Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang
Behaviorisme menganalisis perilaku manusia hanya dari sisi perilakunya yang tampak. Sebab, hanya perilaku yang tampak yang dapat diukur, dilukiskan, dan dijelaskan. Teori yang paling menonjol dalam aliran behaviorisme mengenai manusia adalah teori belajar.

Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan.

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti , bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifetasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal - hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil belajar yang dicapai peserta didik.

Menurutnya teori behaviorisme seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar, kecuali instinknya. Behaviorisme tidak peduli apakah manusia itu baik atau buruk atau apakah rasional atau emosional. Aliran ini hanya menganalisis bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh
lingkungannya. Dari aliran ini, muncul konsep bahwa manusia sebagai makiiluk seperti mesin.  Untuk lebih jelasnya maka dalam makalh ini akan dibahas lebih lanjut tentang teori behavioristik tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar
ALMUMTAZ.WIKI- Menurut anggapan sementara orang, belajar adalah proses yang teijadi dalam otak manusia. Syaraf dan sel - sel otak yang bekeija mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain - lain, lantas disususn oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.  Lain lagi dengan pendapat para ahli pendidikan modem yang merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut: Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalm cara -cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.

Dari definisi — definisi para ahli, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen penting/asumsi dasar yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa:
  1. Belajar merupakan suatu perubahan dari tingkan laku.
  2. Belajar merupakan suatu perubahan yang teijadi melalui pelatihan atau pengalaman.
  3. dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap.
  4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut beberapa aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis,seperti : perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.
  5. Belajar adalah proses memperoleh pegetahuan.
  6. Belajar adalah suatu pembahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
  7. Belajar merupakan proses yang secara umum menetap, ada kemampuan bereaksi, adanya suatu yang diperkuat dalam bentuk praktik atau latihan.

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu. Oleh sebab itu belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, memahami sesuatu.

B. Macam-macam Teori Behavioristik

Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus respon dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons mahluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkunganya. Proses yang menunjukan hubungan yang terus — menerus antara respon yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan proses belajar. Berikut macam teori — teori belajar behaviorism, yaitu:

  • 1. Connectionism ( Konektionisme )
Teori ini ditemukan oleh Edward L. Thomdike ( 1874 - 1949 ) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thomdike ini menggunakan hewan - hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.

Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar yang berbentuk kotak beijeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan dengan gerendel tersebut, peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia didepan sangkar tadi.

Keadaan bagian dalam sangkar itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan. Mula - mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlari - larian, namun gagal membuka pintu untuk memperoleh makanan. Akhirnya entah bagaimana secara kebetulan kucing tersebut berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen ini terkenal dengan nama instrumental conditioning. Artinya tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumental ( penolong ) untuk mencapai hasil atau ajaran yang dikehendaki ( Hintzman, 1978 ).

Berdasarkan eksperimen diatas Thomdike menyimpulkan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon. Teori ini juga terkenal dengan sebutan “ Trial and Error Leaming”. kerena panjangya waktu dan banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan. Apabila kita perhatikan dengan saksama dalam eksperimen tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong tombulnya fenomena belajar, yaitu : 1) keadaan kucing yang lapar, jika kucing kenyang bisa jadi kucing tidak keluar tetapi tidur didalam sangkar. Sehubungan dengan ini hampir dapat dipastikan bahwa motivasi ( rasa lapar ) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar dan 2) makanan diluar sangkar. Ini merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respon.

Eksperimen yang dilakukan Thomdike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya sebagai berikut:
  1. Law of effect, artinya jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan stimulus respons akan semakin kuat, begitu pula sebaliknya.
  2. Law of readiness, artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan satuan pengantar dan ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
  3. Law of exercise, artinya bahwa hubungan antara stimulus respons akan semakin bertambah erat jika sering dilatih dan juga sebaliknya.
Teori Thomdike secara lebih khusus dapat diterapkan disekolah untuk merancang pembelajaran secara konkret, antara lain:8
  1. Sekolah mempunyai tujuan pendidikan yang dirumuskan dengan jelas
  2. Tujuan pendidikan harus sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak.
  3. Bahan pelajaran dibagi menjadi unit-unit kecil
  4. Proses belajar dilakukan secara bertahap sesuai materi yang sudah dipecah dalam unit kecil.
  5. Tekanan pendidikan adalah pada respons yang benar atau sesuai stimulus, bukan memfokuskan pada kesalahan anak.
  6. Berikan reward pada tingkah laku yang benar
  7. Respons yang salah harus segera diperbaiki agartidak diulang
  8. Ujian-tes secara teratur diperlukan sebagai umpan balik untuk guru dan siswa untuk perbaikan belajar berikut
  9. Buat situasi belajar yang mirip dengan kehidupan nyata
  10. Pendidikan yang baik adalah yang memberikan pelajaran yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Stimulus respons atau teori reinforcement yang dijelaskan oleh Thomdike menekankan bahwa belajar terdiri atas pembentukan ikatan atau hubungan-hubungan antara stimulus respons yang terbentuk melalui pengulangan. Pembentukan ikatan/hubungan ini dipengaruhi oleh frekuensi, resensi, intensitas dan kejelasan pengalaman, perasaan
dan kapasitas individu, kesamaan situasi dan menghasilkan kepuasan reinforcement yang merupakan dasar dalam teori conditioning.

  • 2.    Teori Conditioning
a.    Conditioning Klasik (Classical Conditioning)

Teori ini berkembang berdasarkan hasil eksperiment yang dilakukan oleh Ivan Parlov ( 1849 - 1936). Pada dasarnya teori ini adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum tetjadinya refleks tersebut( terrace, 1973). Kata classical yang mengawali nama teori ini semata-mata dipakai untuk mengahargai karya Parlov yang dianggap paling dahulu dihidang conditioning ( upaya pembiasaan) dan untuk membedakannya dari conditioning lainnya. Selanjutnya, mungkin karena fungsinya teori Parlov ini juga dapat disebut respondent conditionning (pembiasaan yang dituntut).

Dalam eksperimennya, Parlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan antara conditioned stimulus ( CS ) dan unconditioned stimulus (US) condectioned respon ( CR ) dan unconditioned respon (UCR). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respon yang dipelajari, sedangkan respon yang dipelajari itu sendiri disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari, dan respons yang tidak dipelajari tiu disebut UCR.

Anjing percobaan mula - mula diikat sedemikian rupa dan pada salah atu kelanjar air liurnya diberi alat penampung cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil ( tube ). Perlu diketahui bahwa sebelum dilatih ( dikenai eksperiment), secara alami anjing itu selalu mengeluarkan air liur setiap kali mulutnya berisi makanan. Ketika bel dibunyikan secara alami pula anjing itu
menunjukan reaksinya yang relevan yakni tidak mengeluarkan air liur.
Kemudian, dilakukan eksperiment berupa latihan pembiasaan mendengarkan bel (CS) bersama - sama dengan pemberian makanan berupa serbuk daging (UCS). Setelah latihan yang berulang — ulang ini selesai, suara bel tadi (CS) diperdengarkan lagi tanpa disertai makanan (UCS). Apakah yang terjadi? Ternyata anjing percobaan tadi mengeluarkan air liur juga (CR),meskipun hanya mendengar suara bel (CS). Jadi, CS akan menghasilkan CR apabila CS dan UCS telah berkal - kali dihadirkan bersama - sama.

Berdasarkan eksperiment diatas, semakin jelaslah bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respons. Kesimpulan yang dapat kita tarik dari hasil eksperiment Parlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat UCS) stimulus tadi (CS) cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respons atau perubahan atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini CR.
Eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar diantaranya sebagai berikut:10

1)    Law of respondent conditioning, yaitu hukum pembiasaan yang dituntut.
2)    Law of respondent extinction, yaitu hukum pemusnahan yang dituntut.

Dalam dunia pendidikan adakalanya memerlukan stimulus buatan untuk membentu perilaku baru atau mempertahankan perilaku anak yang sudah terbentuk, yaitu perilaku positif sesuai harapan pendidik. Perilaku-perilaku tersebut antara lain: mengeijakan PR, memakai seragam, mematuhi aturan sekolah dll. Karena berbagai keterbatasan pendidik, atau untuk melatih
kemandirian anak, pendidik tidak selalu menciptakan stimulus alami dengan kata lain rangsang yang alami tidak selalu bisa dihadirkan.11

Perilaku awal pada dasarnya terbentuk karena stimulus alami (US). Kebiasaan masuk kelas tepat waktu (pukul 07:00), terbentu karena setiap pukul tujuh guru menghampiri murid dan mengajak masuk kelas. Kebiasaan ini dimulai sejak kelas I. Setelah beberapa minggu teijadi proses kondosioning, guru tidak lagi menghampiri murid mengajak masuk kelas akan tetapi kalau sudah mendengar bel berbunyi maka dengan sendirinya mereka akan masuk kelas tepat waktu.
Teori tersebut sangat berguna untuk memodifkasi perilaku atau pembentukan perilaku baru yang banyak dilakukan dalam dunia pendidikan. Untuk itu pendidik dituntut memikirkan dan mempunyai kreatifitas untuk membentuk hubungan antara stimulus respons. Pendidik harus dapat menghasilkan temuan-temuan tentang stimulus buatan yang tepat agar bisa membantu terbentuknya perilaku yang diinginkan.12

b.    Conditioning Operant (Pembiasaan Perilaku Respons)

Teori pembiasaan perilaku respon ( operant conditioning ) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda yang masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner, seorang penganut behavoirisme yang dianggapa kontraversial. Tema pokok yang mewarnai karya - karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi - konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri.
Operant adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Reber,1988), Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa
 didahului stimulus, melainkan melalui efek yang ditimbulkan oleh reinforcer ( stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah repon tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya ).

Dalam eksperimennya Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner Box”. Dalam eksperiment tadi mula - mula tikus itu mengeksplorasi eti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda - benda yang ada disekitamya, mencakar dinding, dan sebagainya. Aksi - aksi seperti ini disebut “emited bihavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa memperhatikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulah salah satu emited behavior tersebut (seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir - butir makanan yang muncul itu merupakan reinforcer bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah disebut tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcemen, yakni penguatan berupa butir - butir makanan yang muncul pada wadah tanaman.
Jelas sekali bahwa eksperiment Skinner diatas mirip sekali dengan trial and error learning yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hai ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan satisfaction (kepuasan), sedangkan menurut Skinner, fenomena tersebut melibatkan reinforcemen (penguatan).

Eksperimen yang dilakukan oleh B. F. Skinner terhadap tikus menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Law of operant conditioning, yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. 
  2. Law of operant extinction, yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Hukum - hukum ini pada dasarnya sama saja dengan hukum- hukum yang melekat dalam proses belajar menurut teori pembiasaan yang klasik (classical conditioning).
Adapun prinsip pengajaran berdasarkan kondisioning operant adalah:
  1. Perlu tujuan apa tingkah laku yang diharapkan dicapai oleh siswa
  2. Memberi tekanan pada kemajuan belajar siswa sesuai dengan kemampuannya
  3. Perlu penilaian terus menerus untuk memantau tingkat kemajuan belajarnya
  4. Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas hasil evaluasi dan kemajuan belajar yang telah dicapai.
  5. Gunakan pengukuhan positif secara sistematis, bervariasi, dan segera setelah respons anak muncul.
  6. Perlu menetapkan prinsip belajar tuntas agar tingkah laku yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pengajaran
  7. Perlu remedial bagi siswa yang belum tuntas dalam belajar
  8. Peran guru adalah sebagai arsitek atau membehtuk perilaku atau perancang tingkah laku.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa teori behaviorisme menganggap bahwa seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar, kecuali instinknya dan tidak peduli apakah manusia itu baik atau buruk. Aliran ini   hanya menganalisis bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh lingkungannya sehingga muncul konsep bahwa manusia sebagai makhluk seperti mesin. Adapun macam teori behavioristik antara lain: 1) konektionisme, 2) conditioning classic dan 3) conditioning opérant.

Akibat tidak peduli terhadap kesadaran manusia, behaviorisme mengalami beberapa kekurangan yaitu: 1) behaviorisme gagal memasukkan data dari pengalaman subyektif individu yang sangat berarti bagi dirinya, 2) behaviorisme gagal menjelaskan dimensi perilaku manusia yang lebih kompleks (keimanan, cinta, harapan, kecemasan dll), 3) behaviorisme gagal menjelaskan nilai dan makna dalam ekstensi manusia dan cara manusia harus berhubungan dengan sesama dsb.
Dalam dunia pendidikan teori behaviorisme sudah sangat sering dilakukan oleh para pendidik dan itu masih berlaku hingga sekarang.

Untuk itu pendidik dituntut memikirkan dan mempunyai kreatifïtas untuk membentuk hubungan antara stimulus-respons agar bisa membentuk perilaku siswa sesuai apa yang menjadi tujuan dalam pendidikan.

ALMUMTAZ.WIKI


DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar., Psikologi Belajar & Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012.
Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Shaleh, Abdul Rahman., Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana, 2008.
Sobur, Alex., Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia, 2003.
Sriyanti, Lilik., Psikologi Belajar, Yogyakarta: Ombak, 201:3.
Syah, Muhibin., Psikologi Belajar, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2002.
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN Reviewed by Kharis Almumtaz on June 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.