Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TELAAH SILABUS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MADRASAH IBTIDAIYAH



TELAAH SILABUS
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MADRASAH IBTIDAIYAH
Tugas mata kuliah : PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
PROGRAM PASCA SARJANA
UIN SUNAN KAUJAGA
Yogyakarta
A.           PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang

Pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan dengan berbeda jenis kelamin, bangsa, suku, warna kulit, budaya dan sebagainya, dan akan diketahui bahwa orang yang paiing mulia disisi Tuhan adalah yang paling baik amal perbuatannya atau bcrtaqwa. Hai ini sejalan dengan ajaran islam sebagaimana termaktub dalam al Quran surat al Hujura ayat 13
Kemajemukan merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Seperti diketahui Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau terbesar di dunia yang mencapai 17.667 pulau besar dan kecil. Dengan jumlah pulau sebanyak itu maka wajarlah jika kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Dan perlu disadari bahwa perbedaan tersebut merupakan karunia dan anugerah Tuhan. Karena itulah, Usman Pelly (1988) menyatakan bahwa, meskipun setiap warga negara Indonesia berbicara dalam satu bahasa nasional, namun kenyataannya terdapat 350 kelompok etnis, adat istiadat, dan cara-cara sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu.[1] .
Dalam menghadapi pluralisme tersebut, diperlukan paradigma baru yang lebih toleran, itu paradigma pendidikan multikultural. Pendidikan berparadigma multikulturalisme tersebut penting, sebab akan mengarahkan anak didik untuk bersikap dan berpandangan toleran dan inklusif terhadap realitas masyarakat yang beragam, baik dalam hal budaya, suku, ras, etnis maupun agama. Paradigma ini dimaksudkan bahwa, kita hendaknya apresiatif terhadap budaya orang lain perbedaan dan keberagamaan merupakan kekayaan dan khazanah bangsa kita. Dengan pandangan tersebut diharapkan sikap eksklusif yang selama ini bersemayam dalam otak kita dan sikap rqembenarkan pandangan diri keras lain dengan menyerahkan bandengan dan pilihan orang lain dapat dihilangkan atau diminimalisir.[2]
Untuk mampu menjadi manusia yang saling mengenal tentu dibutuhkan pengetahuan dan saling berkomunikasi antar berbagai elemen bangsa Indonesia. Pengetahuan inilah yang penting untuk dikuasai sehingga manusia Indonesia mampu mengembangkan dan melakukan hidup berdampingan, bersatu dalam perbedaan. Dalam konteks ini peran pendidikan sangat penting untuk mewujudkan tatanan kehidupan tersebut. Salah satu unsur penting dalam pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar beserta seluruh komponen yang termasuk di dalamnya adalah silabus.
Di madrasah khususnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) pembelajaran yang menjadi ciri khas adalah Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terdiri dari: al Quran Hadist, Akidah Ahklak, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Fiqh, dan Bahasa Arab.

2.        Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan tentang pelaksanaan pembelajaran berwawasan multikultural di madrasah.
1)      Bagaimanakah peluang Pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural dalam silabus PAI Madrasah Ibtidaiyah
2)      Bagaimanakah tantangan Pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural dalam silabus PAI Madrasah Ibtidaiyah
3)      Bagaimanakah Implementasi PAI dalam Silabus di Madrasah Ibtidaiyah
PEMBAHASAN
A.           Peluang Pendidikan Agama Islam berwawasan muldknlhiral di Madrasah Ibtidaiyah
Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata “peluang” artinya kesempatan: yang baik, jangan disia-siakan, terhenti atau senggang. Berpeluang artinya mempunyai peluang dan kesempatan.[3]  Artinya pendidikan agama berwawasan multikultural mempunyai peluang yang sangat besar dan mempunyai kesempatan untuk diterapkan baik sebagai mata pelajaran tersendiri maupun diintegrasikan pada mata pelajaran lain misalnya Akidah Akhlak, PKN dan IPS. Hal ini dimaksudkan agar dapat mempersatukan masyarakat Indonesia yang bermacam macam agama, suku, ras dan budaya (kultur) yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Pendidikan agama berwawasan multikultural di madrasah mempunyai banyak peluang antara lain:
1.             Signifikansi Pluralisme Agama
Setiap agama di dunia ini memiliki nilai-nilai khas yang terdapat pada masing-masing agama. Islam secara teologis memiliki nilai-nilai universal yang dapat dilacak dari perkataan al-islam itu sendiri, yang berarti sikap pasrah kepada Tuhan, atau “perdamaian”. Dengan pengertian ini semua agama yang benar pasti bersifat al islam, karena mengajarkan kepasrahan pada Tuhan dan perdamaian. Tafsir Islam semacam ini akan bermuara pada konsep kesatuan kenabian {the vnity of prophecy) dan kesatuan kemanusiaan (the vnity of humanity). Kedua konsep ini merupakan implikasi dari konsep ke-Maha Esaan Tuhan {the unity of God) atau tauhid. Semua konsepsi ini menjadikan islam bersifat kosmopolit dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam.[4]
2.             Bhineka Tunggal Ika
Kemajemukan rakyat Indonesia yang disemboyankan dalam pita yang dicengkeram lambang Negara Garuda pancasila berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu juga” memberikan peluang untuk dapat disatukan dengan pelaksanaan pendidikan.
3.             Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Dalam ketentuan umum UU tersebut di atas pada pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Dan pada bab 3 pasal 4 ayat 1 menyebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.[5]
1)        Politik Pendidikan Nasional
Pilihan kebijakan pluralisme agama konvensional akan mengarahkan negara kepada 5 tindakan yaitu :(1) mengakui tiap tiap kelompok keyakinan; (2) mendorong secara spesifik agar kelompok keyakinan mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (3) membina tiap-tiap warga negara akan saling menghormati atas dorongan keimanannya; (4) membuka pintu akses partisipasi bagi Kelompok Keyakinan Minoritas (KKM) dalam ranah kekuasaan; dan (5) memberdayakan kelompok keyakinan yang tertindas.[6]  Alat sofa halaman 174
2)        Otonomi Daerah
Dalam pelaksanaan otonomi daerah ini kepala daerah diberi kewenangan dalam sebagian besar bidang pemerintahan termasuk wewenang untuk mengelola sumber daya alam, mengatur kesehatan, pendidikan dan pemberian izin bisnis berdasarkan aspirasi masyarakat. Bidang yang dikecualikan adalah kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain termasuk kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional.[7]
3)        Sarana Alternatif Pemecahan Konflik
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah berwawasan multikultural diyakini dapat dijadikan solusi nyata bagi konflik dan disharmonisasi yang terjadi di dalam masyarakat indonesia. Spektrum kultur masyarakat indonesia yang amat beragam menjadi tantangan bagi dunia pendidikan guna mengolah perbedaan tersebut menjadi suatu aset bukan sumber perpecahan.[8]
4)        Supaya Siswa Tidak Tercerabut dari Budaya Bangsa Sendiri
Penerapan pendidikan multikultural diharapkan dapat memberikan peluang untuk menghindari perilaku peserta didik dari pengaruh budaya asing supaya anak didik tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Pendidikan agama berwawasan multikultural juga signifikan dalam membina peserta didik agar tidak tercerabut dari akar budaya yang ia miliki sebelumnya tatkala ia berhadapan dengan realitas sosial budaya di era globalisasi. [9]
B.            Tantangan pendidikan agama berwawasan multikultural di sekolah/ madrasah
Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata “tantangan” mempunyai arti: pertama ajakan berkelahi atau bertanding perang kedua kata objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan, mengatasi masalah; rangsangan (untuk bekerja lebih giat) dan ketiga hal (objek) yang perlu ditanggulangi.[10]
Maksudnya Pendidikan Agama Islam (PAI) berwawasan multikultural madrasah sesuatu obyek yang perlu ditanggulangi dalam pelaksanaannya atau dengan kata lain mempunyai hambatan yang perlu di tanggulangi agar dalam pelaksanaan pendidikan agama yang berwawasan multikultural dapat dijalankan dengan baik. Beberapa hal yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama berwawasan
multikultural adalah :
1)        Penyeragaman Pendidikan
Sudah sgak lama kebijakan pendidikan atau >ang terkait dengan kepentingan pendidikan selalu diseragamkan, baik yang berwujud benda maupun konsep-konsep. Dengan adanya kondisi ini, maka para pelaku di sekolah cenderung suka pada keseragaman dan sulit menghargai perbedaan. Sistem pendidikan yang sudah sejak lama bersifat sentralistis, berpengaruh pula pada sistem perilaku dan tindakan orang-orang yang ada di dunia pendidikan tersebut sehingga sulit menghargai dan mengakui keragaman dan perbedaan.
Oleh karena itu, untuk pelaksanaan pendidikan multikultural yang sarat dengan nilai-nilai penghargaan terhadap rasa kemanusiaan, perbedaan, dan keragaman akan menjadi kurang disukai dan kurang dianggap penting.
2)        Tantangan global
Menurut Hamid Hasan, bahwa masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki keragaman sosial, budaya, aspirasi politik dan kemampuan ekonomi. Keragaman tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum, kemampuan sekolah dalam menyediakan pengalaman belajar dan kemampuan siswa dalam berproses, belajar dan mengolah informasi menjadi sesuatu yang dapat diterjemahkan sebagai hasil belajar. Keragaman itu menjadi suatu variabel bebas yang memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan kurikulum, baik sebagai proses maupun sebagai hasil. [11]
C.           Implementasi PAI dalam Silabus di Madrasah Ibtidaiyah
1)        Silabus
Silabus adalah seperangkat rencana yang berisi garis besar pokok-pokok pembelajaran mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi  pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.[12]  SiIabus yang dimaksud dalam Permenag Nomor 2 tahun 2008 meliputi: Qur’an Had its, Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab
2)         Konten PAI dalam permenag No.2 tahun 2008
 Dalam pembahasan ini konten yang disajikan adalah mengenai ruang lingkup, tujuan, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) bidang studi Akidah Akhlak
a.    Ruang lingkup
Ruang lingkup secara keseluruhan mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:

1)        Aspek akidah (keimanan) meliputi:
a)      Kalimat thayyibah sebagai materi pembiasaan, meliputi: Laa ilaaha illallaah, basmalah, alhamdulillaah, subhanallaah, Aliaahu Akbar, ia 'awwudz, maasya Allah, assalaamu 'alaikum, salawat, tarjilaa haula walaa quwwata illaa billah, dan istighfaar.
b)      Al-asma' al-husna sebagai materi pembiasaan, meliputi: al-Ahad, al-Kkaliq, ar-Rahmaan, ar-Rahiim, as- Samai \ ar-Razzaaq, al-Mughnii, al-Hamiid, asy-Syakuur, al-Qudduus, ash-Shamad, al-Muhaimin, al-'Azhiim, al- Kariim, al-Kabiir, al-Malik, al-Baathin, al-Walii, al-Mujiib, al-Wahhiab, al-’Aliim, azh-Zhaahir, ar-Rasyiid, al-Haadi, as-Salaam, al-Mu 'min, al-Latiif, al-Baaqi, al-Bashiir, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Qawii, al-Hakiim, al-Jabbaar, al-Mushawwir, al-Qadiir, al-Ghafuur, al-AJuww, ash-Shabuur, dan al-Haliim. [13] 
c)      Dalam Reinvensi Islam Multikultural Zakiudin Baidhawi[14]  ditawarkan tentang konsep tuhan sebagai pencipta manusia sebagaimana bisa diturunkan dari nama nama tuhan atau as maui husna a/ asma al husna tuhan terutama
d)      Iman kepada Allah dengan pembuktian sederhana melalui kalimat thayyibah, al-asma’al-husna dan pengenalan terhadap salat lima waktu sebagai manifestasi iman kepada Allah.
e)      Meyakini rukun iman (iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan Hari akhir serta Qada dan Qadar Allah).
2)        Aspek akhlak meliputi:
a)      Pembiasaan akhlak karimah (mahmudah) secara berurutan disajikan pada tiap semester dan jenjang kelas, yaitu: disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh pendirian, dermawan, optimis, qana ’ah, dan tawakal,
b)      Mengindari akhlak tercela (madzmumah) secara berurutan disajikan pada tiap semester dan jenjang kelas, yaitu: hidup kotor, berbicara jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad.
3)        Aspek adab Islami, meliputi:
a)      Adab terhadap diri sendiri, yaitu: adab mandi, tidur, buang air besar/kecil, berbicara, meludah, berpakaian, makan, minum, bersin, belajar, dan bermain.
b)      Adab terhadap Allah, yaitu: adab di masjid, mengaji, dan beribadah.
c)      Adab kepada sesama, yaitu: kepada orang tua, saudara, guru, teman, dan tetangga
d)      Adab terhadap lingkungan, yaitu: kepada binatang dan tumbuhan, di tempat umum, dan dijalan.
4)        Aspek kisah teladan, meliputi:
Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, Nabi Sulaiman dengan tentara semut, masa kecil Nabi Muhammad SAW, masa remaja Nabi Muhammad SAW, Nabi Ismail, Kan’an, kelicikan saudara-saudara Nabi Yusuf AS, Tsa’labah, Masithah, Ulul Azmi, Abu Lahab, Qarun, Nabi Sulaiman dan umatnya, Ashabul Kahfi, Nabi Yunus dan Nabi Ayub. Materi kisah-kisah teladan ini disajikan sebagai penguat terhadap isi materi, yaitu akidah dan akhlak, sehingga tidak ditampilkan dalam Standar Kompetensi, tetapi ditampilkan dalam kompetensi dasar dan indikator.[15]
b.   Tujuan
Mata Pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
1)        Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
2)        Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam. [16]
Dari uraian di atas jelaslah bahwa tujuan Pelajaran Akidah Akhlak di MI adalah untuk menjadikan siswa memiliki kompetensi akhlakul karimah dalam praktek kehidupan sehari-hari, menghargai perbedaan dan menjadi ummatan
c.    Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
Pembahasan tentang Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ini lebih fokus pada SK dan KD bidang studi Akidah Akhlak pada Madrasah Ibtidaiyah kelas V. Berikut ini tabel SK dan KD semester 1 dan semester 2 secara berurutan :
Kelas V, Semester I____ _________
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
1. Memahami kalimat thayyibah (Alhamdulillaah dan Allahu Akbar), al-asma 'al-husna (al-Wahhaab, ar-Rozzaaq, al-Fattaah, asy-Syakuur, dan al-Mughni)
1.1      Mengenal Allah melalui kalimat thayyibah (Alhamdulillaah dan Allahu Akbar)
1.2      Mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-asmaal-husna (al-Wahhaab, ar-Rozzaaq, al-Fattaah, asy-Syakuur, dan al-Mughni)
2. Beriman kepada hari akhir (kiamat)
2.1 Mengenal adanya hari akhir (kiamat)
3. Membiasakan akhlak terpuji
3.1      Membiasakan sikap optimis, qanaah, dan tawakkal dalam kehidupan sehari-hari
3.2      Membiasakan akhlak yang baik ketika di tempat ibadah dan tempat umum
4. Menghindari akhlak tercela
4.1Menghindari si&t pesimis, bergantung, serakah, dan putus asa dalam kehidupan sehari-hari

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
5. Memahami kalimat thayyibah (tarjV) dan al-asma ' al-husna (al-Muhyti, al-Mumiit)
5.1      Mengenal Allah melalui kalimat thayyibah (tarjV)
5.2      Mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-asma' al-husna (al-Muhyii, al-Mumiit dan al-Baaqii)
6. Membiasakan akhlak terpuji
6.1     Membiasakan sikap teguh pendirian dan dermawan dalam kehidupan sehari-hari
6.2     Membiasakan akhlak yang baik dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat

6.3       1 Membiasakan diri untuk menghindari silat kikir dan serakah melalui kisah qarun

Dari kedua tabel di atas, unsur-unsur dalam KD yang menunjukkan adanya pendidikan multikultural terdapat pada : KD 1.2 tentang asmaul husna a! wahhab, KD 3.2 tentang membiasakan akhlak yang baik ketika di tempat ibadah dan tempat umum, KD 4.1 tentang Menghindari sifat pesimis, bergantung, serakah, dan putus asa dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pada tabel kedua terdapat pada: KD 6.1 tentang Membiasakan sikap teguh pendirian dan dermawan dalam kehidupan sehari-hari dan KD 6.2 tentang membiasakan akhlak yang baik dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat.
3)        Desain Pembelajaran
Salah satu komponen dalam pendidikan adalah pembelajaran.[17]  pembeiajam sendiri memiliki karakteristik sesuai jenjang masing-masing pendidikan. Artinya karakteristik pembelajaran jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) tidak sama dengan Karakteristik Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Jenjang MI merupakan pendidikan yang mendasari jenjang pendidikan berikutnya.   Esensi pembelajaran di tingkat Ml adalah berupaya untuk menanamkan semangat atau jiwa keimanan (tauhid) kepada Allah Swt. Upaya menanamkan jiwa ketauhidan bisa dilakukan dengan cara doktrin terhadap anak didik. Doktrin bisa dilakukan berdasar kemampuan improvisasi yang dimiliki oleh masing-masing guru. Substansi doktrinnya adalah bagaimana agar anak didik memiliki ketertarikan pada kedekatan terhadap Allah Swt. Dengan demikian kompetensi bagi lulusan ini adalah memiliki kualitas keimanan yang baik.
Zakiah Daradjat dalam Ngainun menyampaikan bahwa ditinjau dari peran dan tanggung jawab guru dalam mewujudkan keberhasilan pembelajaran, di MI  guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Peran guru untuk mewujudkan keberhasilan anak didik dalam belajar berkisar 90% sedangkan anak didik hanya 10 %, hal ini menunjukkan bahwa peran guru sangat menentukan karakteristik dan kemampuan anak didik dalam memahami materi pelajaran. Jika guru rendanh motivasi mengejarnya dan sempit wawasan pengetahuannya maka anak didik pun akan rendah motivasi belajamyanya dan sempit pula pengetahuan atau wawasan nya
Beberapa pendekatan dalam pembelajaran pendidikan multikultural dapat menjadi acuan bagi para guru dalam mempraktekkan dan memotivasi siswa. Dalam pendekatan pembelajaran pendidikan multikultural di lembaga pendidikan keagamaan, perilaku yang dicontohkan oleh para pendidik memiliki nilai sangat penting untuk ditanamkan sejak dini. Para pemimpin lembaga pendidikan keagamaan dalam hal ini cenderung lebih mengedepankan modelingforee sebagai sarana yang dianggap paling tepat untuk menanamkan nilai multikultural, karena di dalamnya terkandung muatan nilai moral dan norma yang diaplikasikan oleh para pemimpin dalam memerankan fungsi sosial.
Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan strategi pembelajaran yaitu:
1)        Mempertimbangkan spesifikasi dan kualifikasi hasil output dan sasaran yang harus dicapai
2)        Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama atau besok gue yang paling efektif untuk mencapai sasaran
3)        Mempertimbangkan dan menetapkan langkah langkah atau step yang akan ditempuh setiap titik awal sampai sekarang
4)        Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur atau kriteria dan patokan utama atau standar untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan atau kecil sama usaha. J.A Banks dalam Sulalah (2012) menawarkan empat pendekatan dalam pendidikan multi kultural, yaitu kontributif (dilakukan dengan menyeleksi buku-buku teks wajib, atau anjuran aktivhsa-aktivitas tertentu), aditif (dengan penambahan muatan-muatan, tema-tema tertentu tanpa meru bah struktur kurikulum), aksi sosial/ kegiatan sosial, dan transformatif (mengembangkan paradigma baru dimana konsep, tema dan isu-isu didekati dengan pendekatan perbandingan). 


KESIMPULAN
Pendidikan muJukulturil memang sebuah konsep yang dibuai dengan tujuan untuk mcnctptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat dcmokrasi-pturalistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama.
Penyeragaman pendidikan dan kemajuan dunia yang menjadi global merupakan keadaan yang harus mampu disikapi dengan pendidikan multikultural. Segera melakukan adalah hal yang lebih baik tidak menunggu semuanya maksimal.
Dalam implementasinya, paradigma pendidikan multikultural khususnya di Ml dituntut untuk lebih berpegang pada prinsip-prinsip at Qur’an dan al asma al-husna . Pendidikan multikultural harus mampu menawarkan beragam kurikulum yang merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang, didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penafsiran tunggal terhadap kebenaran sejarah, dicapai sesuai dengan penekanan analisis komparatif dengan sudut pandang kebudayaan yang berbeda-beda, mendukung prinsip-prinisip pokok dalam memberantas pandangan klise tentang ras, budaya dan agama.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sofha, pendidikan Multikultural: telaah pemikiran dan implementasinya dalam pembelajaran PAI,\dea Press, Yogyakarta,2009
AnonimJPermenag Nomor 2 tahun 2008: Lampiran 3a
Choirul Mahfud.Pendidikan Multikultural,Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2006
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994
Dokumen KTSP MIN Jejeran tahun 2014/2015
Ngainun Naim & Ahmad Sauqi,Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi,Ar Ruz Media Group, Yogyakarta,2008
Pupu Saiful Rahmat, Wacana Pendidikan Multikultural di Indonesia; Sebuah Kajian terhadap Masalah-masalah Sosial yang Terjadi Dewasa ini, dalam http//www.akhmadsudrajat.wordpress.com/2014/11/29/wacana-pendidikan- multikultural-di-indonesia.
S.Hamid Hasan, Multikulturalisme Untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 026,6, (oktober, 2000).
Sulalah, Pendidikan Multikultural Didaktika Nilai Nilai Universalitas Kebangsaan, UIN Maliki Press Malang ,2012
Zakiudin Baidhawi ,Reinvensi Islam Multikultural »PSB-PS-UMS,Surakarta 2005


[1] Choirul Mahfudpendidikan Multikultural,Pustaka. Pelajar,Yogyakarta 2006,hlm. 177.
[2] Ibid,Choirul, Pendidikan...,hlm 178
[3] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hlm, 745
[4] Ahmad Sofha, pendidihan MultikuUural:telaah pemikiran dan implementasinya dalam pembelajaran /M/.ldea Press, Yogyakarta,2009,hlm.l72
[5] Depdiknas Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional »Bandung, Citra Umbara, 2006,hlm. 76
[6] Ibid,Ahmad Sofha, pendidikan... ,hlml74
[7] Ibid Ahmad Sofha, pendidikan , .hlm. 176
[8] Ibid Ahmad Sofha, pendidikan... .hlm. 176
[9] Ibid Ahmad Sofha, pendidikan . , .hlm. 177
[10] Ibid, Dcpdikbud,hlm. 1008
[11] S. Hamid Hasan, Multikultural isme Untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional,
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 026,6, (oktober, 2000).

[13] Anowm,PermenagNomor 2 tahun 2008: Lampiran 3a, hal.210
[14] Zakiudin Baidhawi Reinvensi Islam Multikultural .PSB-PS-UMS,Surakarta 2005,him 13
[15] Ibid, Anonim... .hlra.211
[16] Ibid, Anonim... .hlm.207
[17] Ngainun Naim& Ahmad Smqi,Pendldikan Multikultural Konsep dan Aplikasi,Ar Ruz Media
Group, Yogyakarta,2008, hlm205
TELAAH SILABUS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MADRASAH IBTIDAIYAH Reviewed by Kharis Almumtaz on March 14, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.