Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TINDAK KEKERASAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Tentang Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak)





TINDAK KEKERASAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM(Tentang Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak)
Mata Kuliah: Isu- Isu Global dalam Pendidikan Islam
 Prof .Dr. Machasin, M.A
Oleh: Kharis Mujahada
PENDAHULUAN
BAB 1

A.    Latar Belakang Masalah
ALMUMTAZ.WIKI- Perlakuan semena-mena terhadap perempuan baik yang ditujukan terhadap fisik, psikis maupun seksual kiranya telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu atau seusia peradaban manusia. Kekerasan terhadap perempuan dapat dilakukan oleh siapa saja, baik di lingkungan sendiri (domestik) maupun lingkungan luas (publik). Namun kekerasan terhadap perempuan yang paling menyedihkan apabila terjadi di dalam lembaga perkawinan, lembaga yang disakralkan dan bertujuan luhur.
Oleh karena itu perlu dikaji lebih mendalam tentang kekerasan suami terhadap istri baik dari sisi hukum islam maupun hukum positif. Baik hukum islam maupun hukum positif tidak membenarkan terjadinya tindak kekerasan di dalam rumah tangga. Namun, yang masih menjadi perdebatan adalah makna kekerasan itu sendiri yang sangat bersifat abstrak dan bergantung kepada individu dan norma masyarakat. Bentuk-bentuk kekerasan biasanya meliputi kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan seksual, kekerasan psikologis dan kekerasan berlapis. Faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan dapat dilihat dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut: alkohol dan obat-obatan terlarang, ekonomi, perselingkuhan, psikologis, pemaham yang keliru terhadap ajaran agama, adanya pihak ketiga, perilaku istri yang menyimpang. Sedangkan faktor eksternal dilihat dari budaya masyarakat yang memandang istri sebagai interior dan masih kurangnya perlindungan hukum. Di samping itu, akar permasalahan kekerasan umumnya berawal dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pasangan suami istri baik pra nikah maupun sesudah pernikahan. Padahal Islam telah mengajarkan hak dan kewajiban bagi keduanya, yang apabila benar-benar dipahami dan dilaksanakan maka tidak akan ada kekerasan rumah tangga. Keefektifan hukum Islam sangat tergantung kepada pemahaman dan pelaksanaan ajarannya dengan kaffah, atau dengan kata lain pada ketaatan masing-masing individu dalam keluarga sebagai sub sistem dari masyarakat, yang pada akhirnya membentuk suatu masyarakat anti kekerasan. Sedangkan, efektivitas hukum positif sangat bergantung kepada peraturan dan penegak hukum yang kemudian memberi pengaruh kepada masyarakat dan keluarga.

Anak adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada seseorang. Anak adalah aset berharga yang menjadi harapan bagi kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat. Anak jugalah yang menjadi bibit-bibit penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itu sudah sewajarnya  anak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang lebih agar tercipta generasi-generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Namun fakta berbicara lain. Saat ini, banyak berita di media massa yang tengah membahas tentang kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh anak-anak Indonesia.
Beberapa kasus kekerasan terhadap anak sering sekali terjadi di beberapa wilayah di indonesia. Hal tersebut disebabkan salah satunya kuraangnya pemahaman terhadap kondisi psikis anak. Kekerasan terhadap anak merupakan tindakan yang harus di hindari dengan alasan  perlu adanya pemahaman terhadap perkembangan anak sedini mungkin  dengan dibarengi dengan sentuhan kasih sayang sehingga dapat menstimuli perkembangan sikap dan usaha membangun kerangka berfikir anak. Pada dasarnya, perlindungan pada anak sudah tertuang dalam uud 1945 pasal 28b ayat 2 “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi”. Namun, aturan ini hanyalah sekedar aturan. Indonesia masih sangat lemah terutama tentang perlindungan anak dan perlindungan terhadap perempuan.
B.    Rumusan Masalah
1.     Apa saja faktor penyebab tindak kekerasan terhadap perempuan?
2.     Apa saja faktor yang mempengaruhi kekerasan terhadap anak?
3.    Bagaimana Pandangan Islam  terhadap tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak serta bagaimana cara mencegah dan mengatasinya?
C.    Tujuan Pembahasan
 Makalah ini disusun bertujuan agar kita dapat mengetahui dan memahami penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan memahami pandangan Islam dalam menyikapi kekerasan, sehingga kita dapat berbenah diri dimulai dari sekarang untuk berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah sebagai upaya terhindar dari kekerasan dan berusaha memecahkan masalah dengan cara yang bersahabat.
1.    Untuk mengetahui faktor faktor apa saja yang menjadi pentyebab adanya tindak kekerasan terhadap perempuan
2.    Untuk mengetahui faktor faktor apa saja yang menjadi pentyebab adanya tindak kekerasan terhadap anak
3.    Untuk mengetahui bagaimana pandangan islam serta tindakan solutif apa saja yang di tawarkan  untuk  mencegah timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.


Kekerasan
A.    Pengertian Kekerasan
 Kekerasan adalah tindakan-tindakan kriminalitas (jarimah) yang terjadi pada seseorang. Pengertian kriminalitas atau jarimah dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam sehingga yang disebut kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara. Inilah standar penting untuk menilai apakah perbuatan tersebut termasuk kriminalitas atau tidak. Dengan demikian dalam pandangan Islam, kejahatan bukanlah persoalan laki-laki atau perempuan, atau masalah menyetarakan hak laki-laki atau perempuan bukanlah itu inti persoalan. Menuduh wanita berzina tanpa bukti, dihukum oleh Islam. Perkara ini termasuk qodzaf, dimana pelakunya bisa dihukum 80 kali cambukan (Q.S. An-Nur: 4). Sama halnya dengan pelacuran, dianggap tindakan kriminalitas dalam Islam, di mana wanita yang melakukannya akan diberikan sanksi hukum, demikian juga lelakinya yang pezina.
Islam tidak memandang apakah korban atau pelakunya laki-laki atau perempuan. Bukan berarti karena kekerasan itu menimpa wanita, yang melakukannya tidak dihukum. Baik dia laki-laki atau perempuan siapapun yang melakukannya akan dihukum. Pelacuran, bagaimana pun tetap perbuatan tercela, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Poligami tidak bisa disebut kekerasan terhadap wanita. Sebab perkara ini tidak dilarang oleh syariat Islam. Tapi menyakiti wanita dengan memukulnya sampai terluka adalah merupakan kekerasan terhadap wanita, baik dia monogamy atau poligami. Karena memukul wanita sampai dirinya terluka adalah perbuatan melanggar hukum aturan Allah SWT.
Definisi KDRT sangat luas, yaitu “semua tindakan terhadap perempuan atau kelompok yang terkoordinasi lain yang mengakibatkan atau mungkin mengakibatkan kerugian atau penderitaan fisik, seksual, ekonomi, dan atau psikologis, termasuk ancaman untuk melakukan tindakan seperti itu. Pemaksaan atau menghilangkan kebebasan secara sepihak, dalam ruang lingkup rumah tangga.
Banyak tindak kekerasan dapat digolongkan sebagai kejahatan fisik, psikologis, seksual, ekonomi, dan pelecehan seksual. Setiap bentuk kekerasan didefinisikan secara luas sehingga dapat mengakomodasi berbagai penderitaan yang dialami perempuan atau anak dalam keluarga. Kekerasan fisik, misalnya, meliputi tindakan yang mengakibatkan rasa sakit, luka, atau bekas luka di tubuh seseorang, keguguran, pingsan, dan atau kematian. Kekerasan psikologis adalah tindakan yang mengakibatkan rasa takut, kehilangan percaya diri, kehilangan kemampuan untuk mengambil tindakan, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan jiwa serius.
Kekerasan ekonomi yang dulu dibatasi hanya pada urusan nafkah kini luas sekali cakupannya, termasuk membatasi atau melarang seseorang bekerja di dalam atau di luar rumah.

B.    Faktor Penyebab Kekerasan Terhadap Perempuan
 Kekerasan terhadap wanita adalah bentuk kriminalitas. Dan kriminalitas adalah bentuk kejahatan. Sementara kejahatan dalam Islam adalah perbuatan tercela (al qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara’, bukan yang lain. Sehingga apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap wanita harus distandarkan pada hukum syara’.
Dengan demikian, sekali lagi perlu ditegaskan, kejahatan termasuk terhadap wanita, bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Artinya, Islam menjatuhkan sanksi bukan melihat apakah korbannya laki-laki atau perempuan. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau perempuan. Tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah SWT atau tidak. Disinilah kekeliruan mendasar, dan kelompok Feminis, yang menganggap kejahatan diukur berdasarkan kepada gender (seks) korban atau pelakunya Mereka membela pelacuran, karena dianggap korbannya adalah wanita. Sebaliknya mereka menuduh poligami kekerasan terhadap wanita, dengan anggapan wanita telah menjadi korbannya.
Di samping itu kejahatan bukan pula sesuatu yang fitri (ada dengan sendirinya) pada din manusia. Kejahatan bukan pula profesi yang diusahakan oleh manusia, juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Tapi kejahatan adalah setiap hal yang melanggar peraturan Allah SWT, siapapun pelakunya. Sehingga dalam Islam homoseksual adalah kejahatan. Tidak bisa dikatakan sifat homoseksual adalah fitri atau penyakit jiwa, sehingga dimaklumi keberadaannya. Tapi homoseksual adalah tindakan seksual yang menyimpang dan syariat Islam. Pelacuran atau artis dangdut yang merangsang, tetap merupakan kejahatan dalam Islam. Tidak bisa dengan alasan ini profesi saya, kemudian hal itu dilegalkan.
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan kriminalitas, termasuk terhadap wanita. Pertama, faktor individu. Tidak adanya ketakwaan kepada Allah bisa mendorong seseorang untuk melanggar hukum syara. Karena itu Islam mengingatkan pentingnya ketakwaan individu seseorang.
Kedua, faktor sistemik. Kejahatan sekarang ini tidaklah berdiri sendiri. Bisa faktor ekonomi, orang merampok karena lapar atau mencari uang untuk istrinya yang hamil. Bisa juga faktor politik, seperti kekerasan yang dilakukan oleh negara dengan alasan memerangi pemberontak atau terorisme. Bisa juga muncul dan pengaturan hubungan pria dan wanita yang salah. Seperti pergaulan bebas, telah menyebabkan munculnya perzinaan. Dapat pula faktor hukum (sanksi) yang tidak membuat orang jera melakukan kejahatan. Seperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan.
Untuk persoalan sistemik ini, dibutuhkan penerapan hukum syara yang menyeluruh oleh negara. Kalau tidak akan terjadi ketimpangan. Sebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran, kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki. Sebab, tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. Kekerasan dalam rumah tangga juga, kalau hanya dilihat dan istri harus mengabdi kepada suami pastilah timpang. Padahal dalam Islam, suami diwajibkan berbuat baik kepada istri. Kekerasan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan sanksi diyat. Disinilah letak penting tegaknya Daulah Khilafah Islam yang akan menerapkan hukum syara secara kaffah dan menyeluruh.

C.    Bentuk Kekerasan Yang Menimpa Perempuan
  Berdasarkan syariat Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita di mana pelakunya harus diberikan sanksi yang tegas. Namun sekali lagi perlu ditegaskan kejahatan ini bisa saja menimpa laki-laki, pelakunya juga bisa laki-laki atau perempuan. Berikut ini beberapa perilaku jarimah dan sanksinya menurut Islam terhadap pelaku:
  1.  Qadzaf, yakni melempar tuduhan. Misalnya menuduh wanita baik-baik berzina tanpa bisa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syariat Islam. Sanksi hukumnya adalah 80 kali cambukan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT: “San orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah 80 kali.” (Q.S. An-Nur [24]: 4-5).
  2. Membunuh, yakni ‘menghilangkan’ nyawa seseorang. Dalam hal ini sanksi bagi pelakunya adalah qishos (hukuman mati). Firman Allah SWT: Diwajibkan atas kamu qishos berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Qs. al-Baqarah [2] : 179)
  3. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Sanksi hukumnya adalah kewajiban membayar diyat (100 ekor unta), tergantung organ tubuh yang disakiti. Penyerang terhadap lidah dikenakan sanksi 100 ekor unta, 1 biji mata 1/2 diyat (50 ekor unta), satu kaki 1/2 diyat, luka yang sampai selaput batok kepala 1/3 diyat, luka dalam 1/3 diyat, luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta, setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta, luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta (lihat Nidzam al-‘Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki).
  4. Perbuatan-perbuatan cabul seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. Kalau wanita itu adalah orang yang berada dalam kendalinya, seperti pembantu rumah tangga, maka diberikan sanksi yang maksimal
  5. Penghinaan. Jika ada dua orang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya, maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara sampai 4 tahun (lihat Nidzam al-’Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahnian al-Maliki).
  6.  
Dalam konteks rumah tangga, bentuk-bentuk kekerasan memang seringkali terjadi, baik yang menimpa istri, anak-anak, pembantu rumah tangga, kerabat ataupun suami. Misal ada suami yang memukuli istri dengan berbagai sebab, ibu yang memukul anaknya karena tidak menuruti perintah orang tua, atau pembantu rumah tangga yang dianiaya majikan karena tidak beres menyelesaikan tugasnya. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga itu pada dasarnya harus dikenai sanksi karena merupakan bentuk kriminalitas (jarimah).
Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada Allah SWT. Hal ini sesuai firman Allah SWT yang artinya: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dan api neraka...” (Q.S. at-Tahrim [66]: 6). Dalam mendidik istri dan anak-anak ini, bisa jadi terpaksa dilakukan dengan “pukulan”. Nah, “pukulan” dalam konteks pendidikan atau ta’dib ini dibolehkan dengan batasan-batasan dan kaidah tertentu yang jelas.
Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan, apalagi sampai mematikan; pukulan hanya diberikan jika tidak ada cara lain (atau semua cara udah ditempuh) untuk memberi hukuman/pengertian; tidak boleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali (karena dikhawatirkan akan membahayakan); tidak memukul pada bagian-bagian tubuh vital semisal wajah, kepala dan dada; tidak boleh memukul lebih dan tiga kali pukulan (kecuali sangat terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan); tidak boleh memukul anak di bawah usia 10 tahun; jika kesalahan baru pertama kali dilakukan, maka diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya, dll.
Dengan demikian jika ada seorang ayah yang memukul anaknya (dengan tidak menyakitkan) karena si anak sudah berusia 10 tahun lebih namun belum mengerjakan shalat, tidak bisa dikatakan ayah tersebut telah menganiaya anaknya. Toh sekali lagi, pukulan yang dilakukan bukanlah pukulan yang menyakitkan, namun dalam rangka mendidik. Demikian pula istri yang tidak taat kepada suami atau nusyuz, misal tidak mau melayani suami padahal tidal ada uzur (sakit atau haid), maka tidal bisa disalahkan jika suami memperingatkannya dengan “pukulan” yang tidak menyakitlan. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah, maka bila suami melarangnya Ia luar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini bukan berarti suami telah menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat pada syariat. Semua itu dikarenakan istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara’. Rasulullah SAW menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dan pintu mana saja yang engkau sukai.” [HR. Ahmad 1/191, di-shahih-kan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ No 660, 661)
Namun di sisi lain, selain kewajiban taat pada suami, wanita boleh menuntut hak-haknya seperti nafkah, kasih sayang, perlakuan yang baik dan sebagainya. Seperti firman Allah SWT: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Qs. al-Baqarah [2]: 228)

D.    Pandangan Islam Terhadap Kekerasan Dalam  Rumah Tangga
  Pandangan seperti mi, tentu saja juga didasarkan pada banyak teks-teks hadits Nabi Muhammad SAW. Di antaranya:
Dalam riwayat Bahz bin Hakim bin Muawiyah, bahwa kakeknya bertanya kepada Nabi saw: “Wahai Rasulullah, apa hak isteri kita, dan apa yang boleh kita lakukan dengannya dan apa yang tidak boleh dilakukan? Nabi menjawab: “Kamu berhak menggauli istrimu bagaimanapun cara yang kamu suka, kamu harus memberi makan dari yang kamu makan, memberinya pakaian seperti yang kamu pakai, jangan mencemooh muka istri dan jangan memukulnya.” (Hadits Riwayat Imam Abu Dawud, lihat: Ibn al-Atsir, Juz VII, hlm. 329, Nomor Hadits: 4717).
Iyas bin Ibdillah bin Abi Dzubab ra berkata: “Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian memukul para perempuan!”. Lalu datang Umar ra kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Para istri itu nanti berani (melawan) suami mereka, berikan kami izin untuk tetap memukul mereka”. Tetapi kemudian banyak sekali perempuan yang mendatangi keluarga Rasulullah SAW, mengadukan perilaku suami mereka. Maka Rasulullah saw pun bersabda, “Sesungguhnya banyak perempuan mendatangi keluarga Muhammad sambil mengadukan perilaku suami mereka. Mereka (para suami yang memukul isteri) itu bukanlah orang-orang yang baik”. (Riwayat Abu Dawud) (lihat: Ibn al-Atsir, juz VII hal. 330, no. hadits: 4719).
Riwayat lain, dalam hadits Bukhari, Muslim, dan at-Turmudzi, dan ‘Abdullah bin Zam’ah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu memukul isterinya, layaknya seorang hamba saja, padahal di penghujung hari, Ia mungkin akan menggaulinya.” (Hadits Riwayat Imam Bukhari, lihat: Shahih Bukhari, Kitab al-Nikah, Ma Yakrahu li dharb al-Nisa’, Nomor Hadits: 4805).
Ini peringatan yang tegas dan Nabi SAW agar suami tidak memukul isterinya. Karena masih banyak cara dan media lain, yang tidak mencederai kemanusiaan perempuan. Tidak sekadar berbicara, Nabi SAW memiliki teladan baik dengan melaksanakan pandangannya itu. Selama hidup berumah tangga, Nabi tidak pernah sekalipun memukul  isteri-isterinya. Padahal, perbedaan di antara Nabi dan isteri-isterinya kerap terjadi dan beberapa di antaranya menimbulkan ketegangan hubungan suami-isteri. Namun, Nabi tak sekalipun menempuh cara kekerasan, baik kekerasan fisik, perkataan, psikis, seksual, maupun ekonomi. Seperti yang diceritakan ‘Aisyah ra, dalam suatu hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Abu Diwud:
“Bahwa Rasulullah tak pernah memukul pembantu dan tidak juga perempuan.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Adab, Fi al-Tajawuz fi al-Amri, Nomor Hadits: 4154)
Nabi sendiri bersedia bersabar ketika menghadapi berbagai perbedaan dan perlakuan dan isterinya. Bahkan, Nabi memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan keinginan mereka, memberikan masukan, dan menentukan pilihan yang sesuai dengan harapan mereka. Tanpa ada kata-kata penghinaan, pelecehan, menghardik, apalagi ucapan-ucapan keji dan kotor, Nabi menghadapi mereka dengan kesabarannya.
Dari beberapa teks hadits ini, dengan jelas bisa ditegaskan bahwa kekerasan sama sekali tidak sesuai dengan perilaku, nasehat, dan peringatan Nabi SAW. Pemukulan atau segala bentuk periaku kekerasan lain adalah bertentangan dengan prinsip pergaulan yang baik (mu’asyarah bi al-ma’ruf), tidak sesuai dengan anjuran penghinaan terhadap perempuan (ma akramahunna illa karim), dan pelanggaran terhadap wasiat Nabi SAW untuk berbuat baik terhadap perempuan (istawshu bin nisa’i khairan). Lebih dahsyat lagi, mereka yang memukul isterinya, dijuluki oleh Nabi SAW sebagai orang-orang yang jahat dan busuk (laysa ula’ika bi khiyarikum). Memukul isteri, apapun alasannya, adalah bertentangan dengan anjuran, harapan, dan perilaku sehari-hari Nabi SAW terhadap para isterinya. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa pemukulan bukanlah solusi tepat bagi pendidikan, apalagi pendidikan bagi orang dewasa, seperti isteri. Oleh karena itu, wajar apabila Nabi saw dalam banyak kesempatan sering menyindir orang-orang.
Bahz bin Hakim bin Mu’awiyah berkata, bahwa kakeknya bertanya kepada Nabi saw: “Wahai Rasulullah, apa hak isteri kita, dan apa yang boleh kita lakukan dengannya dan apa yang tidak boleh dilakukan? Nabi menjawab: “Kamu berhak menggauli isterimu bagaimanapun cara yang kamu suka, kamu harus memberi makan dari yang kamu makan, memberinya pakaian seperti yang kamu pakai, jangan mencemooh muka istri dan jangan memukulnya.” (Sunan Abu Dawud, Lihat: Ibn al-Atsir, Jami’ al-Ushul, Juz VII, hlm. 329, Nomor Hadits: 4717).
Kekerasan terhadap perempuan, dalam bentuk apapun adalah tindak kedzaliman yang diharamkan dan bertentangan dengan prinsip kerahmatan. Untuk mereduksi kejahatan kekerasan ini, Islam menawarkan konsep keadilan relasi antara laki-laki dan perempuan. Pada relasi suami-istri misalnya, Islam menegaskan konsep ‘pasangan’ atau zawaj, yang satu adalah pakaian bagi yang lain: melengkapi, menutupi, menentramkan dan membahagiakan. Jika relasi yang adil ini terbangun dalam kehidupan rumah tangga, maka kekerasan dalam rumah tangga akan dapat dihindari. Karena kekerasan, baik dalam bentuk fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi pada dasarnya adalah cermin ketidakrukunan keluarga akibat relasi yang timpang, relasi yang tidak adil, di antara mereka, dan itu dilarang oleh ajaran Islam.
Kekerasan Bukan Media Pendidikan. Dalam beberapa buku fiqh, terutama yang membicarakan secara khusus mengenai hak dan kewajiban suami-istri, ada penegasan bahwa seorang suami diperbolehkan memukul istri, ketika terjadi kasus-kasus tertentu; seperti nusyuz, meninggalkan kewajiban agama, berbuat kemungkaran, atau melakukan sesuatu yang mencederai martabat suami. Pemukulan ini diperbolehkan sebagai media pendidikan, bukan sebagai hak mutlak yang kapan pun dan di mana pun bisa dilakukan suami.
Kebolehan ini didasarkan pada ayat 34 dan surat an-Nisa dan beberapa teks hadits. Di antaranya, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Jika si istri melakukan perbuatan keji yang nyata, maka kamu (suami) bisa melakukan sesuatu terhadap mereka, dengan meninggalkan tidur bersama mereka, atau memukul yang tidak mencederai. Jika mereka taat kepadamu (tidak lagi melakukan perbuatan keji itu), maka janganlah kamu mencari-cari alasan (untuk berbuat aniaya) terhadap mereka”. (Riwayat Muslim, Lihat: Ibn al-Atsir, juz VII, hal. 328-329, no. hadits: 4716)
Dalam Mazhab Hanafi, seperti dikatakan Syekh Abdul Qodir ‘Audah, pemukulan hanya diperbolehkan jika seorang suami sudah melakukan tahapan-tahapan; memberi nasihat dan berpisah ranjang. Dia tidak diperkenankan menggunakan media pemukulan, langsung tanpa diawali dengan nasihat baik. Jika suami melakukannya, maka ia telah melampaui batas, berdosa dan bisa diminta pertanggung-jawaban atau diajukan ke pengadilan. Pemukulan juga tidak diperkenankan sampai mencederai dan atau melukai tubuh perempuan. Karena pemukulan yang seperti ini, bukanlah pemukulan sebagai media pendidikan, tetapi sudah merupakan penyiksaan. Karena itu, bisa diajukan ke pengadilan. (lihat: Abdul Qadir ‘Audah; at-Tasyri’ al-Jinai’ fi at-Tasyri’ ai-Islami, juz I, halaman 413-418).
Sebelumnya, Imam ‘Atha - (w. 126 H / 744 M) salah seorang ulama pada masa tabi’in - berpandangan bahwa memukul istri itu hukumnya makruh dan tidak patut untuk dijadikan media pendidikan; apapun alasan yang ada di benak suami. Pandangan ini didasarkan pada teks-teks hadits yang secara eksplisit melarang seseorang memukul perempuan. (Lihat: Ibn ‘Arabi, Ahkim al-Qur’an, Juz I, hlm. 420) . Dan ulama kontemporer, Syaikh Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur, seorang ulama besar pemimpin Jaini’ah Zaitunah Tunisia, menyatakan bahwa wewenang memukul istri diberikan kepada suami demi kebaikan kehidupan rumah tangga. Ketika pemukulan tidak lagi bisa efektif untuk memulihkan kehidupan rumah tangga yang baik, maka wewenang itu bisa dicabut. Bahkan, pemerintah bisa melarang tindakan pemukulan itu dan menghukum mereka yang tetap menggunakan pemukulan sebagai media pemulihan hubungan suami-isteri.

E.    Teologi Anti Kekerasan  Terhadap Perempuan

 Jika melihat kekerasan sebagai kekerasan, apalagi dampak yang diakibatkan, hampir bisa dipastikan semua orang menolak dan menganggapnya sebagai suatu kejahatan kemanusiaan. Dalam bahasa agama Islam, kekerasan adalah suatu kedzaliman dan kemudharatan yang pasti diharamkan. Kekerasan adalah tindakan menyakiti, mencederai dan membuat orang lain berada dalam kesulitan. Dan semua ini adalah haram.
Perbincangan akan berbeda jika kekerasan dilakukan sebagai alat pertahanan dan serangan, atau sebagai media pendidikan dan seseorang yang dinobatkan sebagai pendidik kepada seseorang yang dijadikan sebagai anak didik. Peperangan misalnya, sebagai suatu kekerasan yang paling dahsyat, banyak memperoleh legitimasi jika merupakan pertahanan dan serangan atau kemungkinan suatu penyerangan. Sekalipun, tidak sedikit juga yang saat ini mempertanvakan efektifitas peperangan untuk membangun peradaban perdamaian. Sementara kekerasan verbal dan atau fisik, saat ini masih banyak diadopsi oleh negara terhadap rakyat, orang tua terhadap yang lebih muda, guru terhadap murid, pelatih terhadap yang dilatih, atau suami terhadap istri, semua dengar alasan untuk mendidik. Sekalipun, tentu saja sudah sedemikian banyak yang menentang media kekerasan sebagai pendidikan.
Logika pertahanan, nampaknya tidak relevan dijadikan dasar untuk memahami fenomena kekerasan yang dialami perempuan. Karena dalam masyarakat kebapakan, hampir tidak ada anggapan bahwa perempuan adalah sosok yang mengancam dan akan menyerang, sehingga seseorang perlu mempertahankan diri dengan menyerang melakukan kekerasan terlebih dahulu kepada perempuan. Bisa dipastikan, bahwa fenomena kekerasan terhadap perempuan, tidak bisa dipahami sebagai strategi pertahanan. Karena itu, hampir tidak bisa ditemukan, pandangan keagamaan yang membolehkan tindakan tertentu yang bisa berupa kekerasan terhadap perempuan, dengan alasan pertahanan diri dan serangan.
Yang lazim diperbincangkan adalah bahwa perempuan harus dididik sekalipun pada akhirnya dengan media kekerasan untuk selalu berada pada nilai-nilai keluhuran. Pada konteks relasi suami-istri misalnya, perempuanlah yang harus diluruskan suami agar kembali pada keutuhan perkawinan. Perempuan dididik, diberi nasihat, dipisah dari ranjang atau kamar, dihardik bahkan boleh dipukul; agar mereka tetap patuh dan berada pada kehidupan perkawinan ideal. Asumsinya, perempuanlah yang bersalah, karena itu harus diberi pelajaran oleh suami. Padahal, bisa saja yang terjadi adalah sebaliknya. Suami yang menjadi penyebab. Tetapi pada konteks ini, perempuan tidak punya wewenang untuk mendidik dengan media kekerasan. Marah atau suara keras pun tidak diperkenankan. Mungkin perempuan hanya boleh memberi nasihat lalu kemudian bersabar.
Dengan demikian, membicarakan fenomena Kekerasan yang menimpa perempuan bisa dijelaskan dalam dua pembahasan. Pertama, kekerasan sebagai tindak kedzaliman dan kemudharatan. Dan ini diharamkan secara bulat oleh seluruh ulama Islam. Kedua, kekerasan sebagai media pendidikan. Dan ini yang perlu didiskusikan lebih lanjut dengan perspektif yang lebih memihak kepada perempuan.
Kekerasan adalah Kedzaliman. Secara prinsip, Islam adalah agama yang mengharamkan segala bentuk tindakan menyakiti kepada diri sendiri atau kepada orang lain; baik secara verbal maupun tindakan nyata terhadap salah satu anggota tubuh. Secara konseptual, misi utama kenabian Muhammad SAW adalah untuk kerahmatan bagi seluruh alam. Kekerasan, sekecil apapun bertentangan secara diametral dengan misi kerahmatan yang diemban. “Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali untuk (menyebarkan) kasih sayang terhadap seluruh alam”. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)
Prinsip kerahmatan ini secara konseptual menjadi dasar peletakan pondasi pembahasan hukum Islam dan bangunan etika da1am bangunan etika dalam berelasi antar sesama. Seperti perlunya berbuat baik, memberikan manfaat, saling membantu, pengaharaman menipu, pelarangan tindak kekerasan, dan pernyataan perang terhadap segala bentuk keczaliman. Bentuk-bentuk kekerasan apapun bisa dikategorikan sebagai tingakan kdzaliman, yang bertentangan dengan misi kerahmatan.
“Tidak (demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah [2] :112)
‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. al-A’raf [7];56)
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih”. (Q.S. asy-Syura [42]: 42)
“Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku jadikan kedzaliman itu juga haram di antara kamu, maka janganlah kamu saling mendzalimi satu sama lain.” (Hadis Qudsi, Sahih Muslim, kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, no. Hadits: 4674)
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain, karena seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak diperkenankan mendzalimi, menipu, atau melecehkannya.” (Sahih Muslim, no. hadits: 2564)
Prinsip kerahmatan dan anti kedzaliman menjadi basis dan relasi sosial dalam kehidupan manusia. Itu sebabnya, segala tindak kekerasan seseorang terhadap yang lain adalah haram. Sebaliknya, setiap orang harus saling berbuat balk dan membantu satu sama lain. Yang kuat, misalnya, membantu yang lemah. Yang kaya membantu yang miskin, yang berilmu memberikan ilmu kepada yang tidak berilmu dan seterusnya. Prinsip ini juga menjadi basis bagi ajaran mengenai hubungan suami dan isteri. Karena itu, al-Qur’an mengumpamakan keduanya laksana pakaian bagi yang lain. Suami adalah pakaian bagi isteri. Begitu juga sebaliknya, isteri adalah pakaian bagi suami. Sebagaimana pakaian, yang satu adalah pelindung bagi yang lain. Tidak boleh ada kesewenang-wenangan oleh pihak yang satu terhadap yang lain, karena kesewenang-wenangan adalah tindakan biadab yang mencederai prinsip kerahmatan Islam dan konsep pasangan suami-istri yang digariskan al-Qur’an.
Secara tegas, surat an-Nisa ayat 19 menegaskan pentingnya berbuat baik antara suami dan istri ban surat ath-Thalaq ayat ke-6 melarang keras perlakuan kekerasan, kemudharatan terhadap istri, termasuk mempersempit ruang gerak mereka. Perintah berbuat balk dan larangan kekerasan terhadap perempuan, juga bisa kita jumpai dalam banyak wasiat Nabi Muhammad SAW.
Dan Amr bin al-Ahwash ra, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW pada Haji Wada’ bersabda setelah mengawali dengan hamdalah, nasehat-nasehat dan kisah, baginda bersabda: “Ingatlah, aku wasiatkan kalian untuk berbuat baik terhadap perempuan, karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian, padahal kalian tidak berhak atas mereka, kecuali berbuat baik”.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling sempurna imannya di antara kamu, adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang terbaik di antara kamu, adalah mereka yang berbuat baik terhadap istri mereka”. (Sunan at-Turmudzi, kitab Ar-radha’, bab ma ja’a fi haqq al-mar’ah ‘ala zawjiha)
F.    Pengertian Kekerasan Terhadap Anak
 Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk tindakan kekerasan baik fisik maupun mental yang dilakukan oleh orang tua, pengasuh, atau orang lain seperti penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi, mengancam serta tindakan lainnya yang berpengaruh pada fisik dan mental anak. Kekerasan pada anak dibagi menjadi empat bagian utama yaitu kekerasan fisik, kekerasan emosi, kekerasan seksual dan kekersan dalam bentuk pengabaian pada anak. Kekerasan fisik adalah segala tindakan yang ditujukan kepada fisik anak yang dapat menimbulkan cidera pada badan anak. Kekerasan emosi adalah segala bentuk tindakan meremehkan dan merendahkan anak seperti penolakan, tidak diperhatikan, ancaman, isolasi, dan pembiaran. Kekerasan emosi sulit diidentifikasi karena tidak meninggalkan bekas luka pada tubuh anak. Kekerasan jenis ini lebih menyerang kondisi mental anak sehingga anak sulit menjalin pertemanan, kurang percaya diri, perilaku merusak, dan lain-lain. Kekerasan seksual adalah kondisi dimana anak diperlakukan secara seksual dan juga terlibat dalam aktivitas seksual dimana anak tidak menyadari apa dampak dari tindakan yang diterima olehnya. Kekerasan dalam bentuk pengabaian anak adalah bentuk kekerasan dimana anak tidak memperoleh perhatian yang memadai baik fisik, emosi ataupun sosialnya.
G.    Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tindak Kekerasan Terhadap Anak
 Kekerasan yang dialami oleh anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah:
1.    Kekerasan dalam rumah tangga
Perilaku kekerasan yang timbul dalam keluarga baik yang melibatkan orang tua maupun anggota keluarga lainnya dapat berdampak pada anak. Tidak jarang kemarahan yang berujung tindakan kekerasan itu mengarah pada anak yang sebenarnya tidak tahu apa masalah yang sedang terjadi.
2.    Disfungsi keluarga
Kondisi dimana peran anggota keluarga tidak berjalan dengan semestinya. Misalkan sosok ayah yang tidak bisa menjadi pemimpin dan pelindung dalam keluarganya dan sosok ibu yang tidak bisa menjadi sosok pembimbing dan penyayang dalam keluarganya.
3.    Faktor ekonomi
Kondisi ekonomi yang tidak mencukupi dapat membuat orang tua stress dan kemudian melampiaskannya pada anak.
4.    Persepsi yang salah tentang cara mendidik anak
Banyak orang tua yang salah dalam mendidik anak. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa menghukum anak dengan cara kekerasan seperti memukul dan mencubit adalah tindakan yang wajar. Tindakan mereka dianggap sebagai cara untuk membuat anak menurut dengan aturan yang dibuat oleh orang tua. Hal seperti ini adalah kesalahan besar dalam cara mendidik anak, sekaligus bentuk ketidakmampuan orang tua dalam mengomunikasikan mana yang baik dan mana yang buruk pada anak.
5.    Regenerasi kekerasan terhadap anak.
Seseorang yang sewaktu kecil memperoleh tindakan kekerasan dan ia memiliki anak, dia memiliki potensi untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dialaminya sewaktu kecil. Dia beranggapan bahwa tindakan kekerasan yang dialaminya sewaktu kecil adalah hal yang wajar untuk mendidik anaknya agar patuh pada aturan yang dia buat.
Besar kecilnya dampak yang diderita oleh anak akibat tindak kekerasan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:
  1. Faktor usia anak. Semakin muda usia anak, maka dampak yang ditimbulkan karena tindak kekerasan akan lebih fatal.
  2. Siapa yang terlibat. Jika yang melakukan tindakan kekerasan adalah orang-orang terdekat seperti orang tua, ayah/ibu tiri, dan orang-orang terdekat lainnya, maka dampak yang diperoleh anak akan lebih parah dibandingkan dengan orang lain yang melakukan.
  3. Seberapa parah. Semakin sering dan semakin buruk tindak kekerasan yang diterima oleh anak akan semakin memperburuk kondisi anak.
  4. Berapa lama terjadi. Semakin lama anak memperoleh tindak kekerasan akan semakin meninggalkan trauma yang membekas pada diri anak.
  5. Tingkat sosial ekonomi. Anak yang berasal dari sosial ekonomi yang rendah akan semakin memberikan dampak negatif pada diri anak

H.    Kekerasan Pada Anak Menurut Undang Undang
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002, “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak dalam kandungan”. Hal ini mencakup janin, bayi, balita, dan anak-anak sampai berusia 18 tahun. Undang-undang ini membahas tentang tanggung jawab sosial anak dan tanggung jawab anak di muka hukum.
Menurut komisi perlindungan anak (KPA), “Kekerasan (bullying) adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan oleh seseorang tau keluarga terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situsi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti atau membuat orang tidak berdaya”. Batas-batas kekerasan menurut Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 ini adalah tindakan yang bisa melukai secara fisik maupun psikis yang berakibat lama, dimana akan menyebabkan trauma pada anak atau kecacatan fisik akibat dari perlakuan itu. Dengan mengacu pada defenisi, segala tindakan apapun seakan-akan harus dibatasi, dan anak harus dibiarkan berkembang sesuai dengan hak-hak yang dimilikinya (Hak Asasi Anak). Hak anak untuk menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan dan pendapat dari orang lain.

I.    Kekerasan Terhadap Anak  Menurut Pandangan  Islam
Setiap anak yang lahir di muka bumi ini memiliki tugas  kekhalifahan yang bertanggung jawab untuk menjaga bumi agar dapat dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya Menurut agama islam, anak adalah suatu amanah yang Alloh SWT berikan kepada hamba-Nya.  . Kelak di akhirat, orang tua dimintai pertanggungjawaban dalam mendidik dan mengasuh anaknya. Sehingga orang tua wajib membeikan pendidikan yang baik kepada anaknya. Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi: Rasulullah bersabda “Tiada suatu pemberian pun yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik”.
Islam secara tegas dan jelas  mengajarkn tentang perlindungan anak dan melarang adanya kekerasan terhadap anak. Generasi yang tangguh dan berakhlak mulia adalah tujuan akhir dari pendidikan yang diterapkan oleh islam. Pendidikan yang dimaksud oleh agma islam bukanlah pendidikan yang hanya berdomisili di lingkungan sekolah (formal) saja, melainkan segala bentuk tingkah laku yang dilihat oleh anak dan memiliki potensi untuk ditiru oleh anak. Salah satu hadist mengatakan: “Perintahkanlah anak-anakmu untuk solat ketika mereka brumur tujuh tahun. Pukulah mereka jik sampai berusia sepuluh tahun mereka tetap enggan untuk melaksanakan solat”. Hadist tersbut seakan-akan bertentangan dengan Undang-Undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa dalam mendidik anak tidak diperbolehkan adanya hukuman/kekerasan fisik pada anak. Namun, adanya hadist ini bukanlah semata-mata tanpa adanya alasan yang jelas. Hukuman fisik yang diberikan bukanlah hukuman yang mampu menimbulkan efek trauma dan cedera pada anak. Hukuman fisik yang terlalu berlebihan justru bukan cara mendidik yang baik. Kekerasan dalam islam tidak dipebolehkan sejauh tidak sesuai dan melebihi batas. Kekerasan hanya digunakan sebagai langkah akhir yang ditempuh orang tua. Keekerasan juga hanya digunakan sebagai suatu yang mendidik bukan dengan tujuan untuk menghukum tanpa dasar yang jelas, tanpa alasan dan tanpa adanya ilmu. Justru jika anak dibiarkan bebas tanpa kontrol orang tua, maka akan berdampak buruk bagi anak. Anak akan bertindak semaunya sendiri, melupakan rasa  hormatnya kepada orang tua, masuk ke dalam pergaulan bebas, dan akan timbul sifat-sifat lain yang justru tidak diinginkan oleh orang tua.

J.    Dampak Psikologis Anak yang Mengalami Kekerasan
Komunitas atau lingkungan tempat anak lahir dan bertumbuh dapat memiliki efek terhadap kedewasaan mereka kelak. Banyak anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tenang dan mendukung serta berkecukupan, ada pula anak yang dibesarkan dalam kondisi yang sama sekali berlawanan. Dalam lingkungan yang kurang memadai, biasanya terdapat berbagai macam kekerasan yang bisa disaksikan dan dialami anak – anak . Anak – anak lebih rentan mengalami kekerasan dan kejahatan daripada orang dewasa. Pengalaman anak terhadap kekerasan bisa berupa kekerasan fisik, mental dan emosional yang bisa dialami anak sebagai korban atau pun hanya sebagai saksi.
Resiko dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan biasanya lebih besar pada anak – anak yang kurang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari orang tua. Macam – macam kekerasan pada anak bisa saja terjadi ketika pengawasan orang tua longgar atau justru berasal dari orang tua. Berdasarkan berbagai penelitian, ekspos anak terhadap kekerasan yang berulang disaksikan dapat memberikan dampak kekerasan pada anak yang mengganggu perkembangan otaknya. Struktur otak yang spesifik seperti amygdala, hippocampus, dan korteks prefrontal akan langsung dipengaruhi oleh stress. Sedangkan fungsi eksekutif seperti perencanaan, ingatan, pemusatan perhatian, kontrol impuls dan memproses informasi untuk membuat keputusan dapat menjadi tidak stabil.
Pengertian dari kekerasan pada anak yaitu segala sesuatu perlakuan salah yang membuat anak menjadi tersiksa baik secara fisik, mental dan psikologisnya. Anak yang mengalami kekerasan, apapun bentuknya dapat mengalami dampak seperti berikut ini:
1.    Mengalami ketidak stabilan mental
Ekspos terhadap kekerasan telah diketahui turut menyumbang kepada masalah kesehatan mental pada masa kanak – kanak hingga dewasa. Kelainan psikiatris seperti depresi dalam psikologi, adanya ciri – ciri depresi berat dan tanda – tanda psikologi akan membuat seseorang harus menjalani terapi depresi dalam psikologi. Selain itu, kelainan mental ini juga mencakup kegelisahan atau anxiety serta post traumatic stress disorder (PTSD).
2.    Menderita berbagai macam gangguan mental
Resiko menjadi penderita gangguan mental juga dihadapi oleh anak – anak korban kekerasan. Bahkan tidak hanya satu macam saja, bisa juga anak mengalami beragam gejala dalam satu waktu. Melalui beberapa penelitian diketahui bahwa sebagian anak menderita lebih dari satu gangguan mental. Misalnya, pada  anak – anak yang didiagnosa menderita PTSD, juga didiagnosa menderita depresi dan jenis gangguan mental lainnya.
3.    Menderita Post Traumatic Stress Disorder
Gejala PTSD ditemukan mempunyai hubungan dengan kekerasan dalam lingkungan anak. Pada fase dewasa, gejala PTSD mungkin saja terwujud dalam perilaku eksternal yang terlihat melalui respons berlebihan terhadap ancaman. Penelitian menunjukkan anak laki – laki menjadi lebih agresif dan anak perempuan menjadi lebih depresif.
4.    Mempengaruhi tumbuh kembang anak
Ekspos terhadap kekerasan juga menghasilkan dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan pada proses tumbuh kembangnya. Kekerasan akan mempengaruhi berbagai tahap dan domain perkembangan anak usia dini. Antara lain perkembangan secara neurologis, fisik, emosi dan perkembangan sosial yang mengarah kepada berbagai masalah yang membutuhkan penyesuaian.
5.    Kurangnya rasa aman
Pada anak yang masih sangat kecil, kekerasan berulang dapat mendatangkan masalah dalam membentuk kepercayaan dan kesan positif terhadap lingkungannya, juga mengembangkan rasa aman di dalam dirinya. Kesulitan membentuk berbagai perasaan keterikatan dan hubungan ini dapat mempengaruhi perkembangan rasa percaya dalam kemampuannya menjalin hubungan sebagai orang dewasa. Cara menghilangkan trauma pada anak perlu dilakukan agar anak dapat menjalani kehidupan dengan normal.
6.    Rentan terhadap agresi
Bagi anak yang menghadapi kehidupan penuh teror setiap harinya, ia juga akan lebih cenderung bersikap agresif karena mempelajari bahwa sikap tersebutlah yang akan membantunya untuk bertahan dalam hidup. Kecenderungan untuk bersifat agresif ini pada akhirnya juga akan menjurus  kepada masalah mental. Agresivitas bakna akan membuat anak berurusan dengan masalah pelanggaran hukum, penyalah gunaan obat – obatan, perilaku depresif dan merusak diri sendiri.
7.    Selalu cemas
Pada beberapa anak, dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan bisa dilihat dari kecenderungannya untuk selalu khawatir dan cemas terhadap berbagai hal. Terciptanya respons berlebihan atas berbagai stimulus dari luar, yang mengarah kepada masalah kognitif, masalah kesehatan mental dan masalah tingkah laku. Anak akan selalu bersikap waspada dan kaku dalam menghadapi berbagai situasi karena ia takut untuk dikecewakan dan bersiap untuk menghadapi respon negatif yang biasa diterimanya.
8.    Bermental sebagai korban
Pada anak – anak yang sering mengalami kekerasan, itu artinya ia sudah menjadi korban sejak kecil. Perkembangan emosi anak usia dini yang terekspos dengan kekerasan akan sangat terpengaruh. Sehingga akan terbentuk pada alam bawah sadarnya bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi seorang korban, dan tidak akan memiliki pikiran ataupun semangat untuk berjuang mempertahankan dirinya dari kekerasan tersebut. Dengan kemauan yang lemah untuk keluar dari lingkaran kekerasan, maka selamanya ia akan menjadi korban.
9.    Melakukan kekerasan
Dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan antara lain juga bisa membuat anak berubah menjadi salah seorang pelakunya. Perubahan ini dilakukan anak untuk membela dirinya dari berbagai kekerasan yang dialaminya dan sebagai salah satu usaha untuk bertahan hidup. Misalnya, anak yang sering dibully juga mungkin saja akan berubah menjadi seseorang yang senang membully, sebagai akibat pengaruh bullying  pada psikologi anak. Walaupun memang tidak semua anak akan mengalami hal tersebut, tetapi kemungkinan ini tetap ada.
10.    Rendahnya kepercayaan diri
Seringkali anak mengalami kekerasan karena ia melakukan suatu kesalahan, baik itu besar maupun kecil. Hal itu akan menyebabkan anak menjadi takut dalam melakukan kesalahan sekecil apapun sehingga tidak percaya diri akan kemampuannya dalam melakukan segala hal yang terbaik. Dampak anak yang selalu dimarahi yaitu anak tidak akan dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk dapat meraih impian serta keinginannya. Anak juga akan sulit mempercayai bahwa dirinya memiliki potensi tertentu dan kelebihan tertentu sebagai seorang manusia.
11.    Timbulnya kesan negatif terhadap diri sendiri
Perasaan bahwa dirinya tidak berguna merupakan salah satu dampak psikologis anak yang mangalami kekerasan. Perasaan tersebut timbul dari perasaan tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apapun untuk menghentikan kekerasan yang dialaminya sehingga membuat anak merasakan kesan negatif terhadap dirinya sendiri. Kesan negatif yang dirasakan seseorang merupakan hal yang berbahaya, yang dapat menghambat perkembangan dirinya sehingga menjadi manusia yang tidak mampu secara sosial.

12.    Sulit bergaul
Salah satu akibat dari kesan negatif pada diri sendiri adalah ketidak mampuan anak untuk menjalani pergaulan sosial yang menyebabkan dirinya terasing dalam lingkungannya dan tidak bisa bergaul dengan luwes. Perkembangan sosial emosional anak usia dini akan terganggu. Anak mungkin saja akan menjadi tertutup, pendiam, dan sulit mempercayai orang lain untuk menjadi temannya, bahkan ia akan menjadi sosok yang sulit dimengerti oleh para temannya yang lain. Anak akan lebih nyaman untuk menyendiri daripada mengambil resiko bahwa orang lain juga akan ikut menyakiti dirinya.
13.    Murung dan depresif
Mengalami kekerasan dapat membuat anak yang ceria berubah secara drastis, menjadi murung, depresi, mengalami gangguan tidur, makan, bahkan sulit berkonsentrasi dan menarik diri. Kerap kali terlihat penurunan berat badan pada anak – anak yang stres akibat mengalami kekerasan tersebut. Anak juga akan menjadi kurang ekspresif dalam menyatakan perasaannya, selalu sedih dan mudah menangis, serta menarik diri.
14.    Berperilaku merusak diri sendiri
Masalah mental yang dihadapi anak korban kekerasaan dapat berujung pada kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri bahkan hingga kecenderungan untuk bunuh diri. Trauma psikologis yang hebat yang dialami anak dapat menjadi pemicu anak melakukan tindakan – tindakan yang merusak dirinya sendiri. Mulai dari penyalah gunaan obat, terlibat tindak kriminal, hingga bunuh diri. Anak akan merasa bahwa hidupnya tidak memberikan makna dan tujuan apapun sehingga lebih baik mengakhirinya saja.
15.    Tingkat IQ yang rendah
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mary Strauss dari New Hampshire University Amerika Serikat pada anak – anak yang mengalami kekerasan dan yang tidak menghasilkan sesuatu yang menunjukkan hubungannya dengan tingkat IQ anak. Dalam kurun waktu dilakukannya penelitian, ia menemukan bahwa anak – anak yang tidak mengalami kekerasan mengalami peningkatan IQ sedangkan IQ pada anak yang mengalami kekerasan justru cenderung statis dan membuat mereka kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
16.    Prestasi di sekolah yang menurun
Dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan adalah juga menurunnya prestasi mereka di sekolah akibat tidak mampu berkonsentrasi dan memusatkan perhatian. Anak akan kehilangan semangat dalam mempelajari dan mempertahankan pelajaran di sekolahnya karena pikirannya terganggu oleh kekerasan yang dialami. Selain itu, anak juga akan menjadi tidak kreatif karena tidak berani mengemukakan pendapatnya dan takut disalahkan.
17.    Selalu Cemas
Dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan antara lain bahwa anak akan menjadi seorang sosok yang pencemas, selalu gugup, khawatir berbuat salah dan khawatir dimarahi. Ia akan merasa cemas berlebih bahwa dirinya akan ditegur dengan cara keras dan selalu merasa was – was untuk melakukan berbagai hal, sehingga kesannya anak akan menjadi sosok yang penggugup dan penakut.

Banyak orang yang menganggap bahwa dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan itu hanya seputar kekerasan fisik belaka, karena akibat dari kekerasan fisik memang sangat mudah dilihat pada diri korbannya. Namun sebenarnya tidak hanya itu, kekerasan terutama terhadap anak dapat berwujud berbagai hal yang berbeda, antara lain secara verbal dan psikologis juga. Kekerasan dalam bentuk apapun kepada sesama manusia terutama anak – anak dapat terwujud dalam bentuk yang ringan hingga berat dan seharusnya tidak ditolerir ataupun dilakukan oleh siapapun.

K.    Upaya Pencegahan Terhadap Kekerasan Terhadap Anak

 Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat dilakukan melalui dua arah yaitu masyarakat dan pemerintah. Dari sisi pemrintah haruslah memiliki komitmen tentang perlindungan anak. Pemerintah harus ikut andil dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. Undang-undang yang telah ditetapkan harus benar-benar terlaksana, tidak hanya sekedar aturan formalitas saja. Pemerintah juga perlu melakukan pencerahan tentang dampak dari kekerasan terhadap anak kepada masyarakat. Ketika masyarakat sadar akan keberadaan kekerasan pada anak sebagai masalah yang serius, maka dengan sendirinya akan tumbuh keinginan dalam diri masyarakat tersebut untuk membantu seluruh upaya layanan, program maupun kebijakan yang terkait dengan pencegahan kekerasan terhadap anak. Strategi pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui tiga hal di bawah ini:
  1. Pencegahan primer adalah pencegahan yang ditujukan kepada orang tua agar mereka mampu meningkatkan kempuan dalam mengasuh dan menjaga anak mereka. Hal ini meliputi perawatan anak dan pemberian layanan yang memadai, kebijakan tempat bekeja yang mendukung, serta pemberian pelatihan life skill terhadap anak. Pelatihan life skill meliputi penyelesaian konflik tanpa kekerasan, cara menangani stress, menejemen waktu, cara membuat keputusan yang efektif, termasuk pengertian tentang penyalahgunaan narkoba dan zat-zat adiktif lainnya.
  2. Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang ditujukan kepada masyarakat agar mereka mampu meningkatkan keterampilan dalam mengasuh anak terutama masyarakat yan baru memiliki anak. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kunjungan ke rumah orang tua yang baru memiliki anak dan melakukan self assessment apakah mereka berpotensi akan melakukan tindak kekerasan terhadap anak di kemudian hari atau tidak.
  3. Pencegahan tersier  ditujukan pada anak korban kekerasan anak. Hal ini dapat dilakukan dengan layanan terpadu pada anak korba kekerasan, konseling serta pelatihan tatalaksana stres. ALMUMTAZ.WIKI-
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.    Faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan
a.    faktor individu, dengan tidak adanya ketakwaan kepada Allah bisa mendorong seseorang melanggar hukum syara’
b.    Faktor sistemik yaitu berupa berlakunya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat, mengabaikan nilai-nilai ruhiah dan menafikan perlindungan atas eksistensi manusia.
2.    Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk tindakan kekerasan baik fisik maupun mental yang dilakukan oleh orang tua, pengasuh, atau orang lain seperti penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi, mengancam serta tindakan lainnya yang berpengaruh pada fisik dan mental anak Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan terhadap anak adalah kekerasan dalam rumah tangga, disfungsi keluarga, faktor ekonomi, persepsi yang salah tentang cara mendidik anak, dan regenerasi kekerasan terhadap anak
3.    Kekerasan dalam islam dengan tegas dan jelas adalah suatu hal yang dilarang kecuali dalam hal-hal yang besifat mendidik. Namun, pemberian hukuman dalam isam tetaplah tidak diizinkan dengan jalan kekerasan. Kekerasan adalah jalan akhir yang ditempuh sesorang dalam mendidik. Hal ini juga harus tetap sesuai dengan ketentuan islam dan tidak melampaui batas yang dapat membuat trauma dan luka fisik pada perempuan dan anak.




DAFTAR PUSTAKA

Arif, Rudyanto. 2006. Pandangan Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga. http://.www.mail.archieve.com/wanita.muslimah@yahoo group.com/msg/4828.html
Ma’ruf, Farid. 2008. kekerasan Terhadap Wanita. http://baitijanati.wordpress.com/2008/01/14/kekerasan_terhadap_wanita_Bukan_Perkaa_gender
Munir, Lili Zakiyah. 2007. Stop Kekerasan Terhadap Perempuan. http://www2.kompas.com/kompas_cetak/0511/26/swara/222846/.html
Syahputra, Akmaluddin. 2008. Kajian hukum Islam dan Hukum Positif tentang Tindak Kekerasan Suami terhadap Istri.
Akmal, Zulfi.2012. Menyuruh Anak Sholat. [online] diunduh dari http:// www.zulfiakmal.wordpess.com. Diakses pada 30 september 2018.
Siputnegara. 2015. Pengetian Kekerasan tehadap Anak dan Beberapa Faktor Penyebabnya. [online] diunduh dari http:// www.siputnegara.web.id. Diakses pada 30 september 2018.
Sugiarno, Indra. 2008. Upaya Pencegahan Kekerasan pada Anak. [online] dari http:// www.drindrasugiano.blogspot.co.id. Diakses pada 30 september 2018.
Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002.


TINDAK KEKERASAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Tentang Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak) Reviewed by Kharis Almumtaz on May 01, 2020 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.