Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PEMODELAN DALAM TEORI KOGNITIF SOSIAL

PEMODELAN DALAM TEORI KOGNITIF SOSIAL
PEMODELAN DALAM TEORI KOGNITIF SOSIAL

PENDAHULUAN
Almumtaz.wiki- Manusia pada awal kehidupannya mempelajari berbagai perilaku dan kebiasaan dengan cara meniru. Karena manusia punya kebiasaan meniru maka faktor keteladanan sangat] penting dalam dunia pendidikan, Manusia belajar dengan berbagai metode, | Terkadang ia belajar dengan cara meniru layaknya anak kecil meniru orang tuanya. ■Siswa yang belajar mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda, namun setiap anak tidak diragukan lagi dalam kemampuan melihat obyek hidup. Karena melihat (Berupakan cara yang paling mudah untuk mendapatkan pemahaman bagi anak- anak. ^Beorang pendidik yang bijaksana akan terus mencari metode alternatif dengan nfiierapkan dasar- dasar pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna, memiliki wawasan yang luas dan berkepribadian yang mantap.

Melalui keteladanan yang baik dari orang tua dan guru, anak belajar kebiasaan baik dan akhlak mulia. Teladan adalah metode yang paling penting dalam pendidikan, apalagi iptuk pendidikan anak. Karena anak hanya akan melihat sang idola di dalam hidupnya. Ia jakan menirunya, mengikutinya dan berupa sekuat tenaga untuk bisa mirip dengan idolanya tersebut

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pemodelan dalam teori kognitif sosial?
2. Bagaimanakah pemodelan dalam pendidikan Islam?


PEMBAHASAN
Pemodelan dalam teori kognitif sosial

Padappsikologi terdapat adanya beberapa teori belajar. Salah satunya adalah teori kondisioning. Dalam teori tersebut dikenal teori social leaming teory atau teori belajar sosial.
Teori belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, seorang tokoh behavioris moderat Menurut Albert Bandura tingkah laku manusia bukan semata- mata refleks otomatis atas stimulus ( S-R Bond) atau ikatan antara S- R. Melainkan juga akibat reaksi yang jambul sebagai hasil interaksi lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Prinsip dasar belajar adalah proses manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).

Dalam teori ini juga menyatakan bahwa seseorang belajar tidak harus melakukan trial and eror. Seseorang dapat menguasai banyak respons baru hanya dengan mengamati perilaku orang lain atau model. Misalnya, seseorang mungkin mempelajari cara menyelesaikan soal pembagian yang panjang, mengeja sinonim kata dengan benar, atau mengungkapkan gagasan secara tidak sopan ke guru hanya dengan mengamati orang lain melakukan hal ini untuk pertama kali.

Menurut Bandura, belajar melalui observasi atau pengamatan jauh lebih evisien ^panding dengan belajar melalui pengalaman langsung. Dengan mengamati, orang dapat dpnperoleh respon yang tak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan ingatan.

inti dari belajar melalui observasi adalah modeling. Modeling bukan hanya sekedar minimkan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model ( orang lain), tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang diamati, mpggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, yang melibatkan proses kognitif.

Penelitian terhadap tiga kelompok anak taman kank- kanak : kelompok pertama «suruh observasi model orang dewasa yang bertingkah laku agresif, fisik dan verbal, terhadap boneka karet. Kelompok kedua, diminta mengobservasi model orang dewasa liang duduk tenang tanpa menaruh perhatian terhadap boneka karet didekatnya.

Kelompok ketiga menjadi kelompok kontrol yang tidak ditugasi mengamati dua jenis model itu. ketiga kelompok anak itu kemudian dibuat mengalami frustrasi ringan, dan setiap anak sendirian ditempatkan di kamar yang ada boneka karet seperti dipakai penelitian. Ternyata tingkah laku setiap kelompok cenderung mirip dengan tingkah laku model yang diamatinya. Kelompok pertama bertingkah laku lebi agresif terhadap boneka dibanding yang lain. Kelompok kedua sedikit lebi agresif dibanding kelompok kontrol.

Faktor- faktor penting dalam belajar melalui observasi yaitu :
  1. Perhatian ( attention process) : sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan perhatian ke orang itu. Perhatian itu dipengarui oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah laku yang diamati bagi lijiengamat
  2. presentasi (représentation process). tingkah laku yang ditiru harus disiimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal, maupun dalam bentuk gambar / imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara  Berbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latian simbolik dalam pikiran, tanpa benar- benar melakukannya secara fisik.
  3. Peniruan tingkah laku model ( behavior production process). Sesuda mengamati pengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkah laku. Mengubah dari gambaran fikiran dan menjadi tingkah laku menimbulkan kebutuhan evaluasi. Berkaitan dengan kebenaran, asil belajar melalui observasi tidak Blindai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkah laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pembelajar.
  4. Motivasi dan penguatan ( motivation and reinforcement process).: belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar mempunyai motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang ganjar, daripada tingkah laku model yang dihukum.
Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karasteristik pribadi pengamat dengan karasteristik modelnya. Tingkat imitasi ditentukan oleh ciri- ciri model seperti Bosia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan. Model yang yang dapat mempengaruhi belajar antara lain pertama, model hidup ( live models), contohnya manusia nyata yang melakukan sesuatu.

Kedua, model simbolik (symbolik models). Yaitu karakter nyata atau fiksi yang digambarkan dalam buku, film, tv, dan melalui berbagai media lain. Film dan televisi menyajikan contoh perilaku. Sajian yang ada pada model simbolik ini beipotensi sebagai sumber model perilaku. Contoh model simbolik membaca berita orang- orang yang telah meraih hal- hal besar di hadapan kesulitan- kesulitan yang luar biasa.

Perilaku yang dapat dipelajari melalui pemodelan yaitu :
  1. Perilaku psikomotorik, contoh : menggosok gigi, menampilkan gerakan tarian
  2. Perilaku kognitif, contoh : menjadi pembaca yang baik ketika orang tua sering membaca.
  3. Perilaku emosional, contoh : belajar untuk takut pada stimulus atau situasi tertentu apabila orang lain menunjukkan rasa takut pada situasi itu.

Albert Bandura juga mengemukakan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil pengaruh resiprokal ( saling menentukan) faktor eksternal dan faktor internal. Kedua faktor ini berinteraksi dalam pengaturan diri sendiri, Bentuk dari pengaruh internal adalah:
  1. Observasi diri ( self observation): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantitas penampilan, 'orisinalitas tingkah laku diri, dsb. Orang harus mampu memonitor performansinya walaupun tidak sempurna karena orang cenderung memilih beberapa aspek dari tingkah laku dan mengabaikan tingka laku lainnya. Apa yang diobservasi seseorang tergantung tergantung pada minat dan konsep dirinya.
  2. Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental process): adalah melihat kesesuaian tingka laku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktifitas, dan memberi atiibusi performansi.Standar pribadi bersumber dari pengalaman mengamati model, misalnya orang tua atau guru, dan menginterpretasi balikan/ penguatan dari performasi diri. Berdasarkan sumber model dan performasi yang mendapat penguatan, proses kognitif menyusun ukuran- ukuran atau norma yang sifatnya sangat pribadi, karena ukuran itu tidak terlalu sinkron dengan kenyataan. Standar pribadi sebagian besar aktifitas harus dinilai dengan membandingkannya dengan ukuran ektemal, bisa berupa nonna standar perbandingan sosial , perbandingan dengan orang lain, atau perbandinangan   kolektif. Orang juga menilai suatu aktifitas berdasarkan arti penting dari aktifitas itu bagi dirinya. Dan akhirnya orang akan menilai seberapa besar dirinya menjadi penyebab dari suatu refonnansi, apakah dirinya dikenai atribut penyebab tercapainya reformansi yang baik atau sebaliknya sebagi penyebab kegagalan dan performansi yang buruk
  3. Reaksi diri- afektif ( self response ) : akhirnya berdasarkan pengamatan dan judgment itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian mengadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa teijadi tidak muncul reaksi afektif, karena fungsi konitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual.
Sedangkan menurut para pendukung teori kognitif sosial ( T.L Rosenntal dan Zimmermen ) berpendapat bahwa pemodelan memiliki empat kemungkinan terhadap perilaku pembelajar :
Pertama, efek pembelajaran observasional ( observational leaming effect) yaitu pengamat memperoleh sebuah perilaku baru yang diperagakan oleh model. Dengan melihat dan dan mendengarkan model siswa belajar cara membedah cacing tanah, berenan dengan aya punggung, dsb. Mereka juga mengadopsi sikap guru mereka.

Kedua, efek pemfasilitasi respon ( response fasilitation effec). Pengamat menunjukkan perilaku yan telah dipelajari sebelumnya lebih sering setelah melihat seorang model diberi penguatan karena menampilkan perilaku tersebut.

Ketiga, efek penghambat respon ( response inhibition effec) yaitu pengamat mengurangi frekuensi perilaku yan telah dipelajari setelah seorang model dihukum karena perilaku tersebut. Secara umum, siswa cenderung menahan diri (tidak terlibat) dalam perilaku yang menghasilkan konskuensi yang merugikan bagi orang- orang sekitar mereka.

Keempat, response disinhibition effec, yaitu pengamat menunjukkan perilaku yan dilarang atau dihukum lebih sering setelah seorang model menunjukkan perilaku tersebut tanpa mendapatkan konskuensi yang merugikan. Meskipun siswa- siswa mungkin sebelumnya telah dihukum karena mengunyah permen karet.

B. Pemodelan dalam Pendidikan Islam

Al Quran mengemukakan contoh bagaimana manusia belajar dengan menim perilaku binatang, yakni saat Qabil membunuh Habil. Dan Qabil tidak tahu apa yang hams dilakukan dengan mayat Habil. Kemudian Allah mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan gagak lain yang sudah mati. Dari burung gagak itulah qabil belajar bagaimana cara mengubur saudaranya.
Al Quran juga memerintahkan agar umat Islam untuk meneladani Rasulullah Muhammad SAW. Bagi para sahabat Rasulullah adalah teladan yang baik. Dari Rasulullah SAW itu para sahabat belajar dari tata cara melaksanakan ibadah, perilaku, akhlak, dan etika pergaulan pada sesama manusia.

Teladan adalah contoh yang diikuti oleh yang lain, lalu yang lain akan melakukan apa yang dilakukan oleh yang mencontohkan.   Teladan mempunyai peran penting dalam kehidupan anak karena dapat memperkuat pengetahuannya tentang akhlak yang baik, dan membuatnya mau menghargai arti sebuah akhlak. Anak hanya akan melihat kepada contoh yang terealisasi dalam tingkah laku sehari- hari dari orang yang memiliki peran penting dalam kehidupannya seperti orang tua dan guru.

Adapun teladan yang baik menurut Rasulullah adalah yang mendorong orang untuk berlomba- lomba dalam kebaikan. Allah akan memberi pahala yang besar yang tidak dapat dicapai ole akal untuk menggambarkannya. Maka barang siapa yang memberi contoh yang baik, maka baginya pahala seperti orang- orang mencontohnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Allah menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang baik, disebutkan dalam Al Quran Surat Al Ahzab ayat 21 yang artinya :
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan ( kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “ 
Di antara metode- metode yang ditempuh oleh Rasulullah dalam proses pengajaran adalah dengan teladan dan akhlak ( budi pekerti) yang baik. Beliaulah orang pertama yang melakukan sesuatu sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu itu. Sehingga orang lain pun akan dapat mengikuti dan melakukan sebagaimana yang mereka libat dari beliau.

Allah meletakkan dalam pribadi Rasulullah satu bentuk sempurna bagi metode islami yang berupa keteladan, agar menjadi gambaran yang hidup dan abadi bagi generasi - generasi umat selanjutnya dalam kesempurnaan akhlak.

Keteladanan yang ada pada diri Rasulullah antara lain :
  1. Keteladan dalam ketegaran dan keteguhan hati, dalam kesabaran dan perjuangan. Seperti halnya para rasul ulul azmi lainnya, yang bersungguh- sungguh dalam berjuang, sehingga mereka menyaksikan kaumnya berduyun- duyun masuk ke dalam agama Allah.
  2. Keteladan dalam ibadah dan akhlak, yang keduanya dalam puncak keluhuran. Rasulullah dalam hal ibadah adalah teladan pelaksana setiap perintah Allah. Sebagai contoh Rasulullah selalu bangun malam untuk shalat tahajud sehingga kedua kakinya bengkak, padahal beliau sudah dijamin oleh Allah diampuni segala dosanya yang tela lalu dan akan datang. Semua itu tidak lain Rasulullah ingin mencontohkan bahwa beliau adalah orang yang bersyukur.
  3. Dalam hal teladan akhlak yang mulia, Rasulullah selalu memberi tanpa takut kekurangan dan kemiskinan. Sebagai contoh ada seorang laki- laki yan datang kepadanya dan meminta, Rasulullah pun memberinya kambing yang berada di antara dua gunung. Kemudian orang tersebut pulang kepada kaumnya dan berkata “ masuklah kalian agama Islam. Karena sesunguhnya Muhammad memberikan pemberian tanpa merasa khawatir menjadi sengsara”.
  4. Keteladanan dalam kerendahan hati, beliau selalu mengucapkan salam kepada para sahabatnya, memperhatikan secara serius terhadap pembicaraan mereka, baik anak kecil maupun orang dewasa. Jika beliau bersalaman, maka tidak akan menarik tangannya sebelum orang yang disalaminya melepaskan.
  5. Keteladanan dalam kesantunan, terhadap kekasaran orang badui dan kecongkakan musuh setelah Rasulullah mendapatkan kemenangan. Dengan orang badui ketika Rasulullah sedang beijalan dan mengenakan selimut buatan negeri Najran, orang badui menarik selimut tersebut secara kasar sampai beliau tergores bekas selimut tersebut,dan orang tersebut meminta Rasulullah memberikan selimut tersebut, beliau memberikannya kepadanya.
  6. Sikap santunnya terhadap musuh setelah Rasulullah mendapatkan kemenangan, sebagai contoh perlakuan beliau kepada penduduk Mekkah yang pernah menyiksa, menekan, mengusir beliau, Rasulullah memperlakukan mereka dengan penuh kebaikan, dan memaafkannya.
  7. dsb Pendidik adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak yang tindak tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan ditim oleh mereka. Bahkan dalam perkataan, perbuatan, dan tindak tanduknya, akan tertanam dalam kepribadian anak,
  8. Memberikan keteladanan yang baik dalam pandangan Islam merupakan metode yang paling membekas pada anak didik. Ketika si anak menemukan pada diri orang tua dan pendidiknya suatu teladan yang baik dalam segala hal, maka ia telah meneguk prinsip- prinsip kebaikan yang dalam jiwanya akan membekas berbagai etika Islam.
Ketika orang tua menginginkan sang anak tumbuh dalam kejujuran, amanah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak diridoi agama, maka hendaklah seorang pendidik memberikan teladan. Tetapi tidak cukup bagi pendidik hanya sekedar memberikan teladan yang baik kepada anak, dan mengira bahwa mereka telah menunaikan segala apa yangtela dibebankan. Tetapi harus mengubungkannya anaknya dengan teladan yang pertama yaitu Rasulullah S A W.
Rasulullah memerintahkan mendidik tentang akhlak mulia, sabda beliau :
“ didiklah anak- anakmu tiga perkara, diantaranya cinta kepada Nabi mereka dan cinta kepada sanak keluarganya”. ( HR Tabrani)

KESIMPULAN
Metode pembelajaran yang paling efektif dalam pendidikan adalah keteladanan karena pada dasarnya manusia pada awal kehidupannya mempelajari berbagai perilaku dan kebiasaan dengan cara meniru. Memberikan keteladanan yang baik dalam pandangan Islam merupakan metode yang paling membekas pada anak didik. Ketika si anak menemukan pada diri orang tua dan pendidiknya suatu teladan yang baik dalam segala hal, maka ia telah meneguk prinsip- prinsip kebaikan yang dalam jiwanya akan membekas berbagai etika Islam.
Ketika orang tua menginginkan sang anak tumbuh dalam kejujuran, amanah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak diridoi agama, maka hendaklah seorang pendidik memberikan teladan. Tetapi tidak cukup bagi pendidik hanya sekedar memberikan teladan yang baik kepada anak, dan mengira bahwa mereka telah menunaikan segala apa yangtela dibebankan. Tetapi harus mengubungkannya anaknya dengan teladan yang pertama yaitu Rasulullah S AW.

Terimakasih sudah berkunjung ke website kami: Almumtaz.wiki

Daftar Pustaka
Rohmah, Noer, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta : Teras, 2012 Latipah, Eva, Pengantar Psikologi Pendidikan, Yogyakarta : Pedagagja, 2012 Omrod, Jeanne Ellis, Psikologi Pendidikan, Edisi keenam, Jakarta : Erlangga, 2008 Alwisol, Psikologi kepribadian, Malang : UMM Press, 2009
Said Mursi, Muhammad, dkk, Mendidik Anak Dengan Cerdas, Solo : Insan Kamil : 2012
Al Fattah Abu Ghuddah, Abd., 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah SA W, Yoyakarta : Tiara Wacana, 2005
Nashih Ulwan, Abdullali, Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta : Darus Salam, 1999
PEMODELAN DALAM TEORI KOGNITIF SOSIAL Reviewed by Kharis Almumtaz on May 29, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.