Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

PERAN PENDIDIKAN ISLAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (KASUS PERSEKUSI, BULLYING, DAN TAWURAN)

 
PERAN PENDIDIKAN ISLAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA(KASUS PERSEKUSI, BULLYING, DAN TAWURAN)

A.    Pendahuluan
Almumtaz.wiki- Kekerasan yang terjadi pada anak dan remaja terjadi diseluruh belahan bumi Indonesia. Pada kasus tertentu anak dan remaja menjadi korban, namun pada kasus lain anak dan remaja menjadi pelaku kekerasan. Kasus persekusi yang heboh di Sidoarjo, melibatkan seorang anak SD kelas 6 yang dipersekusi oleh anak SMP karena hutang soft lens pada 10 Maret 2018.  Akhirnya 3 orang siswa SMP tersebut membully anak SD yang berhutang dengan berbuat kasar kepadanya. Kasus kenakalan anak yang terbaru adalah tawuran pelajar yang terjadi di Kebayoran Lama Jakarta pada tanggal 6-9-2018 hingga menawaskan 1 orang.  Tawuran ini melibatkan dua genk remaja yaitu genk sparatiz dan genk redlebbels. Rentetan kenakalan anak dan remaja jika ditelusuri dalam liputan media maka sangat banyak sekali.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 26 ribu kasus anak dalam kurun 2011 hingga September 2017.  Novianty dan Nodia mengatakan bahwa KPAI melansir terjadinya peningkatan kasus bullying di kalangan pelajar Indonesia. Data yang diungkap KPAI bahwa sejak tahun 2011 hingga 2016 KPAI telah menangani sekitar 253 kasus bullying yang terdiri dari 122 anak menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku.
Perilaku bullying telah menjadi grand topik pembicaraan tentang kekerasan dan kenakalan pelajar di Indonesia. Kekerasan dan kenakalan pelajar ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah umum, namun juga terjadi dilingkungan sekolah yang berbasis agama bahkan di pondok pesantren. Beberapa media telah memberitakan kematian santri yang diduga menjadi korban korban bullying seperti yang terjadi pada Iqbal di Surabaya  dan M. Rifqi Pratama di Pontianak.
Permasalahan bullying telah manjadi kasus global. Pada tahun 1997 - 1998 (Sampson, dalam Problem Oriented Guide for Police Series No.12) dilakukan sebuah penelitian internasional yang melibatkan 120.000 siswa dari 28 sekolah, dan hasilnya diperoleh bahwa 20% dari anak usia kurang dari 15 tahun menyatakan dirinya mengalami bullying di sekolah. Penelitian secara nasional di Amerika Serikat menghasilkan sekitar 30% anak-anak sekolah dasar atau 5,7 ribu anak setiap tahun mengalami bullying

Athi’ Linda Yani, Indah Winarni, dan Retno Lestari dalam penelitiannya mengatakan bahwa bullying yang juga sering terjadi di pesantren. Adapun penyebab perilaku bullying terjadi di pesantren disebabkan oleh santri yang jauh dari pengawasan orangtua, budaya asal santri yang sangat beragam sehingga sulit beradabtasi, dan kurangnya pengawasan dari pihak pesantren yaitu dari kyai secara langsung terutama pesantren yang mempunyai jumlah santri cukup banyak. Pengawasan santri di pesantren, biasanya diserahkan kepada santri senior, dan santri senior inilah yang sangat rentan sebagai pelaku bullying karena mereka merasa mempunyai kekuasan dan wewenang yang lebih dari pada santri yang yunior.  Temuan ini diperkuat oleh temuan Ernawati yaitu penyebab bullying yang terjadi di pesantren pada umumnya disebabkan karena senioritas. Pelaku melakukan tindakan bullying karena adanya rasa “menguasai” junior dan berawal dari keisengan santri terhadap santri lainnya.  Sementara itu Nailul Mona mengutip Espelage dalam Winurini (2012) mengatakan bahwa pemicu terjadinya bullying pada masa remaja adalah lekatnya peran kelompok rekan sebaya dalam kehidupan remaja, terutama ketika mereka berada di sekolah.

Beberapa upaya menanggulangi kasus bullying cukup banyak dilak
ukan, mengingat cukup banyak penelitian yang telah dilakukan sebelum ini. Salah satu cara untuk melakukan upaya preventif yang dilakukan oleh Ernawati dengan “Sosialisasi Meningkatkan Kesadaran Santri terhadap Tindakan Bullying di Pesantren.” Upaya lain yang dilakukan oleh Djoemeliarasanti Djoekardi “Sosialisasi Program Anti-Bullying dalam Rangka Menciptakan Sekolah Damai” Sementara upaya kuratif yang dilakukan oleh Husmiati Yusuf dan Adi Fahrudin “Perilaku Bullying: Asesmen Multidimensi dan Intervensi Sosial” Upaya lain yang dilakukan oleh Martunus Wahab, Eko Sujadi, dan Leni Setioningsih “Strategi Coping Korban Bullying.”
Sementara itu dampak dari perilaku bullying juga sangat besar, baik bagi pelaku bullying sendiri, lebih-lebih dampak bagi korban. Bagi pelaku bullying akan menjadikan orang yang anti sosial, sehingga mudah dimusuhi, hatinya menjadi keras harena tidak punya rasa kasih sayang. Sementara bagi korban akan berdampak pada aspek psikologis, fisik dan juga aspek sosial. Dampak buruk bagi korban bullying antara lain seperti rendahnya psycological well-being seperti perasaan tidak bahagia secara umum, self-esteem rendah dan perasaan marah dan sedih. Korban juga akan mengalami psycological distress dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi dan yang paling buruk korban akan memiliki pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Dampak fisik korban akan mengalami sakit pada fisiknya, baik berupa luka-luka atau bahkan menjadi cacat fisik. Sementara dampak sosial yang mungkin terjadi seperti munculnya perasaan benci terhadap lingkungan sosial, sehingga akhirnya mengekspresikan ketidaksenangan pada sekolah, merasa kesepian, merasa terisolasi dan sering bolos sehingga korban akhirnya putus sekolah.

Berdasarkan data dan fakta yang telah diuraikan di atas, permasalahan bullying menjadi hal yang sangat krusial untuk dicari solusi dan alternatif pemecahannya yang lebih komprehensif. Perilaku bullying harus kampanyekan sedemikian rupa agar tidak terjadi lagi baik di lingkungan sekolah, pesantren, maupun di masyarakat. Townsend (1998) mengatakan bahwa peran serta orang tua, peran seorang konselor, peran institusi pendidikan, dan peran lingkungan sangat diharapkan untuk mengambil bagian secara simultan sehingga perilaku bullying tidak akan banyak terjadi lagi.

B.    Definisi Persekusi dan Bullying
Persekusi diartikan pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah atau ditumpas.  Pengertian Persekusi (bahasa Inggris: persecution) adalah perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik. Persekusi adalah salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang didefinisikan di dalam Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. Timbulnya penderitaan, pelecehan, penahanan, ketakutan, dan berbagai faktor lain dapat menjadi indikator munculnya persekusi, tetapi hanya penderitaan yang cukup berat yang dapat dikelompokkan sebagai persekusi.
Jadi yang dimaksud dengan persekusi adalah tindakan kesewenang-wenangan oleh seseorang atau kelompok kepada orang lain atau kelompok lain sehingga korban merasa dilecehkan, ketakutan, ketakutan dan atau teraniaya sehingga diri atau kelompoknya merasa menderita.
Sementara itu, istilah bullying pada awalnya hanya dikenal di barat khususnya di Eropa. Namun akhir-akhir ini, istilah bullying telah banyak digunakan di berbagai negara dan tempat di seluruh dunia. Fenomena bullying sendiri pertama kali diteliti oleh di sekolah-sekolah di Norwegia dan Swedia oleh seorang peneliti berkebangsaan Norwegia. Penelitian serupa juga pernah dilakukan di beberapa negara lain seperti Austria, Kanada, Inggris, Italia, dan Amerika Serikat, dan hasilnya menunjukan persentase yang sama bahkan lebih tinggi dari studi yang dilakukan di Norwegia dan Swedia. Menurut Lai, Ye, & Chang (2008), perilaku bullying telah banyak diteliti di Asia seperti di Jepang, Korea, China, Malaysia, Singapura, Filipina, dan termasuk Indonesia.
Istilah bullying tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia, namun, beberapa penggunaan kata bullying sering digunakan dalam bahasa jurnalistik. Bullying diidentikkan dengan istilah penindasan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan dan intimidasi.  Dalam Bahasa Inggris, bullying berasal dari kata bully yang berarti menggertak atau mengganggu orang yang lemah.
Definisi bullying menurut Sullivan, Clearly, & Sullivan dan Fitrianto (2009) ialah serangkaian tingkah laku agresif yang dilakukan satu atau sekelompok orang terhadap orang lain dalam kurun waktu tertentu. Bullying memiliki tiga ciri utama, yaitu (a) Tindakan agresif yang dilakukan oleh perpetrator/pelaku kejahatan pada korbannya dengan maksud untuk menyakiti, (b) Tindakan ini berulang seiring waktu, dan (c) Terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dengan korban, dengan korban seringkali tidak mampu melindungi dirinya dari pelaku.
American Psychological Association mengartikan Bullying sebagai, “a form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes another person injury or discomfort. Bullying can take the form of physical contact, words or more subtle actionsBullying merupakan bentuk perilaku agresif di mana seseorang dengan sengaja dan berulang kali menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain. Bullying dapat berupa kontak fisik, kata-kata atau tindakan yang lebih halus. Definisi lain dikemukakan oleh Sulivan, yakni tindakan negatif dan agresif yang bersifat manipulatif yang dilakukan seseorang kepada orang lain selama periode waktu tertentu.

C.    Penyebab terjadinya perilaku bullying dan tawuran
Menurut Hurmiyati Yusuf dan Adi Fahrudin penyebab dari perilaku bullying adalah sangat kompleks.  Pertama adalah faktor faktor keluarga. Latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. Penggunaan kekerasan dan tindakan yang berlebihan dalam usaha mendisiplinkan anak-anak oleh orang tua, pengasuh, dan guru secara tidak langsung, mendorong perilaku buli di kalangan anak-anak. Anak-anak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya pengukuhan yang positif, berpotensi untuk menjadi pembuli.
Kedua adalah faktor teman sebaya. Teman sebaya menurut Verlinden et al., (2000), memainkan peranan yang tidak kurang pentingnya terhadap perkembangan dan pengukuhan tingkah laku buli, sikap anti sosial dan tingkah laku devian lain di kalangan anak-anak. Kehadiran teman sebaya sebagai pengamat, secara tidak langsung, membantu pembuli memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status. Dalam banyak kasus, saksi atau teman sebaya yang melihat, umumnya mengambil sikap berdiam diri dan tidak mau campur tangan.

Ketiga adalah faktor sekolah. Menurut Pearce dan Thompson (1998), lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti-sosial seperti melakukan buli terhadap orang lain. Managemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah akan mengakibatkan lahirnya tingkah laku buli di sekolah.
Keempat, adalah faktor media. Paparan aksi dan tingkah laku kekerasan yang sering ditayangkan oleh televisi dan media elektronik akan mempengaruhi tingkah laku kekerasan anak-anak dan remaja. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat diramaikan oleh perdebatan mengenai dampak tayangan Smack-Down di sebuah televisi swasta yang dikatakan telah mempengaruhi perilaku kekerasan pada anak- anak. Meskipun belum ada kajian empiris dampak tayangan SmackDown di Indonesia, namun para ahli ilmu sosial umumnya menerima bahwa tayangan yang berisi kekerasan akan memberi dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak.

D.    Alternatif Pemecahan menurut pendidikan Islam
Penyebaran perilaku bullying menurut teori belajar sosial Bandura adalah sebagai proses adabtasi perilaku yang diketahui oleh seseorang sehingga dia cenderung untuk menirukannya. Mekanisme penting bagi perilaku kekerasan seperti bullying pada anak-anak adalah terjadinya proses belajar melalui pengamatan langsung. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan Leane Leaster, David J Mander, dan Donna Cross (2015) maupun Wisnu Sri Hertinjung (2013). Menurut Hoover et.al, (1998) perilaku bullyingdisebabkan karena beberapa hal antara lain: (a) karakteristik kepribadian, (b) kekerasan yang dialami sebagai pengalaman masa lalu, (c) sikap keluarga yang memanjakan anak sehingga tidak membentuk kepribadian yang matang.
Tesis Bandura di atas menyadarkan kepada kita semua bahwa ada tugas mulia dari pendidikan untuk menghentikan perilaku bullying terutama pendidikan Islam. Islam yang diyakini sebagai agama rahmatan lil alamin, harus dapat memberi solusi sesuai dengan kekhasan dalam proses pendidikannya. Abdurrahkan An- Nahlawi mengatakan bahwa ada empat pilar pendidikan Islam, yaitu Keluarga, sekolah, masyarakat dan tempat ibadah.  Oleh karena itu, agar perilaku bullying dapat terselesaikan solusi pendidikan Islam yang dapat ditawarkan adalah menguatkan kembali empat pilar pendidikan menurut Islam tersebut:
  • Penguatan Keluarga
Hafizh Ibrahim, seorang penyair berkata:
“Ibu adalah madrasah. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka engkau
tengah mempersiapkan satu bangsa yang unggul. ”
“Ibu adalah taman. Jika senantiasa tersirami dengan rasa malu, maka taman
itu akan hijau merekah. ”
“Ibu adalah guru pertama bagi para guru, di mana pengaruh mereka yang
terpuji membentang di sepanjang ufuk. ”
  • Pengawasan teman anak oleh orang tua
Anak ibarat sebuah anak panah yang siap melesat kemana arah sang pemanah pengarahkannya. Oleh karena itu, orangtua berposisi sebagai pemegang busur yang siap mengarahkan kemana anak panah anak diarahkan. Demikianlah juga kondisi seorang anak, dimana dia akan melasat kearah yang tidak jelas jika tidak mendapat arahan dari orangtua.
  • Pengawasan bersama dengan masyarakat sekitar
Kemajuan teknologi dan perkembangan di masyarakat, saat ini menuju ke arah individualisme yang sangat kuat sehingga seseorang menjadi acuh dan tak acuh terhadap lingkunganya. Sementara itu, kejadian-kejadian yang berupa kejahatan dan lain sebagainya sering terjadi di sekitar kita namun karena seseorang cuek dengan lingkungan, maka kejadian tersebut seolah-olah menjadi benar dan dilakukan berulang-ulang.
  • Komunikasi yang baik dengan sekolah
Anggapan bahwa orangtua telah memasrahkan penuh pendidikan anak kepada sekolah sehingga perkembangan anak menj adi urusan sekolah. Sekolah bukan s atu- satunya tempat mendidik anak, tetapi orang tua, lingkungan sekitar dan juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Sekolah sebaiknya menjalin kerjasama dan komunikasi yang baik dengan orang tua dan lingkungan. Sehingga ada kebersamaan dalam menanggulangi kenakalan anak.
  • Adanya perhatian dari pemerintah tentang tanyangan media massa
Liputan dan siaran media sosial seharusnya memperoleh kontrol yang kuat dari pemerintah, karena tayangan di televisi dan media lain akan menjadi pembelajaran bagi seorang anak dan remaja. Proses meniru yang dilakukan oleh anak dan remaja, sangat kuat dari tontonan baik media cetak, media sosial lain.

E.    Penutup
Penanggulangan kenakalan remaja tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak, namun harus ada usaha yang dilakukan bersama, antara orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Kenakalan anak yang disebabkan oleh proses belajar yang salah, baik yang diperoleh dari rumah tangga, lingkungan sekitar dan atau media akan membekas pada diri seorang anak dan remaja.
Maka solusi pendidikan Islam adalah dilakukan secara bersama-sama yaitu melalui penguatan keluarga, pengawasan pergaulan dan teman anak oleh orang tua, pengawasan pergaulan dan tingkah laku anak oleh masyarakat sekitar, meningkatkan komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua, dan ikut andilnya pemerintah dalam pengawan media massa.
Semoga tulisan yang seikit ini bermanfaat. Amiin.
F.    Daftar pustaka
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Anak di Sekolah, Madrasah dan di Rumah, (Jakarta: gema Insani Press, 2010).
Athi’ Linda Yani, Indah Winarni, dan Retno Lestari, Eksplorasi Fenomena Korban Bullying pada Kesehatan Jiwa Remaja di Pesantren, Jurnal Ilmu Keperawatan , Vol. 4, No. 2 Nov. 2016.
Darmawan, Fenomena Bullying (Perisakan) Di Lingkungan Sekolah, Jurnal Kependidikan, Vol. 1, No. 2, November 2017, hlm 255.
Ernawati, Sosialisasi Meningkatkan Kesadaran Santri terhadap Tindakan Bullying di Pesantren, JurnalAbdiMOESTOPO, Vol. 01, No. 02 (2018).
Hertinjung, Wisnu Sri. Bentuk-Bentuk Perilaku Bullying Di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013, (Surakarta: UMS).
Husmiati Yusufl Adi Fahrudin, Perilaku Bullying: Asesmen Multidimensi Dan Intervensi Sosial, JurnalPsikologi Undip Vol. 11, No.2, Oktober 2012, hlm 1-10
John M. Echols & Hasan Shadily, Kamus bahasa Inggris, Jakarta: Gramedia, 1995), hlm.
Mangadar Simbolon, Perilaku Bullying pada Mahasiswa Berasrama, Jurnal Psikologi, Vol 39, No. 2 Desember 2013, hlm 235.
Nailul Mona, Kohesi pada Jaringan Sosial Bullying, Jurnal Komunikasi Indonesia, Vol. V, No. 2, Okt 2016.
KBBI on line
https://www.liputan6.com/regional/read/3368717/gara-gara-softlens-3-remaja-
smp-persekusi-siswa-sd-di-sidoarjo
https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/06/19485151/kronologi-tawuran- p el aj ar-di -kebayoran-l am a-yang-tewaskan- 1-pelajar
KPAI Terima Aduan 26 Ribu Kasus Bully Selama 2011-2017. https://detik.com. Rabu 04 Oktober 2017. Diakses tanggal 22 Juli 2018
http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2017/192905-Di-Pesantren,-Iqbal-
Sering-Jadi-Korban-Bullying
http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/03/jadi-korban-penganiayaan-teman-
seorang-santri-di-pondok-pesantren-ini-meninggal
PERAN PENDIDIKAN ISLAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (KASUS PERSEKUSI, BULLYING, DAN TAWURAN) Reviewed by Kharis Almumtaz on May 01, 2020 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.