Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

SISTEM DAN ORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM


SISTEM DAN ORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
ALMUMTAZ.WIKI- Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan karakter mansia yang tidak pernah berhenti. Oleh karena itu, pendidikan merupakan sebuah proses budaya untuk membentuk karakter guna meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Dari wacana inilah, jelas pendidikan merupakan landasan bagi pembentukan karakter manusia, sekaligus karakter sebuah bangsa, bagaimana perjalanan sebuah bangsa menuju masa depannya, hal itu akan tergantung dari pendidikan yang diterima oleh anak anaka bangsa yang bersangkutan. Dalam konteks inilah pendidikan akan selalu berkembang dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Pendidikan akan didesain mengikuti irama perubahan tersebut.


Islam sebagai sebuah agama mengandung beberapa aspek, yang salah satu aspeknya adalah pendidikan. Betapa pentingnya pendidikan bagi Islam, tergambar dengan sangat jelas di dalam Alqur’an. Kata pendidikan di dalam Al-qur’an disebut berkali-kali dengan istilah yang berbeda, tetapi digunakan dalam konteks yang sama yaitu dalam proses pendidikan, pembelajaran atau pengajaran. Setidaknya ada tiga istilah yang digunakan Al-qur’an untuk menyebut pendidikan, istilah itu adalah : al-ta’lim, altarbiyah, al-ta’dib.Istilah al-ta’lim umumnya digunakan Al-qur’an untuk menyebut pendidikan yang dikaitkan dengan proses kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan dari guru sebagai pendidik kepada anak didik. Kata al-tarbiyah adalah istilah yang berkaitan dengan usaha menumbuhkan atau menggali segenap potensi fisik, psikis, bakat, minat, talenta dan berbagai kecakapan lainnya yang dimiliki manusia, atau mengaktualisasikan berbagai potensi manusia yang terpendam, kemudian mengembangkannya dengan cara merawat dan memupuknya dengan penuh kasih sayang. hakikatnya pendidikan dalam Islam bertujuan tidak hanya untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi juga mengisi hati dan jiwa anak didik dengan ketundukan kepada Allah SWT dan menghiasi akhlaknya dengan budi perkerti yang mulia.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, al-ta’lim dan al-ta’dib. Dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Jadi lafadz “tarbiyah” dalam Alquran dimaksudkan sebagai proses pendidikan. Namun makna pendidikan (tarbiyah) dalam Alquran tidak terbatas pada aspek kognitif berupa pengetahuan untuk selalu berbuat baik kepada orang tua akan tetapi pendidikan juga meliputi aspek afektif yang direalisasikan sebagai apresiasi atau sikap respek terhadap keduanya dengan cara menghormati mereka. Lebih dari itu konsep tarbiyah bisa juga sebagai tindakan untuk berbakti bahkan sampai kepedulian untuk mendoakannya supaya mereka mendapatkan rahmat dari Allah yang maha kuasa. Pada ayat kedua dikatakan bahwa pendidikan itu ialah mengasuh. Selain mendidik, mengasuh juga hendak memberikan perlindungan dan rasa aman. Jadi tarbiyah dalam Alquran tidak sekedar merupakan upaya pendidikan pada umumnya itu menembus aspek etika religius. 


Mendifinisikan pendidikan Islam bila ditinjau dari sudut pandang etimologi, maka kita harus melihat dari bahasa karena ajaran islam itu diturunkan diturunkan dalam bahasa tersebut. Kata pendidikan dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabbab”. Kata pengajaran dalam bahasa arabnya adalah “ta‟lim” dengan kata kerjanya adalah “allama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah wa ta‟alim” sedangkan pendidikan islam dalam bahasa arabnya adalah Tarbiyah Islamiyah.
Kata “rabba” yang berarti mendidik sudah digunakan sejak zaman nabi seperti yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Isra‟ ayat 24 :
Syed Muhammad al-Naquib al-Attas mendefinisikan pendidikan islam adalah suatu proses penamaan sesuatu kepada diri manusia. Dengan definisi ini al- Attas mengungkapkan bahwa suatu proses penanaman mengacu pada metode dan system menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap. “Sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan dan diri manusia mengacu pada penerima proses dan kandungan itu. 


B.    Sistem pendidikan Islam
Istilah sistem berasal dari bahasa yunani “ sistema “ yang artinya suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak (whole compounded of several pars).   Diantara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip pendapat, Johnson, kost, dan Rosenzweg sebagai berikut “ suatu sistem adalah suatu kebulatan / keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian bagian yang membentuk suatu kebulatan / keseluruhan yang kompleks.  Sedangkan Campbel menyatakan bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama sama berfungsi untuk mencapai tujuan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan interakasi komponen-komponen yang esensial dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Perpaduan antara keharmonisan dan keseimbangan serta interaksi unsur esensial pendidikan. Pada tahap operasional sangat menentukan keberhasilan pendidikan.


Pendidikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sejumlah komponen sistem-sistem tersebut terdiri atas instrumental input, rone input, input, process, output, envorimental dan outcomes. Atau dalam pengertian yang lain yang termasuk dalam sistem Pendidikan Islam ini iatu tujuan, peserta didik, pendidik atau guru, kurikulum, situasi lingkungan dan sarana prasarana pendidikan.


Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan merupakan salah satu komponen pendidikan, yang mana apabila salah satu komponen tidak ada, maka proses pendidikan tidak akan bisa dilaksanakan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diketahui sebelum membahas tujuan pendidikan Islam.
Menurut para ahli pendidikan seperti John S. Brubacher yang dikutip oleh Djumransyah, dalam menetapkan tujuan pendidikan dapat ditempuh dengan tiga pendekatan terpadu, yang mencakup :
  • history analysis of social institutions approach
Pendekatan melalui analisis histori lembaga-lembaga sosial adalah suatu pendekatan yang berorientasi kepada realita yang sudah ada dan telah tumbuh sepanjang sejarah bangsa itu. Pandangan hidup, kenyataan hidup, tata sosial, dan kebudayaan menjadi pusat orientasi yang akan diwarisi.
  • sociological analysis of current life approach
Pendekatan ini adalah pendekatan yang berdasarkan pada analisis tentang kehidupan yang aktual. Dengan pendekatan tersebut, dapat dilukiskan kenyataan kehidupan ini melalui analisis deskripstif tentang seluruh kehidupan masyarakat, baik aktifitas anak-anak, orang dewasa, dan motivasi mereka terhadap aktifitas tersebut, bahkan tentang minat dan tujuan aktifitas tersebut.
  • Normative philoshopy approach
Pendekatan ini melalui pendekatan nilai-nilai filsafat normatif, seperti filsafat negara dan moral. Proses pendidikan, pada dasarnya melestarikan kebudayaan dan mewariskan nilai-nilai yang hidup sebagai pandangan hidup dan filsafat hidup sebagai eksistensi bangsa dengan kebudayaan.
Pendekatan melalui ketiga aspek di atas tersebut secara terpadu diperlukan untuk memperoleh penetapan tujuan yang lebih realistis. Karena kalau dilakukan secara terpisah, misalnya melalui pendekatan historis, hasilnya dianggap tidak mampu untuk memprediksi dan merencanakan tentang bagaimana bentuk dan nilai-nilai sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama yang dikehendaki oleh generasi mendatang.


Tujuan Pendidikan Sebagaimana yang tercermin dalam undang- undang sistem pendidikan Nasional BAB II pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.   Menurut Umar Tirtaharja tujuan pendidikan harus memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah, untuk kehidupan.


Pendidik dan Peserta Didik
Pendidik merupakan salah satu kompenen yang penting dalam proses pendidikan. Dipundaknya terletak tangung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang telah diciptakan. Secara umum, pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena hak dan kewajibanya melaksanakan proses belajar. 


Menurut Ahmad tafsir, pendidik dalam islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik, baik mengupayahkan pengembangan seluruh potensi peserta didik, baik kognitif, afektif maupun potensi psikomotorik. Potensi ini dikembangkan sedemikian rupa secara seimbang sampai mencapai tingkat yang optimal. 
Ada 3 fungsi ini seorang pendidik paling tidak harus memiliki tiga kompetensi dasar ketiga potensi dasar tersebut adalah:
  1. Kompetensi personal-Religius, yaitu memiliki kepribadian berdasarkan agama islam.
  2. Kompetensi sosial religius, yaitu memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah sosial yang selaras dengan Islam.
  3. Kompetensi profesional-Religius, yaitu memiliki kemampuan menjalankan tugasnya secara profesional, yang didasarkan pada ajaran agama


Adapun tentang hakikat peserta didik, Menurut samsul Nizar menyebutkan beberapa diskripsi tentang peserta didik sebagai berikut:
  1. Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, melaikan itu memiliki dunianya sendiri. Hal ini dipahami, agar perlakuan terhadap peserta mereka dalam proses belajar pendidikan tidak disamakan dengan orang dewas.
  2. Peserta didik adalah manusia yang memiliki perbedaan dalam tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhanya.
  3. Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, baik menyangkut kebutuhan jasmani mauoun rahani.
  4. Peserta didik adalah makluk Allah yang memiliki perbedaan individual, baik yang disebabkan faktor bawaan maupun tempat tinggal.
  5. Peserta didik merupakan makhluk Allah yang terdiri dari dua unsur utama, jasmaniyah dan ruhaniya.
  6. Peserta didik adalah makluk Allah yang telah dibekali berbagai potensi(fitrah) yang perluh dikembangkan secara terpadu.


Kurikulum
Kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa Latin Curriculum, semula berarti a running course, specially a chariot race course, dan terdapat pula dalam bahasa Perancis “Courier” artinya “to run” (berlari).Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935), bahwa kurikulum: “… to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers”. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974), yang mengatakan bahwa: “…the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school”.


Eisner menjelaskan bahwa ada beberapa unsur penting dari dimensi perencanaan kurikulum. Unsur tersebut yang akan menentukan logika dan karakteristik alur dari sebuah perencanaan kurikulum.  Unsur tersebut dapat disebutkan sebagai berikut: (1) Tujuan dan prioritas (goals and priorities); (2) Isi kurikulum (content of the curriculum); (3) Jenis pembelajaran (types of learning opportunities); (4)Organisasi pembelajaran (learning organization); (5)Organisasi isi (organization of content areas); (6)Model presentasi dan respon (mode of presentation and response); dan (7)Jenis evaluasi (types of evaluation).
Dari pernyataan Eisner di atas, dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwa semua jenis perencanaan kurikulum dengan demikian terjadi pada semua tingkat pendidikan dan disesuaikan dengan tingkatan kelas. Ini terlihat dengan adanya organisasi isi dan organisasi siswa. Ini selanjutnya juga dapat menjadi catatan bahwa sebuah perencanaan kurikulum yang realistis disusun berdasarkan prinsip-prinsip penting yang harus diperhatikan.
Pertama, Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para siswa. Kedua, Perencanaan kurikulum dibuat berdasarkan berbagai keputusan tentang konten dan proses. Ketiga, Perencanaan kurikulum mengandung keputusan-keputusan tentang berbagai isu dan topik. Keempat, Perencanaan kurikulum melibatkan banyak kelompok. Kelima, Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan. Keenam, Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.


Menurut  Brady disiplin ini dalam pengembangan kurikulum adalah untuk membantu mereka memberikan guru tujuan spesifik dan perencanaan pengalaman belajar, Pertama, pertumbuhan, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan kesiapan anak (psikologi).Kedua, kondisi sosial yang telah dialami atau memungkinkan untuk menjadi pengalaman anak (sosiologi), dan Ketiga, karakteristik pengetahuan dan pengajaran (filsafat).   Pengetahuan fundamental yang menjadi dasar peren-canaan kurikulum dapat dijelaskan dari gambar berikut

Menurut Tilaar ada tiga hal yang menonjol dalam pendidikan kita sekarang ini, pertama sistem yang kaku, kedua praktik korupsi dan ketiga tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Dan sistem pendidikan kira sekarang ini belum mengantisipasi masa depan, selain itu ditambahkan beberapa hal antara lain : 
Pertama sistem Pendidikan yang masih kaku . Suatu sistem yang terperangkap dalam kekuasaan otoriter pasti akan kaku sifatnya, ciri cirinya dalam otoriter dapat dilihat dengan mudah yaitu sentralisme dan birokrasi yang ketat. Sesuai dengan asas sentralisme maka penyelenggaraan pendidikan cenderung menuruti garis petunnjuk dari atas. Segala sesuatu telah ditetapkan di dalam petunjuk teknis, tidak ada lagi tempat bagi pemikir kreatif. Organisasi pendidikan diatur begitu rupa sehingga tidak mungkin muncul terobosan dari organisasi yang dinamis karena segala sesuatunya telah ditentukan dari atas dengan alasan kesatuan persepsi, kesatuan arah, kesatuan wadah, kesatuan tekat, pokoknya keseragaman semua harus seragam dan itu berarti sama dengan apa yang ditentukan dari atas.


Ini tentu saja akan menurunkan kesatuan tujuan, kesatuan sistem dan sebaginya. Pokonya semua harus sama, seiraman dan seirama. Misalnya adanya kurikulum lokal di Perguruan Tinggi. Kurikulum lokal memang disediakan untuk memuat dengan muatan hasil kreativitas Perguruan Tinggi setempat tetapi hal baru terjadi dan belum memperhatikan hasil berarti. Sistem yang kaku ini mudah sekali dimasuki oleh kepentingan kepentingan pribadi atau kelompok, karena itu sistem pendidikan dapat saja dimasuki oleh praktek praktik sektarisme yang membahayakan bagi kesatuan nasional dan keutuhan bangsa.


Menurut Ahcmad sanusi (1998;388) kurikulum seperti ini akan membentuk sikap ketergantungan guru dan murid pada informasi yang telah disediakan, tidak ada peluang untuk mempertanyakan, memodifikasi dan menguji nilai-nilai aplikatif, kemungkinan memperoleh nilai tambah sangat kecil.
Kedua sistem pendidikan nasional kita telah diracuni oleh praktek korupsi kolusi dan nepotisme.
Mengapa hal itu mudah masuk karena sistem kita tertutup. Manipulasi dana masyarakat banyak terjadi baik untuk kepentingan organisasi politik atau kelompok ataupun kepentingan pribadi. Praktek korupsi menjadi kanker yang dapat memerosotkan mutu  pendidikan, tidak menghasilkan pencerdasan bangsa melainkan memperbodoh bangsa.
Ketiga sistem pendidikan kita tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan rakyat telah berganti dengan praktik – praktik yang memberatkan rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik. Rakyat tidak diperdayakan melainkan direpas. Mutu lulusan rendah.


Keempat sistem pendidikan kita belum mengantisipasi tantangan 25 tahun kedepan,
Sering dibicarakan oleh mentri bahwa pendidikan kita menyiapkan lulusan yang mampu hidup pada masa depan, tetapi kenyataannya tidak demikian, pengertian kurikulum hanyalah bersifat tambal sulam. Watak masa depan memang sering diungkapkan tetapi tidak diantisipasi secara mendai dalam kurikulum. Memang akhir-akhir ini ada kurikulum lokal, tetapi belum ada juga kurikulum global, sebenarnya kita lebih memerlukan kurikulum global ketimbang kurikulum global. Masa depan itu penuh tantangan moral, penggoda yang merusak akhlak semakin banyan dan semakin intensif. Tetapi belum ada antisipasi dalm kurikulum untuk menghadapi gejala itu sampai akhirnya terjadi krisis nasional yang disebabkan oleh krisis ahlak. Kurikulum kita belum mampu mempertebal keimanan siswa. Pendidikan keimanan semestinya menjadi inti sistem pendidikan, Pendidikan Islam Indonesia secara historis telah memiliki pengalaman bagaimana harus tetap bertahan dalam himpitan arus modernisasi yang kuat tanpa harus kehilangan identitas. Wujud nyata dari pengalaman tersebut adalah adanya upaya untuk mereformasi sistem pendidikan Islam sebagai jawaban atas tantangan kolonialisme dan ekspansi Kristen.  Sistem pendidikan Islam yang pada awalnya berbentuk surau  dan pesantren,  menjelma menjadi dua bentuk lembaga pendidikan Islam modern: pertama, sekolah-sekolah model Belanda tetapi diberi muatan pengajaran Islam , dan kedua, madrasah-madrasah modern yang secara terbatas mengadopsi substansi dan metodologi pendidikan modern Belanda.


Menurut Karel A. Steenbrink,  perubahan pola yang ditempuh oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia pada saat itu, merupakan bentuk reformasi sistem pendidikan Islam dalam merespon model pendidikan Belanda karena adanya resistensi sistem pendidikan yang dikembangkan pemerintah Belanda terhadap pendidikan Islam. Pemerintah Belanda mengkotegorikan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia sebagai sekolah liar.  Bahkan untuk membatasi dan menekan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut, pemerintah Belanda pada tahun 1933 mengeluarkan peraturan yang terkenal dengan wilde schoolen ordonantie.
Akibat perlakuan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda, lembaga-lembaga pendidikan Islam mengalami kesulitan berkembang dan cenderung tertutup untuk menerima pemikiran yang datang dari luar tradisi Islam dan pesantren. Namun disisi lain, perlakuan pemerintah kolonial Belanda terhadap lembaga pendidikan Islam pada saat itu justru mendorong masyarakat Islam untuk berbondong-bondong mendirikan lembaga pendidikan Islam. Mereka memiliki keyakinan dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam dapat digunakan sebagai tempat untuk mentransformasikan ajaran-ajaran Islam sambil melakukan perlawanan terhadap dominasi pemerintah kolonial Belanda. 
Pengakuan lembaga pendidikan Islam sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional saat ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan. Sebagai sebuah peluang, karena secara yuridis keberadaan lembaga pendidikan Islam telah diakui keberadaannya, sehingga eksistensinya sangat ditentukan oleh kualitas lulusan yang dihasilkan dan sejauhmana eksebilitas lulusannya dapat diterima oleh masyarakat dan dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebagai sebuah tantangan, karena saat ini sistem pendidikan nasional dihadapkan pada persoalan tentang pentingnya standarisasi mutu pendidikan dalam era global, sehingga lembaga pendidikan Islam sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional dituntut merespon kondisi ini.


Paradigma di atas tentu juga berlaku pada sistem pendidikan Islam sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional Indonesia. Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia saat ini, khususnya krisis moral dan mental menjadi poin penting dan keprihatinan bersama, terlebih ketika globalisasi menuntut adanya pembangunan karakter yang kuat. Bangsa yang lemah hanya akan menjadi sasaran empuk imperialisme modern dengan berbagai produknya baik ekonomi, politik, budaya maupun ideologi. Sistem pendidikan Islam mestinya mulai menata diri bagaimana menghadapi globalisasi yang menghadirkan 2 sisi negatif dan positif. Di antara upaya tersebut adalah memperbaiki kurikukulum, meningkatkan kualitas proses, memperbaiki manajemen dan mereformasi paradigma pendidikan yang berkembang saat ini dengan paradigma organik. Menurut Zamroni, paradigma organik bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh:  kemampuan intelektual, personal dan sosial. Institusi pendidikan merupakan gabungan berbagai interaksi baik akademik maupun non-akademik semua warga sekolah. Semua anggota sekolah menjadi pembelajar, guru belajar bagaimana melayani murid dengan baik, pimpinan belajar bagaimana mengelola keutuhan antar guru, belajar mensinergikan segala potensi yang dimiliki lembaga. Institusi pendidikan ditempatkan sebagai jaringan sosial bukan individual, sehingga dapat melahirkan energi dan kekuatan yang berpengaruh pada mutu pendidikan. Implementasi paradigma organik di madrasah sebagai sistem pendidikan Islam tidak dapat ditangani secara parsial atau setengahsetengah, tetapi memerlukan pengembangan pemikiran yang utuh dan aksi nyata secara bertahap dan sistemik.


C.    Orientasi Pendidikan Islam
Manusia dipandang oleh islam dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari raga dan jiwa (itulah diri atay self). Menurut Ibnu sina, keduanya merupakan subtansi manusia, tetapi yang esesnsial dari keduanya adalah nafs (jiwa), karena ia merupakan al – kamal daya pertama yang mendorong terjadinya pergerakan, yang disebut oleh ariestoteles sebagai entelekhiea, sedangkan tubuh merupakan wahana tempat jiwa mengembangkan diri dan mengkreasikan tindakan tindakan jiwa. Melalui pendidikan, jiwa berkembang dari yang natural (thabi’i)i menjadi yang bentuk (ikhtiary).dalam proses perkembangan jiwa yang diikhtiarkan inilah pendidikan memilihi urgensi dengan cara:
  1. Memberi tahu dan menjelaskan (to inform, to explain)
  2. Membimbing dan mengarahkan (to guide, tolead)
  3. Mengontrol dan mengendalikan perkembangan (to control)
  4. Membiasakan dan mengkondisikan perilaku (to habituate, tocondition)
Oleh karena itu,  pendidikan berperan sebagai instrumen pengubahan, pengembangan dan pengarahan mananusia, untuk menjadi manusai ideal yang diharapkan, yang memiliki kesanggupan melaksanakan fungsi kekhalifan di muka bumi dan kembali kepada Tuhan sebagai insan kamil. Dalam proses ini kemanakah pendidikan islam diorientasikan ?
1.    Duniawi -ukhrawi
Pendidikan menurut konsepsi Islam bertugas mengubah orientasi alami kehidupan dari duniawi, yang didorong oleh kehendak alami (kebutuhan, needs, wants statisfaction, hawa nafsu, drives)menjadi orientasi ukhrawi, yang didorong oleh kesadaran kebaikan didalamnya   (spirit, ruh, to agathon, summum bonum). Menurut Hasal langgung (1980;94) menyatakan yang membedakan pendidikan islam dengan pendidikan lainnya adalah (Islam) mendidik anak didiknya agar beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya diakhirat. Ia meletakkan pembeda ini sebagai fungsi keempat sistem pendidikan Islam. Fungsi ini mempertautkan ketiga fungsi pendidikan yang lainnya yaitu :
  1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peran tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang
  2. Mentransfer ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peran – peran kemasyarakatan dari generasi tua kepada generasi muda
  3. Menstransfer nilai nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat. Dalam konteks ini selama di dunia manusia harus melaksanakan fungsinya sebagai khalifah. 
2.    Ruhani Vs badani
Dalam pembentukan jiwa, Pendidikan Islam oleh karena itu, lebih menekankan pada aspek rohani melalui tazkiyyah al – nafs, sedangkan aspek badani (material) dididik untuk siap dan ditundukkan oleh daya rohani ini. Diri yang kuat menurut Islam bukanlah diri yang secara fisik memiliki tenaga yang kuat, tetapi diri yang memiliki kekuatan spiritual dalam mengalahkan dorongan-dorongan fisikal. Dalam konteks ini pendidikan Islam mengiring manusia “menuju” kesempurnaan kemanusiannya, yaitu pemantapan kualitas kejiwaannya yang dikendalikan oleh daya rohani dan terbebas. Inilah yang disebut insan kamil.


3.    Pendidikan Islam antara membebaskan dan mengikatkan.

Ionescu berpandangan bahwa teleologis pendidikan berkaitan dengan pertanyaan dari apa kita mesti membebaskan diri agar hidup lebih baik dan bermatabat ? –undang-undang, kekuasaan  politik atau agama ? demikian juga Paulo freire menegaskan bahwa “ pendidikan harus ditujukan untuk pembebasan yaitu agar orang mampu...menentukan pilihannya, tidak berfihak pada keyakinan, agama atau ideologi tertentu.  Islam menjawab bahwa pendidikan adalah untuk kepentingan membebaskan manusia dari tirani manusia, dan mengikatkan jiwa pada ikatan yang kokoh (yaitu aqidah) melalui keterikatan pada normatif ilahhiyah (hablun mina Allah” yang bersifat tetap) dan keterkaitan pada normatif sosial (hablum mina nas”) yang merupakan hasil kesepakatan.
Pendidikan Islam mengarahkan potensi manusia ke arah yang positif sehingga terbentuk manusia sebagai kekuatan aktif yang sanggup membebaskan diri dari teranisme, baik tiranisme pada dirinya (ideologi, kekuasaan, tradisi) atau pada yang lainnya (eksploitasi, perudakan, kekerasan) sehingga masyarakat terbebas dari adagium “I expoitation de i home par I’ home” yaitu eksploitasi manusia oleh manusia yang lainnya, atau theisis manusa sebagai “home-homini-lupus” yaitu makhluk yang memangsa manusia lainnya. Sebaliknya, pendidikan Islam melahirkan masyarakat yang merdeka per indovidu secara batin.


Pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apa saja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas.  semestinya “sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasi diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat kita sebagai konsekuensi logis dari perubahan , jika tidak, maka pendidikan Islam di Indonesia akan mengalami ketinggalan dalam persaingan global.
Orientasi pendidikan Islam di Indonesia masih mengalami perbedaan pendapat, terutama dalam menentukan pola, arah, dan capaian tertentu yang diinginkan, sehingga pendidikan Islam belum mendapat pengakuan secara internasional dalam era global ini maka seyogyanya orientasi pendidikan Islam bukan hanya dengan model-model pendidikan dan pembelajaran seperti yang sudah ada sekarang ini, yang seharusnya terus menerus melakukan reformasi (pembaruan) dan inovasi serta kerja keras untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan menuju langkah baru ke arah kemajuan dan perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman sehingga pemerataan, mutu, relevansi, dan efektif dan efisiensi dari pendidikan dapat diselesaikan dengan baik dan benar, hal itu karena tuntutan globalisasi bukan lagi hanya sampai tingkat mengenyam pendidikan akan tetapi keperluan akan keterampilan yang bisa menjadi nilai jual bagi diri, masyarakat dan negaranya. Selain itu juga perlu usaha penelaahan kembali atas aspek-aspek sistem pendidikan yang berorientasi pada rumusan tujuan yang baru. 



Lembaga pendidikan Islam sekarang lebih pada orientasi yang bersifat transfer of knowledge and skill dalam mengembangkan proses intelektualisasi dan kurang memperhatikan dalam pembinaan “qalbun salim” dengan berupaya terwujudnya generasi yang memiliki “bastatan fil-ilmi wal jism” yang diliputi oleh spritualisasi dm disiplin moral yang islami. Pada akhirnya wawasan pendidikan agama menjadi terbelah.

Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh lulusan muslim di Indonesia belum kapabel dan masih rendahnya mutu, maka diharapkan mutu lulusan di sekolah atau perguruan tinggi dapat menghasilkan sumber daya manusia yang dapat berdaya saing di era globaliasasi ini sehingga mempunyai nilai jual yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Semua permasalahan yang memperlemah kondisi umat harus diselesaikan melalui upaya strategis dalam memperkuat sumber daya umat Islam dengan cara memperoleh pendidikan keterampilan mulai dari bahasa asing, komputer, internet, teknologi dan pemberian beasiswa untuk belajar ke dalam dan luar negeri sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, hendaknya setiap individu harus memiliki landasan dan kemampuan yang meliputi perilaku, kerja keras disiplin, tanggung jawab yang dapat dipercaya dan sejenisnya dengan berpedoman pada ajaran al-Qur’an dan al-Hadit’s.
Dalam peningkatan sumber daya manusia yang handal dan kompeten adalah merupakan tanggung jawab dan kapasitas pemerintah dan masyarakat termasuklah orangtua yang seharusnya memperhatikan pembinaan dan pendidikan anak-anak sebagai generasi penerus, dan tidak membiarkan pertumbuhan anak berjalan tanpa bimbingan, atau diserahkan pada guru sekolah saja atau pembantu rumah tangga. Inilah kekeliruan yang banyak terjadi dalam realitas kehidupan kita.


Informasi dan Teknologi
Adanya keinginan untuk melakukan perubahan paradigma pendidikan dari buta huruf dan melek huruf menjadi melek informasi, keinginan ini menjadi sebuah capaian tujuan baru bagi pendidikan Islam, sehingga pemimpin Islam harus merubah strategi pendidikan yang ada disesuaikan dengan tuntutan globalisasi. Disadari atau tidak, bersamaan dengan derasnya arus globalisasi yang tidak bisa dikendalikan itu, kemajuan-kemajuan tersebut secara meyakinkan mengubah dan mengarahkan kebudayaan dan bahkan melebihi angan-angan. Kemajuan teknologi beserta dampaknya telah menguasai hampir seluruh masyarakat dunia. Karena itulah, barangkali, Lucian W. Pye menetapkan modernitas adalah budaya dunia.


Di era globalisasi sebuah lembaga pendidikan mesti memiliki kualifikasi tertentu yang bertaraf internasional. Sebagaimana diketahui, orientasi pendidikan Islam di Indonesia masih belum begitu jelas, terutama dalam menentukan pola, arah, dan capaian tertentu yang diinginkan, sehingga pendidikan Islam kita dapat diakui secara internasional. Tantangan pendidikan Islam yang sudah diharuskan memiliki kualifikasi internasional, tidak lepas dari pandangan tentang studi Islam, yang selama ini diperdebatkan antara studi Islam di Timur dan Barat.
Paradigma Islam Tentang Tantangan dan Peluang Pendidikan

Dalam kehidupan sekarang ini kita menyadari bahwa munculnya peradaban modern-industrial yang dipercepar oleh era globalisasi merupakan rangkaian dari kemajuan Barat pasca-renaissance yang membawa nilai antroposentrisme dan humanisme sekuler. Paham yang mendewakan kedigjayaan manusia dan dunia secara faktual ini mengakibatkan munculnya banyak persoalan kemanusiaan dalam bentuk krisis moral, krisis spiritual dan krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia.  Dalam kerangka melihat persoalan umat manusia yang cukup serius berkaitan dengan kemodernan dan era globalisasi inilah maka amat perlu dilakukan upaya reaktualisasi pemikiran keagamaan yang mampu memberikan arah sekaligus nilai dan kerangka berpikir yang tepat dalam kehidupan manusia. Paradigma al-Qur‘an sebagai suatu konstruksi pengetahuan bisa memungkinkan untuk memahami realitas sosial sebagaimana al-Qur‘an sendiri memahaminya. Al-Qur‘an membangun konstruksi pengetahuan agar kita memiliki ―hikmah‖ yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normative baik pada level moral maupun sosial.


Demikian pula Suyanto (2000) mengemukakan bahwa dalam kehidupan sekarang ini amat perlu membangun masyarakat sadar akan belajar (learning society). learning society merupakan sendi dasar yang amat penting dalam meningkatkan gairah kompetisi di dalam era globalisasi. Dari kenyataan inilah maka sangat perlu dikembangkan tiga tuntutan terhadap kualitas sumber daya manusia di era globalisasi, yaitu (1) SDM yang unggul; (2) adanya manusia yang terus menerus belajar; (3) perlunya dikembangkan nilai-nilai yang sesuai bagi kehidupan manusia di abad ke 21.


Peluang Pendidikan Islam
Peluang pendidikan Islam seharusnya bisa ditangkap, diraih dan dimanfaatkan oleh para pemerhati pendidikan dalam rangka pelaksanaan dan implementasi nilai dan tujuan untuk menyongsong masa depan yang penuh kompetisi ditandai dengan munculnya era Masyarakat Ekonomi Asean. Adapun peluang pendidikan Islam bisa dideskripsikan di antaranya :
  1. Peningkatan fungsi dan peranan. Seperti kita ketahui beberapa tahun belakangan fungsi dan peran pendidikan Islam sangat terbatas, dan kadangkadang terjadi diskriminasi. Outputnya tidak dapat diterima pada jenjang tertentu atau kemampuannya diragukan pada lapangan kerja tertentu. Namun sejak diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan berbagai peraturan penjabarannya, fungsi dan peran lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi sudah diperluas bahkan sudah terbuka lebar. Karena itu, peluang ini harus diraih dan didayagunakan oleh segenap potensi penyelenggara pendidikan Islam.
  2. Peningkatan persaingan dan antisipasi agama. Selaras dengan era globalisasi, di mana pemikiran manusia semakin kompleks dan menimbulkan kebingungan dalam masyarakat, perlu adanya pendekatan sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai agama. Namun persoalannya, dalam kondisi yang serba rasionalis, orang menjadi tidak mudah mengambil konsep agama secara komprehensif, baik kepada peserta didik maupun kepada masyarakat luas.
  3. Pengembangan kelembagaan. Kesempatan meningkatkan fungsi dan peranan lembaga pendidikan Islam dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat seharusnya mendorong umat Islam bisa mengelola pendidikan Islam dengan lebih baik sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini ada dua sasaran utama, yaitu perluasan bidang garapan dan peningkatan kualitas proses serta output hasil pendidikan. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sebab bila tidak maka lembaga pendidikan Islam tidak akan mampu berkompetisi yang akhirya akan ditinggalkan umat.
  4. Kerjasama. Di era globalisasi yang penuh kompetisi, sangat sulit bagi suatu lembaga pendidikan dapat berjalan dan berkembang sendiri tanpa mau terlibat dan melibatkan pihak lain. Ini berarti solusi utamanya adalah harus mampu menciptakan kerjasama kelembagaan yang saling menguntungkan.
  5. Tantangan pendidikan Islam terus bergulir sejak masa Orde Lama hingga masa reformasi sekarang ini. Tantangan yang sekarang dihadapi adalah sejalan dengan peran yang harus dimanfaatkan oleh umat Islam untuk ikut serta terlibat dalam melakukan penataan ulang seluruh aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya menurut cara-cara yang lebih demokratis, transparan, berkeadilan, jujur, amanah, manusiawi dan modern melalui konsep masyarakat madani yang berbasis al-Qur‘an dan Sunnah Nabi. Tantangan lainnya yang dihadapi pendidikan islam adalah berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi dunia yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi.


Kehidupan masa mendatang yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dampak yang bersifat multidimensional mengharuskan pendidikan Islam supaya bisa melahirkan manusia yang mampu menjalani kehidupan (preparing children for life), dan bukan hanya sekedar didik yang dapat bekerja. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan manusia yang berorientasi ke masa depan, bersikap progresif, mampu memilih dan memilah secara baik, dan membuat perencanaan dengan baik. Lulusan pendidikan yang dihasilkan lembaga pendidikan Islam di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah bukan sekedar anak yang mengetahui sesuatu (learning to know) melainkan juga dapat mengamalkan secara benar (learning to do), mempengaruhi dirinya (learning to be), dan membangun kemitraan dengan sesama (learning to live together).


Abuddin Nata mengemukakan tantangan-tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di era kekinian menghadapi pertarungan ideologi-ideologi besar
dunia ditandai oleh lima kecenderungan sebagai berikut :
  1. Kecenderungan integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam dunia pendidikan. Munculnya konsep pendidikan yang berbasis pada sistem dan infra-struktur, manajemen berbasis mutu terpadu (TQM), interpreneur university dan lahirnya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) tidak lain, karena menempatkan pendidikan sebagai komoditi yang diperdagangkan.
  2. Kecenderungan fragmentasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat. Mereka semakin membutuhkan perlakuan yang adil, demokratis, egaliter, transparan, akuntabel, cepat, tepat dan profesional. Mereka ingin dilayani dengan baik dan memuaskan. dan kebebasan kepada peserta didik, yaitu model belajar mengajar yang partisipatif, aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Paikem).
  3. Kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technologie) khususnya
  4. teknologi komunikasi dan informasi (TKI) seperti komputer. Kehadiran TKI ini menyebabkan terjadinya tuntutan dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, transparan, tidak dibatasi waktu dan tempat.
  5. Kecenderungan interdependensi (saling tergantungan), yaitu suatu keadaan di mana seseorang baru dapat memenuhi kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain.
  6. Kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (newcolonization in culture) yang mengakibatkan terjadinya pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan, yaitu dari yang semula mereka belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan intelektual, moral, fisik dan psikisnya, berubah menjadi belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar.
Saat ini sebelum seseorang belajar atau masuk kuliah misalnya, terlebih dahulu bertanya: nanti setelah lulus bisa jadi apa? Dan berapa gajinya?. Program program studi yang tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan sendirinya akan terpinggirkan atau tidak diminati. Sedangkan program-program studi yang menawarkan pekerjaan dan penghasilan yang baik bagi lulusannya akan sangat diminati. Tidak hanya itu, kecenderungan penjajahan baru dalam bidang kebudayaan juga telah menyebabkan munculnya budaya pop atau budaya urban, yaitu budaya yang serba hedonistik, materialistik, rasional, ingin serba cepat, praktis, pragmatis dan instans.
Kecenderungan budaya yang demikian itu menyebabkan ajaran agama yang bersifat normatif dan menjanjikan masa depan yang baik (di akhirat) kurang diminati. Mereka menuntut ajaran agama yang sesuai dengan budaya pop dan budaya urban. Dalam keadaan demikian, tidaklah mengherankan jika mata pelajaran agama yang disajikan secara normatif dan konvensional output menjadi tidak menarik dan ketinggalan zaman. Keadaan ini mengharuskan para guru atau ahli agama untuk melakukan reformulasi, reaktulisasi, dan kontekstualisasi terhadap ajaran agama, sehingga ajaran agama tersebut akan terasa efektif dan transformatif


BAB III
PENUTUP
Perubahan besar masyarakat abad ke-21 merupakan masyarakat transisi. Perubahan itu berdasarkan kehidupan agraris ke masyarakat industry dan informasi dengan kehidupan yang berbeda, menggambarkan corak masyarakat yang berkembang di masa sekarang dan masa akan datang berkembangnya penggunaan teknologi di dalam kehidupan, tumbuhnya masyarakat sadar informasi, dan juga kehidupan menjadi semakin sistemik dan terbuka. Dalam era globalisasi ini niscaya proses modernisasi terjadi dalam kehidupan manusia, karena berbagai pemenuhan tuntutan manusia dan perkembangan kemajuan bidang-bidang iptek, terutama dalam dunia informasi dan inovasi baru yang membawa perubahan drastis.
ALMUMTAZ.WIKI-

Menghadapi keadaan yang demikian, pendidikan Islam pun mesti berupaya meletakkan posisinya kepada kedudukan yang strategis bukan saja dalam rangka membangun manusia yang utuh menyeluruh, Pendidikan Islam juga diharapkan mampu membangun konstruksi corak keilmuan dan teknologi yang integrative dalam kehidupan mewujudkan aktualisasi dirinya bagi kehidupan yang utuh dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kehidupan. Kesemuanya ini tentu saja tidak bisa lepas dari konsep ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman yang dikembangkan secara integratif. Pratiknya mengemukakan bahwa sumber daya manusia yang berkualitas menyangkut tiga dimensi: (1) dimensi ekonomi, (2) dimensi budaya, dan (3) dimensi spiritual (iman dan takwa). Upaya mengembangkan kualitas manusia lewat pendidikan perlu mengacu pada nilai tambah dari ketiga dimensi di atas, yakni nilai tambah ekonomis, nilai tambah budaya dan nilai tambah spiritual. kerangka pendidikan Islam sebagai proses pengembangan manusia secara makro meliputi beberapa proses yaitu proses pembudayaan, proses pembinaan iman dan takwa (imtak) dan proses pembinaan iptek. Sejalan dengan inilah pendidikan Islam dalam pengembangan sumber daya manusia secara mikro merupakan proses transfer of knowledge, transfer of methodology, dan transfer of value.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim , Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoris dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002).
Ahmad D. Marimba, pengantar Filsafat pendidikan, (Bandung: al-Ma‟arif, 1980), cet. Ke-4,
Anas Sudjana, Pengantar Administrasi Pendidikan sebagai suatu sistem, (Bandung; Rosdakarya; 1997).
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam Prespektif Islam, Remaja Rosdakarya (Bandung:1994),
Al Muhtar, sumarna, The Study of Philosophy and socio-cultur Issues in the Developmet of national Education for the future definition of Indonesia’s teacher Educatian, A New Philosophy for Teacher education, (2013, tidak dipublikasikan),
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Ciputat: Logos, 2000),
Brady, L. (1990). Curriculum Development, Third Edition, New York, London, Prentice Hall.
Djumransyah, Filsfat Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam (Malang: Bayumedia, 2006),
Depdiknas, UU No. 20 Tahun 2003. Tentang system Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
Eisner, E. W. (2002). The Educational Imagination on the Design and Evaluation of School Programs, Third Edition, Ohio, Meril Prentice Hall.
Jusuf Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Gema Insani Press, Jakarta, 1995).
Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (Jakarta: LP3ES, 1994).
Komaruddin Hidayat, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: Paramadina, 1995).
Khamami Zada, “Orientasi Studi Islam di Indonesia Mengenal Pendidikan Kelas Internasional di Lingkungan PTAI”, Istiqro: Jurnal Penelitian Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Vol, VI/No. O2/20013, (Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia, 2003),
Marwan saridjo,  Mereka bicara Pendidikan Islam sebuah bunga rampai, , PT. Rajagrafindo Persada, 2009 cet 1,
Muslim Usa, Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, (Tiara Wacana, Yogyakarta, 1991).
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoristis dan Praktis, (Jakarta : Ciputra Pers, 2002), cet. Ke-1.
Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung, Mizan,1994), cet. Ke-VI.
Tatang Amirin, Pengantar Sistem, (Jakarta; Rajawali Press, 1886).
Zamroni. Pendidikan dan Demokrasi dalam Transisi:Prakondisi menuju era Globalisasi. Jakarta: PSAP Muhammadiyah.
SISTEM DAN ORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on August 07, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.