Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRANNYA


ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRANNYA

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
almumtaz.wiki- Islam sebagai agama universal mempunyai ajaran yang sangat pleksibel sehingga ia dapat dikatakan shalih li kulli zaman wa makan (cocok untuk semua zaman dan tempat) dan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, di antaranya adalah aspek pendidikan, ekonomi, politik, sejarah dan lain sebagainya. Dalam mengajarkan dan menyebarkan risalah yang diemban oleh Beliau. Hal ini terlihat dari adanya wahyu pertama yang diturunkan kepadanya yang diawali dengan kata Iqra'(perintah membaca.  Disamping itu, Islam juga menyampaikan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sejak adanya manusia, meskipun tidak dalam bentuk seperti yang disaksikan dan dialami manusia didik sekarang.

Islam telah menyampaikan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk paedagogik, dalam pengertian bahwa manusia adalah bisa dididik dan memang memerlukan pendidikan.  Pendidikanlah yang bisa mengangkat derajat manusia bahkan membedakannya dengan makhluk yang lain. Status sosial pun akan jauh berbeda di tengah-tengah masyarakat, bilamana seseorang memiliki pendidikan yang tinggi.

Dengan segala potensi yang dimiliki, manusia bisa dengan mudah menerima pendidikan dan pengajaran yang selanjutnya mengubah dan mengembangkan apa yang diperoleh dari proses pendidikan itu. Selain itu, manusia mempunyai sifat alamiah (kodrati)yaitu perasaan ingin tahu. Dari rasa ingin tahu manusia itu menjadikan hidupnya dinamis dan selalu berusaha mencari jawaban-jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya dengan melakukan renungan-renungan, pemikiran yang mendalam ataupun melalui eksperimentasi.

Atas dasar ini, para filosof dan psikologi pendidikan mengemukakan pemikirannya tentang adanya kemungkinan manusia bisa dididik dan menerima pendidikan. Para ahli Islam maupun non Islam mengemukakan pendangannya tentang adanya sesuatu yang melekat pada diri manusia yang dibawa sejak lahir dengan berbagai kemungkinan untuk bisa dikembangkan atau ada hal-hal lain yang bisa mempengaruhinya. Sehingga dengan demikian melahirkan pandangan yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan sudut pandang mereka. Dan lahirlah berbagai aliran-aliran dalam pendidikan seperti naturalisme, nativisme, emperisme, konvergensi,progresivisme, dan konstruktivisme, dan tidak akan ketinggalan pula mengenai aliran-aliran dalam pendidikan Islam.

B.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka timbullah rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:
1.  Apa pengertian dasar aliran pendidikan Islam?
2.    Apa aliran-aliran dalam pendidikan?
3.    Apa aliran-aliran pendidikan Islam menurut para ahli tokoh pendidikan Islam?


PEMBAHASAN
A.    Pengertian dasar aliran pendidikan islam
Secara etimologi, kata "aliran" adalah bentuk nomina dari kata "alir" yang kemudian mendapat akhiran "an" yang berarti haluan, pendapat dan paham.  Sedangkan di dalam literatur Arab disebut dengan Al-Mazhab.  Kata aliran atau mazhab secara erminologi adalah pendapat atau pemikiran seseorang dalam memahami sesuatu baik dalam bidang filsafat, hukum, politik, ekonomi dan lain-lain yang kemudian diikuti oleh beberapakelompok orang.

Pendidikan Islam menurut Abd. Rahman Getteng adalah usaha membina dan mengembangkan potensi manusia baik jesmani maupun rohani agar tujuan kehadirannya di dunia sebagai hamba dan khalifah Allah bisa terwujud dengan baik.
Abd. Rahman Al-Nahlawi mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan pikiran manusia, menata tingkah lakunya, emosinya pada seluruh aspek kehidupan agar tujuan yang dikehendaki bisa terealisasi.

Dengan demikian, secara operasionalaliran pendidikan Islam adalah paham atau pemikiran pendidikan Islam sebagai titik tolak dalam membina dan mengembankan potensi-potensi manusia serta hal-hal yang mempengaruhinya sesuai pandangan Islam.

B.    Aliran – aliran dalam pendidikan islam
1.    Aliran Nativisme
Aliran ini mempunyai doktrin filosofis yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran pendidikan, bahkan aliran ini pernah mewarnai dunia pemikiran pendidikan.  Tokohnya adalah Arthur schopenhour (1788-1860) yang berpandangan bahwa anak yang lahir sudah mempunyai potensi yang mempengaruhi hasil dari perkembangan selanjutnya.   Pendidikan sama sekali tidak mempunyai daya atau kekuatan untuk mempengaruhi anak. Pendidikan hanya memberi polesan kulit luar dari tingkah laku sosial anak, sedangkan bagian internal dari kepribadian anak didik tidak dapat ditentukan. Aliran ini disebut pula dengan aliran pesimisme karena tidak adanya kepercayaan akan nilai-nilai dari pendidikan sehingga anak itu diterima apa adanya.

Sukses tidaknya suatu proses pendidikan menurut aliran notivisme sangat di tentukan oleh tinggi rendahnya kualitas hereditas yang dimiliki oleh anak. Pembawan yang sifatnya kodrati tidak bisa di ubah-ubah, dan ia menjadi penentu masa depan seorang anak. Meskipun telah diberikan pendidikan sedemikian rupa jika mutu hereditasnya rendah maka hasilnya tetap rendah pula. Naturalisme pun mempunyai pandangan yang hampir sama dengan nativisme di atas. Perbedaanya hanya berada pada aspek penekanan baik buruknya pembawaan itu.
Tokoh aliran ini adalah Jean Jacques Roesseu (1712-1778). Ia lahir di Geneva Swiss, karena ketidak puasan di negerinya serta kehidupan yang tidak menentu, maka pada tahun 1728 ia melarikan diri ke Prancis setelah ia bekerja pada tukang ukir yang suka menghukumnya.  Hidup di tengah masyarakat yang dianggap sudah modern tetapi moral mereka bobrok dan keadaanya sebagai seorang pelarian sangat mempengaruhi alur pemikirannya.

Roesseau berpendapat bahwa segala sesuatu yang datang dari alam itu adalah baik, tetapi setelah tiba pada manusia bisa saja ia menjadi buruk. Maka untuk membimbing seorang anak cukuplah berdasar pada keinginan dan pembawaanya.   Roesseu menganggap bahwa lingkungan atau masyarakat adalah sumber dari segala kerusakan dan keburukan. Seorang anak harus di hindarkan dari hal-hal tersebut sehingga ia tumbuh dan berkembang secara alamiah. Aliran ini disebut juga aliran negatifisme karena menganggap bahwa proses pendidikan itu di lakukan dengan memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada anak didikuntuk tumbuh dan berkembang dengan sendirinya lalu kemudian memberikan sepenuhnya kepada alam sebagai pelaksanaan pendidikan agar pembawaan anak bisa tetap terjaga dan tidak dirusak oleh tangan-tangan manusia karena kesalahan dalam mendidik.

Roesseuau sangat optimis terhadap pembawaan baik dan positif dari manusia yang baik. Pembawaan sifatnya natural (berasal dari alam), maka manusia harus dididik dari alam pula. Roesseau memberi contoh yang dilakukan oleh alam, seorang anak di saat bermain-main dengan pisau, lalu teriris tangannya, maka minimal anak tersebut berhati-hati menggunakan pisau kedua kalinya mengingat bahaya yang ditimbulkan di saat ceroboh dalam menggunakannya. Begitu juga seorang anak tidak mau lengah ada waktu menutup pintu rumahnya karena pernah merasakan bagaimana sakitnya dijepit pintu. Disini, alamlah yang mengajari anak tersebut dan menjadikan ia sadar dan mengerti akan hal-hal yang di perbuatnya. Pandangan-pandangan naturalisme yang di kemukakan oleh roesseau di atas berhasil mengokohkan dirinya sebagai tokoh seorang tokoh naturalisme dalam sebuah karya monumentalnya ‘Emile’ masih dapat dibaca hingga sekarang dalam lingkungan pendidikan.

2.    Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada pada persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang di pelopori oleh J.J Rousseau (1712-1778) Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses pembelajaran (M. Arifin dan Amiruddin R, galaman sendiri). Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri secara alami.

Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar tergantung pada diri anak didik sendiri. Program pendidikan di sekolah harus di sesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.

3.    Aliran Empirisme
Tokoh utamanya adalah John Lock, (1632-1704) dilahirkan di Inggris dari keluarga tedidik.  Ia dianggap sebagai pemberi titik terang dalam perkembangan psikologi di karenakan teorinya seakan memberi paradigma baru dalam pemikiran pendidikan.  Teorinya yang terkenal adalah teori tabula rasa yang mengibaratkan anak yang baru lahir bagaikan kertas putih bersih (kosong) atau meja yang berlapis lilin. Di atas kertas atau lilin itu dapat ditulis apa saja sesuai dengan keinginan.
Teori tabula rasa yang di kemukakan oleh John Lock menekankan arti penting dari pengalaman dan lingkungan dalam mendidik anak. Ada pun pembawaan itu di anggap tidak berpengaruh pada aspek pendidikan anak. Karena penekanan pendidikan terletak pada aspek lingkunga dan pengalaman, maka alirannya dikatakan bercorak empiris.  John Lock berusaha mendekatkan pendidikan itu dengan situasi.

Aliran ini kemudian menjadi sangat terkenal karena keoptimisannya dalam mendidik yang tidak mengenal putus asa. Aliran ini menganggap bahwa ia bisa saja menjadikan anak itu sebagai seorang ahli kimia misalnya meskipun tidak terlahir dari keluarga ahli kimia atau menjadikan anak itu artis meskipun ia tidak berasal dari keluarga seniman. Hanya saja seorang anak diusahakan di pola sedemikian rupa bagaikan sebuah robot yang harus mengikuti keinginan dari pendidiknya atau penutupnya untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Aliran ini sangat bertolak belakang dari aliran nativisme dan naturalisme.

4.    Aliran Konvergensi
Aliran ini di perkenalkan oleh seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman bernama Willian Sterm. Lahir di jerman pada tanggal 28 April 1871. William Sterm berpandangn bahwa antara hereditas dan mlliu saling berkaitan dan saling memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.  Secara kodrati, manusia telah dibekali dengan bakat atau potensi. Akan tetapi untuk berkembang ke arah yang lebih baik perlu adanya pengaruh dari luar berupa tuntunan dan bimbingan melalui pendidikan.

Siterm berusaha menyatukan dua aliran yang bertolak belakang yaitu nativisme/naturalisme dan emperisme dalam memandang manusia sebagai peserta didik karen bagaimana pun juga, jika yang di ambil hanya salah satunya berarti pendidikan itu akan berjalan pincang, karena dua hal yang semestinya berjalan beriringan namun dipisahkan. Pemisahan salah satu dari keduanya berarti mengabaikan teori keseimbangan antara bawaan (hereditas) yang muncul sejak manusia itu lahir dan lingkungan sebagai bentuk interaksi anak terhadap lingkungannya. Sebagai anak yang lahir di tengah-tegah keluarga agamawan bisa saja ia menjadi ahli agama jika diberi pendidikan sejak kecil dalam lingkungan keagamaan.

Aliran konvergensi adalah aliran yang banyak dianut oleh para pendidik dewasa ini. Sementara aliran nativisme dan emperisme telah mulai usang dan mulai banyak ditinggalkan oleh penganutnya. Dalam pandangan Islam, kemampuan dasar atau pembawaaan di sebut dengan "fitrah". Secara etimologis, "fitrah" berarti "sifat asal, kesucian, bakat, dan pembawaan. Secara terminologi, Muhammad Al-Jurjani menyebutkan, bahwa "fitrah" adalah tabiat yang siap untuk menerima agama Islam.

Kata fitrah di sebutkan dalam Al-Qur’an pada surah Ar-Rum ayat 30 sebagai berikut:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Dalam kaitannya dengan teori kependidikan dapat di katakan, bahwa fitrah mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham converagent. Karena fitrah mengandung makna kejadian yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus yaitu Islam.Namun potensi dasar ini bisa di ubah oleh lingkungan sekitarnya.

5.    Aliran Progresivisme
Tokoh aliran progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat mengahadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan-kelebihan jika dibandingkan dengan mahluk lain.
Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang di dukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya. Peserta didik tidak hanya di pandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada di dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu di optimalkan. Artinya, peserta didik di beri kesempatan untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.

6.    Aliran Konstruktivisme
Gagasan pokok aliran ini di awali oleh Giambatista Vico, seorang epistemiolog Italia. Ia di pandang sebagai cikal bakal lahirnya konstruktivisme. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika mengetahi. Hanya Tuhan yang mengetahui segala sesuatu karena dia pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang di konstruksikan Tuhan. Bagi Vico, pengetahuan dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak bisa lepas dari subjek yang mengetahui.

Aliran ini di kembangkan oleh Jean Piaget, melalui teori perkembangan kognitif, piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang. Menurut piaget, mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat terbentuk pengertian baru, (Pul Suparno, 1997:33). Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif di pengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.

terimakasih telah membaca artikel saya semoga bermanfaat untuk penambahan wawasan dan solusi dalam pengerjaan tugas kampus.
almumtaz.wiki
ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRANNYA Reviewed by Kharis Almumtaz on August 22, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.