Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani Sebagai Bentuk Responsif Menghadapi Era Globalisasi

Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani  Sebagai Bentuk Responsif Menghadapi Era Globalisasi
Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani  Sebagai Bentuk Responsif Menghadapi Era Globalisasi
FITK/DOKTOR PAI/UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
By : Mukhtarom

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
almumtaz.wiki- Peran pendidikan sangat penting dalam kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia. Dengan kata lain, kebutuhan manusia terhadap pendidikan bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, bangsa dan negara. Jika sistem  pendidikanya berfungsi secara optimal maka akan tercapai kemajuan yang dicita-citakanya sebaliknya bila proses pendidikan yang dijalankan tidak berjalan secara baik maka tidak dapat mencapai kemajun yang dicita-citakan.

Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Demikian halnya dengan Keberadaan pendidikan islam diharapkan dapat memberikan warna, ciri khas dan sumbangan dalam melahirkan dan pengembangan Sumber Daya Manusia yang kompetitif, berakhlak mulia, dan religius secara personal dan interpersonal. Sehingga wajar kalau masyarakat menaruh harapan besar bahwa pendidikan islam dapat memainkan perannya dalam dalam melahirkan sebuah generasi yang handal sehingga lambat laun perwujudan MasyarakatMadani akan tercapai.

Dalam rangka mewujudkan masyarakat madani merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena pada saat ini dunia pendidikan dihadapakan dengan kenakalan remaja yang sudah meraja lela mulai dari tawuran, obat-obatan, narkoba dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya yang harus dilakukan diantaranya dengan mempersiapkan genarasi muda (peserta didik) menjadi manusia yang yang beriman, berilmu dan berakhlak (Insan Kamil).

Sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk ikut serta mengambil peran dalam usaha bersama  demi terwujudnya masyarakat yang berperadaban, atau masyarakat yang madani. Makalah ini disajikan untuk memberikan sumbangan pemikiran mengenai pemaparan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pendidikan Islam dalam rangka mewujudkan masyarakat madani 

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah yakni : Bagaimana Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani  Sebagai Bentuk Responsif dalam Menghadapi Era Globalisasi?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini ialah untuk mengetahui : Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani  Sebagai Bentuk Responsif dalam Menghadapi Era Globalisasi.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Istilah Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-terbiyah, al-ta’dib dan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al-ta’dibal-ta’lim jarang digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.

Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga term tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan, baik secara tekstual maupun konstektual. Untuk itu, perlu dikemukakan uraian dan analisis argumentasi tersendiri dari beberapa pendapat para ahli pendidikan islam.

  • 1.      Istilah al-Tarbiyah
Penggunaan istilah al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti akan tetapi pengertian dasarnya menunjukan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Dalam penjelasan lain, kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu : Pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang (Q.S. Al Rûm / 30:39). Kedua, rabiya-yarba yang berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.
Kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Fatihah 1:2  (alhamdu lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi(pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.

Uraian diatas, secara filosofis mengisyratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur  pendekatan, yaitu: (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh). (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Penggunaan term al-Tarbiyah untuk menunjuk makna pendidikan Islam dapat difahami dengan merujuk firman Allah dalam surat Al Israa’ 17-24
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

  • 2.      Istilah al-Ta’lim
Istilah al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih universal dibanding dengan al-Tarbiyah maupun al-ta’dib. Rasyid Ridha, misalnya mengartikan al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.  Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada (Q.S. Al-Baqarah :151).
Kalimat wa yu’allimuhum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Menurut  Abdul Fatah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan hanya sekedar membuat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui. Oleh karena itu, makna al-ta’lim tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah akan tetapi mencangkup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan; perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku.

Kecendrungan Abdul Fatah jalal di atas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapat pengajaran langsung dari Allah adalah Nabi Adam a.s. Hal ini secara eksplisit disinyalir dalam Q.S. Al-Baqarah 2:31. pada ayat tersebut dijelaskan , bahwa penggunaan kata ‘allama untuk memberikan pengajaran kepada Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.
  • 3.      Istilah al-Ta’dib
Menurut Muhammad Nuquib al-Attas, istilah yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-ta’dib.  Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Lebih lanjut ia (Red- al-Atas) ungkapkan bahwa penggunaan Tarbiyah terlalu luas untuk mengungkap hakikat dan operasionalisasi pendidikan Islam. Sebab kata al-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuhan, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Oleh karena itu, penggunaan istilah al-Tarbiyah tidak memiliki akar yang kuat dalam khazanah Bahasa Arab.

Dengan demikian istilah al-Ta’dib merupakan term yang paling tepat dalam khazanah bahasa Arab karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-Tarbiyah dan al-Ta’lim sudah tercakup dalam term al-Ta’dib.

Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term diatas secara terminology, para ahli pendidikan Islam. Diantara batasan yang sangat variatif tersebut adalah:
  • a.    Al-Syaibaniy ; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi dalam masyarakat. [10]
  • b.    Muhammad Fadhil al-jamaly; mendefinisikan pendidikan islam sebagai upaya mengembangkan mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatannya.
  • c.    Ahmad D. Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pemimpin secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang  utama (insan kamil).
  • d.    Ahmad Tafsir; mendefinisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam. 
Dari batasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam yang diyakininya sehingga akan terbentuk kepribadian yang utama yakni Insan Kamil.

B.     Istilah Masyarakat Madani

Untuk pertama kali di Indonesia istilah Masyarakat Madani dimunculkan oleh Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana mentri Malaysia. Menurut Anwar Ibrahim, sebagaimana dikutip Dawam Rahardjo di dalam buku Kamaruddin Hidayat, Masyarakat Madani merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Inisiatif dari individu dan masyarakat akan berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu.

berdasarkan pendapat diatas maka yang dimaksud masyarakat madani menurut penulis adalah sebuah sistem sosial islami yang subur dengan akhlakhul karimah yang menjamin keseimbangan antara kebebasan seseorang dengan kestabilan masyarakat dengan tanpa meninggalkan nilai nilai keislaman yang bersumber dari alquran dan hadis rasulullah saw.

Menurut Anwar Ibrahim, masyarakat madani mempunyai ciri-ciri yang khas: Kemajemukan budaya (multikultural), hubungan timbal balik (reprocity), dan sikap saling memahami dan menghargai. Lebih lanjut Anwar Ibrahim menegaskan bahwa karakter Masyarakat madani ini merupakan “Guiding Ideas”, meminjam istilah Malik Bannabai, dalam melaksanakan ide-ide yang mendasari msyarakat madani, yaitu prinsip moral, keadilan, keseksamaan, musyawarah dan demokrasi.
Sejalan dengan gagasan Anwar Ibrahim, Dawam Rahardjo sebagaimana yang diukutip oleh Kamaruddin Hidayat mendefinisikan masyarakat madani sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama. Selanjutnya Dawam menjelaskan, dasar utama dari masyarakat madani adalah persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindarkan diri dari konflik dan permusuhan yang menyebabkan perpecahan dan hidup dalam suatu persaudaraan.

Seiring dengan ide-ide di atas, menurut Azyumardi Azra, masyarakat madani lebih dari sekedar gerakan pro-demokrasi, karena ia juga mengacu pada pembentukan masyarakat berkualitas dan bertamadun (civility). Dari pandangan di atas, Nurcholish Nadjid menegaskan bahwa makna masyarakat madani berakar dari kata “civility” yang mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk menerima berbagai macam pandangan politik dan tingkah laku sosial.
Makna Civil Society “Masyarakat sipil” adalah terjemahan dari Civil Society.Konsep Civil Societylahir dan berkembang dari sejarah pergumulan masyarakat. Cicero adalah orang Barat yang pertama kali menggunakan kata Societies Civilisdalam filsafat politiknya. Konsep Civil Societypertama kali dipahami sebagai negara (state). Secara historis, istilah Civil Societyberakar dari pemikir Montesque, JJ. Rousseau, John Locke, dan Hubbes. Ketiga orang ini mulai menata suatu bangunan masyarakat sipil yang mampu mencairkan otoritarian kekuasaan monarchi-absolut dan ortodoksi gereja.

Antara Masyarakat Madani dan Civil Society sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, masyarakat madani adalah istilah yang dilahirkan untuk menerjemahkan konsep di luar menjadi “Islami”. Menilik dari subtansi Civil Society lalu membandingkannya dengan tatanan masyarakat Madinah yang dijadikan pembenaran atas pembentukan Civil Societydi masyarakat Muslim modern akan ditemukan persamaan sekaligus perbedaan di antara keduanya.
Perbedaan lain antara Civil Societydan masyarakat madani adalah Civil Society merupakan buah modernitas, sedangkan modernitas adalah buah dari gerakan Renaisans [18]; gerakan masyarakat sekuler yang meminggirkan Tuhan. Sehingga civil society mempunyai moral-transendental yang rapuh karena meninggalkan Tuhan. Sedangkan masyarakat madani lahir dari dalam buaian dan asuhan petunjuk Tuhan. Dari alasan ini A. Syafii Maarif sebagaimana yang dikutip oleh M Din Syamsuddin, mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah masyarakat yang terbuka, egalitar, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral transendental yang bersumber dari wahyu Allah.

Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.
  • 1.      Masyarakat Madani dalam Sejarah
Ada dua masyarakat madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai masyarakat madani, yaitu:PertamaMasyarakat Saba’, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.Kedua masyarakat Madinah setelah terjadi traktat, perjanjian Madinah antara Rasullullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
  • 2.      Karakteristik Masyarakat Madani
Ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya:
  1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
  2. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.
  3. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.
  4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunteer [20] mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.
  5. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rezim-rezim totaliter.
  6. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
  7. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif. [21]
  8. Bertuhan, artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama, yang mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang mengatur kehidupan sosial.
  9. Damai, artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok menghormati pihak lain secara adil.
  10. Tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat mengurangi kebebasannya.
  11. Toleran, artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas pihak lain yang berbeda tersebut.
  12. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.
  13. Berperadaban tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk umat manusia.
  14. Berakhlak mulia.

Dari beberapa ciri-ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat yang demokratis , dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya, dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Masyarakat madani dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus.

Ada tujuh prasyarat masyarakat madani, yaitu:
  1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.
  2. Berkembangnya modal manusia (Human Capital) dan modal sosial (Socail Capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinnya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.
  3. Tidak adanya diskriminasidalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. 
  4. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan. 
  5. Adanya kohesifitasantar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan. 
  6. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.
  7. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya.

Tanpa prasyarat tesebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti pada jargon. Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat “sipilisme” yang sempit yang tidak ubahnya dengan faham militerisme yang anti demokrasi dan sering melanggar hak azasi manusia. Dengan kata lain, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diwaspadai dalam proses mewujudkan masyarakat madani.

Konsep Masyarakat Madani semula dimunculkan sebagai jawaban atas usulan untuk meletakkan peran agama ke dalam suatu masyarakat Multikultural. Multikultural merupakan produk dari proses demokratisasi di negeri ini yang sedang berlangsung terus menerus yang kemudian memunculkan ide pluralistik dan implikasinya kesetaraan hak individual. Perlu kita pahami, perbincangan seputar Masyarakat Madani sudah ada sejak tahun 1990-an, akan tetapi sampai saat ini, masyarakat Madani lebih diterjemahkan sebagai masyarakat sipil oleh beberapa pakar Sosiologi. Untuk lebih jelasnya, kita perlu menganalisa secara historis kemunculan masyarakat Madani dan kemunculan istilah masyarakat Sipil, agar lebih akurat membahas tentang peran pendidikan islam dalam upaya mewujudkan masyarakat madani.

Namun, pada kenyataannya masyarakat sipil tidak sama dengan masyarakat Madani. Masyarakat Madani merujuk kepada sebuah masyarakat dan negara yang diatur oleh hukum agama, sedangkan masyarakat sipil merujuk kepada komponen di luar negara. Syed Farid al-Atas seorang sosiolog sepakat dengan Syed M. Al Naquib Al Attas (berbeda dengan para sosiolog umumnya), menyatakan bahwa faham masyarakat Madani tidak sama dengan faham masyarakat Sipil. Istilah Madani, Madinah (kota) dan din (diterjemahkan sebagai agama) semuanya didasarkan dari akar kata din. Kenyataan bahwa nama kota Yathrib berubah menjadi Madinah bermakna di sanalah din berlaku. Secara historispun masyarakat Sipil dan masyarakat Madani tidak memiliki hubungan sama sekali. Masyarakat Madani bermula dari perjuangan Nabi Muhammad SAW menghadapi kondisi jahiliyyah masyarakat Arab Quraisy di Mekkah. Beliau memperjuangkan kedaulatan, agar ummatnya leluasa menjalankan syari’at agama di bawah suatu perlindungan hukum.
Masyarakat madani sejatinya bukanlah konsep yang ekslusif dan dipandang sebagai dokumen usang. Ia merupakan konsep yang senantiasa hidup dan dapat berkembang dalam setiap ruang dan waktu. Mengingat landasan dan motivasi utama dalam masyarakat madani adalah Al-Qur’an.

Meski Al-Qur’an tidak menyebutkan secara langsung bentuk masyarakat yang ideal namun tetap memberikan arahan atau petunjuk mengenai prinsip-prinsip dasar dan pilar-pilar yang terkandung dalam sebuah masyarakat yang baik. Secara faktual, sebagai cerminan masyarakat yang ideal kita dapat meneladani perjuangan Rasulullah mendirikan dan menumbuhkembangkan konsep masyarakat madani di Madinah.
Prinsip terciptanya masyarakat madani bermula sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW. beserta para pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal tersebut terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan penyelamatan akidah dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan cita-cita membentuk masyarakat yang madaniyyah (beradab).

Selang dua tahun pascahijrah atau tepatnya 624 M, setelah Rasulullah mempelajari karakteristik dan struktur masyarakat di Madinah yang cukup plural, beliau kemudian melakukan beberapa perubahan sosial. Salah satu di antaranya adalah mengikat perjanjian solidaritas untuk membangun dan mempertahankan sistem sosial yang baru. Sebuah ikatan perjanjian antara berbagai suku, ras, dan etnis seperti Bani Qainuqa, Bani Auf, Bani al-Najjar dan lainnya yang beragam saat itu, juga termasuk Yahudi dan Nasrani.

Dari penjelasan di atas, setidaknya ada tiga karakteristik dasar dalam masyarakat madani. Pertama, diakuinya semangat pluralisme. Artinya, pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi dalam pandangan Alquran. Pluralitas juga pada dasarnya merupakan ketentuan Allah SWT (sunnatullah), sebagaimana tertuang dalam Alquran surat Al-Hujurat (49) ayat 13. 

Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati (given) dalam kehidupan. Dalam ajaran Islam, pluralisme merupakan karunia Allah yang bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif dan dinamis. Ia (pluralitas) juga merupakan sumber dan motivator terwujudnya vividitas kreativitas (penggambaran yang hidup) yang terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan.
Satu hal yang menjadi catatan penting ialah sebuah peradaban yang kosmopolit akan tercipta manakala umat Islam memiliki sikap inklusif dan mempunyai kemampuan (ability) menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar. Namun, dengan catatan identitas sejati atas parameter-parameter autentik agama tetap terjaga.
Kedua, adalah tingginya sikap toleransi (tasamuh). Baik terhadap saudara sesama Muslim maupun terhadap saudara non-Muslim. Secara sederhana toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai pendapat dan pendirian orang lain.

Senada dengan hal itu, Quraish Shihab sebagaimana yang dikutip oleh Kamarudin Hidayat, menyatakan bahwa tujuan Islam tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah agama. Namun juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya hak hidup, berdampingan seiring dan saling menghormati satu sama lain. Sebagaimana hal itu pernah dicontohkan Rasulullah Saw. di Madinah.  Setidaknya landasan normatif dari sikap toleransi dapat kita tilik dalam firman Allah yang termaktub dalam surat Al-An’am :108.

Ketiga, adalah tegaknya prinsip demokrasi atau dalam dunia Islam lebih dikenal dengan istilahmusyawarah. Terlepas dari perdebatan mengenai perbedaan konsep demokrasi dengan musyawarah, saya memandang dalam arti membatasi hanya pada wilayah terminologi saja, tidak lebih. Mengingat di dalam Al-Qur’an juga terdapat nilai-nilai demokrasi (surat As-Syura:38, surat Al-Mujadilah:11).
Ketiga prinsip dasar setidaknya menjadi refleksi bagi kita yang menginginkan terwujudnya sebuah tatanan sosial masyarakat madani dalam konteks hari ini. Paling tidak hal tersebut menjadi modal dasar untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan.

C.  Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani  Sebagai Bentuk Responsif Menghadapi Era Globalisasi
Untuk mengetahui dimana posisi lembaga pendidikan Islam dalam mewujudkan masyarakat madani, maka terlebih dahulu kita memetakan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan lembaga pendidikan Islam.Dengan menegtahui peluang dan tantangannya, maka pendidikan Islam dapat memposisikan diri secara tepat dalam pergaulan sosio-kultural.

Berikut ini akan dipaparkan sejumlah kelemahan yang sekaligus merupakan tantangan yang harus dibenahi oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam antara lain sebagai berikut:
  1. Kualitas lembaga pendidikan Islam secara umum masih menyedihkan. Meskipun ada bebarapa lembaga pendidikan Islam seperti madrasah yang sudah mampumengungguli kualitas sekolah umum, tetapi secara umum kualitas lembaga pendidikan Islambelum memadai.
  2. Citra lembaga pendidikan Islam relative rendah. Adalah suatu kenyataan bahwa dalam ranking kelulusan lembaga pendidikan Islam umumnya berada didalam urutan dibawah sekolah umum.
  3. Kualitas dan kuantitas guru yang belum memadai. Guru adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan. Jika Gurunya berkualitas rendah dan rasio siswa tidak memadai, maka out put pendidikannya dengan sendirinya akan rendah pula.
  4. Gaji Guru secaara umum masih kecil
  5. Latar belakang siswa dilembaga pendidikan Islam pada umumnya dari keluarga kelas menengah kebawah.
  6. Tuntutan kompetisi dan kompetensi yang semakin meningkat
  7. Gempuran pengaruh globalisasi asing dalam bidang ekonomi, politik dan budaya yang cenderung menggeser budaya nasional yang religious. Hal ini ditandai dengan semakin menonjolnya orientasi global dalam bidang fun, fashion, dan food dikalangan remaja kita.
  8. Kenakalan remaja yang semakin menghawatirkan antara lain dalam bentuk penyalahgunaan narkoba yang semakin meluas
  9. Harapan umat agar lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan orang-orang yang intelek, tetapi alim dan orang-orang alim yang intelek. Harapan ini yang harus dijawab dengan sungguh-sungguh dan terus menerus mengupayakan kualitas lembaga pendidikan Islam yang terus meningkat.

Sekalipun kelemahan dan tantangan yang dihadapi lembaga-lembaga pendidikan Islam cukup berat, tetapi jika kita mengamati secara seksama terdapat sejumlah alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa peluang lembaga pendidikan Islam dimasa mendatang tetap cukup besar, bahkan mungkin semakin basar. Peluag tersebut dimungkinkan  dan didukung oleh sejumlah kondisi sebagi berikut:
  1. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis. Kondisi semacam ini merupakan pondasi yang cukup kokoh bagi kehidupan lemabaga pendidikan Islam, karena keinginan masyarakat yang cukup kuat untuk memiliki anak yang selain berilmu juga taat beragama
  2. Meningkatkan kesadaran beragama dikalangan masyarakat yang semula dikatagorikan sebagai Islam formal. Peningkatan kesadaran beragama tersebut dengan sendirinya akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan Islam bagi anak-anak mereka.
  3. Posisi pendidkan Islam, Posisi madrasah yang semakin mantap seiring dengan lahirnya undang-undang no.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Dalam undang-undang tersebut pendidikan seperti madrasah di akui sebagai bagian dari system pendidikan nasional.
  4. Keimanan dan ketaqwaan semakin menempati posisi yang setrategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, setiap langkah pembangunan bangsa harus di jiwai oleh nilai-nilai agama.
  5. Meningkatnya status sosial-politik kalangan santri pada masa ini banyak sekali elit politik, birokrat maupun tokoh masyarakat dan cendikiawan yang berasal dari kalangan santri. Hal ini secara tidak langsung juga berdampak positif bagi meningakatnya perhatian dan penghargaan terhadap lembaga pendidikan Islam.
  6. Meningkatnya Kualitas sebagian pendidikan Islam, seperti madrasah dan sekolah Islam berkualitas rendah, namun beberapa madrasah ternyata mengungguli lembaga pendidikan atau sekolah umum.

Melihat tantangan dan peluang yang dimiliki pendidikan Islam yakni dalam rangka mempersiapkan peserta didiknya menghadapi tantangan yang semakin berat pada millennium  ini, adalah melakukan reformasi pendidikan Islam sedemikian rupa sehingga menu pendidikan Islam yang diberikan mampu menunjang proses reproduksi dan revitalisasi. Lebih lanjut menurut DR. Baharudin dikatakan bahwa reformasi pendidikan yang dilakukan dalam rangka menyiapkan diri di era globalisasi ini meliputi beberapa hal :
  1. Agama yang disajikan dalam proses pendidikan haruslah agama yang lebih  menekankan kepada “kesalehan aktual” bukan semata-mata “kesalehan ritual”. Hal ini penting ditekankan mengingat millennium ketiga akan semakin diwarnai selain oleh trust juga oleh kompetisi.
  2. Pendidikan Islam harus mempunyai generasi terdidik yang pluralis yang mampu menghadapi kemajemukan baik internal maupun eksternal.
  3. Pengembangan sifat pluralis tersebut harus merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya besar mewujudkan masyarakat madani yang demokratis, terbuka dan beradab yang menghargai perbedaan pendapat. Justru selalu diupayakan sebgai rahmat bukan sebagai laknat.
  4. Masyarakat madani yang diharapkan adalah masyarakat yang penuh percaya diri, memiliki kemandirian dan kreatifitas yang tinggi dalam memcahkan masslah yang diahadapi
  5. Pendidikan yang dilakukan harus menyiapkan generasi yang siap berpartisipasi aktif dalam interaksi global, hal iini berarti pengetahuan dan keterampilan yang diberikan harus memiliki relevansi yang kuat dengan trend global tersebut.

Selain memiliki tantangan dan peluang, pendidikan Islam juga harus memperhatikan beberapa hal lain diantaranya yaitu: pertama, peningkatan mutu sumber daya manusia, diantara tuntutan internal dan tantangan eksternal global, maka keunggulan-keunggulan yang mutlak dimiliki oleh peserta didik adalah penguasaan atas sains dan teknologi dan keunggulan kualitas sumber daya manusia(SDM). Kedua, menyiapkan kurikulum yang handal yang berwawasan masa kini dan masa depan. Kurikulum ini diharapkan dapat menciptakan manusia-manusia yang memiliki kemampuan yang berkualitas dan memiliki keterampilan dan kecakapan dalam hidup.Ketiga, sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana merupakan unsur penting yang sangat menunjang bagi kelancaran dan keberhasilan proses pendidikan. Oleh karena itu, sarana dan prasarana akademik mutlak perlu, baik berupa perpustakaan, gedung, pembelajaran, masjid dan lain sebagainya.Keempat, mendekonstruksi metode dan menejemen.Metodologi dan manjemen yang selama inikita pakai harus dirubah dan dibangun lagi yang baru, yang dapat membawa semangat dan konsep baru sehingga menghasilakn tujuan yang diinginkan sesuai dengan tuntutan modern sekarang ini.Kelima, Pengembangan ilmu sosial profetik.Ilmu sosial profetik adalah ilmu sosial yang dalam pengembangan ilmu selalu didasarkan dengan konsep keilahian.  Dengan Ilmu sosial profetik yang kita bangaun dari ajaran islam, kita tidak perlu takut atau khawatir terhadap dominasi sains barat dan arus globalisasi yang terjadi saat ini. 

Senada dengan pendapat tersebut diatas yaitu  dalam rangka menghadapi tantangan zaman ini pendidikan Islam harus melaksanakan pendidikan tetap dalam pilarnya. Pilar-pilar pendidikan Islam tersebut dibangun atas dasar tauhid, hubungan yang hamonis antara Allah SWT, manusia, dan alam, berorientasi pada moralitas Islam dan akhlak mulia, kesucian manusia (fitrah), dan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.  Karena dalam pandangan Islam ilmu, amal, dan akhlak hendaknya berintikan dan menimbulkan iman dalam diri seseorang. Rasulullah saw bersabda bahwa: “Baragsiapa yang tambah ilmunya tapi tidak tambah imannya, maka baginya tidak tambah apapun disisi Allah swt. Kecuali semakin jauh darinya”.Dengan demikian, domain ilmu, amal, dan akhlak diatas amsih perlu diteruskan lagi dengan domain iman yang merupakan inti dari pendidikan Islam. Domain iman ini merupakan manifestasi dari nilai spritualitas dan emosional manusia yang sadar akan makna dirinya dalam hubungannya dengan Allah swt, orang lain, lingkungan, dan alam sekitar.

Mencermati berbagai tantangan diatas, maka tidaklah mustahil pendidikan Islam dapat memainkan peran penting dan strategis dalam mewujudkan masyarakat madani. Karena bagaimanapun pendidikan Islam setidaknya memiliki dua misi yang harus diemban, yaitu pertama Menanamkan pemahaman Islam secara komperhensip agar peserta didik mampu mengetahui ilmu-ilmu Islam  sekaligus mempunyai kesadaran untuk mengamalkannya. Pendidikan Islam tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan Islam secara teoritik saja sehingga hanya menghasilkan seorang cendikiawan muslim, tetapi Islam juga  menekankan pada pembentukan sikap dan prilaku yang islami dengan kata lain membentuk peserta didik menjadi Insan Kamil . Kedua, memberikan bekal kepada peserta didikagar nantinya dapat berkiprah dalam kehidupan masyarakat yang nyata, serta survive menghadapi berbagai tantangan yang semakin tidak terkendali.

Dengan dua misi diatas, maka tidaklah berlebihan bahwa pendidikan Islam memiliki peran penting dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kualitas intlektual yang tinggi, kepribadian yang tangguh, kreatifitas dan keterampilan yang memadai, melainkan juga yang sangat penting dan harus menjadi dasar yaitu memiliki akhlak dan budi pekerti serta iman yang kokoh dan kuat sehingga upaya dalam mewujudkan masyarakat madani bukan sekedar slogan belaka.


BAB III
PENUTUP

Dari penjelasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikam Islam merupakan harapan besaragar dapat mengimbangi keras dan kuatnya gempuran arus globalisasi. Dengan segala potensi yang dimilikinya berupaya mempersiapkan generasi masa depan yang ditopang oleh intlektual yang tinggi, kepribadian yang tangguh, akhlak dan budi pekerti, serta iman yang kuat. Sehingga dengan demikian pendidikan islam dapat memberikan kontribusinya dalam mewujudkan masyarakat madani.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut pendidikan islam memiliki tantangan dan peluang diantaranya pertama, peningkatan mutu sumber daya manusia, Kedua, menyiapkan kurikulum yang handal yang berwawasan masa kini dan masa depan. Ketiga, sarana dan prasarana yang memadai.Keempat, mendekonstruksi metode dan menejemen.Kelima, Pengembangan ilmu sosial profetik.Ilmu sosial profetik adalah ilmu sosial yang dalam pengembangan ilmu selalu didasarkan dengan konsep keilahian.
Mencermati berbagai tantangan di atas, maka tidaklah mustahil pendidikan Islam dapat memainkan peran penting dan strategis dalam mewujudkan masyarakat madani. Karena bagaimanapun pendidikan Islam setidaknya memiliki dua misi yang harus diemban, yaitu pertama Menanamkan pemahaman Islam secara komperhensip agar peserta didik mampu mengetahui ilmu-ilmu Islam  sekaligus mempunyai kesadaran untuk mengamalkannya. Pendidikan Islam tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan Islam secara teoritik saja sehingga hanya menghasilkan seorang intelektual muslim, tetapi Islam juga  menekankan pada pembentukan sikap dan prilaku yang islami dengan kata lain membentuk peserta didik menjadi Muslim yang intelektual. Kedua, memberikan bekal kepada peserta didikagar nantinya dapat berkiprah dalam kehidupan masyarakat yang nyata, serta survive menghadapi berbagai tantangan yang semakin tidak terkendali.
Dengan dua misi diatas, maka tidaklah berlebihan bahwa pendidikan Islam memiliki peran penting dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kualitas intlektual yang tinggi, kepribadian yang tangguh, kreatifitas dan keterampilan yang memadai, melainkan juga yang sangat penting dan harus menjadi dasar yaitu memiliki akhlak dan budi pekerti serta iman yang kokoh dan kuat sehingga upaya dalam mewujudkan masyarakat madani akan terwujud bukan sekedar slogan belaka.
almumtaz.wiki



Daftar Pustaka
Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam Paradigma baru pendidikan Hadhari berbasis Integratif-Interkonektif, Jakarta: PT.Rajagrfindo, 2011.
Abdul Fatah Jalal, Azaz-azaz Pendidikan Islam, Terj. Harry Noer Ali, Bandung: CV. Diponegoro, 1988.
Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung : CV. Diponegoro,1992.
Abudin Nata, Kapita selekta Pendidikan Islam,  Bandung: Angkasa 2003.
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,Bandung: Al-Ma’arif 1989.
Ahmad Syalabi, Tarikh  al-Tarbiyah al-Islamiyat, Kairo : al-Kasyaf,1945.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Ramaja Rosdakarya, 1992.
Anen Sutianto, Reaktualisasi Masyarakat Madani Dalam Kehidupan. Bandung: Pikiran Rakyat, 2004.
Baharudin, Pendidikan Islam dan isu-isu sosial, Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2011.
Deny Suito, Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: Centre For Moderate Muslim Indonesia. 2006.
Ibn Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthubiy, Tafsir Qurthuby, Juz 1, Kairo : Dar  al- Sya’biy. Tt.
Kamaruddin Hidayat dan Azyumari Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia,dan Masyarakat Madani,  Jakarta : ICCE UIN Hidayatullah Jakarta dan The Asia Foundation, 2006.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk aksi, dalam Pendidikan Islam dan isu-isu sosial,Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2011.
Muhammad Fadhil Al-Jamaly, nahwa Tarbiyat Mukminat,al-syirkat al-Tunisiyat li al-Tauzi’ 1977.
Muhammad Nuquib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam, Terj. Haidar Bagir, Bandung : Mizan, 1994.
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim; Tafsir al-Manar, Juz VII, Beirut : Dar al-Fikr, tt.
Omar Muhammad Al-Thoumy  Al-Syaibani, Falasafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1979.


________________________________________

Peran Pendidikan Islam Dalam Menyiapkan Terwujudnya Warga Masyarakat Madani Sebagai Bentuk Responsif Menghadapi Era Globalisasi Reviewed by Kharis Almumtaz on October 13, 2018 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.