Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH



IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pendidikan Multikultural
1.        Pengertian Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural adalah salah satu pendekatan dalam pendidikan yang menekankan perlunya siswa mengenal dan menghargai budaya yang berbeda dari budaya asal meFeka. Dalam pendekatan multikultural siswa kita bukan saja diperkenalkan pada budaya-budaya yang ada di dunia ini, akan tetapi juga diajak untuk merasa bangga pada budayanya sendiri dan yang paling penting menghargai budaya lain, yang juga sama indah dan berharganya dengan budayanya sendiri. Dalam pendidikan multikultural budaya yang berbeda itu bukan lagi sesuatu yang perlu disamakan, apalagi dimusnahkan. [1] 
Pendidikan merupakan sarana yang efektif dalam menanamkan semangat muitikulturalisme positif melalui model pendidikan multikultural. Sebab, model pendidikan multikultural diyakini mampu memberi alternatif strategi pendidikan yang berbasis pada pemantapan karagaman dan kemajemukan masyarakat, khususnya pada diri siswa, seperti tumbuhnya sikap saling menghargai dan menghormati keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, jender, umur, kemampuan, dan ras sedemikian rupa sehingg dalam diri siswa dapat tumbuh sikap saling menghargai perbedaan (agree in disagreement), dan dapat hidup saling berdampingan satu dengan yang lain(to live together)[2]
Pendidikan multikultural bukan semata tentang belajar dan mengajar lebih dari satu bahasa, bahkan juga melihat bagaimana bahasa-bahasa mengonstruksi pandangan dunia. Pengetahuan yang benar adalah memahami berbagai mazhab pemikiran.[3]
2.        Landasan Pendidikan Multikultural
Lindasan yuridis yan  dapat dijadikan pijakan mengembangkan pendidikan multikultural yaitu:[4] Pertama, Pancasila sebagai landasan ideal bangsa. Sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila mengandung pesan nilai, moral, etika, dan rasa toleransi yang termaktub dalam sila-sila Pancasila Artinya, semua agama, budaya, dan bahasa mendapat tempat yang setara dalam kehidupan berbangsa.
Kedua, Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan landasan konstitusional. UUD 1945 mengandung nilai, norma, dan etika bermasyarakat maupun berbangsa. Hal itu dapat dicermati dalam pembukaan UUD dan batang tubuh UUD 1945. Ketiga, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan pendidikan nasional. Berdasarkan UUSPN mengandung implikasi perlunya mendesain pembelajaran yang sesuai dengan budaya masyarakat, norma masyarakat, dan kebutuhan masyarakat.[5]
Dalam alquran juga dijelaskan dalam bebarapa surat bahwa dianjurkan untuk menunjukkan sikap saling menghormati, ramah, dan bersahabat dengan agama lain apalagi dengan intem umat beragama. Alquran telah memberikan arahan yang diperlukan manusia untuk memecahkan berbagai masalah dan bersikap toleransi.
B.       Pendidikan Islam Berbasis Multikultural
Konsep pendidikan Islam berbasis multikultural adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat - manusia secara keseluruhan. Yakni, pendidikan untuk merespons dinamika masyarakat Islam khususnya dalam interaksi sosial dan antar agama. [6]
Selama bertahun-tahun, realitas kemajemukan menunjukkan prestasi yang menggembirakan, karena memang terdapat resistensi yang cukup kuat terhadap segala faktor yang dapat memicu munculnya konflik dan yang sejenisnya. Keadaan ini, tentu saja, meskipun bukan satu-satunya, tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah yang memang cukup penetrative terhadap segala aktifitas kehidupan yang berkembang dalam masyarakat. Dalam mengelola kemajemukan dengan cara mereproduksi ideologi sebagai ideologi dominan, Pancasila. Selama orde baru, Pancasila betul-betul menjadi ideologi yang sangat efektif dalam mengukuhkan kekuasaan pemerintah. Tetapi rupanya juga efektif pula dalam mengelola kemajemukan. Dalam pandangan pemerintah, kemajemukan harus tunduk di bawah paradigma kesatuan.[7]
Pendidikan Islam bukan hanya sekadar transfer of knowledge, tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan, suatu sistem yang terkait langsung dengan Tuhan. Dengan demikian, pendidikan Islam adalah suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah.
Keberagaman dalam pendidikan itu ada karena pendidikan tidak lepas dari konteks masyarakat. Anak-anak sebagai pusat perhatian pendidikan yang sering terlupakan kepentingannya adalah bagian dari konteks sosialnya. Mereka memiliki konteks sosial dan budaya yang berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, menjadi alasan bahwa mereka penting mendapat pendidikan multikultural agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan baik. Hal ini menjadi tanggungjawab sekolah melalui pendidikan dan mata pelajaran di sekolah, maka pendidikan multikultural dapat ditanamkan pada anak, termasuk melalui pendidikan agama sejak dini.
Pendidikan Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu dengan membawa potensi bawaan seperti keimanan, potensi memikul amanah dan tanggungjawab, potensi kecerdasan dan potensi fisik yang sempurna. Dengan potensi-potensi tersebut, manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau mendidik dengan secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu berinteraksi dengan baik bagi sesama makhluk dan mampu menjadi khalifah dan mengabdi pada Allah SWT.
Paham multikulturalisme dalam studi keislaman secara nyata telah menghidupkan kembali sebuah kaidah lama yang sudah akrab digunakan oleh para ulama fikih, yaitu sesuatu yang dinilai benar oleh adat, maka juga dibenarkan oleh teks (al-at'yin bi al- urfka al-ta 'yin bi aUnash). Para ulama juga sudah sejak lama menganggap bahwa tradisi. dan kebudayaan dapat dijadikan sebagai landasan hukum; sebagaimana tdcs dijadikan sumber printer.[8]
Dalam kaitannya dengan khazanah keislaman lainnya, rasululloh SAW telah memberikan sebuah pesan yang sangat menarik: wahai manusia, bukankan Tuhan kalian satu, nenek moyang kalian satu. Bukankan tidak ada keistimewaan antara orang-orang Arab dengan orang-orang asing, dan antara orang asing dengan orang Arab, tidak pula untuk orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit putih atas yang berkulit merah, kecuali takwa kepada Allah SWT. ( HR Imam Ahmad) . Dari hadis di atas jelaslah bahwa perbedaan orang itu terletak pada ketakwaannya.
Titik temu diantara berbagai agama adalah ketakwaan. Ketakwaan bukanlah ukuran yang manusiawi, melainkan ukuran yang bersifat Ilahi. Artinya, Tuhanlah yang nantinya menghisap siapa yang paling bertakwa. Karena itu multikulturalisme menjadi keniscayaan untuk mendorong toleransi, baik dalam intra-agama maupun antar agama. Bukan hanya itu, multikulturalisme mengajak kita semua untuk meneropong ranah etnisitas dan kebudayaan. [9]
C.       Implementasi Pendidikan Multikultural di MTS
Dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah, maka sekolah harus dipandang sebagai sebuah sistem sosial di mana terdapat banyak variabel yang saling terkait dan berhubungan sangat erat. Berpikir tentang sekolah sebagai sistem sosial mengharuskan kita untuk membuat suatu rancangan strategi mengubah lingkungan sekolah secara total untuk menerapkan pendidikan multikultural.[10]
Penerapan pendidikan multikultural di sekolah membutuhkan beberapa perubahan variabel yang sangat berhubungan ke arah proses pendidikan. Misalnya guru dan semua staf di sekolah diharapkan memiliki sikap demokratis pada saat mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah.
1.      Guru
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyi standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.[11] Guru hendaknya dapat menjadi teladan dalam menerapkan pendidikan Islam berbasis muhikulturalisme.[12]
Pendidikan Islam harus diorientasikan kepada sikap pluralisme dan toleransi kepada anak didik. Toleransi dalam bentuknya ada tiga macam.lAPertama, toleransi antar kelompok sesama penganut agama. Dalam satu agama terdapat beragam pemahaman, organisasi, aliran, dan budaya-budaya yang berbeda. Secara internal siswa harus ditunjukkan bahwa sumber Islam adalah sama yakni alquran dan as sunah, tetapi penafsiran dan pemahamannya berbeda-beda sesuai dengan realitas historis, sosial, dan lokalitas penafsirannya.
Kedua, saling toleransi dan menghormati antar agama. Dalam suatu negara atau masyarakat pendapat sejumlah agama tertentu yang dianut warganya. Kepada siswa harus ditanamkan sikap untuk menghormati dan menghargai penganut agama-agama tersebut Ketiga, toleransi antara semua agama dan semua keyakinan. Di dunia ini terdapat bermacam-macam paham keagamaan, ideologi, dan keyakinan. Untuk itu, perbedaan tersebut harus dipahami sebagai khazanah budaya dan modal sosial yang tidak mungkin wajib diseragamkan.
Dalam menyikapi pluralisme, nabi Muhammad SAW juga bisa dijadikan sebagai suri tauladan. Beliau bersikap baik kepada semua orang meskipun bebeda kayakinan dengan beliau. Bahkan dengan itu banyak orang di luar Islam kemudian masuk Islam karena akhlak beliau.
Diantara sekian banyak contoh yang ditunjukkan Nabi dalam menjalin hubungan keakraban, adalah kelapangan dada beliau mengizinkan delegasi Kristen Nrajan yang berkunjung ke Madinah untuk berdoa di kediaman beliau, sebagaimana diungkapkan al- Halaby al-Syafi’i dalam bukunya Al-Shirah.[13]
Teladan juga telah diberikan oleh para pendahulu Negara Indonesia dalam merumuskan Pancasila yang berawal dari Piagam Jakarta. Para pendiri Negara kita yang beragama Islam rela mengubah rumusan sila pertama dalam Piagam Jakarta yakni kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka lebih mementingkan adanya persatuan di Negara ini.
Guru dapat menjadi contoh dalam kegiatan sehari-hari misalnya ia selalu berlaku baik terhadap siswa dari semua golongan dalam agama Islam yang ada di madrasah jika di Madrasah terdapat berbagi golongan dari agama Islam. Selain kepada siswa, jika terdapat guru yang berbeda aliran maka setiap guru juga hendaknya tetap berhubungan baik dalam keseharian di sekolah.
Proses pembelajaran, khususnya yang berlangsung di kelas, sebagian besar ditentukan oleh peranana guru.[14]   Guru sebagai designer, yang bertugas merancang pembelajaran sebaiknya merancang pembelajaran yang berbasis multikulturalisme. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat juga dilaksanakan, misalnya dengan mengaktifkan anak dalam kegiatan diskusi. Guru harus dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, agar terjadi perubahan perilaku pada diri mereka sesuai yang direncanakan.
2.      Strategi Guru
Strategi guru dalam mengajar juga harus menerapkan prinsip multikulturalisme. Guru sebaiknya belajar berbagai macam strategi pembelajaran yang dapat mendukung adanya multikulturalisme. Berbagai metode dan strategi dapat dilakukan dalam mengajar. Misalnya dalam menerapkan metode misalnya dapat dilakukan secara bervariasi. Guru PAI sebaiknya mengembangkan model-model pembelajaran kontemporer. Kebanyakan guru PAI dalam mengajar masih menggunakan model pembelajaran konfensional dengan metode ceramah sebagai andalannya. Para guru kurang dapat membedakan antara mengajar dengan khutbah, sehingga pembelajaran PAI terasa membosankan dan menjemukan bagi siswa serta bersifat kering karena guru dalam mengajar lebih bersifat ekspositoris dan monolog. Apalagi materinya itu-itu saja dalam arti sudah pernah dipelajari di jenjang sekolah sebelumnya. Dalam hal ini kiranya dapat mengadopsi model-model Quantum learning, CTL dan model training ESQ untuk dijadikan model pembelajaran PAI.
Sekolah sebaiknya membudayakan kegiatan diskusi kelas. Karena dengan diskusi kelas, siswa akan terbiasa bergaul dengan teman-teman dengan berbagai latar belakang baik keluarga, suku, dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran menghindari sifat riya di Madrasah Tsanawiyah kelas VII pada KD 4.3 .mensimulasikan sifat riya’ dan nifaq serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, guru dapat mengajak siswa dengan pembelajaran bermain peran. Guru menjelaskan juga bahwa meskipun dirinya meyakini ajarannya, tetapi dilarang bersifat riya’ dengan menganggap dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Harus tetap diajarkan untuk saling menghormati ajaran yang dianut orang lain.
3.      Penilaian
Guru PAI berbasis problem sosial perlu berkolaborasi dengan semua guru di sekolah terutama untuk menanamkan nilai-nilai universal agama. Dalam hal menilai hasil belajar subyek didik, terutama yang terkait dengan afektif dan perilaku subyek didik, guru agama harus bersama-sama dengan semua guru mata pelajaran lain yang ada di sekolah itu.[15]
Dalam pembelajaran PAI dalam penilaian harus dilaksanakan juga menggunakan penilaian berbasis multikulturalisme. Misalnya hubungannya dengan penilaian bacaan sholat, maka guru juga harus menguasai berbagai macam bacaan sholat yang dikuasai siswa sesuai latar belakangnya.
Dalam penilaian akhlak, guru dapat menerapkan observasi, penilaian diri, penilaian antar teman dan jurnal. Jika penilaian antar teman dilakukan tentu akan lebih valid karena siswa lebih banyak bersama siswa yang lain dari pada guru. Namun penilaian dapat dilakukan secara bervariasi dengan menggabungkan keempat penilaian tersebut.
Dalam menggunakan bahasa sebaiknya digunakan bahasa Indonesia karena berbagai budaya yang berbeda. Jika guru menggunakan bahasa daerah salah satu daerah dimungkinkan siswa lain ada yang kurang bisa mengerti. Maka dalam pengunaan bahasa hendaknya dengan bahasa persatuan.
4.      Kegiatan Sekolah
Dalam kegiatan yang dilakukan di sekolah juga harus mencakup kegiatan yang mengakomodasi dari semua kelompok atau golongan dari latar belakang peserta didik yang berbeda. Misalnya dalam kegiatan peringatan maulud nabi, semua siswa dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Dengan melibatkan siswa secara bersama maka secara tidak langsung siswa akan bergaul dengan siswa lain dengan berbagai latar belakangnya.
Guru sebaiknya membuat dan menerapkan peraturan kelas yang dapat mendorong tumbuhnya kesadaran siswa untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang menjurus pada bentuk-bentuk diskriminasi terhadap etnis, gender atau ras. Guru dituntut untuk menjadi teladan dalam penerapan pendidikan multikulturalisme.
Konsepsi pendidikan model Islam tidak hanya melihat bahwa pendidikan itu sebagai upaya mencerdaskan semata, melainkan sejalan dengan konsep Islam sebagai suatu pranata sosial itu sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakikat eksistensi manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam juga berupaya menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di hadapan Allah SWT. Perbedaannya adalah pada kadar ketakwaannya sebagai bentuk perbedaan kualitatif.
5. Kurikulum
Kurikulum Pendidikan Islam mencakup ilmu-ilmu yang bertalian dengan ilmu fardlu ‘ain dan ilmu fardlu kifayah, dengan pengertian mencakup ilmu-ilmu yang bersumber pada wahyu dan sunnah Rasul dan nilai-nilai sosio kultural.[16]  Gambaran urutan penulisan materi dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah menunjukkan mata pelajaran yang berbasis nilai diutamakan pada urutan awal dari pada mata pelajaran lain. Hal itu merupakan bukti masalah moral, etika, keimanan, dan adab sangat diperlukan untuk membentuk kepribadian anak bangsa. Generasi muda kita perlu dibekali pendidikan yang mampu membentuk karakter ke-Indonesiaan. Bangsa ini mempunyai keragaman khazanah budaya yang sepatutnya dilestarikan melalui pendidikan formal.
Pengembangan kurikulum PAI yang dilakukan oleh guru dan sekolah pada setiap satuan pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sebagaimana tertuang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional, yaitu: (1) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) beragam dan terpadu;(3)tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;(4) relevan dengan kebutuhan kehidupan;(5) menyeluruh dan berkesinambungan;(6)belajar sepanjang hayat,(7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.   Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa penyusunan kurikulum dengan berdasarkan keenam prinsip tersebut dapat mendukung adanya multikulturalisme dalam madrasah, jika kurikulum benar-benar diterapkan. 





BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.      Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman nilai-nilai dan cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah- tengah masyarakat plural.
2.      Pendidikan multikultural tidak harus berdiri sendiri, tetapi dapat terintegrasi dalam mata pelajaran dan proses pendidikan yang ada di sekolah termasuk keteladanan para guru di sekolah. Oleh karena itu, pendidikan multikultural haruslah mencakup hal yang berkaitan dengan toleransi, perbedaan etno-kultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, HAM, demokrasi dan pluralitas, kemanusiaan universal, dan subjek-subjek lain yang relevan mengantarkan terbentuknya masyarakat madani yang cinta perdamaian serta menghargai perbedaan.
3.      Pendidikan multicultural dalam implementasinya di MTS dapat dilakukan melalui berbagai variable diantaranya berhubungan dengan guru, strategi, kurikulum, kegiatan sekolah, dan penilaian.
B.       Saran
1.      Isi dari pendidikan multikultural harus diimplementasikan berupa tindakan-tindakan, di sekolah, agar individu dapat berinteraksi dengan sesama di lingkungan hidupnya, maka perlu dibekali kemampuan eksis dan dapat menyesuaikan diri dalam keragaman yang ada, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan bersama. Dengan demikian, mereka mampu menerima perbedaan, dan bukan apriori terhadap perbedaan. Untuk dapat memiliki sikap hidup yang demikian, diperlukan pendidikan multikultural sebab pendidikan multikultural diharapkan mampu menjadi solusi terbaik dalam menangani keragaman yang ada, baik budaya, agama, etnis, status sosial, dan sebagainya.
2.      Pendidikan di madrasah yang berlandaskan agama penting sekali memberikan pendidikan multikultural dan mengimplementasikannya melalui berbagai cara dalam proses pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA
A.Syafii Ma’arif dkk, Pendidikan Islam di /ndb/ieiia, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1991.
Abr Rachman Assegaf Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada., 2011
Ali Maksum, Plural dan Multikuhuralisme Paradigma Baru, Malang: Aditya Media Publishing,2011.
Alwi Shiihab, Islam Inklusif, Cet S, Bandung: Mizan, 1999.
Daryanto & Henry Sudjendro, Siap Menyongsong Kurikulum 2013, Yogyakarta: Gava Media£014.
E. Mulyasa, Pengembangan dan lmpelmeentasi Kurikulum 2013,0,4,Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014.
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosio Kultural, Jakarta Lantabora Press,2005,cet3).
Rahmad Raharjo. Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Zs/am, Yogyakarta: Magnum Pustaka,2010.
Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta:Fadilatama,2010. Syamsul Arifin, Islam Indonesia. Malang: UMM Presss, 2003.
Zuhairi Misrawi. Al Qur'an Kitab Toleransi, Jakarta: Fitrah, 2007.


[1] Abr Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (PT Raja Grafindo Persada: Jakarta,2011) hlm. 310.
[2] Ibid
[3] Ali Maksum, Plural dan Muitikulturalisme Paradigma Baru, (Malang: Aditya Media Publishing,20i 1), hlm 210
[4] Syamsul Arifrn, Islam Indonesia. (Malang: UMM Press, 2003) jilm 117.
[5] Ali Maksum, Plural... ,hlm 206
[6] Ibid, hlm 229
[7] Zuhairi Misrawi. Al Qur'an Kitab Toleransi, (Jakarta: Fitrah, 2007),hlm.216.
[8] Zuhairi Misrawi hlm.217
[9] Ibid, him. 217.
[10] Ali Maksum, Plural dan Multikulturalisme .... him 224
[11] Daryanto 8c Herry Sudjendro, Siap Menyongsong Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Gava Media,2014) hlm.19.
[12] Ali Maksum, Plural dan .... hlm 219.
[13] Ahvi Shihab, Islam Inklusif, Cct 5 (Bandung: Mizan, 1999) Jhlm.337.
[14] E. Mulyasa, Pengembangan dan Impelmentasi Kurikulum 2015,Ct 4,(Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm.193.

[15] Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta:FadilatamaT2010, hlm.l07.

[16] Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosio kultural,(Jakarta:Lantabora Press,2005,cet3) hlm.98.

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH Reviewed by Kharis Almumtaz on March 08, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.