajaran dalam dunia pendidikan pada zaman sekarang. Hal ini menunjukkan adanya suatu relevansi dengan teori-teori pendidikan yang di usung oleh pembaharu pendidikan pada zaman sekarang.

 Akhir Hayat Hasan Al Banna- Kaum imperialis Yahudi, Israel, Inggris dan sekutu-sekutunya sangat membenci Hasan Al Banna. Dengan melihat kekuatan Ikhwanu! Muslimin yang semakin besar, para pemegang kekuasaan di Mesir kala itu khawatir kalau mimpi- mimpi buruk mereka akan terjadi yaitu Hasan Al Banna bersama pergerakan Ikhwanul Musliminnya akan menggantikan posisi mereka di tampuk pemerintahan.

Pro dan kontra yang mengiringi dakwah beliau terus terjadi. Baik dari kalangan internal Mesir maupun eksternal. Segala upaya mereka lakukan untuk menghancurkan pergerakan ini. Mulai dari pembunuhan, penculikan sampai usaha untuk memisahkan Hasan al-Banna dari jamaah Ikhwanul Muslimin, namun upaya itu tidak pernah bisa menghentikan tekad dan langkah beliau. Di tengah hiruk pikuknya kota Kairo, tepatnya di depan kantor pusat organisasi Asy-syubbanul Muslimun, beliau dihujani peluru-peluru dari orang- orang yang tidak dikenal. Setelah menembaki Hasan al-Banna, lalu mereka menghilang. Dengan sisa tenaganya dan tubuh yang berlumuran darah, beliau membopong tubuhnya ke rumah sakit, namun tak seorangpun yang berani menolong beliau.  Setelah dua jam penembakan, beliau menghembuskan nafas terakhir. Akan tetapi walaupun beliau telah tiada, namun karya dan semangat dakwahnya tetap hidup sampai hari ini

 KESIMPULAN

 Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa Hasan al-Banna al-Imam al-Syahid Hasan bin Ahmad Abd. Al-Rahim Hasan al- Banna yang lebih dikenal dengan julukan Hasan al Banna, beliau adalah seorang pembaharu pemikiran pendidikan di Mesir dengan usia yang relatif singkat + 43 tahun. Dengan usianya itu, beliau berhasil memberikan sumbangan pemikiran yang sangat luar biasa bermanfaat sehingga beberapa hasil pemikiran dan pergerakannya sampai saat ini masih dijadikan sebagai landasan dalam dunia pendidikan.

Pemikiran pendidikan Hasan al-Banna dapat dikategorikan ke dalam pemikiran rasional religius, yakni mengedepankan akal dengan tetap berpegang teguh pada sumber ajaran agama yaitu Alquran dan Sunah. Pemikiran Hasan al- Banna dalam hal pendidikan dapat dikategorikan ke dalam aliran rekonstruksionisme yaitu suatu aliran yang berusaha mengatasi krisis kehidupan modem dengan membangun tata susunan hidup yang baru melalu lembaga dan proses pendidikan. Adapun teori dan ide pokok kependidikan yang ditawarkannya sangat ideal dan relevan untuk saat ini, hal ini terlihat adanya aspek-aspek yang diterapkannya melalui pendidikan madrasah, di sana terdapat keseimbangan antara pengetahuan umum dan pendidikan agama.
Akan tetapi, di tengah hujan pasti ada petir yang menyambar. Kaum imperialis, kaum penjajah, dan pemerintah nampaknya khawatir dengan kondisi ini. Mereka berusaha membumi hanguskan Hasan al-Banna bersama pergerakan Ikhwanul Musliminnya dengan berbagai cara. Alhasil, tepat pada tahun 1949 M Hasan al-Banna terbunuh oleh peluru yang ditembakkan oleh orang yang tidak dikenal. Semoga Allah meridhoi amalan-amalan beliau dan memberikan balasan yang berlipat ganda adanya. Amin

DAFTAR PUSTAKA
Deddy Setiawan, http://deddy24.blogpot.com/2005/03/basan-al-banna.html,
diakses pada tanggal 29 November 2014 pada Pukul 20:00 WIB. Mahmud, Ali Abdul Halim. Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin.
Solo: Era Intermedia. 2004. Mohammad, Herry dkk. Tokoh-tokoh islam yang berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani. 2008.
Nizar, Samsul dan Ramayulis. Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam.
Jakarta:Ciputat Press Group. 2005. Sliolehuddin, M. Sugeng. Teori Dan Model Kepemimpinan Dalam Pendidikan
Islam. Pekalongan: Stain Press. 2006. Susanto, A. Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah. 2009.
PEMIKIRAN HASAN AL- BANNA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on May 10, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.