Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

SELF REGULATED LEARNING




almumtaz.wiki- SELF REGULATED LEARNING Globalisasi memberikan dampak yang sangat besar bagi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk pendidikan. Mengikuti arus zaman yang terus melaju pesat, harus diikuti juga dengan kemampuan intelektual yang tinggi dan mencetak generasi-generasi baru yang juga dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif dan mental yang tinggi agar dapat bertahan dan bersaing untuk mencapai sukses.

Kemampuan kognitif yang amat penting kaitannya dengan proses pembelajaran adalah strategi belajar memahami isi materi pelajaran, strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran, dan aplikasinya serta menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Dalam proses pembelajaran baik di tingkat dasar maupun lanjutan, regulasi diri dalam belajar (self regulated learning) merupakan sebuah pendekatan yang penting. Fakta empiris menunjukkan bahwa sekalipun kemampuan siswa tinggi tetapi ia tidak dapat mencapai prestasi akademik yang optimal, karena kegagalannya dalam meregulasi diri dalam belajar.
[ Secara aplikatif, diharapkan regulasi diri dalam belajar dapat membendung pengaruh lingkungan yang bersifat negatif diantaranya perilaku menyimpang yang meiputi perilaku merokok, adiksi NAPZA dan perilaku seks. Dikarenakan, regulasi diri dalam belajar (self regulated learning) ini lebih menekankan pentingnya tanggungjawab personal dan mengontrol pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperoleh.

A. Pengertian Self Regulated Learning
Barry Zimmerman (2002) mendefinisikan self regulation (regulasi diri) sebagai proses yang kita gunakan untuk mengaktifkan dan mempertahankan pikiran, perilaku, dan emosi kita untuk mencapai tujuan kita. Bila tujuan itu melibatkan belajar, maka kita belajar tentang self regulated learning.
Istilah self regulated learning berkembang dari teori kognisi sosial Bandura (1997). Menurut teori kognisi sosial, manusia merupakan hasil struktur kausal yang interdependen dari aspek pribadi (person), perilaku (behavior), dan lingkungan (environment) (Bandura, 1997).

  • 1. Pribadi (person)
"Personal influence depens in part on each of types of personal H influence: student's knowledge, metacognitive processes, and goals H "Menurut Zimmerman, faktor person meliputi:
Pengetahuan vang I dimiliki individu, tingkat kemampuan metakognisi, dan tujuan yang  ingin dicapai.

Faktor pribadi merupakan faktor terkuat untuk melakukan self  regulated learning. Hal ini dapat dilihat dalam ayat Al-qur’an sebagai berikut:
Artinya: “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

  • 2 Perilaku (behaviour)
 Faktor perilaku mengacu pada upaya individu menggunakan kemampuan yang dimiliki. Semakin besar dan optimal upaya yang dilakukan individu dalam mengatur dan mengorganisasikan proses belajar akan meningkatkan self-regulated learning pada diri individu.

  • 3, Lingkungan (environment)
Lingkungan memiliki peran terhadap pengelolaan diri dalam belajar, yaitu sebagai tempat individu melakukan aktivitas belajar dan memberikan fasilitas kepada aktivitas belajar yang dilakukan, apakah fasilitas tersebut cenderung mendukung atau menghambat aktivitas belajar khususnya self-regulated learning.

Ketiga aspek ini merupakan aspek-aspek determinan dalam self regulated fearning. Ketiga aspek determinan ini saling berhubungan sebab-akibat, dimana lerson berusaha untuk meregulasi diri sendiri (self regulated), hasilnya berupa
Kinerja atau perilaku, dan perilaku ini berdampak pada perubahan lingkungan, dan ^■emikian seterusnya (Bandura, 1986).6

Self regulated learning dapat didefinisikan sebagai memunculkan dan ^^Kiemonitor sendiri pikiran, perasaan, dan perilaku untuk mencapai suatu tujuan. P^V/lujuan ini bisa jadi berupa tujuan akademik (meningkatkan pemahaman dalam membaca, menjadi penulis yang baik, belajar perkalian, mengajukan pertanyaan ¡yang relevan), atau tujuan sosioemosional (mengontrol kemarahan, belajar akrab Bengan teman sebaya).7

Zimmerman & Martinez-Pons (2001) mendefinisikan self |R”ing,sebagai tingkatan dimana partisipan secara aktif melibatkan metakognisi, motivasi, dan perilaku dalam proses belajar. Self regulated learning juga didefinisikan sebagai bentuk belajar individual dengan bergantung pada motivasi belajar mereka, secara otonomi mengembangkan pengukuran (kognisi, ijpetakognisi, dan perilaku), dan memonitor kemajuan belajarnya (Baumert et al.2002).

secara metakognisi. self regulated learner merencanakan, Bengorganisasi, mengarahkan diri, memonitor diri, dan mengevaluasi diri pada pngkatan-tingkatan yang berbeda dari apa yang mereka pelajari. secara motivasi mereka merasa diri mereka sendiri kompeten, self efficacious. dan mandiri ^autonomous)^SQCM2i perihi (behaviorly), mereka memilih, menyusun, dan piembuat lingkungan mereka untuk belajar yang optimal.

Karakteristik dari self regulated learning meliputi: 
1. Bertujuan memperluas pengetahuan dan menjaga motivasi.
2. Menyadari keadaan emosi mereka dan punya strategi untuk mengelola K emosinya.
3. Secara periodik memonitor kemajuan ke arah tujuannya.
4. Menyesuaikan atau memperbaiki strategi berdasarkan kemajuan yang mereka I buat.
5. Mengevaluasi halangan yang mungkin muncul dan melakukan adaptasi yag | diperlukan.

Konsep self regulated learning mengintegrasikan banyak hal yang sudah ■diketahui tentang belajar-efektif dan motivasi. Ada tiga faktor yang memengaruhi Beterampilan dan kemauan: pengetahuan, motivasi, dan disiplin diri atau voliton Bkemauan diri). 

  • 1.    Pengetahuan
Pengetahuan yang dimaksudkan adalah pengetahuan tentang dirinya 1 sendiri, materinya, tugasnya, strategi untuk belajar, dan konteks-konteks | pembelajaran yang akan digunakannya. Siswa-siswa yang belajar dengan | regulasi diri dapat diistilahkan sebagai siswa ^aMjV^Siswa ahli mengenal [ dirinya sendiri dan bagaimana mereka belajar dengan sebaik-baiknya, t Mereka mengetahui gaya pembelajaran yang disukainya, apa yang mudah dan sulit bagi dirinya, bagaimana cara mengatasi bagian-bagian sulit, apa J minat dan bakatnya, dan bagaimana cara memanfaatkan kekuatan/ kelebihannya (Woolfolk, 2008). Mereka juga tahu materi yang sedang dipelajarinya. Mereka mungkin mengerti bahwa tugas belajar yang berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda pula.

  • 2. Motivasi
Motivasi merupakan inti dari pengelolaan diri dalam belajar, dimana melalui motivasi siswa mau mengambil tindakan dan tanggung jawab atas kegiatan belajar yang dia lakukan. Sebagian anak menemukan bahwa banyak tugas di sekolah menarik karena mereka menghargai pembelajaran bukan hanya sekedar bekeija dengan baik di mata orang lain. Akan tetapi, bahkan bila mereka tidak termotivasi secara intrinsik oleh tugas tertentu, mereka serius untuk mendapatkan manfaat yang diinginkan darinya. Mereka tahu mengapa mereka belajar, sehingga tindakan dan pilihan mereka tentukan sendiri dan tidak dikontrol orang lain,

  • 3. Disiplin diri atau voliton (kemauan diri)
Volition adalah kata gaya-lama untuk will-power (kekuatan kemauan). Definisi teknis untuk volition adalah memproteksi kesempatan untuk meraih tujuan dengan menerapkan self regulated learning. Para pembelajar yang self regulated tahu bagaimana cara melindungi dirinya sendiri dari distraksi mereka harus belajar, misalnya, agar mereka tidak terinterupsi. Mereka tahu . bagaimana cara mengatasi bila mereka merasa cemas, mengantuk, atau malas. Mereka tahu apa yang dilakukan ketika tergoda untuk berhenti bekerja dan minum secangkir kopi (lagi).

Secara khusus, pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning) mencakup proses-proses berikut ini, dimana banyak dari antaranya pada dasarnya 
  1. Penetapan tujuan (goal setting). Pembelajar yang mengatur diri tahu apa yang ingin mereka capai ketika membaca atau belajar mungkin mempelajari fakta- fakta yang spesifik, mendapatkan pemahaman konseptual yang luas tentang suatu topik, atau hanya mendapatkan pengetahuan yang memadai agar bisa mengeijakan soal ujian di kelas. Biasanya, mereka mengaitkan tujuan-tujuan mereka mengerjakan suatu aktivitas belajar dengan tujuan dan cita-cita jangka panjang (Nolen, 1996; Winne & Hadwin, 1998; Wolters, 1998; Zimmerman,2004).
  2. Perencanaan (planning). Pembelajar yang mengatur diri sebelumnya sudah menentukan bagaimana baiknya menggunakan waktu dan sumber daya yang tersedia untuk tugas-tugas belajar (Zimmerman, 2004; Zimmerman & Riscmberg, 1997).
  3. Motivasi diri (self-motivation). Pembelajar yang mengatur diri biasanya memiliki self efficacy yang tinggi akan kemampuan mereka menyelesaikan suatu tugas belajar dengan sukses. Mereka menggunakan banyak strategi agar tetap terarah pada tugas barangkali dengan menghiasi tugasnya agar lebih menyenangkan, atau menjanjikan diri mereka sendiri pentingnya mengeijakan tugas dengan baik, atau menjanjikan kepada diri mereka sendiri hadiah tertentu begitu suatu tugas selesai dikerjakan (Como, 1993; Wolters, 2003; Zimmerman, 2004).
  4. Kontrol atensi (attention control). Pembelajar yang mengatur diri berusaha meihfokuskan perhatian mereka pada pelajaran yang sedang berlangsung dan menghilangkan dari pikiran mereka hal-hal lain yang mengganggu (Hamishfeger, 1995; Kuhl, 1985; Winne, 1995).Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembanz Jilid 2,Uakarta: Erlangga, 2008.), hlm. 38-39.
  5. Penggunaan strategi belajar yang fleksibel (flexible use of learning strategies). Pembelajar yang mengatur diri memiliki strategi belajar yang berbeda tergantung tujuan-tujuan spesifik yang ingin mereka capai. Sebagai contoh, bagaimana mereka membaca sebuah artikel majalah tergantung pada apakah mereka membacanya sebagai sekadar hiburan atau sebagai persiapan ujian (van den Brock, Lorch, Linderholm, & Gustafson, 2001; Winne, 1995).
  6. Monitor diri (self-monitoring). Pembelajar yang mengatur diri terus memonitor kemajuan mereka dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dan mereka mengubah strategi belajar atau memodifikasi tujuan bila dibutuhkan (D. L. Butler & Winne, 1995; Carver & Scheier, 1990; Zimmerman, 2004).7
  7. Mencari bantuan yang tepat (appropriate help seeking). Pembelajar yang benar-benar mengatur diri tidak selalu harus berusaha sendiri. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan orang lain dan mencari bantuan semacam itu. Mereka khususnya mungkin meminta bantuan yang akan memudahkan mereka bekerja secara mandiri di kemudian hari (R. Butler, 1998b; A. M. Ryan, Pintrich & Midgley, 2001).
  8. F.valnasi diri (s.el£evakiation). Pembelajar yang [mampu] mengatur diri menentukan apakah yang mereka pelajari itu telah memenuhi, tujuan awal mereka. Idealnya, mereka juga menggunakan evaluasi diri untuk menyesuaikan penggunaan berbagai strategi belajar dalam kesempatan- kesempatan di kemudian hari (Schraw & Moshman, 1995; Winne & Hadwin, 1998; Zimmerman & Schunk, 2004).

B. Meningkatkan Self Regulated Learning

Untuk meningkatkan self-regulated learning, kira tentu saja harus I mengajarkan siswa jenis-jenis proses kognitif yang dapat membantu pembelajaran B dan memori. Para peneliti telah menyarankan beberapa strategi berikut ini:

  1. Doronglah siswa untuk menyusun beberapa tujuan belajarnya sendiri dan kemudian tftemonito  kemajuan mereka dalam kerangka tujuan tersebut.    
  2. Berilah kesempatan pada siswa untuk belajar dan berprestasptanpa arahan atau bantuan guru; termasuk baik aktivitas belajar yang independen di mana siswa belajar secara sendiri (seperti PR, tugas yang dikerjakan secara individual di kelas) maupun aktivitas kelompok di mana siswa saling membantu satu sama lain belajar(seperti tutor yang dilakukan oleh teman kelas—peer tutoring—, pembelajaran kooperatif—cooperative learning).
  3. Sesekali berikan aktivitas-aktivitas (seperti membuat paper penelitian atau aktivitas projek,) di dalamnya siswa memiliki keleluasaan yang cukup berkenaan dengan tujuan, penggunaan waktu, dan sebagainya.
  4. Berikan scafolding sesuai kebutuhan untuk membantu siswa menguasa strategi- strategi mengatur diri (misalnya, tunjukkan kepada mereka cara menggunakan cheklist untuk mengidentifikasi apa yang perlu mereka lakukan setiap hari dan menentukan kapan mereka menyelesaikan semua tugas yang telah diberikan).
  5. Contohkan proses-proses kognitif yang bersifat self-regulating dengan menunjukkan penggunaan proses-proses semacam itu secara lisan dan jelas, dan kemudian berilah umpan balik konstruktif kepada siswa ketika mereka terlibat dalam proses-proses yang serupa.
  6. Secara konsisten mintalah siswa mengevaluasi performa mereka sendiri, dan bandingkan asesmen diri yang mereka buat dengan asesmen yang dilakukan guru.

C. Aplikasi Self Regulated Learning dalam Pembelajaran (Pendidikan Islam)
Berdasarkan hasil penelitian self regulated learning dalam pendidikan Islam: Ada interaksi timbal balik antara self regulation dan ag^na. Seperti dibahas oleh Azhar Ahmad, sis\^a^ang mampu mengatur diri /proses belajar mereka dalam studi Islam inenghargai isi subjek dan menginternalisasi perilaku moral yang baik dalam hidup mereka, lebih dari siswa yang tidak. Siswa-siswa ini memiliki performa yang tinggi dalam pendidikan Islam karena penelitian I menunjukkan ada hubungan positif antara belajar mandiri dan hasil belaiar.
            "    '
Memiliki kegigihan dalam bekerja dan mempunyai strategi tertentu yang I membantunya dalam belajar, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an bahwa [ motivasi dalam belajar mempunyai peranan penting agar bersemangat dalam [meraihsesuatu yang bermanfaat.

QS. Ali Imron {3}: 139:
(Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.  QS Ali Imron {3}: 148:
Artinya: “ Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” 

Penelitian yang menawarkan pedoman tentang cara merancang tugas- tugas dan menstruktur interaksi kelas untuk mendorong perkembangan dan \ keterlibatan siswa dalam self regulated learning menunjukkan bahwa pertama, guru harus melibatkan siswa dalam tugas-tugas yang bermakna dan kompleks membutuhkan waktu lama. Kedua, siswa perlu memiliki kontrol tertentu atas l proses dan produk pembelajarannya, mereka perlu membuat pilihan. ketiga, produk belajarnya, lalu memberi mereka kesempatan untuk menilai kemajuan mereka dengan menggunakan standar-standar itu. Terakhir itu. keempat, nembantu mereka bekerja kolaboratif dengan sesama teman dan mencari umpan balik dari mereka.

Berikut ini adalah sebagian strategi transfer dan self regulated learning kang diajarkan:19
  • Menggunakan kunci jawaban, siswa memberi skor pada PR-nya dan
  • memberikannya kepada teman yang ditunjuk untuk mengumpuJ
  • Siswa membuat grafik penyelesaian PR-nya pada laporan kelas.
  •  Siswa menggunakan grafik termometer individual yang disimpan dalam folder untuk mencatat skor-skor harian dan masalah-masalah individual.
  • Pada awal setiap sesi, siswa memeriksa grafik sebelumnya dan menetapkan ! tujuan untuk memperbaiki skor sebelumnya.
  • Siswa mendiskusikan dengan partnernya, bagaimana mereka dapat menerpkan strategi problem solving di luar kelas.
  • Sebelum beberapa pelajaran, siswa melapor kepada kelompok tentang bagaimana mereka telah menerapkan keterampilan problem solving di luar kelas.

Baik strategi transfer maupun self regulated learning membantu siswa belajar menyelesaikan soal matematika dan menerapkan pengetahuan ini ke masalah-masalah baru. Penambahan strategi self regulated learning sangat efektif bila siswa diminta menyelesaikan soal yang sangat berbeda dengan yang mereka hadapi dalam pelajaran.
   
Siswa yang sangat mandiri mengatur proses belajar mereka akan mencapai hasil yang lebih besar dan menjadi proaktif lalam proses belajar mereka. Oleh karena itu, penting bagi siswa dalam pendidikan Islam untuk dapat mengadopsi dan memanfaatkan strategi dalam pendidikan mereka untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi di bidang akademik maupun dalam praktek keagamaan.


KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa Self regulated learning dapat didefinisikan sebagai memunculkan dan memonitor Sendiri pikiran, perasaan, dan perilaku untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan ini K)isa jadi berupa tujuan akademik (meningkatkan pemahaman dalam membaca, penjadi penulis yang baik, belajar perkalian, mengajukan pertanyaan yang relevan), atau tujuan sosioemosional (mengontrol kemarahan, belajar akrab lengan teman sebaya).

Untuk meningkatkan self-regulated learning, kira harus mengajarkan isiswa jenis-jenis proses kognitif yang dapat membantu pembelajaran dan memori, ptrategi yang dapat dilakukan diantaranya: doronglah siswa untuk menyusun ( beberapa tujuan belajarnya sendiri; memberi kesempatan pada siswa untuk belajar (dan berprestasi; pemberian aktivitas-aktivitas (seperti membuat paper penelitian (atau aktivitas projek); dan secara konsisten mintalah siswa mengevaluasi performa mereka sendiri.

Secara aplikatif, cara merancang tugas-tugas dan menstruktur interaksi kelas untuk mendorong perkembangan dan keterlibatan siswa dalam self iregulated learning meliputi: pertama, guru harus melibatkan siswa dalam tugas- tugas yang bermakna dan kompleks dan membutuhkan waktu lama. Kedua, siswa perlu memiliki kontrol tertentu atas proses dan produk pembelajarannya, mereka perlu membuat pilihan. Ketiga, guru dapat membantu siswa mengembangkan SRL dengan melibatkan mereka dalam menetapkan kriteria untuk mengevaluasi proses dan produk belajarnya, lalu memberi mereka kesempatan untuk menilai kemajuan mereka dengan menggunakan standar-standar itu. Terakhir, keempat yaitu membantu mereka bekeija kolaboratif dengan sesama teman dan mencari umpan balik dari mereka.

terimakasih sudah membaca artikel saya di website: almumtaz.wiki

Daftar Pustaka
 Abdul Mukhid, Tadris Volume 3 No. 2: Strategi Self-Regulated Learning (Perspektif Teoritik),    : Tadris, 2008.
Htaita Woolfolk, Educational Psychology (Terjemahan), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
■pepartemen Agama Islam Republik Indonesia, Al-Qur ’an dan Terjemahannya, Semarang: Al Waah, 1993.
feva Latipah, JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 37, NO. 1, JUNI 2010: 110 -| 129: Strategi Self Regulated Learning dan Prestasi Belajar: Kajian Meta Analisis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010.
Beanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 2008.
iJohn W. Santrock, Psikologi Pendidikan Edisi 2, Jakarta: Kencana, 2013.
Ilrma Alfina, e Journal Psikologi, 2014, 2 (2): 227-237: Hubungan Self-Regulated Learning dengan Prokrastinasi Akademik Pada Siswa Akselerasi (SMA Negeri 1 Samarinda),    : Universitas Mulawarman, 2014.

BGiairunnisa A Shukor and Ahmad Firdaus Mohd Noor, World Journal of Islamic History and Civilization, 4 (1): 25-31, 2014: Self-regulated Learning Strategies in Islamic Education, Malaysia: Faculty of Islamic Civilization, Technology University, 2014.
Muhammad Utsman Najati, Psikologi Qurani, Bandung: Maija, 2010.

Nugroho, Self Regulated Learning Anak Berbakat, Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa, 2004.
H Abdul Mukhid, Tadris Volume 3 No. 2: Strategi Self-Regulated Learning (Perspektif Teoritik),    : Tadris, 2008.Anita Woolfolk, Educational Psychology (Terjemahan), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008. Bepartemen Agama Islam Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahannya, Semarang: Al Waah, 1993.
Kva Latipah, JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 37, NO. 1, JUNI 2010: llO^tf 129: Strategi Self Regulated Learning dan Prestasi Belajar: Kajian Meta Analisis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010.

eanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 2008.
B John W. Santrock, Psikologi Pendidikan Edisi 2, Jakarta: Kencana, 2013.
Blrma Alfina, eJournal Psikologi, 2014, 2 (2): 227-237: Hubungan Selj'-Regulated Learning dengan Prokrastinasi Akademik Pada Siswa Akselerasi (SMA Negeri 1 Samarinda),    : Universitas Mulawarman, 2014.

BKhainmnisa A Shukor and Ahmad Firdaus Mohd Noor, World Journal of Islamic History and Civilization, 4 (1): 25-31, 2014: Self-regulated Learning Strategies in Islamic Education, Malaysia: Faculty of Islamic Civilization, Technology University, 2014.


B Muhammad Utsman Najati, Psikologi Qurani, Bandung: Maija, 2010.
I Nugroho, Self Regulated Learning Anak Berbakat, Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa, 2004.
SELF REGULATED LEARNING Reviewed by Kharis Almumtaz on May 19, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.