Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

RELEVANSI ANTARA MULTIKULTURALISME DAN PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI KELAS

RELEVANSI ANTARA MULTIKULTURALISME DAN PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI KELAS

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belajar mengajar merupakan kegiatan yang kompleks. Mengingat kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang kompleks, maka tidak mungkin menunjukkan dan menyimpulkan bahwa suatu metode pembelajaran tertentu lebih unggul dari pada metode pembelajaran yang lainnya dalam usaha mencapai semua pelajaran, dalam situasi dan kondisi dan untuk selamanya.
Metode adalah cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Makin baik metode itu, makin efektif pula pencapaian tujuan. Dengan demikian, tujuan merupakan faktor utama dalam menetapkan baik tidaknya penggunaan suatu metode. Namun demikian, ada sifat-sifat umum yang terdapat pada metode yang satu tidak terdapat pada metode yang lain. Dengan mencari ciri-ciri umum itu, menjadi mungkinlah untuk mengenali berbagai macam metode yang lazim dan praktis untuk dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.
Dalam hal metode mengajar, selain faktor tujuan, faktor murid, situasi, fasilitas dan faktor guru turut menentukan efektif tidaknya penggunaan suatu metode. Karenanya metode mengajar itu banyak sekali dan sulit menggolongkannya. Lebih sulit lagi menetapkan metode mana yang memiliki efektivitas paling tinggi. Sebab metode yang “kurang baik” di tangan seorang guru dapat menjadi metode yang “baik sekali” di tangan guru yang lain dan metode yang baik akan gagal di tangan guru yang tidak menguasai teknik pelaksanaannya. Untuk itu, berikut ini akan dibahas beberapa metode yang kaitannya dengan adanya multikultural dalam penggunaannya, seperti dimungkinkan dapat digunakan metode ceramah, metode diskusi, metode kelompok dan metode campuran. 

PEMBAHASAN 
Konsep dasar multikulturalisme 

Pengertian Multikulturalisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia multikultural’ adalah gejala pada seseorang atau masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dan satu kebudayaan.

Menurut H.A. R. Tilaar Istilah multikulturalisme mempunyai dua arti. Pertama pengertian dari arti kata : “multi” yang berarti majemuk (plural) dan “kulturalisme “ yang berarti kultur atau budaya.istilah multi ( plural) mengandung arti yang beijenis- jenis, karena pluralisme bukan berarti sekedar sebuah pengakuan adanya hal- hal yang beragam dan berbeda, yang mempunyai implikasi- implikasi politik, sosial dan ekonomi. Kedua multikulturalisme berkaitan pula dengan epistemologi yang berbeda dengan epistemologi filsafat yang memberikan arti kepada asal usul ilmu pengetahuan,demikian pula epistemologi dalam sosiologi yang melihat perkembangan ilmu pengetahuan di dalam kaitannya dengan kehidupan sosial. Multikulturalismre dalam epistemologi sosial mempunyai makna yang lain. Dalam epistemologi sosial, tidak ada kebenaran yang mutlak. Multikulturalisme adalah respon terhadap realitas di mana masyarakat selalu menjadi plural dan monolitik.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa multikulturalisme merupakan suatu paham, gerakan, dan realitas yang terkait dengan dunia sosial intelektual manusia dengan keberagaman yang terdapat di dalamnya serta keberagaman tersebut harus disadari dan diakui keberadaanya dan diberi perlakuan yang setara dan diberi penghormatan dengan cara yang sama.

Dalam kaitan ini, ada tiga hal pokok yang menjadi aspek mendasar dari multikulturalisme, yakni: Pertama, sesungguhnya harkat dan martabat manusia adalah sama. Kedua, pada dasarnya budaya dalam masyarakat adalah berbeda-beda, oleh karena itu membutuhkan hal yang Ketiga, yaitu pengakuan atas bentuk perbedaan budaya oleh semua elemen sosial-budaya, termasuk juga negara.

Aspek pokok yang sangat ditekankan dalam gerakan multikulturalisme adalah kesediaan menerima dan memperlakukan kelompok lain secara sama dan sebagaimana harusnya sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Harkat dan martabat manusia yang hidup dalam suatu komunitas dengan entitas budayanya masing-masing (yang bersifat dinamis dan khas), merupakan dimensi yang sangat penting diperhatikan dalam gerakan multikulturalisme.

Berangkat dari konsep yang demikian, maka sudah seharusnya nilai-nilai multikulturalisme dapat terintegrasi secara jelas dalam agenda pendidikan Islam. Ada beberapa pendapat tentang istilah multikulturlisme muncul. Menurut Soir dalam tesis yang beijudul Multikulturalisme Dalam Perspektif Hadits dikatakan bahwa multikulturalisme mulai dikenal sekitar tahun 1950- an di Kanada yang menggambarkan bahwa masyarakat kanada merupakan masyarakat yang “ multikultural dan multilingual”.   Namun ada yang berpendapat bahwa multikulturalisme muncul pertama kali di Switzerland pada tahun 1957. Istilah multikulturalisme populer sekitar tahun 1960 di Kanada. Tahun 1970 oleh beberapa negara multikulturalisme dimasukkan dalam kebijakan kepegawaian yang salah satu pelopor negara tersebut adalah Kanada. Pada tahun 1971 multikulturalisme diadopsi oleh sebagian besar negara di Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi di negara- negara tersebut. Di Kanada sendiri multikulturalisme dimasukkan kerajaan dalam bentuk aturan pemerintah dengan persetujuan komisi kerajaan berupa diakuinya ‘ bilingualisme dan bikulturalisme” bahasa dan budaya Inggris dan Perancis. Aturan tersebut dikeluarkan sebahai tanggapan dari keluhan kaum minoritas Kanada yang merupakan keturunan Perancis. Implementasi multikulturalisme melalui dwi bahasa diberlakukan.Namim setelah memenangkan pemilu tahun 1984 kaum konservatif tidak menindaklanjuti keputusan tersebut sehingga kritik terhadap kebijakan pemerintah semakin tajam dan tanggal 2 Juli 1988 kerajaan Kanada

memberikan mandat untuk memulai dilakukannya pemeliharaan terhadap multikulturalisme di Kanada. Setelah tahun istilah multikulturalisme menyebar di berbagai negara yang memiliki bahasa ibu yaitu bahasa inggris seperti Australi, Amerika dan united Kingdom mengikuti Kanada. Pada tahun 1977 kebijakan pemerintah United Kingdom dipengaruhi oleh kebijakan multikulturalisme.
Sejarah Multikulturalisme
Ada beberapa pendapat tentang istilah multikulturlisme muncul. Menurut Soir dalam tesis yang beijudui Multikulturalisme Dalam Perspektif Hadits dikatakan bahwa multikulturalisme mulai dikenal sekitar tahun 1950- an di Kanada yang menggambarkan bahwa masyarakat kanada merupakan masyarakat yang “ multikultural dan multilingual”. 3 Namun ada yang berpendapat bahwa multikulturalisme muncul pertama kali di Switzerland pada tahun 1957. Istilah multikulturalisme populer sekitar tahun 1960 di Kanada. Tahun 1970 oleh beberapa negara multikulturalisme dimasukkan dalam kebijakan kepegawaian yang salah satu pelopor negara tersebut adalah Kanada. Pada tahun 1971 multikulturalisme diadopsi oleh sebagian besar negara di Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi di negara- negara tersebut. Di Kanada sendiri multikulturalisme dimasukkan kerajaan dalam bentuk aturan pemerintah dengan persetujuan komisi kerajaan berupa diakuinya * bilingualisme dan bikulturalisme” bahasa dan budaya Inggris dan Perancis. Aturan tersebut dikeluarkan sebahai tanggapan dari keluhan kaum minoritas Kanada yang merupakan keturunan Perancis. Implementasi multikulturalisme melalui dwi bahasa diberlakukan.Namun setelah memenangkan pemilu tahun 1984 kaum konservatif tidak menindaklanjuti keputusan tersebut sehingga kritik terhadap kebijakan pemerintah semakin tajam dan tanggal 2 Juli 1988 kerajaan Kanada memberikan mandat untuk memulai dilakukannya pemeliharaan terhadap multikulturalisme di Kanada.

Setelah tahun istilah multikulturalisme menyebar di berbagai negara yang memiliki bahasa ibu yaitu bahasa inggris seperti Australi, Amerika dan united Kingdom mengikuti Kanada. Pada tahun 1977 kebijakan pemerintah United Kingdom dipengaruhi oleh kebijakan multikulturalisme.4


Multikulturalisme
Multikulturalisme adalah sebuah paham yang mengajarkan tentang keanekaragaman budaya. Multikulturalisme mengajarkan tentang menghargai perbedaan, sehingga setiap manusia memiliki hak dan derajat yang sama.  Perkembangan multikulturalisme tidak lepas dari sejarahnya. Multikulturalisme lahir atas adanya diskriminasi ras, ekonomi, dan agama. Pada tahun 1950an melihat ketimpangan sosial yang terjadi, kelompok-kelompok tertentu memunculkan gagasan multikulturaisme. Gagasan ini muncul karena adanya dominasi kelompok tertentu terhadap kelompok yang lainnya.

Dalam pandangan pendidikan multikultural, setiap individu memiliki hak yang sama dalam menjalankan kehidupan tanpa terkecuali. Dengan demikian setiap individu diharapkan untuk bisa menghargai orang lain apapun perbedaan yang ada di antara mereka. Keberagaman kultur diharapkan bukan menjadi masalah tetapi justru sebagai perantara dalam menjalin hubungan antar etnis, suku, dan umat beragama dalam menggapai kesejahteraan bersama tanpa mengganggu satu sama lain dan demi terwujudnya keadilan sosial yang berpegang teguh pada sikap saling toleransi. Secara sederhana pendidikan multikultural dapat di artikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespons perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu.  Munculnya pendidikan multikultural dilatarbelakangi oleh ketimpangan struktural rasial, ketidakadilan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok-kelompok tertentu.

Ketidakadilan  tersebut membedakan golongan mayoritas yang mendominasi dan golongan minoritas, sehingga muncullah gerakan-gerakan sipil untuk mengambil haknya, yang kemudian berimplikasi pada pendidikan yang menuntut pendidikan yang anti diskriminasi. Dalam pendidikan multikultural, diskriminasi merupakan permasalahan utama yang melatarbelakangi pentingnya penerapan strategi pendidikan, oleh karena itu dengan menerapkan pendidikan multikultural di sekolah, diharapkan anak didik dapat saling hormat menghormati antar sesama walaupun dalam keadaan yang berbeda. Selain itu, guru atau pendidik juga akan mampu menggunakan berbagai macam cara, baik strategi, media maupun metode pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar dan tidak hanya menggunakan satu jenis saja, karena hal itu bersifat kurang efektif dan efisien.
Metode Pembelajaran
Metode berasal dari bahasa latin, methodos yang artinya “jalan atau cara”. Akan tetapi menurut Robert Ulich, istilah metode berasal dari bahasa Yunani: meta ton odon, yang artinya berlangsung menurut cara yang benar {to proceed according to the right way).
Sedang bila ditinjau dari segi terminologis (istilah), metode dapat dimaknai sebagai “jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan lainya”.  Berangkat dari pembahasan metode di atas, bila dikaitkan dengan pembelajaran, dapat digaris bawahi bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai yang diharapkan.
Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok.  Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seseorang guru harus mengetahui berbagai metode.

Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai metode, maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan metode mengajar sangat bergantung pada tujuan pembelajaran. Adapun syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan metode pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Metode yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motif, minat, atau gairah belajar peserta didik.
  2. Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan peserta didik untuk belajar lebih lanjut.
  3. Metode yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mewujudkan hasil karya.
  4. Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian peserta didik.
  5. Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
  6. Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam kegiatan mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Metode pembelajaran merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghadapi masalah tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode yang efektif dan efisien, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran. 

Proses belajar mengajar yang baik hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing metode ada kelemahan dan kelebihannya, oleh karena itu tugas guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar.

Menurut Djamarah macam-macam metode pembelajaran dalam menyampaikan materi tentang Pendidikan Agama Islam yang sering digunakan antara lain sebagai berikut: 
 1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.
Ada beberapa kelebihan sebagai alasan mengapa ceramah sering digunakan
a.    Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk dilakukan.
b.    Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas.
c.    Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan.
d.    Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas,
e.    Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana.

Di samping beberapa kelebihan di atas, ceramah juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
a.   Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru.
b.  Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan teijadinya verbalisme.
c.  Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik,
d.  Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum. 

2. Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
a.    Melalui metode demonstrasi teijadinya verbalisme akan dapat dihindari.
b.    Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang teijadi.
c.    Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.
Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antarannya:
a.    Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang.
b.    Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
c.    Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk beketja lebih profesional.

3. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
a.    Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
b.    Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
c.    Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal.
Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
a.    Sering teijadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.
b.    Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
c.    Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
d.    Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol.

Terdapat bermacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain: 
1. Diskusi Kelas
Diskusi kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi.
Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok- kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang,
Simposium
Simposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian
2. Diskusi Panel
Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens.

4. Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, di antaranya adalah:
a. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia keija.
b. Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
c.  Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
d.  Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
e.  Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.

Di samping memiliki kelebihan, simulasi juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
a.  Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b.  Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
c.  Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi. 

5. Metode Tugas atau Resitasi
Metode tugas dan resitasi tidak sama dengan pekeijaan rumah, tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya. Jenis-jenis tugas sangat banyak tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan, dan tugas di laboratorium.
Adapun kelebihan-kelebihan metode tugas atau resitasi adalah:
a.    Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
b.    Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikeijakan.
c.    Memberikan kebiasaan siswa untuk giat belajar. Memberikan tugas siswa untuk sifat yang praktis.
Metode ini juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
a.    Tidak jarang pekeijaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan meniru pekeijaan orang lain.
b.    Karena perbedaan individu, maka tugas apabila diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedangkan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut.
c.    Apabila tugas diberikan, lebih-lebih bila itu sukar dikeijakan, maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh.

6. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru.
Adapun kelebihan dari metode tanya jawab antara lain:
a.  Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya.
b.  Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya ingatan.
c. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

Selain itu, metode tanya jawab juga memiliki beberapa kekurangan seperti:
a. Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
b. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
c.    Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab
a.    pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
d.    Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk
b.    memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.

7. Metode Problem solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Adapun kelebihan metode pemecahan masalah ini adalah:
  • Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
  • Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
  • Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  • Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
  • Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
  • Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
  • Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  • Pemecahan masalah {problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  • Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
 Kekurangan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:
  • Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
  • Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran.
  • Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak beipikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
8. Metode Sistem Regu (Team Teaching)
Team Teaching pada dasarnya ialah metode mengajar dua orang guru atau lebih bekeija sama mengajar sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru. Sistem regu banyak macamnya, sebab untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat melibatkan orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan metode Team Teaching adalah:
  • Harus ada program pelajaran yang disusun bersama oleh team tersebut, sehingga betul-betul jelas dan terarah sesuai dengan tugas masing-masing dalam team tersebut.
  • Membagi tugas tiap topik kepada guru tersebut, sehingga masalah bimbingan pada siswa terarah dengan baik.
  • Harus dicegah jangan sampai teijadi jam bebas akibat ketidakhadiran seseorang guru anggota tim.

KESIMPULAN
Dari pembahasan yang diterangkan di atas, maka dapat disimpulkan bawa metode pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar beijalan dengan baik dan tujuan pengajaran tercapai.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru harus dapat memilih metode yang tepat sehingga siswa dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitasnya. Beberapa metode pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru dalam memberikan materi pendidikan agama islam antara lain sebagai berikut:
a.    Metode Ceramah          e.    Metode Tugas atau Resitasi
b.    Metode Demonstrasi    f.    Metode Tanya Jawab
c.    Metode Diskusi            g     Metode Problem solving
d.    Metode Simulasi          h.    Metode Sistem Regu (Team Teaching)


Setiap metode dapat dikatakan baik jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
a.    Sesuai dengan tujuan yang dirumuskan
b.    Dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan guru
c.    Tergantung pada kemampuan orang yang belajar
d.    Serasi dengan besar kelompoknya
e.    Melihat waktu penggunaannya
f.    Melihat fasilitas yang ada

Dengan adanya berbagai macam metode pembelajaran di atas yang dapat digunakan dalam penyampaian materi pendidikan agama islam, hal ini menunjukkan bahwa antara multikura! dengan metode pembelajaran memiliki relevansi yan^sangat erat) karena dalam kegiatan pembelajaran kurang efektif dan efisien apabila hanya menggunakan satu macam metode pembelajaran.

Daftar pustaka
Syaiful bahri Djamarah,2002, Strategi Belajar Mengajar, jakarta: Rineka cipta
Ahmad sabri,2005, strategi belajar mengajar micro teaching, jakarta: quantum teaching
Rahman nazarudin, 2009, manajemen pembelajaran: implementasi konsep kharakteristik dan metodologi pendidikan agama islam di sekolah umum,Yogyakarta: Pustaka felica
M ainul yakin, 2005, pendidikan multikultural: Cross cultural Understand untuk demokrasi dan keadilan, Yogyakarta: pustaka felica
Azyumardi azra, 2003, pendidikan multikultural: membangun kembali indonesia bhineka tunggal ika, Jakatra
Choirul mahfud, 2006, pendidikan multikultural, yogyakarta: Pustaka felica


RELEVANSI ANTARA MULTIKULTURALISME DAN PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI KELAS Reviewed by Kharis Almumtaz on February 23, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.