Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

Contoh Latar Belakang Penelitian Yang paling joz


Contoh Latar Belakang Penelitian Yang paling joz
almumtaz.wiki- Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam mendidik generasi bangsa untuk menjadi pribadi yang mandiri dan mampu menjalankan perintah Allah sebagai hamba yang bertaqwa sesuai dengan tujuan diciptakannya. Melalui pendidikan, seorang pendidik diharapkan dapat melatih, membimbing dan mendidik generasi bangsa untuk menjadi pribadi yang berguna bagi dirinya dan bangsa.
Dalam meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah berupaya membuka kesempatan bagi seluruh anak Indonesia untuk menyengam pendidikan. Salah satunya adalah membuka kesempatan bagi siswa yang memiliki kelainan fisik maupun kelemahan mental untuk tetap diterima belajar di sekolah-sekolah reguler sehingga bisa belajar bersama dengan siswa normal lain yang seusianya. Adapun program pendidikan yang digalakkan oleh pemerintah tersebut adalah program pendidikan inklusi.

Mohammad Takdir Ilahi menjelaskan tentang pengertian pendidikan inklusi, yaitu sebagai berikut:
“Pendidikan inklusi merupakan sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama teman seusianya. Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.”

Landasan pendidikan inklusi di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70 tahun 2009 pasal 3 ayat 1 yang berbunyi “Setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya”.

Menurut Mudjito dkk (2012: 12) yang dikutib dari data Kementerian Sosial RI tahun 2008 dinyatakan bahwa:
‘Total jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) sebanyak 1.544.184 anak. Kemudian diprediksi pada tahun 2010 angka anak berkebutuhan khusus dari umur 5-18 tahun adalah 21,42% dari jumlah ABK dengan berbagai kekurangan/kecacatan yakni 330.764 anak. Anak berkebutuhan khusus yang sudah mendapatkan layanan pendidikan di sekolah khusus (SLB dan atau inklusi) dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama hanya 85.737 anak (sekitar 25,92%). Berarti masih ada 245.027 anak (74,08%) berkebutuhan khusus yang belum mendapat layanan pendidikan dengan berbagai jenis kelainan, dan sebagian besar mereka tinggal di perdesaan dan pusat-pusat perkotaan. Dengan demikian pendidikan inklusi masih banyak memerlukan perhatian yang sangat besar dari pemerintah sebagai penyelenggara negara yang bertanggungjawab terhadap pendidikan seperti dimanatkan dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31, yakni: Ayat (1): “Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”. Ayat (2): “Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.”

Banyaknya siswa ABK yang ada di Indonesia mengharuskan para praktisi pendidikan untuk lebih perhatian terhadap kualitas pendidikan dalam hal pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler yang tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus yang ingin mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, terhadap guru dan calon guru di Indonesia, bukan hanya guru lulusan Pendidikan Luar Biasa saja, harus dibekali ilmu tentang psikologi anak, sehingga dapat memahami karakteristiknya sehingga mampu mengelola kelas yang terdiri dari berbagai karakteristik siswa dan mengajarkan materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik

Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan oleh peneliti, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang telah memiliki banyak sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Salah satunya adalah Kota Malang yang memiliki 57 Sekolah Dasar penyelenggara pendidikan inklusi, satu diantaranya adalah SD Negeri Sumbersari 1 Malang. Sekolah Dasar Negeri ini merupakan sekolah percontohan penyelenggara pendidikan inklusi dikota Malang. Sekolah ini juga menjadi juara pertama dalam Manajemen Sekolah Inklusi se-kota Malang pada tahun ajaran 2011/2012 dan banyak menerima bantuan dari provinsi untuk pendanaan penyelenggara pendidikan. SD Sumbersari 1 Malang ini memiliki siswa ABK sebanyak 16 orang dengan Guru Pendamping Khusus (GPK) sebanyak dua orang.4

Selain Kota Malang, terdapat pula kota lain di povinsi Jawa Timur yang juga menyelenggara pendidikan inklusi yaitu Kota Wisata Batu, salah satu sekolah dasar yang siap menerima dan mendidik siswa ABK adalah SD Negeri Junrejo 01 Kecamatan Junrejo Kota Batu. SD Negeri Junrejo 01 ini juga
merupakan salah satu sekolah percontohan penyelenggara pendidikan inklusi di Kota Batu. Pada tahun ajaran ini, SDN Junrejo 01 ini memiliki siswa ABK sebanyak 27 anak ABK dan empat orang Guru Pendamping Khusus.

Di sekolah inklusi, anak-anak dididik dengan mata pelajaran yang sama dengan sekolah reguler umumnya, baik itu mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Pendidikan Agama Islam dan IPS. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang harus diajarkan kepada siswa beragama muslim sejak dasar sebagai ilmu dasar agama yang harus mereka pahami dan amalkan. Sebagaimana pengertian dari Pendidikan Agama Islam menurut Yusuf dalam kutipan Abdul Majid dan Dian Andayani adalah sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah SWT.

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangatlah penting diajarkan karena mata pelajaran ini berupaya untuk menanamkan pemahaman agama seperti ilmu tauhid, syariah dan tasawuf demi bekal anak untuk menjalankan kehidupannya di masa depan, sebagai hamba Allah SWT yang bertaqwa dan sebagai warga negara yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini senada dengan pemaparan Abdul Majid dan Dian Andayani tentang pentingnya pembelajaran PAI untuk diajarkan kepada peserta didik demi terbentuknya generasi yang berilmu, beriman dan berakhlak mulia.

Setiap orang tua pasti ingin agar anaknya dapat dididik dengan pendidikan agama yang benar meskipun berada di sekolah umum. Begitupula orang tua yang anaknya memiliki kekurangan dari segi fisik maupun mental. Mereka berharap agar anaknya juga dididik oleh guru-guru yang profesional sehingga mereka dapat memahami pembelajaran agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat.

Untuk dapat merealisasikan harapan orangtua, seorang guru harus mampu menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik secara optimal sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu para pendidik harus memiliki keahlian dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Keahlian tersebut adalah keahlian dalam pengelolaan kelas.

Keahlian dalam mengelola kelas merupakan suatu hal yang tidaklah mudah dilakukan oleh guru maupun calon guru. Hal ini sebagaimana hasil penelitian dari jurnal ilmiah guru yang ditulis oleh Sujati dengan judul penelitian Diagnosis Hambatan Praktikum D-IIPGSD dalam Mengapiikaskan Keterampilan Mengelola Kelas di SD Samirono, Yogyakarta tahun 2011. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa bahwa secara umum keterampilan praktikan dalam hal mengelola kelas masih tergolong lemah, yaitu pada bagian: memberi pertanyaan, memberi aksentuasi pada hal positif, memberi tantangan dan menuntut tanggung
jawab, pemberian penguatan dengan menggunakan mimik, sentuhan, gerakan dan benda.
Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat diketahui bahwa seorang guru ataupun calon guru masih memiliki kemampuan yang rendah dalam mengelola kelas yang baik untuk dapat melangsungkan proses pembelajaran. Banyaknya siswa dengan beraneka ragam di kelas inklusi pasti membutuhkan suatu model pengelolaan kelas yang berbeda daripada model pengelolaan kelas di sekolah reguler lainnya.

Suharsimi Arikunto dalam kutipan Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain mengemukakan bahwa pegelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.

Senada dengan pengertian pengelolaan kelas yang dipaparkan oleh Mulyadi berikut ini:
“Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif’.

Moh. Uzer Usman juga menjelaskan tentang makna pengelolaan kelas yaitu seperangkat kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila teijadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

Adapun pengertian dari model menurut KBBI adalah suatu pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik benang merah bahwa model pengelolaan kelas adalah suatu pola yang dilakukan guru untuk mengelola kelas agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif dan tercapai tujuan pembelajaran.

Oleh karena itu, sebagai calon pendidik maupun para pendidik yang mengajar di sekolah-sekolah reguler, khususnya bagi lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah maupun Pendidikan Guru Sekolah Dasar haruslah mampu untuk memahami pengelolaan kelas inklusi sehingga ketika menjadi tenaga pengajar di sekolah yang terdapat anak berkebutuhan khusus di dalamnya maka guru dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan karakteristik siswa yang beraneka ragam di dalam kelas inklusi.

Dari konteks penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka penulis ingin meneliti tentang “Model Pengelolaan Kelas Inklusi dalam Pembelajaran PAI, Studi Multikasus di SD Negeri Sumbersari 1 Malang dan SD Negeri Junrejo 1 Batu” dengan harapan hasil penelitian ini dapat mengetahui bagaimana model pengelolaan kelas dalam pembelajaran PAI di kelas inklusi dengan lokasi penelitian di sekolah percontohan penyelenggara pendidikan inklusi di dua kota, yaitu kota Malang dan Kota Batu.
almumtaz-wiki
Contoh Latar Belakang Penelitian Yang paling joz Reviewed by Kharis Almumtaz on October 27, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.