Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTUR



KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTUR

PEMBAHASAN

A.    KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL 

1.      Kurikulum Pendidikan Islam
Secara struktural kurikulum pendidikan Islam formal dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama yang sekaligus menjadi karakteristik, yaitu (1) pembentuk kepribadian islami; (2) tsaqafah Islam; (3) ilmu kehidupan (iptek, keahlian, dan ketrampilan). Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang terus menerus diberikan untuk semua tingkat, muatan tsaqafah Islam dan ilmu terapan/ilmu kehidupan diberikan secara bertingkat.

Untuk meneropong persamaan dan perbedaan kurikulum pendidikan secara umum, ada tida varian lembaga pendidikan yang berkembang di Indonesia. Pertama, madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang sifatnya formal, berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag), tentu saja kurikulum yang dikembangkan adalah mata pelajaran agama dan disamping itu diajarkan pulav ilmu-ilmu umum. Kedua, sekolah umum yang di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), juga menerapkan bermacam-macam kurikulum sesuai dengan kebutuhan yang mempunyai relevansi dengan kehidupan, seperti Ilmu Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika, Biologi, Ilmu Agama, dan lain sebagainya. Hal ini berguna untuk memenuhi ketentuan pembangunan dan kemajuan ilmu teknologi atau untuk memenuhi tantangan zamannya.
2.      Kurikulum Pendidikan Islam Berbasis Multikultural
Kurikulum penidikan Islam kurang begitu relevan dengan kondisi zaman, sebab fakta-fakta yang teijadi di lapangan terkesan bahwa penididikan Islam hanya berusaha mengembangkan metode pembelajaran mengenai aspek keagamaan saja (aspek ‘ubudiyah) yang sifatnya fertkal (hablum minallah), sementara aspek sosial  (muamalah) kurang begitu diperhatikan yang sifatnya horizontal (hablum minannas). Dua hal tersebut tidak beijalan seimbang satu sama lain. Maka teijadilah kecemburuan sosial, truth claim yang sering mengatas namakan agama, serta merasa paling benar di antara kelompok-kelompok yang berbeda pemahaman. Disinilah kemudian akan terjadi menyempitnya suatu pemahaman ajaran Islam, yang seharusnya mengedepankan rasa toleransi antar-umat beragama, saling menghargai antar-suku, budaya, bahasa, dan etnik.
Gus Dur dan Pendidikan Islam mengemukakan bahwa ada beberapa prinsip yang harus betul-betul dikembangkan dalam kurikulum pendidikan, khususnya pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:
a.       Berpusat pada potensi, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dalam lingkungannya.
b.      Beragam dan terpadu.
c.       Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d.      Relevan dengan kebutuhan hidup.
e.       Menyeluruh dan berkesinambungan.
f.        Belajar sepanjang hayat.
g.      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Proses pengembangan kurikulum tersebut akan memudahkan pendidik untuk memberikan materi yang berpusat pada potensi peserta didik yang mempunyai keragaman dan terpadu, yang mempunyai kepekaan terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan sains sehingga hal itu mempunyai relevansi yang kuat terhadap konteks saat ini dan menjadi suatu kebutuhan. Namun, pengembangan kurikulum diharapkan terus berlanjut dan berkesinambungan. Artinya, pengembangan tersebut terus menerus berlangsung sepanjang hayat.
Oleh sebab itu, perlu adanya keseimbangan dalam proses pengembangan kurikulum sehingga bisa memberikan yang terbaik bagi peserta didik, sesuai dengan keragaman budaya, etnik, suku, bangsa, dan tradisi yang berada pada tiap-tiap lingkungan yang berkembang di daerah masing-masing, sebagai suatu kekayaan yang tak ternilai keberadaannya dan menjadi aset besar bagi bangsa Indonesia yang terkenal akan kemajemukan masyarakatnya.
B.     METODE PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF GUS DUR
Berbicara mengenai prinsip-prinsip dasar pendidikan dasar pesantren, hal ini tidak terlepas dari kitab-kitab klasik atau literatur universal pesantren yang merupakan latar belakang kultural sistem nilai yang dikembangkan di pesantren. Untuk mempelajarinya, para santri mempunyai keyakinan bahwa bimbingan para kiai adalah syarat utama untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut dengan baik dan benar. Asetisme yang digunakan sebagai pilihan ideal bagi pola kehidupan umum dilanda krisis di masyarakat sekitarnya, akhirnya menumbuhkan pesantren sebagai unit budaya yang berdiri terpisah dari dan pada waktu yang bersamaan akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Peranan berganda inilah yang sebenar-benarnya dapat dikatakan menjadi ciri utama pesantren sebagai sebuah sub kultur. Dalam menjalankan peranan ganda ini, pesantren terlibat dalam proses penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama, yaitu peniruan, adalah usaha yang dilakukan terus-menerus secara sadar utuk memindahkan pola kehidupan para sahabat Nabi Saw dan para ulama salaf ke dalam praktik kehidupan di pesantren, tercermin dalam hal berikut: ketaatan beribadah ritual secara maksimal, penerimaan atas kondisi materiil yang serba kurang, dan kesadaran kelompok (esprit de corps) yang tinggi. Unsur kedua, pengekangan (ostracization), yang memiliki perwujudan utama dalam disiplin sosial. Kesetiaan tunggal pada pesantren adalah dasar pokok disiplin ini.
Metodologi pendidikan diartikan seagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya proses belajar mengajar. Atas dasar inilah, metodologi pendidikan Islam harus didasarkan dan disesuaikan dengan hal-hal berikut:
a)      Metodologi Islam didasarkan pandangan bahwa manusia dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan dengan itu ia mampu berkembang.
b)      Motedologi pendidika Islam didasarkan pada karakteristik masyarakat madani, yaitu manusia yang bebas dari ketakutan, bebas berekspresi dan bebas menentukan arah kehidupannya.
c)      Metodologi pendidikan Islam didasarkan pada learning competency, yakni peserta didik akan memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan, sikap, wawasan, dan penerapannya sesuai dengan kriteria atau tujuan pembelajaran.
Mastuhu mengusulkan konsep pemikiran metodologi pendidkan Islam yang sifatnya lebih teknis, yaitu sebagai berikut. Pertama, bagi studi pendidikan Islam, tidak ada pemisahan istilah pendidikan dan pengajaran. Kedua, dalam melaksanakan metodologi pendidikan dan pengajaran Islam harus dipergunakan paradigma holistik. Artinya, memandang kehidupan sebagai suatu kesatuan, sesuatu yang kongkret dan dekat dengan kepentingan hidup sehari-hari sampai dengan hal-hal abstrak dan transendental. Ketiga, perlu digunakan model penjelasan yang rasional di samping pelatihan dan keharusan melaksanakan ketentuan-ketentuan doktrin spiritual dan moral peribadatan. Keempat, perlu digunakan teknik pembelajaran partisipatoris.
Strategi-strategi lain yang dijelaskan oleh Gus Dur dalam kaitannya dengan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam, guna untuk menegakkan syiar Islam adalah sebagai berikut.
1.         Strategi Politik
Disini ditekankan pentingnya formalisasi ajaran-ajaran Islam ke dalam lembaga- lembaga negara. Hal demikian ini merupakan dasar bagi terbentuknya partai-partai Islam di Indonesia. Orang-orang Islam khususnya, warga nahdliyin, harus belajar mengenai moral Islam yang benar dan sekaligus mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Gus Dur adalah sosok plural yang berjuang hanya demi kemaslahatan umat. Salah satu metode pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur, yaitu pendidikan Islam hamslah beragam, mengingat penduduk bangsa Indonesia yang majemuk secara geografis. Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur haruslah mempunyai metode yang mampu mengakomodasi seluruh kepentingan-kepentingan masyarakat Indonesia, khususnya dalam pendidkan Islam. Gus Dur mengambil sikap dan langkah yang berbeda dengan mayoritas aktivis Islam karena memiliki dasar yang kuat. Wawasannya sangat luas karena ia memahami dengan baik teks-teks kegamaan dan khazanah intelektual Islam, baik klasik maupun kontemporer.
Pemahamannya terhadap banyak khazanah intelektual Islam dan juga khazanah intelektual secara umum membuatnya menjadi pribadi yang berpandangan komprehensif terhadap berbagai persoalan yang ada. Oleh karena itu, Gus Dur memandang keberagaman harus mendapat perlindungan dan tak ada yang memiliki hak untuk menindas, apalagi menidakan sesutu karena alasan perbedaan walaupun yang berbeda secara numerik hanya sejumlah kecil saja. Strategi politik merupakan wahana untuk menyatukan umat dalam bingkai perbedaan. Secara metodologis, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mempunyai semangat yang tinggi ketika Gus Dur memimpin negara ini. Hal tersebut merupakan salah satu anugerah yang harus dikembangkan mengingat masyarakat di negeri ini sangatlah plural.
2.         Strategi kultural
Srtategi ini dirancang bagi pengembangan kepribadian orang-orang Islam, yakni dengan cara memperluas pengetahuan mereka. Artinya, mereka harus mampu bersaing dengan dunia luar dan tidak hanya fokus pada literatur universal mereka. Mereka harus membuka diri dengan seluruh ideologi-ideologi pemikiran barat dengan tujuan memberdayakan umat Islam, agar dapat lebih mudah untuk mengakses segala macam pengetahuan dan informasi. Pada strategi kultural, konsep inklusifitas dalam pandagan Gus Dur, artinya pendidikan Islam jangan terjebak pada literatur universal yang dimiliki. Akan tetapi harus membuka cakrawala pemikiran kita untuk melihat perkembangan dunia dan mengakses berbagai macam ideologi dunia, sebagai bentuk pengetahuan dan informasi supaya mampu bersaing secara kompetitif dengan dunia luar.  Tentu saja hal tersebut dirancang sebagai pengembangan kepribadian orang- orang muslim yang ideal.
Dalam salah satu karya monumentalnya, Al-Mustasyfa ( jilid I, hal. 287), Al- Ghazali menyebutkan tujuan syariat diturunkan kepada manusia adalah untuk melindungi lima hal, yaitu: (1) agama dan keyakinan, (2) jiwa, (3) akal, (4) keturunan dan (5) harta atau hak milik pribadi. Dengan demikian, Islam dalam pandangan Gus Dur sangat melindungi kebebasan beragama, berkeyakinan, berprofesi dan berfikir. Islam sangat melindungi hak-hak asasi manusia (HAM).
Sesuai dengan tujuan syariat diatas, disebutkan bahwa: Pertama, Gus Dur sangat mengedepankan toleransi beragama dan menjunjung tinggi komunikasi dengan kelompok agama yang berbeda. Bagi Gus Dur, kebesaran Islam dimasa lampau bisa dimungkinkan karena peradaban Islam mampu menyerap nilai-nilai dari peradaban agama lain. Kedua, Gus Dur adalah tokoh agama yang sangat anti-kekerasan. Bagi Gus Dur, kekerasan bukan hanya bertentangan secara diametral dengan ajaran Islam, tetapi juga merugikan Islam itu sendiri, Gus Dur selalu mengedepankan dialog, baik antar-umat beragama maupun antar-agama. Menurut Gus Dur, pertentangan pendapat tidak semuanya harus diselesaikan dengan melarang atau menyesatkan kelompok lain. Toleransi justru bisa lebih membawa hasil. Bagi Gus Dur, hak hidup dan menjalankan ajaran agama yang diyakini merupakan hak dasar yang di jamin sepenuhnya oleh syariat.
Ketiga, demokrasi adalah bagian dari manifestasi tujuan syariat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dalam pandangan Gus Dur, dalam dunia modem demokrasilah yang dapat mempersatukan keberagaman arah kecenderungan kekuatan- kekuatan bangsa demokrasi dapat merubah ketercerai-beraian arah masing-masing kelompok menjadi berputar bersama-sama menuju kedewasaan, kemajuan dan integritas bangsa. Demokrasi menjadi sedemikian penting dalam sebuah negara yang pluralistik dan multikultural ini, karena ternyata perikehidupan kebangsaan yang utuh hanya bisa tercapai dan tumbuh dalam suasana demokrasi.
Keempat, Gus Dur adalah penjaga tradisi, di mana menurut pandangannya, agama dan budaya beresifat saling melengkapi. Menurutnya, agama (Islam) dan budaya mempunyai independensi masing-masing, tetapi keduanya mempunyai wilayah tumpang tindih. Manusia tidak bisa beragam tanpa budaya, karena kebudayaan merupakan kretifitas manusia yang bisa menjadi salah satu bentuk
ekspresi keberagaman. Tetapi tidak dapat disimpulkan bahwa agama adalah kebudayaan. Di antara keduanya terjadi tumpang tindih dan saling mengisi namun tetap memiliki beberapa perbedaan. Agama bersumber pada wahyu dan memiliki norma-norma sendiri. Norma-norma bersifat normatif, karenanya ia cenderung menjadi permanen. Sedangkan budaya adalah kreativitas manusia, karenanya ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung selalu berubah. Perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya. Dengan kata lain perspektif demikian menempatkan agama sesuai dengan fungsinya sebagai wahana pengayom tradisi bangsa dan pada saat yang sama agama menjadikan kehidupan berbangsa sebagai wahana pematangan dirinya.
Kelima, menurut Gus Dur, Islam lebih efektif dan membumi jika berfungsi sebagai etika sosial. Hukum agama, kata Gus Dur, tidak akan kehilangan kebesarannya dengan difungsikan sebagai etika masyarakat. Bahkan kebesarannya akan memancar karena ia mampu mengembangkan dirinya tanpa dukungan massif dari institusi negeri. Bagi Gus Dur, beragama Islam artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah, adalah tujuan hidup yang luhur. Karenanya haruslah dihindarkan agar Islam tidak diletakkan di bawah wewenang negara, melainkan menjadi kesadaran kuat dari warga masyarakat. Yang juga khas dari Gus Dur adalah adalah pemikirannya yang bersumber dari nilai-nilai tradisional dalam pandangan hidup pesantren yang di perkaya dengan nilai-nilai dari agama, budaya dan peradaban lain. Keterbukaan sikap dan pemikiran Gus Dur dengan sendirinya merupakan bawaan dari keterbukaan pandangan hidup pesantren dan masyarakat darimana ia berasal.
Sementara itu pada aspek pendidikan, khususnya pendidikan Islam, pemikiran Gus Dur tetap menyandarkan pada nilai-nlai tradisi yang melekat pada masyarakat, khususnya masyarakat Jawa yang masih kental dengan budaya dan tradisinya. Pendekatan kultural ini seyogyanya menjadi pilihan strategi untuk mengembangkan, membina dan mengarahkan pendidikan Islam guna membentuk masyarakat yang lebih bermartabat dan mempunyai nilai-nilai yang selaras dengan ajaran agama Islam.
Pembentukan maindset masyarakat Jawa sudah dimulai sejak adanya manusia pribumi di pulau ini. Kebiasaan yang dibiasakan akan menjadi perilaku dan sikap sehingga melahirkan tradisi. Tradisi yang dilestarikan akan menjadi kebudayaan dan menjadi ruh serta akan menjadi landasan berfiikir, landasan berperilaku, menjadi hukum kausalitas, dan menjadi hukum-hukum sosial yang tak terbantahkan oleh masyarakat. Adapun proses selanjutnya, berkenaan dengan pendekatan kultural bisa dikatakan sangat menyentuh dan selaras dengan perkembangan masyarakat, terutama masyarakat Jawa yang masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisinya. Di samping itu pula, gagasan tentang modernisasi juga menjadi hal yang tidak terbantahkan. Dengan demikian, nilai klasik dan modem ini tems berevolusi dan menjadi kerangka berfikir manusia Indonesia secara keseluruhan. 
3.         Strategi Sosio-Kultural
Gus Dur menempatkan pesantren pada sebuah tempat eksklusif dalam kognisi Gus Dur. Pemikiran-pemikiran Gus Dur masih terbuka bagi siapa saja yang ingin memperebutkan dan memperjuangkan budaya-budaya Islam tradisional, khususnya budaya pesantren. Akan tetapi, tidak menutup mata terhadap kondisi dan perkembagan zaman yang tems mengalami pembahan. Oleh karena itu, umat Muslim haruslah menerima segala bentuk perbedaan, dengan tidak mengesampingkan esensi ajaran- ajaran Islam sebagai fondasi dan pedoman kehidupan sehari-hari. Hal tersebut merupakan langkah-langkah metodologis dalam pengembangan pembaruan pendidikan Islam yang berpijak pada Al-Quran dan hadits pada satu sisi, dan melihat dunia luar yang luas terhadap perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan.
Srtategi sosio-kultural adalah salah satu cara menyatukan rakyat Indonesia. Dengan tetap bersemboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu, kita hams menjaga keseimbangan antara ideologi negara dengan nilai-nilai Islam yang menjadi keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia. Dari keberagaman yang majemuk ini mampu menyat& dalam satu kepentingan, yaitu kepentingan dan sikap nasionalisme sebagai suatu hal pokok menjadi warga negara yang baik.
Pendekatan sosio-kultural dalam pendidikan Islam sangatlah penting adanya, mengingat keberagaman masyarakat yang semakin kuat. Hal yang paling esensi adalah keberagaman dalam corak pemikiran untuk menghasilkan sesuatu yang mampu menjadi harapan dan keinginan serta cita-cita ideal bangsa ini mampu teijawab lewat jalur pendidikan Islam.
Reformasi pada tahun 1998 melahirkan perubahan yang begitu besar terhadap perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan pertumbuhan masyarakat di Indonesia, serta perubahan sistem tata negara yang berpengaruh terhadap kondisi masyarakat. Salah satu hal pada aspek sistem kenegaraan, yaitu lahirnya desentralisasi yang merupakan proses perubahan dari sentralisasi. Sementara itu, misi dari desentralisasi, khususnya dalam pendidikan, adalah menngkatkan pasrtisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, serta terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman, seperti terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokrasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orang tua dalam kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan.
Hal di atas esensinya sejalan dengan pembangunan nasional yang bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya, atau lebih khusus dibandingkan dengan pendidika nasional, jelas sekali relevansi dan kesesuaiannya. Dalam GBHN 1983 dinyatakan.’’Pendidikan nasional berdasarkan pancasilasebagai ideologi negara dan bertujuan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Pada konsep di atas, jelas apayang ingin dicapai, yakni terbentuknya manusia atau generasi penerus bangsa yang tinggi taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas dan terampil, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, serta memiliki semangat kebangsaan. Semua hal tersebut bertujuan menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun kepribadiannya. Oleh karena itu, dalam aspek sosio-kultural, pendidikan Islam adalah suatu lembaga yang harus mempu seimbang antara pendidikan jasmani, ruhani, mental dan spiritual sehingga pendidikan silam dalam eksistensinya mampu membina dan mengarahkanpeserta didik untuk mengenal realitas dirinya dan lingkungan sekitarnya, pada satu sisi sebagai makhuk individual dan pada aspek yang lain sebagai manusia sosial yang harus diwujudkan ke dalam dunia nyata.



PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Kurikulum pendidikan islam berbasis multikultural, mempunyai prinsip sebagai berikut:
a)      Berpusat pada potensi, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dalam lingkungannya.
b)      Beragam dan terpadu.
c)      Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d)      Relevan dengan kebutuhan hidup.
e)      Menyeluruh dan berkesinambungan.
f)       Belajar sepanj ang hayat.
g)      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
2.      Metode pendidikan Islam perspektif Gus Dur yang meliputi 3 aspek, yaitu: strategi politik, strategi kultural, strategi sosio-kultural.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Wahid, 2001, Menggerakkan Tradisi; Esai-Esai Pesantren, Yogyakarta, LkiS.
Faisol, 2011, Gus Dur dan Pendidikan Islam, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media.
Muhaimin Iskandar, 2010, Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur, Yogyakarta, LkiS.
Quraish Shihab, 2002, Membumukan Al-Qur’an;Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Jakarta, Mizan.

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTUR Reviewed by Kharis Almumtaz on March 02, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.