Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN

 A.    Pengertian Pendidikan Multikultural
Menurut Undang-Undang No 20 tahun 2003 pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinyauntuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran atau paham). Secara hakiki dalam kata tersebut terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik.
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.

Beberapa pengertian pendidikan multikultural menurut:
1.    Andersen dan Cushen Pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan.
2.    James Bank: Pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan).
   
B.    Muatan Pendidikan Multikultural dalam Silabus PAI di SD/MI

Salah satu komponen dalam pendidikan adalah pembelajaran. Untuk memperbaiki realitas masyarakat, perlu dimulai dari proses pembelajaran. Dimensi pluralis-multikultural bisa dibentuk melalui proses pembelajaran, yaitu dengan menggunakan pembelajaran yang lebih mengarah pada upaya menghargai perbedaan di antara sesama manusia, sehingga terwujud ketenangan dan ketentraman tatanan kehidupan masyarakat.
Pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase proses pembelajaran yang dimaksud meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Salahsatu langkah yang dilakukan soerang guru dalam mengajar adalah kegiatan analisis program pembelajaran dengan menyusun silabus yang merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Berikut ini hasil telaah SK/KD dalam silabus PAI kelas IV di Sd/ Mi yang memiliki unsur pendidikan multikultural.
Kompetensi INTI    Kompetensi dasar
1.    Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya    1.1    melaksanakan sholat secara khusu dan tepat waktu sebagai wujud dari penghambaan diri kepada allah swt
1.2    megamalkan kebajikan kepada sesama manusia sebagai implementasi dari pemahaman ibadah sholat
   

Nilai multikultural yang terkandung dalam kompetensi inti tersebut adalah pendidikan demikratis. Memeluk dan sekaligus menjalankan agama merupakan salahsatu hak asasi manusia. Dalam hal ini mengandung arti toleransi terhadap sesama untuk menhargai setiap hak manusia. Walaupun kenyataannya di MI dioastikan seluruh siswa menganut agama yang sama yaitu islam, dimungkinkan dalam hal ini sikap menhargai terhadap adanya berbagai ajaran yang berbeda ( misal NU dan Muhammadiyah), sesuai dengan keyakinan individu masing masing. Oleh karena itu dalam kl ini terkandung pendidikan deokratis yang salahsatu prinsipnya yaitu manusi adalah makhluk dengan segala individualitasnya.
Selanjutnya dalam Kompetensi Dasar (KD) 1.1 menunjukkan adanya sikap toleransi terhadap sesama bahwa ketika siswa melaksanakan shaiat secara khusu’, siswa harus menghargai dan menghormati orang lain dengan tidak mengganggunya ketika melaksanakan shaiat Sedangkan KD 1.2 mengandung nilai kerukunan antar sesama siswa tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial maupun ekonomi, ras, dan suku. Hal ini juga menunjukkan pendidikan demokratis. Pendekatan demokratis dalam proses pembelajaran dengan beragam strategi pembelajaran tersebut menempatkan guru dan siswa memiliki status yang k setara {equal status), karena masing-masing dari mereka merupakan anggota f komunitas kelas yang setara juga.12
Strategi atau metode yang dapat digunakan guru dalam mengajar yaitu diskusi atau keija kelompok. Dari kegiatan dalam proses pembelajaran ini pun juga mengandung nilai multikultural, yaitu keijasama tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial maupun ekonomi, ras, dan suku dalam teman satu kelompok.
Selain itu, nilai toleransi juga dapat terlihat dari proses diskusi dengan menghargai setiap pendapat siswa lain ketika dilakukan presentasi pendapat dari hasil diskusi
Kompetensi inti    Kompetensi dasar
2.    menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percay diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru    2.1.    menunjukkan skap membantu fakir miskin dan anak yatim sebagai bentuk pemahaman terhadap surat al maun
2.2.    menunjukkan sikap santun dan menhargai teman, baik dirumah, sekolah dan di masyarakat sekitas.
   
   Hal ini menunjukkan proses memupuk sejak dini kepada siswa melaJui materi PAI yang mengandung indikator belajar tentang salah satu kerukunan umat beragama, yaitu kerukunan intern umat beragama dengan saling membantu dan menghargai tanpa melihat latar belakang ekonomi atau sosial. Hal ini sesuai dengan tujuan hidup manusia dalam perspektif Islam yang sekaligus menjadi tujuan ideal pendidikan Islam, yang terdapat dalam QS. Al-Qashas [29]: 11.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. ”
Berangkat dari pemahaman ayat di atas, seperti itulah proses pendidikan Islam yang benar-benar memanusiakan manusia akan terwujud. Pendidikan memanusiakan manusia adalah proses membimbing, mengembangkan, dan mengarahkan potensi dasar manusia baik jasmani maupun ruhani secara seimbang dengan menghormati nilai-nilai humanistik yang lain.13
Hal penting yang mesti diperhatikan dalam menumbuhkan demokratisasi pendidikan yaitu komunikasi.14 Ciri dari pendidikan demokratis yaitu adanya komunikasi, dalam KD ini menujukkan komunikasi antara keluarga, teman dan guru melalui proses interaksi, misalnya dalam kegiatan pembelajaran diterapkan metode simulasi/bermain peran secara berkelompok.

Kompeensi inti    Kompetensi dasar
3.    memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati(mendengar, melihat dan mendengar) berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirnya, makhluk ciptaan tuhan dan kegiatannya, dan benda benda yang dijumpainya dirumah dan di sekolah    3.1 mengetahui allah itu ada melalui pengamatan terhadap penciptaan manusia yang beraneka ragam suku bangsa dan bahasa sebagaimana yang ditemuyinya disekitar rumah dan sekolah
   

Dalam KD selanjutnya pengamatan terhadap penciptaan manusia yang beraneka ragam suku, bangsa, dan bahasa sebagaimana yang ditemuinya di sekitar rumah dan sekolah syarat akan nilai multikultural. Hal ini telihat dari beraneka ragamnya ciptaan Allah yang memiliki suku, bangsa dan bahasa.
Dari paparan data di atas, dapat dilihat bahwa Kompetensi Inti (KI) maupun Kompetensi Dasar (KD) dalam silabus pembelajaran PAI di SD/MI telah mengandung unsur atau nilai-nilai multikultural yang menjadi pokok ajaran dari GPAI untuk mengembangkan sikap toleransi antar siswa dan menerapkan lebih lanjut pendidikan multikultural di lingkungan sekolah. Dari sini kita juga dapat melihat bahwasanya pembelajaran Pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural mewujudkan dampak positif bagi semua siswa dan menjadi acuan semua guru untuk proses pembelajaran.

C.    Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Proses Pembelajaran

Analisis faktor yang dipandang penting dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran pendidikan agama Islam berwawasan multikultural di SD/MI, yang meliputi: (a) tuntutan kompetensi mata pelajaran yang harus dibekalkan kepada peserta didik berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan etika atau karakter (ethic atau disposition); (b) tuntutan belajar dan pembelajaran, terutama terfokus membuat orang untuk belajar dan menjadikan kegiatan belajar adalah proses kehidupan; (c) kompetensi guru pendidikan agama Islam dalam menerapkan pendekatan multikultural. GPAI sebaiknya menggunakan metode mengajar yang efektif, dengan memperhatikan referensi latar budaya siswanya. GPAI harus bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri, apakah ia sudah menampilkan perilaku dan sikap yang mencerminkan jiwa multikultural; (d) analisis terhadap latar kondisi siswa. Secara alamiah siswa sudah menggambarkan masyarakat belajar yang multikultural. Latar belakang kultural siswa akan mempengaruhi gaya belajarnya. Agama, suku, ras/etnis dan golongan serta latar ekonomi orang tua, dapat menjadi stereotype siswa ketika merespon stimulus di kelasnya, baik berupa pesan pembelajaran maupun pesan lain yang disampaikan oleh teman di kelasnya. Siswa bisa dipastikan memiliki pilihan menarik terhadap potensi budaya yang ada di daerah masing-masing: (e) karakteristik materi pembelajaran pendidikan agama Islam yang bernuansa multikultural.15

Analisis materi potensial yang relevan dengan pembelajaran yang berwawasan multikultural yang juga dapat diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, antara lain meliputi: (1) menghormati perbedaan antar teman (gaya pakaian, mata pencaharian, suku, agama, etnis dan budaya); (2) menampilkan perilaku yang didasari oleh keyakinan ajaran agama masing- masing; (3) kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; (4) membangun kehidupan atas dasar keijasama umat beragama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan; (5) mengembangkan sikap kekeluargaan antar suku bangsa dan antar bangsa-bangsa; (6) tanggung jawab daerah (lokal) dan nasional; (7) menjaga kehormatan diri dan bangsa; (8) mengembangkan sikap disiplin diri, sosial dan nasional; (9) mengembangkan kesadaran budaya daerah dan nasional; (10) mengembangkan perilaku adil dalam kehidupan; (11) membangun kerukunan hidup; (12) menyelenggarakan ‘proyek budaya’ dengan cara pemahaman dan sosialisasi terhadap simbolsimbol identitas nasional, seperti bahasa Indonesia, lagu Indonesia Raya, bendera Merah Putih, lambang negara Garuda Pancasila, bahkan budaya nasional yang menggambarkan puncak-pucak budaya di daerah; dan sebagainya.16

Dari hasil telaah muatan pendidikan multikultural dalam silabus mata pelajaran PAI di SD/MI di atas dapat dirumuskan beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI, untuk mengimplementasikan, pendidikanmultikultural sebagai berikut:
1.    Adanya integrasi mata pelajaran yang relevan dengan pendidikan multikultural Menurut Bunnet, pendidikan multikultural memiliki 3 macam program yang dapat diterapkan oleh sekolah dan masyarakat yaitu: pertama, program yang berorientasi pada materi; kedua, berorientasi pada siswa dan ketiga, berorientasi pada sosial.
Saat ini pendidikan  multikultural belum menjadi suatu ilmu yang komprehensif, namun di dalam kurikulum yang diberlakukan sudah disisipkan berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa tentang multikulturalisme dalam mata pelajaran yang relevan.
2.    Penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
Penanaman nilai-nilai tersebut hendaknya tercantum di dalam kurikulum dan juga dilakukan di dalam proses pembelajaran di kelas pada setiap mata pelajaran. Adapun nilai-nilai budaya dan karakter tersebut diantaranya adalah Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Keija keras, Keija Sama, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa ingin tahu, Semangat kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta damai, Percaya Diri, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggungjawab.

Contoh penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada proses pembelajaran antara lain diskusi kelompok di dalam kelas atau ruang kuliah untuk menyelesaikan suatu materi atau soal yang diberikan oleh guru atau dosen (penanaman nilai Keija Sama, Bersahabat dan Komunikatif), pembiasaan berdoa di setiap awal pembelajaran di kelas atau ruang kuliah (nilai Religius), pembiasaan saling salaman antar teman di pagi hari dan ketika pulang sekolah (nilai Persahabatan dan Cinta Damai), melaksanakan upacara bendera atau menyanyikan lagu wajib nasional untuk selingan (menumbuhkan Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanah Air), melakukan kegiatan bakti sosial lain.

3.    Gaya pengajaran guru yang menggembirakan dan demokratis.
Dalam proses pembelajaran, gaya kepemimpinan guru sangat berpengaruh bagi ada tidaknya peluang siswa untuk berbagi pendapat dan membuat keputusan. Gaya kepemimpinan guru yang demokratis memberikan peluang kepada siswa untuk menentukan materi yang perlu dipelajari siswa dengan kelas yang beragam latar belakang budaya. Melalui pendekatan demokratis ini, para guru dapat menggunakan beragam strategi pembelajaran, seperti dialog, simulasi, bermain peran, observasi, dan penanganan kasus. Dengan demikian, proses pembelajaran yang difasilitasi guru tidak sekadar berorientasi pada ranah kognitif, melainkan pada ranah afektif dan psikomotorik sekaligus.

Selanjutnya, pendekatan demokratis dalam proses pembelajaran dengan beragam strategi pembelajaran tersebut menempatkan guru dan siswa memiliki status yang setara (equal status), karena masing-masing dari mereka merupakan anggota komunitas kelas yang setara juga. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang absolut. Perilaku guru dan siswa harus diarahkan oleh kepentingan individu dan kelompok secara seimbang. Aturan-aturan dalam kelas harus dibagi untuk melindungi hak-hak guru dan siswa.  4. Guru dan sekolah berperan dalam menghargai keragaman bahasa dan membangun sikap anti deskiriminasi etnis, perbedaan gender dan kemampuan, serta umur, dll.

Guru harus memiliki sensitivitas tinggi terhadap segala bentuk diskriminasi dan membuat suatu kesepakatan peraturan kelas untuk menindaklanjuti tindakan yang menjurus terhadap semua bentuk praktek deskriminasi mulai dari etnis, perbedaan kemampuan dan umur . Sedangkan dalam hal menghargai keragaman bahasa, guru juga dapat mengadakan pidato multi bahasa anak-anak dan multi etnis food pada even-even tertentu. 

BAB V
KESIMPULAN

Dari pembahasan dalam makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural adalah proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah untuk memberikan pemahaman pada peserta didik mengenai keragaman budaya, etnik, ras, agama baik di sekolah maupun di masyarakat setia pola interaksi akibat adanya keanekaragaman sehingga tidak ada sikap diksriminasi terhadap kelompok tertentu dan terhindarnya konflik antara kelompok.
Dilihat dan Kompetensi Inti (Kl) maupun Kompetensi Dasar (KD) dalam silabus pembelajaran PAI di SD/MI telah mengandung unsur atau nilai-nilai multikultural yang menjadi pokok ajaran dari GPAI untuk mengembangkan sikap toleransi antar siswa dan menerapkan lebih lanjut pendidikan multikultural di lingkungan sekolah. Dari sini kita juga dapat melihat bahwasanya pembelajaran Pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural mewujudkan dampak positif • bagi semua siswa dan menjadi acuan semua guru untuk proses pembelajaran.
Dari hasil telaah muatan pendidikan multikultural dalam silabus mata pelajaran PAI di SD/MI dapat dirumuskan beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI, untuk mengimplementasikan pendidikan multikultural yaitu: integrasi mata pelajaran yang relevan dengan pendidikan multikultural, penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, gaya pengajaran guru yang menggembirakan dan demokratis serta peran guru dan sekolah dalam menghargai keragaman bahasa dan membangun sikap anti deskiriminasi etnis, perbedaan gender dan kemampuan, serta umur, dll.


Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Kompas.
Azra, Azyumardi. 2007. Identitas dan Krisis Budaya, Membangun
Multikulturalisme Indonesia.    :   
(dari http://www.kongresbud.budpar.go.id/58%20ayyumardi%20azra, diakses Rabu, 25 November 2014, pukul: 15.05 WIB)
Baharudin dan Makin, Muh.. 2007. Pendidikan Humanistik, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Mahfud, Choirul. 2008. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Naim, Ngainun dan Sauqi. 2008. Achmad, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Najamuddin. 2013. Pendidikan Multikultural. Medan: Balai Diklat Keagamaan.
Sitti Mania. 2010. Jurnal Lentera Pendidikan Volume 13, No. 1 Implementasi Multikultural dalam Pembelajaran \ Makasar: UIN Alaudin Makasar.
Tilaar, H. A. R. 2004. Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Wiriaatmadja, R. 1996. Jurnal Pendidikan No. 4 Tahun XV1996 *Perspektif Multikultural dalam Pengajaran Sejarah Bandung:    .
Yamin, Muh. dan Aulia, Vivi. 2011. Meretas Pendidikan Toleransi. Pluralisme dan Multikulturalisme Keniscayaan Peradaban. Malang: Madani Media.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN Reviewed by Kharis Almumtaz on March 15, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.