Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL




PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL

A.      Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang dilihat dari aspek sosio-kultural dan geografis begitu beragam dan luas. Hal ini terlihat dari pulau yang dimiliki oleh bangsa Indonesia berjumlah kurang lebih 13.000 pulau, dengan ukuran kecil maupun besar, dari banyaknya jumlah pulau yang dimiliki menyebabkan Indonesia terkenal dengan keragaman budaya yang berbeda-beda. Keragaman ini diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan berbagai macam persoalan seperti yang sekarang ini dihadapi bangsa ini. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkunghan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghargai hak-hak orang lain adalah bentuk nyata dari multikulturalisme itu.
Berdasarkan permasalahan seperti diatas maka pendidikan multikulturalisme menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis pemanfaatan keragaman yang ada dimasyarakat. Khususnya yahg ada pada siswa seperti: keragaman etnis, budaya, bahasa,agama, status sosial, gender, kemampuan umur dan ras. Walaupun pendidikan multikultural merupakan pendidikan relatif baru di dalam dunia pendidikan. Lebih lanjut pendidikan multikultural pertama menitik beratkan pada pemahaman dan upaya untuk hidup dalam konteks agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kelompok dan tidak teijebak pada primordialisme dan eksklusifisme kelompok agama atau budaya sempit. Titik berat selanjutnya terletak pada pemahaman nilai-nilai bersama dan upaya kolaboratif mengatasi masalah bersama: kejahatan, kemiskinan, dan keterbelakangan serta menanamkan simpati, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Berkaitan dengan pendidikan maka tak lepas dengan pembelajaran, siswa serta guru. Ketiganya saling terkait dan tidak dapat terpisahkan. Terutama peran guru dalam pendidikan sangatlah penting. Peran dari guru sangat menentukan kualitas dan kuantitas dari pembelajaran. Begitu pula dalam pendidikan multikultural, peran guru sangatlah penting dalam mengarahkan dan membantu siswa dalam upaya membangun karakter  siswa yang menerima dengan realitas sosial yang multikultural. Untuk itu dalam makalah kami akan dibahas bagaimana peran seorang guru dalam pendidikan multikultural.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka kami mengambil rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian dari pembelajaran multikultural?
2.      Bagaimana peran guru dalam pembelajaran multikultural?
3.      Pendekatan dan dimensi apa yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran multikultural?

PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pembelajaran Multikultural


Pendidikan multikultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keanekaragaman kultural, hak-hak asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan jenis prasangka atau préjudice untuk suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multikultural juga dapat dijadikan instrument strategis untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya.
Pendidikan multikultural merupakan suatu gerakan pembaharuan dan proses untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang setara untuk seluruh siswa. Sebagai sebuah gerakan pembaharuan, istilah pendidikan multicultural masih dipandang asing bagi masyarakat umum, bahkan penafsiran terhadap definisi maupun pengertian pendidikan multicultural juga masih diperdebatkan di kalangan pakar pendidikan. 

Dalam konteks yang luas, pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnik, kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek, dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai keijasama, dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya.

Pembelajaran berbasis multikultural didasarkan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia. Hakekat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekeija secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan multikultural bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran inklusif dan pengajaran oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual. Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat.
Tujuan Pendidikan Multikultural Menurut HAR tilaar tidak bertujuan untuk menghilangkan perbedaan akan tetapi menghilangkan prasangka, menimbulkan dialog, mengenal perbedaan sehingga timbul rasa saling menghargai dan mengapresiasi.  Sedangkan ciri-ciri dari pendidikan multikulturalisme sebagai berikut:
1.       Tujuanya membentuk” manusia budaya” dan menciptakan “masyarakat berbudaya (berperadaban)”.
2.       Materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusian, nilai-nilai bangsa, dan nilai- nilai kelompok etnis (cultural).
3.       Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis).
4.       Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.

B.     Peran Guru dalam Pendidikan Multikultural
Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan multikultural, maka diperlukan adanya peran serta dan dukungan dari guru, institusi pendidikan dan para pengambil kebijakan pendidikan lainnya, guru perlu memahami konsep pendidikan multikultural agar nilai- nilai utama yang terkandung dalam strategi dan konsep pendidikan dapat diajarkan sekaligus dipraktekan di hadapan para siswa. Guru tidak hanya bertanggung jawab agar peserta didik mempunyai pemahaman dan keahlian terhadap materi pembelajaran yang diajarkannya, akan tetapi juga bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, keadilan dan pluralisme.
Ada empat wilayah kemampuan secara umum yang harus dimiliki guru yakni: pemahaman tentang teori belajar dan perilaku siswa, pemahaman tentang berbagai sikap misalnya sikap terhadap profesi itu sendiri, sikap guru terhadap siswa, serta sikap guru terhadap teman sejawat dan terhadap orang tua, serta sikap guru terhadap pelajaran yang akan disampaikan; peamahaman tentang materi atau bahan yang akan diajarkan atau disampaikan; kemampuan tentang berbagai ketrampilan mengajar. Berkaitan dengan hal itu, maka guru harus berperan dalam mengambil beberapa keputusan yakni keputusan dalam hal perencanaan, implementasi dan evaluasi pembelajaran.
Berkaitan dengan multikultural guru mempunyai peran penting dalam mengaplikasikan pendidikan multikultural karena dia salah satu target dari strategi pendidikan multi. Peran guru meliputi:
1.      Guru harus mempunyai wawasan dan pemahaman yang baik tentang pendidikan multikultural
2.      Guru merupakan penggerak utama kedarasan siswa agar selalu berpandangan secara multikultural
3.      Guru mempunyai sensivitas tinggi terhadap perbedaan.
Dalam kaitannya dengan peran guru, maka tidak akan terlepas dari manajemen pendidikan. Dari aspek metodik, strategi dan manajemen pembelajaran merupakan aspek penting dalam pendidikan multikultural. Definisi manajemen pembelajaran sebagai “praktik dan prosedur yang memungkinkan guru mengajar dan siswa belajar.” Terkait dengan praktik dan prosedur ini terdapat 3 (tiga) faktor dalam manajemen pembelajaran, yaitu:
1.    Lingkungan fisik (physical environment)
Untuk menciptakan lingkungan fisik yang aman dan nyaman, guru dapat mempertimbangkan aspek pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, dan musik. Guru yang memiliki pemahaman terhadap latar belakang budaya siswanya, akan menciptakan lingkungan fisik yang kondusif untuk belajar.
2.    Lingkungan sosial (human environment)
Lingkungan sosial yang aman dan nyaman dapat diciptalcan oleh guru melalui bahasa yang dipilih, hubungan simpatik antar siswa, dan perlakuan adil terhadap siswa yang beragam budayanya.
3.    Gaya pengajaran guru (teaching style).
Selain lingkungan fisik dan sosial, siswa juga memerlukan gaya pengajaran guru yang menggembirakan. Gaya pengajaran guru merupakan gaya kepemimpinan atau teknik pengawalan yang digunakan guru dalam proses pembelajaran (the kind of leadership or governance techniques a teacher uses). Dalam proses pembelajaran, gaya kepemimpinan guru sangat berpengaruh bagi ada-tidaknya peluang siswa untuk berbagi pendapat dan membuat keputusan. Gaya kepemimpinan guru berkisar pada otoriter, demokratis, dan bebas (laizzes faire). Gaya kepemimpinan otoriter tidak memberikan peluang kepada siswa untuk saling berbagi pendapat Apa yang diajarkan guru kepada siswa ditentukan sendiri oleh sang guru. Sebaliknya, gaya kepemimpinan guru yang demokratis memberikan peluang kepada siswa untuk menentukan materi yang perlu dipelajari siswa. Melalui pendekatan demokratis ini, para guru dapat menggunakan beragam strategi pembelajaran, seperti dialog, simulasi, bermain peran, observasi, dan penanganan kasus.
Dengan strategi pembelajaran tersebut para siswa diasumsikan akan memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang adanya keragaman dalam kehidupan sosial. Bahkan, mereka akan memiliki pengalaman nyata untuk melibatkan diri dalam mempraktikkan nilai-nilai dari pendidikan multikultural dalam kehidupan sehari-hari. Sikap dan perilaku yang toleran, simpatik, dan empatik pun pada gilirannya akan tumbuh pada diri masing-masing siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran yang difasilitasi guru tidak sekadar berorientasi pada ranah kognitif, melainkan pada ranah afektif dan psikomotorik sekaligus.
Ada empat unsur yang mendasari penentuan atau pemilihan sebuah strategi pembelajaran, yaitu:
1.        Mempertimbangkan spesifikasi dan kualifikasi hasil dan sasaran yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan pula kecenderungan masyarakat yang memerlukannya.
2.        Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.        Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah yang akan ditempuh sejak titik awal sampai sasaran.
4.        Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur dan patokan ukuran untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan.

C.     Pendekatan dan Dimensi Pembelajaran Multikultural
Dalam proses pembelajaran tidak terlepas dengan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu guru dalam memfokuskan materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru. Ada beberapa pendekatan yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran, diantaranya:
1.    Pendekatan Historis
Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada penibelajar dengan menengok kembali ke belakang. Maksudnya agar pebelajar dan pembelajar mempunyai kerangka berpikir yang komplit sampai ke belakang untuk kemudian mereflesikan untuk masa sekarang atau mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan dinamis.
2.    Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini mengandaikan teijadinya proses kontekstualisasi atas apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya atau datangnya di masa lampau. Dengan pendekatan ini materi yang diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir kekinian. Pendekatan ini bisa digabungkan dengan metode kedua, yakni metode pengayaan.
3.    Pendekatan Kultural
Pendekatan ini menitikberatkan kepada otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini pembelajar bisa melihat mana tradisi yang otentik dan mana yang tidak. Secara otomatis pembelajar juga mengetahui mana tradisi arab dan mana tradisi yang datang dari islam.
4.    Pendekatan Psikologis
Pedekatan ini berusaha memperhatikan situasi psikologis perseorangan secara tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing pembelajar harus dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang pebelajar harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan pembelajar sehingga ia bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.
5.    Pendekatan Estetik
Pendekatan estetik pada dasarnya mengajarkan pembelajar untuk berlaku sopan dan santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Sebab segala materi kalau hanya didekati secara doktrinal dan menekan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka pembelajar akan cenderung bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan ini untuk mengapresiasikan segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis.
6.    Pendekatan Berprespektif Gender
Pendekatan ini mecoba memberikan penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan jenis kelamin karena sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan pendekatan ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di sekolah yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa dihilangkan.
7.    Pendekatan filosofis
Pendekatan ini mengedepankan akal sehat dengan merenungkan secara mendalam terhadap segala hal yang terkait dengan manusia, alam, kehidupan dan juga Tuhan.

Sedangkan menurut pendapat lain pendekatan yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran di kelas multikultural adalah pendekatan kajian kelompok tunggal (Single Group Studies) dan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspektives Approach). Pendidikan multikultural di Indonesia pada umumnya memakai pendekatan kajian kelompok tunggal. Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari pandangan-pandangan kelompok tertentu secara lebih mendalam. Pendekatan ini terfokus pada isu-isu yang sarat dengan nilai-nilai kelompok yang sedang dikaji. Sedangkan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspectives Approach) adalah pendekatan yang terfokus pada isu tunggal yang dibahas dari berbagai perspektif kotompok- kelompok yang berbeda. Pada umumnya, guru-guru memiliki berbagai perspektif dalam pembelajarannya.
James A. Banks mengidentifikasi ada lima dimensi pendidikan multikultural yang diperkirakan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu:
1.    Dimensi integrasi isi/maten (content integration).
Dimensi ini digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan ‘poin kunci9 pembelajaran dengan merefleksi materi yang berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.
2.    Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction).
Suatu dimensi dimana para guru membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang ada pada diri mereka sendiri;
3.    Dimensi pengurangan prasangka (prejudice ruduetion).
Guru melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Penelitian menunjukkan bahwa para pelajar yang datang ke sekolah dengan banyak stereotipe, cenderung berperilaku negatif dan banyak melakukan kesalahpahaman terhadap kelompok etnik
dan ras dari luar kelompoknya. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teksbook multikultural atau bahan pengajaran lain dan strategi pembelajaran yang kooperatif dapat membantu para pelajar untuk mengembangkan perilaku dan persepsi terhadap ras yang lebih positif. Jenis strategi dan bahan dapat menghasilkan pilihan para pelajar untuk lebih bersahabat dengan ras luar, etnik dan kelompok budaya lain.
4.    Dimensi pendidikan yang sama/adil (equitable pedagogy).
Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok. Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain dengan bentuk keijasama (<cooperative learning)? dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak'dan persamaan memperoleh kesempatan belajar.
5.    Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure). Dimensi ini penting dalam memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah) yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim sosial, latihan-latihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staf dalam merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.

PENUTUP

Kesimpulan
1.      Pembelajaran berbasis multikultural didasarkan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia. Hakekat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung.
2.      Dalam melaksanakan perannya sebagai pendidik, guru perlu memahami konsep pendidikan multikultural agar nilai-nilai utama yang terkandung dalam strategi dan konsep pendidikan dapat diajarkan sekaligus dipraktekan di hadapan para siswa. Guru tidak hanya bertanggung jawab agar peserta didik mempunyai pemahaman dan keahlian terhadap materi pembelajaran yang diajarkannya, akan tetapi juga bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, keadilan dan pluralisme.
3.      Berkaitan dengan pendekatan dan dimensi yang dapat digunakan dalam pembelajaran multikultural, ada beberapa macam-macamnya. Pendekatan dalam pembelajaran meliputi: pendekatan historis, pendekatan, sosiologis, pendekatan kultural, pendekatan psikologis, pendekatan estetik, pendekatan berprespektif gender dan pendekatan filosofis. Sedangkan dimensi-dimensi yang dapat digunakan yaitu: Dimensi integrasi isi/materi (content intégration), Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction), Dimensi pengurangan prasangka (préjudice ruduction\ Dimensi pendidikan yang sama/adil (équitable pedagogy) dan Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure).


Daftar Pustaka
Al Arifin, Akhmad Hidayatullah Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Praksis Pendidikan Di Indonesia dalam Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasil tahun 2012.
Ali, Muhammad. 2003. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan Jakarta: Kompas.
Marpinjum, Sri, dkk. 2008. Resonansi Dialog Agama Dan Budaya. Yogyakarta: CRCS.
Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi. 2011. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: ar-Ruzz Media.
Safhowandi, Pembelajaran Berbasis Multikultural, dalam
http://safiiowandi.wordpress.com/2012/11/15/pembelaiaran-berbasis-multikultural/. diakses pada hari Kamis, 19 Desember 2014.
Sanjaya, Wina. 2007. Penelitian Tindakan Kelas,. Jakarta: Kencana Perdana Group.
Sulalah. 2011. Pendidikan Multikultural Didaktika Nilai-Nilai Universalitas Kebangsaan. Malang: UINMalikiPress.
Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme tantangan-tantangan global masa depan dalam transformsipendidikan nasional. Jakarta: Grasindo.
Yakin, M. Ainul. 2005. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pilar Media.
PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.