Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KONTEKS PERBEDAAN PEMAHAMAN AGAMA (INTERNAL)



PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KONTEKS PERBEDAAN PEMAHAMAN AGAMA (INTERNAL)

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas individu
Nama Dosen : Dr. Usmaa, SS. M, Ag.
Mata Kuliah : PAI dan Multikultural
A.      Latar Belakang

Masalah perbedaan pendapat merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan umat manusia. Diantara perbedaan pendapat tersebut ada yang menyelesaikanya dengan cara yang mudah atau sederhana karena ada saling pengertian berdasarkan akal sehat. Akan tetapi dibalik itu masalah khilafiah dapat menjadi ganjalan untuk menjalin keharmonisan di kalangan umat manusia karena sikap fanatic yang berlebihan, tidak berdasarkan akal sehat dan sebagainya.
Agama Islam merupakan ajaran Allah SWT yang menjadi petunjuk mengenai segala hal yang diperuntukkan khususnya untuk manusia. Manusia yang dimaksud bukan yang berdomisili di Timur Tengah atau daratan eropa saja, melainkan di seluruh pelosok dunia yang memiliki banyak perbedaan, beragam bahasa, kultur, social, wilayah dan lainnya. Agama Islam yang termaktub dengan bahasa Tuhan dipelajari, ditelaah umat manusia dengan bahasanya sendiri-sendiri yang menghasilkan sebuah pemahaman agama. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan pemahaman agama tersebut menjadi beragam, antara yang satu dan lainnya.Perbedaan pemahaman agama dianggap sebagai jurang pemisah antara umat yang satu dengan lainnya.
Islam sejatinya hanya bersumber dari Al-Quran dan Hadist, selain itu juga dari hasil ijtihad para imam terdahulu. Akan tetapi pada ranah ijtihad sering terjadi perbedaan pandangan. Perbedaan terkadang bisa menjadi tambahan wawasan pada kajian keilmuan di kalangan umat manusia apabila disikapi dengan cara berfikir yang baik. Tetapi apabila tidak di sikapi dengan baik maka dari sebuah perbedaan pandangan akan melahirkan berbagai perpecahan. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu upaya untuk tetap mempersatukan/ menyeimbangkannya. Jangan hanya karena perbedaan pemahaman itu, umat islam mencadi terpecah belah.

D.      PEMBAHASAN
1.    Sekilas tentaug agama Islam
a)    Pengertian islam
Pengertian islam Secara etimologi merupakan kata turunan (jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan, kepatuhan (kepada kehendak Allah) berasal dari kata salama artinya patuh atau menerima, berakar dari huruf sim, lam, mim. Kata dasarnya adalah salima yang berarti sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu terdapat kata masdar salamat (yang dalam bahasa Indonesia menjadi selamat). Dari akar kata itu juga terbentuk kata-kata salm, slim yang berarti kedamaian, kepatuhan dan penyerahan diri. Dari uraian tersebut bahwa arti islam adalah berserah diri, tunduk, patuh dan taat dengan sepenuh hai kepada kehendak ilahi.2

Secara terminology islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan uhan yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, dimanapun dan kapanpun, yang ajaranya meliputi seluruh aspek kehidupan.  Islam sebagai agama wahyu yang memberi bimbingan kepada manusia mengenai semua aspek hidup dan kehidupanya, dapat diibaratkan seperi jalan raya yang lurus dan mendaki, memberi peluang kepada semua manusia yang melewatinya sampai ke tempat yang dituju, empat tertinggi dan mulia. Jalan raya itu lapang dan luas yang kiri dan kananya berpagar Al-Quran dan Hadis.
2.    Perbedaan pandangan (Ikhtilaf)
a.    Pengertian ikhtilaf
Secara etimologis fiqhiyah, ikhtilaf merupakan tenn yang diambil dari bahasa arab yang berarti: berselisih, tidak sepaham. Sedangkan secara terminologis fiqhiyah, ikhtilaf adalah persilisihan paham atau pendapat di kalangan ulama fiqih hasil dari ijtihad untuk mendapatkan dan menetapkan suatu hokum tertentu. Dengan demikian masalah ikhtilaf merupakan masalah ijtihad sebagai hasil sebagai pemahaman atas dasar hokum islam.  Ikhtilaf dalam istilah lain disebut mukholafafah (perbedaan), yaitu perbedaan cara pandang antara satu orang dengan orang yang lain, baik dalam perbuatan dan perkataan.
Beda pendapat atau pemahaman merupakan hal yang wajar, sebagaimana kata pepatah Arab "kullu ro'sin ro'yun" (setiap kepala mempunyai pendapat). Yang terpenting dalam menghadapi perbedaan ini adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Dalam tradisi keilmuan agama Islam, tidak jarang terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) antar para ulama. Tetapi yang perlu dicatat, perbedaan tersebut dalam wilayah furu' (cabang), bersifat ijtihadi, seperti masalah fikih, bukan hal yang ushul (dasar) seperti akidah.
Perbedaan pendapat inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan pemahaman dalam Agama Islam. Selain itu, banyaknya perbedaan seperti beragam bahasa, kultur, social, wilayah dan lainnya juga tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perbedaan pemahaman satu sama lain. Selain itu, membawakan ayat atau hadits untuk mendukung suatu pendapat atau pemahaman tidaklah cukup apabila tidak diiringi dengan pemahaman serta metode penarikan kesimpulan hukum/istidlal dan istinbath yang benar. Karena itulah banyak muncul pemahaman yang berbeda-beda, tidak terkecuali dikalangan ulama sekalipun. Pemahaman yang dipercaya ini biasanya akan disalurkan kepada keturunannya. Sehingga pada generasi berikutnya pun terjadi perbedaan pemahaman.
b.    Sejarah terjadinya ikhtilaf
Pada masa Rasulullah SAW ikkhtilaf hampir tidak pernah terjadi ikhtilaf di kalangan umat islam.  Ikhtilaf di kalangan umat islam sudah terjadi sejak masa sahabat, ikhtilaf terjadi di masa sahabat itu adalah perbedaan faham diantara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka. Hal ini terjadi karena pengetahuan mereka dalam masalah hadist tidak sama dan juga perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. Sebagaimana diketahui bahwa ketika agama islam telah tersebar luas ke berbagai penjuru» banyak sahabat nabi yang telah berpindah tempat dan berpencar-pencar ke penjuru negeri yang baru. Dengan demikian kesempatan untuk bertukar fikiran atau memecahkan suatu masalah sulit untuk dilaksanakan.
Sebagian besar sahabat nabi yang tersebar ke berbagai negeii tersebut masing-masing menjadi panutan bagi negeri yang ia tinggali. Karena kasus dan permasalahan yang terus berkembang» mereka pun menjadi tumpuan pertanyaan. Karena sulitnya bertukar fikiran dengan para sahabat yang lain mereka memberi jawaban sesuai dengan hafalan dan kesiapan istinbath. Jika tidak menemukan jawaban maka akan menggunakan berijtihad sesuai pendapatnya sendiri. Lalu menerapkan hokum tersebut sebagaimana yang telah difahami tanpa adanya penyimpangan dalam mencocokan tujuan dari Rasulullah S AW. 
c.    Pokok-pokok sebab terjadi ikhtilaf (internal)

Perbedaan pendapat di kalangan umat ini sampai kapan pun dan di manapun akan terus berlangsung dan hal ini menunjukan kedinamisan hokum islam» karena pola pikir manusia terus mengalami perkembangan. Diantara sebab- sebab ikhtilaf internal di kalangan ulama (mujahidin) adalah sebagai berikut:
1)   Kedudukan suatu hadits
Karena hadits-hadits itu datangnya dari Rasullullah SAW melewati banyak jalan, maka terkadang menimbulkan perbedaan riwayat yang satu dengan riwayat yang lain, bahkan bisa jadi berlawanan. Bagi orang yang mantap hatinya mempercayai perawinya maka hadits tersebut dijadikan landasan penetapan. Begitu juga terhadap orang yang tidak mempercayai perawinya akan mengenyampingkan haditsnya.
2)   Karena tidak sampainya riwayat
Terpencar-pencamya para sahabat Nabi SAW, maka mengakibatkan hadist-hadist itu menjadi terpencar-pencar ke seluruh penjuruitu pula yang menyebabkan hadist yang diterima oleh tabiin dan tabi’it-tabiin serta para imam mujtahid tidak sama jumlahnya. Imam fulan telah mengetahui suatu hadisi namun imam yang lain belum menerimanya. Itulah yang menyebabkan berbedaya faham para imam madzhab.  3) Perbedaan arti dalam suatu kata
Ada kata yang musytarak artinya, yaitu suatu kata yang mempunyai arti sebenarnya dan yang mempunyai arti yang tidak sebenarnya (kiasan). Para Mujtahid saling berbeda pendapat, mana arti kata yang harus mereka pakai di dalam menetapkan hokum itu.

3.    Perbedaan pemahaman dalam ranah Theologi (Akidah)
Menurut William L. Resse, Teologi berasal dari bahasa Inggris yaitu theology yang merupakan pemikiran tentang ketuhanan. Menurut William Ockham, Teologi adalah Disiplin ilmu yang membicarakan kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Menurut Ibnu Kaldun, teologi adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil- dalil rasional. Setelah itu banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam agama Islam. Aliran-aliran Teologi dalam Islam adalah sebagai berikut:
1)        Khawarij
2)        Syi’ah
3)        Muiji'ah
4)        Jabariyah
5)        Qodariyah
6)        MuHazilah
7)        Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
4.    Mensikapi Perbedaan Pemahaman dengan Pendidikan Agama Islam
Sebagai Negara kepulauan yang memiliki ras, budaya, dan bahasa yang berbeda, di Indonesia juga tidak terlepas dari perbedaan pemahaman dalam islam. Bila perbedaan itu merupakan hal-hal yang sunnah dan mubah, perbedaan dapat  membawa rahmat tetapi bila perbedaan itu pada hal-hal yang wajib tentu perbedaan itu dapat membawa mudharat Namun rupanya kebanyakan dari kita belum siap menerima keadaan ini. Hal ini terbukti dengan saling membandingkan, memvonis salah, kafir, sesat satu sama lain sehingga Islam menjadi tekstual, Islam berada antara hitam putih.
Agama menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu fungsi pendidikan agama sangat strategis. Fungsi pendidikan agama sesuai yang tertera dalam UU Sisdiknas 2003 pasal 30 ayat 2 adalah mempersiapkan peserta didik menjadi masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli agama.
Menurut Zakiah Daradjat pendidikan agama Islam atau At-Tarbiyah Al- Islamiah adalah usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.  Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba (dalam Umi Uhbiyat) pendidikan Islam adalah: bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terciptanya kepribadian utama menurut ukuran Islam.  
Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan menghasilkan orang-orang beragama, dengan demikian pendidikan agama perlu diarahkan ke arah pertumbuhan moral dan karakter.13 Ditinjau dari beberapa definisi pendidikan agama Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang seluruh aspek aau komponenya didasarkan pada ajaran islam. Visi, misi, tujuan, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, kurikulum, bahan ajar, sarana dan prasarana lainya didasarkan pada ajaran islam.
Banyak kritikan yang di lontarkan terhadap PAI di sekolah. Bahwa justru lewat pelajaran ini seringkali berkembanglah fanatisme yang berlebihan, sehingga mengubur upaya toleransi. Kritik ini memang tidak dapat di pungkiri, karena dalam  pendidikan agama, khususnya PAI selama ini lebih mementingkan ranah kognitif yang dangkal, yaitu sebatas hafalan-hafalan teks tanpa adanya pemaknaan dengan realitas, mengabaikan aspek afektif yang membutuhkan perenungan dan penghayatan secara mendalam. Seharusnya PAI tidaklah sebatas transfer of knowiedge, akan tetapi sampai pada transfer of value. Di sinilah sebenarnya kunci keberhasilan pendidikan agama, yaitu berada pada titik sejauh mana transfer nilai tersebut dapat dilalui pesera didik stiap hari.
Pendidikan Agama Islam di Indonesia terdapat di sekolah dan pesantren sebagai suatu mata pelajaran yang wajib. Mata pelajaran tersebut mempunyai peran utama dalam membentuk sikap dan mental sebuah bangsa. Mental dan sikap yang positit sangat ditentukan oleh bagaimana pendidikan dijalankan. Salah satu sikap yang seharusnya, karena tidak semua sekolah melakukan, adalah adalah sikap toleransi dan penghormatan atas perbedaan pendapat. Untuk membentuk sikap tersebut, mula-mula yang mesti dijalankan adalah mengenalkan perbedaan itu sendiri.
Pendidikan agama Islam menjadi satu mata pelajaran pokok di setiap jenjang pendidikan namun pengenalan akan perbedaan-perbedaan pandangan dalam Islam masih jarang sekali ditekankan. Pengajaran fiqh di sekolah maupun Pesantren hingga kini masih sering sebatas doktrin, dengan hanya mengajarkan atau mengenalkan satu pendapat saja. Lebih-lebih jika instansi pendidikan tersebut merupakan instansi yang berada di bawah naungan suatu Lembaga atau Organisasi kegamaan tertentu.
Perbedaan adalah rahmat, sunnatullah, karenanya kita mesti senantiasa membangun sikap positif di tengah perbedaan. Salah satu cara untuk membangun sikap positif itu adalah dengan mempelajari dan menelaah perbedaan-perbedaan itu sendiri.
Secara umum perbedaan pendapat (ikhtilaf) terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad S AW. Bisa kita fahami bahwasanya para sahabat terus berdakwah ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan agama islam. Hal ini terjadi karena pengetahuan mereka dalam masalah hadist tidak sama dan juga perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. Sebagaimana diketahui bahwa ketika agama islam telah tersebar luas ke berbagai penjuru, banyak sahabat nabi yang telah berpindah tempat dan berpencar-pencar ke penjuru negeri yang baru. Dengan demikian, kesempatan untuk bertukar fikiran atau memecahkan suatu masalah sulit untuk dilaksanakan.
Pokok-pokok sebab terjadi ikhtilaf (internal) yaitu: Kedudukan suatu hadits, Karena tidak sampainya riwayat, Perbedaan arti dalam suatu kata.
Pendidikan agama islam harus menjadi jawaban atas segala perbedaan pandangan di kalangan umat islam. Lewat pendidikan diharapkan segala macam perbedaan akan bisa di hadapi dengan cara yang bijak, bahkan apabila perbedaan ini bisa di hadapi dengan cara yang baik akan menjadi sebuah warna dalam kajian keilmuan. Akan tetapi apabila tidak di hadapi dengan cara yang baik akan dapat melahirkan sebuah perpecahan. Sejatinya perpecahan merupakan buah dari perbedaan pandangan yang idak dihadapi dengan cara yang baik. \

Daftar Pustaka
Ad-Dahlawi. Waliyullah, Syah. 2010. Beda Pendapat Di Tengah Umat: Sejak Zaman Sahabat Hingga Abad Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Amin Nugroho, Yusu. 2012. Fiqh AI-lkhtilafNihMuhammadiyah,. Wonososbo; Ebook. Daradjat, Zakiah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasyim, Umav. 1995. Membahas Khilafiah Memecah Persatuan Wajib Bermadzhab dan Pintu Ijtihad Tertutup. Surabaya: Bina Ilmu.
Hasan, Ali. 1995. Perbandingan Mazhab. Jakarta: Raja Grafindo Press.
M. Daud A\i. 2013. Pendidikan Agama Islam. Raja Grafindo Press: Jakarta.
Nata, Abudin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
P Al dalam perspektif Multikulturalisme. 2010. Balai Litbang: Jakarta.
Thaha Jabir Fayyadh Al-4alwani. 2001. Etika berbeda pendapat dalam islam. Bandung: Pustaka Hidayah.
Uhbiyat», Nur. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
UU Sisdiknas 2003. www.pusdai.wordpress.com.
Zuhamni. Ghofir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Malang: Universitas Malang.

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KONTEKS PERBEDAAN PEMAHAMAN AGAMA (INTERNAL) Reviewed by Kharis Almumtaz on March 02, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.