Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PENERAPAN REWARD DAN PUNISHMEN DALAM ISLAM AGAMA SAMAWI BERLANDAS ALQUR'AN DAN AL HADIS




PENERAPAN REWARD DAN PUNISHMEN DALAM ISLAM AGAMA SAMAWI BERLANDAS ALQUR'AN DAN AL HADIS


PENERAPAN REWARD DAN PUNISHMEN DALAM ISLAM AGAMA SAMAWI BERLANDAS ALQUR'AN DAN AL HADIS

ALMUMTAZ.WIKI- Dalam kegiatan belajar, kita sering menjumpai anak dengan karakter yang beragam. Ada anak yang mudah diberi pengarahan dan ada anak yang sulit menerima pengarahan, sebagian giat belajar dan sebagian malas belajar, sebagian mereka belajar untuk maju dan sebagian lain belajar hanya untuk terhindar dari hukuman. Sifat-sifat buruk yang timbul dalam diri anak di atas bukanlah sifat bawaan sejak lahir. Sifat-sifat tersebut timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Banyak orang dewasa yang menyadari keburukan sifat-sifatnya, tetapi tidak mampu mengubahnya. Karena sifat-sifat buruk itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Maka menjadi tugas orangtua dan guru agar selalu memperingatkan dan mencegah anak-anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, agar anak-anak kita memiliki dasar yang kuat untuk kehidupan di masa mendatang.

Sebenarnya tidak ada orang tua atau pendidik yang menghendaki digunakannya hukuman dalam pendidikan kecuali bila terpaksa. Hadiah atau pujian jauh lebih dipentingkan daripada hukuman. Dalam dunia pendidikan, metode ini disebut dengan metode hadiah (reward) dan hukuman (punishement). Dengan metode tersebut, diharapkan anak didik dapat termotivasi untuk melakukan perbuatan yang lebih baik.

A. Pengertian Hadiah dan Hukuman

Reward atau ganjaran adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan.
Reward (ganjaran) merupakan hal yang menggembirakan bagi anak, dan dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi belajarnya murid.

Dalam konsep pendidikan, hadiah adalah salah satu alat 4 pendidikan untuk mendidik anak-anak supaya anak merasa senang karena perbuatan dan pekerjaannya mendapat penghargaan. Dengan dan bisa menjadi pendorong atau motivator belajar bagi murid. Hadiah sebagai alat untuk mendidik tidak boleh bersifat sebagai upah. Karena upah merupakan sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatupekerjaan atau suatu jasa yang telah dilakukan oleh seseorang. Jika hadiah itu sudah berubah sifat menjadi upah, hadiah itu tidak lagi bernilai mendidik karena anak akan mau bekerja giat dan berlaku baik karena mengharapkan upah.

Pengertian hukuman (punishment) adalah usaha edukatif yang digunakan untuk memperbaiki dan mengarahkan anak kearali yang benar, bukan praktik hukuman dan siksaan yang; memasung kreativitas. Hukuman juga sering diartikan sebagai penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru dan sebagainya) setelah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan, atau kesalahan.

Punishment (hukuman) merupakan imbalan dari perbuatan- perbuatan yang tidak baik atau mengganggu jalannya proses pendidikan. Dengan kata lain punishment adalah penilaian terhadap belajarnya murid yang bersifat negatif sedangkan reward adalah penilaian yang bersifat positif. Punishment dan reward berfungsi sebagai alat-alat pendidikan sekaligus sebagai motivasi belajar siswa.

B. Pandangan Kognitif Sosial tentang Reward dan Punishment.

Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar behavioristik. Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar
dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Dalam pandangan belajar sosial “manusia” itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan, pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video anak-anak akan meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video.


Bandura juga memperluaskan analisis beliau terhadap pembelajaranan melalui pemerhatian (Modeling)
Peniruan (Modeling )
Pada tahun 1941, dua orang ahli psikologi, yaitu Neil - Miller dan John Dollard dalam laporan hasil eksperimennya mengatakan bahwa peniruan (imitation ) merupakan hasil proses pembelajaran yang ditim dari orang lain. Proses belajar tersebut dinamakan “ social leaming “ - “pembelajaran social “ . Perilaku peniruan manusia terjadi karena manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita menim orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniiruan maupun penyajian, contoh tingkah laku ( modeling ). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak - anak untuk menirukan tingkah laku membaca.

Albert Bandura dan Richard Walters { 1959, 1963 ) telah melakukan eksperimen pada anak - anak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam ini disebut “observationalleaming” atau pembelajaran melalui pengamatan. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang.

Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri(kognitif) dan lingkungan, pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak tersebut melihat patung tersebut,mereka meniru aksi- aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video.

Unsur Utama dalam Peniruan (Proses Modeling/Permodeian) Menurut teori belajar social, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap , yaitu : perhatian / atensi, mengingat / retensi, reproduksi gerak , dan motivasi.
  1. Perhatian (’Attention’), Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki.
  2. Mengingat (’Retention’), Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar.
  3. Reproduksi gerak (reproduktion), setelag memnegtahui atau mempelajari tingkah laku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan aa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku
  4. Motivasi, motivasi juga penting dalam pemodelan albert bandura karena ia adalah penggerak individu untuk melakukan sesuatu. jai subjek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah di modelkan
Para tokoh pencetus pengkondisi operant mengemukakan bahwa penguatan atau reward sangat penting dalam pembelajaran, serta dapat meningkatkan respons belajar anak terutama dalam penguatan.

Menurut para ahli kognitig social, penguatan dan hukuman berpengaruh tidak langsung terhadap proses belajar dan perilaku, faktor -faktor kognitif langsung maupun tidak langsung, yang berpengaruh terhadap proses belajar dan perilaku adalah sebagai berikut:
  1. Konsekuensi berpengaruh terhadap perilaku hanya jika pelajar sadar akan kemungkinan yang teijadi. Penguatan meningkatkan frekuensi sebuah perilaku hanya jika siswa memikirkan dan mengetahui bahwa perilaku itu sedang diberi penguatan. Sebaliknya, hukuman mengurangi sebuah perilaku hanya jika pelajar menyadari bahwa hukuman itu merupakan akibat langsung dari perbuatannya sendiri.
  2. Pelajar membentuk harapan tentang konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari suatu tindakan yang akan datang dan perilaku sesuai dengan hal itu. Siswa mendasarkan harapan terhadap pola penguatan, non penguatan dan hukuman yang berlaku. Jika suatu respon yang diberikan berupa penguatan, siswa kan berharap mendapatkan hal yang serupa dalam kesempatan mendatang, sedangkan ketika suatu respon sering menghasilkan hukuman, maka siswa berharap respon yang sama akan dihukum dikesempatan yang lain.
  3. Harapan pelajar dipengaruhi oleh hal yang terjadi pada orang lain dan pada diri mereka. Seorang siswa yang diberi penguatan karena perilaku tertentu maka akan lebih sering menampilkan perilaku tersebut.
  4. Keputusan pelajar dalam membuat respons-respons tertentu bergantung juga pada keyakinan akan kemampuan mereka dalam membuat respons tersebut.
  5. Harapan mengenai konsekuensi yang akan datang mempengaruhi kedalaman dan dengan cara pelajar memproses sebuah informasi secara kognitif.
C. Apasaja Bentuk-bentuk Pemberian Hadiah dan Hukuman dalam Pendidikan
Berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam memberikan Hadiah (ganjaran) antara lain:
  • Ekspresi Verbal/Pujian yang Indah.
Pujian ini diberikan agar anak lebih bersemangat belajar.. Oleh karenanya guru diharapkan mengikuti makna-makna dalam rangka memberi penguatan atau pujian yang akan bermanfaat dan lebih menarik perhatian.
  • Imbalan Materi/Hadiah.
Tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian hadiah. Cara ini bukan hanya menunjukkan perasaan cinta, tetapi juga dapat menarik cinta dari si anak, terutama apabila hal itu tidak diduga. Setiap orang tua mengetahui apa yang disukai dan diharapkan oleh anaknya, sehingga hadiah yang diberikan dapat berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaan anaknya.
  • Menyayanginya
Di antara perasaan-perasaan mulia yang Allah titipkan pada hati kedua orangtua dan guru adalah perasaan sayang, ramah, dan lemah lembut terhadapnya, la merupakan perasaan yang mulia yang memiliki dampak yang paling utama dan pengaruh yang sangai besar dalam mendidik, menyiapkan, dan membetuk anak. Hati yang tidak memiliki kasih sayang akan memiliki kekerasan dan kekasaran yang lercela. Diketahui bahwa sifat-sifat yang buruk ini akan menimbulkan reaksi pada anak-anak berupa kebencian mereka terhadap ayah dan ibunya. Karena itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi dan Amr bin Syu'aib, Rasulullah saw mengatakan, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil.” Jadi, kasih sayang itu harus diberikan kepada anak- anak. Anak tidak boleh dihukum ketika melakukan kesalahan seperti tindakan terhadap orang dewasa. Karena, orang dewasa dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah. Sedangkan anak tidak demikian. Jadi, yang menjadi prinsip ketika berinteraksi dengan anak adalah kelembutan, kasih sayang, dan keramahan, d. Memandang dan Tersenyum Kepadanya
Hal ini terkadang dianggap 'sepele, padahal ia menunjukkan cinta dan kasih sayang, sebagaimana juga dapat menunjukkan hukuman apabila pandangan yang diberikan
adalah pandangan yang tajami disertai muka yang masam. Karena itu, pandangan yang lembut disertai dengan senyuman dapat menambah kecintaan anak terhadap orang tua atau guru. Pandangan sering pula menjadi sebab kebencian anak terhadap orangtuanya apabila mereka bermuka masam terhadapnya tanpa sebab yang jelas dan menyangkanya sebagai kewibawaan.

Kelebihan Penguatan (reward)

Sebagaimana pendekatan-pendekatan pendidikan lainnya, pendekatan penguatan juga tidak bisa terlepas dari kelebihan    dan    kekurangan    berikut:
  • Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif, 
  • Dapat menjadi pendorong bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang
    telah memperoleh pujian dari gurunya; baik dalam tingkah laku, sopan santun ataupun semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik. Proses ini sangat besar kontribusinya dalam memperlancar pencapaian tujuan pendidikan.
Kelemahan penguatan (reward)
  • Dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukannya" s^dm-a berlebiha^sehingga mungkin bisa mengakibatkan muruTmenjadfmerasa bahwa dirinya lebih tinggi dari teman-temannya
  • Umumnya ganjaran membutuhkan alat tertentu dan membutuhkan biaya.
Bentuk-bentuk hukuman dapat dibedakan sebagai berikut:
  • Berdasarkan alasan diterapkannya suatu hukuman tersebut, yaitu:
  1. Hukuman preventif, yaitu hukuman yang bertujuan agar anak tidak melakukan suatu kesalahan atau kebandelan, sehingga proses pendidikan dapat beijalan dengan baik, contohnya tata tertib, anjuran dan perintah, larangan, paksaan dan disiplin,
  2. Hukuman Represif, yaitu hukuman yang dilakukan karena adanya pelanggaran atau kesalahan, contohnya pemberitahuan, teguran, peringatan, dan hukuman (sanksi).5
  • Berdasarkan usia anak, yaitu:
  1. Hukuman asosiatif, diasosiasikan antara hukuman dan kejahatan, atau pelanggaran, antara penderitaan yang diakibatkan oleh hukuman dengan perbuatan pelanggaran yang dilakukan. Untuk menghilangkan perasaan tidak enak biasanya anak dianjurkan untuk menjauhi perbuatan yang tidak baik atau yang dilarang.
  2. Hukuman yang logis, biasa diterapkan pada anak yang agak besar. Dengan hukuman ini anak mengerti bahwa hukuman itu akibat yang logis dari perbuatan yang tidak baik.Contoh anak disuruh menghapus coret-coretannya ditembok, saat datang terlambat dikasih pekeijaan rumah.
  3. Hukuman normative, hukuman yang bermaksud memperbaiki moral anak. Seperti berdusta, menipu dan mencuri.

Dalam memberikan hukuman perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut,
  • Jenis hukuman yang diberikan perlu disepakati dengan anak terlebih dahulu
  • Hukuman yang diberikan harus jelas sehingga anak dapat memahami kesalahan yang dilakukan
  • Harus dapat terukur efektivitas dan keberhasilannya dalam mengubah perilaku siswa
  • Harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan
  • Hukuman dilakukan dengan konsisten
  • Hukuman segera diberikan jika perilaku yang tidak diinginkan muncul.
Penerapan dalam Islam tentang reward dan punishement?
Dalami Islam juga mengenal meytode reward atau ganjaran (pahala).. Pahala adalah bentuk penghargaan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang beriman, mengerjakan amal shalih dan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Selain reward Islam juga mengenal hukuman, seperti firman Allah SWT dalam surat Ali Imran: 11 dan al-Anfal: 13. Dari kedua ayat tersebut dapat dipahami bahwa hukuman ditujukan sebagai balasan dosa akibat dari perbuatan jahat manusia.

Penerapan Hukuman dalam Islam
Pemberian hukuman menurut Najib Khalid al-Amir memiliki beberapa teori diantaranya dengan cara teguran langsung, melalui sindiran, melalui celaan, dan melalui pukulan. Oleh karena itu agar pendekatan ini tidak terjalankan dengan leluasa, maka setiap pendidik hendaknya memperhatikan syarat-syarat dalam pemberian hukuman yaitu:

1) Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta, dan kasih sayang. 2) Harus didasarkan pada alasan keharusan. 3) Harus menimbulkan kesan di hati anak. 4) Harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada anak didik. 5) Diikuti dengan pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan.

Sedangkan menurut Muhaimin dan Abd. Majid menambahkan bahwa hukuman yang diberikan haruslah: a. Mengandung makna edukasi, b. Merupakan jalan atau solusi terakhir dari beberapa pendekatan dan metode yang ada. c.Diberikan setelah anak didik mencapai usia 10 tahun. Terdapat beberapa cara digunakan Rasulullah SAW dalam mengatasi berbagai masailah yang terjadi padla anak, diantarapya:

1. Melalui Teguran Langsung. Umar bin Abi Salmah r.a. berkata, “Dulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah SAW. Ketika makan, biasa-nya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu beliau berkata, 'Hai ghulam, bacalah basmallah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.” Riwayat di atas menyiratkan beberapa nilai tarbawiyah yang dapat diterapkan dalam mendidik anak, yaitu:
a. Rasulullah SAW senantiasa menyempatkan untuk makan bersama anak-anak. Cara tersebut akan mempererat keterikatan batin antara seorang pendidik dengan anak didiknya. Dengan begitu, dapat diluruskan kembali berbagai kekeliruan yang mereka lakukan melalui dialog terbuka dan diskusi. Alangkah baiknya jika ibu dan bapak berkumpul dengan anak-anaknya ketika makan bersama, sehingga mereka merasakan pentingnya peran kedua orang tua.
Hal ini juga dapat mempermudah meresapnya segala nasihat orang tua kepada anak-anaknya, baik itu nasihat dalam hal perilaku, keimanan, atau pendidikan.

b. Waktu yang beliau pilih pum sangat tepat. Beliau segera menegur ketika kekeliruan Umar bin Abi Salmah itu terjadi berulang-ulang sebelum kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan sehari-han. Jika dibiarkan, kekeliruan akan sulit diluruskan. Kalaupun dapat, kita membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak lagi. Karenanya, mengacu pada metode Rasulullah SAW di atas, maka kebiasaan jelek anak didik harus sesegera mungkin diluruskan. 'Model pendidikan ini wajib diambil sari patinya oleh para orang tua dan pendidik zaman sekarang.

c. Sebagai seorang pendidik, Rasulullah SAW memanggil anak dengan panggilan yang menyenangkan, seperti “wahai ghulam”. Abu Salmah pun menyenangi panggilan tersebuit. Cara tersebut cukup efektif menarik perhatian anak sehingga mereka tidak kesulitan menerima nasihat Ironisnya sekarang ini, jika melihat kekeliruan anak-anaknya, para orang tua marah besar sambil memanggil dengan sejelek-jelek nama.

Kesimpulan
Hadiah merupakan alat pendidikan preventif dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motivator belajar bagi murid. Sedangkan hukuman dapat diartikan sebagai suatu bentuk sanksi yang diberikan pada anak baik sanksi fisik maupun psikis apabila anak melakukan kesalahan-kesalahan atau pelanggaran yang sengaja dilakukan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan. Memberikan hadiah dan hukuman dalam pendidikan perlu memperhatikan prinsip-prinsipnya, sehingga makna kedua pendekatan ini dalam pendidikan tidak disalahartikan. Bentuk-bentuk penghargaan yang dapat diberikan: Komunikasi non verbal, imbalan materi/hadiah, bentuk pengakuan, perlakuan istimewa.
Sedangkan hukuman yang diberikan dapat berupa hukuman fisik, hukuman dengan kata- kata atau kalimat yang tidak menyenangkan, hukuman dengan stimulus fisik yang tidak menyenangkan, dalam bentuk kegiatan yang tidak menyenangkan.
Pemberian hadiah dan hukuman mempunyai beberapa fungsi. Dalam hal ini yang terpenting adalah fungsi pendidikan. Dalam pendidikan, pemberian hadiah dan hukuman memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri- sendiri seperti pendekatan-pendekatan pendidikan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
A. Yanuar, Jenis-jenis Hukuman Edukatif untuk Anak SD , Yogyakarta: DIVA Press, 2012
Daien Indrakusuma Amir, Pengantar Ilmu Pendidikan Surabaya: Usaha Nasional, 1973
Gaza Mamiq, Bijak Menghukum Siswa, (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012
Karwati Euis, Juni Priansa Donni, Manajemen Kelas, Bandung : Alfabet, 2014



PENERAPAN REWARD DAN PUNISHMEN DALAM ISLAM AGAMA SAMAWI BERLANDAS ALQUR'AN DAN AL HADIS Reviewed by Kharis Almumtaz on August 28, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.