Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

DIMENSI ALIRAN – ALIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA AHLI TOKOH PENDIDIKAN ISLAM


ALIRAN – ALIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA AHLI TOKOHPENDIDIKAN ISLAM

almumtaz.wiki- Islam mengajarkan kepada manusia melalui kitabnya dan memperkenalkan kata kunci untuk memahami manusia secara komperehensif dengan kata insan dan basyar. Kata insan merunjuk kepada proses perkembangan manusia yang bergantung kepada lingkungannya, sehingga penalaran, kematangan, kesadaran dan sikap hidup yang terkait dengan pendidikan yang terjadi dalam masyarakat selalu dinamis. Rasulullah telah memberikan tuntunan tentang bagaimana cara pandang orang mukmin terhadap anak sebagai orang yang akan dididik seperti yang tercermin adalah sebuah hadisnya:
كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْ لَدُ عَلَيْ اَلْفِتْرَةِ فَأَ بَوَاْهُ يُهَوِّدَانُهُ أَوْ يُنَصِّرَا نُهُ أَوْ مُيَجِّسِا نُهُ...
"Semua anak di lahirkan dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani dan Majusi".

Dari hadis di atas dapat di pahami bahwa manusia yang baru lahir sudah membawa potensi, akan tetapi potensi itu baru bisa berkembang dengan baik jika didukung oleh faktor lingkungan.
Tampaknya para pemikir Islam telah merumuskan aliran konvergensi walaupun tidak disebut sebagai teori konvergensi jauh sebelum Sterm. Ibn Mizkawaih misalnya dalam bukunya Tahzib akhlak berpendapat bahwa tiap benda itu mempunyai form atau bentuknya masing-masing sehingga tidak bisa menerima bentuk lain. Pada manusia, meskipun mempunyai pembawaan yang lemah bisa saja diubah menjadi cepat atau lambat melalui disiplin tertentu.

Ibn Sina salah seorang tokoh filosof muslim berpendapat bahwa seorang anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan alamiah, akan tetapi mengandalkan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang, dan harus ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Seorang anak yang lahir dari keluarga dokter belum tentu ia dapat mengikuti profesi keluarganya kalau ia tidak di bekali dan dasari dengan bakat serta kecenderungan anak itu ataupun hal-hal lain yang mempengaruhinya.

Menurut Al-Gazali, anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri, kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya. Kesemuanya itu perlu diberi pendidikan. Jika ia bengkok maka harus diluruskan, jika salah maka harus dibenarkan dan jika sudah benar maka harus diarahkan pada pengembangannya.   Faktor internal dan eksternal keduanya sangat berperan dalam perkembangan anak didik.

Berdasarkan uraian kedua tokoh tersebut, maka dapat di pahami bahwa:
1.    Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan dalam proses perkembangannya dan hubungannya dengan proses belajar.
2.    Islam telah memberi petunjuk tentang adanya konsep insan dan basyr dalam Al-Qur'an dan yang mana kedua hal ini mengarh kepada potensi manusia dan lingkungan mnusia yang mempengaruhi pendidikannya.
3.    Tokoh-tokoh pemikir islm dalam mengajukan tesisnya tentang pendidikan mengarah kepada aliran konvergensi yang mengakui adanya penyatuan kedua hal itu- melliu dan hereditas berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai obyek atau manusia didik.
Beberapa Aliran Pendidikan Islam antara lain sebagai berikut:
1.    Aliran Religius Konservatif (al- Diniy al- Muhafidz)
Konservatif: penafsiran terhadap realitas dunia berpangkal dari ajaran agama sehingga semua yang menyangkut tujuan belajar, pembagian ilmu yang dicari oleh pembelajar, etika  mu’allim dan muta’allim   dan lain sebagainya harus dibingkai dengan ajaran agama. Persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan. Memaknai ilmu dengan pengertian yang lebih sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat.

Aliran ini (konservatif) diwakili oleh Imam al Gazali, Syekh al-Thusi, Ibnu Jama’ah, Sahnun, Ibnu al-Haitami dan al-Qabisi. Dikatakan bahwa aliran ini dalam bergumul dengan persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan. Mereka memaknai ilmu dengan pengertian sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat (al-Thusi dalam Adab al-Muta’allimin). Penuntut ilmu berkeharusan mengawali belajarnya dengan Kitabullah, Alquran. Ia berusaha menghafalkan dan mampu menafsirkannya. Ulum al-Quran merupakan induk semua ilmu, lalu dilanjutkan belajar al-Hadits dan Ulum al-Hadits, Ushul, Nahwu dan Sharaf (Ibn Jama’ah dalam Tadzkirat). Tokoh-tokoh yang dikategorikan dalam aliran ini meliputi al-Ghazali, Nasiruddin al-Thusi, ibn Jama’ah, ibn Sahnun, ibn Hajar al-Haitsami, dan al-Qabisi.

Pandangan konservatif yang dimaksud dalam aliran ini adalah mengarah pada konsep hierarki nilai yang menstrukturkan ragam ilmu secara vertikal sesuai dengan penilaian mereka tentang keutamaan masing-masing ilmu. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu-ilmu keagamaan, yakni pengetahuan tentang jalan menuju akhirat, hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan rasio dan kejernihan akal budi. Rasio adalah sifat manusia yang paling utama, karena hanya dengan rasiolah manusia mampu menerima amanat dari Allah dan dengannya pula mampu “mendekat” di sisiNya.
Sikap dan kecenderungan agamis ini menimbulkan implikasi-implikasi negatif terhadap pendidikan:
1.    term ilmu yang dalam al-Qur’an dan Sunnah bersifat mutlak (cakupan yang luas) menjadi muqayyad  (terbatas/sempit) yakni terbatas pada ilmu tentang Tuhan (‘ilm billah).
2.    Adanya antusiasme pendakian spiritual mendorong pemikiran pendidikan Islam konservatif ke arah pengabaian urusan dunia dan dengan segala kemanfaatan dan kenikmatannya dan mengabaikan bekerja  dan  usaha-usaha  memperoleh  kemanfaatan urusan dunia tersebut.

Keterpakuan para ahli pendidikan muslim pada  ungkapan  ilmu sebagai   tujuan   akhir   pada zat  ilmu  itu sendiri atau ilmu untuk ilmu (al-‘ilm ghayah fi zatih) sehingga sebagian mereka menjadikan ilmu eksklusif dari kemungkinan untuk pelayanan bagi kehidupan kemanusiaan, memperbaiki kehidupan manusia dan menambah kebahagian masing-masing individu.

Di sisisi lain dari aliran keagamaan konservatif ini adalah rasa tanggung jawab keagamaan yang kuat yang belum pernah ditemukan adanya rasa tanggung jawab moral  serupa pada generasi berikutnya. Mereka sangat menjunjung tinggi persoalan belajar, bahkan mereka menilainya sebagai wujud tanggung jawab moral yang sangat luhur. Tugas-tugas mengajar untuk mencari rida (rela) Allah SWT dan mendekatkan  mu’allim (guru/pendidik) kepada-Nya karena kebajikan-kebajikannya. Dengan aktivitas mengajar bukan sekedar tanggung jawab kemanusiaan tetapi merupakan tangggung jawab keagamaan yang sangat penting.

2.    Aliran Religius Rasional (al- Diniy al- Aqlaniy)
 Aliran ini membangun prinsip-prisip dasar pemikiran kependidikan dari pemikiran tentang manusia, pengetahuan dan pendidikan. Dari sudut pandangan akal bukan dari segi amal. Pengetahuan semua dipelajari, bukan secara naluri, dan semua pengetahuan melalui pancaindera.
Bagi kalangan religious-rasional, persoalan pendidikan cenderukan disikapi secara rasional-filosofis, karena hal tersebut merupakan entry point bagi mereka yang hendak mengkaji strategi atau program pendidikan. Kecenderungan rasional-filosofis itu secara eksplisit terungkap dalam rumusan mereka tentang ilmu dan belajar yang jauh berbeda dengan rumusan kalangan tradisionalis-tekstualis. Aliran religious-rasional banyak membangun konsep-konsepnya dari pemikiran falsafah Yunani dan berusaha menyelaraskan pemikiran tersebut dengan pandangan dasar dan orientasi keagamaan. Di antara tokoh aliran religius-rasional ini adalah Ikhwan al-Shafa, al-Farabi, ibn Sina, dan ibn Miskawaihi.

Ikhwan al-Safa mengakui bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya menuju tuntutan akhirat dan tidak memberikan makna sebagai bekal di sana, maka ilmu yang demikian hanya menjadi bencana dan bukti kesusahan bagi pemiliknya di akhirat. Namun ketika aliran ini membicarakan persoalan pendidikan seperti masalah ilmu dan belajar, cenderung lebih rasional dan filosofis. Ikhwan al-Safa mengakui bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya menuju tuntutan akhirat dan tidak memberikan makna sebagai bekal di sana, maka ilmu yang demikian hanya menjadi bencana dan bukti kesusahan bagi pemiliknya di akhirat. Namun ketika aliran ini membicarakan persoalan pendidikan seperti masalah ilmu dan belajar, cenderung lebih rasional dan filosufis.

Kelompok Ikhwan al-Shafah diakui paling banyak bicara atas nama aliran ini. Idea Platonik tidak hanya mempengaruhi epistemology Ikhwan al-Shafa melainkan juga pandangannya bahwa pengetahuan itu telah ada secara potensi dalam jiwa pelajar, dan aktualisasinya tiada lain karena pengaruh pengajaran dari guru. Jiwa para ilmuwan secara potensi pun telah berilmu. Teori Plato mengukuhkan bahwa jiwa aktif tidak keluar dari kerangka pengingatan-ulang terhadap pengetahuan yang telah ada pada jiwa di dunia ide sebelum kelahirannya di bumi. Indikator lain pengaruh Platonisme terhadap Ikhwan al-Shafa adalah pandangannya tentang dualism yang mengasumsikan bahwa belajar adalah sekedar aktivitas mengingat-ulang dan berpikir. Menurut Ikhwan al-Shafa, jiwa itu berada pada posisi tengah antara dunia fisik-material dan dunia akal. Penekanan pada akal ini terimplikasi dalam pengembangan kurikulum dan keilmuan yang dipelajari, dimana dalam aliran ini memberikan perhatian lebih kepada ilmu-ilmu rasional-filosofis, seperti riyadiyyat (ilmu-ilmu eksak), manthiqiyyat (retorika-logika), ilmu-ilmu kealaman (fisika), dan teologi. Ikhwan al-Shafa sendiri mengklasifikasikan ilmu-ilmu riyadiyyat (eksak) mejadi empat bagian, yaitu aritmatika, ilmu ukur (handasah), astronomi dan musik. Sedang ilmu-ilmu manthiqiyyat terbagi dalam antologi (pengetahuan tentang syair), retorika, esagogi (logika kritis), Phatygorbas-Paramenyas (karya Aristoteles), dan kitab al-Burhan.

Sementara itu, ibn Sina sebagai salah satu pendukung aliran ini menggaris-bawahi perlunya studi falsafah sebagai basis konstruksi keseluruhan disiplin keilmuan yang dipelajari, karena falsafah akan menghantarkan manusia untuk bias mengenali kenyataan sebenarnya dari segala sesuatu, sepanjang batas kemampuan manusiawi yang dimiliki segala sesuatu adakalanya ada karena keterlibatan peran kita.

3.    Aliran Pragmatis Instrumental (al- Dzarai’i)
 Pragmatis instrumenatal, yang tokoh  satu-satunya  ialah  Ibnu Khaldun. Pandangannya tentang tujuan pendidikan lebih banyak sisi pragmatis dan lebih berorientasi pada tataran aplikatif-praktis. Dia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan fungsionalnya, bukan berdasar nilai substansialnya semata.

Ia membagi ragam ilmu yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan menjadi dua  yakni (1) jenis ilmu-ilmu yang bersifat instrinsik (ilmu-ilmu syariah), seperti tafsir, hadis, fikih, kalam, ontologi dan teologi dari cabang filsafat. (2) jenis ilmu-ilmu yang bernilai ekstrinsik instrumental bagi ilmu jenis pertama, seperti bahasa Arab, ilmu hitung dan sejenisnya.

Menurut Jawwad Ridla, ibn Khaldun adalah tokoh satu-satunya dari aliran ini, karena pemikirannya lebih banyak bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada aplikasi-praktis. Secara ringkas bias dikatakan bahwa aliran pragmatis yang digulirkan oleh ibn Khaldun merupakan wacana baru dalam pemikiran pendidikan Islam. Bila kalangan konservatif mempersempit ruang lingkup “sekuler” di hadapan rasionalitas Islam dan mengaitkannya secara kaku dengan pemikiran atau warisan salaf, sedang kalangan rasionalis dalm sistem pendidikannya berpikiran idealistic sehingga memasukkan semua disiplin ilmu yang dianggap substantive bernilai, maka ibn Khladun mengakomodir ragam keilmuan yang nyata terkait dengan kebutuhan langsung manusia, baik berupa kebutuhan spiritual-rohaniah maupun kebutuhan material. Meskipun demikian, ibn Khaldun sejalan dengan kalangan rasionalis dalam hal pengakuan rasio (al-‘aql) datau daya pikir (al-fikr).

Karakteristik Aliran Pragmatis Instrumental anata lain sebagai berikut:
1.    Merupakan ilmu naqliy dari orang yang menghasilkannya. Jenis ilmu ini bersandar pada warta otoritatif Syar’i (Tuhan dan Rasul-Nya). Sedangkan akal pikiran manusia tidak mempunyai peluang untuk mengintervensinya kecuali dalam ruang lingkup cabang-cabangnya. Itupun masih harus berada dalam kerangka dasar Pembuat Syar’i.
2.    Bersifat alami bagi manusia, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh manusia lewat bimbingan penalaran akal pikirnya.
3.    Ruang lingkup persoalannya, prinsip-prinsip dan metode pengembangannya sepenuhnya berdasar pada daya penjelajahan akal manusia.

Ibnu Khaldun membagi kemampuan berpikir ini menjadi tiga tingkatan yaitu (1) al-‘aql al-tamyiz (akal pemisah); (2) al-‘aql al-tarbiyyi (akal eksprimental); dan (3) al-‘aql al-nazariy (akal kritis).
Tingkatan akal terbawah, karena kemampuannya hanya terbatas pada mengetahui hal-hal yang bersifat emperis inderawi. Konsep-konsep yang dihasilkan taraf berpikir tingkat ini adalah deskripsi atau penggambaran (al-tasawwurat). Tujuannya adalah menghasilkan kemanfaatan bagi manusia dan menolak bahaya.

Kemampuan berpikir yang menghasilkan berbagai gagasan pemikiran dan berbagai etika dalam tatanan pergaulan bersama dan hal ihwal mereka. Banyak dari olah pikir pada tingkat menghasilkan kebenaran (tasdiqat) yang disimpulkan dari eksprimen sedikit demi sedikit secara berkelanjutan hingga mencapai kesempurnaan hasil atau kegunaan.
Suatu proses berpikir yang menghasilkan ilmu atau asumsi kuat akan hal meta empiris (abstrak-filosufis) yang merupakan kompleksitas hubungan dari berbagai tasawwur  (penggambaran) dan tasdiq (pembenaran) hingga membangun disiplin keilmuan tertentu. Yang terpenting dari tingkat akal kritis ini ialah penggambaran realitas (al-wujud) sebagaimana hakikatnya, jenis-jenisnya, detailnya, sebab-sebabnya, dan ilat-ilatnya, dan  daya berpikir berkembang sempurna menjadi akal murni dan jiwa yang tercerahkan. Di sinilah hakikat kemanusiaan.

PENUTUP
A.  Kesimpulan
Secara operasionalaliran pendidikan Islam adalah paham atau pemikiran pendidikan Islam sebagai titik tolak dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi manusia serta hal-hal yang mempengaruhinya sesuai pandangan Islam.
Berdasarkan pembahasan di atas, aliran-aliran pendidikan dibagi menjadi enam aliran, yaitu sebagai berikut:
1.    Aliran Nativisme,
2.    Aliran Naturalisme,
3.    Aliran Empirisme,
4.    Aliran Konvergensi,
5.    Aliran Progresivisme, dan
6.    Aliran Konstruktivisme.
Dari aliran-aliran di atas, adapula aliran-aliran yang bergerak di bidang pendidikan Islam menurut para tokoh pendidikan Islam, diantaranya yang berpendapat yaitu Ibn Mizkawaih dan Al-Gazali.
Menurut Ibn Mizkawaih, berpendapat bahwa seorang anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan alamiah, akan tetapi mengandalkan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang, dan harus ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Seoranganak yang lahir dari keluarga dokter belum tentu ia dapat mengikuti profesi keluarganya kalau ia tidak dibekali dan dasari dengan bakat serta kecenderungan anak itu ataupun hal-hal lain yang mempengaruhinya.
Sedangkanmenurut Al-Gazali, berpendapat bahwa anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri, kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya. Kesemuanya itu perlu diberi pendidikan. Jika ia bengkok maka harus diluruskan, jika salah maka harus dibenarkan dan jika sudah benar maka harus di arahkan pada pengembangannya. Faktor internal dan eksternal keduanya sangat berperan dalam perkembangan anak didik.
Berdasarkan uraian di atas dapat di pahami bahwa:
1.    Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan dalam proses perkembangannya dan hubungannya dengan proses belajar.
2.    Islam telah memberi petunjuk tentang adanya konsep insan dan basyr dalam Al-Qur'an dan yang mana kedua hal ini mengarh kepada potensi manusia dan lingkungan mnusia yang mempengaruhi pendidikannya.
3.    Tokoh-tokoh pemikir islm dalam mengajukan tesisnya tentang pendidikan mengarah kepada aliran konvergensi yang mengakui adanya penyatuan kedua hal itu- melliu dan hereditas berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai obyek atau manusia didik
B.  Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat dijadikan bahan refrensi baru akan kepenulisan selanjutnya agar mendapatkan sedikit nilai kesempurnaan dari kepenulisan ini. Dengan tulisan selanjutnya dapat menanggapi atau mengomentari bahkan mengkritik tulisan sederhana ini. Insya Allah.
Almumtaz.wiki- Terimakasih sudah mengunjungi website kami. Semoga bermanfaat

DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasy, Muh. Athiyah. (1975). "Al-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Falasifatuha". (Cet. III). Kairo: Isa Al-Bab Al-Halaby.
Al-Jufy, Abu Abdillah Muhammad Ibn Al-Bukhary. (1992). "Shahih Bukhariy". Juz 1 (Cet. I). Beirut: Dar Al-Fikr Al-Ilmiy.
Al-Nahlawi, Abd. Rahman. "Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Asalibuha fi Al-Bait wa Al-Madrasah wa Al-Mujtama'". Damasq: Dar Al-Fikr.
Arief, Armai. (2002). "Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam". Jakarta: Ciputat Pers.
Barandib, Imam. (1987). " Filsafat pendidikan; Sistem dan Metode". Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Ilmu Pendidikan IKIP.
Darajat, Zakiyah. (1996). "Ilmu Pendidikan Islam". (Cet. III). Jakarta: Bina Aksara.
Departemen Agama RI. (2006). "Al Qur'an dan Terjemahnya". Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Surabaya: Duta Ilmu Surabaya.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. (1994). "Ensiklopedia Islam". Jilid III. (Cet. III). Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.
Getteng, Abd. Rahman. (1997). "Pendidikan Islam dalam Pembangunan". Ujungpandang: Yayasan Al-Ahkam.
Jalaluddin dan Abdullah Idi. (1997). "Filsafat Pendidikan". (Cet. I). Jakarta: Gaya Media Pratama.
Kadir, Abdul. (2012). "Dasar-Dasar Pendidikan". Makassar:  Kencana Prenada Media Group.
Khaeruddin. (2002). "Ilmu Pendidikan Islam". Makassar:CV Berkah Utami.
Miskawaih,Ibn. (1997). "Tahzib Al-Akhlak" diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul "Menuju Kesempurnaan Akhlak". (Cet. III). Bandung: Mizan.
Munir Ba'laba'kiy. (1985). "Al-Maurid; A Modern English Arabic Dictionary". Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin.
Munir Mursiy Sarhan. (1987). "Fi Ijtimaiyyah Al-Tarbiyah". (Cet. II). Mesir: Maktabah Al-Anjlu Al-Misriyyah.
Prasetya. (1997). "Filsafat Pendidikan". (Cet. I). Bandung: Pustaka Setia.
Purwanto, M. Ngalim. (1995). "Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis". Edisi II (Cet. VIII). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zuhairirni. Al. (1991). "Filsafat Pendidikan Islam". (Cet. II). Jakarta: Bumi Aksara.
Sarwono, Sarito Wirawan. (1991). "Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi". (Cet. III). Jakarta: Bulan Bintang
Smits, Titus. dan Nolan. (1984). "Living Isseu in Philoshopy" diterjemahkan oleh Muhammad Rasyidi dengan judul "Persoalan-persoalan Filsafat". (Cet. I). Jakarta: Bulan Bintang.
Syah, Muhibbin. (1995). "Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Baru". (Cet. II). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1995). "Kamus Besar Bahasa Indonesia". Edisi II (Cet. IV). Jakarta: Balai Pustaka.

DIMENSI ALIRAN – ALIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA AHLI TOKOH PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on August 22, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.