Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH
Mata Kuliah: Pendidikan Agama Islam dan Multikulturalisme
   
A.    LATAR BELAKANG
Indonesia adalah suatu negara yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, suku, dan agama sehingga Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Akan tetapi, di lain pihak, realitas multikultural tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali kebudayaan nasional Indonesia yang dapat menjadi integrating force yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut.

Pluralisme pasti dijumpai dalam setiap komunitas masyarakat. Teristimewa pada saat ini, ketika teknologi transportasi dan komunikasi telah mencapai kemajuan pesat. Kemajemukan merupakan inévitable destiny di tingkat global maupun di tingkat bangsa-negara dan komunitas. Secara teknis dan teknologis, kita telah mampu untuk tinggal bersama dalam masyarakat majemuk. Namun demikian, spiritual kita belum memahami arti sesungguhnya dari hidup bersama dengan orang yang memiliki perbedaan kultur yang antara lain mencakup perbedaan dalam hal agama, etnis, dan kelas sosial. Indonesia memiliki kemajemukan suku. Kemajemukan suku ini merupakan salah satu ciri masyarakat Indonesia yang bisa dibanggakan. Akan tetapi, tanpa kita sadari bahwa kemajemukan tersebut juga menyimpan potensi koriflik yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sorio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut. Berkaitan dengan hal ini, pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll.

Adapun pelaksanaan pendidikan multikultural tidaklah harus mengubah kurikulum. Pelajaran pendidikan multikultural dapat terintegrasi pada mata pelajaran lainnya. Hanya saja diperlukan pedoman bagi guru untuk menerapkannya. Yang pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif, terutama memberikan kemampuan peserta didik dalam membangun kolaboratif dan memiliki komitmen nilai yang tinggi dalam kehidupan masyarakat yang serba majemuk; 4). Memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia dalam penyelesaian dan mengelola konflik yang bernuansa SARA yang timbul di masyarakat dengan cara meningkatkan empati dan mengurangi prasangka

B.    Implementasi Pendidikan Multikultural dl Madrasah Ibtidaiyah

Pendidikan multikultural merupakan salah satu pendidikan yang penerapannya dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis budaya. Pembelajaran Berbasis Budaya merupakan strategi penciptaan lingkungan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pembelajaran Berbasis Budaya dilandaskan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental bagi pendidikan, ekspresi dan komunikasi suatu gagasan, serta perkembangan pengetahuan.

Pembelajaran Berbasis Budaya dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu belajar tentang budaya, belajar dengan budaya, belajar melalui budaya, belajar berbudaya. Belajar tentang budaya menempatkan budaya sebagai bidang ilmu. Budaya dipelajari dalam program studi khusus, tentang budaya dan untuk budaya. Dalam hal ini, budaya tidak terintegrasi dengan bidang ilmu lain. Belajar dengan budaya terjadi pada saat budaya diperkenalkan kepada siswa sebagai cara atau metode untuk mempelajari pokok bahasan tertentu. Belajar dengan budaya meliputi pemanfaatan beragam bentuk perwujudan budaya. Dalam belajar dengan budaya, budaya dan perwujudannya menjadi media pembelajaran dalam proses belajar, menjadi konteks dari contoh-contoh tentang konsep atau prinsip dalam suatu mata pelajaran, serta menjadi konteks penerapan prinsip atau prosedur dalam suatu mata pelajaran.

Misalnya, untuk memperkenalkan bentuk bilangan (bilangan positif, bilangan negatif) dalam suatu garis bilangan, digunakan Cepot (tokoh jenaka dalam wayang Sunda). Cepot akan memandu siswa berinteraksi dengan garis bilangan dan operasi bilangan dalam mempergunakan sempoa (alat untuk menghitung yang biasa digunakan oleh orang Tionghoa). Pengajar dapat menunjukkan kedudukan satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya dan menunjukkan cara penambahan dan pengurangan bahkan untuk perkalian dan pembagian.
Contoh lain, seorang pengajar pelajaran fisika menggunakan angklung, calung atau berbagai bentuk dan ukuran gong untuk memperkenalkan konsep bunyi, gelombang bunyi, dan gema. Guru seni suara pun bisa menggunakan angklung itu untuk memperkenalkan nada dan mengiringi lagu.

Belajar melalui budaya merupakan strategi yang memberikan kesempatan siswa untuk menunjukkan pencapaian pemahaman atau makna yang diciptakannya dalam suatu mata pelajaran melalui ragam perwujudan budaya. Belajar melalui budaya merupakan salah satu bentuk multiple representation of learning (Ditjen Dikti, 2004), atau bentuk menilaian pemahaman dalam beragam bentuk. Misalnya siswa tidak perlu mengerjakan tes untuk mengerjakan topik tentang lingkungan hidup, tetapi siswa dapat membuat poster, membuat karangan, lukisan, lagu atau puisi yang melukiskan tentang lingkungan hidup. Mereka bebas mengekspresikan lewat karyanya tentang kekeringan, banjir, hutan yang gundul, gunung yang asri dan sebagainya. Dengan menganalisis produk budaya yang diwujudkan siswa, pengajar dapat menilai sejauh mana siswa memperoleh pemahaman dalam topik lingkungan, dan bagaimana siswa menjiwai topik tersebut.

Belajar berbudaya merupakan bentuk mengejavvantahan budaya itu dalam perilaku nyata sehari-hari siswa. Misalnya, anak dibudayakan untuK selalu menggunakan bahasa krama inggil pada hari Sabtu melalui Program Sabtu Budaya.

C.    Problem Pendidikan Multikultural di Madrasah Ibtidaiyah
Mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah mungkin saja akan mengalami hambatan atau kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi antara lain sebagai berikut :

1.    Perbedaan Pemaknaan terhadap Pendidikan Multikultural
Perbedaan pemaknaan akan menyebabkan perbedaan dalam mengimplementasikannya. Multikultural sering dimaknai orang hanya sebagai multi demokratisasi, dan saling menghargai. Hal tersebut sangat berharga bagi bekal hidup mereka di kemudian hari dan sangat penting untuk tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan multikultural terutama di madrasah ibtidaiyah tidak cukup menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran tertentu, tetapi perlu diimplementasikan secara integral ke dalam berbagai materi pembelajaran yang relevan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Tidak ada salahnya, peserta didik diajak berdialog dan belajar menumbuhkan kepekaannya terhadap kasus kekerasan yang terjadi. Bagaimana respon dan sikap peserta didik terhadap aksi-aksi kekerasan yang terjadi bisa dijadikan sebagai masukan berharga dalam proses pembelajaran berbasis pendidikan multikultural. Guru perlu memberikan kebebasan kepada subjek didik untuk merespon dan menyikapinya, sehingga mereka merasa dihargai dan diperlakukan sebagai sosok yang amat dibutuhkan kehadirannya dalam proses pembelajaran.

Rumusan Masalah:
1)    Apakah pentingnya pembelajaran multikultural di Madrasah Ibtidaiyah?
2)    Bagaimana implementasi pendidikan multikultural di Madrasah Ibtidaiyah?
3)    Apakah problem pendidikan multikultural di Madrasah Ibtidaiyah?


PEMBAHASAN
A.    Urgensi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Madrasah
Tenaga kependidikan, khusus guru berkewajiban memberi sumbangan pikiran, mencari inovasi baru dalam pelaksanaan pendidikan, dalam hal ini model pembelajaran pendidikan multikultural. Hal ini tidak hanya kewajiban dari disiplin ilmu-ilmu humaniora, tetapi menjadi kewajiban semua disiplin ilmu karena pada dasarnya tidak ada ilmu yang bebas dari nilai, khususnya nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, kepedulian sekolah, dalam hal ini guru mengimplementasikan nilai-nilai multikultural dalam berbagai kesempatan yang ada di sekolah sangat mendukung dimilikinya nilai-nilai multikultural tersebut pada setiap siswa.
Dengan pembelajaran mutikultural para siswa dan lulusan madrasah akan dapat memiliki sikap kemandirian dalam menyadari dan menyelesaikan segala problem kehidupannya, melalui berbagai macam cara dan strategi pendidikan serta mengimplementasikanya yang mempunyai visi dan“ misi yang selalu menegakkan dan menghargai pluralisme, demokrasi dan humanisme.  Diharapkan para generasi penerus menjadi ’’Generasi Multikultural” yang menghargai perbedaan, selalu menegakan nilai- nilai demokrasi, keadilan dan kemanusiaan yang akan datang.

Pembelajaran multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antargolongan. Rasional tentang pentingnya pembelajaran/pendidikan multikultural, karena startegi pendidikan ini dipandang memiliki keutamaan-keutamaan, terutama dalam:
1)    Memberikan terobosan baru pembelajaran yang mampu meningkatkan empati dan mengurangi prasangka siswa atau mahasiswa sehingga tercipta manusia (warga negara) antarbudaya yang mampu menyelesaikan konflik dengan tanpa kekerasan (nonviolent);
2)    Menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang potensial dalam mengedepankan proses interaksi sosial dan memiliki kandungan afeksi yang kuat. dirasa tidak perlu membenkan pendidikan multikultural pada mereka. Padahal pengertian pendidikan multikultural lebih luas dan itu. H.AJH. Tilaar mengatakan bahwa pendidikan multikultural tidak lagi semata-mata terfokus pada perbedaan etnis yang berkaitan dengan masalah budaya dan agama, tetapi lebih luas dan itu. Pendidikan multikultural mencakup arti dan tujuan untuk mencapai sikap toleransi, menghargai keragaman, dan perbedaan, menghargai HAM, menjunjung tinggi nilai- nilai kemanusiaan, menyukai hidup damai, dan demokratis. Jadi, tidak sekadar mengetahui tata cara hidup suatu etnis atau suku bangsa tertentu.

2.    Munculnya Gejala Diskontinuitas
Dalam pendidikan multikultural yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan sering teijadi diskontinuitas nilai budaya. Peserta didik memiliki latar belakang sosiokultural di masyarakatnya sangat berbeda dengan yang terdapat di sekolah sehingga mereka mendapat kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah. Tugas pendidikan, khususnya sekolah cukup berat. Di antaranya adalah mengembangkan kemungkinan terjadinya kontinuitas dan memeliharanya, serta berusaha menyingkirkan diskontinuitas yang teijadi. Untuk itu, berbagai unsur pelaku pendidikan di sekolah, baik itu guru, kepala sekolah, staf, bahkan orangtua dan tokoh masyarakat perlu memahami secara seksama tentang latar belakang sosiokultural peserta didik sampai pada tipe kemampuan berpikir dan kemampuan menghayati sesuatu dari lingkungan yang ada pada peserta didik. Sekolah memiliki kewajiban untuk meratakan jalan untuk masuk ke jalur kontinuitas.

Di samping itu, upaya tersebut perlu dilakukan pula terkait dengan penciptaan konsistensi dalam menyediakan kondisi dan situasi bagi peserta didik yang kondusif dan suportif demi terpeliharanya kontinuitas budaya antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

3.    Rendahnya Komitmen Berbagai Pihak
Pendidikan multikultural merupakan proses yang komprehensif sehingga menuntut komitmen yang kuat dari berbagai komponen pendidikan di sekolah. Hal   kadang sulit untuk dipenuhi karen ketidak samaan komitmen dan pemahaman tentang hal tersebut. Berhasilnya implementasi pendidikan multikultural sangat bergantung pada seberapa besar keinginan dan kepedulian masyarakat sekolah untuk melaksanakannya, khususnya adalah guru-guru.
Arah kebijakan pendidikan di Indonesia di masa mendatang menghendaki terwujudnya masyarakat madani, yaitu masyarakat yang lebih demokratis, egaliter, menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan, serta menghormati perbedaan. Bila berbagai elemen yang terlibat dalam pendidikan menyadari akan hal ini, maka sebenarnya komitmen tinggi untuk pelaksanaan pendidikan multikultural akan mudah dicapai sebab dalam pendidikan multikultural nilai-nilai masyarakat madani itu yang ingin ditanamkan pada siswa sejak dini.

4.    Kebijakan-kebijakan yang suka akan keseragaman

Sudah sejak lama kebijakan pendidikan atau yang terkait dengan kepentingan pendidikan selalu diseragamkan, baik yang berwujud benda maupun konsep-konsep.Dengan adanya kondisi ini, maka para pelaku di sekolah cenderung suka pada keseragaman dan sulit menghargai perbedaan. Sistem pendidikan yang sudah sejak lama bersifat sentralistis, berpengaruh pula pada sistem perilaku dan tindakan orang- orang yang ada di dunia pendidikan tersebut sehingga sulit menghargai dan mengakui keragaman dan perbedaan.
Oleh karena itu, untuk pelaksanaan pendidikan multikultural yang sarat dengan nilai-nilai penghargaan terhadap rasa kemanusiaan, perbedaan, dan keragaman akan menjadi kurang disukai dan kurang dianggap penting.

A.    Kesimpulan :
Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1)    Pembelajaran multikultural isme sangatlah penting diberikan pada jcjang pendidikan SD/MI agar peserta didik memiliki sikap kemandirian dalam menyadari dan menyelesaikan problem kehidupan serta mampu menghargai perbedaan, selalu menegakkan nilai-nilai demokratis, keadilan dan kemanusiaan.
2)    Implementasi pendidikan multikultural di Madrasah Ibtidaiyah dapat dilakukan salah satunya dengan cara Pembelajaran Berbasis Budaya. Pembelajaran ini dibedakan menjadi 4 macam kegiatan yaitu : belajar tentang budaya, dengan budaya, melalui budaya dan belajar berbudaya. Dan masih banyak cara-cara yang lain dalam rangka penerapan pembelajaran multikulturalisme di jenjang pendidikan dasar ini.
3)    Muncul beberapa kendala dan hamabatan dalam pelaksanaan pendidikan multikultural di Madrasah Ibtidaiyah. Tetapi kendala dan hambatan tersebut hendaknya menjadi motivasi tersendiri dalam rangka mewujdukan generasi muda yang mampu menghargai perbedaan, pluralisme, humanis dan demokratis.
B. Saran-saran
1)    Model pendidikan multikultural hendaknya dapat dijadikan kebijakan dalam proses pembelajaran untuk membudayakan pendidikan multikultural sejak dini
2)    Guru hendaknya dapat mempraktikkan dan memberikan contoh kepada siswa, bagaimana bersikap dan bertindak multikultur dalam setiap kondisi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
3)    Dalam proses pembelajaran hendaknya guru senantiasa mengkontekskan dengan kondisi multikultural, sehingga proses pembudayaan pendidikan multikultural ini dapat lebih mudah terimplementasikan.
4)    Sekolah hendaknya mendukung kegiatan kegiatan multikultural yang dilakukan.
5)    Karena pendidikan multikultural yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi alternatif penyelesaian banyaknya persoalan perbedaan yang dialami bangsa


Daftar Pustaka
Asy’arie Musa, Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa, www. kompas.co.jd, 2004
Fajar, Malik A, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta:LP3NI, 1998
Fraire, Paulo, Politik Pendidikan : Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Teg.
Agung Prihantono, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002 Tilaar, H.A.R, Perubahan Sosial dan PendidikanrPengantar Paedagogik Transformasi untuk Indonesia, Jakarta: Grasingo, 2002.
Mahmud, Choirul, Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2009 Naim, Ngainun dan Achmad sauqi, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: A-Ruzz Media, 2008
Yaqin, Ainul, Pendidikan Multikultural, Cross Cultur Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, Yogyakarta:Pilar Media, 2005
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH Reviewed by Kharis Almumtaz on May 01, 2020 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.