Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL



PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Perkembangan yang pesat dalam dunia informasi dan komunikasi pada masa modem ini telah membuat kita tidak bisa lagi hidup secara terisolasi. Pluralitas agama, etnik, agama, budaya, dan sebagaimana merupakan fenomena yang tidak dapat ditolak. Kehidupan majemuk ini tentunya harus disikapi secara arif, karena dengan kemajemukan dan pluralitas apabila tidak disikapi dengan baik akan berbuah malapetaka.
Pendidikan mempakan hak dasar pada setiap manusia. Sebagai makhluk yang unik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, kebutuhan terhadap pendidikan pun tidak sama. Masing-masing individu memiliki tingkat ketertarikan tertentu terhadap bidang keilmuan dan lembaga pendidikan. Dalam pendidikan tidak selamanya keseragaman itu baik, karena dengan seragaman yang ada bisa mengakibatkan terbonsainya potensi masing-masing anak didik.1
Pendidikan multikultural hendaknya ditanamkan sedini mungkin kepada anak didik. Selain ditanamkan pendidikan multikultural juga hendaknya dibiasakan dalam proses pembelajaran. Disini peran gurulah sebagai tenaga pendidik yang sangat berpotensi dalam penanaman nilai-nilai multikultural.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan pendidikan multikultural?
2.         Apa nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan multikultural?
3.         Bagaimana peran guru dalam pendidikan multikultural?
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pendidikan Multikultural

Pendidikan multiultural sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan yang menekankan perlunya siswa mengenal dan menghargai budaya yang berbeda dan budaya asal mereka. Dalam pendekatan multikultural siswa bukan saja diperkenalkan pada budaya-budaya yang ada di dunia ini, akan tetapi juga diajak untuk merasa bangga pada budayanya sendiri dan yang paling pennting menghargai budaya lain, lain juga sama indah dan berharga dengan budayanya sendiri. Dalam pendidikan multikultural budaya yang berbeda ini bukan lagi sesuatu yang perlu disamakan, apalagi dimusnahkan.
Pendidikan multicultural sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia saat ini, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Pendidikan multikultural harus diupayakan secara sistematis, pragmatis, integrated dan berkesinambungan bahkan periu percepatan. Salah satunya pendidikan multikultural yang diselenggarakan melalui seluruh lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal bahkan informal di masyarakat luas.
Pendidikan multikultural bukan merupakan inovasi baru dalam dunia pendidikan, karena sudah sejak lama pendidikan multikultural itu digalakkan.. Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dan ras. Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural sebagai pendidikan yang menghargai perbedaan berusaha memberdayakan seluruh komponen warga sekolah untuk mengembangkan
rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya» memberikan kesempatan untuk bekeija bersama dengan orang lain, yang berbeda etnis atau ras secara langsung. Sehingga dapat disimpulkan pendidikan multikultural yaitu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian di dalan dan di luar sekolah yang mempelajari tentang berbagai macam status sosial, ras, suku, agama agar tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah-masalah keragaman budaya.
B.       Nilai-nilai Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultiral dipahami sebagai proses pendidikan yang beiprinsip pada demokrasi, kesetaraan, dan keadilan; berorientasi kepada kemanusiaan, kebersamaan dan kedamaian; serta mengembangkan sikapnsikap mengakui, menerima, dan menghargai keberagaman. Adapun nilai multikultural yang dapat ditanamkan serta dapat diterapkan, diantaranya meliputi:
1)        Nilai toleransi
Indonesia merupakan contoh konkrit negara yang memiliki agama yang multireligus. Dengan toleransi keberagaman agama tidak menjadi sebuah perpecahan dalam kegiatan sosial masyarakat. Toleransi berarti menjadi terbuka dan menerima keindahan perbedaan, seddangkan benih-benih toleransi adalah cinta yang dialiri oleh kasih sayang dan perhatian. Toleransi adalah menghargai individualitas dan perbedaan sambil menghilangkan topeng-topeng pemecah belah dan mengatasi ketegangan akibat kekacauan.
2)        Nilai demokrasi
Penerapan nilai demokrasi akan memberikan kesempatan serta pemahaman kepada siswa makna kebersamaan serta bagaimana menghormati pendapat orang lain. Serta segala hal yang berbeda dari apa yang dimiliki dan dipikirkan oleh siswa. Kebebasan akan menjadi utuh ketika hak diseimbangkan dengan tanggungjawab.
3)        Nilai Kesetaraan
Multikulturalisme  sebagai sebuah paham yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang lain. Dengan multikulturalisme dapat mengatasi kesetaraan budaya yang mampu meredam konflik vertical dan horizontal dalam masyarakat yang bertentangan dimana tuntutan akan pengakuan atas eksistensi dan keunikan budaya , kelompok dan etnis sangat biasa terjadi. Kebebasan akan menjadi untuh bila semua orang memiliki hak yang setara.
4)        Nilai Keadilan
Keadilan dapat diartikan sengan memberikan hak seimbang dengan kewajiban, atau memberi seseorang sesuai kebutuhannya. Misalnya, semua.
5)        Nilai kerjasama
Merupakan salah satu dari nilai pendidikan multikultural. Adanya gotong royong atau saling membantu, teijaganya kekompakan, tidak memilih- milih teman merupakan beberapa indikator dari nilai kerjasama. Keijasama didasari oleh prinsip saling mnghargai. Keberanian, pertimbangan, rasa sayang dan kesediaan untuk berbagi adalah dasar untuk bekerja sama.
6)        Nilai nasionalisme
Nilai nasionalisme sebagai bentuk rasa cinta tanah air, yang terindikasi dari sikap rela berkorban demi persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui pengintegrasian materi dengan penanaman nilai maka ilmu pengetahuan yang didapat tidak hanya sekedar pengertian akan tetapi juga pemahaman dan penghayatan dalam nasionalisme. Nilai nasionalisme juga dapat ditanamkan pada diri siswa melalui pembiasaan menyanyikan lagu-lagu nasional atau menunjukkan betapa pentingnya sejarah.
7)        Nilai persaudaraan
Persaudaraan adalah sebuah nilai yang memiliki arti sangat erat dengan adanya multicultural. Adanya nilai kebersamaan, maka keberagaman yang teijadi tidak akan menjadikan suatu hambatan atau masalah. Indikator dari nilai persaudaraan adalah rasa saling menyayangi dan mencintai dengan ketulusan.
8)        Nilai Kedamaian
Kedamaian berarti idak sekeddar tidak adanya perang, akan tetapi damai berarti hidup dengan rukun dan tidak ada permusuhan. Kedamaiaan tumbuh lewat tidak adanya kekerasan, adanya penerimaan, keadilan, dan komunikasi. Karena kedamaian adalah karakter utama dari masyarakat yang beradab.
9)        Nilai penghargaan
Penghargaan berarti mendengarkan orang lain serta tahu bahwa orang lain berharga. Penghargaan terhadap diri sendiri adalah benih percaya diri, apabila seseorang menghargai diri sendiri, akan sangat mudah bagi seseorang untuk menghargai orang lain. Apabila seseorang menghargai orang lain, maka orang lain juga akan dapat lebih menghargai.
10)    Nilai kerendahan hati
Nilai kerendahan hati sangat dibutuhkan dalam penanaman nilai multikulturalisme, karena melalui nilai rendah hati siswa dapat membiasakan diri tidak memiliki sikap sombong terhadap kelebihan yang dimilikinya.
C.       Peran Guru dalam Pendidikan Multikultural

Menurut Sardiman, guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan,  Sedangkan menurut Usman, guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
Pekeijaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekeijaan sebagai guru. Orang yang pandai pada bidang- bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai seorang guru.    Karena untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus dimana seorang guru harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran yang dilatih dan dikembangkan melalui masa pendidikan.

Profesi sebagai seorang guru menjadikannya dia sebagai teladan bagi sekitarnya terutama siswa-siswanya. Kepribadian seorang guru akan lebih besar pengaruhnya dari kepandaian dan ilmunya. Setiap guru akan mempunyai pengaruh terhadap siswanya melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dengan sengaja dan ada pula yang teijadi secara tidak sengaja, bahkan tidak disadari oleh guru, melalui sikap, gaya dan macam-macam penampilan kepribadian guiu. Seperti yang disebutkan oleh Wrightman dalam Usman yang menjelaskan bahwa peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan pembahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya. Jadi perkembangan sebuah pendidikan sebenarnya terletak ditangan seorang guiu.
Berkaitan dengan kepribadian, setiap guiu hendaknya mengetahui dan menyadari betul bahwa kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan ikut menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pendidikan tempat ia mengajar khususnya.    Kepribadian guiu akan diteladani oleh siswa menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.
Memaknai multikultural dalam konteks pendidikan memiliki implikasi bahwa, secara operasional pendidikan multikultural pada dasarnya adalah program pendidikan yang menyediakan sumber belajar yang beragam bagi peserta didik. Penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan akademik peserta didik. Seperti pendapat Hilda dalam Sulalah menjelaskan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu proses pendidikan yang memungkinkan individu untuk mengembangkan diri dengan cara merasa, menilai, dan betperilaku dalam sistem budaya yang berbeda dengan budaya mereka7
Konsep pendidikan multikultural yang ditawarkan Gollnick seorang ahli pendidikan didasarkan atas keyakinan dan asumsi sebagai berikut: pertama, perbedaan budaya mempunyai kekuatan dan nilai. Kedua, sekolah harus dibentuk untuk mengekspresikan makna hak asasi manusia. Ketiga, keadilan sosial dan persamaan hak bagi seluruh masyarakat harus menjadi puncak kepentingan dalam mendesain dan melaksanakan kurikulum. Keempat, sikap dan nilai-nilai penting yang dapat membentuk masyarakat demokrasi, perlu untuk dipromosikan di sekolah. Kelima para pendidik seharusnya bekerja sama dengan keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung multikulturalisme.
Seorang guru memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam proses penanaman nilai pendidikan multicultural, baik dalam proses belajar mengajar, maupun diluar proses belajar mengajar. Peran seorang guru diantaranya yaitu sebagai administrator, innovator, demonstrator, organisator (pengelola kelas), mediator/fasilitator, evaluator, teladan, serta konselor/motivator.
Nilai-nilai pendidikan multicultural dapat dikatakan telah ditanamkan kepada para siswa karena, nilai-nilai tersebut telah memenuhi dimensi-dimensi pendidikan multicultural, seperti integrasi isi, dimensi konstruksi pengetahuan, dimensi pengurangan prasangka, dimensi pendidikan yang sama/adil, dan dimensi pemberdayaan budaya sekolah.
Peran guiu dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan multikultural, adalah sebagai berikut:
1.         Innovator
Seorang guru berperan $eb*g»i itmovator saat membuat perencanaan sebehim melaksanakan proses pembelajaran Guru menggunakan metode strategi yang dapat menjadikan proses pembelajaran dapat berjalan dengan dengan baik dan maksimal. Peran guru dalam hal ini yaitu merencanakan proses pembelajaran, tidak terlepas dari dimensi integrasi isi materi yang mana materi pembelajaran dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan multicultural.
2.         Demonstrator
Seorang guru berperan sebagai penyampai materi yang baik. Guru mampu mentransfer ilmu kepada siswa tidak hanya penyampaian materi saja akan tetapi juga harus dapat mengkaitkan dengan pendidikan multikultural.
3.         Organisator
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Perannya sebagai organisator bisa dimulai dengan menanamkan nilai demokrasi. Nilai demokrasi yang ditanamkan bisa dengan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membentuk kelompok dan melakukan diskusi mengenai materi ketika proses pembelajaran.
4.         Mediator dan fasilitator
Peran guru sebagai mediator dan fasilitator disini guru memposisikan sebagai sumber belajar, dimana siswa diberi kesempatan untuk belajar dimana saja, melalui media apa saja. Dalam penanaman nilai demokrasi saat proses pembelajaran adalah ketika keberagamanan pendapat yang terjadi saat berdiskusi atau proses pembelajaran, sehingga siswa diharuskan saling toleransi dan bekeija sama untuk menyelesaikan suatu masalah berbeda.
5.         Evaluator
Peran guru sebaai evaluator ditunjukkan dari pemberian nilai keadilan dengan memiliki daftar nilai, tidak hanya nilai akademik akan tetapi daftar nilai sikap serta daftar nilai untuk keaktifan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lain.
6.         Motivator
Peran guru sebagai motivator penanaman nilai-nilai multicultural. Sebagai contoh ketika menanamkan nilai kesetaraan dan nasionalisme. Guru memberikan pemahaman kepada siswa agar mereka mampu memberikan pemahaman kepada siswa agar dapat memiliki sikap dan beiperilaku yang baik terhadap teman-temannya. Sikap yang baik ini diberikan kepada siapa saja, baik teman, guru, maupun karyawan sekolah.
Seorang guru dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan multicultural harus mempersiapkan dan melakukan beberapa tahapan agar penanaman nilai yang diberikan kepada siswa dapat berjalan dengan baik. Hal ini senada dengan pendapat Anne Stonehouse dalam kaitannya kurikulum berwawasan multicultural dia menjelaskan bahwa tahapan-tahapan tersebut yaitu: memperkenalkan perbedaan sebagai hal yang dialami, memberi alasan yang logis terhadap perbedaan-perbedaan tersebut, memperkaya pengalaman, memperbanyak pilihan, dan membiasakan dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Penanaman nilai-nilai pendidikan multicultural bisa diaplikasikan pada semua mata pelajaran apapun dengan menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbhineka ras, etnik, kelas sosial, agama dan kelompok budaya. Dengan penanaman ini diharapkan antara konstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan siswa dapat berperan aktif dalam masyarakat demokrasi-pluralistik seperti Indonesia yang memiliki banyak keragaman.
BAB III

KESIMPULAN
Pendidikan multikultural sebagai pendidikan yang menghargai perbedaan berusaha memberdayakan seluruh komponen warga sekolah untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberikan kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang lain, yang berbeda etnis atau ras secara langsung. Sehingga dapat disimpulkan pendidikan multikultural yaitu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian di dalan dan di luar sekolah yang mempelajari tentang berbagai macam status sosial, ras, suku, agama agar tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah-masalah keragaman budaya.
Nilai-nilai pendidikan multikultural diantaranya yaitu: nilai toleransi, nilai demokrasi, nilai kesetaraan, nilai keadilan, nilai kerjasama, nilai nasionalisme, nilai persaudaraan, nilai perdamaian, nilai penghargaan dan nilai kerendahan hati.
Peran guru dalam pendidikan multikultural yaitu sebagai innovator, demonstrator, organisator, mediator, fasilitator, evaluator, dan motivator. Penanaman nilai-nilai pendidikan multicultural bisa diaplikasikan pada semua mata pelajaran apapun dengan menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbhineka ras, etnik, kelas sosial, agama dan kelompok budaya. Dengan penanaman ini diharapkan antara konstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan siswa dapat berperan aktif dalam masyarakat demokrasi-pluralistik seperti Indonesia yang memiliki banyak keragaman.

DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah. 2005. Kepribadian Guru. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Naim, Ngainun, dkk. 2011. Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi,, Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Rachman Assegaf, Abd. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sardiman A. M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sulalah. 2011. Pendidikan Multikultural Dialektika Nilai-Nilai Universalis Kebangsaan. Malang: UIN-Maliki Press.
Uzer Usman, Moh. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Reviewed by Kharis Almumtaz on March 02, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.