Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME, MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
TEORI BELAJAR BEHAVIORISME, MEMINIMALISIR PERILAKUYANG TIDAK DIINGINKAN

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

ALMUMTAZ.WIKI- Konsepsi tentang belajari berkembang seiring dengan dinamika kehidupan manusia yang dinamis dan lingkungan strategis yang terus berubah. Berkembangnya konsepsi belajar selalu diikuti dengan berkembangnya praktek pembelajaran. Dengan demikian, Belajar dan pembelajaran adalah merupakan dua konsepsi yang tidak bisa dipisahkan.
Para praktisi, pengembang dan ilmuwan pembelajaran sepakat bahwa kegiatan belajar dan tindakan pembelajaran bukanlah meiupakan suatu proses yang sangat sederhana dan mudah dilaksanakan. Karena peristiwa belajar itu sendiri merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan melibatkan berbagai variabel internal dalam diri si pelajar, serta membutuhkan stimulan dari luar berupa upaya-upaya untuk membelajarkan si pelajar.

Menurut Hasanudin, bagi para guru salah satu pertanyaan yang paling penting tentang belajar adalah : Kondisi seperti apa yang paling efektif untuk menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau dengan kata lain, bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam instruksi? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat pada penjelasan-penjelasan psikologis tentang belajar.

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lainnya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antarmanusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah teijadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi ’dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, baik itu sengaja maupun tidak disengaja.

Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketidak terbatasannya akal dan keinginan manusia, untuk itu perlu difahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.











Menurut Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar antara lain sebagai berikut:
  1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
  2. Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju.
  3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman- teman.
  4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi.
  5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman.
  6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.

Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi atau bagaimanapun juga membicarakan masalah belajar ialah membicarakan sosok manusia. Ini dapat diartikan bahwa ada beberapa ranah yang harus mendapat perhatian, ranah-ranah itu ialah ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Akan tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, berbeda dengan binatang. Binatang juga makhluk yang dapat diberi pelajaran, tetapi tidak menggunakan pikiran dan akal budi. Ivan Petrovich Pavlov, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam melakukan serangkaian percobaan.

Dalam percobaan
itu ia melatih anjingnya untuk mengeluarkan air liur karena stimuhis yang dikaitkan dengan makanan. Proses belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi (pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindra) dengan makanan. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif.

Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut JJB. Watson diberi istilah behaviorisme. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia harus dipelajari secara objektif, la menolak gagasan mentalistik yang bertalian dengan bawaan dan naluri. Watson menggunakan teori classical conditioning untuk semuanya yang bertalian dengan pembelajaran. Pada umumnya ahli psikologi mendukung proses mekanistik. Maksudnya kejadian lingkungan secara otomatis akan menghasilkan tanggapan. Proses pembelajaran itu bergerak dengan pandangan secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip dengan metode dengar ucap. 

B. Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud teori belajar behavioralisme ?
2.    Apakah teori belajar behavioralisme dapat digunakan untuk meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan? 


PEMBAHASAN
A. Belajar dan Pembelajaran

Diantara ilmuwan pembelajaran masih terjadi pertentangan pendapat tentang penggunaan Pendekatan teori belajar behaviorisme, kognitivisme dengan konstruktivisme dalam Praktek pembelajaran yang implikasinya dalam praktek pembelajaran menimbulkan pandangan-pandangan ekstrim dan eksklusifisme bagi para penganutnya. Diantara para ilmuwan pembelajaran ada yang mendukung satu pendekatan tertentu atau mendukung yang lain, atau mengambil jalan tengah.

Menurut Asri Budiningsih untuk membedakan antara teori belajar dan teori pembelajaran bisa diamati dari posisional teorinya, apakah berada pada tataran teori deskriptif atau perspektif. Bruner dalam Dageng mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah perspektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan teori belajar bersifat deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan antara variable-variabel yang menentukan hasil belajar.

Sedangkan teori pembelajaran sebaliknya teori ini menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar teijadi proses belajar. Dengan kata lain teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable yang dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar. Asri Budiningsih dalam buku Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa upaya dari Bruner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori pembelajaran yang perspektif dikembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth.teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variable kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan menempatkan hasil belajar sebagai varibael yang diamati.

Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung. Reigeluth mengemukakan bahwa teori perspektif adalah goal oriented sedangkan teori deskriptif adalah goal free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran


perspektif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan' teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variable yang diamati dalam mengembangkan teori belajar yang perspektif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pem,belajaran deskriptif, variable yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi.

Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa. Teori pembelajaran harus memasukkan variable metode pembelajaran. Bila tidak, maka teori itu bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak yang terjadi apa yang dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya adalah teori belajar. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran sedangkan teori belajar sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran.

Menurut para ahli pendidikan modem belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau pembahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana seseorang belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inhem pembelajaran. Teori belajar juga bisa dikatakan sebagai suatu perangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang teijadi dalam kegiatan belajar. 

Pada dasarnya banyak sekali teori belajar yang dapat digunakan guru untuk proses kegiatan belajar, namun secara umum terdapat tiga kategori utama tentang teori belajar. Yaitu behavioristik, humanistik, dan kognitif. 

B.    Konsep Behaviorisme
Teori psikologi behaviorisme adalah suatu teori belajar yang memandang kehidupan manusia terdiri atas unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Teori ini sangat menekankan pada perilaku yang dapat diamati dan diukur.

Adapun ciri dari rumpun teori behaviorisme ini adalah:
  • Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil;
  • Lebih bersifat mekanistis;
  • Menekankan pentingnya latihan;
  • Mementingkan pembentukan reaksi atau respon; dan
  • Menekankan peranan lingkungan dalam proses pembelajaran.

Teori behaviorisme ini memiliki tiga rumpun yang terdiri atas kondisioning klasik dengan tokohnya Ivan Pavlov; psikologi penguatan (opérant conditioning) dengan tokoh yang terkenal yaitu B .F Skinner, Psikologi Koneksionisme dengan tokohnya Edward L. Thomdike. Kita akan mengulas satu persatu ketiga teori tersebut,

a.    Teori Connectionism
Teori ini merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban atau stimulus-respon. Siapa yang dapat menguasai hubungan stimulus respon sebanyak-banyaknya maka dia dapat berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respon perlu dilakukan berulang-ulang. Tokoh yang terkenal dalam mengembangkan teori ini adalah Edward L. Thomdike. Hasil penelitiannya dikenal dengan trial and error.

Menumt connectionism belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Thomdike mengemukakan tiga hukum dalam belajar yaitu:
  1. Law of Readiness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh Rian sangat bersemangat ketika akan memulai pelajaran matematika, sedangkan Tuti terlihat kurang bersemangat saat akan memulai pelajaran matematika karena dia tidak senang dengan matematika, menurut Anda siapa yang akan mudah menerima pelajaran matematika jika dilihat dari kesiapan belajar? Ya, pastinya Rian, karena dia punya semangat yang tinggi pada saat akan memulai pelajaran. Namun kesiapan belajar ini sebenarnya dapat diciptakan oleh guru dalam proses pembelajaran, yaitu dengan memberikan motivasi dan dapat menarik perhatian siswa pada saat akan memulai pelajaran.
  2. Law of Exercise, yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan pengulangan dalam belajar. Sebagai contol Mail selalu mengulang pelajaran di rumah yang telah disampaikannya di sekolah. Tentu Mail akan lebih mudah memahami pelajaran, karena dia terbiasa latihan dan mengulang materi. Namun di dalam kelas guru juga dapat melakukan latihan dan pengulangan dalam memberikan pelajarannya, yaitu dengan memberikan latihan-latihan soal, penugasan, dan lain sebagainya, sehingga dengan berlatih pemahaman siswa terhadap suatu materi dapat relatif menetap sehingga proses pembelajaran menjadi lebh bermakna
  3. Law of Effect, belajar akan semangat apabila mengetahui hasil belajar yang baik. Mengetahui hasil belajar dengan segera dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, sehingga ia tahu dimana letak kelemahannya dan memperbaikinya dengan segera. Untuk itu dalam proses pembelajaran feedback yang menyenangkan sangat diperlukan agar dapat mempengaruhi usaha siswa dalam belajar.

b.    Teori Conditioning Classic
Teori ini dipelopori oleh Ivan Pavlov seorang ahli fisiologi dari Rusia. Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan seekor anjing yang mengeluarkan air liur”. Percobaan ini membuktikan bahwa suatu rangsangan tertentu (cahaya merah) akan mengakibatkan suatu tindak balas tak terlazim yaitu keluar air liur, karena bersamaan dengan rangsangan tak lazim (alami) yaitu makanan. 

Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa respon yang dikondisikan sebagai tujuan. Penelitian ini menjelaskan bahwa individu dapat dikendalikan melallui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Untuk melihat hubungan antara rangsangan dengan respon. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan sutau perilaku atau respon terhadap sesuatu.

Sedangkan mengajar adalah membentuk kebiasaan dengan mengulang-mengulang suatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Artinya belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan sutau perilaku atau respon terhadap sesuatu. Tentunya Anda mengetahui betul salah satu contoh bentuk pengkondisian yang biasa kita temukan di sekolah misalnya seperti lonceng berbunyi yang mengisyaratkan mulai belajar atau selesai belajar. Contoh lainnya, guru saat mengajukan pertanyaan kemudian langsung iikuti dengan acungan tangan anak yang ingin menjawab, sebagai pertanda bahwa ana tersebut dapat menjawab pertanyaan guru.

Kondisi-kondisi tersebut diciptakan untuk memanggil suatu respon sari stimulus yang diajukan. Contoh lain misalnya dengan memberikan contohcontoh gambar yang disertai dengan kata-kata pada saat akan mengajarkan perbendaharaan kata kepada siswa. Sekarang, coba Anda cari lagi contoh bentuk pengkondisian yang lain yang biasa dilakukan oleh guru pada saat proses pembelajaran dengan tujuan untuk membiasakan siswa terhadap suatu hal.


c.    Teori Operant Conditioning
Asumsi dari teori ini adalah bahwa perubahan perilaku merupakan fungsi dari pada kondisi atau peristiwa lingkungan. Tokoh teori ini salah satunya adalah B.F. Skinner. Menurut Skinner dalam Surya bahwa respon individu tidak hanya terjadi karena adanya rangsangan dari lingkungan, akan tetapi dapat juga terjadi kaema sesuatu di lingkungan yang tidak diketahui atau tidak disadari. Menurut skinner bahwa unsure terpenting dalam belajar adalah penguatan {reinforcement).

Penguatan tersbut terbagi menjadi dua yaitu bentuk penguatan yang bersifat positif dan negatif. Penguatan yang bersifat positif dapat berupa hadiah atau penghargaan (reward), sedangkan yang berupa penguatan negative antara lain menunda atau tidak memberikan penghargaan (punishment), misalnya dengan memberikan tugas tambahan. Sebagai contoh Juned adalah seorang anak yang sangat rajin dan giat dalam belajar, dia selalu dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan, maka gurunya memberikan penghargaan pada Juned dengan memberikan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat penghargaan ini Juned* semakin rajin belajar dan lebih bersemangat lagi, bahkan dapat menjadikan motivasi bagi teman lainnya untuk mendapat penghargaan dari guru.

Prinsip-prinsip belajar yang banyak digunakan pada teori ini menurut Harley dan Davis dalam Sagala adalah:
1)    Proses belajar dapat teijadi dengan baik apabila siswa ikut terlibat secara aktif didalamnya;
2)    Materi pelajaran diberikan dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur sedemikian rupa sehingga hanya perlu diberikan suatu respon tertentu saja;
3)    Setiap respon perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat dengan segera mengetahui apakah respon yang diberikan betul atau tidak;
4)    Perlu diberikan penguatan setiap kali siswa memberikan respon baik itu postif ataupun négative. Penguatan yang bersifat positif akan lebih baik karena dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa,s ehingga ia ingin mengulang kembali respons yang telah diberikan.



Teori belajar Skinner ini banyak diterapkan dalam bidang pendidikan formal terutama dalam penetapan model pembelajaran dan teknologi pembelajaran. Memilih rangsangan dan memberikan peneguhan adalah merupakan unsur utama dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran di kelas siswa perlu mendapat perhatian terutama dalam aspek perbedaan individual, kesiapan untuk pembelajaran, dan pemberian motivasi. 

Program pembelajaran yang terkenal dari Skinner adalah uprogram Instruction” yaitu suatu bahan belajar yang menggunakan media dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran berprogram ini bahan ajar disajikan dalam bentuk unit-unit kecil yang diberikan ilustrasi dan pertanyaan, tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik dengan segera terhadap aktivitas belajar siswa. Program Instruction yang dikembangkan Skinner ini menjadi cikal bakal berkembangnya program pembelajaran berbasis computer model tutorial, drill, games, dan simulasi. Selain itu teori ini sangat menekankan pada pembelajaran tuntas {mastery leaming).

Penjelasan dari ketiga rumpun teori behaviorisme dapat disimpulkan bahwa belajar dengan menggunakan pendekatan behaviorisme sangat menekankan pada perubahan perilaku siswa pada setiap akhir pembelajaran yang dapat diukur dan diamati. Hal ini berimplikasi pada penetapan tujuan pembelajaran pada setiap sesi pelajaran. Sehingga perubahan perilaku siswa pada aspek pengetahuan dapat diamati dengan segera untuk dapat diberikan tindakan selanjutnya.

Penerapan teori behaviorisme ini sangat menekankan pada penyusunan tujuan pembelajaran yang harus mengandung unsur ABCD ( A- Audience; B= Behaviour; C= Condition; D= Degree) sehingga setelah menyelesaikan unit materi kemampuan siswa dapat terukur dan teramati dengan jelas. Teori belajar behaviorisme ini tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam proses pembelajaran.

C. Mengurai dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan

Fokus tulisan ini adalh mendorong perilaku yang diinginkan. Namun kita juga perlu menyikapi perilaku-perilaku yang tidak diinginkan, yaitu perilaku yang mengganggu belajar dan prestasi siswa itu sendiri dan mungkin juga belajar dan prestasi teman-teman sekelas. Kaum behavioris menawarkan beberapa strategi yang mungkin, diantaranya ekstinksi, pemberian isyarat, penguatan perilaku yang tidak sesuai, dan hukuman. 

  1. Ekstinsi, Salah satu cara mengurai frekuensi perilaku yang tidak sesuai adalah memastikian perilaku tersebut tidak pernah diberikan penguatan. Misalnya perilaku badut kelas yang perilaku hebohnya dibiarkan bisa berhenti berusaha mengalihkan konsentrasi teman-temannya dari apa yang seharusnya mereka lakukan.
  2. Pemberian isyarat terhadap perilaku yang tidak sesuai, Sebagaimana kita dapat menggunakan isyarat untuk mengingatkan para siswa tentang apa yang seharusnya mereka lakukan, kita juga dapat memberikan isyarat tentang apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
  3. Memberi penguatan pada perilaku yang bertentangan . Seringkali kita dapat mengurangi frekuensi perilaku yang tidak produktif hanya dengan memberi penguatan pada perilaku alternatif. Idealnya dua perilaku itu merupakan perilaku yang bertentangan, yang tidak dapat dijalankan bersamaan.
  4. Hukuman. Beberapa perilaku yang tidak sesuai memerlukan penanganan segera, misalnya perilaku itu dapat mengganggu pembelajran di kelas atau mencerminkan rasa tidak hormat terhadap hak-hak dan keselamatan orang lain. Dalam kasus seperti itu kita tidak hanya menunggu perbaikan yang perlahan-lahan seiring waktu tetapi harus melakukan hukuman.

Kelebihan teori belajar behaviorisme:

Teknik-teknik behavioris terutama membantu ketika kita perlu menyikapi masalah- masalah perilaku yang kronis di kelas. Meski memakan waktu, menurut J.N. Hughes pendekatan-pendekatan seperti penerapan analisis perilaku, analisis fungsional, dan dukungan perilaku positif seringkali efektif ketika pendekatan-pendekatan lain gagal. Meski demikian, para psikolog memiliki kesan beragam tentang peran teknik-teknik behavioris dalam mengatasi masalah akademis.

Penguatan dan teknik-teknik strategi behavioris yang lain seringkali berhasil memperbaiki tingkat prestasi siswa, tetapi juga harus di waspadai kekurangan-kekurangannya, diantaranya:
  1. Usaha-usaha mengubah perilaku mengabaikan faktor-faktor kognitif yang potensial mengganggu proses belajar.
  2. Penguatan yang diberikan karena menyelesaikan tugas-tugas akademis bisa mendorong siswa untuk melakukannya lebih cepat alih-alih dengan bagus.
  3. Penguatan ekstrinsik terhadap sebuah aktifitas yang dianggap siswa sudah menguatkan secara intrinsik malah dapat mengurangi kesenangan siswa terhadap aktifitas tersebut. 


PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Kemudia behaviorisme adalah suatu teori belajar yang memandang kehidupan manusia terdiri atas unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwa teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori belajar yang memandang bahwa perubahan perilaku / tingkah laku dalam diri pelajar yang diakibatkan kontak hubungan pelajar dengan beragam hal disekitamya baik itu melalui stimulus-respon, kondisi atau peristiwa lingkungan, dan atau dengan cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan.


2.    Teori belajar behaviorisme dapat digunakan untuk meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan dengan cara menerapkan beberapa strategi diantaranya:
a.    Ekstinsi
b.    Pemberian isyarat terhadap perilaku yang tidak sesuai
c.    Memberi penguatan pada perilaku yang bertentangan
d.    Hukuman
TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG KE : ALMUMTAZ.WIKI

Daftar Pustaka
Bandono, Adi. “Perdebatan sekitar teori belajar dalam praktek pembelajaran”. Sidorajo, Universitas Muhammadiyah Siduarjo. 2012
Ellis Ormrod, Jeanne. Psikologi Pendidikan membantu siswa tumbuh dan berkembang jilid 1. Jakarta: Erlangga, 2008.
Hasnudin, “Teori Belajar Behaviorisme, Kognitif, Konstruktivistik dan Humanistik”. 2010.
Rahman Shaleh, Abdul. Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana, 2008.
Subini, Nini Dkk, Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012
Surya, Mohamad. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bakti Winaya, 2003.









TEORI BELAJAR BEHAVIORISME, MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN Reviewed by Kharis Almumtaz on May 30, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.