Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH TERHADAP MUTU PENDIDIKAN

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH   TERHADAP MUTU PENDIDIKAN DI MI MAARIF MAYAK TONATAN PONOROGO

A.    Latar Belakang
Kepala sekolah adalah pelaksana suatu tugas yang sarat dengan harapan perubahan dan pembaharuan. Dalam melaksanakan tugas dan mewujudkan harapan itu seorang kepala sekolah masing-masing mempunyai gaya dan memimpin. Gaya dalam mempimpin itu akan membawa lembaga yang ia pimpin ke arah yang lebih baik, dan kepala sekolah diharapkan dapat menjadi pelaksana yang tekun dan tertib sekaligus menjadi teladan bagi para guru untuk menjadikan sekolah tersebut berkualitas.

Kepala sekolah merupakan penanggung jawab pertama dan utama di sekolah. Seorang kepala sekolah juga mempunyai tugas untuk mengatur dan menggerakkan sejumlah besar orang-orang (guru) yang mempunyai berbagai sikap, tingkah laku dan latar belakang yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan guru yang dapat membantu tugas pimpinan secara optimal, agar motivasi dan kinerja guru semaunya baik maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu mengarahkan dan merubah tingkah laku bawahannya kepada tercapainya tujuan organisasi secara maksimal.

Guru sangat memegang peran utama dalam pendidikan, khususnya pendidikan yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru sebagai ujung tombak dari organisasi sekolah mempunyai tugas pokok dan fungsi memberikan pembelajaran, bimbingan dan pelatihan kepada para siswa. Guru sangat berperan dalam menentukan kualitas lulusan sekolah. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas diperlukan guru dengan kualitas dan Produktivitas maksimal. Sedangkan guru dengan kualitas dan produktivitas maksimal dapat diperoleh bila ditunjang oleh kepemimpinan yang baik. Guru dapat dikatakan berhasil jika siswanya mampu menyerap ilmu-pengetahuan dengan baik dan mempun kepribadian yang luhur, juga disisi lain guru mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dan keluarga.

Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memunculkan paradigma baru, yakni guru profesional. Di dalamnya dikatakan, seorang guru profesional harus melaksanakan tugas atau kewajiban sesuai prinsip bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. 

Akan tetapi masih banyak guru sekarang yang tidak profesional, contohnya mereka tidak mau belajar teknologi (khususnya guru yang sudah lanjut usia), mengajar dengan cara tradisional karena tidak mampu menggunakan metode dan strategi yang variatif sehingga kurang meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan sebagainya.

Permasalahan dunia pendidikan di Indonesia adalah mutu atau kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan ini menyangkut pada setiap jenjang pendidikan, khususnya jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sebenarnya upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan telah lama dilakukan. Pemerintah telah mencanangkan peningkatan kualitas pendidikan dengan mengusung 4 (empat) kebijakan strategis, yaitu: pemerataan kesempatan, peningkatan relevansi, mutu dan efesiensi pendidikan. Melalui usaha-usaha itu pemerintah berharap bahwa kualitas pendidikan akan serta merta mengalami peningkatan.

Gaya kepemimpinan kepala madrasah bisa mempengaruhi mutu pendidikan dari madrasah yang mereka pimpin dari berbagai kebijakan-kebijakan dan inovasi yang dilakukan. Selain itu, agar mutu pendidikan baik dan berkualitas maka sangat dibutuhkan dukungan guru yang profesional dalam mendidik dan mengajar siswa sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan dapat tercapai.

Dalam kaitanya dengan permasalahan dunia pendidikan di atas, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan tentunya tidak lepas dari peran kepala sekolah, guru, siswa, sarana-prasarana dan elemen lainnya yang saling berkaitan dan berkesinambungan menjadi sebuah tim kerjasama untuk menciptakan bersama-sama dalam meningkatkan mutu pendikan.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa, peneliti tertarik untuk meneliti gaya kepemimpinan kepala madrasah, profesionalisme guru-gurunya serta mutu pendidikan MI yang ada di kota Ponorogo. Maka dari itu peneliti tertarik untuk membahas tentang “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah dan Profesionalisme Guru Terhadap Mutu Pendidikan Di MI Maarif  Mayak Tonatan Ponorogo” dalam sebuah Proposal Desertasi. Tesis ini diharapkan mampu memberi manfaat dan menambah pengetahurn bagi para pembaca.

Kerangka teoritik
  1.  Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah
Kepemimpinan merupakan tulang punggung pengembangan organisasi karena tanpa kepemimpinan yang baik akan sulit mencapai tujuan organisasi. Jika seorang pemimpin berusaha untuk mempengaruhi perilaku oranglain, maka orang tersebut perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan adalah bagaimana seorang pemimpin melaksanakan fungsi kepemimpinannya dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang berusaha dipimpinnya atau mereka yang mungkin sedang mengamat dari luar.

Menurut James gaya kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, ketrampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya. 

Berdasarkan definisi gaya kepemimpinan diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekeijaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu.

Terdapat lima gaya kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi menurut Siagian yaitu:
  • Tipe pemimpin yang otokratik
Seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang:
a)    Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
b)    Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
c)    Menganggap bahwa sebagai alat semata-mata
d)    Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
e)    Terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya
f)    Dalam tindaknya penggeraknya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur paksaan dan puntif (bersifat menghukum)

  • Tipe pemimpin yang militeristik
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud seorang pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin modem. Seorang pemimpin yang bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat:
a)    Dalam menggerakan bawahannya sistem perintah yang sering dipergunakan
b)    Dalam menggerakan bawahannya senang bergantung pada pangkat dan jabatan
c)    Senang kepada formalitas 'yang berlebih-lebihan
d)    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya

  • Tipe pemimpin yang patemalistik
a)    Menganggap bahwa sebagai manusia yang tidak dewasa
b)    Bersikap terlalu melindungi
c)    Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
d)    Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif
e)    Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasi
f)    Sering bersikap mau tahu

  • Tipe pemimpin yang kharismatik
Harus diakui bahwa untuk keadaan tentang seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akn tetapi sifatnya yang negative mengalahkan sifatnya yang positif.

  • Tipe pemimpin yang demokratik
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modem karena:
a)    Ia senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahan
b)    Selalu berusaha mengutamakan keijasama teamwork dalam usaha mencapai tujuan
c)    Selalu berusaha menjadikan lebih sukses dari padanya
d)    Selalu berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin

Guru Profesional
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua 1991, guru diartikan sebagai orang yang pekeijaannya (mata pencahariannya) mengajar.  Menurut Jamil Suprihatiningrum, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formai seperti pendidikan dasar. 
Seperti yang telah dipaparkan di atas, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. 

Pekerjaan profesional berbeda dengan pekeijaan lainnya karena suatu profesi memerlukan keahlian dan keterampilan khusus dalam melaksanakan profesinya. Profesional diartikan pula sebagai usaha untuk menjalankan salah satu profesi berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki seseorang dan berdasarkan profesi itulah seseorang mendapatkan suatu imbalan pembayaran berdasarkan standar profesinya.   Dengan demikian guru profesional adalah seseorang yang pekeijaannya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi siswa dan dilakukan dengan keahlian, kemahiran,

  • Menurut Jamil Suprihatiningrum ada beberapa aspek-aspek guru profesional, antara lain: 
1)    Komitmen tinggi. Seorang profesional harus mempunyai komitmen yang kuat pada pekeijaan yang sedang dilakukannya, termasuk mengantarkan peserta didik pada kesuksesan.
2)    Tanggung jawab. Seorang guru profesional harus bertanggung jawab penuh terhadap peketjaan yang dilakukan sendiri, tidak melibatkan orang lain.
3)    Berpikir sistematis. Seorang yang profesional harus mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya.
4)    Penguasaan materi. Seorang profesional harus menguasai secara mendalam bahan/materi pekeijaan yang dilakukannya.
5)    Menjadi bagian dari masyarakat profesional. Seorang profesional harus aktif bersama profesional lain yang tergabung dalam wadah oiganisasi atau asosiasi.
6)    Autonomi (mandiri untuk melaksanakan tugasnya). Seorang guru profesional mandiri dalam melaksanakan tugas utamanya, yaitu merencanakan, dan melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar.
7)    Teacher research. Guru profesional saat ini dituntut untuk selalu melaksanakan kegiatan penelitian, minimal penelitian tindakan kelas yang diampuhnya.
8)    Publication. Guru profesional juga dituntut untuk menulis karya ilmiah, baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan.
9)    Professional organization. Guru profesional adalah guru yang aktif dalam organisasi. Dalam wadah organisasi tersebut biasanya akan dibahas berbagai macam perkembangan dunia guru dan pendidikan.

Sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 28 UU RI No. 19/2005, seorang guru harus memiliki empat jenis kompetensi. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru untuk dapat melaksanakan tugas- tugas profesionalnya.   Untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya tersebut maka guru harus mempunyai kompetensi sebagai modal dasar dalam mengemban tugas keprofesiannya.

  • Ada empat jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, antara lain:
1)    Kompetensi Pedagogik
Makhluk pedagogik adalah makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik.   Menurut Jamil Suprihatiningrum, kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. 

Guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik, guru akan mampu memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru mengetahui seluas dan sedalam apa materi yang diberikan kepada peserta didiknya sesuai dengan perkembangan kognitifnya.   Oleh karena itu, guru hams senantiasa mengembangkan kemampuan pedagogik yang mutlak harus dimiliki oleh seorang guru dengan selalu belajar agar bisa melakukan tugasnya dengan baik.

2)    Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak hams memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari.   Di dalam kompetensi kepribadian ini mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan beraklak mulia.   Setiap orang memiliki pribadi yang masing-masing mempunyai ciri dan sifat bawaan serta latar belakang kehidupan yang setiap individu pastinya berbeda-beda.
3)    Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Lebih dalam lagi kemampuan sosial ini mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan keija dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. 

Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan guru berinteraksi dengan peserta didik dan orang yang ada di sekitar dirinya. Kemampuan sosial tersebut dirinci menjadi beberapa indikator, yaitu: bersifat insklusif dan bertindak objektif, beradaptasi dengan lingkungan tempat beitugas dan lingkungan masyarakat, berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, serta berkomunikasi secara empatik dan santun dengan masyarakat luas. 
4)    Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional guru adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan profesi yang menuntut berbagai keahlian di bidang pendidikan atau keguruan. Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar guru dalam pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, bidang studi yang dibinanya, sikap yang tepat tentang lingkungan pembelajaran dan mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar.   Seorang guru dapat dikatakan profesional jika mampu menguasai keahlian dan keterampilan teoritik dan praktik proses pembelajaran serta mengaplikasinkannya secara nyata. Guru yang bermutu mampu melaksanakan pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang efektif dan efisien. Guru yang profesional diyakini mampu memotivasi peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya dalam rangka pencapaian standar pendidikan yang ditetapkan.

3.    Mutu Pendidikan
Dalam pendidikan mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenagkan dan memberikan kenikmatan. Dan pengertian mutu dalam konteks pendidikan ini mencangkup input, proses, dan output pendidikan. 
Input pendidikan adalah segala hal yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input dapat berupa sumber daya manusia dan dalam bidang pendidikan meliputi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan; sumber daya selebihnya adalah anggaran biaya (dana), sarana dan prasarana. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai, serta input perangkat lunak seperti struktur organisaasi, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas dan sebagainya.

Proses pendidikan merupakan kejadian berubahnya input pendidikan menjadi output pendidikan. Proses yang dimaksud meliputi proses pengambilan keputusan pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar mengajar serta proses monitoring dan evaluasi. Dalam hal ini proses belajar mengajar (pembelajaran) memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Untuk menghasilkan proses pembelajaran yang optimal maka dibutuhkan tenaga pendidik yang profesional. Proses akan bermutu tinggi bila perpaduan antara input sekolah (guru, siswa, kurikulum, dana, peralatan) dilakukan secara harmonis.

Output pendidikan adalah kinerja sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu jika prestasi sekolah khususnya prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian prestasi yang tinggi dalam prestasi akademik, berupa nilai ulangan harian dan U N (ujian nasional), sedangkan prestasi non akademik dapat berupa hasil keterampilan, olahraga, kedisiplinan, kesopanan dsb. Prestasi merupakan hasil yang dicapai setelah melalui proses belajar. Sedangkan prestasi belajar siswa dapat diketahui dari nilai UAS dan UN. Untuk melihat dari input, proses clan output pendidikan salah satu indikatornya dapat dilihat dari prestasi akademik yang dihasilkan oleh siswa. 

Jadi dalam penelitian ini yang menjadi landasan bagi mutu pendidikan adalah dilihat dari output pendidikan berupa prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yaitu berupa nilai-nilai yang diperoleh dari proses belajar siswa. Nilai-nilai diasumsikan cerminan pencapaian tujuan yang telah dicapai sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauhmana tingkat kemampuan dan merupakan hal yang penting dari peserta didik.




DAFTAR PUSTAKA   

Al-Qarashi. Baqir Sharif, Seni Mendidik Islam, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Bustami, Pengaruh Pengembangan Profesionalisme Guru SMP Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Aceh Timur, Tesis, Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara, 2009.

Dannansyah, Konstribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru Terhadap Kinerja Guru SMP di Kabupaten Brebes, Tesis, Program Pascasaijana, Universitas Negeri Semarang, 2008.

Departemen Pendidikan Nasional Indonesia.,Undang Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Hamidi, Nur. dkk., Panduan Akademik Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2010.

Janawi, Kompetensi Guru: Citra Guru Profesional, Bandung: Alfabeta, 2011.

Rohiat, Manajemen Sekolah, Bandung: PT Refika Aditama, 2008.

Roqib, Moh., & Nurfuadi, Kepribadian Guru, Purwokerto: STAIN Purwokerto Press,. 2009.

Sagala. Syaiful, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: ALFABETA, 2011.

Satori. Djam’an, dkk., Profesi Keguruan, Jakarta: Universitas Terbuka, 2010.

Siagian. Sondong P., Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Yogyakarta: Alfabeta, 2010.

Sulistyo, Joko, 6 Hari Jago SPSS, Yogyakarta: Cakrawala, 2010.

Sumamo, Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Tesis, Program Pascasaijana, Universitas Negeri Semarang, 2009.

Suprihatiningrum. Jamil, Guru Profesional : Pedoman Kinerja, Kualifikasi, & Kompetensi Guru, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Suseno. Miftahun Ni’mah, Suplemen Modul Praktikum Statistika. Yogyakarta: Laboratorium Psikologi Fakuktas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, 2011.

Tampubolon, Biatna. D., Analisis Faktor Gaya Kepemimpinan Dan Faktor Etos Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Organisasi Yang Telah Menerapkan SNI 19-9001-2001. Jurnal Standarisas,. No.9, him. 106- 115.

Tashakkori, Abbas. Charles Teddie, Mixed Methodology\ Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Thalib. Syamsul Bachri, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif Jakarta: Kencana, 2010.

Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional, Bandung: PT Rineka Cipta, 2006.

Tim Redaksi, 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Jakarta: Balai Pustaka.   

LAMPIRAN-LAMPIRAN    
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
   
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH TERHADAP MUTU PENDIDIKAN Reviewed by Kharis Almumtaz on May 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.