Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL
mata kuliah PAI dan Multikulturalisme
PROGRAM PASCA SARJANA UIN SUNAN KAUJAGA YOGYAKARTA

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Maksud dan tujuan dalam mempelajari pendidikan Islam multikultural adalah untuk membuka pintu wawasan kita bersama mengenai pendidikan Islam multikultural, tantangan pendidikan Islam di Indonesia dan apa saja yang bisa dilakukan dengan pendidikan Islam di tengah banyaknya corak agama dan aliran di Indonesia. Tidak sedikit lembaga-lembaga pendidikan Islam yang tersudutkan dengan pola pikir yang tidak berkembang atau sektarian, padahal begitu luasnya keilmuan dan pemahaman tentang pendidikan Islam, contoh terakhir dalam dunia pendidikan, di daerah papua ada siswi sekolah dasar yang dikeluarkan oleh pihak sekolah dikarenakan memakai jilbab di sekolah, apa yang salah dengan jilbab? Atau ada yang salah dengan murid tersebut sehingga harus menerima konsekuensi dikeluarkan dari'sekolahnya. Kemudian kasus di Aceh, ada warga non-muslim yang tidak memperbolehkan warga muslim masuk di warungnya pada saat bulan puasa dengan menempelkan tulisan "muslim dilarang masuk" didepan warungnya. Apa yang salah dengan muslim yang masuk warung pada saat bulan puasa? Jangan kemudian beranggapan bahwa muslim yang masuk di warung pada saat bulan puasa itu dalam rangka membatalkan puasa, dan masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi di sekiling kita yang terkadang kita sendiri kurang memperhatikannya.

Bicara tentang pendidikan islam sebenarnya sudah dimulai pada jaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Para sahabat sudah memulai tentang pengajaran dan kajian tentang ilmu-ilmu ke-Islaman yang bertempat di serambi masjid atau bernama kuffah. sejarah pendidikan Islam amat erat kaitannya dengan masjid, karena itu apabila kita membicarakan masjid berarti kita membicarakan suatu tempat yang tepat untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Para sahabat saling bertanya tentang Islam kepada Rosulullah SAW dan akan dijawab saat itu juga ketika Rasul sudah mempunyai jawaban dan akan ditunda apabila Rasul belum mempunyai jawaban yang kemudian akan turun ayat-ayat Al qur'an sebagai wahyu dari Allah SWT yang membantu Rasul memecahkan masalah yang timbul. Proses pembelajaran dan kajian para sahabat Nabi ini berproses di tengah-tengah masyarakat yang masih berbeda keyakinan yang didominasi paham monotheisme sehingga faktor multikultural dalam pendidikan Islam sudah timbul sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menikmati posisi sebagai kiblat Ilmu pengetahuan dunia, dan media dakwah yang sangat efektif untuk mengenalkan Islam ke dunia luar dan kalau kita melacak sejarah Barat, banyak para ilmuwan Barat yang menjadi "murid" al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Mereka tokoh- tokoh muslim par-excellent, yang dihormati di Barat. Secara eksternal, hambatan muncul karena kecurigaan dan pandangan stéréotypé sebagian non- muslim terhadap keberadaan Islam. Mereka mengidap penyakit kejiwaan yang dinamakan islamophobia, yaitu ketakutan yang luar biasa terhadap Islam. Efek penyakit kejiwaan ini, para ahli pendidikan non muslim mengesampingkan konsep-konsep pendidikan Islam, termasuk pendidikan multikultural yang telah ada dalam Islam.

Dari sisi implementasi di lapangan, problem pendidikan Islam sama dengan problem pendidikan lain, yaitu terkait dengan masalah dana dan sumber daya manusia (SDM). Kedua hal ini sudah menjadi "penyakit" lama yang susah untuk "diobati". Selain itu, hambatan lainnya terkait dengan sistem dan politik pendidikan . Kedua hal ini, juga menjadi bagian dari hambatan terhadap pelaksanaan pendidikan Islam di lapangan .

B.    Pendidikan Multikultural
Kemunculan Pendidikan Multikultural tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa gerakan hak- hak sipil yang terjadi pada 1960 di Amerika. Gerakan ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya praktik- praktik kehidupan yang diskriminatif, baik di tempat-tempat publik, di rumah-rumah, di tempat-tempat kerja, maupun lembaga-lembaga pendidikan yang dilakukan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas.

Secara etimologi istilah pendidikan multikultural terdiri dari dua term, yaitu pendidikan dan multikultural. Pendidikan berarti proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan melalui pengajaran, pelatihan, proses dan cara mendidik. Dan multikultural diartikan sebagai keragaman kebudayaan, aneka kesopanan.
Sedangkan secara terminologi, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama). Pengertian seperti ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam I pendidikan, karena pendidikan dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi- tingginya terhadap harkat dan martabat manusia.  Pemahaman terhadap Pendidikan Multikultural lebih mudahnya adalah bahwa pendidikan itu berdiri diatas perbedaan corak suku, agama dan budaya dimana pendidikan itu diselenggarakan.

C.    Pendidikan Islam Multikultural

Pendidikan Islam Multikultural menurut penulis adalah pendidikan yang diselenggarakan atau berdiri diatas keseragaman agama, suku dan budaya. Dengan segala tantangan yang dihadapi akan tetapi bertujuan sebagai penyeimbang diantara keseragaman agama, suku dan budaya tersebut. Pendidikan Islam multikultur berorientasi pada lahirnya output pendidikan yang mampu menghargai perbedaan, menerima kemajemukan, dan membangun solidaritas dan integritas yang berasas pada keragaman. Sementara itu, efektifitas dan efisiensi proses kaderisasi dan regenerasi untuk melahirkan kader dan generasi yang berparadigma multikultural menemukan relevansinya tatkala anak didik memasuki jenjang usia remaja. Usia remaja adalah usia dimana manusia memasuki fase peralihan dari kategori anak-anak ke dewasa. Di Indonesia sendiri, Pendidikan Islam Multikultural sudah ada sejak penyebaran Islam oleh Walisongo yang masuk ke Indonesia atau berdakwah melalui media-media yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, Raden Sahid atau Sunan Kalijogo menggunakan media pewayangan untuk mendakwahkan agama Islam, ini termasuk kategori Pendidikan Islam yang Multikultural dikarenakan pada saat itu kondisi agama dan budaya di tanah jawa sangat berbeda dengan konsep agama Islam yang dibawa dari bangsa arab.

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.