Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

VENOMENA ALIRAN - ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM YANG WAJIB DI KETAHUI


VENOMENA ALIRAN - ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM YANG WAJIB DI KETAHUI

ALIRAN - ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah  Filsafat Ilmu:Teori dan Praktik dalam Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:  Prof Dr Abdurrahman Assegaf,M.Ag & Dr. Usman,S.S, M.Ag

A.    Latar belakang masalah
Islam sebagai agama universal mempunyai ajaran yang sangat pleksibel sehingga ia dapat dikatakan shalih li kulli zaman wa makan (cocok untuk semua zaman dan tempat) dan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, di antaranya adalah aspek pendidikan, ekonomi, politik, sejarah dan lain sebagainya. Dalam mengajarkan dan menyebarkan risalah yang diemban oleh Beliau. Hal ini terlihat dari adanya wahyu pertama yang diturunkan kepadanya yang diawali dengan kata Iqra'(perintah membaca.  Disamping itu, Islam juga menyampaikan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sejak adanya manusia, meskipun tidak dalam bentuk seperti yang disaksikan dan dialami manusia didik sekarang.

Islam telah menyampaikan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk paedagogik, dalam pengertian bahwa manusia adalah bisa dididik dan memang memerlukan pendidikan.  Pendidikanlah yang bisa mengangkat derajat manusia bahkan membedakannya dengan makhluk yang lain. Status sosial pun akan jauh berbeda di tengah-tengah masyarakat, bilamana seseorang memiliki pendidikan yang tinggi.

Dengan segala potensi yang dimiliki, manusia bisa dengan mudah menerima pendidikan dan pengajaran yang selanjutnya mengubah dan mengembangkan apa yang diperoleh dari proses pendidikan itu. Selain itu, manusia mempunyai sifat alamiah (kodrati)yaitu perasaan ingin tahu. Dari rasa ingin tahu manusia itu menjadikan hidupnya dinamis dan selalu berusaha mencari jawaban-jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya dengan melakukan renungan-renungan, pemikiran yang mendalam ataupun melalui eksperimentasi.

Atas dasar ini, para filosof dan psikologi pendidikan mengemukakan pemikirannya tentang adanya kemungkinan manusia bisa dididik dan menerima pendidikan. Para ahli Islam maupun non Islam mengemukakan pendangannya tentang adanya sesuatu yang melekat pada diri manusia yang dibawa sejak lahir dengan berbagai kemungkinan untuk bisa dikembangkan atau ada hal-hal lain yang bisa mempengaruhinya. Sehingga dengan demikian melahirkan pandangan yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan sudut pandang mereka. Dan lahirlah berbagai aliran-aliran dalam pendidikan seperti naturalisme, nativisme, emperisme, konvergensi,progresivisme, dan konstruktivisme, dan tidak akan ketinggalan pula mengenai aliran-aliran dalam pendidikan Islam.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka timbullah rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:
1.  Apa pengertian dasar aliran pendidikan Islam?
2.    Apa aliran-aliran dalam pendidikan?
3.    Apa aliran-aliran pendidikan Islam menurut para ahli tokoh pendidikan Islam?


PEMBAHASAN
A.    Pengertian dasar aliran pendidikan islam
Secara etimologi, kata "aliran" adalah bentuk nomina dari kata "alir" yang kemudian mendapat akhiran "an" yang berarti haluan, pendapat dan paham.  Sedangkan di dalam literatur Arab disebut dengan Al-Mazhab.  Kata aliran atau mazhab secara erminologi adalah pendapat atau pemikiran seseorang dalam memahami sesuatu baik dalam bidang filsafat, hukum, politik, ekonomi dan lain-lain yang kemudian diikuti oleh beberapakelompok orang.

Pendidikan Islam menurut Abd. Rahman Getteng adalah usaha membina dan mengembangkan potensi manusia baik jesmani maupun rohani agar tujuan kehadirannya di dunia sebagai hamba dan khalifah Allah bisa terwujud dengan baik.

Abd. Rahman Al-Nahlawi mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan pikiran manusia, menata tingkah lakunya, emosinya pada seluruh aspek kehidupan agar tujuan yang dikehendaki bisa terealisasi.

Dengan demikian, secara operasionalaliran pendidikan Islam adalah paham atau pemikiran pendidikan Islam sebagai titik tolak dalam membina dan mengembankan potensi-potensi manusia serta hal-hal yang mempengaruhinya sesuai pandangan Islam.

B.    Aliran – aliran dalam pendidikan islam
1.    Aliran Nativisme
Aliran ini mempunyai doktrin filosofis yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran pendidikan, bahkan aliran ini pernah mewarnai dunia pemikiran pendidikan.  Tokohnya adalah Arthur schopenhour (1788-1860) yang berpandangan bahwa anak yang lahir sudah mempunyai potensi yang mempengaruhi hasil dari perkembangan selanjutnya.   Pendidikan sama sekali tidak mempunyai daya atau kekuatan untuk mempengaruhi anak. Pendidikan hanya memberi polesan kulit luar dari tingkah laku sosial anak, sedangkan bagian internal dari kepribadian anak didik tidak dapat ditentukan. Aliran ini disebut pula dengan aliran pesimisme karena tidak adanya kepercayaan akan nilai-nilai dari pendidikan sehingga anak itu diterima apa adanya.

Sukses tidaknya suatu proses pendidikan menurut aliran notivisme sangat di tentukan oleh tinggi rendahnya kualitas hereditas yang dimiliki oleh anak. Pembawan yang sifatnya kodrati tidak bisa di ubah-ubah, dan ia menjadi penentu masa depan seorang anak. Meskipun telah diberikan pendidikan sedemikian rupa jika mutu hereditasnya rendah maka hasilnya tetap rendah pula. Naturalisme pun mempunyai pandangan yang hampir sama dengan nativisme di atas. Perbedaanya hanya berada pada aspek penekanan baik buruknya pembawaan itu.

Tokoh aliran ini adalah Jean Jacques Roesseu (1712-1778). Ia lahir di Geneva Swiss, karena ketidak puasan di negerinya serta kehidupan yang tidak menentu, maka pada tahun 1728 ia melarikan diri ke Prancis setelah ia bekerja pada tukang ukir yang suka menghukumnya.  Hidup di tengah masyarakat yang dianggap sudah modern tetapi moral mereka bobrok dan keadaanya sebagai seorang pelarian sangat mempengaruhi alur pemikirannya.

Roesseau berpendapat bahwa segala sesuatu yang datang dari alam itu adalah baik, tetapi setelah tiba pada manusia bisa saja ia menjadi buruk. Maka untuk membimbing seorang anak cukuplah berdasar pada keinginan dan pembawaanya.   Roesseu menganggap bahwa lingkungan atau masyarakat adalah sumber dari segala kerusakan dan keburukan. Seorang anak harus di hindarkan dari hal-hal tersebut sehingga ia tumbuh dan berkembang secara alamiah. Aliran ini disebut juga aliran negatifisme karena menganggap bahwa proses pendidikan itu di lakukan dengan memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada anak didikuntuk tumbuh dan berkembang dengan sendirinya lalu kemudian memberikan sepenuhnya kepada alam sebagai pelaksanaan pendidikan agar pembawaan anak bisa tetap terjaga dan tidak dirusak oleh tangan-tangan manusia karena kesalahan dalam mendidik.

Roesseuau sangat optimis terhadap pembawaan baik dan positif dari manusia yang baik. Pembawaan sifatnya natural (berasal dari alam), maka manusia harus dididik dari alam pula. Roesseau memberi contoh yang dilakukan oleh alam, seorang anak di saat bermain-main dengan pisau, lalu teriris tangannya, maka minimal anak tersebut berhati-hati menggunakan pisau kedua kalinya mengingat bahaya yang ditimbulkan di saat ceroboh dalam menggunakannya. Begitu juga seorang anak tidak mau lengah ada waktu menutup pintu rumahnya karena pernah merasakan bagaimana sakitnya dijepit pintu. Disini, alamlah yang mengajari anak tersebut dan menjadikan ia sadar dan mengerti akan hal-hal yang di perbuatnya. Pandangan-pandangan naturalisme yang di kemukakan oleh roesseau di atas berhasil mengokohkan dirinya sebagai tokoh seorang tokoh naturalisme dalam sebuah karya monumentalnya ‘Emile’ masih dapat dibaca hingga sekarang dalam lingkungan pendidikan.

2.    Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada pada persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang di pelopori oleh J.J Rousseau (1712-1778) Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses pembelajaran (M. Arifin dan Amiruddin R, galaman sendiri). Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri secara alami.

Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar tergantung pada diri anak didik sendiri. Program pendidikan di sekolah harus di sesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.

3.    Aliran Empirisme
Tokoh utamanya adalah John Lock, (1632-1704) dilahirkan di Inggris dari keluarga tedidik.  Ia dianggap sebagai pemberi titik terang dalam perkembangan psikologi di karenakan teorinya seakan memberi paradigma baru dalam pemikiran pendidikan.  Teorinya yang terkenal adalah teori tabula rasa yang mengibaratkan anak yang baru lahir bagaikan kertas putih bersih (kosong) atau meja yang berlapis lilin. Di atas kertas atau lilin itu dapat ditulis apa saja sesuai dengan keinginan.
Teori tabula rasa yang di kemukakan oleh John Lock menekankan arti penting dari pengalaman dan lingkungan dalam mendidik anak. Ada pun pembawaan itu di anggap tidak berpengaruh pada aspek pendidikan anak. Karena penekanan pendidikan terletak pada aspek lingkunga dan pengalaman, maka alirannya dikatakan bercorak empiris.  John Lock berusaha mendekatkan pendidikan itu dengan situasi.

Aliran ini kemudian menjadi sangat terkenal karena keoptimisannya dalam mendidik yang tidak mengenal putus asa. Aliran ini menganggap bahwa ia bisa saja menjadikan anak itu sebagai seorang ahli kimia misalnya meskipun tidak terlahir dari keluarga ahli kimia atau menjadikan anak itu artis meskipun ia tidak berasal dari keluarga seniman. Hanya saja seorang anak diusahakan di pola sedemikian rupa bagaikan sebuah robot yang harus mengikuti keinginan dari pendidiknya atau penutupnya untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Aliran ini sangat bertolak belakang dari aliran nativisme dan naturalisme.

4.    Aliran Konvergensi
Aliran ini di perkenalkan oleh seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman bernama Willian Sterm. Lahir di jerman pada tanggal 28 April 1871. William Sterm berpandangn bahwa antara hereditas dan mlliu saling berkaitan dan saling memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.  Secara kodrati, manusia telah dibekali dengan bakat atau potensi. Akan tetapi untuk berkembang ke arah yang lebih baik perlu adanya pengaruh dari luar berupa tuntunan dan bimbingan melalui pendidikan.

Siterm berusaha menyatukan dua aliran yang bertolak belakang yaitu nativisme/naturalisme dan emperisme dalam memandang manusia sebagai peserta didik karen bagaimana pun juga, jika yang di ambil hanya salah satunya berarti pendidikan itu akan berjalan pincang, karena dua hal yang semestinya berjalan beriringan namun dipisahkan. Pemisahan salah satu dari keduanya berarti mengabaikan teori keseimbangan antara bawaan (hereditas) yang muncul sejak manusia itu lahir dan lingkungan sebagai bentuk interaksi anak terhadap lingkungannya. Sebagai anak yang lahir di tengah-tegah keluarga agamawan bisa saja ia menjadi ahli agama jika diberi pendidikan sejak kecil dalam lingkungan keagamaan.

Aliran konvergensi adalah aliran yang banyak dianut oleh para pendidik dewasa ini. Sementara aliran nativisme dan emperisme telah mulai usang dan mulai banyak ditinggalkan oleh penganutnya. Dalam pandangan Islam, kemampuan dasar atau pembawaaan di sebut dengan "fitrah". Secara etimologis, "fitrah" berarti "sifat asal, kesucian, bakat, dan pembawaan. Secara terminologi, Muhammad Al-Jurjani menyebutkan, bahwa "fitrah" adalah tabiat yang siap untuk menerima agama Islam.

Kata fitrah di sebutkan dalam Al-Qur’an pada surah Ar-Rum ayat 30 sebagai berikut:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Dalam kaitannya dengan teori kependidikan dapat di katakan, bahwa fitrah mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham converagent. Karena fitrah mengandung makna kejadian yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus yaitu Islam.Namun potensi dasar ini bisa di ubah oleh lingkungan sekitarnya.

5.    Aliran Progresivisme
Tokoh aliran progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat mengahadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan-kelebihan jika dibandingkan dengan mahluk lain.
Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang di dukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya. Peserta didik tidak hanya di pandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada di dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu di optimalkan. Artinya, peserta didik di beri kesempatan untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.

6.    Aliran Konstruktivisme
Gagasan pokok aliran ini di awali oleh Giambatista Vico, seorang epistemiolog Italia. Ia di pandang sebagai cikal bakal lahirnya konstruktivisme. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika mengetahi. Hanya Tuhan yang mengetahui segala sesuatu karena dia pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang di konstruksikan Tuhan. Bagi Vico, pengetahuan dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak bisa lepas dari subjek yang mengetahui.
Aliran ini di kembangkan oleh Jean Piaget, melalui teori perkembangan kognitif, piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang. Menurut piaget, mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat terbentuk pengertian baru, (Pul Suparno, 1997:33). Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif di pengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.

C.    Aliran – aliran pendidikan islam menurut para ahli tokoh pendidikan islam
Islam mengajarkan kepada manusia melalui kitabnya dan memperkenalkan kata kunci untuk memahami manusia secara komperehensif dengan kata insan dan basyar. Kata insan merunjuk kepada proses perkembangan manusia yang bergantung kepada lingkungannya, sehingga penalaran, kematangan, kesadaran dan sikap hidup yang terkait dengan pendidikan yang terjadi dalam masyarakat selalu dinamis. Rasulullah telah memberikan tuntunan tentang bagaimana cara pandang orang mukmin terhadap anak sebagai orang yang akan dididik seperti yang tercermin adalah sebuah hadisnya:
كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْ لَدُ عَلَيْ اَلْفِتْرَةِ فَأَ بَوَاْهُ يُهَوِّدَانُهُ أَوْ يُنَصِّرَا نُهُ أَوْ مُيَجِّسِا نُهُ...
"Semua anak di lahirkan dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani dan Majusi".

Dari hadis di atas dapat di pahami bahwa manusia yang baru lahir sudah membawa potensi, akan tetapi potensi itu baru bisa berkembang dengan baik jika didukung oleh faktor lingkungan.
Tampaknya para pemikir Islam telah merumuskan aliran konvergensi walaupun tidak disebut sebagai teori konvergensi jauh sebelum Sterm. Ibn Mizkawaih misalnya dalam bukunya Tahzib akhlak berpendapat bahwa tiap benda itu mempunyai form atau bentuknya masing-masing sehingga tidak bisa menerima bentuk lain. Pada manusia, meskipun mempunyai pembawaan yang lemah bisa saja diubah menjadi cepat atau lambat melalui disiplin tertentu.
Ibn Sina salah seorang tokoh filosof muslim berpendapat bahwa seorang anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan alamiah, akan tetapi mengandalkan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang, dan harus ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Seorang anak yang lahir dari keluarga dokter belum tentu ia dapat mengikuti profesi keluarganya kalau ia tidak di bekali dan dasari dengan bakat serta kecenderungan anak itu ataupun hal-hal lain yang mempengaruhinya.

Menurut Al-Gazali, anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri, kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya. Kesemuanya itu perlu diberi pendidikan. Jika ia bengkok maka harus diluruskan, jika salah maka harus dibenarkan dan jika sudah benar maka harus diarahkan pada pengembangannya.   Faktor internal dan eksternal keduanya sangat berperan dalam perkembangan anak didik.

Berdasarkan uraian kedua tokoh tersebut, maka dapat di pahami bahwa:
1.    Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan dalam proses perkembangannya dan hubungannya dengan proses belajar.
2.    Islam telah memberi petunjuk tentang adanya konsep insan dan basyr dalam Al-Qur'an dan yang mana kedua hal ini mengarh kepada potensi manusia dan lingkungan mnusia yang mempengaruhi pendidikannya.
3.    Tokoh-tokoh pemikir islm dalam mengajukan tesisnya tentang pendidikan mengarah kepada aliran konvergensi yang mengakui adanya penyatuan kedua hal itu- melliu dan hereditas berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai obyek atau manusia didik.
Beberapa Aliran Pendidikan Islam antara lain sebagai berikut:
1.    Aliran Religius Konservatif (al- Diniy al- Muhafidz)
Konservatif: penafsiran terhadap realitas dunia berpangkal dari ajaran agama sehingga semua yang menyangkut tujuan belajar, pembagian ilmu yang dicari oleh pembelajar, etika  mu’allim dan muta’allim   dan lain sebagainya harus dibingkai dengan ajaran agama. Persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan. Memaknai ilmu dengan pengertian yang lebih sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat.

Aliran ini (konservatif) diwakili oleh Imam al Gazali, Syekh al-Thusi, Ibnu Jama’ah, Sahnun, Ibnu al-Haitami dan al-Qabisi. Dikatakan bahwa aliran ini dalam bergumul dengan persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan. Mereka memaknai ilmu dengan pengertian sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat (al-Thusi dalam Adab al-Muta’allimin). Penuntut ilmu berkeharusan mengawali belajarnya dengan Kitabullah, Alquran. Ia berusaha menghafalkan dan mampu menafsirkannya. Ulum al-Quran merupakan induk semua ilmu, lalu dilanjutkan belajar al-Hadits dan Ulum al-Hadits, Ushul, Nahwu dan Sharaf (Ibn Jama’ah dalam Tadzkirat). Tokoh-tokoh yang dikategorikan dalam aliran ini meliputi al-Ghazali, Nasiruddin al-Thusi, ibn Jama’ah, ibn Sahnun, ibn Hajar al-Haitsami, dan al-Qabisi.

Pandangan konservatif yang dimaksud dalam aliran ini adalah mengarah pada konsep hierarki nilai yang menstrukturkan ragam ilmu secara vertikal sesuai dengan penilaian mereka tentang keutamaan masing-masing ilmu. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu-ilmu keagamaan, yakni pengetahuan tentang jalan menuju akhirat, hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan rasio dan kejernihan akal budi. Rasio adalah sifat manusia yang paling utama, karena hanya dengan rasiolah manusia mampu menerima amanat dari Allah dan dengannya pula mampu “mendekat” di sisiNya.
Sikap dan kecenderungan agamis ini menimbulkan implikasi-implikasi negatif terhadap pendidikan:
1.    term ilmu yang dalam al-Qur’an dan Sunnah bersifat mutlak (cakupan yang luas) menjadi muqayyad  (terbatas/sempit) yakni terbatas pada ilmu tentang Tuhan (‘ilm billah).
2.    Adanya antusiasme pendakian spiritual mendorong pemikiran pendidikan Islam konservatif ke arah pengabaian urusan dunia dan dengan segala kemanfaatan dan kenikmatannya dan mengabaikan bekerja  dan  usaha-usaha  memperoleh  kemanfaatan urusan dunia tersebut.

Keterpakuan para ahli pendidikan muslim pada  ungkapan  ilmu sebagai   tujuan   akhir   pada zat  ilmu  itu sendiri atau ilmu untuk ilmu (al-‘ilm ghayah fi zatih) sehingga sebagian mereka menjadikan ilmu eksklusif dari kemungkinan untuk pelayanan bagi kehidupan kemanusiaan, memperbaiki kehidupan manusia dan menambah kebahagian masing-masing individu.

Di sisisi lain dari aliran keagamaan konservatif ini adalah rasa tanggung jawab keagamaan yang kuat yang belum pernah ditemukan adanya rasa tanggung jawab moral  serupa pada generasi berikutnya. Mereka sangat menjunjung tinggi persoalan belajar, bahkan mereka menilainya sebagai wujud tanggung jawab moral yang sangat luhur. Tugas-tugas mengajar untuk mencari rida (rela) Allah SWT dan mendekatkan  mu’allim (guru/pendidik) kepada-Nya karena kebajikan-kebajikannya. Dengan aktivitas mengajar bukan sekedar tanggung jawab kemanusiaan tetapi merupakan tangggung jawab keagamaan yang sangat penting.

2.    Aliran Religius Rasional (al- Diniy al- Aqlaniy)
 Aliran ini membangun prinsip-prisip dasar pemikiran kependidikan dari pemikiran tentang manusia, pengetahuan dan pendidikan. Dari sudut pandangan akal bukan dari segi amal. Pengetahuan semua dipelajari, bukan secara naluri, dan semua pengetahuan melalui pancaindera.
Bagi kalangan religious-rasional, persoalan pendidikan cenderukan disikapi secara rasional-filosofis, karena hal tersebut merupakan entry point bagi mereka yang hendak mengkaji strategi atau program pendidikan. Kecenderungan rasional-filosofis itu secara eksplisit terungkap dalam rumusan mereka tentang ilmu dan belajar yang jauh berbeda dengan rumusan kalangan tradisionalis-tekstualis. Aliran religious-rasional banyak membangun konsep-konsepnya dari pemikiran falsafah Yunani dan berusaha menyelaraskan pemikiran tersebut dengan pandangan dasar dan orientasi keagamaan. Di antara tokoh aliran religius-rasional ini adalah Ikhwan al-Shafa, al-Farabi, ibn Sina, dan ibn Miskawaihi.

Ikhwan al-Safa mengakui bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya menuju tuntutan akhirat dan tidak memberikan makna sebagai bekal di sana, maka ilmu yang demikian hanya menjadi bencana dan bukti kesusahan bagi pemiliknya di akhirat. Namun ketika aliran ini membicarakan persoalan pendidikan seperti masalah ilmu dan belajar, cenderung lebih rasional dan filosofis. Ikhwan al-Safa mengakui bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya menuju tuntutan akhirat dan tidak memberikan makna sebagai bekal di sana, maka ilmu yang demikian hanya menjadi bencana dan bukti kesusahan bagi pemiliknya di akhirat. Namun ketika aliran ini membicarakan persoalan pendidikan seperti masalah ilmu dan belajar, cenderung lebih rasional dan filosufis.

Kelompok Ikhwan al-Shafah diakui paling banyak bicara atas nama aliran ini. Idea Platonik tidak hanya mempengaruhi epistemology Ikhwan al-Shafa melainkan juga pandangannya bahwa pengetahuan itu telah ada secara potensi dalam jiwa pelajar, dan aktualisasinya tiada lain karena pengaruh pengajaran dari guru. Jiwa para ilmuwan secara potensi pun telah berilmu. Teori Plato mengukuhkan bahwa jiwa aktif tidak keluar dari kerangka pengingatan-ulang terhadap pengetahuan yang telah ada pada jiwa di dunia ide sebelum kelahirannya di bumi. Indikator lain pengaruh Platonisme terhadap Ikhwan al-Shafa adalah pandangannya tentang dualism yang mengasumsikan bahwa belajar adalah sekedar aktivitas mengingat-ulang dan berpikir. Menurut Ikhwan al-Shafa, jiwa itu berada pada posisi tengah antara dunia fisik-material dan dunia akal. Penekanan pada akal ini terimplikasi dalam pengembangan kurikulum dan keilmuan yang dipelajari, dimana dalam aliran ini memberikan perhatian lebih kepada ilmu-ilmu rasional-filosofis, seperti riyadiyyat (ilmu-ilmu eksak), manthiqiyyat (retorika-logika), ilmu-ilmu kealaman (fisika), dan teologi. Ikhwan al-Shafa sendiri mengklasifikasikan ilmu-ilmu riyadiyyat (eksak) mejadi empat bagian, yaitu aritmatika, ilmu ukur (handasah), astronomi dan musik. Sedang ilmu-ilmu manthiqiyyat terbagi dalam antologi (pengetahuan tentang syair), retorika, esagogi (logika kritis), Phatygorbas-Paramenyas (karya Aristoteles), dan kitab al-Burhan.

Sementara itu, ibn Sina sebagai salah satu pendukung aliran ini menggaris-bawahi perlunya studi falsafah sebagai basis konstruksi keseluruhan disiplin keilmuan yang dipelajari, karena falsafah akan menghantarkan manusia untuk bias mengenali kenyataan sebenarnya dari segala sesuatu, sepanjang batas kemampuan manusiawi yang dimiliki segala sesuatu adakalanya ada karena keterlibatan peran kita.

3.    Aliran Pragmatis Instrumental (al- Dzarai’i)
 Pragmatis instrumenatal, yang tokoh  satu-satunya  ialah  Ibnu Khaldun. Pandangannya tentang tujuan pendidikan lebih banyak sisi pragmatis dan lebih berorientasi pada tataran aplikatif-praktis. Dia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan fungsionalnya, bukan berdasar nilai substansialnya semata.

Ia membagi ragam ilmu yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan menjadi dua  yakni (1) jenis ilmu-ilmu yang bersifat instrinsik (ilmu-ilmu syariah), seperti tafsir, hadis, fikih, kalam, ontologi dan teologi dari cabang filsafat. (2) jenis ilmu-ilmu yang bernilai ekstrinsik instrumental bagi ilmu jenis pertama, seperti bahasa Arab, ilmu hitung dan sejenisnya.
Menurut Jawwad Ridla, ibn Khaldun adalah tokoh satu-satunya dari aliran ini, karena pemikirannya lebih banyak bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada aplikasi-praktis. Secara ringkas bias dikatakan bahwa aliran pragmatis yang digulirkan oleh ibn Khaldun merupakan wacana baru dalam pemikiran pendidikan Islam. Bila kalangan konservatif mempersempit ruang lingkup “sekuler” di hadapan rasionalitas Islam dan mengaitkannya secara kaku dengan pemikiran atau warisan salaf, sedang kalangan rasionalis dalm sistem pendidikannya berpikiran idealistic sehingga memasukkan semua disiplin ilmu yang dianggap substantive bernilai, maka ibn Khladun mengakomodir ragam keilmuan yang nyata terkait dengan kebutuhan langsung manusia, baik berupa kebutuhan spiritual-rohaniah maupun kebutuhan material. Meskipun demikian, ibn Khaldun sejalan dengan kalangan rasionalis dalam hal pengakuan rasio (al-‘aql) datau daya pikir (al-fikr).

Karakteristik Aliran Pragmatis Instrumental anata lain sebagai berikut:
1.    Merupakan ilmu naqliy dari orang yang menghasilkannya. Jenis ilmu ini bersandar pada warta otoritatif Syar’i (Tuhan dan Rasul-Nya). Sedangkan akal pikiran manusia tidak mempunyai peluang untuk mengintervensinya kecuali dalam ruang lingkup cabang-cabangnya. Itupun masih harus berada dalam kerangka dasar Pembuat Syar’i.
2.    Bersifat alami bagi manusia, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh manusia lewat bimbingan penalaran akal pikirnya.
3.    Ruang lingkup persoalannya, prinsip-prinsip dan metode pengembangannya sepenuhnya berdasar pada daya penjelajahan akal manusia.

Ibnu Khaldun membagi kemampuan berpikir ini menjadi tiga tingkatan yaitu (1) al-‘aql al-tamyiz (akal pemisah); (2) al-‘aql al-tarbiyyi (akal eksprimental); dan (3) al-‘aql al-nazariy (akal kritis).
Tingkatan akal terbawah, karena kemampuannya hanya terbatas pada mengetahui hal-hal yang bersifat emperis inderawi. Konsep-konsep yang dihasilkan taraf berpikir tingkat ini adalah deskripsi atau penggambaran (al-tasawwurat). Tujuannya adalah menghasilkan kemanfaatan bagi manusia dan menolak bahaya.

Kemampuan berpikir yang menghasilkan berbagai gagasan pemikiran dan berbagai etika dalam tatanan pergaulan bersama dan hal ihwal mereka. Banyak dari olah pikir pada tingkat menghasilkan kebenaran (tasdiqat) yang disimpulkan dari eksprimen sedikit demi sedikit secara berkelanjutan hingga mencapai kesempurnaan hasil atau kegunaan.
Suatu proses berpikir yang menghasilkan ilmu atau asumsi kuat akan hal meta empiris (abstrak-filosufis) yang merupakan kompleksitas hubungan dari berbagai tasawwur  (penggambaran) dan tasdiq (pembenaran) hingga membangun disiplin keilmuan tertentu. Yang terpenting dari tingkat akal kritis ini ialah penggambaran realitas (al-wujud) sebagaimana hakikatnya, jenis-jenisnya, detailnya, sebab-sebabnya, dan ilat-ilatnya, dan  daya berpikir berkembang sempurna menjadi akal murni dan jiwa yang tercerahkan. Di sinilah hakikat kemanusiaan.

PENUTUP
A.  Kesimpulan
Secara operasionalaliran pendidikan Islam adalah paham atau pemikiran pendidikan Islam sebagai titik tolak dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi manusia serta hal-hal yang mempengaruhinya sesuai pandangan Islam.
Berdasarkan pembahasan di atas, aliran-aliran pendidikan dibagi menjadi enam aliran, yaitu sebagai berikut:
1.    Aliran Nativisme,
2.    Aliran Naturalisme,
3.    Aliran Empirisme,
4.    Aliran Konvergensi,
5.    Aliran Progresivisme, dan
6.    Aliran Konstruktivisme.
Dari aliran-aliran di atas, adapula aliran-aliran yang bergerak di bidang pendidikan Islam menurut para tokoh pendidikan Islam, diantaranya yang berpendapat yaitu Ibn Mizkawaih dan Al-Gazali.
Menurut Ibn Mizkawaih, berpendapat bahwa seorang anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan alamiah, akan tetapi mengandalkan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang, dan harus ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Seoranganak yang lahir dari keluarga dokter belum tentu ia dapat mengikuti profesi keluarganya kalau ia tidak dibekali dan dasari dengan bakat serta kecenderungan anak itu ataupun hal-hal lain yang mempengaruhinya.
Sedangkanmenurut Al-Gazali, berpendapat bahwa anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri, kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya. Kesemuanya itu perlu diberi pendidikan. Jika ia bengkok maka harus diluruskan, jika salah maka harus dibenarkan dan jika sudah benar maka harus di arahkan pada pengembangannya. Faktor internal dan eksternal keduanya sangat berperan dalam perkembangan anak didik.
Berdasarkan uraian di atas dapat di pahami bahwa:
1.    Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan dalam proses perkembangannya dan hubungannya dengan proses belajar.
2.    Islam telah memberi petunjuk tentang adanya konsep insan dan basyr dalam Al-Qur'an dan yang mana kedua hal ini mengarh kepada potensi manusia dan lingkungan mnusia yang mempengaruhi pendidikannya.
3.    Tokoh-tokoh pemikir islm dalam mengajukan tesisnya tentang pendidikan mengarah kepada aliran konvergensi yang mengakui adanya penyatuan kedua hal itu- melliu dan hereditas berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai obyek atau manusia didik
B.  Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat dijadikan bahan refrensi baru akan kepenulisan selanjutnya agar mendapatkan sedikit nilai kesempurnaan dari kepenulisan ini. Dengan tulisan selanjutnya dapat menanggapi atau mengomentari bahkan mengkritik tulisan sederhana ini. Insya Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasy, Muh. Athiyah. (1975). "Al-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Falasifatuha". (Cet. III). Kairo: Isa Al-Bab Al-Halaby.
Al-Jufy, Abu Abdillah Muhammad Ibn Al-Bukhary. (1992). "Shahih Bukhariy". Juz 1 (Cet. I). Beirut: Dar Al-Fikr Al-Ilmiy.
Al-Nahlawi, Abd. Rahman. "Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Asalibuha fi Al-Bait wa Al-Madrasah wa Al-Mujtama'". Damasq: Dar Al-Fikr.
Arief, Armai. (2002). "Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam". Jakarta: Ciputat Pers.
Barandib, Imam. (1987). " Filsafat pendidikan; Sistem dan Metode". Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Ilmu Pendidikan IKIP.
Darajat, Zakiyah. (1996). "Ilmu Pendidikan Islam". (Cet. III). Jakarta: Bina Aksara.
Departemen Agama RI. (2006). "Al Qur'an dan Terjemahnya". Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Surabaya: Duta Ilmu Surabaya.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. (1994). "Ensiklopedia Islam". Jilid III. (Cet. III). Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.
Getteng, Abd. Rahman. (1997). "Pendidikan Islam dalam Pembangunan". Ujungpandang: Yayasan Al-Ahkam.
Jalaluddin dan Abdullah Idi. (1997). "Filsafat Pendidikan". (Cet. I). Jakarta: Gaya Media Pratama.
Kadir, Abdul. (2012). "Dasar-Dasar Pendidikan". Makassar:  Kencana Prenada Media Group.
Khaeruddin. (2002). "Ilmu Pendidikan Islam". Makassar:CV Berkah Utami.
Miskawaih,Ibn. (1997). "Tahzib Al-Akhlak" diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul "Menuju Kesempurnaan Akhlak". (Cet. III). Bandung: Mizan.
Munir Ba'laba'kiy. (1985). "Al-Maurid; A Modern English Arabic Dictionary". Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin.
Munir Mursiy Sarhan. (1987). "Fi Ijtimaiyyah Al-Tarbiyah". (Cet. II). Mesir: Maktabah Al-Anjlu Al-Misriyyah.
Prasetya. (1997). "Filsafat Pendidikan". (Cet. I). Bandung: Pustaka Setia.
Purwanto, M. Ngalim. (1995). "Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis". Edisi II (Cet. VIII). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zuhairirni. Al. (1991). "Filsafat Pendidikan Islam". (Cet. II). Jakarta: Bumi Aksara.
Sarwono, Sarito Wirawan. (1991). "Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi". (Cet. III). Jakarta: Bulan Bintang
Smits, Titus. dan Nolan. (1984). "Living Isseu in Philoshopy" diterjemahkan oleh Muhammad Rasyidi dengan judul "Persoalan-persoalan Filsafat". (Cet. I). Jakarta: Bulan Bintang.
Syah, Muhibbin. (1995). "Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Baru". (Cet. II). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1995). "Kamus Besar Bahasa Indonesia". Edisi II (Cet. IV). Jakarta: Balai Pustaka.


VENOMENA ALIRAN - ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM YANG WAJIB DI KETAHUI Reviewed by Kharis Almumtaz on September 20, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.