Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

CARA EFEKTIF MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN

CARA EFEKTIF MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN
CARA EFEKTIF MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN
 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah
ALMUMTAZ.WIKI- Sekolah sebagai miniatur masyarakat menampung bermacam-macam siswa dengan latar belakang kepribadian yang berbeda. Mereka heterogen sebab diantara mereka ada yang miskin dan kaya, bodoh, ada pintar, yang suka patuh dan suka menantang, juga di dalamnya terdapat anak-anak dari kondisi keluarga yang berbeda. Inilah yang dimaksud dengan perbedaan ' individu diantara mereka Sedangkan ruang kelas adalah lingkungan pedagogis, dimana berlangsungnya komunikasi antara pengajar dan para siswa. Melalui ‘ komunikasi timbal balik itulah diusahakan tercapainya berbagai tujuan pendidikan yang sudah di rancang.

 Untuk itu perlu diciptakan suasana yang mendukung proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru memikul tanggung jawab yang besar, meskipun dengan maju dan lajunya perkembangan siswa sendiri akan semakin ikut membangun suasana akademis yang dapat mendukung atau menghambat. Menciptakan dan mempertahankan suasana di kelas yang membantu siswa untuk dapat berkonsentrasi dalam belajar nya dan dengan demikian memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Belajar merupakan proses dasar teori perkembangan hidup manusia. Dengan belajar manusia melakukan perubahan perubahan kuhlitas individu, sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi itu tidak lain adalah hasil dari belajar. Kita hidup bekerja sesuai dengan apa yang telah kita pelajari. Belajar bukan sekedar pengalaman akan tetapi belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Karena itu belajar berlangsung secara aktif integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan,& Beberapa aktivitas yang menunjukkan bahwa kegiatan itu memiliki tujuan tertentu antara lain:

mendengarkan, memandang, meraba, mencium dan mencicipi/ mengecap, menulis(mencatat), membaca, membuat ringkasan dan menggarisbawahi, mengamati tabel-tabel, diagram dan bagan-bagan, menyusun paper atau kertas keija, mengingat, berpikir, latihan praktek dan lain lain. Semua hal tersebut merupakan bentuk-bentuk aktivitas tentang pembelajaran.
Hasil dari belajar diharapkan siswa mengalami perubahan dari keadaan awal yang aktual menuju perkembangan terhadap kemampuan akademik. Dengan demikian diharapkan dengan belajar dapat mengalami perubahan perubahan menjadi lebih baik, karena pada dasarnya belajar adalah mengembangkan perilaku siswa yang mendukung tercapainya tujuan. Dalam belajar guru juga harus memberikan koreksi-koreksi terhadap perilaku yang muncul pada diri siswa termasuk guru harus mengkoreksi terhadap perilaku yang dapat mengliambat belajar, baik itu karena pengaruh faktor internal maupun faktor eksternal.

B. Rumusan Masalah
Pembahasan materi dalam makalah ini kami susun sebagai berikut:
1. Apakah pengertian perilaku yang tidak diinginkan?
2. Apakah faktor- faktor penyebab munculnya perilaku yang tidak diinginkan?
3. Bagaimana cara meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan?


BABII
PEMBAHASAN
A.    Pengertian perilaku yang tidak diinginkan


1.    Pendapat para ahli
Beberapa teori belajar dari psikologi behavioristik dikemukakan oleh para psikologi behavioristik. Mereka ini sering disebut “contemporery behaviorisme” atau juga disebut “S-R psikologists”. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran atau reward kata penguatanJreinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.
Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid murid merupakan reaksi reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut.

James W. Van Der Zanden mengemukakan, bahwa penyimpangan perilaku merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tereela dan diluar batas toleransi.2 Robert M. Z. Lawang juga mengemukakan, bahwa perilaku menyimpang adalah sefriua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.3

Saparinah Saldi perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang menyimpang dari norma - norma sosial.  Elida Prayitno mengemukakan bahwa “Perilaku menyimpang adalah tingkah laku anak yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya dan tidak sesuai dengan nilai moral yang berlaku”.

Kartini Kartono menyampaikan bahwa perilaku meyimpang merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada individu yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.

Secara umum penyimpangan perilaku teijadi disemua aspek kehidupan manusia. Menurut Robert M, Z. Lawang  penyimpangan perilaku dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu: Penyimpangan Primer (Primary Deviation), yaitu Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat.

Contohnya : menunggak iuran listrik, telepon, melanggar rambu-rambu lalu lintas, ngebut di jalanan, Penyimpangan Sekunder (secondary deviation), yaitu penyimpangan yang berupa perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perilaku menyimpang. Pelaku didominasi oleh tindakan menyimpang tersebut, karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya. Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Contohnya : pemabuk, pengguna obat-obatan terlarang, pemerkosa, pelacuran, pembunuh, perampok, penjudi dan lain sebagainya.

B.    Faktor-faktor penyebab munculnya perilaku yang tidak diinginkan

Secara garis besarnya faktor penyebab perilaku menyimpang ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal
dari dalam diri individu yang mendorong individu untuk berperilaku menyimpang seperti adanya kelainan secara fisik ( kurang pendengaran, penglihatan) maupun kelainan secara psikis seperti memiliki IQ yang inverior maupun superior  dan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu (lingkungan) seperti keadaan keluarga yang broken, orangtua otoriter, pergaulan yang tidak mendukung pendidikan anak-anak, dan pengalaman hidup yang melatarbelakangi kehidupan anak tersebut.

Perilaku menyimpang tidak selalu merupakan hal yang negative. Ada beberapa perilaku menyimpang yang diterima bahkan dipuji, dan dihormati, seperti orang jenius yang mengemukakan pendapat —pendapat baru yang terkadang bertentangan dengan pendapat umum, penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Pada kebanyakan masyarakat modem, tidak ada seorangpun yang masuk kategori sepenuhnya penuh (konfirmasi) ataupun sepenuhnya penyimpangan (orang benar-benar menyimpang), penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya sosial.


C.    Cara Meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan


Guru perlu menyikapi perilaku perilaku yang tidak di inginkan yaitu perilaku yang mengganggu belajar dan prestasi siswa sendiri dan mungkin juga belajar dan prestasi siswa siswa teman sekelas. Kaum behaviorist menawarkan beberapa strategi yang mungkin digunakan diantaranya ekstinksi, memberikan isyarat (cueing) penguatan perilaku yang tidak sesuai dan hukuman.

1. Extinksi

Ekstinksi adalah salah satu cara mengurangi frekuensi perilaku yang tidak sesuai. Ekstinksi adalah memastikan perilaku tersebut tidak pernah diberi penguatan. Misalnya “badut kelas” yang perilaku hebohnya diabaikan bisa berhenti berusaha mengalihkan konsentrasi teman -
temannya dari apa yang seharusnya mereka lakukan. Dengan cara yang sama seorang anak yang agresif yang tidak pernah berhenti mendapatkan apa yang ia inginkan dengan memukul atau mendorong orang lain akan dapat menjadi kurang agresif.

Namun, ada dua poin tentang ekstinksi dalam operant condisioning yang perlu diingat. Pertama, begitu penguatan berhenti, respons yang sebelumnya diberikan penguatan tidak selalu berkurang dengan segera. Terkadang perilaku itu pada awalnya meningkat untuk waktu yang tidak terlalu lama (Lerman & Iwata, 1995; McGill, 1999). Untuk S mengilustrasikan bagaimana hal ini dapat teijadi, bayangkan Anda mempunyai sebuah televisi yang "rewel", di mana Anda hanya akan mendapatkan gambar yang jernih jika memukul sisi-sisinya sebanyak satu atau dua kali. Akhirnya, akibat pukulan itu sesuatu yang ada di bagian dalam televisi itu berubah, sehingga pukulan tersebut tidak lagi menjadi "obat" yang efektif. Karena ingin sekali mendapatkan gambar yang jernih, Anda lalu memukul TV itu berkali-kali (lebih banyak daripada yang biasanya Anda lakukan) sebelum meninggalkan respons itu.

Dengan cara yang sama, "badut" kelas yang sekarang diabaikan mungkin terlibat dalam perilaku yang lebih mengganggu pada awalnya, dan anak yang agresif yang tidak lagi mendapatkan hasil yang diinginkannya mungkin pada awalnya bertindak agresif lebih sering. Untungnya, peningkatan semacam itu biasanya sementara sifatnya, tetapi tentu saja dapat menguji kesabaran kita dan barangkali menggoda kita untuk secara tidak hati-hati memberikan penguatan pada perilaku-perilaku kontraproduktif.

Kedua, kita terkadang dapat menemukan situasi di mana sebuah respons tidak pernah menurun ketika kita menghilangkan suatu penguat. Dalam situasi semacam itu jika ekstinksi tidak teijadi - kemungkinannya adalah kita belum mampu menghilangkan semua penguat terhadap respons
tersebut. Mungkin perilaku mengarah pada konsekuensi penguatan yang alamiah; misalnya, teman-teman sebaya "badut” kelas itu dapat terus tertawa terkekeh-tekeh walaupun guru mengabaikan lelucon-leluconnya. Atau barangkali juga responsnya secara intrinsik memberikan penguatan; misalnya, sebuah perilaku agresif secara fisik oleh seorang siswa dapat melepaskan energi terpendamnya (dan karenanya merasa lega dan puas) bahkan jika hal itu tidak membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Hanya ketika semua penguatdihilangkan maka ekstinksi akan terjadi.

2.    Memberi isyarat/cueing terhadap perilaku tidak diinginkan

Guru dapat menggunakan isyarat untuk mengingatkan para siswa tentang apa yang seharusnya mereka lakukan, juga dapat memberikan isyarat tentang apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Sebagai contoh, kita dapat menggunakan bahasa tubuh—mungkin membuat kontak mata, mengangkat alis, atau mengernyitkan dahi—agar siswa tahu bahwa kita tidak menyetujui perilaku mereka dan menginginkan agar perilaku tersebut dihentikan (Emmer, 1987; Woolfolk & Brooks, 1985).

Tindakan yang samar dan halus seringkali dapat menjadi isyarat yang efektif. Sementara guru ini sibuk dengan seorang siswa, tangannya yang memegang bahu siswa yang lain menjadi pengingat yang lembut mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan siswa tersebut. Jika bahasa tubuh tidak mendapat perhatian dari seorang siswa yang berperilaku buruk, isyarat yang lebih jelas ialah kedekatan fisik (physical proximity). Bergerak mendekat ke arah siswa itu dan berdiri di sana sampai perilakunya yang bermasalah itu berhenti (Emmer, 1987; Woolfolk & Brooks, 1985).

Secara khusus bila kita sudah beijalan mengitari ruangan selama aktivitas kelas, strategi ini dapat menarik perhatian pihak yang bersalah tanpa menimbulkan perhatian yang tidak perlu dari siswa-siswa lainnya.

Namun, cara-cara yang samar dan halus terkadang tidak mempan, dan karena itu kita juga perlu lebih eksplisit. Dalam kasus seperti itu, isyarat verbal yang singkat patut dilakukan misalnya, menyebutkan nama siswa yang berperilaku tidak sesuai, mengingatkan siswa tentang perilaku yang benar, atau (bila perlu) menunjukkan perilaku yang idak sesuai (G. A. Davis & Thomas, 1989; Emmer, 1987; Northup et. al., 1995). Sebagai contoh, kita dapat mengatakan sesuatu yang sederhana seperti ini; "Tolong, fokuskan perhatianmu pada pekeijaanmu sendiri" atau "Lucy, > singkirkan majalah itu."


3.    Memberi penguatan pada perilaku yang bertentangan

Seringkali kita dapat mengurangi frekuensi perilaku yang tidak produktif hanya dengan memberi penguatan pada perilaku alternatif. Idealnya, dua perilaku itu merupakan perilaku yang bertentangan (;incompatible behaviors), yang tidak dapat dijalankan bersamaan. Untuk menemukan contoh perilaku-perilaku yang bertentangan dalam hidup Anda, coba lakukan latihan berikut ini:
Pernahkah Anda mencoba tidur ketika sedang berdiri? Kuda dapat melakukannya, tapi kebanyakan, dari kita benar-benar tidak dapat melakukannya. Dalam kenyataan, ada banyak pasangan respons yang tidak mungkin dijalankan bersamaan. Pikirlah sejenak untuk mengidentifikasi sesuatu yang tidak mungkin dapat Anda lakukan ketika melakukan setiap aktivitas ini:
  • Duduk sambil berdiri
  • Makan kerupuk sambil menyanyi
  • Jalan-jalan sambil tidur siang

Jelas, tidak ada satu-satunya jawaban yang benar dalam latihan ini. Sebagai satu kemungkinan, Anda mungkin mengatakan bahwa duduk bertentangan dengan berdiri. Makan kerupuk tidak cocok dengan bernyanyi, atau setidak-tidaknya bernyanyi dengan baik. Jalan-jalan
bertentangan dengan tidur siang. Dalam setiap kasus, secara fisik tidak mungkin melakukan kedua kegiatan itu persis pada waktu yang sama.


4.    Hukuman

Beberapa perilaku yang tidak sesuai memerlukan penanganan segera misalnya, perilaku itu dapat mengganggu pembelajaran di kelas atau mencerminkan rasa tidak hormat terhadap hak-hak dan keselamatan orang lain. Dalam kasus-kasus seperti itu, kita tidak hanya menunggu perbaikan yang perlahan-lahan seiring waktu. Pertimbangkan siswa ini sebagai contoh:
Bonnie tidak dapat menangani rasa frustrasinya dengan baik. Setiap kali beijumpa dengan hambatan yang tidak dapat diatasinya dengan segera, ia meresponsnya dengan memukul, meninju, menendang, atau memecahkan sesuatu.

Perilaku Bonnie yang menyusahkan itu sulit dihilangkan karena tidak diberikan penguatan, setidaknya secara ebtrinsik. Perilaku itu juga tidak memiliki respons bertentangan yang jelas sehingga dapat diberikan penguatan. Dan kita secara logis dapat beranggapan bahwa guru Bonnie sudah memberikan isyarat kepadanya tentang perilakunya itu dalam banyak kesempatan. Ketika strategi lain tidak dapat diterapkan atau tidak efektif, hukuman bisa menjadi alternatifnya.
Semua konsekuensi yang berupa hukuman terdiri dari dua kategori.

Hukuman penghadiran (presentation punishment), yaitu hukuman berupa menghadirkan suatu stimulus baru, barangkali sesuatu yang jtidak diingini atau disenangi pembelajar. Omelan dan dahi yang mengernyit, bila berhasil mengurangi perilaku yang dituju, merupakan contoh hukuman penghadiran. Hukuman penghilangan (removal punishment) adalah hukuman berupa penghilangan suatu stimulus atau keadaan yang ada, barangkali stimulus yang disenangi dan digandrungi siswa. Kehilangan privilese, denda, atau penalti (misalnya, kehilangan uang atau poin yang telah diperoleh), dan dibiarkan sendiri (misalnya, dibatasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu yang menyenangkan di luar ruangan) merupakan contoh-contoh hukuman penghilangan.

Gamblangnya, hukuman bukanlah bagian dari kondisioning opérant. Banyak penganut aliran behaviorisme awal yakin bahwa hukuman merupakan sarana yang relatif tidak efektif untuk mengubah perilaku —hukuman mungkin dapat menekan suatu respons untuk sementara waktu tetapi tidak dapat J menghilangkannya— dan menganjurkan supaya para guru berfokus pada usaha- usaha memberi penguatan pada perilaku-perilaku yang diinginkan alih-alih menghukum perilaku-perilaku yang tidak diinginkan. Namun, belum lama berselang, kaum behavioris telah menemukan bahwa beberapa bentuk hukuman dapat sangat efektif mengurangi perilaku bermasalah dan secara khusus berguna ketika siswa kelihatannya kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilakunya.

 5. Bentuk Hukuman yang Efektif

Sebagai aturan umum, kia seharusnya menggunakan bentuk hukuman yang relatif ringan di kelas.
Hukuman yang keras
misalnya, hukuman yang membekas begitu dalam pada diri siswa selama beberapa minggu atau beberapa bulan sehingga merusak rasa kepantasan dirinya (selfworth)—dapat menghasilkan efek-efek samping yang tidak diinginkan seperti kebencian, permusuhan, dan suka membolos. Peneliti dan pendidik telah mengidentifikasi beberapa bentuk hukuman yang ringan yang bisa efektif mengurangi perilaku yang bermasalah di kelas: teguran, biaya respons (respons cost), konsekuensi logis, time-out dan suspensi di sekolah (în-school suspension).
Teguran verbal (scolding).
Meski beberapa siswa tampak berusaha keras mendapatkan omelan dari guru karena mendapat perhatian dari situ, kebanyakan siswa, khususnya bila mereka sesekali diomeli, menganggap teguran verbal tidak menyenangkan dan menusuk hati (Pfifhner & OUeary, 1993; Van Houten, Nau,
Mac Kenzie-Keating, Samcoto, & Colavecchia, 1982). Umumnya, teguran lebih
efektif ketika disampaikan secara langsung, singkat, dan tidak emosional. Teguran juga memiliki efek yang bagus ketika disampaikan secara halus dan tidak diketahui siswa-siswa lain (O'Leary, Kaufman, Kass, & Drabman, 1970; Pfifhner & O'Leary, 1993). Teguran sedapat mungkin disampaikan secara privat. Ketika mengomeli seorang siswa di depan teman-teman kelas, beberapa siswa yang diomeli mungkin menikmati perhatian dari teman-teman sebayanya, sementara yang lain (seperti banyak siswa Pribumi Amerika dan Hispanik) bisa merasa sangat malu (Fuller, 2001).
Konsekuensi logis (logical consequences),
Suatu akibat yang terjadi secara alamiah atau logis setelah siswa berperilaku tidak sesuai disebut konsekuensi logis. Dalam hal ini, konsekuensi logis merupakan hukuman yang cocok dengan tindak kejahatan. Sebagai contoh, ketika siswa menghancurkan barang temannya, konsekuensi yang masuk akal adalah siswa tersebut menggantinya atau membayarnya untuk membeli yang baru. Apabila dua siswa berbicara terlalu banyak sehingga lupa mengerjakan tugas- tugasnya, konsekensi logisnya adalah mereka dipisahkan. Bila seorang siswa secara sengaja membuat kekacauan di kafetaria, konsekuensi yang tepat adalah siswa tersebut membersihkannya. Penggunaan konsekuensi logis itu masuk akal, dan sejumlah kajian penelitian dan studi kasus membuktikan keefektifannya (Dreikurs, 1998;Landrum & KaufFman, 2006; Schloss & Smith, 1994).
Time-out
Siswa yang berperilaku tidak sesuai yang diberikan hukuman time out ditempatkan dalam situasi yang sepi dan membosankan (tetapi tidak menakutkan) barangkali sebuah ruang terpisah yang dirancang khusus untuk mereka yang mendapat hukuman time out> sebuah ruangaan yang tidak banyak dipakai, atau sebuah sudut kelas yang terpencil. Siswa yang mendapat hukuman tersebut tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-temannya dan juga tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penguatan. Waktu time-out biasanya singkat (kira-kira 2-10 menit, tergantung usia siswa), tetapi siswa tidak dilepas sampai perilakunya yang tidak sesuai itu (misalnya, berteriak keras, menendang) berhenti. Penelitian menunjukkan time out terbukti mengurangi beragam perilaku tidak patuh, mengganggu, dan agresif di kelas (PfifFner & Barkley, 1998;Rodtvedt & Miltenberger, 1994; A.G. White & Bailey, 1990). Namun, perlu tetap diingat bahwa time-out cenderung efektif hanya bila aktivitas- akiti vi tas yang berlangsung secara berkesinambungan di kelas merupakan sumber * kesenangan dan penguatan bagi siswa. Bila memudahkan siswa lolos dari tugas- tugas sulit atau kegaduhan dan stimulasi yang tinggi, time-out sebenarnya dapat menguatkan dan karena itu juga meningkatkan perilaku yang tidak diinginkan (Aiberto &Troutman, 2003; McClowiy, 1998; PfifFner & Barkley, 1998).
Skors di Sekolah (in-school Suspension).
Sebagaimana halnya time-out, skors di sekolah berarti menempatkan siswa dalam sebuah ruangan yang senyap dan membosankan di dalam gedung sekolah. Namun, bentuk hukuman ini seringkah berlangsung selama satu hari sekolah atau lebih dan melibatkan pengawasan orang dewasa. Siswa yang mendapat hukuman skors dalam gedung sekolah juga mengeijakan tugas-tugas kelas sebagaimana siswa-siswa lain yang tidak mendapat hukuman dan karena itu bisa mengikuti pelajaran yang diberikan. Namun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-temannya—sebuah aspek dari sekolah yang menguatkan bagi kebanyakan siswa. Meski hukuman ini belum dikaji secara sistematis melalui penelitian yang terkontrol, para pendidik melaporkan bahwa program ini seringkah efektif mengurangi perilaku tidak sesuai yang kronis, khususnya ketika sebagian dari sesi skors itu dipakai untuk mengajarkan perilaku yang tepat dan keterampilan-keterampilan akademis dan ketika guru pengawas bertindak sebagai figur yang mendukung (supportive) alih-alih pemberi hukuman (punisher) (Gootman, 1998; HufF, 1988; PfifFner & Barkley, 1998;
J.S. Sullivan, 1989).

6.    Bentuk-bentuk Hukuman yang Tidak efektif.

Beberapa bentuk hukuman yang umumnya tidak direkomendasikan: hukuman fisik, hukuman psikologis, kerja kelas ekstra, dan skors tidak boleh sekolah.

a.     Hukuman fisik.
Kebanyakan ahli tidak menganjurkan hukuman fisik untuk anak- anak usia sekolah (W. Doyle, 1990; Hyman et. al., 2006; Landrum & Kauffman, 2006). Bahkan penggunaan hukuman fisik di kelas bertentangan dengan undang-undang dan hak anak (illegal).

b.    Hukuman psikologis.
Setiap konsekuensi yang secara serius mengancam rasa kepantasan diri (selfworth) siswa adalah hukuman psikologis (psychological punishment) dan tidak direkomendasikan (G. A. Davis & Thomas, 1989; Hyman et. al., 2006; J. E. Walkcr & Shea, 1995). Menakut-nakuti, pernyataan yang membuat malu, dan penghinaan di depan orang banyak dapat menimbulkan efek-efek yang sama dengan hukuman fisik (yaitu rasa benci terhadap guru, kurangnya perhatian terhadap tugas-tugas kelas, bolos dari sekolah) dan dapat menyebabkan gangguan psikologis jangka panjang. Dengan menjatuhkan harga diri siswa, hukuman psikologis dapat juga menurunkan ekspektasi mereka akan performanya di waktu-waktu selanjutnya dan motivasi mereka untuk belajar dan berprestasi.

c.    Tugas kelas ekstra.
Menyuruh siswa menyelesaikan tugas karena tidak sempat dikeijakan di sekolah merupakan permintaan yang masuk akal dan dapat dibenarkan. Akan tetapi, menyuruh siswa mengerjakan tugas kelas ekstra atau PR melampaui yang disyaratkan bagi siswa-siswa lain tidak tepat bila tugas tersebut diberikan hanya dengan maksud menghukum seorang
siswa karena berperilaku tidak sesuai (H. Cooper, 1989; Como, 1996). Hukuman semacam itu memiliki efek samping yang sangat berbeda: Mengomunikasikan pesan bahwa pekeijaan sekolah itu tidak + menyenangkan.

d.    Skors tidak boleh sekolah (out-of-school suspension).
Para guru dan pengurus sekolah secara negatif diberi penguatan ketib mereb menskors seorang siswa bermasalah. Sebab, mereb bebas dari sesuatu yang tidak mereb inginkan—masalah! Namun, skors tidak boleh sekolah biasanya bukan cara yang efektif untuk mengubah perilaku siswa (Fenning &C Buhanon, 2006; Moles, 1990; J. D. Nichols, Ludwin, & Iadicola, 1999).

Pertama, diskors dari sekolah bisa saja menjadi keinginan siswa, sehingga perilakunya yang tidak sesuai malahan diberi penguatam alih-alih diberi hukuman. Kedua, karena banyak siswa yang mengalami masalah perilaku kronis juga cenderung menunjukkan hasil buruk dalam tugas sekolah mereka, skors menyebabkan hilangnya waktu belajar mengajar yang bernilai dan mengganggu kedekatan psikologis siswa dengan sekolah. Hal ini pada gilirannya semakin menurunkan peluang siswa untuk sukses secara abdemis dan sosial dan meningbtkan kemungkinan siswa tersebut drop oui sebelum tamat (Christenson & Thurlow, 2004; J. D. Nichols et.al.,
1999; Skiba & Rausch, 2006).

7.    Menggunakan Hukuman secara Manusiawi
Kritik yang sering dilontarkan terhadap penggunaan hukuman adalah bahwa hukuman itu tidak manusiawi, atau bagaimanapun juga kasar dan kejam.
Kita harus sangat hati-hati dalam menggunakan hukuman di kelas. Meski demikian, bila dijalankan secara bijaksana, beberapa bentuk hukuman yang ringan dapat membuat perilaku yang tidak sesuai berkurang cepat tanpa menyebabkan gangguan fisik ataupun psikologis. Dan ketika kita dapat mengurangi dengan cepat dan efektif perilaku yang kontraproduktif di kelas— khususnya ketika perilaku itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Hukuman, dalam kenyataannya, dapat menjadi salah satu pendekatan yang paling manusiawi yang dapat kita gunakan (Lerman & Vomdran, 2002). Berikut ini adalah beberapa petunjuk menggunabn hukuman secara efektif dan manusiawi:
  • Pilihlah konsekuensi yang benar-benar menghukum tanpa terlalu keras.
  • Beritahukan sebelumnya kepada para siswa bahwa perilaku tertentu akan dihukum, dan jelaskan bagaimana perilaku itu akan dihukum.
  • Laksanakan konsekuensi yang sudah ditentukan sebelumnya.
  • Jelaskan mengapa perihku yang dihukum itu tidak dapat diterima.
  • Jalankan hukuman dakm suasana yang hangat dan mendukung.
  • Ajarkan dan berikan penguatan pada perikku alternatif yang diinginkan
  • secara bersamaan.
  • Monitor keefektifan hukuman.


BAB III
KESIMPULAN
Pengertian perilaku yang tidak diinginkan
Perilaku meyimpang/tidak diinginkan merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada individu yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Dalam kelas biasanya perilaku semacam ini muncul dalam rangka merespon apa yang disampaikan atau dilakukan guru. Akan tetapi respon yang muncul adalah bukan respon sebagaimana yang direncanakan dalam proses belajar mengajar sehingga akan mengganggu pembelajaran. Faktor-faktor pmyebab munculnya perilaku yang tidak diinginkan Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku tidak diinginkan adalah faktor internal individu itu sendiri terkait dengan keadaan tisik maupun psikis dan faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan latarbelakang individu.


Cara meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan dalam teori behaviorisme ada empat yaitu Ekstinksi, memberi isyarat perilaku yang tidak diinginkan, membelikan penguatan pada perilaku yang bertentangan, dan pemberian hukuman yang mendidik dan manusiawi. 
ALMUMTAZ.WIKI

DAFTAR PUSTAKA
Dwikumia saputro. 2004. Perilaku Menyimpang. Diakses pada tanggal 9 februari 2015 dengan alamat:http://www.wordpress.com/perilaku-menyimpang/
Elida Prayitno.. Psikologi Perkembangan. Depdikbud : Pembinaan Kependidikan 1993
Latipah,Eva^Pengantar Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, Pedagogia, 2012
Mustaqim,Abdul WahibyPsikologi Pendidikan, Jakaita ,Rineka Cipta,2003
Omrrod,Jeanne Ellispsikologi Pendidikan, Jakarta,Erlangga, 2008.
Soemanto,wasty,Psz&o/ogi Pendidikan (landasan Kerja Pimpinan Pendidikan), Jakarta. »Rineka Cipta,2003
Sofyan S. Willis. Remaja dan MasalahnyaBandung Alfabeta,2008
Winkel,WS, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta,Media Abadi,2009
Kartini Kartono.. Psikologi anak. Bandung : Mandar Maju, 1983
CARA EFEKTIF MEMINIMALISIR PERILAKU YANG TIDAK DIINGINKAN Reviewed by Kharis Almumtaz on June 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.