Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PAI Dalam Konteks Perbedaan Pemahaman Agama

Latar Belakang


Almumtaz.WIKI - Perbedaan Pemahaman Agama islam hadir sebagai rahmatallil 'alamin, kehadirannya menyatukan yang saat itu terpecah, mendamaikan diantara perselisihan, membawa kabar kembira dan membawa sebuah peringatan akan adanya akhirat. Hadir membawa sebuah tata aturan atau syari’at yang akan dibebankan bagi setiap umat muslim.

Agama Islam diturunkan melalui seorang yang teipilih, yakni Nabi Muhammad SAW di kota Makkah. Sebuah kota yang terletak ditengah-tengah garis perjalanan dagang. Pedagang-pedagangnya pergi keselatan membeli barang-barang yang datang dari Timur, yang kemudian mereka bawa ke Utara untuk dijual di Syria.

Dari dagang transit ini Kota Makkah menjadi kaya, dan proses transit ini mengakibatkan pula banyaknya komunikasi antara masyarakat Makkah dan penduduk luar Makkah, dalam sejarahpundisebutkan bahwa Makkah sangat kaya akan budaya, sehingga corak  pemikirannya pun juga beragam.

Agama Islam yang hadir dengan adanya syari’at, mengatur berbagai hal mengenai kehidupan bukan hanya masalah hablumminallah namun juga '          hablum minannaas,pembahasan yang menyeluruh dalam syari’at Islam ini tak dapat ingkari pula adanya

perbedaan-perbedaan pemahaman dan aplikasinya. Bahkan perbedaan ini sudah muncul sejak masa umm&t muslim generasi pertama, yakni para sahabat pada zaman  Rasulullah SAW. Para sahabat rasulullah SAW sendiri dalam memberikan suatu fatwa pernah berlainan pendapat antara yang satu dengan yang lain, namun perbedaan pendapat sekali-kali tidaklah harus merintangi bersatu padunya hati dengan sikap saling mengasihi dan tolong-menolong dalam kebaikan. Perbedaan pendapat sekali-kali tidak menghidangi tercakupnya kita semua dalam pengertian Islam yang amat luas dengan semua pembatasannya yang utama  itu.

Dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai pendidikan agama islam dalam konteks perbedaan pemahaman Agama, sebagaimana kita ketahui dari perbedaan-perbedaan yang ada dalam memahami teks atau nash al qur’an dan sunnah kemudian lahirlah beberapa aliran-aliran teologi dan beberapa madzhab yang berkembang hingga saat ini.



PEMBAHASAN


(Internal)
Perbedaan pendapat atau , secara bahasa ikhtilaf diambil dari kata fi’il madhi kemudian berwazan , jika di tashrif, bentuknya adalah (iqtilafu- yahtalifu-ihtilafan) sebagaimana disebut dalam kamus. Perbedaan pendapat dalam pemahaman terhadap agama sudah berlangsung sejak zaman Rasulullah, semisal saja perbedaan pendapat yang pernah terjadi antara Umar bin Khaththab dan Abu Bakar, antara Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

Mengenai perbedaan ini kemudian dijadikanlah sebuah ilmu dalam fiqh yang disebut dengan fiqh ikhtilaf, yakni perbedaan pendapat yang sudah dikenal sejak abad terbaik umat, yakni masa para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab. Perbedaan ilmiah yang terjadi dikalangan mereka tidak pernah menimbulkan dampak negatif samasekali. Kealphaan dalam menekuni fiqh ikhtilaf menyebabkan kita saling bermusuhan hanya lantaran masalah-masalah kecil atau tanpa sebab sama sekali.

Perbedaan dalam pemahaman agama adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari, seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mampu menjadikan agama ini satu bentuk dan sisi pemahaman yang tidak memungkinkan adanya perbedaan dan tidak memerlukan . Seandainya Allah  menghendaki kesepakatan kaum muslimin, dalam segala hal, sekalipun menyangkut masalah-masalah Juru’ atau    yang tidak asasiyah, niscaya Dia menurunkan kitabnya dalam bentuk nash-nash yang semuanya muhkamat dan pasti penunjukkannya sehingga tidak akan menimbulkan perbedaan pemahaman dan penafsiran. Akan tetapi Allah menghendaki agar didalam kitabNya ada yang muhkamat dan ada pula yang mutasyabihat-sebagian kecil darinya. Bagian-bagian yang mutasyabihat ini, disamping sebagai ujian, juga merupakan pendorong akal untuk melakukan ijtihad (bekeija secara - maksimal).
Dalam perjalanannya peerbedaan pemahaman ini melahirkan beberapa madzhab fiqh, yang berkembang dan masih berlaku hingga sekarang. Beberapa diantaranya ialah:

1.    Madzhab Hanafi
Madzhab Hanafi mendasarkan pada pendapat Abu Hanifah atau lengkapnya Abu Hanifah an Nukman bin Tsabit bin Zufi At Tamimi. Lahir di Kuffah pada tahun 80 H/ 699 M dan wafat 150 H/ 767 M. Dia hidup pada masa pemerintahan Al Mansur dari dinasti Abbasiyah. Para sahabat yang pernah menjadi gurunya adalah: Anas bin Malik, Abdullah bin Aufa, Abu Tufail Amir, dan yang terlama Hammad bin Abu Sulaiman.  Sejak masih kanak-kanak Abu Hanifah telah mengkaji dan menghafal Al Qur’an. Beliau dengan tekun senantiasa mengulang- ulang bacaannya, sehingga ayat-ayat suci tersebut tetap teijaga dengan baik dalam ingatannya, sekaligus menjadikan beliau lebih mendalami makna yang dikandung ayat-ayat tersebut. Dalam hal memperdalam pengetahuannya tentang Al Qur’an beliau sempat  berguru kepada Imam Asin, seorang ulama terkenal pada masa itu.

Dalam berbagai riwayat Abu Hanifah sering menceritakan sumber-sumber hukum yang dijadikan dasar dalam madzhabnya. Al Khathib dalam kitabnya yang berisi sejarah hidup Abu Hanifah menceritakan bahwa imam Abu Hanifah pernah berkata, “ dalam menggali hukum, aku mengambil Al qur’an, jika tidak aku temukan maka aku mengambil dari hadits. Jika pada keduanya tidak ada maka dari perkataan para sahabat Nabi Saw, dalam pengambilan ini aku memilih salah satu pendapat diantara mereka yang aku kehendakidan meninggalkan pendapat lainnya, aku tidak keluar dari satu pendapat sahabat karena mengikuti pendapat sahabat lain. Kemudian apabila permasalahan yang aku cari sampai jawabannya ternyata sampai pada pendapat ibrahim, Asy syaibiy, IbnSirrin, alhasan, ‘Atha’, danSa’idibn alMusayyab (mereka adalah perawi hadits yang adil), dan hukum ; permasalahn tersebut hasil ijtihad mereka maka aku melakukan ijtihad sendiri sebagaimana mereka.

Al Muwaffaq al Makiy menyatakan bahwa, pendapat Abu Hanifah diambil dari orang yang dapat dipercaya dan jauh dari pengecut, serta dengan mempertimbangkan kondisi sosial b. mmasyarakat dimana beliau berada. Sedangkan dalam menyikapi tradisi masyarakat yang dianggap baik beliau memprosesnya dengan menggunakan qiyas, apabila dalam tradisi tersebut qiyas tidak dapat digunakanmaka beliau menyambungkannya dengan istih jika ternyata istihsan juga tidak dapat diterapkan maka beliau mengambil hukum.

dengan merujuk pada kebiasaan umat islam. Disamping itu Abu Hanifah hanya menyampaikan hadits yang terkenal (masyhur) dan telah disepakati. Dengan hadits yang memiliki bobot seperti ini terkadang beliau memainkan teori analogi (Qiyas). Namun jika ternyata giyas tidak dapat diterapkan, maka beliau menyambungkannya dengan istihsan. Hasil hukum permasalahan dari sumber apapun asalkan sesuai, maka beliau gunakan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dasar- dasar pegangan madzhab Hanafi ialah:
a.    Al- Qur’an
Dalam memahami Al Qur’an, Ulama madzhab Hanafi tidak i hanya melakukan interpretasi terhadap ayat-ayat yang masih mujmal, tetapi mereka juga melakukan penelaahan terhadap ‘ aam dan khas ayat al qur’an tersebut. Ayat-ayat Al Qur’an yang berpautan dengan hukum, selain diteliti dari segi ‘amm dan khas nya, juga harus ada usaha karena silatnya mujmal atau agak tersembunyi maknanya, memerlukan tafsir, takwil atau sifat-sifatnya muthlaq memerlukan taqyid. Oleh karena, ulama Hanafiah berpendapat bahwa sunnah bisa  menjadi bayan bagi Al qur’an.  yang Bayan Al Qur’an menurut Hanafi terbagi menjadi 3 bagian :
b.    As sunnah
Tentang dasar yang kedua ini, madzhab Hanafi sepakat mengamalkan As Sunnah yang            dan shahih. Hanya saja imam hanafi sebagaiana ulama hanafiah, agak keras menetapkan syarat syarat yang dipergunakan untuk menerima hadis ahad.
c.    Fatwa sahabat
Dalam mendasarkan suatu hukum Imam Abu Hanifah juga begitu menghargai pendapat para sahabat. Jika terdapat suatu permasalahan, maka dia akan mengambil salah satu pendapat sahabat, dan jika tidak ditemukan ia berijtihad dan mengikuti pendapat tabi’in.
d.    Ijma’
Ulama Hanafiah menetapkan bahwa ijma’ itu dijadikan sebagai hujjah. Mereka tidak membedakan antara macam-macam ijma’. Oleh karena itu, apapun bentuk kesepakatan yang datangnya dari kesepakatan para ulama/ masyarakat, hal itu berhak atas penetapan suatu hukum dan sekaligus menjadi hujjah hukum,
e.    Qiyas
Qiyas ini digunakan ketika tidak ditemukan dasar hukumnya dalam Al qur’an, sunnah, pendapat sahabat, dan ijma’.
f.     Istihsan
Istihsan artinya memandang dan meyakini baiknya sesuatu. Menurut Syatibi, istihsan adalah memberlakukan kemaslahatan parsial ketika berhadapan dengan kaidah umum atau mendahulukan maslahah mur salah dari qiyas.n Salah satu contoh penetapan hukum dengan istihsan diantaranya: pengalihan hukum berdasarkan nash hadits, contohnya dalam kasus seseorang yang sedang berpuasa makan dan minum karena lupa. Menurut giyas, orang tersebut batal puasanya dan harus berbuka, namun berdasarkan istihsan orang tersebut tetap boleh melanjutkan puasanya berdasarkan hadits “bersabda Rasulullah saw: barang siap yang lupa sehingga ia makan dan minum padahal ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia melanjutkan puasanya, bahwasannya Allah telah memberinya makanan dan minuman 
g.    Urf
‘Urf ialah adat kebiasaan, dalam batas-batas tertentu diterima sebagai sumber syari’at bagi madzhab Hanafi. Menurut madzhab Hanafi, ‘urf dapat melampaui qiyas, tetapi tidak dapat melampaui nash al qur’an dan as sunnah.

2.    Madzhab Maliki
Madzhab Maliki merupakan aliran fiqh yang menjadikan pendapat imam Malik bin Anas sebagai acuannya. Imam Malik dilahirkan di Madinah, pada tahun 93 H. beliau berasal dari kabilah Yamaniah. Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majlis-majlis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula beliau telah hafal Al Qur’an. Tak kurang dari itu, ibundanya sendiri yang mendorong Imam Malik untuk senantiasa giat menuntut ilmu. Imam Malik dikenal sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Beliau tak lupa untuk terlebih dahulu meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, dan bermusyawarah dengan ulama lain, sebelum kemudian memberikan fatwa atas suatu masalah. Diriwayatkan, bahwa beliau mempunyai tujuh puluh orang

yang biasa diajak bermusyawarah, untuk mengeluarkan suatu fatwa.  Beberapa dasar hukum Imam Malik yakni:

a.    Al Qur’an. Dalam pandangan Imam Malik, kedudukan Al qur’an adalah atas semua dalil hukum. Ia menggunakan nash sharih (jelas) dan ti dak menerima takwil.
b.    As sunnah
Imam Malik mengambil sunnah yang mutawattir, masyhur, khobar ahad (sebagian besar mendahulukan hadits ahad daripada qiyas), serta mengunakan hadits munqathi’ dan mursal selama tidak bertentangan dengan tardisi orang-orang Madinah
c.    Amal Penduduk Madinah
Imam Malik memegangi tradisi penduduk Madinah sebagai hujjah (dalil) hukum karena amalannya dinukil langsung dari Nabi Saw.
d.    Fatwa Sahabat
Sebagaimana Imam abu Hanifah, Imam Malik juga menjadikan fatwa sahabat sebagai dasar hukum, bahkan Imam Malik mengambil juga fatwa para kibar at tabi’in meskipun derajatnya tidak sampai fatwa sahabat.
e.    Ijma’
Imam Malik paling banyak menyandarkan pendapatnya pada ijma’. Ijma’ ahli Madinah pun dijadikan hujjah dengan syarat amalan Madinah tersebut berdasarkan al qur’an dan sunnah bukan ijtihad (fatwa).
f.     Qiyas, Maslahat Mursalat, dan Istihsan
Secara umum Imam Malik menggunakan maslahat meskipun tidak ada nash atau hadis nabi saw. Karena tujuan syara’ adalah untuk kemaslahatan umat manusia dan setiap     pasti mengandung mashlahat.
g.    Adz-Dzara'i
Sadz Adz Dzarai, dasar istinbath yang sering dipakai oleh Imam Malik, maknanya adalah menyumbat jalan. Wasilahnya haram, haram. Wasilahnya halal, halal. Wasilah kepada kemunkaran haram dan harus dicegah.

3.    Madzhab Syafi’I
Madzhab Syafi’I mengambil pendapat Muhammad ibn Idris Asy Syafi’I sebagai rujukannya. Beliau dilaiiirkan dilahirkan di Ghazzah, pada tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Meski dibesarkan dalam keadaan yatim dan dalam satu keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau merasa rendah diri, apalagi malas. Sebaliknya, beliau bahkan giat mempelajari  hadits yang banyak terdapat di Makkah. Pada usianya yang masih kecil, beliau juga telah hafal al qur’an.

Pendapat-pendapat Imam Syafi’I mulai dikenal tatkala dia dipanggil Khalifah Harun Ar Rasyid ke Baghdad. Khalifah mendengar kehebatan Imam Syafi’I dari orang- orang Yaman. Tak lama kemudian dia pindah ke Makkah dan mengajar rombongan haji yang datang dari berbagai penjuru. Melalui mereka inilah madzhab Syafi’I menjadi terlebas luas. Pada tahun 198 H, Imam Syafi’I pindah ke Mesir dan mengajar di Masjid Amr bin Ash. Di tempat inilah Imam Syafi’I menyusun karya-karyanya dalam bidang fiqh maupun ushul fiqh

Dasar atau sumber yang digunakan dalam melalaikan ijtihad adalah :
a.    Al Qur’an
b.    Sunnah, baik yang mutawatir maupun yang ahad
c.    Ijtna’ sahabat
d.    Qaul sahabi, atau perkataan
e.    Qiyas
f.     Istishab, menggunakan hukum yang sudah ada sampai ada hukum baru yang mengubahnya

4.    Madzhab Hanbali
Madzhab Hanbali merupakan madzhab yang mengacu ' pada pendapat dan pemikiran Abu Abdullah Ahmad Muhammad ibn Hanbal Ibn Hilal Al Syaibani, yang lahir di Baghdad tahun 164 H/ 780 M. pengembaraan keilmuannya dimulai di Bashrah, dan disanalah dia bertemu beberapa kali dengan Imam Syafi’i.

Ahmad bin Hanbal dibesarkan dalam keadaan yatim oleh ibunya, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi. Sejak kecil beliau telah menunjukkan sifat dan pribadi yang mulia, sehingga menarik simpati banyak orang. Dan sejak kecil itu pula beliau telah menunjukkan minat yang besar kepada ilmu pengetahuan. Beliau memulai dengan belajar menghafal Al Qur’an, kemudian belajar bahasa arab, hadits, sejarah nabi dan sejarah sahabat serta para tabi’in.  Ibn Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa pendapat Ahmad Ibn Hanbal dibangun atas lima dasar, yaitu sebagai berikut:

1)   An Nushush dari Al qur’an, dan As sunnah. Apabila telah terdapat ketemtuannya dalam nash tersebut, ia berfatwa
2)   dan tidak mengambil yang lainnya. Oleh karena itu, didahulukan atas fatwa para sahabat
3)   Ahmad Ibn Hanbal berfatwa dengan fatwa sahabat ia memilih pendapat sahabat yang tidak menyalahinya (ikhtilaf)/sudah sepakat.
4)   Apabila fatwa sahabat berbeda-beda, Ahmad Ibn H anbal memilih salah satu pendapat mereka yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan as sunnah.
5)   Ahmad Ibn Hanbal menggunakan hadits mursal dan dhoif, apabila tidak ada atqaul sahabat atau ijma’ yang menyalahinya.
6)   Apabila tidak ada dalam nash, As sunnah, qaul sahabat ; riwayat masyhur, hadist mursal dan dhoif, Ahmad Ibn
7)   Hanbal menganalogikan (menggunakan qiyas) dan qiyas baginya adalah dalil yang dipakai dalam keadaan terpaksa.

5.    Madzhab Ja’fari
Madzhab ini mengambil acuan dari pendapat Ja’far bin Muhammad Al Baqir Bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az Zahra binti Muhammad saw. Ibunya bernama Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As Siddiq.

Madzhab ini menolak penggunaan qiyas. Dalam penetapan hukum menggunakan sumber-sumber syar’I yaitu Al qur’an, sunnah dan akal. Penafsiran Al qur’an yang paling absah menurut madzhab ini, adalah yang berasal dari Rasulullah dan para iamam mereka. Termasuk dalam kategori sunnah adalah sunnah ahlul bait, yang diriwayatkan oleh iamam ma’sum. Madzhab ini menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang memusuhi ahlul bait.

Istihsan tidak boleh dipergunakan, sedangkan giyas hanya dipergunakan, jika ‘illatnya manshushus (terdapat atau disebut dalam nash). Jika tidak ada ketentuan nashnya, digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu.  Dari uraian tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara sunni dan syi’ah, salah satu contohnya dalam proses ijtihad, bagi aliran madzhab syi’ah ijtihad merupakan wewenang para imam yang sudah diakui keilmuannya, 1 kesalehan dan kearifan dalam bidang hukum yang berlaku di syi’ah. Sementara menurut madzhab sunni, siapapun boleh menetapkan hukum asal memenuhi syarat. Jika kita telaah lebih dalam maka akan kita temui beberapa perbedaan antara syi’ah dan sunni.

Demikianlah beberapa madzhab dalam fiqh, yang merupakan hasil dari proses berfikir seseorang atau para ulama’, sehingga lahirlah sebuah pemikiran mengenai syari’at Jika kita tengok sejarah perbedaan ini akan kita temui tidak 1 hanya berawal dari masalah fiqh dan ushul fiqh, namun juga lahir karena dampak politik dan kemudian merambah kepada masalah keimanan, sehingga munculah aliran-aliran teologi. 2 diantaranya       Syi’ah, Khawarij, Muktazilah, murjiah Jabariyah, Qadariyah, ahlussunnahdalam aliran tersebut pembahasan mencakup beberapa hal diantaranya:

a.         Pelaku dosa besar
b.        Iman dan kufur
c.         Perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia
d.        Sifat-sifat Tuhan
e.         Kehendak mutlak dan keadilah Tuhan 

Ketika kita menengok di zaman modem ini, terutama di Indonesia, maka akan kita temui pula beberapa perbedaan dalam beragama, dan kebanyakan masih dalam masalah Sehingga lahirlah beberapa organisasi Islam yang masih berlangsung dan berkembang hingga saat ini di Indonesia, salah satu contohnya antara NU dan Muhammadiyah.

II.     Faktor-faktor yang Menyebabkan adanya Ikhtilaf’
Faktor-faktor yang mempengaruhi merupakan sebuah 1 penyebab adanya perbedaan pemahaman atau pendapat, termasuk dalam hal agama. Para pakar hukum berbeda-beda dalam mengklasifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan adanya ikhtilaf, disini penulis akan mengambil beberapa, seperti yang dikemukakan oleh Dr.Yusuf Al Qaradhawi, mengenai Fiqh perbedaan.

Ditinjau dari segi sebab dan akarnya, ada dua bentuk (perselisihan/ perbedaan)
1.      Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor akhlak
Yakni terdapat beraneka motifasi dari berbagai sikap dan | peristiwa.
2.      Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor akhlak
Ikhtilaf ini timbul karena perbedaan sudut pandang mengenai suatu masalah, baik masalah alamiah ataupun miisalah ‘amaliah. Contoh dalam masalah ilmiah adalah perbedaan menyangkut cabang-cabang syari’at dan beberapa masalah aqidah yang tidak menyentuh prinsip-prinsip yang pasti.

Adapun dalam masalah amaliah adalah perbedaan mengenai sikap-sikap politik dan pengambilan keputusan atas berbagai masalah, akibat, perbedaan sudut pandang kelengkapan data dan informasi, pengaruh-pengaruh lingkungan dan zaman.

Secara spesifik, Syekh Muhammad Al Madany dalam bukunya Asbab Ikktilaf Al Fuqaha membagi sebab ikhtilaf menjadi empat macam: 1) pemahaman Al Qur’an dan sunnah rasulullah saw, 2) sebab-sebab khusus tentang sunnah rasulullah, 3) sebab-sebab yang berkaitan dengan kaidah- kaidah ushuliy&h dan fiqhiyyah, serta 4) sebab-sebab yang khusus mengenai penggunaan dalil di luar Qur’an dan sunnah.

Dalam pembahasan lain Yusuf Al Qaradhawi menyebutkan bahwa perbedaan selama itu masalah furu’ merupakan kemestian, dan kemestian ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: 

1)   Tabiat Agama (Islam)
Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mampu menjadikan agama ini satu bentuk dan sisi pemahaman yang tidak memungkinkan adanya perbedaan dan tidak memerluka ijtihad. Siapa yang menyimpang walau hanya sejengkal maka dia kafir. Akan tetapi, Allah melakukan hal tersebut agar tabiat  agama ini sesuai dengan tabiat bahasa dan tabiat manusia.

Allah memberikan kelapangan kepada para hambaNya Seandainya Allah menghendaki kesepakatan kaum muslimin dalam segala hal, sekalipun masalah furu’ atau dasar yang tidak asasiah, niscaya Dia menurunkan kitabNya dalam bentuk: nash nash yang semuanya muhkamat dan pasti penunjukkannya sehingga tidak akan menimbulkan perbedaan pemahaman dan penafsiran, akan tetapi, Allah menghendaki agar didalam kitabNya ada yang muhkamat dan ada pula yang Bagian-bagian yang mutasyabihat ini disamping sebagai ujian, juga merupakan pendorong akal untuk melakukan ijtihad (bekerja dengan maksimal).

2)   Tabiat Bahasa
' Al Qur’an adalah wahyu ilahi yang diungkapkan dalam wujud teks-teks bahasa dan lafal. Demikian pula sebagian as sunnah. Dalam memahami teks-teks al qur’an dan as sunnah ini, kita harus mengikuti kaidah-kaidah bahasanya, sebagainaba kita memahami dan menafsirkan suatu teks bahasa, karena teks-teks tersebut disusun sesuai dengan ketentuan tabiat bahasa, baik menyangkut arti bahasanya maupun susunan kalimatnya. Didalamnya terdapat lafal % musytarak, yang memiliki lebih dari satu arti.

3)   Tabiat Manusia
Allah menciptakan manusia beraneka ragam. Setiap orang meiliki kepribadian, pemikiran,dan tabiat tersendiri. Perbedaan-perbedaan akan tampak baik dalam penampilan r lahiriahnyamaupun dalam sikap mentalnya. Perbedaan sifat-sifat manusia dan kecenderungan -kecenderungan psikologisnya ini, akan mengakibatkan perbedaan mereka dalam menilai sesuatu dalam sikap maupun perbuatan. Perbedaan ini tampak dalam fiqh, politik, perilaku sehari- hari dan lain sebagainya.

4)   Tabiat Alam dan Kehidupan
Tabiat alam yang kita tempati sekarang ini diciptakan oleh Allah dalam beraneka ragam bentuk, iklim, warna. Demikian pula tabiat kehidupan, ia senantiasa beraneka ragam dan berubah, sesuai dengan faktor-faktor pengaruh yang beraneka macam seperti tempat dan zaman.

III.     Sikap kita terhadap Ikhtilaf dalam Beragama
Perbedaan di samping merupakan dharurat (kemestian), juga merupakan rahmat terhadap umat dan keleluasaan baginya. Pada hakikatnya perbedaan ini tidak mungkin dapat dihindari lantaran nash-nash dasar banyak mengandung lebih dari satu makna. Di samping itu, nash tersebut tidak mungkin mencakup semua permasalahan yang mungkin terjadi sebab nash-nash ini terbatas sedangkan permasalahan yang muncul tidak terbatas.

Menurut Yusul Al Qaradhawi, tidaklah menjadi masalah adanya beberapa kelompok dan jama’ah yang berjuang untuk menegakkan islam apabila halitu merupakan perbedaan yang bersifat variatif bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif. Dalam menghadapi masalah-masalah asasi dan keprihatinan bersama, mereka harus mencerminkan satu barisan laksana bangunan yang kokoh.  Lebih lanjut beliau mengemukakan terdapat beberapa hal yang perlu dijauhi oleh umat Islam berkenaan dengan adanya ikhtulaf dalam beragama, diantaranya:

  1. 1)  Membanggakan diri dan mengagumi pendapat sendiri
    2)  Buruk sangka kepada orang lain dan mudah menuduh orang lain tanpa bukti
    3) Egoisme dan mengikuti hawa nafsu. Diantara akibatnya ambisi terhadap kepemimpinan atau kedudukan
    4)  Fanatik kepada pendapat orang atau madzhab golongan
    5)   Fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama’ah, atau pemimpin
    Sikap-sikap diatas merupakan akhlak tercela dan muhiikat (hal yang mencelakakan) dalam pandangan para ulumul qulb (ulama yang menyelidiki masalah hati). Wajib bagi para muslim awam apalagi aktifis islam dan da’I untuk berusaha menghindari sifat-sifat tercela tersebut. Ikhtilaf yang timbul karena perangai yang tercela ini adalah perselisihan yang tidak terpuji, bahkan termasuk perpecahan yang tercela.

KESIMPULAN
1.      Perbedaan pendapat atau ikhtilaf secara bahasa ikhtilaf diambil dari kata fi’il madhi kemudian berwazan istafngala , jika di tashrif, bentuknya adalah  ikhtalafa yahlalifu ihtilafan sebagaimana disebut dalam kamus

2.      Madzhab yang muncul dari aliran fiqh: madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’I, Madzhab Hanbali, Madzhab Ja’fari
3.      Aliran-aliran teologi, diantaranya : Syi’ah, Khawarij, Muktazilah, Mutjiah, Jabariyah, Qadariyah, Ahlussunnah

4.      Faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf diantaranya HKT karena : Tabiat Agama, Tabiat Bahasa, Tabiat Manusia , Tabiat Alam dan Kehidupan

5.      Beberapa bal yang perlu dijauhi oleh umat Islam berkenaan dengan adanya ikhtilaf dalam beragama, di antaranya:
a.       Membanggakan diri dan mengagumi pendapat sendiri
b.      Buruk sangka kepada orang lain dan mudah menuduh orang lain tanpa bukti
c.       Egoisme dan mengikuti hawa nafsu. Diantara akibatnya ambisi terhadap kepemimpinan atau kedudukan
d.      Fanatik kepada pendapat orang atau madzhab dan golongan
e.       Fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama’ah, atau pemimpin


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rozak, Rosihon Anwar,2006, Kalam untuk UIN, STAIN PTAIS, Bandung: Pustaka Setia
Ali Sodiqin, 2012, Fiqh Ushul Fiqh: Sejarah, Metodologi dan Implementasinya di Indonesia, Yogyakarta: Beranda Publishing

Dedi Supriadi, 2013, Ushul Fiqh Perbandingan, Bandung; CV Pustaka Setia
Jalaluddin Rahmat, 1994, Dari Madzhab Skripturalisme ke Madzhab Liberal dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina

Moenawar Cholil, 1995, Empat Biografi Imam Madzhab, Jakarta: Bulan Bintang
Muhammad Jawad Mughniyah, 2011, Fiqih Lima Madzhab, Jakarta: Lentera
Tim Pembukuan Tamatan, 2012, Jendela Madzhab: Memahami Istilah dan Rumus Madzahib Al Arba ’ah, Kediri: Lirboyo press

Yusuf Al Qaradhawi, 1991, Fiqh Perbedaan Pendapat, Jakarta: Robbani Press
PAI Dalam Konteks Perbedaan Pemahaman Agama Reviewed by Kharis Almumtaz on May 27, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.