Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah  Filsafat Ilmu:pendidikan agama islam dalam perspektif multidisipliner
Dosen Pengampu:  Prof.Dr Faisal Ismail, M.A & Dr. Radjasa, M.Si





  • A.    Pendahuluan
Menurut Ritzer, dalam ilmu pengetahuan sosiologi terdapat tiga paradigma besar yang menjadi acuan berpikir para sosiolog. Tiga paradigma tersebut adalah fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial. Ketiganya saling bersebrangan dan saling menyerang satu sama lain. Paradigma fakta sosial memandang bahwa tindakan individu ditentukan oleh norma-norma, nilai-nilai dan struktur sosial. Sementara, paradigma definisi sosial memandang bahwa suatu tindakan sosial justru ditentukan oleh kehendak bebas manusia yang berupa tanggapan kreatif terhadap suatu stimulus dari luar.
Paradigma perilaku sosial muncul sebagai kritik terhadap kedua paradigma tersebut. Paradigma ini memandang bahwa tindakan suatu individu dipengaruhi oleh lingkungannya baik sosial maupun non-sosial. B.F. Skinner sebagai pelopor sosiologi behavior mengkritik bahwa paradima fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif bersifat mistik.

Menurutnya kedua paradigma tersebut mengandung persoalan yang bersifat teka-teki dan tidak dapat diterangkan secara rasional. Hal tersebut dapat menjauhkan objek studi sosiologi dari sesuatu hal yang bersifat konkrit-relistis, yaitu perilaku manusia yang nampak serta kemungkinan perulangannya. Skinner juga berusaha menghilangkan konsep “voluntarisme” Parsons, pada paradigma definisi sosial yang menurutnya mengandung  ide kebebasan manusia, man seakan-akan serba memiliki kebebasan bertindak tanpa kendali.
Hal tersebut akan sangat menarik untuk dibahas, berdasarkan uraian tersebut, maka materi yang akan dibahas pada makalah ini adalah paradigma perilaku sosial.

Pembahasan
  • 1.    Exemplar
George Caspar Homans lahir di Boston, Massachussets pada 11 Agustus 1910. Homans belajar di sekolah lanjutan swasta di St. Paulus di Concord, New Hampshire dari tahun 1923-1928, lulus pada bidang Sastra Amerika dan Inggris pada 1932. Ia Menjadi instruktur di Harvard University tahun 1939-1941 dan tahun 1953 menjadi professor sosiologi. Homans mengajar di Harvard dari tahun 1939 sampai 1941. Setelah itu ia menjabat sebagai seorang perwira angkatan laut selama Perang Dunia II selama empat tahun, Kemudian ia kembali ke Harvard untuk menjadi staf pengajar (1946-1970). 
Homans merupakan salah seorang anggota  Center for Advanced Studies di Behavioral Sciences. Selain itu ia juga merupakan presiden dari American Sociological Association, dan anggota National Academy of Science. Pada tahun 1980 ia pensiun dari posisi pengajar di Harvard University, namun hal tersebut tidak membuatnya berhenti menulis penjelasan teori-teori sosialnya. Homans meninggal pada  29 Mei 1989 di Cambridge.
Diantara hasil karyanya yang terkenal adalah buku Human Group (1950), Dalam bukunya tersebut Homans menujukkan bagaimana tiga kelompok variable yakni interaksi, perasaan, dan tindakan berhubungan secara timbal-balik dengan lingkungan sosial dan fisik.
Karya terkenal Homans selanjutnya adalah buku Social Behaviours: its Elementary From (1961-1974). Dalam buku ini Homans menjelaskan bahwa “semakin bernilai anggota kelompok dalam kegiatannya, maka semakin tinggi status seseorang dalam kelompok, semakin besar kekuasaan yang didapatkannya. Semakin banyak pengaruh sebuah kelompok seseorang, akan semakin besar pengaruh kekuasaannya.”
Teori Homans yang terkenal ada dua, yang pertama adalah teori pertukaran sosial (exchange) dan yang kedua adalah teori stratifikasi. Dalam teori pertukaran sosial, Homans mengambil landasan konsep-konsep dan prinsip-prinsip teorinya dari psikologi perilaku (behavioral sociology) dan ilmu ekonomi dasar. Teori ini menyatakan bahwa manusia senantiasa melakukan pertukaran-pertukaran sosial dengan sesamanya. Pertukaran sosial tersebut terjadi saat seseorang individu melakukan pengorbanan (cost) terhadap rekan sosialnya baik berupa uang, tenaga pikiran dan lain sebagainya dimana pengorbanan tersebut akan dibalas (rewad)  dengan  penghargaan atau dukungan sosial (social approval).
Dalam Teori stratifikasi, Homan menyatakan bahwa bentuk perilaku kelompok kecil sebagai bagian dari sistem sosial yang sifatnya berupa penghargaan. Imbalan harus sederajat dengan statusnya dalam kelompok, semakin tinggi status seseorang dalam kelompok, maka semakin besar kekuasaan yang diperolehnya dalam kelompoknya tersebut.

  • 2.    Pokok Pemikiran
Pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian paradigma perilaku sosial adalah antar hubungan antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan tersebut terbagi menjadi dua macam, yaitu lingkungan sosial dan lingkungan non-sosial. Prinsip yang menguasai hubungan antar individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antar individu dengan obyek non-sosial.  Artinya prinsip-prinsip hubungan antara individu dengan obyek sosial dan individu dengan obyek non-sosial bersifat sama.

Paradigma ini memusatkan perhatiannya terhadap proses interaksi dengan menggunakan konseptual yang berbeda dengang paradigma lain. Dalam paradigma perilaku sosial, individu sebagai aktor sosial kurang memiliki kebebasan. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh B.F. Skinner yang menyatakan bahwa tindakan manusia tidak selamanya bebas atau self-controled beings, tetapi ditentukan oleh lingkungan.  Tingkah laku manusia bersifat mekanik dimana tanggapan yang dilakukannya sangat ditentukan oleh rangsangan atau stimulus yang datang dari faktor lingkungannya.

Hal tersebut tentu saja berbeda jauh dengan konseptual yang digunakan oleh paradigma yang lainya. Seperti halnya konseptual yang digunakan oleh paradigma definisi sosial diamana aktor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif dalam proses interaksi. Aktor menginterpretasikan stimulus yang diteriamanya menurut caranya mendefinisikan stimulus yang yang diterimanya tersebut.
Begitupun juga terdapat perdaan antara konseptual paradigma perlaku sosial dengan dengan paradigma definisi sosial. Meskipun keduanya sama-sama memandang bahwa individu sebagai aktor sosial itu tidak memiliki kebebasan penuh. Tetapi terdapat perbedaan yang mendasar diantara keduannya. Perbeadaan tersebut terletak pada sumber pengendalian tingkah laku individunya. Jika paradigma perilaku sosial lebih mengedepankan faktor lingkungannya, maka paradigma fakta sosial lebih mengedepankan faktor struktur makroskopik dan pranata sosial. Paradigma perilaku sosial juga menggeserkan persoalan paradigma fakta sosial menjadi “sampai seberapa jauh faktor struktur makroskopik dan pranata sosial tersebut mempengaruhi hubungan antar individu dan kemungkinan perulangan kembali?”
Pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini adalah tingkah laku individu dalam rangka melangsungkan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan non-sosial yang kemudian menghasilkan perubahan terhadap tingkah laku. Intinya terdapat hubungan fungsional antara perubahan yang terjadi dilingkungan individu yang bersangkutan dengan tingkah laku individu tersebut.

Menurut paradigma perilaku sosial, data empiris mengenai kenyataan sosial hanyalah perilaku-perilaku individu yang nyata (overt behavior).  Paradigma perilaku sosial menekankan pada pendekatan objektif empiris atas kenyataan sosial. Dari ketiga paradigma tersebut, paradigma ini lebih dekat dengan gambaran kenyataan sosial dengan asumsi-asumsi implisit yang mendasari pendekatan konstruksi sosial.  Terdapat dua teori yang termasuk ke dalam paradigma ini, yaitu:

a)    Teori Behavioral sosiologi
Behaviral sosiologi merupakan sebuah teori yang berasal dari konsep psikologi perilaku yang kemudian diterapkan kedalam konsep sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku aktor.  Akibat-akibat dari tingkah laku tersebut dijadijadikan sebagai variabel independen.
Teori Behavioral sosiologi berusaha untuk menerangkan hubungan historis anatara akibat tingkah laku masa lalu yang terjadi dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku aktor yang terjadi sekarang. Artinya, teori tersebut menerangkan bahwa tingkah laku yang terjadi dimasa sekarang merupakan akibat dari tingkah laku yang terjadi di masa sebelumnya.
Melalui bukunya Sociology : A Mulitple Paradigm Science, George Ritzer sendiri mengungkapkan kebingungannya atas proposisi bahwa “dengan mengetahui apa yang diperoleh dari suatu tingkah laku nyata di masa lalu maka akan dapat diramalkan apakah seorang aktor akan bertingkah laku yang sama (mengulanginya) dalam situasi sekarang.
Konsep dasar yang menjadi pemahaman Behavioral sosiologi  adalah “reinfocement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (rewad). Suatu ganjaran yang membawa pengaruh akan diulang dan begitupun juga sebaliknya, suatu ganjaran yang tidak membawa  pengaruh bagi si aktor tidak akan diulang. Contoh yang sederhana adalah makanan yang dapat dinyatakan sebagai ganjaran yang umum dalam masyarakat.  Tapi bila seseorang  sedang tidak lapar maka makan tidak akan diulang. Namun bila aktor sosial tersebut sedang lapar, maka makanan akan menjadi faktor pemaksa untuk melakukan perulangan.
Dalam contoh diatas terdapat kerugian psikologis apabila kita meniadakan unsur manusia, makanan, seks, air atau udara, karena semuanya akan menjadi faktor pemaksa yang potensial. Begitu juga sebaliknya, bila semua faktor telah dipenuhi maka kebutuhan tersebut tidak akan berguna sebagai faktor pemaksa.
Contoh lainnya adalah sesuatu yang kita pelajari, apabila kita telah belajar  membutuhkan suatu jenis barang, maka barang tersebut akan menjadi pemaksa bila kita tidak memenuhinya.

b)    Teori Pertukaran Sosial (Exchange )
Teori pertukaran sosial yang dibangun oleh Homans diambil dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip psikologi perilaku (behavioral psichology).  Selain itu juga homans mengambil konsep-konsep dasar ilmu ekonomi seperti biaya (cost), imbalan (rewad) dan keuntungan (profit). Dasar ilmu ekonomi tersebut menyatakan bahwa manusia terus menerus terlibat antara perilaku-perilaku alternatif, dengan pilihan yang mencerminkan cost and rewad (atau profit) yang diharapkan yang berhubungan garis-garis perilaku alternatif itu.

Homans mempunyai tujuan agar gambaran mengenai perilaku manusia dalam pertukaran ekonomi di pasar diperluas, sehingga juga mencakup pertukaran sosial. Tindakan sosial dilihat dari equivalen dengan tindakan ekonomis dimana satu tindakan tersebut bersifat rasional dan memeperhitungkan untung rugi. Kemudian aktor juga mempertimbangkan keuntungan yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkannya dalam melakukan interkasi sosial.
Teori Pertukaran sosial menyatakan bahwa semakin tinggi ganjaran (rewad) yang diperoleh maka makin besar kemungkinan tingkah laku akan diulang. Begitu pula sebaliknya semakin tinggi biaya (cost) atau ancaman hukuman (punishment) yang akan diperoleh, maka makin kecil kemungkinan tingkah laku serupa akan diulang. Sealin itu juga terdapat hubungan berantai antara berbagai stimulus dan perantara berbagai tanggapan.

Secara umum keseluruhan teori pertukaran sosial (exchange) dapat dapat digambarkan melalui lima proposisi George Homan,  yaitu:
    Jika tingkah laku atau kejadian sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku atau kejadian yang mempunyai hubungan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi atau dilakukan. Proposisi ini menyangkut hubungan antara apa yang terjadi di waktu silam dengan yang terjadi di waktu sekarang.
    Menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima atas tanggapan atau tingkah laku tertentu dan kemungkinan terjadi peristiwa yang sama pada waktu sekarang. Makin sering dalam peristiwa tertentu tingkahlaku seseorang memberikan ganjaran terhadap tingkah laku orang lain, maka makin sering pula orang tersebut mengulang tingkah lakunya. Hal tersebut juga berlaku terhadap tingkah laku yang tidak melibatkan orang lain.
    Memberikan nilai atau arti kepada tingkah laku yang diarahkan oleh orang lain terhadap aktor. Makin bernilai bagi seseorang sesuatu tingkah laku orang lain yang ditujukan kepadanya, maka makin besar kemungkinan perulangan tingkahlaku tersebut dilakukan. Dalam proposisi inilah Homan meletakan tekanan dari exchange teorinya. Pertukaran kembali tersebut berlaku kepada kedua belah pihak. Exchange tidak akan terjadi apabila nilai sesuatu yang dpertukarkan itu sama. Karena exchange  hanya akan terjadi bila cost yang diberikan akan menghasilkan benefit yang lebih besar. Exchange tersebut terjadi pada konteks yang berbeda di antara kedua belah pihak, sehingga kedua belah pihak merasa sama-sama mendapat untung. Dan keuntungan tersebut sebenarnya mengandung un sur psikologis.
    Makin sering seseorang menerima ganjaran atas tindakannnya, maka makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
    Semakin seseorang merasa rugi dalam hungannya dengan orang lain, maka makin besar kemungkinan orang tersebut mengembangkan emosi. Proposisi ini berhubungan dengan konsep keadilan relatif (relative justice) dalam proses tukar-menukar.

Suatu contoh sederhana dalam teori pertukaran sosial adalah persahabatan. Dalam sebuah jalinan persahabatan diperlukan sebuah pengorbanan (cost) baik berupa materil, maupun immateril. Namun dibalik semua itu harus ada penghargaan (rewad) yang diperoleh dari persahabatan tersebut. Rewad  tersebut terwujud dalam bentuk dukungan sosial (social approval) atau ungkapan perasaan positif.

  • 4.    Metodologi
Metode yang dipergunakan oleh paradigma perilau sosial pada umumnya adalah eksperimen, kuesioner, interview dan observasi. Namun, yang paling banyak digunakan oleh oleh para peneliti paradigma tersebut adalah eksperimen. Keutamaan dari metode eksperimen dari metode ini adalah memberikan kemungkinan terhadap peneliti untuk mengontrol dengan ketat objek dan kondisi disekitarnya. Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian dan pengukuran ketepatan yang tinggi terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkahlaku aktor yang ditimbulkan dengan sengaja dalam eksperimen itu.

C.    Penutup
1.    Analisis
Apabila dilihat dari sudut pandang keterkaitannya dengan psikologi, paradigma perilaku sosial merupakan kebalikan dari paradigma fakta sosial yang mencoba memisahkan kajian sosiologi dari psikologi. Para tokoh paradigma perilaku sosial justru mengadopsi konsep behavioral psikologi ke dalam kajian sosiologi. Selain itu paradigma perilaku sosial tak lebih hanya sekedar paradigma hasil rasikan dari sekumpulan konsep-konsep jiplakan dari disiplin ilmu lain. Seperti halnya teori pertukaran sosial yang sebenarnya itu merupakan teori ekonomi klasik yaitu teori pertukaran pasar yang kemudian dibumbui aroma psikologi dan dikait-kaitkan dengan sosiologi. Hal tersebut cenderung mereduksi status sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang independen, khususnya dari pengaruh psikologi.
Menurut kami bahwa apa yang dikatakan oleh B.F Skinner yang menyatakan bahwa objek studi sosiologi yang harus konkret-realistis itu juga kurang tepat. Karena dalam masyarakat sendiri terdapat kebudayaan yang terwujud dalam tiga bentuk, yaitu: ide, tradisi dan artefak. Memang tradisi dan artefak berwujud konkret, tapi untuk ide sendiri bersifat abstrak. Dan sesuatu yang abstrak bukan berarti itu tidak realistis. Bahkan sosiologi sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkret.

  • Kesimpulan
    Paradigma perilaku sosial adalah paradigma sosiologi yang memusatkan kajiannya pada proses interaksi individu dengan lingkungannya baik sosial maupun non-sosial dengan menggunakan konseptual bahwa individu sebagai aktor sosial tidak sepenuhnya memiliki kebebasan.
    Pokok persoalan dari paradigma perilaku sosial adalah antar hubungan antara individu dengan lingkungannya.
    Teori yang termasuk kedalam paradigma perilaku sosial adalah teori behavioral sosiologi dan teori pertukaran  sosial (exchange)
    Metode yang digunakan paradigma perilaku sosial adalah eksperimen, kuesioner, interview dan observasi


Daftar Pustaka

Anwar, Yesmil & Adang. Pengantar Sosiologi Hukum. Jakarta: Grasindo Persada, 2008
Anwar, Yesmil & Adang, Sosiologi Untuk Universitas. Bandung: Refika Aditama, 2013
Indrawijaya, A. Ibrahim. Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Rafika Aditama. 2010
Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern 2. Terjemahan Robert M.Z Lawang, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1990
Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Terjemahan Alimandan. Jakarta: Rajawali Pers, 2014
Zamroni. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1992


PARADIGMA PERILAKU SOSIAL Reviewed by Kharis Almumtaz on May 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.