Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MI



PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MI

PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pendidikan pada umumnya dinilai masih sangat penting sebagai salah satu aset sosial. Untuk itu pendidikan dituntut mampu memperbaharui perencanaan di tingkatan normatif maupun teknis. Pada tingkatan normatif antara lain review terhadap nilai-nilai filosofis kultural untuk menetapkan tujuan pendidikan yang dilaksanakan. Pada tingkatan teknis antara lain melaksanakan kurikulum sekaligus mengembangkan kurikulum, implementasi, dan evaluasi.
Multikultur dan pendidikan merupakan rangkaian kata yang berisikan esensi dan konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan. Didalam multikultur terdapat materi kajian bahkan menjadi dasar pijakan pelaksanaan pendidikan, yang keduanya sama-sama penting. Dalam pendidikan terdapat falsafah pendidikan yang disarikan dari nilai-nilai kultur masyarakat.'
Dalam bidang pendidikan, kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan. Tanpa adanya kurikulum, sulit rasanya bagi para perencana pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakan. Mengingat pentingnya kurikulum, maka ia perlu di pahami dengan baik oleh semua pelaksana pendidikan/ Al-Syaibany mengemukaan, kurikulum pendidikan Islam berbeda dengan kurikulum pada umumnya. Pendidikan Islam sepanjang masa kegemilangannya setelah memandang kurikulum sebagai alat untuk mendidik generasi muda, menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan potensi-potensi, bakat- bakat, kekuatan-kekuatan, dan keterampilan-keterampilan yang mereka miliki, serta untuk mempersiapkannya dengan baik agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah Alloh di bumi.4    
Madrasah adalah salah satu bagian penting dari sistem pendidikan di Indonesia. Lebih khusus lagi porsi bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang cukup besar, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang pendidikan multikultural, kurikulum pendidikan Islam,dan kurikulum PAI khususnya pada tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah.
B.  Rumusan Masalah
1)   Apa pengertian pendidikan multikultural, kurikulum pendidikan Islam, dan kurikulum PAI?
2)   Apa hakikat dan prinsip kurikulum pendidikan Islam?
3)   Bagaimanakah kerangka dasar dan struktur kurikulum PAI di MI?
4)   Bagaimanakah pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan Islam?



PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Multikultural, Kurikulum Pendidikan Islam dan Kurikulum PAI

Secara etimologis pendidikan multikultural terdiri atas dua terma yaitu pendidikan dan multikultural. Sedangkan menurut terminologis, pendidikan multikultural merupakan proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama).
Dengan demikian, pendidikan multikultur merupakan proses yang dapat diartikan sebagai proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan, dan cara-cara mendidik yang menghargai pluralitas dan heterogenitas secara humanistik. Menurut Ainul Yaqin peserta didik tidak hanya mampu memahami dan menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi diharapkan memiliki karakter yang kuat untuk bersikap demokratis, pluralis, dan humanis.  
Keterlibatan pimpinan lembaga pendidikan keagamaan dalam berbagai kegiatan akademik, menunjukkan secara jelas bahwa pengakuan akan keberagamaan budaya yang ada di masyarakat memiliki fungsi penting penting dalam menyebarluaskan misi rahmah li al-alamin bagi kehidupan sosial. Setidaknya ketika berkembang pertanyaan bagaimana pendidikan mulitikultural dalam agama Islam, maka terdapat beberapa prinsip yang mengemukakan salah satunya yaitu Islam menegaskan bahwa keanekaragaman dalam kehidupan umat manusia adalah alamiah, perbedaan itu mulai dari jenis kelamin, suku, dan bangsa yang beraneka ragam, justru dari perbedaan itu yang melahirkan sikap saling mengenal (ta ’aruf).7 Sikap saling mengenal pada seseorang akan melahirkan rasa saling mengerti. Jika saling mengerti maka kita akan saling memahami dan menghargai. Dengan itu semua maka munculah sikap saling percaya. Sehingga apabila sudah saling percaya maka seseorang dalam kehidupan berbangsa maupun bernegara tidak mudah teijadi suatu konflik karena rasa saling curiga dan sebagainya.
Inilah yang menjadi dasar dalam rangka membangun karakter menuju pembangunan kembali jati diri bangsa yang memiliki moral religius. Dengan kata lain orientasi pengembangan pendidikan multikultural di lembaga pendidikan keagamaan memiliki ciri khusus yaitu religiusitas atau multikulturalisme religius. Oleh karena itu, dalam rangka membekali peserta didik agar memiliki pengetahuan tentang moral, maka lingkungan disekitar lembaga pendidikan keagamaan juga dilibatkan dalam menumbuhkan rasa atau keinginan untuk berbuat baik.  
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai suatu tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. 1 Istilah kurikulum kemudian berkembang berbagai arti. Secara tradisional, kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pegertian kurikulum yang dianggap tradisional ini masih banyak dianut sampai sekarang termasuk di Indonesia.
Dalam bahasa Arab, kurikulum disebut dengan istilah manhaj atau tninhaj. Yang berarti sejumlah rencana dan wasilah yang telah ditetapkan oleh sebuah lembaga pendidikan dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan.  Atau berarti pula jalan yang terang yang dilalui oleh manusia dalam berbagai bidang kehidupan, sedangkan arti “manhaj” atau kurikulum dalam pendidikan Islam sebagai mana yang terdapat dalam kaujus ai-Tarbivah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan Pendidikan.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan al- Quran, al-Sunnah, pendapat ulama serta warisan sejarah, maka pendidikan lslampun mendasarkan diri pada tersebut. Dengan demikian, perbedaan pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya ditentukan oleh adanya dasar ajaran Islam tersebut. Jika pendidikan lainnya didasarkan pada pemikiran rasional yang sekuler dan impristik semata, maka pendidikan Islam selain menggunakan pertimbangan rasional dan data empiris juga berdasarkan aI-Quran, al-Sunnah, pendapat ulama serta warisan sejarah tersebut.    
Pendidikan Islam juga diartikan sebagai suatu sistem yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, seseorang akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.
B.     Hakikat dan Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

Pada hakikatnya, fungsi kurikulum pendidikan adalah sebagai 1) Sistem hidup yang menjadi tuntunan masyarakat sebagai anak didik; 2) Alat dan bekal hidup di dunia; 3) Metode dan strategi menjalani kehidupan duniawi; dan 4) Sistem evaluasi diri, pengawasan diri dalam menghadapi kehidupan.1
Hakikat kurikulum ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa lembaga pendidik wajib menyajikan mata pelajaran dan menyajikannya kepada anak didik dengan dasar-dasar moralitas dan falsafah yang baik dan benar. Mata pelajaran tersebut diarahkan untuk membina akal dan hati anak didik serta memperkuat keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah SWT. Dalam filsafat pendidikan, hakikat kurikulum adalah pola pembentukan karakter anak didik. Oleh karena itu, kurikulum akan membawa alam pikir anak didik menuju wujud yang baru dan berbeda. Para pendidik akan menyampaikan mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang dianut,
Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan diarahkan sepenuhnya pada tujuan pendidikan. Oleh karena itu, semua komponen kurikulumnya harus berbasis visi dan misi lembaga pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian kurikulum yang berbasis pada visi dan misi lembaga pendidikan merupakan kurikulum yang mengantarkan anak didik mencapai tujuan lembaga pendidikan yang mewakili pendidikan itu sendiri. Artinya, ilmu pengetahuan yang ditransfer kepada anak didik menjadi bekal hidup di masyarakat, atau memiliki manfaat yang bermakna dalam kehidupan.  
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan mengemukakan, prinsip kurikulum pendidikan islam adalah sebagai berikut:
1)   Prinsip Pertama, yaitu pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilanya.
2)   Prinsip Kedua, yaitu perinsip menyeluruh (universal) pada tujuan dan kandungan kurikulum.
3)   Prinsip Ketiga, yaitu keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum.
4)   Prinsip Kempat, yaitu berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan pelajar.
5)   Prinsip Kelima, yaitu pemeliharaan perbedaan individu antara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya, dan juga pemeliharaan perbedaan dan kelainan di antara alam sekitar dan masyarakat.
6)   Prinsip Keenam, yaitu perinsip perkembangan dan peruhanan Islam yang menjadi sumeber pengambilan falsafah, perinsip, dasar kurikulum.
7)   Prinsip Ketujuh, artinya adanya perinsip pertautan antara mata pelajaran dan aktivitas yang terkandung dalam kurukulim.

Dengan tujuh prinsip diatas, Al-Syaibany juga menilai bahwa sebenarnya kurikulum yang dijiwai oleh nilai dan ajaran Islam, yang senantiasa memperhatikan kehidupan manusia modem. Kurikulum pendidikan Islam bersifat  fleksibel dan lentur mengikuti perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, tetapi tetap mempertahankan identitas keislamannya.
Dalam kurikulum 2013, terdapat pula prinsip yang dijadikan pedoman dalam pengembangannya sebagaimana telah disebutkan dalam Permendikbud No. 81A tahun 2013 salah satunya adalah peningkatan iman, takwa, dan akhak mulia. Iman, takwa dan akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Selain iman, takwa dan akhlak mulia, terdapat juga prinsip agama, yaitu kurikulum dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman, takwa dan akhlak mulia dan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran ikut mendukung peningkatan iman, takwa dan akhlak mulia.  
C.     Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum PAI di SD/MI
Kerangka dasar kurikulum PAI menurut Peraturan Menteri Agama RI Nomor 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, yaitu:
1.        Landasan Filosofts
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.
Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan manusia yang berkualitas.
Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum Madrasah 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut:
a)      Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum Madrasah 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum Madrasah 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini
b)      Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif.
Menurut pandangan filosofi ini, prestasi anak bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuanberpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum Madrasah 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.
Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik.
c)      Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalisrn and social reconstructivism).
Dengan filosofi ini, Kurikulum Madrasah 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.
Dengan demikian, Kurikulum Madrasah 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia.
2.        Landasan Teoritis
Kurikulum Madrasah 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluasluasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan  untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.
Kurikulum Madrasah 2013 menganut: (l) pembelajaan yang dilakukan guru (taughl curricutum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.
3.        Landasan Yuridis
Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
a)    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
b)   Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410);
c)    Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 141);
d)   Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 142);
e)    Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 5/P Tahun 2013;
f)    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
g)   Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi
h)   Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses
i)     Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
j)     Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD/MI
k)   Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs
l)     Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA/MA
m) Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2013 tentang Organisasi dan tata keija Instansi Vertikal kementerian Agama
n)   Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Sekolah/Madrasah
Struktur kurikulum PAI menurut Peraturan Menteri Agama RI Nomor 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran, Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, yaitu:
1.    Kompetensi Inti
Sejalan dengan filosofi progresivisme dalam pendidikan, Kompetensi Inti ibaratnya adalah anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang Madrasah Aliyah. Kompetensi Inti (KI) meningkat seiring dengan meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, Kompetensi Inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua. Pertama, sikap spiritual yang terkait dengan tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kedua, sikap sosial yang terkait dengan tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Kompetensi Inti bukan untuk diajarkan melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari sejumlah mata pelajaran yang relevan. Kompetensi Inti akan menagih kepada tiap mata pelajaran apa yang dapat dikontribusikannya dalam membentuk kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik.
Dalam kontek ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi Inti menyatakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi. Dengan demikian, kompetensi inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal kompetensi dasar.
2.    Kompetensi Dasar
Sebagai rangkaian untuk mendukung Kompetensi Inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi-kompetensi dasar. Pencapaian Kompetensi Inti adalah melalui pembelajaran kompetensi dasar yang disampaikan melalui mata pelajaran. Rumusannya dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran sebagai pendukung pencapaian.
Uraian kompetensi dasar yang rinci ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bennuara pada sikap. Melalui Kompetensi Inti, tiap mata pelajaran ditekankan bukan hanya memuat kandungan pengetahuan saja, tetapi juga memuat kandungan proses yang berguna bagi pembentukan keterampilannya. Selain itu juga memuat pesan tentang pentingnya memahami mata pelajaran tersebut sebagai bagian dari pembentukan sikap. Hal ini penting mengingat kompetensi pengetahuan sifatnya dinamis karena pengetahuan masih selalu berkembang.
Dengan kata lain, kompetensi dasar yang berkenaan dengan sikap spiritual (mendukung KI-1) dan individual-sosial (mendukung Kl-2) dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (mendukung KI-3) dan keterampilan (mendukung KI-4).
D.    Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum Pendidikan Islam di SD/MI
Salah satu dimensi pendidikan multikultur antara lain dipotret pada integrasi pendidikan dalam kurikulum. Upaya untuk mengintegrasikan pendidikan multikultur dalam kurikulum antara lain dikonsepkan didalam isi (content) kurikulum antara lain memuat bagaimana mengurangi prasangka dalam perlakuan dan tingkah laku rasial dari entnis-etnis tertentu dan dalam materi apa prasangka- prasangka tersebut dapat dikemukakan. Disamping itu untuk mengapresiasikan jenis-jenis kebudayaan dan segala perbedaan yang dimiliki oleh siswa.  
Upaya ini dilakukan dalam rangka mewujudkan pendekatan pendidikan yang integratif dengan sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap mental yang ada dalam masyarakat. Karena siswa merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki karakteristik yang harus diakui secara formal dalam pelaksanaan pendidikan. Perlakuan tersebut tertuang dan terintegrasikan dalam muatan kurikulum pendidikan yang direncanakan dalam setiap tahap, jenis, dan jenjang pendidikan.24 Adapun indikator keberhasilan pendidikan multikultural adalah terbentuknya manusia yang mampu memposisikan dirinya sebagai manusia dan memiliki jati diri yang erbeda dari orang lain dalam masyarakat.
Dalam falsafah pendidikan Islam, Al-Quran merupakan sumber utama dan yang dijadikan sebagai pedoman utama dalam penyusunan kurikulumnya. Muhammad Fadhil al-Jamili mengemukakan bahwa Al-Quran adalah kitab terbesar yang menjadi sumber filsafat pendidikan bagi umat Islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan Islam disusun sesuai dengan Al-Quran dan Al- Hadist untuk melengkapinya. Banyak sinyal al-Quran tentang bentuk kurikulum Pendidikan islam. Diantaranya muatan materi yang mampu menyesuaikan perkembangan zaman, muatan filosofis materi mampu memprediksi apa yaag akan terjadi, muatan meteri sistematis, muatan menyentuh seluruh aspek kemanusiaan (jasmani, akal, dan hati) dan lainnya.  
Beberapa pemerhati pendidikan menilai bahwa pendidikan islam belum menjembatani pada tuntutan peningkatan kualitas pendioikan ditengah pluralisme sosial, budaya, ekonomi, politik dan agama. Pendidikan, termasuk pendidikan Islam dinilai hanya berkisar pada muatan untuk mencerdaskan intelektual belaka dan mengabaikan pada peningkatan kecerdasan emosional dan spiritual. Atas tanggapan tersebut, sistem pendidikan selalu dibongkar pasang untuk memberikan bekal pada peserta didik agar ilmu yang dimiliki dapat dijadikan sebagai alat untuk membentuk pola hidup pada zamannya. Tidak u ban ya pendidikan Islam yang juga selalu merombak diri menuju idealitas pendidikan yang rahmatan lila lamin bagi masyarakat plural. Pendidikan Islam berusaha menuju pada profesionalitas diri yang berakhlakul karimah, mencerdaskan tiga pilar kecerdasan sebagai bekal hidup yang lebih baik. Untuk itu kita memiliki kepentingan untuk melakukan orientasi pendidikan Islam.
Di sekolah terdapat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang merupakan salah satu pelajaran yang dikemas dalam sebuah kurikulum dan harus diikuti oleh peserta didik yang beragama Islam. Mata pelajaran PAI berfungsi sebagai pengajaran agama Islam, proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai agama Islam, rekonstruksi sosial dan sumber nilai dalam kehidupan masyarakat dalam rangka incmbentu manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama/ Dengan demikian, walaupun kita di Negara Indonesia ini terdiri dari bebagai suku bangsa dan agama, dalam pendidikan Islam kita saling menghormati keragaman tersebut dan tetap bisa bersatu sehingga tercipta kehidupan yang rukun dan damai.

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sudah terdapat pendidikan multikultural didalam kurikulum pendidikan Islam dimana Islam mengajarkan saling menghormati, mengasihi, tolong menolong dan sebagainya yang menjadikan kehidupan rukun dan damai.
Hakikat kurikulum memberikan pemahaman kepada kita bahwa lembaga pendidik wajib menyajikan mata pelajaran dan menyajikannya kepada anak didik dengan dasar-dasar moralitas dan falsafah yang baik dan benar sehingga harus dipertimbangkan prinsip-prinsip kurikulum yang dalam penyusunannya.
Di Madrasah, kerangka dasar dan struktur kurikulum PAI sudah diatur dan dijelaskan didalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Sehingga sebagai pendidik yang baik kita harus memahami betul hal tersebut agar tujuan pendidikan tercapai dengan maksimal.  




Daftar Pustaka
Fadlillah. Implementasi Kurikulum 2013 : Dalam Pembelajaran SD/Ml SMP/MTS & SMA/MA. Yogyakarta : Ar Ruzz Media. 2014.
Ihsan. Hamdani. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2004.
Maslikhah. Quo Vadis Pendidikan Multikultur: Rekonstruksi Sistem Pendidikan Berbasis Kebangsaan. Surabaya: PT Temprina Media Grafika. 2007.
Nasution, S. Asas-Asas Kurikulum. Edisi Ke-VI. Bandung: Jemmars. 1982.
Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru). Jakarta : Gaya Media Pratama. 2005.
Rahaijo, Rahmat. Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Cet. Ke-I. Yogyakarta : Magnum Pustaka. 2010.
Ramayolis & Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam : Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta : Kalam Mulia. 2009.
Salahuddin, Anas. Filsafat Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia. 2011.
Sulalah. Pendidikan Multikultural: Didaktika Nilai-Nilai Universal Kebangsaan. Malang: UIN MALIKI Press. 2012.
Suharto, Toto. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. Ke-I. Yogyakarta : Ar-Ruzz. 2006.
Tim Penyusun, Peraturan Menteri Agama RI Nomor 000912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Jakarta. 2013
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI MI Reviewed by Kharis Almumtaz on March 02, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.