Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

STRATEGI DAN METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM

STRATEGI DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : KHARIS MUJAHADA
Mata kutiah : Filsafat Pendidikan Islam
Disusun oleh : Kharis Mujahada NIM: 1420421007
Pascasarjana/PGM I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

PENDAHULUAN
 Pembelajaran pada dasarnya membahas pertanyaan apa, siapa, mengapa, dan bagaimana tentang pembelajaran. Pertanyaan 'apa' berkaitan dengan isi atau materi pembelajaran, 'siapa' berkaitan dengan guru dan siswa sebagai subyek dari kegiatan pembelajaran, 'mengapa' berkaitan dengan penyebab atau alasan dilakukannya pembelajaran, dan 'bagaimana' berkaitan dengan bagaimana pembelajaran yang baik, bagaimana strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang dapat membantu siswa belajar lebih baik.
Dalam implementasi kurikulum, guru dituntut untuk secara profesional merancang pembelajaran efektif dan bermakna (menyenangkan), mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan.   

Pendidikan Islam dalam pelaksanaanya memerlukan metode yang tepat untuk . mengantarkan proses pendidikan menuju tujuan yang telah dicitakan. Bagaimanapun baik dan sempurnanya sebuah kurikulum pendidikan Islam, tidak akan berarti apa-apa jika tidak memiliki metode atau cara yang tepat untuk mentransformasikannya kepada peserta didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar, yang pada gilirannya berakibat pada terbuangnya waktu dan tenaga secara percuma.

Terkait dengan tuntutan pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat agar sesuai dengan yang diisyaratkan dalam implementasi dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam, makalah ini akan membahas mengenai strategi dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam dewasa ini, terkait dengan kurikulum terbaru yaitu kurikulum 2013.

 PEMBAHASAN
Pengertian Strategi dan Metode Pendidikan Islam-  Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkah orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran, (4) teknik pembelajaran, (5) taktik pembelajaran, dan (6) model pembelajaran
Abuddin Nata mengemukakan bahwa strategi pada intinya adalah langkah-langkah terencana yang bermakna luas dan mendalam yang dihasilkan dari sebuah proses pemikiran dan perenungan yang mendalam berdasarkan pada teori dan pengalaman tertentu. 
Wina Sanjaya mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran . Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan "a plan of operation achieving something" sedangkan metode adalah "a way in achieving something"

Sedangkan kata "metode" berasal dari istilah Yunani meta yang berarti melalui, dan hodos yang berarti jalan yang dilalui. Jadi, metode berarti "jalan yang dilalui".  Dalam bahasa Arab, metode diungkapkan dengan istilah tariqah atau uslub, yang menurut Al-Jurjani berarti "sesuatu yang memungkinkan untuk sampai dengan benar ke tujuan yang diharapkan". Dari pengertian inilah Noeng Muhadjir mensyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan baik, perlu ditempuh dengan cara atau jalan yang baik pula. Tujuan baik yang ditempuh dengan jalan atau cara yang tidak baik bukanlah aktivitas pendidikan karena tujuan menghalalkan cara atau jalan bukanlah semboyan yang bersemangatkan pendidikan. 
Sementara itu, Abu Al-'Ainain menyatakan bahwa metode, materi, dan tujuan merupakan hal yang integral (takamul), yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, artinya untuk menetukan sebuah metode, tergantung kepada materi dan tujuan yang diharapkan.
Tokoh lain menyebutkan, metode merupakan komponen pendidikan Islam yang dapat menciptakan aktivitas pendidikan Islam, hal yang mana tujuan pendidikan dapat tercapai secara tepat guna, manakala jalan yang ditempuh menuju cita-cita itu betul-betui tepat.
Menurut Armai Arief, metode merupakan suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran. Sedangkan pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai khalifah Allah Swt, baik kepada Tuhannya, sesama manusia dan sesama makhluk lainnya. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam.

 Strategi dan Metode Pendidikan Islam- Terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam menetapkan strategi pembelajaran. Komponen tersebut sebagai berikut:
1.    Penetapan perubahan yang diharapkan
2.    Penetapan pendekatan
3.    Penetapan metode
4.    Penetapan norma keberhasilan
 Sedangkan Dick dan Carey dalam sunhaji menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu (1) kegiatan pembelajaran pendahuluan, (2) penyampaian informasi, (3) partisipasi peserta didik, (4) tes dan (5) kegiatan lanjutan.  

Guru perlu memahami prinsip prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebgai berikut:
1. berorientasi pada tujuan
2. aktifitas
3. individualitas
4. intergritas
Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan tersendiri, karena itu guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan,
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran   Induktif & Strategi Pembelajaran deduktif. 
Jenis jenis Strategi Pembelajaran menurut Nuryamin yaitu:
1.    Pembelajaran dengan strategi Ekspositori
Model pengabaran ekspositoh merupakan kegiatan mengajar ywg terpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif ^ Guru aktif memberikan pengelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran Tujuan utama pengajaran ekspo&itori adalah memindahkan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai kepada siswa, dan hal yang esensial pada bahan pengajaran harus disampaikan kepada siswa.
2.    Pembelajaran dengan strategi Inkuiri
Perilaku mengajar dengan strategi inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiri siswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri, dan model pengajaran yang berpusat pada siswa. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah. Strategi pembelajaran inkuiri nampaknya ada kesamaan dengan strategi discovery.
Dalam strategi ini bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. -Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran tidak langsung.
Selanjutnya, metode pendidikan yang berfungsi sebagai pengantar untuk sampai kepada tujuan dapat dikatakan baik menurut filsafat pendidikan Islam apabila memenuhi beberapa ciri sebagai berikut:
1)    Metode pendidikan Islam harus bersumber dan diambil dari jiwa ajaran dan akhlak Islam yang mulia. Ia merupakan hal yang integral dengan materi dan tujuan pendidikan Islam.
2)    Metode pendidikan Islam bersifat luwes, dan dapat menerima perubahan dan penyesuaian dengan keadaan dan suasana proses pendidikan.
3)    Metode pendidikan Islam senantiasa berusaha menghubungkan antara teori dan praktik, antara proses belajar dan amal, antara hafalan dan pemahaman secara terpadu.
4)    Metode pendidikan Islam menghindari dari cara-cara mengajar yang bersifat meringkas karena ringkasan itu merupakan sebab rusaknya kemampuan-kemampuan yang berguna.
5)    Metode pendidikan Islam menekankan kebebasan peserta didik untuk berdiskusi, berdebat, dan berdialog dengan cara yang sopan dan saling menghormati.
6)    Metode pendidikan Islam juga menghormati hak dan kebebasan pendidik untuk memilih metode yang dipandangnya sesuai dengan watak pelajaran dan peserta didik itu sendiri.
Dalam sejarah pendidikan Islam, para pendidik Muslim dalam berbagai situasi dan kondisi berbeda telah menerapkan berbagai macam metode pendidikan atau pengajaran
1)    Al Ghozali
Menurut pandangan imam ghozali bahwa metode pendidikan islam yang harus digunakan oleh para pendidik adalah yang berprinsip pada Child centered yang lebih mementingkan anak didik daripada pendidik itu sendiri. Metode demikian dapat diwujudkan dalam bentuk metode antara lain: metode contoh teladan, guidance, dan counselling (bimbingan dan penyuluhan), metode cerita, motivasi, reinfocement (pendorong semngat) dsb
2)    Ibnu Khaldun
Sedangkan menurut ibnu khaldun, berpendapat bahwa metode mengajar didasarkan atas pendekatan psikologis, meskipun metode yang diterapkan lebih bersifat intelektualistis, karena hanya menitikberatkan pada kecerdasan akal saja.
3)    lbnu Sina
Pandangan lbnu Sina hampir serupa dengan pendapat Al-Ghazali dan lbnu Khaldun, bahwa anak-anak harus diperhatikan pendidikan akhlaknya. Beliau menekankan pada pendidikan moral. Hal ini menunjukkan bahwa paham lbnu Sina dalam masalah pendidikan adalah idealisme.
Metode yang diperlukan yaitu metode pembiasaan, perintah dan larangan, pemberian suasana (metode situasional), uswatun hasanah (contoh teladan), serta memberi motivasi atau dorongan, pemberian hadiah dan hukuman, targhib wat tarhib, metode persuasif (Ikhlash wal i’raadh)    
4)    Muhammad Abduh
Tokoh yang rasionalis dan idealis ini menekankan pada {netode^ang berprinsip atas kemampuan(rasio^alam memahami ajaran Islam dari sumbernya yaitu^Al-Qur'an dan Al Hadis, sebagai ganti metode verbalisme (menghafal). Juga metode^iemonstraj^entang cara- cara menulis huruf Arab dengan jelas dan sederhana.

Dalam literatur kependidikan, menurut Abuddin Nata, paling tidak ditemukan tiga bentuk metode pembelajaran, yaitu:
1)    Metode pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher centered)
Metode ini adalah cara pembelajaran yang menempatkan pendidik sebagai pemberi informasi, pembina, dan pengarah satu-satunya dalam aktivitas pendidikan. Konsekuensi dari model ini adalah seorang pendidik mencukupkan dirinya pada penguasaan bahan pelajaran semata, tanpa harus mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran yang dapat disampaikan kepada peserta didik.
Dalam pandangan Mochtar Buchori, seorang guru dalam posisi ini adalah seorang pangajar, bukan pendidik. Ia lebih terpaku pada aspek pengajaran daripada pendidikan. Ia dengan kemampuannya bermaksud pamer pengetahuan. Kalau ini yang terjadi, hasil yang diperoleh adalah peserta-peserta didik yang cukup luas pengetahuannya, tapi tidak cukup mantap kepribadiannya.
2)    Metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered)
Metode ini adalah metode yang berupaya memberikan rangsangan, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada peserta didik agar teijadi proses belajar. Hal yang terpenting dalam metode ini adalah bukan hanya pendidik menyampaikan bahan pelajaran, melainkan pula bagaimana peserta didiJc memperlajari bahan pelajaran sesuai dengan tujuan.

Menurut Noeng Muhadjir, di dalam model ini, peserta didik diberi kesempatan seluas mungkin untuk menyerap informasi, menghayati sendiri peristiwa yang teijadi dan melakukan langsung aktivitas operasional belajarnya. Dengan pemberian kesempatan yang luas ini, yang teijadi adalah kontrak belajar dari peserta didik kepada pendidiknya. Pendidik harus melaksanakan kontrak ini.
3)    Metode pembelajaran yang berpusat pada pendidik dan peserta didik sekaligus (teacher and student centered 

Metode pembalajaran model pertama adalah pepaduan antara kedua model di atas. Di dalam model ini, yang teijadi adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Proses pendidikan tidak melulu didominasi oleh pendidik atau oleh peserta didik semata, tetau keduanya memiliki peran dan andil yang sama. Oleh karena itu, maka baik pendidik maupun peserta didik disebut subjek pendidikan. Keduanya berada dalam satu konteks interaktif, yaitu bagaimana guru mengajar dan siswa belajar dengan aksentuasi pada proses belajar peserta didik.

Dari ketiga model tersebut, filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya menghendaki model ketiga. Dengan melihat enam ciri dari metode yang baik dalam pendidikan Islam, pendidik dan peserta didik mendapat kedudukan yang terhormat. Di satu sisi, metode pendidikan Islam menekankan kebebasan peserta didik untuk berdiskusjjkgglebat, dan berdialog dengan cara yang sopan danisaling_jnenghonnati, tapi pada sisi yang lain metode pendidikan Islam juga menghormati hak dan kebebasan pendidik untuk memilih metode yang dipandangnya sesuai dengan watak pembelajaran dan peserta didik itu sendiri. Filsafat pendidikan Islam menghendaki metode pendidikan yang memadukan antara pertimbangan pendidik dan peserta didik sekaligus.
Dalam kaitan itu, Abdurrahman Al-Nahlawi menyebutkan sejumlah metode pendidikan yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan Islam, yaitu:
1)    Metode pendidikan dengan hiwar (percakapan) gurani dan nabawi.
2)    Metode pendidikan dengan kisah qurani dan nabawi.
3)    Metode pendidikan melalui perampaanjaatf&a/).
4)    Metode pendidikan dengan teladan yang baik (iuswahhascmah)
5)    Metode pendidikan dengan latihandan pengamalan.
6)    Metode pendidikan dengan 'ibrah (pelajaran) dan mau 'iiah (peringatan).
7)    Metode pendidikan "dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).
Sementara itu, Al-Syaibany-menyebutkan beberapa metode umum pendidikan Isiam yang secara historis telah dipraktikkan kaum Muslim, yaitu metode induktif metode perbandingan, metode kuliah, metode dialog dan perbincangan, serta beberapa metode khusus seperti metode lingkaran (Halaqah )metode riwayat, metode mendengar, metode membaca, dikte/ imla’, metode hafalan, metode pemahaman, dan metode lawatan (rihlah 'ilmiyyah). 

Pada kesempatan lain, Abu Al-'A main menyebut karya metode pendidikan dalam Al- Qur'an, yaitu metode pengamalan dan pengalaman, metode penggunaan akal, metode teladan yang baik, metode amar jna'ruf nahi munkar, metode nasihat dan peringatan, metode perumpamaan dan persamaan, metode targhib (membuat senang), tarhib (membuat takut), tsawab (ganjaran) dan Ugab (hukuman), metode menanamkan kebiasaan, metode mengeluarkan segalajcesanggupan, dan metode peristiwa yang terjadi. 

Dari beberapa metode yang dikemukakan para pakar pendidikan Islam di atas, yang perlu diperhatikan adalah tidak ada satu metode pun yang dapat dipandang ideal untuk semua tujuan pendidikan, semua tujuan pendidikan, semua mata pelajaran, dan semua suasana serta aktivitas pendidikan. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari untuk melakukan penggabungan berbagai metode dalam praktiknya di lapangan. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah perfama, metode itu dapat membentuk manusia didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya semata; kedua, metode itu mengandung nilai edukatif yang mengacu petunjuk Al- Qur'an dan Al-Sunnah; ketiga,, metode itu berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai dengan ajaran Islam. Inilah beberapa pemikiran filosofis pendidikan Islam mengenai metode yang dapat digunakan dalam aktivitas pendidikan.

Implementasi Strategi dan Metode Pendidikan Islam-  Kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal t Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum yang mulai diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 sampai sekarang adalah kurikulum 2013. Implementasi Kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter peserta didik. Saylor dalam Mulyasa mengatakan bahwa " instruction is thus the implementation of ctariculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching iri the sense of student, teacher interaction in a educatiortal setting. . Dalam hal ini guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar, apakah kegiatan pembelajaran dihentikan, diubah metodenya, atau mengulang terlebih dahulu pembelajaran yang lalu.

Guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media, pemilihan dan penggunaan metode, memilih strategi atau pendekatan pembelajaran, serta keterampilan menilai hasil belajar peserta didik. Dalam draft Pengembangan Kurikulum 2013 diisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Disebutkan pula, bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered active learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. 

Terkait dengan tuntutan pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat agar sesuai dengan yang diisyaratkan dalam implementasi dan pengembangan draft kurikulum 2013, maka strategi dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan atau dipakai harus sesuai dengan kerangka dasar pemikiran kurikulum 2013. Menurut Abuddin Nata metode dan strategi yang paling mutakhir saat ini adalah Quantum Teaching. Kemungkinan metode ini dapat diterapkan dalam implementasi kurikulum 2013, khususnya kurikulum pendidikan Islam.

Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian dan fasilitas Supercamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Eccelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligence (Gardner). Neuro Linguistic Proggramming(ginder and bandler). , Experier.tial Learning (Hahn\ socrate inquiry Coopemrive Learning (Johnson dan Johnsorif, dan Elemens of Effective Instruction (Hunter).  Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket rmdtisensory, multikecerdasaa dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi.

Quantum Teaching bersandar pada konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Inilah asas utama, alasan dasar yang berada di balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Guru dapat mempengaruhi kehidupan siswa seolah-olah sedang memimpin konser di ruang kelas karena guru memahai karakter siswa sebagaimana alat-alat musik seperti seruling dan gitar, misalnya memiliki suara yang berbeda. Bagaimana setiap karakter dapat memiliki peran dan membawa sukses dalam belajar, merupakan inti ajaran Quantum Teaching.
Quantum Teaching memiliki lima prinsip, yaitu: 1) segalanya berbicara; 2) segalanya bertujuan; 3) pengalaman sebelum pemberian nama; 4) akui setiap usaha; dan 5) jika layak dipelajari, maka layak pula untuk dirayakan. Dari kelima prinsip tersebut terlihat adanya empat ciri dari Ouantum Teaching. Pertama, adanya unsur demokrasi dalam pengajaran; kedua, memungkinkan tergali dan terekspresikannya seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri si anak; ketiga, adanya kepuasan pada diri si anak; keempat, adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan 

Metode pengajaran dalam bentuk Quantum Teaching tampak lebih komprehensif dibandingkan dengan berbagai metode pengajaran yang telah ada sebelumnya, di dalamnya terkandung metode-metode lain yang diolah menjadi satu, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, karya wisata. Penugasan pemecahan masalah (problem solving/problem based learning), diskusi,simulasi, eksperimen, penemuan (discovery learning), dan proyek (project based learning). Berbagai metode ini bersinergi membentuk Quantum Teaching.
Lebih lanjut secara tidak langsung Abuddin Nata menyatakan bahwa Quantum Teaching telah mencakup pendekatan CBSA, dimana dengan metode ini siswa diharapkan tidak hanya mampu dan terampil dalam memahami dan mempraktekkan suatu teori, melainkan juga dapat memiliki keterampilatfproses\tau metodologi dalam menemukan dan memecahkan masalah.
Siswa diharapkan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, kreatif, inovatif dan kritis karena pendekatan ini cenderung terpusat pada siswa (student centered).

Secara eksplisit dalam Ilmu Pendidikan Islam belum dijumpai rumusan teori pengajaran yang mirip dengan Quantum Teaching. Hal ini disebabkan perkembangan Ilmu Pendidikan Islam terlambat perkembangannya dibandingkan dengan ilmu ke-Islaman lainnya. Namun demikian tidak berarti bahwa prinsip-prinsip Quantum Teaching dan langkah-langkahnya secara umum tidak ada dalam Islam. 

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, bahwa prinsip segaja sesuatu itu berbicara sebagaimana yang terdapat dalam Quantum Teaching juga ada dalam Islam. Menurut Islam bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas. Air, udara, gunung, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dsb memiliki jiwa dan personalitas, sehingga harus diperlakukan dengan baik dan diberi hak hidupnya. Hal ini sesuai dengan QS. Al-Ahzab, 33: 72. "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikuitah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."

Kedua, bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu segala sesuatu bertujuan adalah juga ada dalam ajaran Islam. QS. Ali Imran, 3: 191. "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." Dengan berpegang dengan prinsip ini, maka seorang yang berakal akan selalu meningkatkan pengetahuan, meneliti rahasia, manfaat, hikmah, yang terkandung dalam semua ciptaan Tuhan.
Ketiga, bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam Quantum Teaching, juga sejalan dengan prinsip yang ada dalam ajaran Islam. Dalam ajaran Islam, seseorang diwajibkan beriman kepada Allah sebelum mempertanyakan mangapa semua itu harus dilakukan. Memberikan penjelasan tentang bacaan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai oleh si anak lebih mantap dalam pengajaran, daripada lebih dahulu mengemukakan teori yang sulit-sulit beru kemudian mempraktekkannya.

Keempat, bahwa prinsip yang terdapat dalam Quantum Teaching yaitu akui setiap usaha juga sesuai dengan ajaran Islam, yakni pemberian predikat kepada seseorang yang mempercayai rukun iman disebut Mukmin, bagi yang melaksanakan ajaran Islam disebut Muslim. Orang yang bertaqwa Mutaqqin, orang yang berbuat baik Muhsini, dll. Dengan cara demikian, maka eksistensi, usaha kepada kepuasan psikologis yang ada pada gilirannya akan menimbulkan etos kerja yang semakin meningkat.

Kelima, bahwa prinsip rayakan jika layak dirayakan juga terdapat dalam ajaran Islam, yaitu sejalan dengan adanya berbagai upacara tradisi baik dalam Islam, seperti aqiqah. Hal ini mengandung unsur pengakuan terhadap keberadaan seseorang di tengah-tengah masyarakat.

Selanjutnya langkah-langkah dalam Quantum Teaching yang mampu menggarahkan suasana belajar mengajar yaitu: pertama, tumbuhkan minat agar ada niat dan tujuan dapat tertanam sebelum melakukan pekerjaan, yaitu niat ikhlas (lihat QS. Al-Bayyinah, 98: 5). Langkah fedua^ alami, yaitu memberikan pengalaman kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan, dengan menanamkan dan membiasakan pendidikan akhlak dan sopan santun. Langkah ketiga, namai, yaitu berikan identitas atau nama bagi sesuatu yang ditemukan (lihat QS. Al-Baqarah, 2: 31). Langkah keempat, demonstrasikan, yakni menujukkan apa yang telah dihasilkan (lihat QS. Ai-Baqarah. 2: 32). Langkah kelima, ulangi, yakni tunjukkan apa yang telah diajarkan oleg guru agyGetul-betul terlihat hasilnya dan lebih mantap Langkah keenam rayakan, yakni berikan pengakuan.

KESIMPULAN
A. Pengertian Strategi dan Metode Pendidikan Islam
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Sanjaya menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.
Sementara metode merupakan komponen pendidikan Islam yang dapat menciptakan aktivitas pendidikan Islam, hal yang mana tujuan pendidikan dapat tercapai secara tepat guna, manakala jalan yang ditempuh menuju cita-cita itu betul-betul tepat.30
Dengan kata lain, strategi merupakan "a plan of operation achieving something" sedangkan metode adalah "a way in achieving sornething."
B.    Strategi dan Metode Pendidikan Islam
Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan tersendiri, karena itu guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan.
Dari beberapa metode yang dikemukakan para pakar pendidikan Islam, yang perlu diperhatikan adalah tidak ada satu metode pun yang dapat dipandang ideal untuk semua tujuan pendidikan, semua tujuan pendidikan, semua mata pelajaran, dan semua suasana serta aktivitas pendidikan Oleh karena itu, tidak dapat dihindari untuk melakukan penggabungan berbagai metode dalam praktiknya di lapangan.
C.    Implementasi Strategi dan Metode Pendidikan Islam
Kurikulum yang mulai diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 sampai sekarang adalah kurikulum 2013. Terkait dengan tuntutan pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat agar sesuai dengan yang diisyaratkan dalam implementasi dan pengembangan draft kurikulum 2013, maka strategi dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan atau dipakai harus sesuai dengan kerangka dasar pemikiran kurikulum 2013. Metode dan strategi yang dapat diterapkan dalam implementasi kurikulum 2013 yaitu metode Quantum Teaching
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman an-Nahlawi. 1989. Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam. Bandung: Diponegoro.
Abuddin Nata. 2003. Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Abuddin Nata. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Armai Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
E. Mulyasa. 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kemdikbud. 2013. SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 67 TAHUN 2013 TENTANG KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH. Jakarta: Kemdikbud.
Muzayyin Arifin. 1987. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bina Aksara.
Nuryamin. 2012. Strategi Pembelajaran. Makasar: UIN Alauddin Makassar.
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany. 1975. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Sumiati dan Asra, 2009. Metode Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.
Sunhaji. 2008. JURNAL PEMIKIRAN ALTERNATIF PENDIDIKAN Vol 13 Strategi Pembelajaran: Strategi Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya Konsep dan Aplikasinya. Purwokerto: P3M STAIN Purwokerto.
Toto Suharto. 2014. Filsafat Pendidikan Islam (Menguatkan Epistimologi Islam dalam Pendidikan). Yogyakarta: Arruzz Media.
Wina Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media








STRATEGI DAN METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.