Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TEORI DAN METODE PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI FORMULASI DALAM UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH

TEORI DAN METODE PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI FORMULASI DALAM UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH
 PROGRAM DOKTOR (S3) PAI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Tidaklah berlebihan jika ada sebuah ungkapan aththariqah ahammu minal maddah, bahwa metode jauh lebih penting dibanding materi, karena sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW saat menyampaikan wahyu Allah kepada para sahabatnya bisa kita teladani, karena Rasul saw. sejak awal sudah mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran Islam.

Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah SWT dan syariat-Nya.

 TEORI-TEORI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Aliran yang melandasi teori belajar ada dua macam yaitu behaviorisme dan konstruktivisme.Kedua aliran tersebut banyak mempengaruhi para ahli dan pemikir pendidikan untuk mengembangkan berbagai teori dan konsep pembelajaran.
Adapun teori-teori dasar pendidikan dan pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut:
Teori Disiplin Mental
Teori disiplin mental merupakan rintisan menuju aliran behaviorisme.Menurut Plato dan Aristoteles, teori ini menganggap bahwa dalam belajar mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.Adapun teori disiplin mental memiliki penolakan dari aliran psikologi daya, aliran herbartisme dan aliran naturalisme romantik.
Aliran psikologi daya menyatakan bahwa individu memiliki sejumlah daya, mengenal, mengingat, menanggapi, mengkhayal, berpikir, merasakan, berbuat dan lain-lain. Jika anak dilatih mengulang-ulang dan menghafal sesuatu maka dia akan terus ingat akan hal tersebut.
Aliran herbartisme dipelopori oleh Herbart, psikolog Jerman.Herbart menyebut teorinya dengan teori Vorstellungen.Vorstellungen memiliki makna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran yang terdiri dari impresi indera, tanggapan/bayangan dari impresi indera dan perasaan senang atau tidak senang.Dalam praktek pembelajaran, adanya apersepsi awal pada pembelajaran serta refleksi pada akhir pembelajaran pada hakikatnya merupakan implementasi dari teori ini.
Aliran naturalisme daya yang dipelopori oleh JJ Rousseau menyatakan bahwa anak-anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam.Melalui belajar, anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut.Sesungguhnya anak memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri. Anak-anak akan berkembang secara alamiah (natural enfoldment).
Teori disiplin mental ini kurang kuat pengaruhnya terhadap pendidikan dan pembelajaran dan banyak mendapatkan kritik dari ahli pendidikan dan pembelajaran.Berbeda dengan konsep behaviorisme, kognitivisme dan konstruktivisme.

Behaviorisme
Aliran ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan pada perilaku (behavior) yang dapat diamati.Adapun ciri dari teori ini adalah:
a.    Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b.    Bersifat mekanistis
c.    Menekankan peranan lingkungan
d.   Mementingkan pembentukan respon
e.    Menekankan pentingnya latihan.
Behaviorisme memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah serta mengabaikan aspek-aspek mental serta kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam kegiatan pembelajaran.
Adapun sejumlah kritik yang disampaikan oleh para ahli pendidikan sehubungan dengan kelemahan teori behaviorisme adalah sebagai berikut:
a.    Behaviorisme tidak mengadaptasi berbagai macam jenis pembelajaran karena mengabaikan aktifitas pikiran
b.    Behaviorisme tidak mampu menjelaskan beberapa jenis pembelajaran misalnya pengenalan terhadap pola-pola bahasa baru oleh anak kecil karena tidak ada mekanisme penguatan
c.    Behaviorisme tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks karena banyak variabel yang berkaitan dengan pendidikan yang berperan terhadap perilaku siswa tapi pengaruh/peranannya tidak sekedar hubungan stimulus-respon
d.   Behaviorisme kurang dapat menjelaskan variasi tingkat emosi siswa walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama
e.    Behaviorisme tidak memperhatikan pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang dapat diamati sebagai pengaruh stimulus-respon
f.     Behaviorisme cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linear, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif
g.    Bagi pendidik yang berpandangan agama sebagai landasan pendidikan anak, behaviorisme dianggap bukan landasan pendidikan yang ideal karena bersifat naturalistik yang menganggap materi adalah realitas yang sesungguhnya.

Kognitivisme
Teori kognitif diawali oleh perkembangan psikologi gestalt yang dipelopori oleh Marx Wertheimer.Pengembang teori kognitivisme adalah Jean Piaget, selain itu ada juga Kurt Lewin, Jerome S. Bruner, Robert M. Gagne dan David P. Ausubel.
Teori belajar kognitif lebih mementingakan proses belajar dari pada hasil.Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang disebut sebagai model perseptual.Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak.Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks.
Teori kognitivisme tidak lepas dari kritik-kritik. Beberapa isu kontroversial terkaik kognitivisme adalah sebagai berikut:
a.    Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan, apakah disusun berdasarkan kualitas atau kuantitas kognis
b.    Terkait dengan kontinuitas dan diskontinuitas terdapat kontroversi tentang apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada setiap tahapannya
c.    Berkaitan dengan homogenitas dari fungsi kognisi terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari setiap individu. Ada anak yang cepat belajar, ada yang lambat belajar padahal dalam tahap perkembangan usia yang sama
d.   Kontroversi antara natur yang berpangkal pada filsafat nativisme (anugerah alam) dengan natur yang berlandaskan filsafat empirisme (hikmah dari pengalaman). Nativisme percaya bahwa otak manusia telah dipersiapkan sejak lahir untuk tugas-tugas kognitif, sedangkan empirisme yakin bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman
e.    Secara relative kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan (level IQ tertentu) tetapi terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.

Konstruktivisme
Konsep ini merupakan perkembangan dari kognitivisme.Aliran ini banyak mempengaruhi pandangan tentang pembelajaran, metode-metodenya, filsafat-filsafatnya dan konsep-konsep lain yang berkembang pesat sejak tahun 1980-sekarang.
Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman kita membangun, mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup.
Konstruktivis percaya bahwa pembelajar mengkonstruk sendiri realitasnya atau paling tidak menerjemahkannya berlandaskan persepsi tentang pengalamannya, sehingga pengetahuan individu adalah sebuah fungsi dari pengalaman sebelumnya, juga struktur mentalnya yang kemudian digunakan untuk menerjemahkan objek-objek serta kejadian-kejadian baru.Para ahli yang berkecimpung dalam aliran ini adalah Bruner, Ulrick, Neiser, Goodman, Kant, Kuhn, Dewey dan Habermas.Akan tetapi yang berperan besar yaitu karya Jean Piaget yang kemudian diterjemahkan dan dikembangkan oleh Ernst von Glaserfeld.
Asumsi-asumsi dasar dari konstruktivisme seperti diungkap oleh Merril adalah sebagai berikut:
a.    Pengetahuan dikonstruksikan melalui pengalaman
b.    Belajar adalah penafsiran personal tentang dunia nyata
c.    Belajar adalah sebuah proses aktif dimana makna dikembangkan berlandaskan pengalaman
d.   Pertumbuhan konseptual berasal dari negosiasi makna, saling berbagi tentang perspektif ganda dan pengubahan representasi mental melalui pembelajaran kolaboratif
e.    Belajar dapat dilakukan dalam setting nyata, ujian dapat diintegrasikan dengan tugas-tugas dan tidak merupakan aktifitas yang terpisah (penilaian autentik).
Dampak teori konstruktivisme terhadap pembelajaran antara lain berkenaan dengan:
Tujuan Pendidikan
:
Menghasilkan individu atau anak ynag memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi

Kurikulum
:
Konstruktivisme tidak memerlukan kurikulum yang distandarisasikan. Oleh karena itu, lebih diperlukan kurikulum yang telah disesuaikan dengan pengetahuan awal siswa. Juga diperlukan kurikulum yang lebih menekankan keterampilan pemecahan masalah (hands on problem solving). Dengan kata lain kurikulum harus dirancang sedemikian rupa, sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan maupun keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.

Pengajaran
:
Dibawah teori konstruktivisme, pendidik berfokus terhadap bagaimana menyusun hubungan antar fakta-fakta serta memperkuat perolehan pengetahuan yang baru bagi siswa. Pengajar harus menyusun strategi pembelajarannya dengan memperhatikan respon/tanggapan dari siswa serta mendorong siswa untuk menganalisis, menafsirkan serta meramalkan informasi. Guru juga harus berupaya dengan keras menghadirkan pertanyaan berujung terbuka (open ended question) dan mendorong terjadinya dialog yang ekstensif antar siswa. Dalam konsep ini sebaiknya guru berfungsi sebagai fasilitator dan mediator dan teman (mitra belajar) yang membangun situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik.

Pembelajar
:
Diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya

Penilaian
:
Konstruktivisme tidak memerlukan adanya tes yang baku sesuai dengan tingkat kelas. Namun memerlukan suatu penilaian yang merupakan bagian dari proses pembelajaran (penilaian autentik)sehingga memungkinkan siswa berperan lebih besar dalam menilai dan mempertimbangkan kemajuannya atau hasil belajarnya sendiri. Hal ini merupakan alasan untuk menghadirkan portofolio sebagai model penilaian. Portofolio secara ringkas dapat dimaknai sebagai bukti-bukti fisik (hasil ujian, makalah, hasil keterampilan, piagam, piala, catatan dan lain-lain) hasil belajar atau hasil kinerja siswa.

  Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa, dan sebagainya. Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran peserta didik. Berdasarkan suatu teori belajar, suatu pembelajaran diharapkan dapat lebih meningkatkan perolehan peserta didik sebagai hasil belajar. Tujuan utama pembelajaran adalah mambantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing- masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik & membantu dalam mewujudkan potensi- potensi yang ada pada diri mereka.

METODE PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI FORMULASI PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
Pengertian Metode
Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berrti jalan atau cara. Dalam Bahasa Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya :
Winarno Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan
Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur
Ramayulis mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan proses pembelajaran.
Omar Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah :
Adanya tujuan yang hendak dicapai
Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan
Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung
Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
Ada istilah lain yang dalam pendidikan yang mengandung makna berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dapat juga diartikan sebagai pedoman mengajar yang bersifat realistis/konseptual. Sedangkan teknik/strategi adalah siasat atau cara penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.
Maka dalam sebuah lembaga pendidikan seharusnya menggunakan berbagai metode pembelajaran dengan di sesuaikan dengan keadaan peserta didik tanpa meninggalkan tujuan dari penggunaan metode tersebut. Seorang pendidik sangatlah tau bagaimana kondisi perserta didik entah di dalam kelas maupun di luar kelas. Sehingga dalam penerapannya, guru haruslah menggunakan strategi metode dan teknik yang bervariasi dalam penanaman nilai (transfer of value) dan penanaman keilmuan (transfer of knowledge) sehingga tidak menimbulkan kejenuhan selama proses pembelajaran. Beberapa metode yng dipakai hrndaknya disesuaikan dengan sarana prasarana yang ada hingga pada akhirnya tujuan dapi pmbelajaran tercapai secara maksimal.

Asas Metode Pendidikan Islam
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada asas-asas/dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Asas metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah:
Asas Agamis, maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Quran dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Quran dan Hadits.
Asas Biologis, Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
Asas Psikologis. Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
Asas sosiologis. Saat pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat asas di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik. Sehingga dalam implementasinya dihrapkan dengan metode yang diterapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan bermuara pada puncak keberhasilan dalam proses pembelajaran dlam sebuah lembaga madrasah ataupun sekolah .

 Karakteristik Metode Pendidikan Islam
Diantara karakteristik metode pendidikan Islam:
Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari pembentukannya, penggunaannya sampai pada pengembangannya tetap didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal.
Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat dipisahkan dengan konsep al-akhlak al-karimah sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam
Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik, pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
Metode pendidikan Islam berusaha sungguh-sungguh untuk menyeimbangkan antara teori dan praktik.
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan dan akhlak karimah.
Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajaran.
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif yang kondusif .
Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.
Dari pemaparan diatas kita tahu bahwa sebuah metode pendidikan islam memiiki kharakteristik tertentu. Sebagai contohnya dari segi pendidik, metode pendidikan islam lebih menekankan nilai niai keteladanan serta kebebasan pendidik dalam mengkombinasi berbagai metode pendidikan islam yang ada daam mencapai tujuan pembelajaran.
 Macam-macam Metode dalam Pendidikan Islam
Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Quran dan Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah:
Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini terdapat di dalam Al Quran :
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23)
Metode ceramah adalah cara menyampaikan suatu pelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik atau khalayak ramai.  Metode ceramah ini pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika turun wahyu yang memerintahkan untuk dakwah secara terang-terangan, seperti hadits berikut:
Artinya :
Menceritakan kepada kami Qutaibah ibn Said dan Zuhair ibn Harb, berkata, Menceritakan kepada kami Jarir, dari Abdul Malik ibn Umair, dari Musa ibn Thalhah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Tatkala diturunkan ayat ini: Dan peringatkanlah para kerabatmu yang terdekat(Q.S. Al-Syuara:125), maka Rasulullah SAW memanggil orang-orang Quraisy. Setelah meraka berkumpul, Rasulullah SAW berbicara secara umum dan khusus. Beliau bersabda, Wahai Bani Kaab ibn Luaiy, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka!, wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari neraka! Karena aku tidak kuasa menolak sedikitpun siksaan Allah terhadap kalian. Aku hanya punya hubungan kekeluargaan dengan kalian yang akan aku sambung dengan sungguh-sungguh. (H.R. Muslim )

Hadits tersebut menjelaskan bahwa menyampaikan suatu wahyu, atau mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran yang telah ditentukan, bahkan memberi peringatan kepada siapapun dapat menggunakan metode ceramah. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berbicara secara umum dan khusus dihadapan orang-orang Quraisy dengan tujuan mengajak orang-orang Quraisy dan lainnya untuk menyelamatkan diri dari neraka dengan usahanya sendiri, karena Rasulullah tidak kuasa menolak sedikitpun siksaan Allah terhadap umatnya.

Berdasarkan hadis rasulullah diatas dapat diketahui bahwa ceramah merupakan salahsatu metode penyampaian informasi kepada pihak lain, namun jika dikontekan dengan keadaan saat sekarang ini metode ceraamah dirasa kurang maksimal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Maka dari pada itu seharusnya diperlukan metode lain yang bervariasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal.

Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan. Selain itu ada juga hadits yang lainnya seperti hadits berikut ini :
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Said, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh abu hurairah yang berbunyi:
dari Abu Hurairah r.a Berkata : ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya hormati? Beliau menjawab : Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang lebih dekat dan yang lebih dekat dengan kamu (HR. Muslim)

Dari penjelasan hadist diatas, Rasulullah menggunakan metode tanya jawab sebagai starategi pembelajarannya. Beliau sering menjawab pertanyaan dari sahabatnya ataupun sebaliknya. Metode tanya jawab ini sendiri ialah metode pembelajaran yang memungkinkan adanya komunikasi langsung antara pendidik dan peserta didik.sehingga komunikasi ini terlihat adanya timbal balik antara guru dengan siswa. Tujuan terpenting dari metode tanya jawab ini adalah para guru atau pendidik dapat mengetahui sejauhmana para murid dapat mengerti dan mengungkapkan apa yang telah diceramahkan. Dengan menggunakan metode tanya jawab maka akan tercipta suasana interaktif antara pemberi informasi dengan penerima informasi sehingga dapat dikatakan juga dengan demnggunakan metode tanya jawab akan tercipta hubngan timbal balik anatar pendidik dengan pesrta didik, sehingga dalam proses pembelajaran terjadi simbiosis mutualisme dlam artian siswa berhasil menangkap intisarinya dan pendidik berhasil memahamkan materinya sehingga akan tercipta kualitas pembelajaran yang maksimal
Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog).
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Quran Surat Assafat : 20-23 yang berbunyi :
Dan mereka berkata: Aduhai celakalah kita! Inilah hari pembalasan.Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya(kepada Malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (Q.S. Assafat : 20-23)

 Sebagaimana yang disampaikan oleh rasulullah yang diriwayatkan oleh anas bin malik:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْمَظْلُوْمًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهٌ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
(رواه البخارى)
Dari Anas bin Malik ra, Ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda : “Tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didzalimi. Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah bagaimana jika menolong orang dzalim? Rasulullah menjawab : “tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya (HR. Imam Bukhari)
Diskusi pada dasarnya adalah tukar menukar informasi dan unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan atau merampungkan keputusan bersama. Jika ditelaah dari bebarapa riwayat hadist, Rasulullah adalah orang yang paling banyak melakukan diskusi. Metode diskusi ini sering dilakukan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya untuk mencari kata sepakat. Tetapi walaupun Nabi sering melakukan dan membolehkan mendidik dengan metode diskusi akan tetapi dalam pelaksanaanya harus dilakukan dengan hikmah ataupun dengan bijak agar segala permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan tanpa ada permusuhan, karena metode diskusi berbeda dengan debat. Jika debat adalah perang argumentasi, beradu paham dan kemampuan persuasi dalam memenangkan pendapatnya sendiri. Maka dalam metode diskusi diharapkan semuanya memberi sumbangsih sehingga semua bisa paham dan dimengerti secara bersama.

  Dari hadis jika dikaitkan dengan proses pembelajaran dalam ranah pendidikan, metode diskusi juga merupakan salahsatu metode yang dianjurkan dalam hal memahamkan peserta didik. Peserta didik akan lebih aktif inovatif jika dalam proses pembelajaraannya terdapat aspek musyawarah atau diskusi dalam hal memecahkan masalah demi tercapainya solusi dalam hal pembelajaran. Dengan menggunakan metode yang bermacam macam siswa akan kehilangan kejenuhannya sehingga kenyamannnya dalam proses pembelajaran akan berimbas pada ketercapaian tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan sebeluymnya.

Selain itu terdapat juga dalam hadits yang berbunyi :
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sâid dan Ali ibn Hujr, katanya hadis Ismail dan dia ibn Jafar dari Alâ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta.Rasul bersabda; Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV: 1997)

Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Quran yang berbunyi :
Artinya :
Hai orang yang berkemul (berselimut),
Bangunlah, lalu berilah peringatan!
Dan Tuhanmu agungkanlah!
Dan pakaianmu bersihkanlah,
Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.
Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang berbunyi
Artinya: Hadis dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. (al-Bukhari, I: 226)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى
(رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a , Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : orang yang menanggung hidup anak yatim atau yang lainnya, maka saya ( Nabi) dan dia seperti ini di dalam syurga dan Imam Malik mengisyaratkan seperti jari telenjuk dan tengah (HR. Imam Muslim)

Dari hadist diatas yang dimaksud dengan   ( كَافِلُ اليَتِيْمِ) adalah mencukupi segala kebutuhannya mulai dari nafakah, pakaian, pendidikan sekolah dan bertanggung jawab atas baik buruknya adabnya. Hal yang demikian ini mendapatkan keuatamaan baik dari hartanya sendiri maupun harta anak yatimtersebut dengan menjadi walinya ini.
Maksud dari أَوْ لِغَيْره yaitu orang terdekatnya seperti kakek, nenek, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dari ayah, paman dari ibu bibi dari ibu dan oran

Pada hadist diatas menerangkan tentang hubungan kedekatan Rasulullah dengan orang yang memelihara anak yatim. Rasulullah SAW mendemonstrasikan juga dengan jari beliau. Beliau menerangkan kepada para sahabat bahwa kedudukan beliau dengan orang yang memelihara anak yatim di surga begitu dekat, seperti kedekatan jari tengah dan jari telunjuk.
Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran.
Metode demonstrasi dan eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
Prinsip dasar metode ini ada dalam hadits :
Artinya: Hadis Adam, katanya hadis Syubah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ dari ayahnya, katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka katanya saya sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan, ketika itu anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di tanah, kemudian saya salat. Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda: Sebenarnya anda cukup begini. Rasul memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah.(al-Bukhari, I: 129)

Hadis di atas tergolong syarîf marfu dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut. Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu. Metode demonstrasi bukanlah sebuah metode baru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ini telah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dari Al-Bukhari yang telah diterangkan oleh Abu Aqib Al- Atsari (2009) diceritakan:
حَدَثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ اْلمَثَنَّى قَالَ حَدَثَنَا عَبْدُالْوَهَابِ قَالَ حَدَثَنَا اَيُّّوْبَ عَنْ اَبِى قِلاَبَةَ قاَلَ حَدَثَنَا مَالِكٌ اَتَيْنَااِلَى الّنَبِيِّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبِيَّةٌ مُتَقَارِبُوْنَ فَأَقََمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلََيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا فَلَمَّا ظَنَّ اَتَا قَدْ إِشْتَغَيْنَا أَهْلَنَا اَوْقَدْ إِشْتَقَلْنَا سَأْلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَافَاَخْيَرْنَاهُ قَالَ اَرْجِعُوْا إِلَى أَهْلَِيْكُمْ فََاَقِمُوْافِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءً اَحْفَظُهَا اَوْلاَ أَحْفَظُهَا وَصَلُّوْا كَمَا رَاَيْتُمُوْنِىْ اُصَلِّى.

Artinya: ”Hadits dari Muhammad Ibnu Musanna, katanya hadits dari Abdul Wahab katanya Ayyub dari Abi Qilabah katanya hadits dari Malik, kami mendatangi rasulullah SAW. Dan kami pemuda yang sebaya kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, Beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hafal dan yang saya tidak hafal. Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat Aku shalat (HR. Al-Bukhori:226) Al-Atsari (2009).

Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW. senantiasa memberi contoh terlebih dahulu kepada umatnya sebelum beliau memberikan perintah-perintah beribadah kepada mereka, yaitu melalui pemberian pendidikan dan pelatihan-pelatihan khusus sebelum pelaksanaan kegiatan tertentu dimulai Dari hadis lain disebutkan juga sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى(رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a , Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : orang yang menanggung hidup anak yatim atau yang lainnya, maka saya ( Nabi) dan dia seperti ini di dalam syurga dan Imam Malik mengisyaratkan seperti jari telenjuk dan tengah (HR. Imam Muslim)

 Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran.
 Metode Amsal/perumpamaan
Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan Prinsip metode ini terdapat dalam Al Quran:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Q.S. Albaqarah : 17)
Selain itu terdapat pula dalam hadits yang berbunyi :
Artinya; Hadis dari Muhammad ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadis dari Abdul Wahhâb yakni as- Śaqafi, hadis Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar, Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka adalah seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia bolak balik ke sana ke sini. (Muslim, IV: 2146)

Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, şiqah hâfiz, sedangkan ibn Umar adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut ath-Thîby (1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di antara dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik pada ke duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.
Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut ini :
Artinya: Hadis Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâid ibn Abi Said al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat syafaatmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadis ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan Lâilaha illa Allah dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari, t.t, I: 49)


Selain hadits juga hadits berikut ini :
Artinya: Hadis Ahmad ibn Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari Abi Sahlah as-Sâib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat Rasulullah saw. bersabda jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian (Sijistani, t.t, I: 183).

 Rasulullah SAW. banyak menggunakan targhib dalam mendidik sahabat (umat)nya.
antaranya dapat dilihat dalam hadis berikut ini.
Yang artinya: Abdullah bin Masud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Siapa yang membaca satu huruf Alquran mendapat pahala satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.
Sebagaimana hadis dari sahabat salman yang atinya:
Dari Salman, ia berkata Rasulullah saw. berkata kepadaku, Setiap orang yang menyucikan diri pada hari Jumat sebagaimana diperintahkan, kemudian keluar dari rumahnya untuk menghadiri salat Jumat, ia diam sampai selesai salat akan diampuni dosanya sejak Jumat yang lalu.
Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah hâfiz, şiqah dan şiqah azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam lingkungan social.
Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
Metode pengulangan (tikror)
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut :
Artinya: Hadis Musaddad ibn Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadis dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716).

Hadis di atas tergolong syarîf marfu dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.

SIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam mempunyai peranan yang amat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Sebaik apapun materi yang akan kita sampaikan tanpa disertai metode yang tepat dalam pencapaiannya dikhawatirkan esensi dari materi tersebut tidak sampai dan tidak difahami oleh peserta didik.  Dengan menggunakan metode yang berfariasi akan membuat peserta didik akan kehilamngan kejenuhan dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran akan menjadi menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai sehingga akan tercipta kualitas pembelajaran yang optimal dalam dunia pendidikan.







DAFTAR PUSTAKA

Al Syaibani, Omar Mohammad, 1979, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang

Echol, Jhon M dan Shadily, Hasan, 1995, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Ihsan, Hamdani dan A. Fuad Ihsan. 2007. filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia

Nizar, Samsu. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers

Ramayulis, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia

________, 2008, Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia

Ramayulis dan Nizar, Samsu, 2009, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia





TEORI DAN METODE PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI FORMULASI DALAM UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH Reviewed by Kharis Almumtaz on May 01, 2020 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.