Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ALQUR’AN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ALQUR’AN


almumtaz.wiki PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ALQUR’AN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Alquran Hadis Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: DR.Phil.Sahiron Syamsuddin,MA & Prof.Dr H Muhammad Chirzin M.A

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para prak¬tisi dalam bidang psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha mem¬pelajari peran fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok, selain juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang men-dasari perilaku.

Psikologi Pendidikan adalah psiko¬logi yang mempelajari penggunaan psikologi dalam masalah pendidikan. Menurut Witherington ‘studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan ma¬nusia’. Menurut Crow & Crow ‘mem¬berikan gambaran dan penerapan tentang pengalaman-pengalaman belajar seorang individu sejak dilahirkan s/d usia tua. Pokok persoalannya adalah keadaan- keadaan yang dapat digunakan untuk mempelajari belajar’.
Menurut Sumadi Suryabrata ‘peng¬etahuan psikologi mengenai anak didik dalam situasi pendidikan’. Menurut Sri Partini Suardiman ‘ilmu pengetahuan yang memnyelidiki gejala-gejala kejiwaan individu dalam situasi pendidikan’. Oleh sebab itu psikologi pendidikan mencoba untuk menyelidiki atau melihat penomena psikologis dalam pendidikan.

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum. Dalam hal pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki potensi luhur, yaitu fitrah dan ruh yang tidak terjamah dalam psikologi umum (Barat). (Syaiful Bahri Djamarah,psikologi belajar ; 2011).

Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini  dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat. Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.


PEMBAHASAN
A.    Psikologi
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para praktisi dalam bidang psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha mempelajari peran fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok, selain juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang mendasari perilaku.

Psikologi Pendidikan adalah psikologi yang mempelajari penggunaan psikologi dalam masalah pendidikan. Menurut Witherington ‘studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia’. Menurut Crow & Crow ‘memberikan gambaran dan penerapan tentang pengalaman-pengalaman belajar seorang individu sejak dilahirkan s/d usia tua. Pokok persoalannya adalah keadaan- keadaan yang dapat digunakan untuk mempelajari belajar’.
Menurut Sumadi Suryabrata ‘pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam situasi pendidikan’. Menurut Sri Partini Suardiman ‘ilmu pengetahuan yang memnyelidiki gejala-gejala kejiwaan individu dalam situasi pendidikan’. Oleh sebab itu psikologi pendidikan mencoba untuk menyelidiki atau melihat penomena psikologis dalam pendidikan.

Ada beberapa ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Glenn M. Blair yaitu:
  • Pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya.
  • Psikologi anak.
  • Kesehatan mental guru dan murid.
  • Kecerdasan.
  • Individual differences.
  • Hakekat perbuatan belajar.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi perbuatan belajar.
  • Masalah-masalah dalam transfer of learning.
  • Tes dan soal penilaian dan peng’ukuran.
  • Teori dasar tentang motivasi.
  • Arti motivasi dalam pengajaran
  • Perkembangan sosial dan emosional.

Menurut Crow & Crow, pendidikan terdiri dari:
  1. Pendidikan Informal
  2. Didapat dari belajar yang secara relative kurang atau tanpa disadari, yang berlangsung bebas menyertai kehidupan sehari-hari.
  3. Didapat dari belajar yang mem’pergunakan program terencana, biasa’nya disebut pendidikan sekolah.


Psikologi Pendidikan di sekolah berusaha memecahkan masalah-masalah sebagai berikut :
  1. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas belajar;
  2. Teori dan proses belajar;
  3. Hubungan antara taraf kematangan dan taraf kesiapan belajar;
  4. Individual differences dan pengaruh’nya terhadap hasil pendidikan;
  5. Perubahan batiniah yang terjadi selama belajar;
  6. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar;
  7. Teknik evaluasi yang efektif atas kemajuan yang dicapai anak didik;
  8. Perbandingan hasil pendidikan formal dan informal atas individu;
  9. Nilai sikap ilmiah terhadap pendidikan yang dimiliki para petugas pendidikan (guru); dan pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterima. (Suryabrata,1988).


Secara praktis Psikologi pendidikan berguna pada mereka yang terlibat dalam proses pendidikan dan pengajar.
  1. Bagi perencana pendidikan yaitu bagaimana kita bisa membayangkan apa yang akan dicapai dengan memper’siapkan segala apa yang harus kita lakuakan sesuai dengan perkembangan pendidikan, adat, budaya, yang ada disekitar lingkungan pendidikan.
  2. Bagi para guru. Bagi seorang guru ilmu kejiwaan merupakan faktor utama yang harus dimiliki, sebab di dalam kehi’dupan guru.
  3. Selalu berinteraksi dengan kehidupan social terutama dengan peserta didik. Jika seorang guru guru bisa mengetahui gejala kejiwaan dari peserta didiknya sehingga mempermudah proses pem’belajaran antara guru dengan pesrta didik. Oleh sebab itu ilmu kejiwaan harus dimilki oleh seorang pendidik.
  4. Bagi para orang tua. Orang tua atau keluarga merupakan dasar bagi sese’orang untuk membentuk perilakunya. Orang tua berkewajiban membimbing dan membentuk perilaku anaknya dengan cara mengetahui psikis atau kejiwaan serta tingkah laku anaknya. Oleh karena itu, didalam pembinaan mental seorang anak orang tua atau keluarga sangat berperan penting dan tanpa ada landasan atau bimbingan yang kuat dari keluarga maka anak akan menjadi pemberontak.


Adapun Fokus Perhatian Psikologi Pendidikan yaitu:
  1. Fokus perhatian dari psikologi pendidikan meliputi dua obyek, yaitu: Obyek material, yaitu bersifat umum, yang juga menjadi obyek kebersamaan ilmu-ilmu umum lainnya yang sejenis, (obyek dari ilmu induknya).
  2. Objek formal yaitu bersifat khusus yang hanya menjadi sasaran studi tersendiri dari ilmu yang bersangkutan dan berbeda dari objek-objek ilmu lainnya, ini keduanya merupakan penghayatan tingkah laku manusia.

Objek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Berkenaan dengan pendidikan Islam dimana sumber utamanya adalah al-Qur’an dan Hadits.

Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin manju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah Subhan- ahu wata ’ala menurunkannya kepada Nabi Muhammad Salllalahu ‘alaihi wasallam demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi dan membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasal’lam bersabda: ‘Tiada seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang diwahyukan Allah kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya. ‘ (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).

Al-Qur’an adalah ‘Kalam Allah’ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salllalahu ‘alaihi wasallam, yang mem’bacanya ibadah, susunan kata dan isinya merupakan mu’jizat termaktub di dalam mushaf dan dinukil secara mutawatir.  Al- Qur’an pada mulanya seperti qira ’ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qara', qira'atan, qur'anan  Sebagaimana dalam firman Allah Subhanhu wata’ala: Artinya: ‘Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membaca’kannya maka ikutilah bacaannya itu’. (Al-Qiyamah: 17-18).

Secara pengertian, ulama menye’butkan definisi Qur’an yang men-dekati makananya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhamad saw, yang pembacanya merupakan suatu ibadah.

Penjelasan arti al-Qur’an secara istilah di atas, adalah sebagai berikut:
  1. Definisi ‘kalam’ (ucapan) merupakan kelompok jenis yang meliputi segala kalam dan dengan menghu-bungkannya dengan Allah (kalamullah) berarti tidak semua masuk dalam kalam manusia, jin dan malaikat.
  2. Batasan dengan kata-kata (almunaz-zal) yang diturunkan maka tidak termasuk kalam Allah yang sudah khusus menjadi milikNya. Sebagaimana dise’butkan dalam Firman Allah: ‘Katakan’lah: sekiranya lautan menjadi tinta un’tuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu’. (al-Kahfi: 109).
  3. Batasan dengan definisi hanya ‘kepada Muhammad saw’, tidak termasuk yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum’nya seperti Taurat, Injil dan yang lain.
  4. Sedangkan batasan (al-Muta'abbad bi Tilawatihi) ‘yang pembacanya merupa’kan suatu ibadah’, mengecualikan ha’dis ahad dan hadis-hadis qudsi.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Al-Qur’an membagi kehidupan manusia atau proses kehidupan manusia kepada tiga bagian pertama, lemah menuju kuat, kedua, kuat sempurna menuju lemah, Ketiga, lemah menuju kematian. Dalam konteks psikologi proses ini merupakan proses perkembangan manusia secara fisik dan non fisik. Al-Qur’an menyebutkan dalam satu surah yaitu: ‘Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa’ (QS. Ar-Ruum:54).
Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa kata ‘kuat’ pada ayat di atas merujuk pada masa muda. 

Dari skema di atas dapat kita pahami bahwa kehidupan manusia dibagi oleh Allah SWT menjadi tiga bagian tempat yaitu lemah menuju kuat, kuat sempurna dan kuat menuju lemah kembali (Lemah yang tidak akan kuat lagi= ‘kematian’). Oleh sebab itu masa muda adalah masa emas yang Allah berikan kepada manusia; untuk mengolah kekuatan tersebut dengan menggunakan akalnya sebagai karunia sempurna agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa. Manusia yang beriman dan bertaqwa bukan berarti manusia yang hanya khusyuk memutar tali tasbih saja; akan tetapi, manusia yang beriman dan bertaqwa adalah manusia yang efektif dan efesien (produktif) yang memberikan rahmat kepada seluruh alam semesta.

Dalam masa kuat yang disebutkan di atas yang disebutkan oleh Imam al-Alusy dalam tafsirnya adalah umur 17-40 sebagai masa kuat sempurna, maka dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab. Salah satunya adalah melalui pendidikan. ‘Islam adalah agama yang meninggikan derjat orang-orang yang berilmu. Oleh sebab itu dalam Islam seorang penuntut ilmu dengan niat mengharapkan ridha Allah Subhanahu wata ’ala memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah santri (anak didik) merupakan orang yang diistimewakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab santri adalah orang yang ditempa untuk menerima, mengamalkan dan menyampaikan misi Tuhan di atas dunia ini.

Dari Katsir bin Qais, dia berkata: Ketika aku duduk-duduk bersama Abu Ad- Darda' dalam sebuah masjid di Damaskus, seorang lelaki mendatangi Abu Ad-Darda', dia berkata, ‘Wahai Abu Ad-Darda', aku datang dari kotanya Rasulullah lantaran suatu hadits yang telah kamu ceritakan dari Rasulullah.

Aku ke sini untuk keperluan itu (mencari tahu dan memastikan kebenarannya)’ Abu Ad-Darda lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memperjalankannya di antara jalan-jalan yang ada di surga, sedangkan malaikat akan meletakkan sayapnya (memberikan doa) lantaran senang dengan para penuntut ilmu seluruh penghuni langit serta bumi dan ikan-ikan di dasar laut akan memintakan ampunan kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, karena kelebihan dan keutamaan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama atas bintang- bintang di sekitarnya.

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mewariskan ilmu pengetahuan.Barangsiapa mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak’. (Shahih; Sunan Abu Daud no.3641).

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Sallallhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah orang yang meniti jalan untuk menuntut ilmu kecuali Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, sedangkan orang yang memperlambat dalam mengamalkannya maka tidak akan cepat mendapatkan nasabnya (keberun’tungan).'‘ (Shahih: Muslim, Sunan Abu Daud no.3643). Dari Zirrin bin Hubaiz, dia berkata,

‘Aku mandatangi Shafwan bin Assal Al Muradi, ia bertanya, 'Untuk apa engkau datang?' Aku menjawab, 'Aku (datang) hendak mencari ilmu'. Shafwan berkata, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Tidaklah seorang pun yang keluar dari rumahnya dalam mencari ilmu, kecuali malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuknya karena senang terhadap apa yang dilakukan oleh orang tersebut'.'‘ (Hasan- shahih: At-Ta'liq Ar-Raghib (1/62), Takhrij Al Ilmi (5/110).

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa datang ke masjidku ini, yang tidak lain kecuali untuk kebajikan yang ingin dipelajarinya atau mengajarkannya, maka kedudukannya sama dengan seorang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa datang selain dengan niat tersebut, maka ia bagaikan seseorang yang hanya dapat memandang harta benda orang lain saja1.'' (Shahih: Shahih At-Targhib (83). Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Dunia ini dilaknat, dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang menolongnya, atau seorang yang alim, atau orang yang mengajarkan ilmu.’ (Hasan: Al Misykah (5176), Ash-Shahihah (2797), At-Ta'liq (1/56). 

Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat- ayat yang menceritakan tentang keharusan menuntut ilmu dan keistimewaannya, sebagaimana firman Allah Subahanhu wata’ala: ‘Tidak sepatutnya bagi muk’minin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap- tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya’ (QS. at-Taubah:122).

Kemudian, ‘Hai orang-orang ber’iman apabila kamu dikatakan kepada-mu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, Ma’ka lapangkanlah niscaya Allah akan mem’beri kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, Maka ber’dirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu penge’tahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. al-Mujaadilah:11).

Cukuplah rasanya dalil-dalil di atas meyakinkan kita betapa istimewanya orang-orang yang menuntut ilmu (anak didik). Oleh sebab itu tidak ada kata untuk berhenti untuk menuntut ilmu sampai usia menutup mata. Sebab konsep dalam Islam menuntut ilmu dari buaian  hingga liang lahat.
Berdo’a Sebagai bentuk Pen-didikan bersumber al-Qur’an. Berdo’a adalah syari’at dalam Islam.

Sebab ia merupakan perintah Allah Subhanahu wata’ala. Logikanya adalah tidak diminta saja Allah beri. Apalagi kalau diminta. Oleh sebab itu berdo'alah tanpa bosan. Jika belum ter- ijabah, bersabarlah. Karena semua do'a pasti dikabulkan hanya menunggu waktu yang tepat menurut Allah Subhanahu wata’ala. Semua do’a pada dasarnya dikabulkan dengan 3 cara oleh Allah Subhanahu wata’ala yaitu:

  1. Allah kabulkan sesuai dengan apa yang diminta oleh hambanya, akan tetapi terkadang tidak sewaktu saat kita berdo’a, disaat waktu yang tepat menurut Allah.
  2. Allah kabulkan do’a hamba; mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang diminta oleh hamba tersebut dna
  3. Allah kabulkan do’a hamba dengan menyelamat’kannya dari takdir buruk yang Allah hendak berikan.


Firman Allah Subhanahu wata’ala: ‘Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoa’lah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenan- kan bagimu’. (QS. al-Mu’min:60). Oleh sebab itu pada dasarnya tiada do’a yang ditolak oleh Allah Subhanhu wata ’ala.  Akan tetapi dalam berdo’a ada adab yang harus dilaksanakan yaitu:

  • 1)    Mencari Waktu yang Mustajab.
Di antara waktu yang mustajab adalah hari Arafah, Ramadhan, sore hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa seper-tiga malam terakhir. Allah berfir-man, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni ’.’ (HR. Muslim).
  • 2)    Memanfaatkan Keadaan yang Mustajab Untuk Berdoa diantara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.
Abu Hurairah radhiallahu’-anhu mengatakan, ‘Sesungguhnya pintu- pintu langit terbuka ketika jihad fi sabillillah sedang berkeca-muk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat wajib. Manfaat-kanlah untuk berdoa ketika itu’ (Syarhus Sunnah al- Baghawi, 1: 327).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Doa antara adzan dan iqamah tidak tertolak.’ (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Tir-midzi). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keadaan ter-dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah berdoa. ‘ (HR. Muslim)
  • 3)    Menghadap Kiblat dan Mengangkat
Tangan. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa    Nabi    shallallahu    ‘alaihi    wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim).

Dari Salman radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi    shallallahu    ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada’Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).’ (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan).

Cara mengangkat tangan: Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berdoa, beliau meng gabungkan kedua telapak tangannya dan meng-angkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani).
Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.

  • 4)    Dengan Suara Lirih dan Tidak Dikeras’kan. Allah Subhanahu wa Ta’ala ber’firman: ‘Janganlah kalian mengeras’kan doa kalian dan janganlah pula merendahkan-nya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.’ (QS. Al- Isra: 110)
Allah Subhanahu wa Ta ’ala memuji Nabi Zakariya ‘alaihis salam, yang berdoa dengan penuh khusyu’ dan suara lirih: ‘(Yang dibacakan ini ada’lah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhan’nya dengan suara yang lembut j’ (QS. Maryam: 2-3). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

‘Berdoalah kepada Tuhan’mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.’ (QS. Al-A’raf: 55). Dari Abu Musa radhi- allahu’anhu bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak- teriak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: ‘Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguh-nya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat. ‘ (HR. Bukhari)

  • 5)    Tidak Dibuat Bersajak.
Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu dengan be- rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang me-lampaui batas.’ (QS. Al-A’raf: 55).
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak
  • 6)    Khusyu’, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan- perbuatan yang baik dan mereka berdoakepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang- orang yang khusyu’ kepada Kami.’ (QS. Al-Anbiya’: 90).
  • 7)    Memantapkan Hati Dalam Berdoa dan Berkeyakinan Untuk dikabulkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:    ‘Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau’. Hendaknya dia mantapkan ke’inginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah radhial- lahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewu’judkan sesuatu.’ (HR. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth).

Di antara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, se’sungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya). ‘ (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa di-renungkan isinya
  • 8)    Mengulang-ulang Doa dan Merengek- rengek dalam Berdoa.
Mislanya, orang berdoa: Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampu’nilah hambu-MU, ampuni-lah hambu- MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah. Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesung- guhhannya dalam berdoa. Ibn Mas’ud mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (HR. Muslim).
  • 9)    Tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasa-an: mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan‘.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.’ Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?’ Beliau bersabda, ‘Orang yang berdoa ini berkata, ‘Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.’ (HR. Muslim dan Abu Daud).

Sebagian ulama mengatakan: ‘Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufiq untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baguku.’
  • 10)    Memulai Doa dengan Memuji Allah dan bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama’Nya yang mulia (Asma-ul husna).

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, ‘Orang ini terburu-buru.’ kemudian beliau bersabda: ‘Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehen’daknya.’ (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

  • 11)     Memperbanyak Taubat dan Memo-hon Ampun Kepada Allah. Banyak men’dekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. 

Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.Dari Abu Hurairah radhial- lahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan.

Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka, jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi.. ‘ (HR. Bukhari).
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat.’

  • 12)     Hindari Mendoakan Keburukan, Baik Untuk Diri Sendiri, Anak, Maupun Keluarga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk, Firman Allah SWT: ‘Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. ‘ (QS. Al-Isra’: 11).

Pada Ayat lain Allah berfirman: ‘Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti per’mintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur me’reka (binasa).’ (QS. Yunus: 11).

Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.

Dari Jabir radhiallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan men doakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mus’tajab, pasti Allah kabulkan. ‘ (HR. Abu Daud).

Dari Abu Hurairah radhial- lahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Doa para hamba akan senantiasa dikabul-kan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silatur-rahim.’ (HR. Muslim dan Abu Daud).
  • 13)    Menghindari Makanan dan Harta Haram. Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa. Dari Abu Hurairah radhial- lahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai sekalian ma’nusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). 

Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintah’kan kepada orang-orang mukmin se’perti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik- baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih.

Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ’. Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceri’takan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu.

Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo ’a, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku ’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagai’manakah Allah akan mengabulkan do ’anya?’ (HR. Muslim)

Santri harus berdo’a dalam menuntut ilmu. Rasulullah Sallallhu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan do’a bagi penuntut ilmu yaitu 'Ya Allah, berikanlah kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat untuk diriku, tambahkanlah kepadaku ilmu. Dan segala puji bagi Allah atas semua keadaan, aku pun berlindung kepada Allah dari siksa api neraka'.’ (Shahih)

Santri juga harus berdo’a dari ketidakmanfaatan ilmu yang dipelajari, sebab ilmu yang tidak bermanfaat tidak akan memberikan kebaikan bagi seseorang baik di dunia maupun diakhirat. Rasulullah Sallallhu ‘alaihi wasallam mengajarkan keapda kita sebuah do’a, yaitu: 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara; dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak didengar'.’ (Shahih: Hadits ini sering diulang namun hadits di atas lebih sempurna).

PENUTUP SIMPULAN
Psikologi pendidikan dalam teori dan praktisnya adalah mengamati atau obervation kepada gejala-gejala psikologis terhadap pendidikan. Dalam hal ini dilihat dari pendekatan al-Qur’an. Al- Qur’an adalah kitab suci yang sempurna, yang di dalamnya me-ngandungi nilai- nilai yang sangat berharga bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam al-Qur’an dari sudut pandang psikologi pendidikan terdapat proses pendidikan yang siste’matik. Al-Qur’an adalah pedoman hidup, ia adalah petunjuk, ia adalah obat penawar penyakit yang berbahaya dari pada penyakit badan, ia penyejuk jiwa saat lara, ia penenang hati saat gelisah, ia adalah tuntunan kehidupan agar selamat dunia hingga ke akhirat.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang mengabarkan berita masa lalu dan akan datang tanpa sedikitpun kekurangannya, dari yang terlihat sampai kepada yang ghaib. Ia adalah kebenaran tanpa batas, semakin tekhnologi berkembang dan menaklukkan dunia semakin kebenaran al-Qur’an terbukti tanpa terbantahkan. Dalam konteks psikologi pendidikan dimana setiap proses perkembangan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor untuk perkembangan kedewasaan manusia.

terimakasih sudah Berkunjung ke : almumtaz.wiki

DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan, 2001. Ulumul Qur’an untuk Memahami Wahyu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hatta Syamsuddin, 2008. Modul Mata Kuliah Ulumul Qur ’an. Surakarta: Pesantren Mahasiswa Arroyan.

Shabri Shaleh Anwar & Tarsono Makmuri, 2014. Tuntunan Menghafal Juz Amma. Tembilahan: Yayasan Indragiri.

Shabri Shaleh Anwar, 2014. Pertama Kepada Akhir. Tembilahan: Yayasan Indragiri.
Shabri Shaleh Anwar, 2014. Quyality Stundet of Muslim Achievement. Tembilahan: Yayasan Indragiri. Syaikh Manna’ al-Qaththan, 2013. Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Sumber Internet: http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://www.konsultasisyariah.com/13-ada- dalam-berdoa/islamino.net
PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ALQUR’AN Reviewed by Kharis Almumtaz on May 27, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.