Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENDEKATAN METODE ILMIAH EKSISTENSIALISME PERSPEKTIF MARTIN HEIDEGGER



PENDEKATAN METODE ILMIAH EKSISTENSIALISME PERSPEKTIF MARTIN HEIDEGGER
ALMUMTAZ.WIKI- Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah  Filsafat Ilmu:Teori dan Praktik dalam Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:  Prof Dr Abdurrahman Assegaf,M.Ag & Dr. Usman,S.S, M.Ag

PENDAHULUAN
Filsafat merupakan suatu ilmu yang membahas tentang kebenaran yang kebanyakan mengedepankan akal dan fikiran secara rasional/logis. Banyak orang yang menentang filsafat karena mereka beranggapan bahwa filsafat itu bertentangan dengan agama.Namun, orang yang beranggapan seperti itu, hakikatnya mereka tidak tahu apa itu filsafat.
Banyak aliran-aliran dalam filsafat yang perlu kita ketahui, salah satunya yaitu eksistensialisme. Salah satu tokoh filsafat eksistensialisme yang masyhur adalah Martin Heidegger.
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemanusiaan yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Berarti aliran filsafat ini menekankan segala sesuatunya pada manusia, bagaimana tentang keberadaan manusia, interaksi manusia dengan hal- hal sekitar.


PEMBAHASAN
  • A.    Latar Belakang munculnya faham eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena latar belakang ketidakpuasan beberapa filusuf tentang filsafat pada masa Yunani. Intinya adalah rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal dan primitive.

Salah satu latar belakang dan alasan lahirnya aliran ini juga karena sadarnya beberapa golongan filusuf yang menyadari bahwa manusia mulai terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar bukan hanya dengan semua serba instant.

Begitu juga filsafat eksistensialisme lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
  • a.    Materialisme
Menurut pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, akan tetapi mereka mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang sapi tapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.

  • b.    Idealisme
Aliran ini memandang manusia hanya sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran; menempatkan aspek berpikir dan kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.

  • c.    Situasi dan kondisi dunia
Munculnya eksistensialisme didorong juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat yang secara umum dapat dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak menentu. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura, kebencian merajalela, nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara itu agama di sana dan di tempat lain dianggap tidak mampu memberikan makna pada kehidupan

B.    Pengertian Eksistensialisme

 Eksistensialisme berasal dari kata “eksistensi” dari kata dasar “existency” yaitu “exist”. Kata “Exist” adalah bahasa latin yang artinya “Ex”, keluar dan “sistare” artinya berdiri. Jadi, exsistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sapi dan pohon juga berada di dunia. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia, ia mengalami beradanya di dunia itu, manusia menyadari dirinya  berada di dunia. Ia mengerti guna pohon, batu, dan salah satu diantaranya ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti.

Dalam eksistensialisme tidak membahas esensi manusia secara abstrak, maksudnya ialah dimana eksistensialisme ini membahas tentang hakikat manusia secara spesifik meneliti kenyataan konkrit manusia, sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Eksistensialisme tidak mencari esensi yang ada di balik penampakan manusia, melainkan hendak mengungkap eksistensi manusia sebagaimana yang dialami oleh manusia itu sendiri, misalnya seperti pengalaman individu itu tersebut.

Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme adalah cara manusia menempatkan dirinya berada di dunia, bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungannya, dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, bagaimana manusia itu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, mampu menampakkan dirinya dihadapan orang lain, misalnya ada seseorang yang cacat, tapi dia tetap eksis di depan orang lain, berbaur dengan orang lain, tanpa memperdulikan tentang keadaan dirinya. Pada initinya manusia tersebut bebas mengekspresikan dirinya, dengan tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Ajaran Eksistensialisme tidak hanya satu. Sebenarnya Eksistensialisme adalah suatu aliran filsafat yang bersifat tekhnis, yang terjelma dalam bermacam-macam sistem, yang satu berbeda dengan yang lain, tapi ada juga ciri-ciri yang sama., Yang menjadikan sistem-sistem itu di cap sebagai filsafat eksistensialisme..

  • Diantara cirri-ciri bersama tersebut yaitu:
  1.  Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Setiap saat menjadi lebih attau kurang dari keadaanya.
  2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakannya secara aktif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih kurang atau lebih dari keadaannya.
  3. Didalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakekatnya manusia terkait kepada dunia sekitarnya, terlebih kepada sesama manusia.
  4. Filsafat eksistensialis mememberi tekanan kepada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial. Hanya saja pengalaman ini yang berbeda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyeramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan.
C.    Eksistensialisme menurut Martin Heidegger
Martin Heidegger (1889-1976) lahir di Baden, Jerman. Ayahnya bekerja sebagai koster di gereja St. Martinus. Ia belajar di Konstanz. Kemudian ia masuk Universitas Freiburg, jurusan teologi. Namun tidak lama kemudian ia beralih menekuni bidang filsafat. Ia meraih doktor filsafat lewat desertasinya, Die Lehre Von Urteil im Psychologismus. Pada tahun 1915, ia mulai mengajar di Universitas Freiburg. Ketika Heidegger di bangku kuliah, ia sudah mendalami fenomenologi Edmund Husserl. Ketika Husserl Mengajar di Freiburg, Husserl mengagumi kepintaran Heidegger sebagai muridnya. Kemudian Husserl mempercayakan Heidegger sebagai asistennya. Pada tahun 1923, Heidegger diundang ke Universitas Marburg dan diangkat menjadi profesor dan bertemu dengan Rudolf Bultman, seorang teolog terkemuka Protestan. Pada tahun 1928, Heidegger menjadi profesor di Freiburg menggantikan Husserl.

 Pemikiran Heidegger dipengaruhi oleh Husserl, sebelum sampai pada eksistensialis dia sudah mengenal fenomenologi. Melalui fenomenologi ini Heidegger sekaligus membuktikan teori-teorinya pada eksistensialisme.

Menurut Martin Heidegger, keberadaan hanya akan dijawab melalui jalan antologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metode fenomenologis. Jadi, yang penting adalah menemukan arti keberadaan itu. Satu-satunya yang berada dalam arti sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dari yang lain,sedang beradanya manusia  mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Keberadaan manusia disebut desein (berada disana, di tempat sekitarnya).

Keberadaan manusia, yaitu berada dalam dunia, maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda yang di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan dengan manusia-manusia lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan lainnya.

Heidegger juga berpendapat yang dimaksud dengan “berada” adalah beradanya manusia, sedangkan benda-benda itu “yang berada”. Ia membedakan “sein” dan seiende”. Sein adalah berada bagi manusia, sedangkan seiende adalah beradanya benda-benda. Berada bagi manusia adalah dasein yaitu menempati tempat tertentu, waktu tertentu. Juga dikatakan bahwa manusia di dunia ini tidak sendiri, ia bersama-sama (mistein), manusia juga ditentukan oleh manusia yang lain. Dasein manusia itu juga disebut eksistensi.

Dari pengertian yang telah disebutkan diatas, dapat kita ketahui bahwa manusia dapat menempatkan dirinya diantara benda-benda disekitarnya. Ia mengambil tempat di sekitarnya, dan bisa berinteraksi dengan lingkungannya. Dan benda-benda tersebut dapat berarti jika ada manusia.

Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya, tetapi ia dilemparkan kedalam keberadaan. Walaupun keberadaan manusia tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggung jawab tas keberadaannya itu. Manusia harus merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya, tetapi dalam kenyataannya tidak menguasai dirinya sendiri. Inilah fakta keberadaan manusia, yang timbul dari Geworfenheid atau situasi terlemparnya itu.

Berikut kami uraikan sepintas pandangan Heidegger tentang manusia dan Kematian.
  • Manusia
Menurut Heidegger manusia terbuka bagi dunianya. Kemampuan sesorang untuk berinteraksi dengan hal-hal diluar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, perkataan atau pembicaraan. Misalnya factor kepekaan itu dapat berupa perasaan dan emosi. Persaan senang, cemas, kecewa atau takut adalah sebagai konsekuensi manusia berada di dunia. Keberadaan ini tidak dapat dihindari, ini adalah kenyataan hidup yang harus dipikul seseorang. Situasi inilah Heidegger mengatakan bahwa manusia itu seolah terlempar kedalam situasi seperti ini.
  • Soal Berbicara (Rede)
Rede ini mewujudkan asas yang eksistensial bagi kemungkinan untuk berbicara atau berkomunikasi. Manusia adalah makhluk yang dapat berbicara, ia saling bercakap-cakap, dalam percakapan itu orang saling mengerti tetapi pengertian itu tidak selalu benar. Ada orang yang hanya meniru percakapan atas pikiran orang lain dengan hanya mengulang kembali dan meneruskan pikiran orang. Orang seperti ini sudah tidak tahu apa yang semula digali dari pengertian sebenarnya. Disini Dasein atau eksistensi seseorang itu muncul demi apa yang dikatakan orang lain. Menurut Heidegger keadaan seperti ini menyebabkan orang kehilangan eksistensinya.
  • Schuld.
Kata ini pada dasarnya berarti hutang dan salah. Akan tetapi hubungannya dengan kata kerja yang berbeda dapat mempunyai arti lain. Oleh Heidegger kata hutang atau salah dihubungkan dengan eksistensi manusia, dengan cara berada manusia. Cara berada manusia ialah, bahwa manusia meng-ada-kan adanya sendiri, bukan dalam arti menciptakan, tetapi sejauh ini dapat dikatakan, bahwa manusia bertanggung jawab atas dirinya  itu Meng-ada-kan dirinya berarti merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya Manusia tidak diakibatkan oleh dirinya, melainkan muncul dari asalnya, yaitu terserah dirunya, mampu mengadakan sebagai firi ini atau itu. Segera ia memilih satu kemungkinan, dirinya tidak bisa memilih kemungkinan-kemungkinan yang lain, lalu meng-ada-lah kebe asan. Kebebasan baru mengada dalam hal memilih satu kemungkinan, artinya, dalam hal menanggung bahwa kemungkinan-kemungkinan lain tidak dipilih dan tidak dapat dipilihnya. Situasi inilah yang oleh Heidegger disebut Schuld.
  • Kematian.
Jalan yang menuju kepada hidup yang sejati, kepada keputusan yang pasti, kepada keputusan yang benar, kepada eksistensi yang sebenarnya terletak dalam suatu kepastian temporal, dalam menanggung kepastian yang terakhir, yaitu kematian. Memasukkan kematian kedalam eksistensialis itu  bukan berarti, bahwa ia akan mati, melainkan mendahului kematian. Ia harus menyadari akan kehinaannya tanpa ilusi atau khayalan. Jika demikian ia akan terlindung terhadap segala hal semu. Jika demikian manusia akan dengan ketekunan (Entschlossenheit). Ketekunan mengikuti kata hatinya itulah cara bereksistensi yang sebenarnya. Inilah menemukan dirinya sendiri. Didalam ketekunan ini seluruh eksistensi menjadi jelas. Disini orang akan mendapatkan pengertian atau pemikiran yang benar tentang manusia dan dunia.

D.     Biografi Martin Heidegger
Martin Heidegger (1889-1976) lahir di Baden, Jerman. Ayahnya bekerja sebagai koster di gereja St. Martinus. Ia belajar di Kostanz, kemudian ia masuk Universitas Freiburg, jurusan teologi. Namun tidak lama kemudian ia beralih menekuni bidang filsafat. Ia merih doctor filsafat lewat desertasinya “Die Lehre Vom Urteil im Psychologismus.” Pada tahun 1915, ia mulai mengajar di Universitas Freiburg. Ketika Heidegger di bangku kuliah ia sudah mendalami fenomenologi Edmund Husserl. Ketika Husserl bekerja di Freiburg, kehadiran itu membawa pengaruh besar pada Heidegger. Di universitas ini Husserl mengagumi kepintaran Heidegger dan dipercayakan sebagai asistennya. Pada tahun 1923, ia diundang ke Universitas Marburg dan diangkat menjadi professor. Disini ia bertemu dengan Rudolf Bultman, seorang teolog terkemuka protestan. Pada tahun 1928 ia diangkat menjadi professor di Freiburg sebagai pengganti Husserl. Ketika Hitler berkuasa di Jerman, Heidegger dipilih menjabat sebagai rector. Sikapnya ini mengundang kritikan banyak orang. Orang menyayangkan keterlibatan Heidegger dalam membantu aktivitas Nazi. Heidegger belakangan sangat menyesal dengan sikapnya itu dan ia mengundurkan diri dan hidup menyendiri di desa terpencil sampai akhir hayatnya.
  • Karya-karyanya :
  1. Sein und Zeit (Ada dan Waktu), 1927
  2. Kant und das Problem der Metaphysic (Kant dan Metafisika), 1929
  3. Wast ist Metaphysic (Apakah Metafisika?), 1950
  4. Holzwege (Jalan-jalan Buntu), 1950
  5. Vortrage und Differenz, 1969
  6. Identitad und Differenz, 1969
  7. Zur Sache des Metaphysic, 1969
  8. Einfurhrug in die Metaphysic, 1953
  9. Was heist Denken, 1954
  10. Neitzche, 1961
  11. Phanomenologi und Theologi, 1970

E.    Eksistensialisme Dalam Pendidikan
  • 1.    Pengetahuan.
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung kepada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas, pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut.

  • 2.    Nilai.
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.

  • 3.    Pendidikan.
Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, Sikun Pribadi (1971) mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan anatar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan. Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
  • a.    Tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap indivudu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.

  • b.    Kurikulum.
Kaum eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suiatu tingkatan kepekaaan personal yang disebut Greene “kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberikan para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri.

Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan di ats adalah mata pelajaran IPA, sejarah, sastra, filsafat, dan seni. Bagi beberapa anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun bagi yang lainnya mungkin saja bisa sejarah, filsafat, sastra, dan sebagainya. Dengan mata-mata pelajaran tersebut, siswa akan berkenalan dengan pandangan dan wawasan para penulis dan pemikir termasyur, memahami hakikat manusia di dunia, memahami kebenaran dan kesalahan, kekuasaaan, konflik, penderitaan, dan mati. Kesemuanya itu merupakan tema-tema yang akan melibatkan siswa baik intelektual maupun emosional. Sebagai contoh kaum eksistensialisme melihat sejarah sebagai suatu perjuangan manusia mencapai kebebasan. Siswa harus melibatkan dirinya dalam periode apapun yang sedang ia pelajari dan menyatukan dirinya dalam masalah-masalah kepribadian yang sedang dipelajarinya. Sejarah yang ia pelajari harus dapat membangkitkan pikiran dan perasaannya serta menjadi bagian dari dirinya.

Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan instrospeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan. Eksistensialisme menolak apa yang disebut penonton teori. Oleh karena itu, sekolah harus mencoba membawa siswa ke dalam hidup yang sebenarnya.

  • c.    Proses belajar mengajar.
Menurut Kneller, konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Menurut Buber kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa menyerah kepada kehendak guru, atau pada pengetahuan yang tidak fpeksibel, dimna guru menjadi penguasanya. Selanjutnya buber mengemukakan bahwa, guru hendaknya tidak boleh disamakan dengan seorang instruktur. Jika guru disamakan dengan instruktur maka ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi pelajaran dan siswa. Seandainya ia hanya dianggap sebagai alat untuk mentransfer pengetahuan, dan siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dri pengetahuan tersebut.

Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak merupakan suatu yang diberikan kepada siswa yang tidak dikuasainya, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.

  • d.    Peranan guru.
Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak bermakna apa-apa, dan alam semesta berlainan dengan situasi yang manusia temukan sendiri di dalamnya. Kendatipun demikian dengan kebebasan yang kita miliki, masing-masing dari kita harus commit sendiri pada penentuan makna bagi kehidupan kita. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Maxine Greene (Parkay, 1998), seorang filosof pendidikan terkenal yang karyanya didasarkan pada eksistensialisme “kita harus mengetahui kehidupan kita, menjelaskan situasi-situasi kita jika kita memahami dunia dari sudut pendirian bersama”. Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam mengangkat pencarian pribadi akan makna merupakan proses edukatif. Sekalipun begitu, para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka suka. Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternative-alternatif, sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia. Lebih dari itu, siswa harus menjadi factor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relative dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak member instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistemsialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Aliran eksistensialisme adalah aliran yang condong menanggapi tentang keberadaan manusia. Bagaimana manusia itu menempatkan dirinya di dunia, berinteraksi dengan benda-benda yang lainnya. Keberadaan diri manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan melalui kerabatnya, teman-temannya atau yang lainnya, tapi ia tetap bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.  Sehingga manusia disini bisa eksis dengan sendirinya, karena ia dikaruniai segala sesuatu yang sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain

Filsafat eksistensialisme lebih menfokuskan pada pengalaman-pengalaman manusia. Dengan mengatakan bahwa yang nyata adalah yang dialaminya bukan diluar kita. Jika manusia mampu menginterpretasikan semuanya terbangun atas pengalamannya. Tujuan pendidikan adalah memberi pengalaman yang luas dan kebebasan namun memiliki aturan-aturan. Peranan guru adalah melindungi dan memelihara kebebasan akademik namun disisi lain guru sebagai motivator dan fasilitator.
Adapun implikasi filsafat eksistensialisme terhadap pendidikan adalah tujuan pendidikan harus didesain untuk memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan kepada siswa. Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal akan tetapi diimbangi dengan  materi pendidikan sosial, untuk mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua.

B.    Saran
Sebagai karya manusia yang jauh dari sempurna, maka penulis menyarankan kepada pembaca agar memberi saran yang membangun mengenai makalah ini. Dan alangkah lebih baiknya lagi, pembaca dapat membaca buku yang berkaitan dengan tema makalah ini. Agar pengetahuan pembaca mengenai tema makalah ini lebih mendalam.

ALMUMTAZ.WIKI

Daftar Pustaka
Achmadi. Asmoro. 2009. Filsafat umum. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.
Bernadib, Imam. 1976. Filsafat pendidikan. Yogyakarta. Karang Malang
Drijarkasa. 2011. Filsafat manusia.Yogyakarta. kanisius.
Gandhi HW, TW. 2011. Filsafat pendidikan mazhab-mazhab Filsafat pendidikan. Jojakarta. Ar-ruzzmedia.
J. Waluyo. 2007. Pengantar filsafat ilmu (buku Panduan mahasiswa). Salatiga. Widya Sari.
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat pendidikan. Bandung: Alfabeta.









PENDEKATAN METODE ILMIAH EKSISTENSIALISME PERSPEKTIF MARTIN HEIDEGGER Reviewed by Kharis Almumtaz on May 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.