Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

TEORI PENDIDIKAN ISLAM






Dosen Pengampu : DR. Karwadi, M.Ag
Disusun oleh : Kharis Syuhud Mujahada
Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK
Universitas Islam  Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta


PENDAHULUAN
A.    PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Dalam rangka yang lebih terinci, M. Yusuf al-Qardhawi memberikan pengertian, bahwa; “Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Sementara itu, Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. [1] Secara derivatif Islam itu sendiri, memuat berbagai makna, salah satu diantaranya yaitu kata Sullam yang makna asalnya adalah tangga. Dalam kaitan dengan pendidikan, makna ini setara dengan makna “peningkatan kualitas” sumber daya insani (layaknya tangga, meningkat naik).
Selain itu, Islam juga ditengarai sebagai bentukan dari kata istislam (penyerahan diri sepenuhnya keada ketentuan Allah), salama (keselamatan), dan salima, (kesejahteraan). Dengan demikian, secara terminologis pengertian Islam tak dapat dilepaskan dari makna kata asal dimaksud. Untuk jelasnya, maka konsep pendidikan menurut pandangan Islam harus dirujuk dari berbagai aspek, antara lain aspek keagamaan, kesejahteraan, kebahasaan, ruang lingkup, dan aspek tanggung jawab. Adapun yang dimaksud dengan aspek keagamaan adalah bagaimana hubungan Islam sebagai agama dengan pendidikan. Sedangkan aspek kesejahteraan merujuk kepada latar belakang sejarah pemikiran para ahli tentang pendidikan dalam Islam dari zaman ke zaman, khusus ada tidaknya peran Islam dalam bidang pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan hidup manusia.
Kemudian yang dimaksud dengan aspek kebahasaan adalah bagaimana pembentukan konsep pendidikan atas dasar pemahaman secara etimlogi. Selanjutnya asek ruang lingkup diperlukan untuk mengetahui tentang batas-batas kewenangan pendidikan menurut agama Islam. Untuk mengetahui hal itu perlu pula digunakan pendekatan yang didasarkan kepada aspek tanggung jawab kependidikan itu sendiri. Tanggung jawab dalam pandangan Islam sangat penting, sebab ia merupakan bagian dari amanat yang harus dilakoni oleh manusia. Sehubungan dengan itu, maka Islam dalam ajarannya senantiasa menempatkan kewajiban lebih dulu, baru sesudah itu penuntutan terhadap hak. Makanya manusia harus mendahulukan kewajiban pengabdiannya kepada Allah, sesudah itu baru diberi hak (peluang) untuk mohon pertolongan. (QS. 1: 4-5) [2]
Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah yang berkembang secara umum di dunia Arab adalah tarbiyah. Penggunaan istilah tarbiyah untuk menandai konsep pendidikan dalam Islam, meskipun telah berlaku umum, ternyata masih merupakan masalah khilafiyah (kontraversial). Di antara ulama pendidikan muslim kontemporer ada yang cenderung menggunakan istilah ta’lim atau ta’dib sebagai gantinya . [3]
B.     MACAM-MACAM ISTILAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM
1.      At-Ta’dib
Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh, disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan jasmaniah, intelektual, dan ruhaniah, pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajatnya.
Kita nyatakan bahwa adab dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Tujuan mencari pengetahuan dalam Islam ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai makhluk sosial sebagai diri individu.  Baik dalam konsep manusia yang baik berarti teat sebagai manusia adab dalam pengertian yang dijelaskan disini, yakni meliputi kehidupan material dan spiritual manusia.
Bagi al-Attas konsep ta’dib untuk pendidikan Islam adalah lebih tepat dari at-Tarbiyah dan at-Ta’lim.  Sedangkan tarbiyah dalam pandangannya mencangkup objek yang lebih luas, bukan saja terbatas pada pendidikan manusia tetapi juga meliputi dunia hewan. Sedangkan ta’dib hanya mencakup pengertian pendidikan untuk manusia.  Sementara Dr. Fatah Abdul Jalal beranggapan sebaliknya karena yang lebih sesuai menurutnya justru at-Ta’lim. 
Kedatipun demikian, mayoritas ahli kependidikan Islam tampaknya lebih setuju mengembangkan istilah tarbiyah (pendidikan, education) dalam merumuskan dan menyusun konsep pendidikan Islam dibandingkan istilah ta’lim (pengajaran, instruction) dan ta’dib (pendidikan khusus, bagi al-Attas berarti pendidikan), mengingat cakupan yang mencerminkannya lebih luas, dan bahkan istilah tarbiyah sekaligus memuat makna dan maksud yang dikandung istilah ta’lim dan ta’dib.
Dengan jelas dan sistematik, al-Attas menurunkan penjelasan sebagai berikut:
1.      Menurut tradisi bahasa Arab, istilah ta’dib mengandung tiga unsur: pembangunan iman, ilmu, dan amal. Iman adalah pengakuan yang realisasinya harus berdasarkan ilmu. Iman tanpa ilmu adalah bodoh. Sebaliknya, ilmu harus dilandasi iman. Ilmu tanpa iman adalah sombong. Dan akhirnya iman dan ilmu dimanifestasikan dalam bentuk amal, sehingga tidak dikatakan iman yang lemah dan ilmu yang tidak bermanfaat.
2.      Dalam hadits Nabi yang terdahulu secara ekplisit dipakai istilah ta’dib dari addaba yang berarti mendidik. Cara Tuhan mendidik Nabi, tentu saja mengandung konsep pendidikan yang sempurna.
3.      Dalam kerangka pendidikan, istilah ta’dib mengandung arti: ilmu, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena menurut konsep Islam, yang bisa dan bahkan harus dididik adlah manusia.
4.      Dan akhirnya, al-Attas menekankan pentingnya pembinaan tatakrama, sopan-santun, adab dan semacamnya, atau secara tegas, akhlak yang terpuji yang hanya terdapat dalam istilah  ta’dib.
Konsekuensi yang timbul akibat tidak dipakainya konsep ta’dib sebagai pendidikan dan proses pendidikan adalah hilangnya adab, yang berarti hilangnya keadilan yang menimbulkan kebingungan dan kesalahan dalam pengetahuan, yang mana itu terjadi di kalangan muslimin masa kini. Berkenaan dengan masyarakat dan umat, kebingungan dan kesalahan dalam “pengetahuan” tentang Islam menciptakan kondisi yang memungkinkan pemimpin-pemimpin yang palsu dalam segala bidang kehidupan bisa tampil dan tumbuh subur serta akan menimbulkan kondisi kezaliman. [4]
2.      At-Ta’lim
Menurut Abdul Fatah Jalal, proses ta’lim justru lebih universal dibandingkan dengan proses tarbiyah. Ia mengutip al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 31 sebagai berikut:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama (semua) benda ini jika kamu yang benar!"
Jadi, berdasarkan analisis diatas itu Jalal menyimpulkan bahwa menurut al-Qur’an, ta’lim lebih luas dari tarbiyah. Berbeda dengan al-Attas, Jalal tidak membandingkan dengan ta’dib.  Jalal mengemukakan konsep-konsep pendidikan yang terkandung didalamnya sebagai berikut:
Pertama, ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus-menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan funsi-fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati. Kedua, ta’lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kgnisi semata, tetapi terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi.[5]
3.      Ar-Riyadhah
Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip oleh Ramayulis mengatakan bahwa pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang berhubungan dengan tubuh manusia. Ia memegang peranan penting dalam semua tingkah laku dan amal perbuatannya, baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesamanya dan makhluk lainnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Ramayulis mengatakan bahwa mendidik jasmani dalam Islam adalah memiliki dua tujuan sekaligus, yaitu pertama, membina tubuh sehingga mencapai pertumbuhan secara sempurna. Kedua, mengembangkan energi potensial yang dimiliki manusia berlandaskan fisik, sesuai dengan perkembangan fisik manusia. Sedangkan Abdurrahman Saleh menambahkan bahwa pendidikan harus mempunyai tujuan ke arah keteramilan-keterampilan fisik yang dianggap perlu bagi teguhnya keperkasaan tubuh yang sehat, juga menghindari situasi-situasi yang mengancam kesehatan fisik para pelajar.
Fisik adalah cover bagi semua komponen rohaniah manusia yang harus dijaga kesehatannya. Sebab antara jasmaniah dan rohaniah mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Jika salah satu dari keduanya sakit, maka kualitas keduanya akan merosok dan bahkan akan menjadi fatal. [6]
Ar-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti penjinakan, latihan, melatih. Dalam pendidikan, kata Ar-Riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dan akhlak mulia. Kata Ar-Riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli tasawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan dikalangan para ahli tasawuf Ar-Riyadhah  diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat dan uzlah (menyepi dan menyendiri) disertai perasaan batin yang takwa.[7] 
4.      At-Tadrib
Tadrib disini lebih kepada ranah psikomotorik cakupannya, anak didik dilatih menjadi dan memiliki keperibadian yang tinggi, dan mampu melakukan dan meng-aplikasikan pengetahuan serta mengamalkannya dengan baik dan benar. Dengan demikian anak didik menjadi orang yang beramal saleh dan kemudian mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
Melalui pelatihan-pelatiahan yang terus menerus dan berulang-ulang dalam pembelajaran akan memberi bekas pada diri anak didik, sehingga pembelajaran benar-benar terserap dan tahan lama. Dengan demikian anak didik dapat memiliki potensi-potensi kemudian ahli di bidangnya.
Dalam pendidikan islam tadrib sangat ditekankan penerapannya, bukan sebagai kognitif sahaja yang tidak berpengaruh apa-apa bagi anak didik, akan tetapi harus ada tadrib yang bisa dijadikan pedoman dalam pengamalan ibadah khususnya dan perilaku secara umum. Dengan demikian tujuan pendidikan Islam benar-benar terlaksana dan pencapaian yang maksimal. Tidak sebatas teori dan kurikulum yang wajib diikuti disetiap jam kelasnya. Akan tetapi ada keterikatan antara pembelajaran dengan kehidupan lingkungan anak didik yang nyata. 
Dari sisi beban tanggung jawab agamanya, maka perjalanan hidup manusia terbagi dalam tiga periode: masa pra-latih (di bawah 7 tahun), masa pelatihan/ tadrib (7 - 12 tahun), dan masa pembebanan/taklif (di atas 12 tahun). 
C.    DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Prof. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany menyatakan bahwa dasar pendidikan Islam identik dengan dasar tujuan Islam. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan Hadits. Atas dasar pemikiran tersebut, maka para ahli didik dan pemikir pendidikan Muslim mengembangkan pemikiran mengenai pendidikan Islam dengan merujuk kedua sumber utama ini, dengan bantuan berbagai metode dan pendekatan seperti qiyas, ijma’, ijtihad, dan tafsir. Sedangkan tujuan pendidikan dihasilkan dari rumusan kehendak dan cita-cita yang akan dicapai, yang menurut pertimbangan dapat memberi kebahagiaan dan makna hidup bagi manusia, baik dunia maupun akhirat. [8] 
TEORI pendidikan secara komprehensif dan saling melengkapi dari kalangan ahli pendidikan Muslim tidak akan dapat dite- mukan. Secara "induktiF, hanya ditemukan teori-teori yang mi- rip yang tersebar dalam ragam karya tulis dan risalah para ahli. Banyak faktor penyebab tidak adanya teori pendidikan secara komprehensif, diantaranya adalah:
1.             Terjadinya polarisasi pemikiran pendidikan antara yang ber- sifat rasional-filosofis dengan yang bersifat agamis-mumi. Bila dicermati risalah-risalah pendidikan yang ditulis oleh al- Ghazali, al-Qabisi, Ibnu Sahnun, Ibnu Jama'ah, Ibnu Hajar al- Haitami dan Nashiruddin al-Thusi, maka akan tampak orien- tasi murni keagamaan dalam pendidikan mereka. Dari sini, pendidikan bagi mereka mengandung pengertian ta'dib (mo- ralisasi).
Al-Thusi menamakan risalahnya Adah al-Muta'allimvn, Ibnu Jama*ah menyebut risalahnya al-SamV wa al-Mutakallim fi Adabi al-'Alim wa al-Muta'alim, Ibnu Hajar al-Haitami, Tahrir al-Maqal fi Adah wa Ahkam wa Fawa'id Ma Yahtaj] ilaiha Mu'addib al-Athfal, dan Sahnun memberi nama risalahnya Adah al-Mu'allimin. Sementara itu, risalah al-Qabisi diberi na¬ma al-Risalah al-Mufashshalah li Ahwal al-Muta'allimin wa Ahkam al-Muta'allimin wa al-Mu'allimin. Jelaslah bahwa al-Adab dan al-Ta'dib merefleksikan harapan- harapan masyarakat terhadap anak dan remaja agar bersedia menghormati institusi dan pranata sosial yang ada dan pola pemikiran umum yang berkembang. Para ahli pendidikan tersebut memiliki kecenderungan kuat "moralisasi" hingga menyedot sebagian besar perhatiannya terhadap hal-hal se- pele yang membuat kita heran, misal perihal tata cara duduk di hadapan guru, berdiri tegak dengan dua tangan di atas dada di hadapan orang sepuh, melarang anak kecil berbicara di dekat orang yang sudah tua dan mencegah mereka agar ti- dak membantah omongan orang tua. Semua ini sungguh jelas-jelas salah. Bahkan para pengkaji pemikiran-pemikiran kalangan ahli pendidikan Muslim tersebut akan merasa tidak sreg karena mendapati terlalu banyak paparan seputar ragam jenis makanan, hubungannya dengan lendir tenggorokan, hu- bungannya dengan kekerasan hati dan keengganan berpikir, mengajar dan sebagainya. Hanya saja, bagi pengkaji yang memahami konteks yang melingkupi kehidupan kalangan ahli pendidikan Muslim tersebut, barangkali dapat. me- maklumi kecenderungan pemikiran mereka. Selanjutnya, pengkaji yang menelaah pemikiran kalangan Rasionalis ahli pendidikan Muslim seperti Ikhwan al-Shafa, Ibnu Miska- waih, al-Farabi dan Ibnu Sina, akan menemukan eksplorasi intelektual dalam rangka membangun konsep guru, hakikat ilmu pengetahuan, tata cara memperolehnya, penafsiran so- siologi pengetahuan dan hal-hal substantif lainnya. Dua pa¬norama alur pemikiran demikian, terkecuali Ikhwan al-Shafa dan Ibnu Khaldun, berimplikasi pada polarisasi pemikiran di antara dua aliran ahli pendidikan, sehingga sirnalah peluang bagi pemekaran teori pendidikan komprehensif dalam berba- gai dimensinya: rasional, psikologis, moral-etik dan sosiologis.
2.             Sebagian besar risalah-risalah pendidikan Islam diorientasi- kan untuk penuntut ilmu/subjek didik tingkat lanjut. Risalah Ayyuh al-Walad ditujukan untuk pelajar tingkat lanjut dari murid-murid al-Ghazali. Risalah Ibnu Jama'ah tiada lain ada-lah tanggapan terhadap serangkaian persoalan seputar fikih yang diajukan kepadanya oleh para praktisi hukum Islam. Demikian juga risalah-risalah al-Qabisi, al-Thusi dan Ibnu Sahnun. Tampaknya hanya karya Ikhwan al-Shafa dan Ibnu Khaldun yang berorientasi pada pendidikan dalam penger- tian seperti yang kita pahami sekarang ini. Dalam pemikiran keduanya itu, secara signifikan tercetus "rekonsiliasi" antara dimensi rasional, psikologis, moral-etik dan sosiologis bagi keilmuan pendidikan.
Namun demikian, adanya kegagalan dalam membangun teori pendidikan yang komprehensif, mengacu pada gagasan Plato di Republics misalnya, tidak sepantasnya membawa kita berharap terlalu banyak pada tokoh-tokoh pemikiran pendi¬dikan Islam sebagaimana harapan pada diri kita sendiri secara analitik-ilmiah dalam pemikiran pendidikan. Sebab bila demi¬kian, sama halnya dengan menjatuhkan beban berlebihan di atas pundak mereka. Kewajiban kita adalah melihat pemikiran pendidikan mereka dengan perspektif masa mereka hidup dan mengeksplorasi intelektualnya hingga menghasilkan buah pe¬mikiran sebaik-mungkin. Dengan demikian, kita akan mampu memetik serangkaian prinsip-prinsip utama pendidikan yang tersebar dalam beberapa risalah dan karya tulis mereka, lalu menatanya dalam konstruksi yang utuh, sehingga membentuk teori pendidikan yang komprehensif.
Hal yang mungkin dilakukan adalah menghimpun prinsip- prinsip utama pendidikan mereka ke dalam enam bagian:
1.         Konsep pengajaran atau pembelajaran
2.         Dasar-dasar psikologis aktivitas belajar
3.         Pemahaman tentang subjek didik dan kejiwaannya
4.         Metode pengajaran atau pembelajaran
5.         Konsep guru
6.         Penyiapan individu yang mampu berperan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

D.    KONSEP PENGAJARAN/PEMBELAJARAN
Para ahli pendidikan Muslim menyadari sepenuhnya bahwa pengajaran/pembelajaran merupakan hal yang sangat unik dan kompleks, sebagaimana profesi-profesi lain, yang menuntut di- milikinya persyaratan-persyaratan tertentu oleh orang yang me- nekuninya. Ibnu Abdun berkata, "Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, ketram- pilan dan kecermatan, karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, se- hingga menjadi cakap dan profesionar'.[9] Senada dengan hal itu, Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menegaskan,
"Di antara hal yang menunjukkan bahwa pengajaran itu merupakan "profesi"... adalah terjadinya keragaman istilah penyebutan. Tiap- tiap Mahaguru (para Imam) mempunyai istilah sendiri bagi peng- ajarannya. Ini berarti istilah dimaksud bukanlah termasuk ke- ilmuan; sebab, jika termasuk keilmuan, tentunya akan seragam. Kesungguhan mengikuti forum-forum ilmiah, banyak menghafal dan tekun menuntut ilmu tidaklah mesti menghasilkan kecakapan dan kepakaran dalam keilmuan dan pengajaran. Salah satu hal yang melekat pada ilmu adalah kecerdasan dalam berucap dan ber- diskusi dan tindakan nyata untuk merriiliki kecakapan adalah keca¬kapan pengajaran".
Bermula dari perspektif profesionalitas-teknikalis, para ahli pendidikan Muslim membedakan secara tegas antara pendi¬dikan (ial-tarbiyah) dan pengajaran (al-ta'lim). Menurut mereka, yang pertama ruang lingkupnya lebih luas dibanding yang ke- dua. Maka dari itu, al-Ghazali menasihati orang-orang yang bertanggung jawab atas anak-anak agar menyadari sepenuh- nya.
“Pendidikan anak tidak hanya terbatas pada pengajaran semata. Si penanggung jawab berkewajiban mengawasi anak dari hal sekecil dan sedini mungkin. Ia jangan sampai menyerahkan anak yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk diasuh dan disusui ke- cuali oleh perempuan yang baik, agamis dan hanya memakan se- suatu yang halal. Seyogyanya, secara cermat mengawasi anak se- menjak dini, menumbuhkembangkan rasa malu pada diri anak, dan mengarahkannya agar tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum". Al-Ghazali lebih jelas menambahkan, "pendidikan itu mi- rip seperti pekerjaan seorang petani yang menyiangi duri dan re- rumputan agar tanamannya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik".[10]
Keseriusan menangani urusan anak membawa para ahli pen-didikan ,pada kesadaran bahwa aktivitas pendidikan dimulai dari semenjak awal kehidupan. Dalam risalah politiknya, Ibnu Sina mengatakan, "Sudah menjadi kewajiban orang tua memberi nama yang baik untuk anaknya dan memilih sang perempuan yang akan menyusui dan mengasuhnya. Jangan sampai berupa perempuan yang lemah akal dan liar atau perempuan yang mengidap jenis penyakit menular". Bila anak telah disa- pih, mulailah dengan pendidikan moral dan pembentukan akh-lak, sebelum ia terlanjur mencerap moral tercela dan perangai hina. Sebab, anak akan gampang dengan segera menerima mo- ral jelek dan rangsangan-rangsangan buruk dari luar. Bila ia terus-menerus menerima rangsangan buruk, maka akan sulit baginya lepas dari perangai jelek. Oleh karena itu, seharusnya pendidik menjauhkan anak dari moral buruk.
Kecenderungan mereka memahami kenyataan yang sebenarnya dari proses pengajaran, mengarahkan pada perenungan tentang peran bahasa dalam proses ini dan menyadarkan me-reka akan arti penting bahasa sebagai instrumen utama pendi-dikan, karena bahasa mentransmisikan kata-kata yang mengan- dung arti ke rasio subjek didik yang terkadang menyusahkan proses belajar. Ibnu Khaldun menganggap bahasa sama halnya  dengan "tirai" yang menuttipi realitas kebenaran dari rasio dan menuntut subjek didik agar serins berusaha melampaui ide-ide pemikiran (fanatisme ide, pent.) sebelum tekun konsentrasi bel- ajar. Ibnu Khaldun mengingatkan para subjek didik dan guru terhadap empat hal yang mencirikan kata-kata, yaitu:
1.    relasi makna antara bahasa tulis dengan bahasa lisan/ucap
2.    relasi makna antara bahasa ucap dengan arti yang dikehen- daki
3.    tata aturan dalam susunan makna untuk bisa menunjukkan maksud tertentu berangkat dari struktur baku sebagaimana pada tata logika
4.    makna-makna "substansif" yang dihasilkan dari relasi "da- lam" struktur bahasa. [11]
Secara umum, patut kita cermati bahwasanya pergumulan intens dengan profesi pengajaran, telah mengantarkan para pe- mikir Muslim pada penolakan warisan sebagai prinsip dasar pembelajaran, sebaliknya pandangan kesiapan belajarlah yang menjadi prinsip dasar pembelajaran. Ibnu Miskawih mengata- kan, "Akhlak manusia sama sekali bukan hal alamiah, dan juga bukan tidak alamiah. Sebab, pada dasarnya secara alamiah kita menerima akhlak, namun ia bisa dibentuk dengan ta'dib (mo- ralisasi), baik cepat atau lambat. Inilah pendapat yang saya anggap benar, karena sudah saya buktikan secara empiris".[12]
E.     DASAR-DASAR PSIKOLOGIS PROSES PEMBELAJARAN
Berangkat dari kajian konsep pengajaran, terdapat beberapa da¬sar psikologis pendidikan yang sangat penting yang bisa diam- bil dari pemikiran para ahli pendidikan Muslim. Hal pertama kali yang mereka sadari, bahwa al-idrak (kognisi) adalah dasar utama pembelajaran. Al-Thusi berkata; "Seorang subjek didik tidak bisa memperoleh sesuatu yang tidak ia pahamh Karena itu, mengharuskan si subjek didik agar mengawali aktivitas belajar dari hal yang paling dekat dengan pemahamannya. Dan hen- daknya juga guru membatasi diri mengajarkan materi yang se- suai dengan kadar pemahaman subjek didiknya. Ia tidak boleh mengajarkan materi di luar kemampuan nalar subjek didik, sehingga bisa menjadikannya putus asa atau semakin bebal".
Al-Ghazali dalam Iliya' mengatakan "Sekiranya subjek didik bersusah-payah untuk memperoleh ilmu dengan usaha yang melebihi kemampuan dirinya dan (bahkan) sang guru sendiri pun merasa khawatir untuk melarangnya, hendaklah ia ber- pesan agar subjek didik peduli terhadap dirinya sendiri", kata Ibnu Jama'ah dalam Tadzkirat al-Sami'. Para ahli pendidikan Muslim mengharuskan guru untuk memberi perlakuan yang berbeda terhadap subjek didik yang cerdas dan subjek didik yang berkemampuan terbatas. Guru mengajarkan materi yang jelas dan sederhana, agar dapat dipahami oleh subjek didik yang berkemampuan terbatas ini; jangan sampai guru menyam- paikan kepadanya materi yang rumit dan kompleks, sebab hal ini dapat menyurutkan minat dan animonya untuk belajar [ah Ghazali dalam Ihya'].
Bukti kesadaran para ahli pendidikan Muslim akan adanya hubungan erat antara potensi-potensi intelektual subjek didik dengan materi keilmuan yang diajarkan padanya, Ibnu Jama'ah mengingatkan para guru mengenai keharusan mereka mem- beberkan dan memerinci materi yang disampaikan, sehingga mudah dipahami oleh para subjek didik, dan ini merupakan ke- teladanan yang telah ditunjukkan Nabi; "Perftbicaraannya be- gitu terperinci dan gamblang, sehingga yang mendengar mu¬dah memahaminya. Sewaktu mengucapkan kata-kata penting, diulangnya tiga kali agar dipahami, dan di saat rampung mem- bicarakan suatu persoalan, beliau berhenti sejenak memberi ke- sempatan orang lain bertanya atau berbicara", demikian kata Ibnu Jama'ah dalam Tadzkirat al-Sami'.
Berdasarkan hal itu, para ahli pertdidikan Muslim melarang pencampuran ragam ilmu untuk diajarkan kepada subjek didik pemula, karena dikhawatirkan bisa mengacaukan pikirannya. Ibnu Khaldun berkata, "Termasuk pola elok dan cara yang ha- rus ditempuh dalam pengajaran adalah tidak dicampurnya dua (atau lebih) disiplin ilmu untuk diajarkan pada subjek didik". Ia menuntut agar pengajaran ragam ilmu pengetahuan dilakukan secara bertahap, dari yang sederhana menuju hal yang kom- pleks seiring dengan taraf kematangan dan kesanggupan subjek didik dalam menguasainya. "Apabila hal yang semestinya di¬ajarkan pada tingkat lanjut, diajarkan pada tingkat awal, maka ia akan mengalami ketidaksanggupan dalam memahami dan jauh dari kesiapan diri untuk belajar, sehingga perolehan ilmu terasa amat sulit. Selanjutnya, ia menjadi malas dan berpaling dari konsentrasi belajar. Dan hal ini akan berakibat pada jelek- nya pengajaran".[13]  Termasuk prinsip dasar pendidikan, adalah penegasan para ahli pendidikan Muslim bahwa usia yang pan- tas untuk pengajaran awal adalah enam tahun. Ibnu Sina dalam al-Qanun berkata, "Jika usia anak telah mencapai enam tahun, maka ia sudah seharusnya dibawa kepada guru untuk belajar serius dan intensif".
F.     PEMAHAMAN  TENTANG SUBJEK- DIDIK
Para ahli pendidikan Muslim sejak awal menyadari sepenuhnya bahwa pemahaman tentang kejiwaan anak merupakan dasar pi- jakan bagi keberhasilan pengajaran. Ibnu Sina berkata dalam al- Qanun,
"Adalah sebuah keharusan, perhatian diarahkan pada pemeliharaan akhlak anak, yakni dengan menjaganya agar tidak mengalami luapan amarah, takut dan sedih. Caranya melalui perhatian sek- sama yang dilakukan anak atas perihal dirinya dan apa yang dibu- tuhkannya. Hal ini mempunyai dua kegunaan: kegunaan bagi jiwa anak dan kegunaan bagi badannya. Sebab, ia sejak dini tumbuh de¬ngan (kebiasaan) akhlak mulia. sesuai bahan makanan yang dikon- sumsinya dan akhlak mulia ini dapat menjaga kesehatan jiwa dan badannya sekaligus".[14]
Berangkat dari tuntutan atas keharusan memahami perihal diri anak, para ahli pendidikan Muslim mempersyaratkan ter- lebih dahulu memahami lingkungan sosial anak, terutama ling- kungan keluarganya. Disebutkan dalam Kitab al-lrsyad wa al- Ta'lim:[15]  "Anak adalah cerminan kondisi keluarganya. Semua hal yang terjadi dalam keluarga, baik yang positif maupun yang negatif dan semua hal yang didengar dan dilihat, akan mem- bentuk kepribadian anak. Karena itu, usaha serius sang Ibu me- rupakan hal terpenting dalam pendidikan anak. Barangsiapa hanya getol mengurusi harta-bendanya, lupa mengurusi anak- nya, maka sama dengan tidak mempedulikan anak dan harta benda sekaligus.
Pendidikan keutamaan (nilai) tidak cukup diselenggarakan dalam sekolah, melainkan perlu ditanamkan pada diri anak se- menjak ia mulai bisa komunikasi. Orang yang pertama kali di- tuntut menjalankan tugas ini tentunya adalah orang yang intens bergaul dengan anak, dan orang yang perilaku, ucapan dan pe- rangainya turut mempengaruhi pribadi anak". Kemudian bila dikaitkan dengan hal-hal yang diperlukan oleh pendidikan, yaitu: perhatian, keseriusan, simpati dan empati, maka jelaslah pendidikan tidak akan sempurna hanya mengandalkan fitrah Ilahi yang ada pada anak. Tidak dapat dipungkiri adanya pengaruh dari relasi personal dengan sesama pada diri anak, bahkan tata pergaulan relasi personal ini merupakan sumber utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan dan moral anak. Karena itu, para ahli pendidikan muslim menuntut perlunya anak mempunyai peer-group yang baik di tempat pembelajarannya, mengingat dari sini ia akan banyak menyerap pelajaran dan mendapatkan rangsangan afektif-positif.
Kondisi kesendirian anak dapat berdampak pada kejenuhan. Seorang guru bila mau berusaha mewujudkan suasana hu- bungan yang kondusif antar anak, akan berguna dalam meng- hilangkan kebosanan anak dan memupuk semangat belajarnya. Suasana demikian membangun kompetisi positif antar anak. Keakraban bercengkerama dapat meretas kreasi pikir dan me- nyelesaikan problem ketidakpahaman. Sebab, dalam suasana seperti ini setiap anak secara enak dapat mengungkapkan buah pemikiran yang cemerlang dan pengalaman uniknya, sehingga pembicaraan antar mereka menjadi penuh kesan dan tak ter- lupakan. Selanjutnya, anak-anak saling cocok dan saling kun- jung. Mereka saling menghormati dan memenuhi hak-kewajib- an. Ini semua merupakan pemicu teijadinya kompetisi sehat, dorongan berprestasi dan tukar-pikiran. Keadaan demikian ber¬guna bagi pembinaan moral, fisik, mental dan disiplin anak [Ibnu Sina dalam Risalat al-Siyasiyah].
Namun, perhatian para ahli pendidikan Muslim terhadap lingkungan keluarga dan sekolah anak belum mengarah pada concern pengawasan dan kepedulian terhadap hak-hak alamiah anak dalam bermain dan bercanda-ria. Diceritakan bahwa Abu al-Qasim Abdullah bin Muhammad pernah bertanya kepada salah seorang guru pada masanya, yaitu Mu'aikib bin Abi al- Azhar:
"Bagaimana keadaan anak-anak didikmu di kuttabl" Mu'aikib menjawab: "Suka sekali bermain?" Berkata Abu al-Qasim: "Jika tidak demikian, kalungkan saja 'jimat' dileher mereka!"
Para penyusun Kitab al-Irsyad zua al-Ta'lim mengemukakan,
"Sangat heran, orang-orang pada umumnya senang terhadap anak- anak yang tidak banyak "ulah" dan tidak suka bermain. Mereka menganggap anak-anak seperti ini adalah cerdas dan baik. Mereka tidak menyadari bahwa anak-anak yang pendiam itu sangat mung- kin sedang mengalami sakit (kelainan) fisik atau kejiwaan yang pada akhirnya nanti bisa mengganggu kehidupannya, kalau tidak segera diatasi dengan latihan fisik dan olah-raga sejak keciI.[16]
Di antara hal lain yang menarik dalam persoalan subjek didik adalah perhatian dan kesadaran para ahli pendidikan Muslim bahwa anak sudah mempunyai kepekaan terhadap tindakan diskriminatif (pilih-kasih) yang diterimanya. Karena itu, Ibnu Jama'ah menuntut para guru untuk tidak secara terang- terangan bertindak pilih-kasih kepada para murid mereka, yaitu bertindak lebih memperhatikan atau lebih menyayangi sebagian murid atas murid yang lain, padahal mereka relatif sama dalam hal prestasi, keseriusan dan kepatuhan, Hal ini akan bisa mengakibatkan timbulnya kebencian di kalangan mu¬rid. Sekiranya sebagian murid yang lebih diperhatikan dan di- sayang oleh guru itu mempunyai prestasi dan keseriusan di atas murid yang lain, maka sikap guru demikian, hendaknya di- perlihatkan kepada para murid sebagai wujud penghargaan atas prestasi dan keseriusan, sehingga bisa mendorong sema- ngat saling berlomba di antara mereka [Ibnu Jama'ah dalam Tadzkiratal-Sami'].
Demikian halnya, para ahli pendidikan Muslim menganggap bahwa sanksi (hukuman) dalam pendidikan haruslah merupa- kan sanksi edukatif, yakni sanksi yang bersifat dan dimaksud- kan untuk memperbaiki, bukan untuk menghancurkan keperca- yaan dan harga diri murid. Karena itu, al-Ghazali mengakui hak guru dalam mencegah subjek didiknya dari akhlak buruk, namun perlu dilakukan dengan cara sepersuasif mungkin, de¬ngan tindakan afektif, bukan dengan cara mengolok-olok, sebab cara ini justru akan mengurangi .kharisma guru, memancing tin¬dakan saling menghujat dan memusuhi [al-Ghazali dalam Ihya']. Ibnu Sina mempunyai pendapat yang senada dengan
sanksi edukatif itu, sewaktu ia menuntut guru untuk menjauh- kan subjek didiknya dari akhlak tercela dan kebiasaan buruk melalui cara tarhih, targhib, persuasi, pemalingan, pengarahan, pemujian dan peneguran setepat mungkin. Sekiranya guru ter- paksa memberi sanksi dengan pukulan tangan, hendaklah per- tama kali berupa pukulan yang tidak membahayakan, sebagai- mana disinggung para teosof, setelah sebelumnya memberikan teguran keras. Sebab, bila pukulan pertama sangat keras, anak menjadi ketakutan sekali dan mendendam. Berbeda bila pu¬kulan pertama tidak terlalu keras, anak akan bisa sadar dan tidak phobia [Ibnu Sina dalam Risalat al-Siyasah].
Dalam kerangka pemikiran seperti itu, Ibnu Jama'ah mem- buat urutan sanksi edukatif ke dalam empat tingkat yang dike- nakan pada subjek didik (anak) di kala ia melakukan hal yang tidak pantas, berupa melakukan perbuatan yang diharamkan, dimakruhkan, hal yang mengakibatkan kerusakan (dampak ne- gatif) atau hal yang mangakibatkan pengabaian tugas, tidak so- pan terhadap guru, banyak bicara, salah bergaul dan lain seba- gainya. Langkah-langkah guru dalam memberikan sanksi edu¬katif adalah sebagai berikut:
1.      Menunjukkan sikap melarang di hadapan anak yang ber- sangkutan, tanpa menunjuk hidung
2.      Jika si anak masih belum berhenti, guru melarangnya secara personal
3.      Jika anak itu masih juga belum berhenti, guru melarangnya dengan tegas dan teguran keras di hadapan anak-anak yang lain
4.      Jika anak itu masih saja belum berhenti, maka guru boleh menghukum dan mengucilkannya, agar jera dan tidak sam- pai mengganggu temannya yang lain [Ibnu Jama'ah dalam Tadzkirat al-Sami'].

G.    METODE PENGAJARAN
Para ahli pendidikan Muslim sangat memperhatikan persoalan metoda pengajaran dan menganggapnya sebagai hal strategis bagi keberhasilan proses pembelajaran. Kita dapat menemukan bukti perhatian besar mereka dalam kritik yang dilontarkan oleh Ibnu Khaldun terhadap metoda pembelajaran yang digu- nakan pada fnasanya. Ibnu Khaldun berkata dalam al- muqaddimah,
"Para guru dalam proses pembelajaran awal-kali mengajarkan if'iftateri-materi sulit dan mengharuskan murid-muridnya untuk memecahkannya, mereka beranggapan bahwa hal demikian merupa- kan hal positif bagi pembelajaran. Selain itu, mereka memadukan- Iffa dengan ragam disiplin lain yang kompleks, sementara murid-murid belum siap mencemanya. Padahal kesiapan dan kemampuan IJmencema itu berkembang gradual. Murid pada awalnya hanya mampu memahami sebagian saja, melalui analogi dan contoh kongkrit, lalu kesiapan dan kemampuan mencerna berkembang sedikit •ivdemi sedikit seiring dengan pengulangan-pengulangan"
Dengan demikian terdapat beberapa poin penting yang bisa disimpulkan menyangkut metoda efektif pengajaran ya.ng di- inginkan para ahli pendidikan Muslim, sebagai berikut:
1.    Mereka .menuntut guru untuk berusaha seserius mungkin mendekatkan materi pengetahuan yang diajarkan dengan jupemahaman subjek didik seiring dengan perkembangan usianya, tingkat kematangan bahasa dan kecerdasannya. Kemudian secara bertahap pengajaran berawal dari hal yang sederhana menuju hal yang kompleks, dari hal yang akrab dengan pengalaman subjek didik menuju hal yang sing darinya. Ibnu Jama'ah mengatakan, "Guru dituntut untuk berusaha serius mengajar subjek didik sesuai dengan tingkat pematamannya, jangan sampai guru mengajarkan materi tidak Bgroporsional dan tidak dapat dipahapai. subjek didiknya. Kalau memang perlu penjabaran, pengulangan dan pemberian contoh, maka ia harus bersedia melakukannya".
2.    Untuk mericapai tujuan ini diperlukan tiga tahapan sistemik, yakni: a) guru menyampaikan problem inti dari setiap bab kajian dengan elaborasi yang bisa dipahami oleh subjek di- dik, agar secara umum diperoleh gambaran utuh keselu- ruhan bab kajian b) kemudian setelah rampung akhir bab kajian, dilanjutkan ke bab kajian berikutnya secara bertahap dengan mengulas ragam variasi pendapat yang berkembang secara elaboratif-diskursif. c) guru menyelesaikan dan men- jelaskan problem-problem pelik yang tak terpecahkan agar subjek didiknya bisa mencapai. penguasaan materi yang ar- gumentatif [Inilah yang diistilahkan oleh Ibnu Khaldun dengan al-ta'lim al-mufid].
3.    Setelah solidasi tahap-tahap pemantapan dalam penguasaan dan pengembangan materi pembelajaran subjek didik, guru perlu menyusun strategi lanjut berupa diskusi, dialog-dis- kursif, adu-argumentasi. Dengan strategi ini, materi pembel¬ajaran yang telah dikuasai berubah menjadi sebuah "peng- alaman" pribadi yang teruji. Sebab, "efek diskusi dan dialog- diskursif itu jauh lebih kuat dibandingkan dari efek peng¬ulangan" [kata al-Thusi]
Bukan hanya karena alasan efek pengembangan materi kajian yang menyebabkan strategi diskusi dan dialog-diskursif dinilai penting dalam pembelajaran, melainkan juga karena para ahli pendidikan Muslim menganggap strategi ini sangat efektif untuk pembentukan dan pembinaan kepribadian subjek didik, dan pembiasaan untuk bersikap objektif-kritis. Menurut al- Thusi, penuntut ilmu perlu berdiskusi dan berdialog-diskursif. Ia seharusnya mempunyai keinsafan (ketulusan mengakui ke- kurangan diri) dan kesediaan berefleksi, sehingga dapat me- ngendalikan diri dan tidak emosional. Sebab, diskusi dan dialog-diskursif pada dasarnya adalah musyawarah, dan mu- syawarah memerlukan hal tersebut. Diakui arti penting pengulangan dan penghafalan bagi pemantapan pengetahuan yang diperoleh, namun dalam rangka penggalian kebenaran, maka refleksi dan keinsafan sangat diperlukan, bukan emosi dan ke- gaduhan. Menurut Ibnu Jama'ah;
"Sewaktu guru selesai menjelaskan materi pelajaran, patut kiranya ia mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait kepada para pe- serta didiknya untuk mengetahui tingkat pemahaman dan pengu- asaan mereka. Jika didapati ada yang sudah tinggi tingkat pema¬haman dan penguasaannya, guru perlu mengapresiasinya. Jika di¬dapati ada yang masih belum menguasai dan memahami, guru ber- sedia melakukan remedi".
Perlunya guru melontarkan pertanyaan terkait, mengingat peserta didik seringkali merasa malu jika berkata belum paham. Guru hendaknya menghindari bertanya kepada peserta didiknya: "apakah kamu sudah paham?"kecuali bila ia merasa peserta didiknya tidak akan menjawab "ya", padahal belum pa¬ham. Bila tidak demikian, guru perlu menghindari pola perta-nyaan seperti itu.
Macam-macam Metode dalam Pendidikan Islam
Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah[17]:
a.    Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini terdapat di dalam Al Qur’an :
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23)
Metode ceramah adalah cara menyampaikan suatu pelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik atau khalayak ramai.  Metode ceramah ini pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika turun wahyu yang memerintahkan untuk dakwah secara terang-terangan, seperti hadits berikut: 

Menceritakan kepada kami Qutaibah ibn Sa’id dan Zuhair ibn Harb, berkata, “Menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Abdul Malik ibn ‘Umair, dari Musa ibn Thalhah, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Tatkala diturunkan ayat ini: “Dan peringatkanlah para kerabatmu yang terdekat(Q.S. Al-Syu’ara:125), maka Rasulullah SAW memanggil orang-orang Quraisy. Setelah meraka berkumpul, Rasulullah SAW berbicara secara umum dan khusus. Beliau bersabda, “Wahai Bani Ka’ab ibn Luaiy, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani ‘Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani ‘Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka!, wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari neraka! Karena aku tidak kuasa menolak sedikitpun siksaan Allah terhadap kalian. Aku hanya punya hubungan kekeluargaan dengan kalian yang akan aku sambung dengan sungguh-sungguh”. (H.R. Muslim )

Hadits tersebut menjelaskan bahwa menyampaikan suatu wahyu, atau mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran yang telah ditentukan, bahkan memberi peringatan kepada siapapun dapat menggunakan metode ceramah. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berbicara secara umum dan khusus dihadapan orang-orang Quraisy dengan tujuan mengajak orang-orang Quraisy dan lainnya untuk menyelamatkan diri dari neraka dengan usahanya sendiri, karena Rasulullah tidak kuasa menolak sedikitpun siksaan Allah terhadap umatnya.

Berdasarkan hadis rasulullah diatas dapat diketahui bahwa ceramah merupakan salahsatu metode penyampaian informasi kepada pihak lain, namun jika dikontekan dengan keadaan saat sekarang ini metode ceraamah dirasa kurang maksimal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Maka dari pada itu seharusnya diperlukan metode lain yang bervariasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal.

b.   Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan. Selain itu ada juga hadits yang lainnya seperti hadits berikut ini :
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh abu hurairah yang berbunyi:
dari Abu Hurairah r.a Berkata : ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya hormati? Beliau menjawab : “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang lebih dekat dan yang lebih dekat dengan kamu (HR. Muslim)

Dari penjelasan hadist diatas, Rasulullah menggunakan metode tanya jawab sebagai starategi pembelajarannya. Beliau sering menjawab pertanyaan dari sahabatnya ataupun sebaliknya. Metode tanya jawab ini sendiri ialah metode pembelajaran yang memungkinkan adanya komunikasi langsung antara pendidik dan peserta didik.sehingga komunikasi ini terlihat adanya timbal balik antara guru dengan siswa. Tujuan terpenting dari metode tanya jawab ini adalah para guru atau pendidik dapat mengetahui sejauhmana para murid dapat mengerti dan mengungkapkan apa yang telah diceramahkan. Dengan menggunakan metode tanya jawab maka akan tercipta suasana interaktif antara pemberi informasi dengan penerima informasi sehingga dapat dikatakan juga dengan demnggunakan metode tanya jawab akan tercipta hubngan timbal balik anatar pendidik dengan pesrta didik, sehingga dalam proses pembelajaran terjadi simbiosis mutualisme dlam artian siswa berhasil menangkap intisarinya dan pendidik berhasil memahamkan materinya sehingga akan tercipta kualitas pembelajaran yang maksimal
c.    Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog)[18].
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an Surat Assafat : 20-23 yang berbunyi :
Dan mereka berkata: ”Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya(kepada Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (Q.S. Assafat : 20-23)

Diskusi pada dasarnya adalah tukar menukar informasi dan unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan atau merampungkan keputusan bersama. Jika ditelaah dari bebarapa riwayat hadist, Rasulullah adalah orang yang paling banyak melakukan diskusi. Metode diskusi ini sering dilakukan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya untuk mencari kata sepakat. Tetapi walaupun Nabi sering melakukan dan membolehkan mendidik dengan metode diskusi akan tetapi dalam pelaksanaanya harus dilakukan dengan hikmah ataupun dengan bijak agar segala permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan tanpa ada permusuhan, karena metode diskusi berbeda dengan debat. Jika debat adalah perang argumentasi, beradu paham dan kemampuan persuasi dalam memenangkan pendapatnya sendiri. Maka dalam metode diskusi diharapkan semuanya memberi sumbangsih sehingga semua bisa paham dan dimengerti secara bersama.

  Dari hadis jika dikaitkan dengan proses pembelajaran dalam ranah pendidikan, metode diskusi juga merupakan salahsatu metode yang dianjurkan dalam hal memahamkan peserta didik. Peserta didik akan lebih aktif inovatif jika dalam proses pembelajaraannya terdapat aspek musyawarah atau diskusi dalam hal memecahkan masalah demi tercapainya solusi dalam hal pembelajaran. Dengan menggunakan metode yang bermacam macam siswa akan kehilangan kejenuhannya sehingga kenyamannnya dalam proses pembelajaran akan berimbas pada ketercapaian tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan sebeluymnya.
d.   Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
e.    Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang berbunyi
Artinya: Hadis dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. (al-Bukhari, I: 226)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ  
Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran.
f.     Metode demonstrasi dan eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut. Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu. Metode demonstrasi bukanlah sebuah metode baru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ini telah ada sejak zaman Rasulullah SAW.
Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW. senantiasa memberi contoh terlebih dahulu kepada umatnya sebelum beliau memberikan perintah-perintah beribadah kepada mereka, yaitu melalui pemberian pendidikan dan pelatihan-pelatihan khusus sebelum pelaksanaan kegiatan tertentu dimulai.
 Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran.
g.     Metode Amsal/perumpamaan
Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan Prinsip metode ini terdapat dalam Al Qur’an: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Q.S. Albaqarah : 17)
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
h.   Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut ini :
Artinya: Hadis Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadis ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari, t.t, I: 49)

Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah hâfiz, şiqah dan şiqah azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam lingkungan social.
Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
i.      Metode pengulangan (tikror)
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.  Dengan tujuan eningkatkan pemahaman terhadap apa yang dipelajarinya.
H.    PENGAJAR (GURU)
Para ahli pendidikan Muslim menyadari bahwa proses pembelajaran itu merupakan proses interaksi rasional dan hidup antara pendidik dan peserta didik antara orang yang sudah "dewasa" dan orang yang belum dewasa. Karena itu, mereka menetapkan dua prinsip dasar edukatif yang sangat penting. Pertama, kitab (buku) tidak bisa menggantikan posisi guru dalam pengajaran. Mereka mengecam gejala pemosisian buku sebagai guru. Imam al-Syafi'i pernah mengatakan, "Barangsiapa menggeluti ilmu hanya berdasar pada lembaran-lembaran buku, maka ia berarti telah menyia-nyiakan banyak hal".[19]  Berpijak pada prinsip dasar ini, para ahli pendidikan Muslim mengakui urgensi peran guru dalam proses pembelajaran. Ikhwan al-Shafa mengatakan, nSe- mua orang pada awalnya tidak mempunyai pengetahuan apa- apa, karena itu masing-masing membutuhkan guru (pembim- bing) dalam proses belajar, pembinaan moral dan keyakinan- nya". Dengan mempercayakan tugas penting pendidikan gene- rasi muda kepada sosok guru, maka banyak harapan dan per- syaratan yang diberikan bagi seorang guru yang diamanati .mengajar, yaitu kesempurnaan pribadi, baik dalam kapasitas keilmuan, moral maupun perangainya.
Ibnu Sina dalam risalah al-Siyasah mengatakan, "Sepantasnya bila seorang pendidik itu cerdas, agamis, bermoral, simpatik, kharismatik dan pandai membawa diri. Sebelum tampil di de¬pan para murid, hendaknya ia terlebih dulu tampak cerdas, bersih dan berkepribadian". Ikhwan al-Shafa menetapkan sya- rat: cerdas, bermoral dan obyektif, bagi guru. Dikatakan, "Keta- huilah wahai Saudaraku!, termasuk hal yang penting bagi keba- hagiaanmu adalah mendapatkan guru yang cerdas, berwatak, bermoral, tulus-ikhlas, beretos keilmuan dan tidak fanatik buta". Posisi guru, bagi al-Ghazali, sedemikian tinggi menggan- tikan posisi Rasulullah dalam membimbing umat manusia, di mana Rasul adalah guru pertama umat Islam. Karenanya, ia menetapkan persyaratan tertentu bagi guru, yaitu hendaknya guru jauh dari sifat rakus dunia dan gila kehormatan. Guru ber- sedia melatih dirinya untuk tidak banyak makan, tidak banyak bicara, tidak banyak tidur, memperbanyak shalat, sedekah dan puasa. Guru menjadikan akhlak yang baik sebagai perangainya, seperti sabar, syukur, tawakkal, yakin, pemurah, qana'ah, pen- diam dan kalem (tidak grusa-grusu). Jika persyaratan-persya- ratan ini dipenuhi, maka sosok guru bersangkutan adalah cer- jninan pribadi Nabi yang patut diteladani [al-Ghazali dalam Ayyuh al-Walad].
Dengan pandangan yang demikian tinggi terhadap sosok dan profesi guru, al-Ghazali meminta guru menyayangi peserta di¬dik, bagaikan anak kandung sendiri. Demikian halnya, al-Gha- zali menuntut agar tidak ada perseteruan dan dendam diantara sesama guru, karena akan berdampak negatif pada diri peserta didik. Al-Ghazali berkata,
"Seorang guru yang ahli dalam suatu disiplin ilmu tertentu hen- daknya tidak mencemooh disiplin ilmu lain, misalnya guru ilmubahasa mencemooh disiplin ilmu fikih, guru ilmu fikih mencemooh disiplin ilmu hadis dan tafsir yang dinilainya hanya bersifat repli- katif, tidak ada penalaran. Guru ilmu kalam mencemooh disiplin ilmu fikih yang dinilainya hanya sebagai ilmu cabang dan hanya berisi seputar "darah" perempuan, berbeda dengan ilmu kalam yang berbicara tentang sifat-sifat Tuhan. Tindakan-tindakan sema- cam ini merupakan akhlak tercela yang harus dijauhkan dari diri peserta didik" [lihat, Ihya' Ulumuddin].

Adanya pergumulan praktis dengan kehidupan melahirkan konklusi edukatif yang sangat penting dalam pemikiran para ahli pendidikan Muslim, yaitu imperasi penyiapan individu un- tuk berpartisipasi-aktif dalam kehidupan ekonomi kemasyara- katan dengan tujuan peningkatan kesejahteraan sosial bersama. Berdasar hal ini, Ibnu Sina mengharuskan pengarahan anak, se- telah berhasil memahami al-Qur'an dan menguasai dasar-dasar kebahasaan, menuju penguasaan keterampilan (skil-teknik) se- suai dengan minat dan bakatnya. Kemudian di saat anak telah terampil, maka sebagai pembinaan lanjut adalah di beri tugas atau pekerjaan yang menghasilkan laba. Dengan hal ini sang anak akan mendapatkan dua manfaat: pertama, bila ia telah me- rasakan keasyikan kerja sesuai dengan ketrampilannya dan me¬mahami benar keuntungan yang dihasilkannya, maka ia akan terdorong untuk terus berkarya dan berprestasi. Kedua, ia akan menjadi terbiasa [enjoy) untuk mencari nafkah hidup, sebelum benar-benar saatnya tertuntut untuk itu [Ibnu Sina dalam Risalah al-Siyasah
Tuntutan para ahli pendidikan Muslim terhadap perlunya pengarahan peserta didik untuk berpartisipasi-aktif dalam kehi¬dupan ekonomi masyarakat membawa pada keharusan diversi-. fikasi pengajaran, agar masing-masing peserta didik dapat bel- ajar hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya sebagai bekal terjun ke dalam kancah kehidupan sosial. Mereka menetapkan keharusan bagi guru untuk menyingkap potensi-potensi yang dimiliki peserta didiknya dan mengarahkannya, mengingat ti¬dak semua jenis ketrampilan itu bisa dengan mudah dikuasai peserta didik, melainkan hanya keterampilan yang sesuai dengan bakatnva. Sekiranva jenis-jenis ketrampilan dan profesi dengan mudah bisa dikuasai hanya semata-mata karena ajari tanpa ada kaitannya dengan bakat, niscaya tidak akan ada orang yang tidak berketerampilan dan semua orang tentunya akan dapat memilih keterampiian dan profesi yang canggih. Oleh karena itu, guru di tun tut untuk pandai-pandai memilih- kan suatu keterampiian yang coeok dengan (bakat) peserta diknya. Hendaknya guru m elakukanasesmen terhadap kecerdasan, minat dan bakat peserta didiknya. Dengan begitu, guru akan mengetahui seberapa besar peluang yang dimiliki peserta didik untuk bisa menguasai keterampiian yang akan nya. Lebih jauh, pengajaran keterampiian benar-benar akan mendapatkan relevansi "psikologis", dan benar-benar efektif dan efesien [Ibnu Sina da lam Risalah]

DAFTAR PUSTAKA
George Schat Q., Muallafat Ibnu Sina, Kairo: Dar al-Ma ‘arif, 1950.
Ibnu Jama'ah, Tadzkirat al-Sami'        zoaal-Mutakallim wa al-Muta'allim, belum diterbitkan.
Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, Kairo: al-Maktabah al-Tijariyah,
Aly, Hery Noer, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, Jakarta: Logos.
Azra, Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Cet. IV, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Jalaluddin, H, 2003, Teologi Pendidikan, Cet. 3, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
R, Marzan, 2007, Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Islam, Banda Aceh: Pena.
Rosyadi, Khoiron, 2004, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1327 H.
Ibnu Miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq zva Tathhir al-A 'raq, Beirut: tnp., 1961.
Ibnu Sina, Risalah al-Siyasah.
Ikhwan al-Shafa, Rasa’il al-Shafa, Kairo: tnp., 1928.


[1] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Cet. IV, ( Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002 ), hal. 5.
[2] H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), hal. 70-71
[3] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal. 3-4.
[4] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hal. 139-141.
[5] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal. 7-8.

[6] Marzan R, Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Islam, ( Banda Aceh: Pena, 2007 ), hal. 12-14.
[8] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), hal. 82.


[9]Ahmad al-Syalabi, Tnrikh al-Tnrbiyah al-lslamiyah, cet. II, (Kairo: tnp., 1961), him. 174.

[10] Pernyataan al ghazali ini dikutip penulis  dari Ihya Ulum Al-din dan Ayyuha Al Walad.
[11] Ibnu Khaldun, Al- Muqaddimah, Hlm.535
[12] Ibnu Miskawaih, Tahdzib al- Akhlaq
[13] Ibnu Khaldun, AL- Muqaddimah, Hlm.533
[14] Ahmad Syalabi, Tharik Al Tarbiyah al- Islamiyah, h,246
[15]  Kitab ini tidak diketahui pengarangnya yang berasal dari kelompok sufi, kitab ini ditemukan oleh ahmad syalabi di perpustakaan turki, dan kemudian dicuplik utuk kemudian dimasukkan kedalam bukunya tharikh al tarbiyah al islamiyah
[16] Ahmad syahlabi, tharikh al- tarbiyah al Islamiyah, hlm.262 dan 208
[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,( Jakarta : Kalam Mulia, 2008) hal. 193
[18] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,( Jakarta : Kalam Mulia, 2008) hal. 194
[19] Pendapat ini merupakan nasihat “baru” bagi kalangan yang terlalu mengagungkan gagasan semisal: teknologi pendidikan dan pengajaranterprogram dewasa ini. Mereka menilai bahwa efektifitasnya telah melampaui peran alat pendidikan”konvensional” (termasuk guru)
TEORI PENDIDIKAN ISLAM Reviewed by Kharis Almumtaz on May 01, 2020 Rating: 5
Powered By Blogger, Designed by Kharis Mujahada

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.