Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH

DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH

. PENDAHULUAN Pendidikan pada hakekatnya dipersiapkan untuk membentuk generasi penerus bangsa, untuk mengembangkan kemampuan manusia yang tersimpan dalam diri, baik jasmaniyah maupun rohaniyah guna menjalani kehidupan lebih baik, yakni dengan cara meningkatkan kualitas hidup serta mengantarkan fitrah manusia agar survive dalam hidupnya. Dengan harapan dunia edukasi mampu membentuk pendidikan anak secara mendasar melaku pembentukan moral, akhlak, karakter kepribadian, etika di samping IQ dan EQ, sebagai akar yang kuat atau pagar yang kokoh dalam membentengi peserta didik, ketika dihadapkan pada lingkungan dengan segala konsekuensinya, baik akses maupun ekses kehidupan di saat manusia bersentuhan dengan sosial masyarakat lainnya.


Secara umum fungsi pendidikan Islam ialah sebagai wahana pengembangan fitrah manusia, yaitu seluruh potensi peserta didik dikembangkan, sehingga ia sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk Allah swt yang selanjutnya dipersiapkan untuk menjalani hidup di era globalisasi, informas», teknologi,dan transformasi seita peran manusia di masa yang akan datang. 1

'Pendidikan di Indonesia pun syarat akan adanya perangkat pembelajaran sebagai faktor penunjang antara lain: kurikulum, bahan ajar, media, sarpras, pendidik, peserta didik, metode dan strategi pembelajaran, lingkungan dan evaluasi penilaian. Dari keberadaan perangkat tersebut dihaiapkan mampu menciptakan kualitas pendidikan yang bermutu yang mampu mengikuti perkembangan jaman yang semakin mengglobal. Hal ini tentu perlu dipertimbangkan masai;- masak manakala sebuah lembaga hendak melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut.

Sebagai contoh persiapan penyelenggara satuan pendidikan harus mempersiapkan: mang kelas yang representatif, pendidik yang profesional, kurikulum dan aturan serta kebijakan yang berlaku jelas sesuai visi, misi dan kondisi madrasah masing- masing, perangkat dan bahan ajar yang Sesuai dengan kurikulum juga terpenuhi, baik kurikulum yang ditetapkan pemerintah maupun kurikulum madrasah sebagai muatan lokal, yang dimaknai dengan hidden curiculum.

Ironisnya kurikulum justru menelorkan polemik, bahkan kegalauan pendidik saat mengajar, stress saat mengeijakan report elektronik hingga pingsan di depan laptop, persiapan mengajar dengan segudang penilaian dengan empat ranah kompetensi inti: kompetensi spiritual, sosial, pengetahuan, ketrampilan) beserta m asing- masing KD, yang kesemuanya harus tercover secara tuntas dalam rangka penilaian akhir. Kurikulum di Indonesia dipandang sebagai landasan untuk melaksanakan program pembelajaran yang mencakup beberapa komponen serta kompetensi. Seharusnya kurikulum tersebut dijalankan secara seimbang (balance), terarah dan betul- betul siap, sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia dan kebutuhan peserta didik dalam mengeksplor potensinya, terlebih kesiapan pendidik dari sisi ICT competention, media, sosialisasi atau bimtek secara maturatif dan uji kelayakan, agar tidak terkesan dipaksakan.


Pada dasarnya kurikulum yang acapkali berubah nama atau istilah. Sebenarnya hanya pada strategi atau cara pengajarannya saja yang berubah. Meskipun ada juga penambahan muatan isi, yakni; nilai- nilai (value) yang dibentuk untuk membangun karakter peserta didik. Berangkat dari sinilah para pendidik menganggap itu hal yang merumitkan dengan segudang mode i- model atau strategi pembelajaran yang diimplementasikan di madrasahnya, pada finalnya banyak keluhan para pendidik akan tugas ‘dan tanggung jawabnya sebagai fasilitator dan mediator ilmu serta wali murid yang belum siap untuk mendampingi peserta didik dalam menyelesaikan unjuk kerja dan resitasi yang dibebankan di rumah.

Selama ini peningkatan kualitas pendidikan secara kontinu sudah terus dilakukan perbaikan, seperti: perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas SDM dengan workshop, PLPG,. PPG, Beasiswa DMS atau istilah lainnya, pengadaan sumber belajar, BCS, sarana prasana, pelatihan bahkan berbagai program telah disosialisasikan dan dilaksanakan dengan biaya yang bombastis besar dan bahkan sampai sekarang perbaikan kurikulum masih dinilai simpang siur.ar.tara maju atau mundur dan berhenti karena direvisi.

Upaya-upaya di atas belum menampakkan hasil yang begitu berarti Dari studi . komparasi Internasional menunjukkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia kurang menggembirakan, dari hasil studi Human Development Index (HD I) dengan 17 indikatornya,
Indonesia menduduki peringkat ke 112 dari 175 negara yang disurvei, tiga tingkat di bawah
Vietnam.2

Dengan demikian sebagai bahan kajian pembanding tentang kurikulum secara umum dengan kurikulum pendidikan Islam, maka kita rumuskan hal- hal yang berhubungan dengan kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1.    Pengertian kurikulum
2.    Fungsi Kurikulum
3.    Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
4.    Prinsip-Prinsip Kurikulum
5.    Ciri- Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
6.    Implementasinya Kurikulum




A.    PENGERTIAN KURIKULUM

1.    Secara Etimologi
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani' yang mengandung pengertian suatu jarak yanfe harus ditempuh oleh peiaii dari garis start sampai garis fiuish Istilah ini muncul pertama kali dalam kamus Webster tahun 1856. Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan. Dalam kamus tersebut kurikulum diartikan 2 macam, yaitu:
  • Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
  • Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang vang diialui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Dan dalam Kamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan..

2.    Secara Terminologi
Para ahli telah banyak mendefinisikan kurikulum antara lain:
  • Crow mendefiniskan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah
  • mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.
  • M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem insitusional pendidikan.
  • Zakiah Daradjat memandang kurikulum sebagai suatu progam yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakn untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.
  • Bahkan Alice Miel mengatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani di sekolah (termasuk di dalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk ke daiam kurikulum.



B.    FUNGSI KURIKULUM

Manfaat kurikulum tidak hanya terbatas pada program pendidikan saja, namun juga dapat dilihat dari dimensi lain dalam dunia edukasi, yakni sisi fungsinya. Adapun fungsi kurikulum antara lain : Kurikulum Sebagai Program Studi, Sebagai Konten> Sebagai Kegiatan Berencana, Sebagai Hasil Belajar, Sebagai Reproduksi Kultural, Kurikulum Sebagai Pengalaman Belajar, dan Sebagai Produksi. Adanya pandangan bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah disebabkan oleh adanya paradigma tradisional yang mengatakan bahwa kurikulum memang hanya rencana pelajaran. Sedangkan dalam perspektif modem, kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran atau bidang studi. Yaitu semua yang secara nyata teijadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang aktual dan nyata, artinya secara aktual teijadi di sekolah dalam proses belajar. Atas dasar ini maka inti kurikulum adalah pengalaman belajar.

Sebagai 'bukti kurikulum saat ini, banyak tujuan yang akan dicapai uari masing- masing pencetusan kurikulum, model rumusannya. vakni; dari kurikulum 1994, kurikulum KBK 2004, kurikulum KTSP, kurikulum 2013 dan entah apalagi yang akan dikaji dari kurikulum tentang standar isi, proses, standar lulusan atau standar yang lainnya.


C.    KERANGKA DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

Keputusan Menteri Agama RI/ Nomor: 165 /Tahun 2014 Tentang Pedoman Kurikulum Pendidikan 2013 mapel Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Marasah, bahwa yang menjadi kerangka dasar kurikulum Madrasah merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum. Sedang struktur kurikulum Madrasah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar dan kompetensi dasar pada setiap Madrasah.
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta -bertanggung jawab dalam segala urusan yang menjadi tanggung jawabnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, madrasah adalah salah satu bagian penting dari sistem pendidikan di Indonesia. Kurikulum Pendidikan Islam yang baik dan relevan sebaiknya diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan Islam yaitu bersifat intergrated dan komprehensif serta menjadikan Aiquran dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya Adapun. kerangka dasar kurikulum Islam adalah: Tauhid dan perintah membaca.
  1. Tauhid-Tauhid sebagai kerangka dasar utama kurikulum harus dimantapkan sejak masih bayi dimula: dengan mendengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti: azan atau iqamah terhadap anak yang baiu dilahirkan.
  2. Perintah Membaaca- Membaca” , maksudnya membaca ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam yaitu: Ayat Allah yang berdasarkan wahyu, ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan ayat. Allah terdapat di alam semesta di luar manusia.
Setiap penyusunan kurikulum, lentu tidaklah serampangan dalam mencetuskan, mer’muskar dengan berbagai pei timbangan oleh banyak pihak yang menjadi tim perancang atau penggagas. Kurikulum di Indonesia mengalami berkali- kali perubahan kurikulum. Beberapa hal yang menjadi basic atau dasar penyusunan kurikulum, seperti yang disebutkan oleh Herman H. Home meliputi tiga macam, yaitu :
  1. Dasar Psikologis, digunakan untuk memenuhi dan mengetahui apa saja yang dapatdiperoleh dari peserta didik dan kebutuhannya (the ability and needs of children).
  2. Dasar Sosiolog», yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang sah dari
  3. masyarakat (the legitimate demands of society).
  4. Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan semesta/ tempat kita hidup (the tdnd of universe in which we live).
Pendidikan Agama Islam sangat dibutuhkan bagi umat Islam, agar dapat memahami secara benar ajaran Islam sebagai agama yang sempurna (kamit), kesempurnaan ajaran Islam yang dipelajari secara integral (kaffah) diharapkan.dapat meningkatkan kualitas umat Islam dalam keseluruhan aspek kehidupanya. Agar ajaran Islam dapat dipelajari secara efektif dan efisien, maka perlu dikembangkan kurikulum pendidikan agama Islam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Demikian pula dengan mata pelajaran Bahasa Arab yang sangat diperlukan sebagai alat untuk mempelajari dan mendalami sumber-sumber primer dari Pendidikan Agama Islam yang menggunakan Bahasa Arab terutama Mata Pelajaran Alquran dan Hadis.



D.    PRINSIP-PRINSIP KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Al-Taumi mengemukakan prinsip-prinsip dasar yang harus dijadikan pegangan pada waktu menyusun kurikulum ada 7 macam, yaitu: Prinsip Pertama, pertautan yang sempurna dengan agama , yakni adanya hubungan dengan ajaran dan, nilai nilai yang terkandung dalam syariah Islam. Prinsip Kedua, prinsip menyeluruh (universal) pada tujurji dan kandungan kurikulum. Prii.sip Ketiga, keseimbangan yang relatif, yakni keseimbangan antara tujuan dengan kandungan kurikulum yang dilaksanal in Prinsip Keempat, berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik, lingkungan sekitar, baik fisik maupun sosial, tempat tinggal peserta didik untuk hidup dan berinteraksi guna memperoleh pengetahuan, abilita* pengalaman, pengembangan potensi dan pembeatukan berbagai macam karakter atau sikap yang lebih baik (akhlabit karimah) Prinsip KeJimu, pemelinaraaan perbedaan individual d*, antara peserta didik dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan majalahnya, dan juga memelihara perbedaan dan nlural. tas faL* cii antara aiam sekitar dan masyarakat Hai inilah y ani' men)mn PR para pendidik, kurangnya kesiapan dalam penerapan secara holistic di dunia pendidikan, baik secara mta pelkjarar. a*jpvr.a maupun sosial, ajakan multikuhur daVun heterogenitas beragama, berbangsa dan berbudaya, terlebih di Indonesia. Prinsip Keenam, prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip, tanpa selidik. Prinsip Ketujuh, prinsip peraturan antara mata pelajaran, pengalaman dan kreativitas yang terkandung dalam kurikulum.

Kebijakan perubahan kurikulum itu sendiri dinilai sebagai politik pendidikan dan berhubungan dengan kepentingan pihak tertentu, sehingga seringkali dipolitisir. Hal ini tampak adanya perubahan buku- buku ajar yang terkandang tidak relevan dan terkesan dipaksakan harus membeli ke pihak pemerintah atau kementerian agama. Inilah yang menjadikan para pelaku kegiatan pembelajaran yakni; pendidik dan peserta didik terkena imbasnya, disebabkan oleh pergantian kurikulum yang kurang matang dan kurang siap, seperti saat ini.
Kurikulum pendidikan Islam merupakan salah satu komponen yang amat penting dalam proses pendidikan Islam, la juga menjadi salah satu bagian dari bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan (input instrumental) pendidikan Islam. Secara historis Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan yang harus' dijadikan sebagai bahan kurikulum lembaga pendidikan Islam yaitu: Umu-ilmu yang fardu1 ain yang wajib dipelajari oleli semua orang Islam meiiputi; ilmu- ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari dalam kitab suci Alquran dan ilmu-ilmu yang merupakan fardu kifayah, yang terdiri dari; ilmu-ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu pertanian dan industri.

Dari kedua kategori ilmu-ilmu tersebut, Al-Ghazali merinci lagi menjadi 4, yaitu: ?)
  1. Ilmu-ilmu Alquran dan ilmu agama seperti Fiqih, Hadis dan Tafsir.
  2. Hmu .bahasa, seperti nahwu saraf, makhraj, dan lafat-lafalnya yang membantu ilmu agama.
  3. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan urusan kehidupan duniawi.
  4. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejaiah, dan beberapa cabang filsafat.




E.    CIRI-CIRI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

Sistem Pendidikan Islam menuntut pengkajian kurikulum yang Islami, tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti itu bertopang dan mengacu pada dasar pemikiran yang Islami pula, serta bertolak‘dari pandangan hidup serta pandangan tentang manusia serta merta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi oleh kaidah-kaidah Islami.
Agar kriteria Kurikulum Pendidikan Islam tersebut dapat terpenuhi maka dalam penyusunannya haruslah mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Sistem dan perkembangan kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani.
  2. Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam.
  3. Graduasi serta pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan periodisasi peserta didik maupun unisitas (ke-khas-an)nya.
  4. Dalam berbagai pelaksanaan, aktivitas, contoh dan nashnya, hendaknya kurikulum memelihara segala kebutuhan kongkret atau nyata aplikasinya dalam kehidupan masyarakat, serta tetap bertopang pada jiwa dan cita-cita ideal Islamnya.
  5. Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum tersebut hendaknya tidak menimbulkan pertentangan.
  6.  Hendaknya kurikulum itu realistik.
  7. Hendaknya metode pendidikan/pengajaran dalam .kurikulum itu bersifat luwes.
  8. Hendaknya kurikulum itu efektif.
  9. Kurikulum itu hendaknya memperhatikan pula tingkat perkembangan siswa yang bersangkutan.
  10. Hendaknya kurikulum itu memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amaliah Islami.
Jenlink (1995) mengungkapkan bahwa the future will bedramatically different from the present: and it is already calling us into preparation for major changes being brought to life by forces of change that will require us to transcend current mindsets of the world we know ... masa depan akan berbeda secara dramabs dari masa sekarang, dan itu akan menuntut untuk dipersiapkan antisipasi teijadinya perubahan penting pada hemdupan. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan usaha untuk mengalihkan pola pikir dalam menatap tentang dunia yang begitu cepat mengalami perubahan hingga saat ini dan yang akan datang.4

Di madrasah Ibtidaiyyah, kurikulum pendidikan Islam sangatlah urgen, mengingat segala sumbeer dari sumber hukum Islam daii aturan yang digunakan dalam menjalankan . kehidupan di dwrn yaitu Alnuran dan Sunah Nabi, maka alangkah bijaknya kurikulum pendidikan Islam di madrasah dirancang sedemikian rupa dengan merevitalisasi kembali format kurikulum dan manajemen madrasah beseita perangkatnya berdasarkan kaidah- kaidah islam, tema tema yang diajarkan antara satu mata pelajaran dengan pelajaran lain disesuaikan agar ada keseimbangan, keruntutan dan reliabilitas serta pertautan materi.

Cakupan yang mempertimbangkan berbagai disiplin ilmu yang bercirikan Islam untuk dapat mengikuti perkembangan jaman sangatlah diperlukan dengan tetap memegang teguh ajaran atau syariat Islam, menjaga toleransi terhadap penganut agama lain, karena kita tidak hidup di negara yang Islami, namun negara yang demokratis* pancasilais yang menjunjung tinggi kebhinnekaan. Sehingga multikultur yang ada di Indonesia diharapkan dapat hidup secara berdampingan, tanpa bersifat arogan, individualis, dan sinh’etik atau cenderung fanatik dengan menganggap agama dan aliran yang kita yakini lebih baik dan agama lain. Para pendidik dan cendekiawan muslim hendaknya bersifat terbuka untuk menerima transfer ilmu dari manapun, baik dari negara Barat, Timur, Islam maupun di luar Islam, berbagai kultur kemajuan yang pluralis maupun dimensi- dimensi lain yang dapat menopang laju kejayaan Islam di era saat ini, seperti masa kejayaan Islam jaman Abbasiyah atau sebelumnya mampu diraih kemabali.

Al Syaibani pun menegaskan bahwa rumusan Kurikulum Pendidikan Agama Islam seyogyanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: .5)
  1. Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan akhlak.
  2.  Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal, dan rohani.
  3. Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat jasmani, akal dan rohani manusia.
  4. Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus.
  5. Kurikulum pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan.*



F.    IMPLEMENTASI KURIKULUM

Komponen kurikulum seharusnya saling berkaitan. Komponen tujuan menunjukkan kepada sesuatu yang hendak dituju dalam proses belaj ar-mengujar. Komponen isi menunjukkan materi proses belajar-mengryar tersebut. Materi (isi) itu harus relevan dengan tujua,t . pengajaran yang- te’ah dirumuskan tadi. Komponen proses belajar-mengajar mempertimbangkan kegiatan anak dau guru dalam proses belajar-mengajar. Terakhir komponen evaluasi adalah kegiatan kurikuler berupa penilaian untuk mengetahui berapa persen tujuan tersebut dapat dicapai.
Ironisnya, lahirnya kurikulum 2013 yang kita kenal dengan Kurtilas yang terkadang diparodikan dengan kurikulum tidak jelas, malah menjadikan para pendidik bingung, timbul pro kontra dalam menentukan acuan sebagai kerangka berpikir serta bahan pijakan, yang pada kenyataanya tidak dibarengi dengan media, sarana dan perangkat pendukungnya. Di sisi lain perjalanan pendidikan dan proses pembelajaran terus berlangsung, meski terdapat kritik sana- sini, dari para orang tua, komite, media sosial, televisi, tokoh ahli, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masih banyak lagi. Pemerintah sebagai payung untuk berlindung, narasumber untuk bertanya selalu menjawab baru dalam proses dan bahkan jawaban kementerian agama pun tidak melegakan pendidik selaku mediator dan fasilitator pendidikan, haik di wilayah provinsi, kabupaten maupun pengawas pendidikan agama Islam tingkat kecamatan.

G.    SOLUSI ALTERNATIF
Padâ hakekatnya perubahan merupakan salah satu langkah untuk mengatasi masalah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan atau hidup pada umumnya. Dan perbaikan dilakukan secara berkesinambungan (continuons onality improvement). Untuk memastikan " keberlanjutan penguasaan kompetensi, proses pembelajaran dimulai dari kompetensi pengetahuan, kemudian dilanjutkan menjadi kompetensi keterampilan, dan berakhir pada pembentukan sikap. Dengan demikian, proses penyusunan maupun pemahamannya (dan bagaimana membacanya) dimulai dari Kompetensi Dasar kelompok ' Hasil mmusan Kompetensi Dasar kelompok 3 dipergunakan untuk merumuskan Kompetensi Dasar - kelompok 4.
' Hasil rumusan Kompetensi Dasar kelompok 3 dan 4 dipergunakan untuk merumuskan" ‘Kompetensi Dasar kelompok 1 dan 2. Proses berkesinambungan ini untuk memastikan bahwa pengetahuan berlanjut ke keterampilan dan bermuara ke sikap sehingga ada keterkaitan erat yang mendekati linier antara kompetensi dasar pengetahuan, keterampilan 'dan sikap.
Oleh karena itu menjadi tantangan bagi pendidik yang ada di jalur formal, informal maupun non formal, khususnya di Madrasah Ibtidaiyah tidaklah bijak manakala kita harus terus menunggu dan menengadahkan tangan untuk menerima draft dari formula kurikulum yang membuat galau para pendidik saat ini, tanpa ada titik terang dari pengambil kebijakan. Sebagai solusi alternatif dari penulis, pada lembaga pendidikan diharapkan bangkit dan move on untuk terus menggali potensi pendidik yang berkualitas dengan cara:
  1. Merumuskan atau merevitalisasi visi dan misi secara jelas.
  2. Menentukan kompetensi yang hendak dicapai secara realistik dan sesuai kondisi dap kebutuhan.
  3. Memadukan setiap mata pelajaran secara komprehensif integral agar saling berhubungan satu dengan yang lainnya.    ;
  4. Memiliki dan mengandung nilai- nilai karakter yang bersumber dari Alquran, hadits, Pancasila dan UUD 1945 serta Sisdiknas.
  5. Memiliki ciri religius, yakni memadukan antara ilmu umum dengan ilmu agama sebagai satu sineigi saling melengkapi dan menyeluruh dalam strategi pembelajarannya (holistic).
  6. Perangkat pembelajaran dioptimalkan dengan memanajemen kelas secara kondusif, menyenangkan, aktif, kreatif, inovatif yang mengarah pada mutu pendidikan, dengan teknologi sederhana dengan mengoptimalkan kerjasama peserta didik dan pendidik sebagai satu bentuk strategi active learning: inquiring, discovcring, Hah student centered.
  7. Manajemen madrasah yang berorientasi pada mutu, serta membangun hubungan harmoni antara warga madrasah beserta lingkungan dan semua pihak yang bersentuhan dengan madrasah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  8. Evaluasi, yakni digunakan sebagai barometer tingkat keberhasilannya, baik secara keilmuan maupun moral dun karaktenya.
  9. Peran orangtua dalam memantau anaknya, sebagai tempat pertama anak untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan secara fisik, kejiwaan maupun kepekaan terhadap | apapun. Jargan sampai orang tua melepas begitu saja bahkan ist'lah Jawa mengatakan “pasrah bangloarr”, yang penting membiayai secat? penuh, dan selalu menyalahkan pendidik dan .pihak sekolah manakala kurang berhasil dalam mencapai prestasi. Paradigma itulah yang harus dibenahi di masyarakat dengan jalan merencanakan kontrak keija dan sosialisasi visi dan misi madrasah kepada para orangtua di awal Tahun Pelajaran.

KESIMPULAN
Pertimbangan-pertimbangan para ahli Pendidikan Agama Islam dalam menentukan atau memilih kurikulum adalah segi agama akhlak/budi pekerti dan N berikutnya barulah dari segi kebudayaan dan manfaat. Kurikulum itu didesain dengan mempertimbangkan: Prinsip berkesinambungan, prinsip berurutan, dan prinsip integrasi pengalaman. Sehingga inti dari kurikulum adalah kehendak Allah, kesatuan pengetahuan dan pengalaman akan berpusat pada Allah dan pengaturan kehidupan akan sesuai dengan kehendak Allah.

Kerangka kurikulum Pendidikan Islam meliputi: Tujuan, Isi kurikulum, Metode dan Evaluasi. Kurikulum pendidikan Islam seyogyanya disusun dengan mengacu pada makna esensial dari materi keagamaan yang dapat mengantarkan peserta didik ke arah hakikat manusia yang bersifat monodualis, setiap mata pelajaran didesain sesuai dengan perkembangan kemampuan peserta didik yang bersangkutan, kebutuhan individu dan masyarakat menurut tempat dan waktu.

Inti dari tujuan pendidikan di segala tingkatan dan jenis pendidikan berintikan iman, maka seluruh mata pelajaran dan kegiatan belajar seharusnya bertolak dari dan untuk menuju keimanan kepada Allah. Oleh karena itu dalam implementasi sebaiknya diintegrasikan dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, kesesuaian pertema dari masing- masing semester, agar lebih bersifat multikultural dan tidak bercampur baur (overlapoing). Penyesuaian materi dengan kompetensi peserta didik sesuai jenjang usia dan psikologinya dengan harapan kompetensi serta karakter- karakter yang dibentuk menjadi baik (ihsan) dan mampu mewujudkan cita- cita bangsa Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun warabun ghafur.

Mengingat pentingnya roda kurikulum dalam kereta pendidikan, maka implementasinya diharapkan mampu mencerminkan serta mewujudkan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional secara bertahap. Dan setiap perubahan kurikulum sudah semestinya memperhatikan kondisi- kondisi yang dialami pada implementas; kurikulum sebelumnya agar ^erkesmambungan. Satu kesatuan penpalarran peserta - didik akan lebih terbentuk, dan kesatuan pengalaman itu haruslah bermuara pada ajaran Islam dan selalu berkiblat pada kendali otoritas Allah. Dalam keadaan seperti inilah, manusia akan mampu menempati posisinya sebagai khalifah fil alam yang memiliki otoritas tak terbatas (anlimited) dalam mengatur alam ini dengan tetap berjalan pada koridor yang bersumber pada Alquran, Hadis dan syariat Islam «n» peraturan atau UU Sisdiknas yang berlaku di Indonesia. Mudah- mudahan kurikulum pendidikan di Indonesia mampu mencetak insan yang produktif, inovatif, kreatif dan memiliki karakter berbangsa, beragama dan keteladanan. Amiin.


DAFTAR PUSTAKA
Abdrrahman An-Nahlawi, alih bahasa Herry Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluargaf di Sekolah dan di Masyarakat, (CV. Diponegoro, 1989).
Abuddin NataJManajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2003).
A, Kadir, Pengembangan Materi PAI di Sekolah Umum, ( Jakarta: Grassindo Jaya, 2002).
Arifm, Ilmu Pendidikan Islam,{Jakarta: Bumi Aksara, 1991),
E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung: PT. ^ Remaja Rosdakarya, 2014).
Khaerudin dan Mahfud Junaedi -Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan konsep dan Implementasinya di Madrasah,(Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007).
M. Aihiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta,:Bulan •
Bintang, 1970).
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia., (Jakarta: Balitbang RI, 2001).
Tim Penyusun, Naskah KM/\-Subdi* Kurev., (Semarang: Baldik Kemenag Prop, 2014).
DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH Reviewed by Kharis Almumtaz on March 15, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.