Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

REKONSTRUKSI TRADISI KEILMUAN ISLAM MASA KEEMASAN PADA GENERASI ALPHA DI ERA KONTEMPORER


REKONSTRUKSI TRADISI KEILMUAN ISLAM MASA KEEMASAN PADA GENERASI ALPHA  DI ERA KONTEMPORER
REKONSTRUKSI TRADISI KEILMUAN ISLAM MASA KEEMASAN PADA GENERASI ALPHA DI ERA KONTEMPORER



A. PENDAHULUAN

ALMUMTAZ.WIKI- Tak bisa dipungkiri oleh siapapun, peradaban Islam pernah mencapai masa kejayaan yang gilang gemilang. Islam bangkit kekita kekaisaran Roma runtuh. Masa kejayaan yang dikenal dengan Golden Age tersebut bahkan berlangsung hampir tujuh abad lamanya,mulai 750-1500 M 0-700H.   Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah saw sampai pada kejatuhan Granada di Spanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak dapat dilupakan oleh peradaban modern saat ini. Ketika itu, muncul ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yang mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Al-Khawarizmi (matematik), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (perobatan), Ar-Razi (perobatan), Al-Biruni (fisika), Ibnu Battutah (pengembaraan), Ibn Rusyd (filsafat) adalah adalah contoh nama-nama yang dapat dikedepankan.


Beberapa temuan ilmuan Islam yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan dunia di masa itu, antara lain : buku-buku ilmu kedokteran karya Hunayn bin Ishaq, Ibnu Sina dan Al Zahrawi yang terus digunakan di berbagai universitas di Eropa hingga berabad-abad lamanya.  Penemuan angka O oleh Al-Khawarizmi, yang pada zaman sebelumnya (China, India dan Yunani) belum diketahui. Teori sosiologi dan sejarah yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukadimah sampai sekarang tetap aktual danmenjadi referensi sosiologi moden. Belum lagi berbagai teori perobatan yang dikemukakan Ar-Razi tentang penyakit cacar serta Ibnu Sina tentang pembiusan dan pembedahan.

Sayangnya sejak beralihnya supremasi keilmuan ke negara-negara Barat (Baca: Non Muslim) praktis dunia Islam hingga saat belum mampu keluar dari keterpurukan khususnya pada aspek ilmu pengetahuan. Salah seorang pemikir Islam, Fazlurrahman, pernah memberikan analisisnya bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi negara yang menjadi pusat kebangkitan Islam. Analisis tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk mayoritas muslim, serta memiliki sejumlah tradisi keilmuan khas, semisal pesantren.

Namun demikian, harapan tersebut seolah bertolak belakang dengan kondisi bangsa yang hari ini sangat terpuruk dengan prediket sebagai negara terkorup. Belum lagi persoalan moral anak bangsa yang demikian memperihatinkan. Kondisi ini diperparah lagi dengan maraknya tawuran antar kampung, antar suku, penghakiman atas nama tuhan, dan sebagainya. Kesemua persoalan tersebut mengindikasikan bangsa ini sedang mengalami keterpecahan kepribadian (split personality), dan nyaris tidak lagi memiliki peradaban yang Islami. Teuku Jacob sebagaimana dikutib Darmiyati Zuchdi mengatakan, Anyaman moral hampir seluruhnya koyak dan sangat memalukan bangsa.
Pada masa kontemporer, dapat dipastikan tidak ada satu Muslim pun yang bisa menghindar dari jangkauan dan pengaruh modernitas, paling tidak dalam bentuk budaya materinya. Bahkan kalangan yang disebut paling terpencil sekalipun, yang menyuarakan perang terhadap Barat secara terbuka, dalam kenyataannya tetap saja pernah berhubungan dengan teknologi yang berasal dari dunia industri negara-negara Barat. Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebutan generasi Alpha ditemukan dalam teori generasi yang disampaikan William Strauss dan Neil Howe sebagai generasi yang lahir bersama teknologi. Mereka terlahir setelah tahun 2010 ke atas.  jika ditarik ke masa sekarang, maka saat ini generasi alpha masih memasuki fase atau tahap perkembangan anak usia dini (PAUD). Membangun tradisi keilmuan Islam generasi Alpha pada masa kontemporer tentu tidak bisa dipisahkan dengan peran teknologi sebagai media yang tak mungkin dipisahkan dari kehidupan mereka. Pesan Ali bin Abi Tholib, “didiklah anakmu menurut zamannya,” menjadi spirit sekaligus tantangan yang harus diterjemahkan dalam membangun tradisi keilmuan generasi Alpha.

Mengapa membangun tradisi keilmuan Islam harus mulai didesain sejak usia PAUD? Ingat, usia di bawah 10 tahun adalah usia pembentukan (formative) yang sangat berpengaruh terhadap usia selanjutnya, sekaligus merekalah yang akan menjadi pelaku utama dalam 30-an tahun ke depan.  Makalah ini mencoba menelaah dan mengkaji tradisi keilmuan Islam yang gilang-gemilang pada masa Golden Age dan mencoba merekontruksi formula untuk membangun tradisi keilmuan Islam generasi Alpha di masa kontemporer.


B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Tradisi Keilmuan Islam

Sebuah tradisi berkaitan dengan segala bentuk kebudayaan manusia yang berulang-ulang dan dilakukan dalam kurun waktu yang panjang. Menurut Al-Jabiri tradisi adalah “sesuatu yang hadir dan menyertai kekinian kita, yang berasal dari masa lalu kita atau masa lalu orang lain, ataukah masa lalu tersebut adalah masa yang jauh maupun masa yang dekat.” Tradisi adalah titik temu antara masa lalu dan masa kini.  

Sebuah tradisi bisa jadi telah berlangsung dalan kurun waktu yang sangat panjang hingga berabad-abad, namun ia adalah sesuatu yang dekat dengan masyarakat kekinian karena tetap dipelihara dan dilaksanakan hingga kini. Jadi bisa dimaknai, tradisi bukan masa lalu yang jauh dari keadaan kita saat ini, tapi masa lalu yang dekat dengan kekinian kita. Maka semuanya adalah tradisi, bila ia berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di tengah kita dan menyertai kekinian kita, asal itu berasal dari masa lalu.

Ilmu berasal dari kata ‘alima, pengambilan istilah ilmu dalam bahasa Indonesia terpengaruh oleh bahasa Arab. Sementara itu, pengetahuan hanya sekedar mengetahui tanpa melalui metode tertentu. Maka ilmu bisa pula dimaknai sebagai pengetahan yang tersusun secara sistematis dengan metode ilmiah. Sementara itu secara istilah, ilmu terdapat beberapa pendapat, antara lain:

a. Menurut Al-Akhdhori, ilmu adalah membuahkan pikiran akan arti dari sesuatu, contoh pisang, pikiran kita pasti dapat membayangkan arti dari kata pisang dalam pikiran.

b. Menurut Montagu, ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan studi dan pengalaman untuk menemukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

c. Menurut Darajat, ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara obyektif, sistematis baik dengan pendekatan deduktif, maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran oleh para ahli.
Islam adalah agama pengetahuan. Sikap Islam yang mendorong kegiatan pengkajian keilmuan dapat kita temukan dalam beberapa ayat Al Quran seperti Surat ke 96 (QS. Al-„Alaq) ayat 1-5 yang artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk membaca ayat-ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat kauliyah. Karena membaca merupakan salah satu cara mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahwa ilmu itu sangat penting dan berguna bagi manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Ayat tersebut juga memerintahkan manusia untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan seseorang maka akan semakin kokohlah imannya.


Penghargaan dan dorongan positif Islam bagi para penuntut dan pengkaji ilmu juga dapat kita temukan dalam Al Qur’an Surat ke 58 (Al Mujadilah) ayat 11 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat tersebut memberikan motivasi sekaligus penghargaan atas mereka yang membuka jalan terhadap ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi sebagaimana derajat yang diberikan kepada orang-orang yang beriman.



2. Pengertian Masa Keemasan Islam dan Era Kontemporer

Masa keemasan Islam atau yang dikenal dengan Golden Age adalah masa puncak kejayaan Islam di segala bidang. Bisa juga disebut masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Masa keemasan Islam ini berlangsung dalam kurun waktu yang panjang sejak 750 M- 1258 M.
Sementara yang dimaksud dengan era kontemporer adalah “era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini”  Masa kontemporer adalah masa dimana pengaruh dan dampak modernisasi sangat dominan terasa. Kontemporer artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Produk budaya, tradisi kontemporer bersifat sangat terbuka tidak terikat oleh aturan-aturan jaman dulu dan berkembang sesuai jaman sekarang.

Terpaut jauhnya masa keemasan Islam dengan era kontemporer saat ini tentulah tidak memupus semangat menggali dan mengkontruksi tradisi keilmuan yang telah berkembang di masa keemasan untuk diimplementasikan dalam upaya tarbiyah bagi generasi Alpha di era kontemporer ini.


3. Sejarah Tradisi Keilmuan Islam

Secara historis tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman terhadap Al-Qur‟an yang diwahyukan kepada Nabi Muhamad SAW, secara berturut-turut dari periode Mekah sampai Madinah. Munculnya tradisi keilmuan dalam Islam secara umum dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama dimana pada periode ini lahirlah pandangan hidup Islam. Periode kedua dimulai ketika timbul kesadaran bahwa wahyu yang turun (sudah menjadi pandangan hidup) pada dasarnya mengandung struktur fundamental dari apa yang disebut dengan scientific worldview. Periode ketiga adalah lahirnya tradisi keilmuan dalam Islam, dimana tradisi keilmuan ini lahir dari konsekuensi logis dari adanya struktur pengetahuan dalam Islam. 

Dari proses lahirnya pandangan Islam yang tergambar dari tiga periode di atas dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang sarat dengan ajaran yang mendorong timbulnya ilmu pengetahuan. Ajaran tentang ilmu pengetahuan dalam Islam yang cikal bakalnya adalah konsep konsep dasar dalam wahyu itu kemudian ditafsirkan kedalam berbagai bentuk kehidupan dan akhirnya terakumulasi dalam sebuah bangunan peradaban yang kokoh. Suatu peradaban yang lahir dan tumbuh atas dukungan tradisi intelektual yang berbasis pada wahyu.

Di dalam sejarah timbulnya tradisi kelimuan dalam Islam, juga dikenal adanya medium transformasi dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut ashab al suffah,Ashab al suffah ini adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam dimana obyek kajiannya berpusat pada wahyu. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia yang menurut orang barat merupakan tonggak lahirnya tradisi keilmuan Yunani, bahkan kebudayaan barat itu sendiri diklaim lahir dari aktivitas ini. Dari komunitas inilah lahir para intelektual Islam yang merupakan pakar-pakar dalam hadits nabi.


4. Tradisi Keilmuan Islam pada Masa Kejayaan

5. Perkembangan Ilmu di Era Kontemporer

Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dari waktu ke waktu terjadi begitu cepat seiring kemajuan dan perkembangan ilmu. Kemajuan ilmu dari masa ke masa saling berhubungan dan tidak terputus satu sama lain. Kemajuan yang terjadi dari zaman klasik, pertengahan, modern, saling memberikan kontribusi terhadap kemajuan yang terjadi pada zaman kontemporer. Hal-hal baru yang yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Demikianlah semuanya saling terkait.

Pada zaman kontemporer perkembangan ilmu berkembang dengan sangat cepat. Masing-masing ilmu mengembangkan disiplin keilmuannya dan berbagai macam penemuan-penemuannya. Penemuan dan penciptaan terjadi silih berganti dan semakin sering. Dalam bidang kedokteran, ilmu kedokteran semakin menajam dan mengalami spesialisasi serta bersintesis dengan bidang ilmu lainnya sehingga menghasilkan disiplin ilmu baru seperti bioteknologi yang sekarang ini dikenal dengan teknologi cloning.  Rekayasa genetika, metode transplantasi, dan penemuan teknik kloning untuk menghasilkan individu yang sama dengan induknya merupakan penemuan yang spektakuler dibidang ini. 

Dalam ilmu pengetahuan alam, terutama fisika terjadi perkembangan yang sangat spektakuler. Penelitian-penelitian yang dilakukan para ilmuwan telah menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan alam. Pada abad ke-20 seorang fisikawan Einstein dengan teori kekekalan materi dan alam semesta yang statis menyatakan bahwa alam itu tidak terhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Namun pada tahun 1929 pendapat tersebut dibantah oleh fisikawan lain bernama Hubble, berdasarkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa alam semesta itu tidak statis melainkan dinamis. Pendapat ini juga didukung oleh para fisikawan kontemporer lainnya, seperti Garnow, Alpher, dan Herman yang berpendapat bahwa semua galaksi di jagat raya ini semula bersatu padu dengan galaksi lainnya kemudian mengalami ledakan yang maha dahsyat yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi, teori ini dikenal dengan istilah dentuman besar (big bang). Teori dentuman besar ini juga menjadi salah satu perhatian Hawking, salah seorang fisikawan teoritis yang paling cemerlang sesudah Einstein. 

Dalam ilmu-ilmu Biologi, metode-metode kimia dan fisika membawa penemuan dan penjelasan mengenai agen-agen yang halus (vitamin-vitamin, hormone-hormon) dan rekontruksi atas siklus-siklus rumit transformasi-transformasi kimia dengan materi hidup. Ilmu kedokteran dapat dibangun berdasarkan bakteriologi, dan melalui pemuan obat-obatan khusus dan umum (salvarsan melawan sifilis, kemudian sulfonilamide dan pinisilin), obat-obat ini nyaris melenyapkan baik wabah penyakit klasik maupun penyakit-penyakit ganas kanak-kanak. 


Di samping perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran, fisika, dan biologi, zaman kontemporer ini juga ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih di bidang komunikasi dan informasi, seperti penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya.  Perkembangan ilmu kelistrikan juga sangat pesat dan dapat menghasilkan alat-alat canggih seperti komputer, alat-alat elektronik dan teknologi yang membantu kesejahteraan hidup masyarakat. 
Selanjutnya dalam media komunikasi, penemuan mesin cetak yang pertama kali di Eropa menyebabkan penyebaran informasi melonjak dengan pesat. Begitu juga media elektronik yang merevolusi informasi dengan televisi, Koran jarak jauh, dan lain-lain. Perkembangan ilmu pengetahuan dibidang teknologi juga telah merubah tahapan prailmiah kehidupan berladang dan beternak masyarakat yang awalnya ekstranatural beralih ke tahapan ilmiah. Kebutuhan produksi mulai dipertukarkan melalui alat penukar surat atau kartu berharga sampai ke perbankan elektronik, yang berlangsung dengan intensif dan cepat.


Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di Indonesia, penelitian Geertz yang dalam versi aslinya berjudul “The Religion of Java” merupakan satu bahasan yang menarik. Obyek penelitian dan pengkajian dilakukan pada masyarakat kota kecil di Mojokerto Jawa Timur. Penelitian tersebut kemudian lebih banyak dipopulerkan sebagai kerangka tipologisasi keberagamaan Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi. Tiga lingkungan yang berbeda (pedesaan, pasar, dan kantor pemerintah) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda (berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya abangan (yang menekankan pentingnya animistik), santri (yang menekankan aspek-aspek Islam), priyayi (yang menekankan aspek-aspek Hindu).


Pengarang juga membahas tiga golongan yang memiliki subtradisi masing-masing, abangan, yaitu golongan petani kecil, yang sedikit banyak memiliki persamaan dengan”religi rakyat” Asia Tenggara; santri, yaitu pemeluk agama Islam yang taat pada umumnya terdiri dari pedagang di kota dan petani yang berkecukupan; dan priyayi, yaitu golongan yang masih memiliki pandangan Hindu-Budha, yang kebanyakan terdiri dari golongan terpelajar, golongan atas, penduduk kota, terutama pegawai (Bachtiar, 2004).


Penelitian Geertz hingga kini mendapat perhatian dari para ilmuwan, Berbagai penelitian dilakukan untuk menguji, membuktikan atau bahkan meruntuhkan tesis Geertz tersebut, misalnya seperti penelitian antropologis yang dilakukan oleh Bambang Pranowo (1994), Robert W, Hefner (1987), dan Mark Woodward (1984), yang membantah klaim Geertz. Para pakar ini menemukan bahwa masyarakat Jawa secara umum adalah santri, adapun “genre” abangan tidak signifikan.
Klaim tentang runtuhnya tesis Geertz juga dikemukakan oleh hasil penelitian PPIM UIN Jakarta yang dilakukan pada tahun 2001, dengan menggunakan populasi yang lebih luas dan sistem random sampling sehingga punya daya generalisasi dan klaim yang besar, Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dimana orang yang lebih intensif dalam menjalankan ritual wajib maupun sunnah dalam Islam berkorelasi positif dan signifikan dengan status sosial-ekonomi (gabungan antara pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, dan kategori desa-kota). Korelasinya sekitar 15%. Sebaliknya, seorang muslim yang semakin Intensif dalam melaksanakan ritual abangan semakin negatif korelasinya dengan status sosial-ekonomi (korelasinya sekitar 25%).


Arti penting karya Geertz The Religion of Java adalah sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai sistem simbol, yaitu bagaimana hubungan antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol, dan bagaimana para anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara mengorganisasi dan mewujudkan simbol-simbol tertentu, sehingga perbedaanperbedaan yang tampak diantara struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut hanyalah bersifat komplementer. 

6. Tradisi Keilmuan Masyarakat Islam Kontemporer
Perbedaan antara zaman modern dengan zaman kontemporer yaitu zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer adalah era perkembangan terakhir yang terjadi hingga sekarang (http://irwan-cahyadi.blogspot.com). Tulisan ini memandang bahwa periode Islam kontemporer dimulai sejak paruh kedua abad ke-20, yaitu sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai sekarang.

Periode Islam kontemporer ini ditandai oleh dua peristiwa utama. Pertama, dekolonisasi negara-negara Muslim dari cengkraman kolonialisme Eropa. Kedua, gelombang migrasi Muslim ke negara-negara Barat. Dua peristiwa itu telah mengubah lanskap geografi dunia Muslim (http://indoprogress.com). Apa yang disebut dunia Muslim tidak lagi identik dengan dunia Arab, tetapi meliputi berbagai negara nasional yang tersebar di hampir seluruh penjuru dunia, merentang dari mulai Afrika Utara hingga Asia Tenggara. Selain itu, sejak itu pula kaum Muslim telah menjadi bagian dari demografi negara-negara Barat.


Bicara sejujurnya, modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tidak luput dari andil falsafah Barat dan Eropa yang telah berjaya sejak masa renaissance yang menimbulkan kemajuan kemanusiaan dan ilmu pengetahuan yang spektakuler. Akan tetapi keterpisahan filsafat Barat dan Eropa dari pentingnya pertimbangan nilai, peran moral dan agama, telah menimbulkan dampak yang serius. Sekulerisme muncul ketika kekuasaan Negara yang dijalankan oleh pemerintah harus terpisah wewenangnya dengan otoritas gereja. Sekulerisme berpandangan bahwa moralitas dan pendidikan tidak boleh berdasarkan agama, morality and education should not be based on religion. 


Tak pelak lagi, kemajuan ilmu dan teknologi modern yang diakibatkan renaissance tersebut menjadi kering spiritual dan moralitas. Kemajuan tersebut tak menambah bukti akan keyakinan dan kesadarannya pada Dzat Yang Maha Pencipta, atau beriman kepada Allah Swt. Interaksi antar sesama manusia dipandang sebagai sekadar kontrak sosial-budaya. Berbuat baik tak harus berdasarkan pada agama, melainkan orang bisa berbuat baik karena rasa kemanusiaan. Mencapai kebahagiaan batin pun, orang tidak harus melalui agama, namun juga diperoleh dengan olah batin, yoga, konsultasi, kehidupan mistik, atau jalan spiritualistik lainnya. Inilah dampak serius dari renaissance dan sekulerisme.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat dan Eropa, yang didominasi oleh pandangan dunia dan paradigma yang materialisme-sekuler tersebut, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan dan ketidakbahagiaan psikologis/ruhaniah pada banyak manusia baik di Barat maupun di Timur.


Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya, berbagai bencana alam, tsunami, gempa, banjir, dan kacaunya iklim dan cuaca dunia akibat pemanasan global yang disebabkan tingginya polusi industri di negara-negara maju, dan berbagai bencana lainnya.
Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin, terjadi akibat ketidakadilan dan ‟penjajahan‟ (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terbelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Pada kenyataanya umat Muslim banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya.


Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (‟matre‟) dan sekuler (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.
Permasalahan multidimensi yang terjadi di era kontemporer ini, ternyata juga telah memunculkan opini bahwa tradisi keilmuan Muslim kini cenderung tidak mampu merespons, mengantisipasi kebutuhan dan tantangan zaman, apalagi merekayasa dan memberi kontribusi bagi peradaban umat manusia yang egaliter, demokratis, dan humanis.
7. Tradisi Keilmuan Masyarakat Islam Kontemporer

….……..bersambung

REKONSTRUKSI TRADISI KEILMUAN ISLAM MASA KEEMASAN PADA GENERASI ALPHA DI ERA KONTEMPORER Reviewed by Kharis Almumtaz on August 07, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.